Nutrisi KarakterPrismaSerpihan Cahaya

Rasulullah dan Para Delegasi Asing 

Rasulullah dan Para Delegasi Asing 

Tanya: Rasulullah SAW, khususnya setelah Fathul Mekah, menyambut delegasi tamu yang datang dari berbagai negara dan kabilah tetangga dengan sangat baik. Beliau memuliakan para tamu ini dengan penuh ketulusan. Selain itu, beliau juga ingin agar kebiasaan ini dapat menjadi budaya yang diterapkan oleh para penggantinya. Di saat-saat terakhir kehidupannya, ia mengulangi permintaan ini sebagai bagian dari wasiatnya. Apa hikmah dari peristiwa tersebut? Jika kita menafsirkan peristiwa tersebut sesuai masa ini, pelajaran apa saja yang bisa kita ambil?

Jawab: Kebiasaan Rasulullah seharusnya menjadi titik perhatian bagi kita semua pada saat ini. Untuk itu, kita benar-benar harus menjalankannya dengan baik.

Rasulullah tidak hanya menjamu delegasi tamu, beliau juga memberi perhatian di level tertinggi bagi mereka yang mau mempelajari dan memeluk agama Islam.  Misalnya, ketika para tokoh-tokoh Mekkah seperti Khalid bin Walid, Amr bin Ash dan Usman bin Talhah datang ke Madinah, demikian istimewanya Rasulullah menjamu dan mengistimewakan mereka, Sayyidina Abu Bakar dan Umar bin Khattab (radiyallahu anhum) pun belum pernah menerima keistimewaan tersebut.

Nabi SAW bersabda kepada Sayyidina Khalid:  “Aku heran bagaimana mungkin sosok jenius seperti Khalid dapat tinggal di dalam kekufuran!”  Selang tak berapa lama kemudian, beliau menobatkan Sayyidina Khalid dengan sebutan “Pedang Allah”.

Amr bin Ash adalah sosok yang selalu berbuat keburukan kepada umat Islam.  Hingga masa itu, sosok Amr bin Ash menggunakan kejeniusannya untuk melawan Islam. Akan tetapi, ketika dia menjadi seorang Muslim dan datang ke Madinah, Rasulullah SAW menyambutnya dengan penuh hangat dan kemuliaan, beliau tidak pernah mengungkit masa lalunya walau sekecil apapun. Sebagai jawaban dari permohonan doanya Rasulullah SAW, “Tidak tahukah kamu jika Islam menghapus dan membersihkan semua dosa yang dilakukan seseorang sebelum masuk Islam.”

Ketika Sayyidina Abdullah bin Jarir al-Bajali ra masuk ke dalam majelisnya Rasulullah, Beliau memberi isyarat agar salah satu jamaah berdiri dan memberi tempat duduk kepada Sayyidina Abdullah bin Jarir al Bajali ra. Ketika tidak ada jamaah yang memahami isyaratnya, beliau segera bergerak dan melepas jubahnya untuk dijadikan sebagai alas duduk Sayyidina Abdullah bin Jarir al Bajali.  Kemudian beliau menyampaikan nasihatnya yang abadi tentang kewajiban menyambut dan memuliakan pemimpin suatu kaum. Bagaimana Rasulullah menjamu Ikrimah putra Abu Jahal dengan kata-kata pujian adalah pelajaran penuh hikmah lainnya yang beliau tunjukkan kepada kita.[1]

Ya, kebiasaan Rasulullah ini adalah prinsip-prinsip yang tidak akan berubah. Bagaimana Rasulullah menyambut individu dan delegasi tamu yang datang dengan kerangka prinsip-prinsip tersebut, sesungguhnya terdapat banyak tujuan yang penuh hikmah di dalamnya:

Pertama: Orang-orang yang baru saja memeluk agama Islam tetapi masih belum merasakan kehangatan Islam, jika di dalam fase ketidaknyamanan dan kecemasan tersebut mereka tidak menemukan sosok dengan atmosfer hangat serta penuh rasa aman yang dapat menyelamatkan mereka dari kecemasan itu, maka mereka bisa menggunakan preferensinya dengan cara lain di mana hal itu adalah kerugian bagi mereka. Begitulah Rasulullah SAW menunjukkan perhatiannya bahkan kepada mereka yang keinginan berislamnya sekecil apapun; perhatiannya telah menyelamatkan mereka dari pengambilan keputusan yang salah. Prinsip tersebut merupakan prinsip penting yang harus diperhatikan baik di masa kini maupun di masa mendatang.

