Dawai Kalbu
Bangkit Bersama Tahajud

Bangkit Bersama Tahajud

“Bangkit Bersama Tahajud”

Jamaah Muslim yang Terhormat! Sebagai manusia yang mengingat sisi-sisi kemanusiaannya, Sebagai manusia yang merasakan naluri kalbu, karena meneliti jalan untuk meraih kembali apa-apa yang hilang merupakan keharusan bagi manusia, maka kita akan berusaha meneliti dan menemukan jalan untuk meraih kembali apa yang telah hilang. Itu adalah potensi yang harus berusaha kita keluarkan dan wujudkan.

Kita berusaha mencari jalan untuk menghembuskan kehidupan kepada alam Islam yang sedang mati. Kita harus berusaha menunjukkan hal-hal menyenangkan nan segar lewat generasi muslim yang baru. Ini bergantung pada bagaimana kita hidup dan berkesadaran dengan nafas Islam. Bergantung pada bagaimana kita mampu menjadi Jamaah Qur’ani, bukan dengan memahami dan menjalankan Islam sekehendak hawa nafsu. Tetapi dengan kriteria dan sudut pandang dari Nabi Muhammad SAW-lah kita harus memahami Islam. Kita juga berkewajiban untuk menjelaskannya, kita berhadapan dengan kewajiban seperti itu, dan kita merasakannya sebagai tugas yang amat agung.

Agar mampu menjalankan tugas berat dan agung ini, kita harus menyandarkan diri kepada Sang Rabb sebagaimana prajurit yang bersandar kepada sultannya. Sebagaimana prajurit yang berhasil menawan raja karena mereka bersandar pada sultannya. Dengan bersandar padaNya dan kedekatan pada Rabb, kita bisa membuat segala sesuatu bertekuk lutut. Dengan bersandar padaNya, kita bisa menggeser gunung. Dengannya kita akan meraih kekuatan. Dengan bersandar kepadaNya, kita bisa membuat air mengalir hingga menjadi air terjun. Tanpa bersandar kepadaNya, bahkan kita tak akan mampu melakukan hal sepele sekalipun.

Kita, yaitu takdir alam Islam, betul-betul bergantung kepada ikatan dan tawajuh kepada Quran. Masa lalu dan masa depan Islam, bergantung pada tawajuh kita dengan Al Quran dan Pemiliknya. Di belakang Saf Nabi Muhammad SAW, di bawah bimbingan Al Quran. Selama kita tunaikan kewajiban penghambaan kepadaNya, maka Allah akan meninggikan & memuliakan kita. Jika tidak, pintu yang kita ketuk itu akan dilemparkan ke muka kita, harapan tak akan dikabulkan. Keinginan kita akan dicampakkan ke wajah kita, kehinaan dalam 2-3 abad terakhir ini akan ditambah.

Sebagai umat Islam yang agung, sebagai umat Islam yang mulia, Bangsa Islam yang pernah menjadi pemimpin selama 9 abad, kini tak bisa lepas dari status pengemis. Padahal Allah SWT telah mensyaratkan bahwa kemenangan dan kebahagiaan bergantung pada hubungan kita denganNya. Semoga Allah SWT menganugerahi kita dengan kebangkitan dan kebahagiaan. Kita akan bertawajuh kepada Sang Rabb. Kita akan bertawajuh kepadaNya di waktu malam, dengan doa dan munajat kita bertawajuh kepadaNya. Kita berusaha membuat suara ini didengar Allah SWT dengan memanjatkannya dalam keheningan. Aku betul-betul menekankan pentingnya hal ini. Sebagaimana ditekankan oleh Al Quran, aku pun menekankan pentingnya hal ini.

وَمِنَ ٱلَّيۡلِ فَٱسۡجُدۡ لَهُۥ وَسَبِّحۡهُ لَيۡلٗا طَوِيلًا 

Dan di sebagian malam, bersujudlah kepadaNya, dan bertasbihlah kepadaNya di bagian malam yang panjang (QS Insan 76:26).

“Bertasbihlah kepada RabbMu di sebagian malam! Bertasbihlah kamu pada bagian yang panjang di malam hari!”

Masih di awal masa kenabiannya,masih di waktu ‘dhuha’.

“Wahai orang yang berselimut! Bangunlah untuk salat pada waktu malam, kecuali sebagian kecil”

“yaitu separuhnya, atau lebih dari seperdua itu, dan bacalah Al Quran dengan perlahan-lahan

Diperintahkan: “Bangunlah! Hidupkan malammu!”

