fbpx
Karya PembacaNutrisi Karakter

Sosiolinguistik: Menyoal Diglosia dalam Ranah Dakwah Islam

KARYA PEMBACA: F. YUSUF

Dakwah yang merupakan khazanah istimewa Islam diperintahkah dalam firman-Nya yang berbunyi,

Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung (Ali Imran / 4:104).

Dalam menunjang keberhasilan dakwah, seseorang harus merancang strategi dakwah yang sesuai dengan objek dakwah. Mengutip dari Moh. Ali Aziz, strategi dakwah dapat dipahami sebagai perencanaan yang berisi rangkaian kegiatan guna mencapai tujuan dakwah [1]. Terlebih, strategi dakwah harus diaplikasikan dengan beragam asas yang menuntun dai menuju arah dakwah yang efektif lagi efisien. Salah satunya ialah asas sosiologis yang mencakup situasi dan kondisi sasaran dakwah seperti kemampuan linguistik masyarakat sasaran dakwah. Dengan demikian, seorang dai wajib memahami sosiolinguistik masyarakat sehingga tingkat persentase kesuksesan dakwahnya menjadi lebih tinggi.

Mengapa demikian?

Bahasa pada hakikatnya merupakan proses interaksi verbal antara penutur dengan pendengar [2]. Saat seorang dai hendak berbicara, terbentuk suatu gagasan terkait materi dakwah yang mengalir dalam benaknya. Jika telah tiba waktunya, pesan tersebut disampaikan dalam bentuk ujaran yang nantinya ditransformasikan ke telinga pendengar. Dalam proses umpan balik tersebut, seorang dai seyogianya memperhitungkan faktor sosiokultural dan sosiosituasional di samping faktor linguistik yang cenderung mengarah kepada tata gramatikal [2].

Sosiolonguistik merupakan cabang linguistik empiris yang bersifat interdisipliner yang mengkaji masalah kebahasaan terkait dengan aspek sosial dan budaya masyarakat [2]. Keduanya saling bersinergi mengingat struktur sosial dapat mempengaruhi tingkah laku linguistik dan begitu pula sebaliknya [3]. Pemahaman akan disiplin sosiolinguistik begitu esensial mengingat bahasa menunjukkan variasi internal dan tidak akan menemukan seseorang dengan satu gaya bahasa sama [3]. Perbedaan tersebut mungkin terjadi pada pilihan kata, ucapan bunyi, dan struktur kalimat. Dengan memahami berbagai variasi tersebut, seorang dai diharapkan dapat menyesuaikan diri dengan struktur bahasa di manapun ia berdakwah. Salah satunya berhubungan dengan diglosia. Diglosia merupakan salah satu gejala sosial yang bersangkut paut dengan situasi linguistik sasaran dakwah. Istilah tersebut mengacu kepada eksistensi dua ragam bahasa yang tumbuh berdampingan dengan bahasa lain dengan fungsi sosial yang khusus dalam skema komunikasi antarindividu [2]. Masyarakat dengan kondisi linguistik tersebut disebut diglosik. Lebih spesifik, masyarakat diglosik mengganggap adanya bahasa yang tinggi dan bahasa yang rendah. Bahasa pertama dinilai lebih bermartabat dan biasanya digunakan dalam situasi formal, sementara yang kedua memiliki karakteristik sebaliknya [2].

Diglosia dalam konsep linguistik cenderung mengarah kepada kontak bahasa. Artinya, ada berbagai bahasa yang saling bersinggungan dalam situasi pemakaian bahasa sehari-hari [4]. Menegaskan penjelasan sebelumnya, masyarakat diglosik memiliki ciri pembagian berbagai bahasa sesuai fungsi kemasyarakatan. Ranah tinggi biasanya diterapkan dalam bidang agama, pendidikan, dan pekerjaan. Adapun ranah rendah berkaitan dengan keluarga dan pertemanan. Keduanya tak boleh menerobos penggunaan yang semestinya guna menciptakan kondisi diglosia stabil. Jika sebaliknya, setiap bahasa justru tidak dapat mempertahankan fungsinya dan akhirnya berujung kepada ketirisan diglosia [4]. Ketirisan diglosia tentu akan menimbulkan kondisi sosial yang tidak kondusif mengingat masyarakat mengalami keguncangan budaya secara mendadak terkait pemakaian bahasa. Dalam situasi tersebut, seorang dai akan merasa kesulitan dalam menyampaikan dakwah sebab pengajaran Islam tak luput dari pemakaian bahasa yang baik dan benar.

