Photo by Saffu on Unsplash

Mereka yang Merasakan Manisnya Iman

“Dawai Kalbu: Mereka Yang Merasakan Manisnya Iman”

Dalam sabda Nabi SAW disebutkan bahwa: Barangsiapa memiliki 3 ciri ini, berarti dia telah merasakan manisnya iman[1]. Ciri-ciri tersebut antara lain:

  1. Mencintai Allah dan RasulNya atas segalanya
  2. Mencintai sesuatu hanya karenaNya
  3. Benci kembali ke kesesatan seperti bencinya ia jika dilempar ke neraka

Jika pada diri seseorang ada tiga ini, maka pemiliknya akan merasakan manisnya iman. Mereka yang merasakan manisnya iman, imannya di atas segalanya, serta memahkotai imannya dengan makrifat. Iman yang tak bersandar pada makrifat selalu mudah ambruk oleh sedikit guncangan.

Kondisinya mirip seperti hari ini, dimana kita diguncang oleh perilaku setan dan bala bencana. Di sisi lain, guncangan itu menguji siapa saja yang teguh di jalanNya, sebagaimana ampas dan residu terpisah dari emas dan perak saat diekstraksi.

وَلِيُمَحِّصَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَيَمۡحَقَ ٱلۡكَٰفِرِينَ 

“Agar Allah membersihkan orang beriman dan membinasakan orang kafir” (QS 3:141).

Orang-orang terjungkal karena sikapnya, mereka menunjukkan siapa dan kemana mereka bersandar. Ternyata karakternya menunjukkan bahwa mereka tak siap menghadapi persoalan-persoalan serius. Andai mereka hidup di masa Nabi mereka akan membuat fiasko dan blunder di Badar dan Uhud. Di Medan Khandaq, mungkin mereka akan membuat skenario untuk berlepas diri. Sebagaimana yang dilakukan oleh tokoh munafik, Abdullah bin Ubay bin Salul. Mungkin dia hanya satu, tetapi di sekitarnya ada banyak orang lugu yang hanyut bersamanya. Kini dunia kita mengalami inflasi karena banyaknya sosok seperti Abdullah bin Ubay bin Salul muncul.

Demikianlah, tanda dirasakannya manisnya iman adalah dicintainya Allah dan RasulNya di atas segalanya. Pertama iman kepada Allah, lalu memahkotai iman dengan makrifat. Kemudian menjaga agar makrifat dan mahabatullah senantiasa terkembang. Memahkotai mahabatullah dengan rasa cinta dan istiyak kepadaNya. Topik ini banyak dibahas dalam tasawuf, tetapi tidak di kitab fikih dan akhlak. Rasa cinta dan istiyak kepada Allah kemudian melahirkan zawq ruhani yang dibahas oleh Ustaz: “Imani billah, makrifatullah, mahabbatullah, dan zawq ruhani.”

Tetapi, dari perspektif Qitmiriyah, Zawq Ruhani hanya dicapai jika tak diharapkan, tetapi datang sendiri. Segala amal hanya untukNya. Saat datang, kita hanya bisa berkata: “ini semua adalah anugerah, rahmat, kemurahan dari Allah SWT.” Semoga Allah tak membatasi anugerah ini pada kita, semoga Allah senantiasa menganugerahinya pada kita Imani billah, marifatullah, mahabatullah, zawq ruhani, dan rasa cinta dan istiyak padaNya.

Mencintai Allah dan RasulNya lebih dari apapun. Sebagai contoh, seperti yang kusampaikan di ceramah yang agak berantakan waktu itu. Ketika Sayyidina Umar tiba-tiba mahabah serta rasa cinta dan istiyaknya terkembang. Lalu ia menatap wajah cemerlang secerah mentari dari Baginda Nabi dan berkata, “Ya Rasulullah! Aku mencintaimu lebih dari segalanya, dari keluargaku, anakku, kecuali diriku.” Pernyataan ini adalah pernyataan yang sangat penting. Andai kita mendengar langsung pernyataan serta kehalusan, kedalaman, serta keindahannya, maka pasti kita akan berdiri dan berputar layaknya para darwish murid Rumi. Tetapi Baginda Nabi memberikan jawaban yang tak disangka. “Tidak beriman salah seorang dari kamu hingga aku lebih dicintai daripada dirinya sendiri.” Istimewanya sistem respon Sayyidina Umar, ia bisa menerima pesan dari seribu lokasi berbeda sekaligus. Pesan tersebut dengan segera diolah dan diberi respon. Ia memiliki kapasitas untuk berkembang serta melejit secara instan dan seketika. Seketika ia berkata:”Ya Rasulullah, kini aku mencintaimu bahkan lebih dari diriku.”[2] Aku tak pernah berpikir walau satu banding sejuta kata-katanya akan menyalahi realita. Ia adalah Umar. Semoga Allah anugerahi kita keistimewaan itu.