Bangun dan bersedekaplah di hadapan Tuhan di sebagian besar waktu malam

Dengan perintah: “Atau separuhnya, atau lebih dari seperdua itu, beribadahlah kepada RabbMU”

Ditetapkanlah waktu berdoa dan bermunajat bagi Rasulullah SAW. Karena kamu sibuk dengan hal lain di waktu siang, malam adalah waktu mengajukan permohonan. Agar bisa memikul beratnya tugas kenabian di siang hari, malam adalah waktu untuk memohon & berdoa

“Wahai mata, apa itu kantuk? Bangun dan berzikirlah!”

Pandangilah bintang gemintang dan tafakurilah ayat-ayatNya. Perhatikanlah alam semesta, tafakurilah hikmah-hikmahNya! Tafakurilah! Maka akan kamu pahami Mahakudratnya Allah SWT…”

Kamu menjadi tamu dunia di siang hari, maka kamu akan jadi tamuNya di waktu malam! Saat mengetuk pintuNya, Dia akan mempersilahkanmu masuk. Sebagaimana seorang pemandu melayani tamunya, Dia akan memperlakukanmu seperti itu juga. Dia tidak akan membiarkanmu tanpa jamuan, tanpa penghormatan, tanpa penghargaan. Akan kamu tinggalkan rasa kantuk demi pertemuan dengan Rabbmu. FirmanNya di al Quran:

وَمِنَ ٱلَّيۡلِ فَتَهَجَّدۡ بِهِۦ نَافِلَةٗ لَّكَ عَسَىٰٓ أَن يَبۡعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامٗا مَّحۡمُودٗا 

“Dan di sebagian malam lakukanlah salat tahajud sebagai tambahan bagimu, Mudah-mudahan Rabbmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji” (QS Isra 17: 79)

Bertahajudlah kepada Rabbmu di waktu malam!

Bertawajuhlah kepada Rabbmu di waktu malam!

Ikatkanlah dirimu kepada perintah-perintah Rabbmu di waktu malam. Bertawajuhlah kepada Allah di waktu malam, yang akan menjadi mihrab abadimu nanti. Sehingga dirimu naik ke derajat ‘makam-mahmuda’, yaitu derajat dimana dirimu layak dipuji. Sebagai individu, anggota keluarga, dan masyarakat dirimu naik ke derajat terpuji. Dirimu akan naik ke derajat yang dirindukan dan diinginkan alam semesta. Semua itu bergantung kepada permohonan kepada Rabbmu di waktu malam. Keutamaan ini tak bisa diraih dengan kelalaian. Derajat ini tak bisa dicapai dengan kesia-siaan. Ia tak bisa dicapai dengan tidur di ranjang yang hangat. Hanya dengan mencium sajadah dengan keningmu hal itu bisa diraih. Ia hanya bisa diraih dengan menabung modal abadi demi alam abadi dunia kita nanti. Ia hanya bisa diraih dengan bertawajuh kepada Rabbmu di saat tak ada orang lain yang melihat. Semoga Allah menyadarkan & membuat kita mampu menjelaskan cara meraihnya kepada orang lain.

Semoga Allah menganugerahi kita siratal mustaqim. Rasulullah SAW memiliki sensitivitas serius pada tawajuh dan taat pada perintah-perintahNya. Dalam sebuah hadits beliau bersabda:

“Saat kiamat datang Allah akan berfirman dari posisi tertinggi: Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, mereka berdoa kepada Tuhannya dengan penuh takut & harap.[1]

“Dimanakah hamba-hamba yang mengharapkan rahmat, takut akan azab, dan meninggalkan selimutnya di waktu malam?

Dimanakah hamba-hamba yang meninggalkan kenyamanannya demi beribadah kepada Rabbnya?

Dimanakah mereka yang bangkit untuk salat subuh setelah melewati pendeknya malam?

Dimanakah mereka yang meramaikan masjid?

Rasulullah SAW melanjutkan sabdanya:

“Mereka berkumpul di hadapan Tuhannya sebagai kelompok kecil, Rabb memberikan perintahNya kepada kelompok kecil ini.

Dia memberi perintahNya kepada kelompok kecil yang menghidupkan waktu malamnya:

فَأُوْلَٰٓئِكَ يَدۡخُلُونَ ٱلۡجَنَّةَ يُرۡزَقُونَ فِيهَا بِغَيۡرِ حِسَابٖ

..Maka mereka akan masuk surga, di dalamnya mereka diberi rizki yang tidak terhingga (QS 40:40)

Mereka akan masuk surga tanpa hisab. Mereka yang beribadah kepada Tuhannya di waktu malam. Di hari dimana para siddiqin dan syuhada dihisab, mereka masuk surga tanpa hisab.