Yang kedua: Di antara anggota delegasi yang datang, selalu ada orang yang dihormati di dalam kaum mereka. Mereka adalah orang-orang yang terbiasa dengan penghormatan dan perhatian seperti itu di dalam kaum mereka. Karena itu,  kemuliaan dan penghormatan harus dipersembahkan kepada mereka dalam takaran yang sama, sehingga mereka tidak merasa asing ketika tiba di lingkungan baru. Maksudnya, pemuliaan dan penghormatan ini seharusnya dapat menyingkirkan rasa tidak nyaman yang dapat muncul dari lingkungan baru serta menjamin rasa aman ke dalam hati mereka.

Ketiga: Sebagian besar delegasi ini adalah utusan resmi. Ketika Islam diumumkan sebagai sebuah sistem pemerintahan, maka kabilah-kabilah dan negara-negara di sekitarnya mengirimkan delegasi ke Madinah untuk melakukan perundingan. Orang-orang yang berada dalam delegasi ini juga bukan orang biasa; kurang lebih hampir semuanya memiliki wawasan luas akan dunia dan memiliki kemampuan mengevaluasi nilai dari sudut pandang mereka sendiri. Dan ketika orang-orang ini kembali ke tempat asal mereka, mereka akan kembali dengan kesan yang mereka bawa… Pendapat mereka akan mempengaruhi urusan-urusan di negara atau kabilah tempat mereka berasal. Jika demikian, maka orang-orang ini harus diyakinkan dengan opini-opini positif. Ini bergantung sekali dengan penghormatan yang ditunjukkan dan penyampaian masa depan yang menjanjikan.

Keempat: Akhlak dan karakter mulia Baginda Nabi telah dikenal dan diketahui oleh para Ahli Kitab. Karena akhlak dan karakter tersebut dijelaskan di dalam kitab-kitab mereka. Beberapa delegasi datang untuk menyelidiki kebenaran ini. Rasulullah SAW sendiri percaya akan dirinya sendiri. Beliau adalah nabi yang diberitakan dalam Taurat dan Injil. Beliau menganggap mereka yang datang untuk melihatnya dari dekat berarti telah menerima pesannya.

Ya, Rasulullah SAW menerima mereka dari dekat seakan membantu mereka untuk dapat menyaksikan tanda-tanda kenabiannya. Dengan demikian, sikap dan tindak tanduknya yang penuh berkah tersebut telah mencabik-cabik segala macam keraguan dan kebimbangan. Sebagian besar dari mereka yang datang lalu mengubah pandangan awalnya untuk kemudian bersiap melaksanakan misi tablig di tempat asal mereka.

Penafsiran pembahasan itu untuk kebutuhan masa kini:

Pertama-tama, kita harus mengakui bahwa tidak ada satu pun manusia yang bisa meniru sikap Rasulullah ini dengan sempurna. Karena tidak ada manusia yang memiliki daya dan kemampuan untuk melaksanakannya. Bayangkan saja, beliau adalah sosok yang mampu memanggul Al Quran dengan segala keagungan dan kemuliaannya yang bahkan tak mampu dipikul oleh gunung-gunung. Kedua kakinya berdiri di tempat yang kokoh, sehingga tidak ada satu pun peristiwa ataupun perlakuan yang mampu membuatnya berpaling dari prinsip-prinsipnya. Sedangkan pada diri kita terdapat kelemahan yang bisa membuat kita jenuh dan frustrasi. Akan tetapi, membayangkan kelemahan seperti itu terdapat pada Sang Nabi saja sudah tidak mungkin.