 

[1] Dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu , dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيْمَانِ، مَنْ كَانَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُـحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ  أَنْ يَعُوْدَ فِـي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْهُ، كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِـي النَّارِ.

“Ada tiga perkara yang apabila perkara tersebut ada pada seseorang, maka ia akan mendapatkan manisnya iman, yaitu (1) barangsiapa yang Allâh dan Rasûl-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya, (2) apabila ia mencintai seseorang, ia hanya mencintainya karena Allâh. (3) Ia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allâh menyelamatkannya sebagaimana ia benci untuk dilemparkan ke dalam Neraka.”

Hadits Shahih, diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari (no. 16), Muslim (no. 43), At-Tirmidzi (no. 2624), An-Nasa`i (VIII/95-96), dan Ibnu Majah (no. 4033).

[2] Kisah ini diriwayatkan pada HR. Bukhari [Bukhari: 86-Kitabul Iman wan Nudzur, 2-Bab Bagaimana Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersumpah]

neven-krcmarek-175845-unsplash

Bangkit Bersama Tahajud

“Bangkit Bersama Tahajud”

Jamaah Muslim yang Terhormat! Sebagai manusia yang mengingat sisi-sisi kemanusiaannya, Sebagai manusia yang merasakan naluri kalbu, karena meneliti jalan untuk meraih kembali apa-apa yang hilang merupakan keharusan bagi manusia, maka kita akan berusaha meneliti dan menemukan jalan untuk meraih kembali apa yang telah hilang. Itu adalah potensi yang harus berusaha kita keluarkan dan wujudkan.

Kita berusaha mencari jalan untuk menghembuskan kehidupan kepada alam Islam yang sedang mati. Kita harus berusaha menunjukkan hal-hal menyenangkan nan segar lewat generasi muslim yang baru. Ini bergantung pada bagaimana kita hidup dan berkesadaran dengan nafas Islam. Bergantung pada bagaimana kita mampu menjadi Jamaah Qur’ani, bukan dengan memahami dan menjalankan Islam sekehendak hawa nafsu. Tetapi dengan kriteria dan sudut pandang dari Nabi Muhammad SAW-lah kita harus memahami Islam. Kita juga berkewajiban untuk menjelaskannya, kita berhadapan dengan kewajiban seperti itu, dan kita merasakannya sebagai tugas yang amat agung.

Agar mampu menjalankan tugas berat dan agung ini, kita harus menyandarkan diri kepada Sang Rabb sebagaimana prajurit yang bersandar kepada sultannya. Sebagaimana prajurit yang berhasil menawan raja karena mereka bersandar pada sultannya. Dengan bersandar padaNya dan kedekatan pada Rabb, kita bisa membuat segala sesuatu bertekuk lutut. Dengan bersandar padaNya, kita bisa menggeser gunung. Dengannya kita akan meraih kekuatan. Dengan bersandar kepadaNya, kita bisa membuat air mengalir hingga menjadi air terjun. Tanpa bersandar kepadaNya, bahkan kita tak akan mampu melakukan hal sepele sekalipun.

Kita, yaitu takdir alam Islam, betul-betul bergantung kepada ikatan dan tawajuh kepada Quran. Masa lalu dan masa depan Islam, bergantung pada tawajuh kita dengan Al Quran dan Pemiliknya. Di belakang Saf Nabi Muhammad SAW, di bawah bimbingan Al Quran. Selama kita tunaikan kewajiban penghambaan kepadaNya, maka Allah akan meninggikan & memuliakan kita. Jika tidak, pintu yang kita ketuk itu akan dilemparkan ke muka kita, harapan tak akan dikabulkan. Keinginan kita akan dicampakkan ke wajah kita, kehinaan dalam 2-3 abad terakhir ini akan ditambah.

Sebagai umat Islam yang agung, sebagai umat Islam yang mulia, Bangsa Islam yang pernah menjadi pemimpin selama 9 abad, kini tak bisa lepas dari status pengemis. Padahal Allah SWT telah mensyaratkan bahwa kemenangan dan kebahagiaan bergantung pada hubungan kita denganNya. Semoga Allah SWT menganugerahi kita dengan kebangkitan dan kebahagiaan. Kita akan bertawajuh kepada Sang Rabb. Kita akan bertawajuh kepadaNya di waktu malam, dengan doa dan munajat kita bertawajuh kepadaNya. Kita berusaha membuat suara ini didengar Allah SWT dengan memanjatkannya dalam keheningan. Aku betul-betul menekankan pentingnya hal ini. Sebagaimana ditekankan oleh Al Quran, aku pun menekankan pentingnya hal ini.