Kemudian Baginda Nabi bersabda: “Lainnya dipanggil untuk dihisab”.

Demi tahajud, Baginda Nabi bahkan meninggalkan kenikmatan jasmani paling lezat. Beliau berpaling dari kenikmatan jasmani menuju puncak dari kedudukan kalbu dan jiwa. Di titik itu, beliau menatap Sang Rabb, dan meletakkan dirinya untuk beribadah kepada Tuhannya. Sayyidina Aisyah as Siddiqah menceritakan dalam sahihain: “Aku kehilangan dirinya di waktu malam. Pelita yang menyala di rumah pun tidak ada.” Begini ia menceritakan rumah dan ruangan mulianya “Demikian sempitnya ruangan kamar kami, Ketika hendak kerjakan salat dari tengah malam hingga subuh, aku julurkan kakiku ke tempat sujudnya.” Kita dapat melihat penjelasan ini di Sahih Bukhari dan Muslim.

“Saat sujud, beliau mendorong kakiku dengan punggung tangannya dan bersujud di tempat kakiku tadi.” Demikianlah gambaran ruangan Sang Nabi. “Aku terkejut melihatnya tak ada di sampingku, Sebagaimana fitrah wanita, rasa cemburuku muncul. Apakah beliau pergi ke istrinya yang lain? Rasa cemburu meliputiku. Aku mengecek lagi dengan merabakan tanganku. Tanganku menyentuh kakinya saat beliau bersujud. Tanganku menyentuh kaki mulia Rasulullah SAW. Beliau sedang bersujud. Telingaku mendengar dengan jelas, aku memahami apa yang beliau panjatkan. Bagaimana beliau tersedu sedan, beliau dalam sujudnya berdoa seperti ini:”

Ya Allah, kuberlindung di balik ridaMu dari murkaMu, Kuberlindung pada keselamatanMu dari pedihnya azabMu. Aku berlindung kepadaMu dariMu, aku berlindung kepada sifat Jamal dari sifat JalalMu.

Ya Allah, kuberlindung di balik ridaMu dari murkaMu, Kuberlindung pada keselamatanMu dari pedihnya azabMu. Aku berlindung kepadaMu dariMu, aku berlindung kepada sifat Jamal dari sifat JalalMu.

Aku berlindung kepada rahmatMu dari sifat al QahharMu, Aku berlindung kepada tawajuhMu dari alpanya tawajuhku. “Aku berlindung kepada anugerah MahasuciMu, Aku memohon kepadaMu, Ya Allah” demikian munajatnya.

Beliau bermunajat kepada Rabbnya. Sayyidah Aisyah meriwayatkan:

“Aku berlindung kepadaMu dariMu”

“Aku tak mampu memujiMu, Ya Allah,” keluh beliau

“Aku tak sanggung memuji dan mengagungkanMu dengan layak”

“Aku tak mampu memujiMu sebagaimana diriMu memujiMu, Aku tak mampu menjelaskanmu seperti diriMu menjelaskanMu”

Bahasanya Sayyidah Aisyah: “Seseorang yang tunduk, tawaduk, dan dengan sujudnya ia menyembah Rabbnya”

Semoga Allah SWT mengbangkitkan kalbu kita dari kematiannya. Semoga Allah SWT anugerahi kita dengan penghambaan sempurna. Semoga Allah SWT menganugerahi jalan keselamatan kepada bangsa ini, Serta memberikan hidayah di jalan lurusNya. Semoga Allah SWT menyelamatkan mereka yang fakir dan pendosa dari sifat riya dan kemunafikan. Jika saya naik mimbar tanpa menghidupkan malam, kuanggap diriku telah berlaku munafik. Kuanggap diriku munafik, karena aku berwajah dua. Semoga Allah lewat hidayahNya, meluruskan hidup yang tidak bisa saya luruskan selama 40 tahun umurku.

Semoga Allah menyelamatkanku dari ketenggelaman dalam kesalahan saat berusaha menyelamatkan diri. Semoga Allah menyelamatkan mereka yang keadaannya mirip denganku. Saya rasa banyak orang yang saya kenal memiliki kegelisahan yang sama. Lewat bait Yunus Emre, yang keindahannya membuat bunga berbicara.