Apakah yang harus dilakukan oleh seorang dai tatkala terjerembap dalam lubang musibah tersebut?

Seorang dai setidaknya mawas terhadap kondisi diglosia sasaran dakwahnya. Ia harus bijaksana dalam menggunakan ragam bahasa yang sesuai ketika proses dakwah berlangsung. Ketika menghadiri majelis formal, tentu ia diharapkan menggunakan bahasa formal yang dianggap elite oleh masyarakat sekitar. Misalnya, ketika berdakwah di ibu kota Jakarta yang dihadiri oleh golongan kelas atas, berbahasalah dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Tak luput pengucapan kata sesuai dengan PUEBI. Sebaliknya, tatkala mendakwahi sekelompok pemuda, usahakan gunakan bahasa yang gaul namun tetap sopan. Jangan sampai terbawa suasana sehingga melampaui batas! Penggunaan bahasa yang sesuai tentu akan menarik hati sasaran dakwah seakan-akan gelombang sinyal yang memperoleh media elektronik dengan frekuensi sama. Tak lupa, seorang dai tidak boleh menganggap eksistensi hierarki bahasa. Ia diharuskan menilai diglosia sebagai fenomena linguistik belaka tanpa mengganggu kondisi mentalnya. Jika tidak demikian, ia justru akan menggunakan bahasa yang dianggap lebih elite dan lebih akademik dengan tujuan memamerkan tingkat keilmuannya.

Bukankah Rasulullah telah bersabda bahwa seseorang harus mengucapkan sesuatu sesuai tingkat pemahaman pendengarnya?

Tak hanya berdampak positif terhadap keberhasilan dakwah, adaptasi diglosia yang dilakukan dai ternyata mampu menghindari kematian suatu bahasa. Bayangkan jika dai hanya menggunakan bahasa gaul di situasi apapun, tentu pendengar akan merasa ganjil. Efek setelahnya akan lebih buruk jika sasaran dakwah kelak juga menjadi seorang dai. Ia akan terus berdakwah menggunakan ragam bahasa sama di mana hal tersebut justru memperburuk citra dai.

Mengapa demikian?

Penggunaan bahasa yang monoton dalam jangka waktu panjang menyiratkan kedunguan pembicara. Apakah kematian ragam bahasa hanya berdampak pada dai? Jawabannya tentu tidak. Fenomena kebahasaan tersebut harus dihindari sebab hilangnya sebuah bahasa akan memiskinkan pengetahuan dan pemikiran masyarakat [4]. Masyarakat yang bodoh berakibat pada sulitnya menerima ajaran Islam yang penuh logika.

Intinya, seorang dai sudah sepatutnya mengaplikasikan strategi dakwah secara efisien. Sebagai ilustrasi, ia diharuskan mengetahui situasi linguistik sasaran dakwah. Ia setidaknya memahami garis besar fenomena kebahasaan yang terjadi dan bagaimana ia menghadapinya dengan bijak. Salah satunya ialah diglosia di mana dalam sebuah struktur sosial masyarakat terdapat dua atau lebih ragam bahasa. Yang satu dianggap lebih tinggi sementara yang lainnya dianggap rendah. Dengan pendekatan objektif yang tepat, seorang dai harus menerapkan penggunaan bahasa yang tepat dengan menyesuaikan situasi. Dengan demikian, dengan izin Allah, dakwahnya akan memberikan hasil yang gemilang. Pahalanya akan terus mengalir hingga ruhnya diangkat keharibaan-Nya kelak. Semoga Allah memudahkan para dai tak terkecuali demi tegaknya kalimat syahadat. Amin.

Daftar Pustaka

[1]      E. H. Husnah, “Metode dan Strategi Dakwah,” Banten, 2016.

[2]      Abdurrahman, “Sosiolinguistik: Teori, Peran, dan Fungsinya Terhadap Kajian Bahasa Sastra,” pp. 18–35.

[3]      T. Nugroho, “Apa itu sosiolinguistik?,” Ekspresi, Jakarta, pp. 26–32, Jun. 2006.

[4]      D. Susilawati, “Bahasa Masyarakat Perkotaan: Tantangan Pemerintahan Bahasa Palembang,” Magister linguistik, pp. 1–4, May 2010.

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan artikel baru setiap saat!    Yees! Tidak Sekarang