Dalam hal ini, baik untuk kehangatan penyambutan beliau terhadap delegasi tamu, ataupun penerimaan dan pemaafan beliau kepada tokoh-tokoh yang di masa lalu melakukan kesalahan fatal sekalipun, rasanya tidak mungkin bagi kita untuk melakukan hal yang serupa. Namun, wajib bagi kita untuk melakukan hal yang sama semaksimal mungkin. Jika tidak, maka kita bisa menunjukkan hizmet yang sudah dikenal di seluruh dunia pada level yang tidak semestinya sehingga dengan demikian seakan kita telah mengkhianati hizmet yang mulia ini.

Baginda Nabi SAW memberikan arahan untuk menunjukkan sensitivitas yang diperlukan dalam menerima tamu delegasi, menjadikannya sebagai bagian dari wasiat terakhirnya[2], serta betapa dalam dimensi yang akan diraih oleh sikap ini di masa depan, menunjukkan betapa pentingnya hal ini dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Padahal di masa itu pengaruh beliau masih belum keluar dari Jazirah Arab. Surat dan hadiah dari beberapa kepala negara yang dikirimkan masih berada dalam kerangka penghormatan kepada sosok beliau sebagai individu. Akan tetapi, di masa depan, Islam sebagai negara menyebar ke seluruh penjuru dunia sehingga mengharuskannya menjadi tuan rumah dan menjamu ratusan bahkan ribuan delegasi dari berbagai negara. Sebenarnya hal itu adalah bagian dari protokoler kenegaraan, tetapi sekali lagi dasarnya juga telah diletakkan pondasinya oleh Baginda Nabi SAW. Memang dalam masa kenabiannya selama 23 tahun, dalam skala mikro, tidak ada satu pun masalah yang tidak diselesaikan olehnya… Protokol menjamu delegasi pun hanyalah salah satu masalah yang berhasil diselesaikan olehnya…


[1] “Maka Ikrimah masuk Islam dan dia datang menemui Rasulullah SAW pada waktu Penakhlukkan Mekah. Tatkala Rasulullah SAW melihatnya, beliau langsung bangun karena amat gembiranya, dan beliau tidak memakai surban hingga dia membaiatnya. (at Tamhid; Muwaththa’ Imam Malik)

[2] 38.252/2825. Telah bercerita kepada kami Qobishah telah bercerita kepada kami Ibnu ‘Uyainah dari Sulaiman Al Ahwal dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma bahwa dia berkata; Hari Kamis dan apakah hari Kamis?. Lalu dia menangis hingga air matanya membasahi kerikil. Dia berkata; Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bertambah parah sakitnya pada hari Kamis lalu Beliau berkata: Berilah aku buku sehingga bisa kutuliskan untuk kalian suatu ketetapan yang kalian tidak akan sesat sesudahnya selama-lamanya. Kemudian orang-orang bertengkar padahal tidak sepatutnya mereka bertengkar di hadapan Nabi Shallallahu’alaihiwasallam. Mereka ada yang berkata; Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam telah terdiam. Beliau berkata: Biarkanlah aku. Sungguh aku sedang menghadapi perkara yang lebih baik daripada ajakan yang kalian seru. Beliau berwasiat menjelang kematiannya dengan tiga hal; Usirlah orang-orang musyrikin dari jazirah ‘Arab, hormatilah para tamu (duta, utusan) seperti aku menghormati mereka dan aku lupa yag ketiganya. Dan berkata Ya’qub bin Muhammad, aku bertanya kepada Al Mughiroh bin ‘Abdur Rohman tentang jazirah ‘Arab, maka dia menjawab; Makkah, Madinah, Yamamah dan Yaman. Dan berkata Ya’qub; Dan ‘Aroj yang merupakan permulaan Tihamah (HR Bukhari).

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like