Aku bertanya kepada satu bunga mengapa kamu menunduk. Bunga berkata: Wahai Darwis, aku menunduk di hadapan al Haq

Dan refrein pun dimulai: Aku adalah budakMu yang tak berdaya, Banyak sekali dosanya. Sebesar gunung besarnya satu dosa. Duhai Allah ampuni hamba. Demikian bunyi refreinnya.

Betapa banyak orang yang saat kulihat, Ia seperti budakNya yang tak berdaya, banyak berdosa, dimana satu dosa setara gunung besarnya. Betapa banyak orang, kulihat mereka seperti halnya diriku yang tak mencium sajadah di tengah malam. Keningnya tidak mencium sajadah.

Betapa banyak orang, bertahun-tahun sajadahnya kering dari air matanya. Betapa banyak orang, di gelap rumahnya tak muncul gelombang semangat, tak terdengar rintihan kalbu.

Betapa banyak orang hidup dengan kalbu yang mati, berkeliling dengan kalbu yang mati, Bangun dan tidur sebagai orang dengan kalbu yang mati. Semoga Allah memberikan irsyad dan hidayah kepada orang-orang yang mirip denganku, Juga kepada mereka yang seperti halnya kita, terjatuh dalam sebagian sifat nifak.

Saat sosok seperti Sayyidina Umar & Sayyidatina Aisyah khawatir ada ciri nifak dalam dirinya, Pun saat aku mengkhawatirkan ciri nifak pada diriku, hendaknya tidak membuat kalian putus asa. Hal itu terkait padaku, mungkin hal itu adalah kesalahan. Tetapi demikianlah aku memandang diriku, aku tak ingin memandang diriku dari perspektif lainnya.

Demi generasiku, ketika aku menjelaskan keadaan mereka, Sebagai seseorang dari mereka yang tampil di hadapan Baginda Nabi, penjelasanku meraih suatu bentuk yang berbeda. Walau aku merasakan hal berbeda saat mengimami salat, aku tak pernah lupa akan sifat nifakku.

Atas nama generasiku, Jika aku mengulurkan keningku untuk dicium Baginda Nabi, Aku melakukannya atas nama generasiku, serta atas nama mereka yang melayani Al Quran dan iman. Tetapi tak pernah saya lupa, bahwa saya bahkan bukan sesuatu dibandingkan Qitmirnya Ashabul Kahfi. Di akhir zaman, Allah SWT akan menghembuskan nafas kehidupan kepada umat manusia. Andai aku dijadikan keledainya al Masih, aku akan menganggapnya sebagai kemuliaan dan berharap bisa masuk surga karenanya. Demikianlah saya melakukan perhitungan pada diri saya. Demikianlah saya menutup buku amal saya. Saya juga ingin agar nanti dapat mati seperti itu. Itulah dua sisi kehidupanku.

Ketika mempersembahkan keadaan generasiku di hadapan Rabbku, Ketika menghadap Baginda Nabi dengan leher menunduk dan punggung membungkuk, Aku berusaha menjelaskan keadaan dan derita yang dirasakannya. Kepada generasi yang menderita, Kepada penerjemah generasi yang rasakan derita! Seandainya Allah menjadikannya merasakan derita yang sejati, seandainya sebagaimana dulu, Allah membuatku menangis dalam setiap segmen kehidupan. Seandainya Allah membuatku mampu melihat ciri nifakku lebih serius lagi sebagaimana dulu kala. Seandainya Allah menganugerahiku akhir yang baik dari kehidupan yang fana ini, Aku akan menganggapnya sebagai kebahagiaan terbesar.

Aku menyandarkan harapanku pada derajat yang akan diraih jamaah ini di hadapan Allah. Generasi yang dengan semangatnya dapat meraih siratal mustakim & kecintaan untuk pahami Quran. Jika mereka masuk surga, mereka akan melihatku di belakangnya. Barangkali mereka tak akan memasuki surga tanpa mengajakku juga. Demikianlah saya menyandarkan harapanku.

Aku menyandarkan harapanku kepada mereka yang tak berdosa. Semoga Allah menghidupkanku dengan harapan ini, serta mencabut nyawaku dengan harapan ini. Semoga Allah SWT terus hidupkan rasa ini pada diriku, rasa tak berdaya, papa, & remeh di hadapanNya. Semoga Allah anugerahi kita dengan pemahaman dan kesadaran ini!

[1] QS As-Sajdah ayat 16

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *