fbpx
Karya Pembaca

Cintaku Kekuatan

Kekuatan Cinta

Karya Pembaca: Mahir Martin

“Cinta adalah bagian terpenting dari setiap makhluk. Ia adalah sinar paling cemerlang dan kekuatan paling dahsyat yang dapat melawan dan mengatasi segala hal.”

Ini adalah kalimat yang dikutip dari perkataan ulama dan cendekiawan Muslim Muhammad Fethullah Gulen Hojaefendi yang tertulis pada salah satu buku karangannya.

Cinta yang dimaksud Hojaefendi ini, bukanlah cinta yang berisi roman picisan atau cinta yang mengedepankan nafsu jasmaniyah belaka. Cinta yang dimaksud adalah cinta yang memiliki dimensi yang lebih luas dan dalam.

Dalam kutipan, dikatakan bahwa cinta dapat menjadi kekuatan paling dahsyat yang dapat melawan dan mengatasi segala hal. Artinya, cinta bisa dijadikan alat dan cara yang dapat menyelesaikan segala problematika, dan segala permasalahan yang ada di dunia.

Permasalahan Dunia

Dunia yang kita tinggali adalah memang dunia yang tak lepas dari problematika dan permasalahan.

Setiap zaman memiliki permasalahan yang datangnya bertubi-tubi menghantam dunia kita. Dari waktu ke waktu seolah permasalahan tak pernah berhenti datang ke dalam kehidupan manusia.

Anehnya, manusia itu sendiri yang selalu menjadi aktor utama pada permasalahan yang terjadi. Sayangnya banyak manusia yang tidak menyadarinya.

Menurut ustad Bediuzzaman Said Nursi, setidaknya ada tiga permasalahan besar yang ada di dunia kita saat ini, yaitu kebodohan, kemiskinan, dan perpecahan.

Ketiga permasalahan ini saling berkaitan satu sama lainnya sehingga membuat permasalahan semakin sulit dipecahkan bak benang kusut yang sulit untuk diurai.

Misalnya saja permasalahan kebodohan. Kebodohan bukan disebabkan karena tidak adanya pendidikan, tetapi hakikat pendidikan yang tidak dimaknai dengan benar. Di dalam institusi pendidikan modern sekarang jarang sekali kita dapatkan kecintaan yang mendalam kepada ilmu pengetahuan. Akhirnya, pendidikan hanya menjadi formalitas belaka.

Pendidikan yang hanya menjadi formalitas, pada akhirnya tidak akan mampu  mewujudkan generasi yang hidup dengan rasa cinta. Yang terjadi adalah ilmu pengetahuan hanya dijadikan alat untuk melakukan kerusakan di muka bumi yang diawali dengan rusaknya generasi yang ada di dalamnya.

Hal yang sama terjadi pada permasalahan kemiskinan. Kemiskinan bukan disebabkan karena kekurangan materi atau harta kekayaan, tetapi yang terjadi adalah kemiskinan akhlak atau degradasi moral yang terjadi pada generasi. Akibatnya, nilai-nilai kebaikan yang seharusnya diusung tinggi menjadi barang mahal yang sulit untuk didapatkan. Cinta kepada kemanusiaan yang seharusnya dikedepankan menjadi sebuah utopia yang sulit untuk bisa digapai.

Nilai-nilai kebaikan dan kemanusiaan yang tercermin dari rasa saling tolong-menolong, bantu-membantu, dan saling memberikan perhatian antar sesama semakin jarang dilakukan dan sering terlupakan. Kini, yang selalu dikedepankan adalah hanya ego pribadi dan golongan. Prinsipnya, asal diri sendiri senang dan bahagia, maka tujuan hidup telah tercapai dan tidak perlu lagi memikirkan yang lain.

Begitu juga halnya dengan permasalahan perpecahan, setali tiga uang dengan kebodohan dan kemiskinan. Perpecahan tidak terjadi karena disebabkan adanya konflik atau konfrontasi, tetapi perpecahan terjadi pada dimensi pemikiran, ideologi, dan sudut pandang. Meskipun sekelompok orang berasal dari keluarga yang sama, dari suku yang sama, dan disatukan dalam bangsa dan negara yang sama, terkadang perbedaan pemikiran, ideologi, dan sudut pandang bisa menyebabkan terjadinya perpecahan.

