fbpx
Karya Pembaca

SEMUA TENTANG CAMBODIA

Ini tentang Cambodia, sebuah negeri berurat sungai Mekong,1 bagi para wisatawan, Cambodia tak semenarik Jepang atau Korea. Namun bagi kami yang diperjalankan oleh takdir, Cambodia menjelma menjadi negeri yang penuh inspirasi, mengajarkan tentang makna kehidupan. Dari sana kami belajar bersyukur, dari sana kami belajar bersabar, dari Cambodia kami diajari makna toleransi.

Menginjakkan kaki di tanah Khmer2 serasa pulang ke kampung sendiri, cuaca, suasana bahkan waktu tak jauh berbeda dengan kota-kota kebanyakan di Indonesia, jika Indonesia punya Borobudur sebagai maha karya warisan dunia, maka Cambodia berbangga dengan kemegahan Angkorwatnya, masyarakat yang ramah sederhana dan murah senyum, menambah kuat citra Indonesia pada wajah Cambodia.

Ketika kami berada di Ibu Kota Negara, Phnom Penh menjadi kota nostalgia, yang menawarkan perjalanan masa lalu untuk menyambut cerahnya masa depan. Memang, Phnom Penh tak segemerlap Jakarta, namun mereka punya alasan di balik segala ketertinggalan itu, perang saudara 53 tahun silam menjadi penyebab mengapa Cambodia tertinggal secara ekonomi dan pendidikan. Masa itu tepatnya pada tahun 1970 – 1975 sekitar dua juta nyawa meregang. Dua juta merupakan angka, seperempat dari populasi masyarakat Cambodia saat itu. Pol Pot3 dan tentara merahnya bertanggung jawab atas hilangnya jutaan generasi terpelajar dan kaum cendekiawan di sana. Saat itu, mereka yang bertangan halus, berkaca mata, menguasai bahasa asing, agamawan serta pemilik ijazah atau diploma, menjadi golongan nomor satu yang harus disingkirkan, hari ini mereka berbaring dalam damai di bawah prasasti di taman “Killing Fields”.4

Dengan semua kisah kelam masa lalunya, Cambodia berusaha bangkit dengan terus melakukan pembenahan, diawali dengan menguatkan fondasi masyarakat, Cambodia mencoba mereunifikasi antara pelaku dan keluarga korban genosida. Cambodia sangat mengerti, bahwa tak ada masa depan cerah di atas puing-puing kebencian dan permusuhan, itulah mengapa narasi reunifikasi, antar suku, golongan, ras dan agama, menjadi agenda utama mereka. Cambodia telah menjelma menjadi negara yang ramah dan pemaaf, dan karakter toleran inilah yang membuat kawasan muslim peninggalan kerajaan Champa masih tetap ada5.

Masa depan cerah negeri ini semakin terlihat kala kami berkunjung ke Paragon International University6 dan Paragon International School.7 Meski secara umum kualitas pendidikan di Cambodia masih tergolong rendah, namun di sekolah grup Paragon ini, putra putri Cambodia mendapatkan pelayanan pendidikan terbaiknya. Model Pendidikan bertaraf internasional yang disuguhkan lembaga pendidikan tersebut, menjadi oase di tengah gersangnya pendidikan berkualitas di sana. Mereka sedang disiapkan, untuk mengeja negeri di masa depan. Dari sekolah-sekolah seperti inilah puzzel masa depan Cambodia yang cerah sedang disusun kembali.

Lima tahun terakhir, negeri laluan sungai Mekong ini, berusaha mengejar ketertinggalan ekonomi, gedung-gedung pencakar langit bermunculan, bak jamur di musim semi. Namun di balik derap gemuruh pembangunan, selalu ada kaum yang termarjinalkan. Sepertinya, kita dan Cambodia memiliki PR yang sama. Dan sepertinya sungai Mekong membutuhkan sebuah jembatan, ya, sebuah jembatan kemanusiaan yang dapat menghubungkan antara sisi yang dihuni manusia perahu8, dan sisi elit “Riverside” 9. Namun jangan berkecil hati, karena masyarakat Cambodia selalu punya caranya sendiri untuk bertemu. Mari kita belajar dari bapak Chanthou10 bagaimana jembatan hati itu dibangun.

Namanya Chanthou, orang-orang memanggilnya Bapak Chan, berprofesi sebagai sopir Tuk- tuk11 tidaklah mudah, perlu kesabaran, ketekunan dan keikhlasan. Mengingat, menjadi sopir Tuk-tuk bukanlah profesi yang bergengsi. Untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, Bapak Chan terkadang harus pulang hingga larut malam. Meski hidup terasa berat, namun berat dan kerasnya kehidupan tak membuat hati Bapak Chan membatu. Di tengah padatnya jalan 372 Toul Kork Boeng Kok 2 Quarter, Bapak Chan selalu hadir, menginfakkan waktu dan tenaganya untuk membantu mengurai kemacetan jalan. Berdiri berjam-jam menghadap mentari setiap pagi, mengurai kemacetan tanpa pamrih. Meski ia harus kehilangan pelanggan Tuk-tuk di pagi hari, namun ia tetap konsisten untuk tidak menerima imbalan dari kegiatannya mengurai kemacetan. Bagi Bapak Chan, berderma tidak hanya dengan harta, namun bagi mereka yang berketerbatasan harta, maka waktu dan tenaga dapat juga dijadikan derma, senyum pengendara mobil mewah, ketertiban jalan setiap pagi, adalah kebahagiaan besar baginya. “Memastikan anak-anak sekolah tidak terlambat, membantu karyawan kantor tidak telat, adalah kebaikan besar yang saya dapat dengan sebuah pengorbanan kecil”, Pungkas Bapak Chan. Bapak Chan percaya bahwa sedikit pengorbanannya akan memberi kontribusi bagi terbentuknya jembatan kemanusian.

Dari Bapak Chan kita belajar makna ketulusan, dan arti pengorbanan, ketulusan dan pengorbanan merupakan fondasi kokoh bagi terbentuknya jembatan kemanusiaan. Jika Bapak Chan sudah memulai membangun jembatan ini dari sisi kiri, maka perlulah memulai membangun jembatan yang sama dari sisi kanan, agar suatu hari jembatan kemanusiaan ini dapat bertemu di suatu titik keharmonisan. Sekali lagi kita belajar dari Cambodia, karena hidup adalah tempat belajar, maka belajarlah dari kehidupan.

1 Sungai Mekong merupakan sungai terpanjang ke-12 di dunia, dan ke-10 terbesar dalam volume (melepas 475 km³ air setiap tahunnya), dengan wilayah seluas 795.000 km². Dari Tibet, sung ini mengalir melalui Cina provinsi Yunnan, Myanmar, Thailand, Laos, Kamboja, dan Vietnam. Sumber Wikipedia.

2 Tanah Khmer mempunyai arti Tanah Kemakmuran atau Tanah Kedamaian. Julukan ini di berikan karena akar Sejarah bangsa Cambodia berasal dari Kerajaan Khmer

3 Pol Pot adalah seorang politikus dan pemimpin gerakkan komunis di Cambodia, pemerintahan Pol Pot secara paksa memindahkan masyarakat kota ke wilayah pedesaan untuk bekerja di pertanian kolektif. Demi mengupayakan kesetaraan penuh, uang dihapuskan dan seluruh warga negara diperintahkan untuk mengenakan busana hitam yang sama. Pembantaian terhadap para lawan pemerintahan, ditambah dengan malnutrisi dan layanan kesehatan yang buruk, menewaskan antara 1,5 hingga 2 juta orang, sekitar seperempat populasi Kamboja saat itu. Sumber Wikipedia.

4 Killing Field adalah sebuah lokasi di Kamboja di mana secara kolektif lebih dari 1.000.000 orang dibunuh dan dikuburkan oleh rezim Khmer Merah (Partai Komunis Kampuchea) selama pemerintahannya di negara tersebut dari tahun 1975 hingga 1979.

5 Kawasan muslim yang di maksud adalah daerah Kampong Cham, dahulu kala di daerah yang sekarang menjadi Cambodia, berdiri dua kerajaan besar, kerajaan Khmer dan Champa/Cham. Wilayah Champa terbentang dari Vietnam hingga Cambodia, kerajaan Champa awalnya bercorak Hindu-Budha, namun kemudian berubah menjadi kerajaan Islam, yang pengaruh penyebaran agamanya hingga ke Indonesia. Khmer dan Champa merupakan musuh di masa lalu, runtuhnya kerajaan Champa adalah akibat dari serangan bangsa Khmer, yang sekarang menjadi klompok masyarakat mayoritas di Cambodia, meski keduanya saling berperang di masa lalu, namun saat ini kedua etnis bangsa ini saling bergandengan tangan dalam harmony dan toleransi. masyarakat Cham mayoritas beragama Islam, dan menjadi kelompok minoritas di Cambodia. Lihat

https://www.kompas.com/stori/read/2022/03/08/090000279/kerajaan-champa–sejarah-kejayaan-keruntuhan-dan- peninggalan?page=4

6 Merupakan universitas swasta terbaik di Cambodia, lebih lengkapnya bisa lihat Home – Paragon International University – Leading Your Way… (paragoniu.edu.kh)

7 Grup sekolah swasta berstandar Internasional, yang mengelola mulai dari Kindergarten, Primary dan Secondary. Lihat About Paragon ISC – Paragon International School

8 Manusia perahau adalah kelompok masyarakat Cambodia yang tidak dapat memiliki hunian di daratan karena masalah ekonmi, sehingga mereka memilih hidup di atas perahu di sepanjang sungai Mekong.

9 Sebuah kawasan elit di tepian sungai mekong di Phnom Penh Cambodia.

10 Bukan nama sebenarnya, kisah ini di kisahkan oleh masyarakat setempat. Tentang seorang supir Tuk-tuk yang setiap pagi membantu mengurai kemacetan lalulintas, namun bliau selalu menolak jika ada orang yang ingin memberi imbalan.

11 Sebuah alat transportasi roda tiga khas Cambodia, jika di Indonesia serupa bajai.

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Dapatkan artikel baru setiap saat!    Yees! Tidak Sekarang