Perpecahan seperti ini hanya bisa diatasi dengan komunikasi, dialog, dan adanya kesepakatan bersama. Perbedaan pemikiran, ideologi, dan sudut pandang harus bisa dipersatukan demi hadirnya sebuah kedamaian dalam kehidupan. Semua itu harus dilandasi dengan rasa cinta perdamaian yang seharusnya ada pada setiap benak masyarakat.

Revolusi Mental

Merujuk pada uraian-uraian tersebut, maka problematika dunia, berupa kebodohan, kemiskinan, dan perpecahan sebenarnya tidak terjadi pada dimensi fisiknya, tetapi terjadi pada dimensi mental. Oleh karenanya, solusi yang tepat untuk mengatasinya adalah dengan adanya revolusi mental.

Revolusi mental yang akan membawa seseorang memiliki rasa cinta terhadap ilmu pengetahuan, cinta kemanusiaan, dan cinta perdamaian.

Ketiga rasa cinta inilah yang akan menjadi kekuatan dahsyat yang bisa melawan dan mengatasi semua permasalahan yang terjadi di dunia saat ini, seperti halnya dikatakan Hojaefendi.

Ketiga rasa cinta itu bisa muncul dari rasa keprihatinan atau kesedihan mendalam terhadap permasalahan manusia di dunia. Keprihatinan ini didasari oleh rasa cinta kita kepada manusia. Jadi, rasa cinta kepada manusia akan menyebabkan timbulnya keprihatinan, dan akhirnya memunculkan rasa cinta terhadap ilmu pengetahuan, kemanusiaan, dan perdamaian.

Dari pembahasan ini, dapat kita pahami bahwa inti dari revolusi mental adalah cinta. Cinta yang memiliki dimensi yang sangat luas dan dalam. Cinta yang mengalir deras dari hulu ke hilir. Cinta yang merasuki semua sendi kehidupan. Cinta yang apinya harus selalu dihidupkan di dalam sanubari masyarakat.

Rasa cinta yang seperti ini akan timbul dari sebuah mental yang mengedepankan rasa cinta kepada Tuhan. Cinta kepada Tuhan yang seharusnya menjadi akar dari sebuah pohon cinta yang memiliki cabang dan ranting yang dialiri oleh rasa cinta. Pohon cinta ini yang akan memberikan buah cinta yang bisa kita nikmati bersama.

Sebuah Refleksi

Muhammad Fethullah Gulen Hojaefendi juga pernah berkata, “Memang benar, tanpa memperhatikan Allah, cinta apapun terhadap obyek apapun akan sia-sia, tidak menjanjikan, patut diragukan, dan tak menghasilkan apa-apa. Di atas segalanya, orang yang beriman harus mencintai-Nya, dan menyukai orang lain hanya karena mereka adalah manifestasi yang penuh warna dan refleksi dari nama dan sifat-Nya.”

Ya, sangat benar yang dikatakan beliau. Rasa cinta yang tertinggi, yang pertama dan utama, adalah rasa cinta kepada-Nya. Rasa cinta inilah yang seharusnya bisa dibangkitkan kembali di dalam kehidupan masyarakat.

Alhasil, cinta memang memiliki kekuatan. Apalagi jika rasa cinta tersebut didasari oleh keprihatinan dan kesedihan yang mendalam atas sebuah permasalahan, maka rasa cinta akan semakin kuat terasa.

Namun, yang membawa kekuatan cinta bukanlah cinta itu sendiri, tetapi cinta yang diarahkan kepada Sang Pencipta. Cinta dari-Nya, cinta untuk-Nya, cinta karena-Nya, dan cinta kepada-Nya.

1 Comment

  1. cintaku adalah kekuatan, tapi sakit hatiku bukanlah kelemahan.

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan artikel baru setiap saat!    Yees! Tidak Sekarang