وَمِنَ ٱلَّيۡلِ فَٱسۡجُدۡ لَهُۥ وَسَبِّحۡهُ لَيۡلٗا طَوِيلًا 

Dan di sebagian malam, bersujudlah kepadaNya, dan bertasbihlah kepadaNya di bagian malam yang panjang (QS Insan 76:26).

“Bertasbihlah kepada RabbMu di sebagian malam! Bertasbihlah kamu pada bagian yang panjang di malam hari!”

Masih di awal masa kenabiannya,masih di waktu ‘dhuha’.

“Wahai orang yang berselimut! Bangunlah untuk salat pada waktu malam, kecuali sebagian kecil”

“yaitu separuhnya, atau lebih dari seperdua itu, dan bacalah Al Quran dengan perlahan-lahan

Diperintahkan: “Bangunlah! Hidupkan malammu!”

Bangun dan bersedekaplah di hadapan Tuhan di sebagian besar waktu malam

Dengan perintah: “Atau separuhnya, atau lebih dari seperdua itu, beribadahlah kepada RabbMU”

Ditetapkanlah waktu berdoa dan bermunajat bagi Rasulullah SAW. Karena kamu sibuk dengan hal lain di waktu siang, malam adalah waktu mengajukan permohonan. Agar bisa memikul beratnya tugas kenabian di siang hari, malam adalah waktu untuk memohon & berdoa

“Wahai mata, apa itu kantuk? Bangun dan berzikirlah!”

Pandangilah bintang gemintang dan tafakurilah ayat-ayatNya. Perhatikanlah alam semesta, tafakurilah hikmah-hikmahNya! Tafakurilah! Maka akan kamu pahami Mahakudratnya Allah SWT…”

Kamu menjadi tamu dunia di siang hari, maka kamu akan jadi tamuNya di waktu malam! Saat mengetuk pintuNya, Dia akan mempersilahkanmu masuk. Sebagaimana seorang pemandu melayani tamunya, Dia akan memperlakukanmu seperti itu juga. Dia tidak akan membiarkanmu tanpa jamuan, tanpa penghormatan, tanpa penghargaan. Akan kamu tinggalkan rasa kantuk demi pertemuan dengan Rabbmu. FirmanNya di al Quran:

وَمِنَ ٱلَّيۡلِ فَتَهَجَّدۡ بِهِۦ نَافِلَةٗ لَّكَ عَسَىٰٓ أَن يَبۡعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامٗا مَّحۡمُودٗا 

“Dan di sebagian malam lakukanlah salat tahajud sebagai tambahan bagimu, Mudah-mudahan Rabbmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji” (QS Isra 17: 79)

Bertahajudlah kepada Rabbmu di waktu malam!

Bertawajuhlah kepada Rabbmu di waktu malam!

Ikatkanlah dirimu kepada perintah-perintah Rabbmu di waktu malam. Bertawajuhlah kepada Allah di waktu malam, yang akan menjadi mihrab abadimu nanti. Sehingga dirimu naik ke derajat ‘makam-mahmuda’, yaitu derajat dimana dirimu layak dipuji. Sebagai individu, anggota keluarga, dan masyarakat dirimu naik ke derajat terpuji. Dirimu akan naik ke derajat yang dirindukan dan diinginkan alam semesta. Semua itu bergantung kepada permohonan kepada Rabbmu di waktu malam. Keutamaan ini tak bisa diraih dengan kelalaian. Derajat ini tak bisa dicapai dengan kesia-siaan. Ia tak bisa dicapai dengan tidur di ranjang yang hangat. Hanya dengan mencium sajadah dengan keningmu hal itu bisa diraih. Ia hanya bisa diraih dengan menabung modal abadi demi alam abadi dunia kita nanti. Ia hanya bisa diraih dengan bertawajuh kepada Rabbmu di saat tak ada orang lain yang melihat. Semoga Allah menyadarkan & membuat kita mampu menjelaskan cara meraihnya kepada orang lain.

Semoga Allah menganugerahi kita siratal mustaqim. Rasulullah SAW memiliki sensitivitas serius pada tawajuh dan taat pada perintah-perintahNya. Dalam sebuah hadits beliau bersabda:

“Saat kiamat datang Allah akan berfirman dari posisi tertinggi: Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, mereka berdoa kepada Tuhannya dengan penuh takut & harap.[1]

“Dimanakah hamba-hamba yang mengharapkan rahmat, takut akan azab, dan meninggalkan selimutnya di waktu malam?

Dimanakah hamba-hamba yang meninggalkan kenyamanannya demi beribadah kepada Rabbnya?

Dimanakah mereka yang bangkit untuk salat subuh setelah melewati pendeknya malam?

Dimanakah mereka yang meramaikan masjid?

Rasulullah SAW melanjutkan sabdanya:

“Mereka berkumpul di hadapan Tuhannya sebagai kelompok kecil, Rabb memberikan perintahNya kepada kelompok kecil ini.

Dia memberi perintahNya kepada kelompok kecil yang menghidupkan waktu malamnya:

فَأُوْلَٰٓئِكَ يَدۡخُلُونَ ٱلۡجَنَّةَ يُرۡزَقُونَ فِيهَا بِغَيۡرِ حِسَابٖ

..Maka mereka akan masuk surga, di dalamnya mereka diberi rizki yang tidak terhingga (QS 40:40)

Mereka akan masuk surga tanpa hisab. Mereka yang beribadah kepada Tuhannya di waktu malam. Di hari dimana para siddiqin dan syuhada dihisab, mereka masuk surga tanpa hisab.

Kemudian Baginda Nabi bersabda: “Lainnya dipanggil untuk dihisab”.

Demi tahajud, Baginda Nabi bahkan meninggalkan kenikmatan jasmani paling lezat. Beliau berpaling dari kenikmatan jasmani menuju puncak dari kedudukan kalbu dan jiwa. Di titik itu, beliau menatap Sang Rabb, dan meletakkan dirinya untuk beribadah kepada Tuhannya. Sayyidina Aisyah as Siddiqah menceritakan dalam sahihain: “Aku kehilangan dirinya di waktu malam. Pelita yang menyala di rumah pun tidak ada.” Begini ia menceritakan rumah dan ruangan mulianya “Demikian sempitnya ruangan kamar kami, Ketika hendak kerjakan salat dari tengah malam hingga subuh, aku julurkan kakiku ke tempat sujudnya.” Kita dapat melihat penjelasan ini di Sahih Bukhari dan Muslim.

“Saat sujud, beliau mendorong kakiku dengan punggung tangannya dan bersujud di tempat kakiku tadi.” Demikianlah gambaran ruangan Sang Nabi. “Aku terkejut melihatnya tak ada di sampingku, Sebagaimana fitrah wanita, rasa cemburuku muncul. Apakah beliau pergi ke istrinya yang lain? Rasa cemburu meliputiku. Aku mengecek lagi dengan merabakan tanganku. Tanganku menyentuh kakinya saat beliau bersujud. Tanganku menyentuh kaki mulia Rasulullah SAW. Beliau sedang bersujud. Telingaku mendengar dengan jelas, aku memahami apa yang beliau panjatkan. Bagaimana beliau tersedu sedan, beliau dalam sujudnya berdoa seperti ini:”

Ya Allah, kuberlindung di balik ridaMu dari murkaMu, Kuberlindung pada keselamatanMu dari pedihnya azabMu. Aku berlindung kepadaMu dariMu, aku berlindung kepada sifat Jamal dari sifat JalalMu.

Ya Allah, kuberlindung di balik ridaMu dari murkaMu, Kuberlindung pada keselamatanMu dari pedihnya azabMu. Aku berlindung kepadaMu dariMu, aku berlindung kepada sifat Jamal dari sifat JalalMu.

Aku berlindung kepada rahmatMu dari sifat al QahharMu, Aku berlindung kepada tawajuhMu dari alpanya tawajuhku. “Aku berlindung kepada anugerah MahasuciMu, Aku memohon kepadaMu, Ya Allah” demikian munajatnya.

Beliau bermunajat kepada Rabbnya. Sayyidah Aisyah meriwayatkan:

“Aku berlindung kepadaMu dariMu”

“Aku tak mampu memujiMu, Ya Allah,” keluh beliau

“Aku tak sanggung memuji dan mengagungkanMu dengan layak”

“Aku tak mampu memujiMu sebagaimana diriMu memujiMu, Aku tak mampu menjelaskanmu seperti diriMu menjelaskanMu”

Bahasanya Sayyidah Aisyah: “Seseorang yang tunduk, tawaduk, dan dengan sujudnya ia menyembah Rabbnya”

Semoga Allah SWT mengbangkitkan kalbu kita dari kematiannya. Semoga Allah SWT anugerahi kita dengan penghambaan sempurna. Semoga Allah SWT menganugerahi jalan keselamatan kepada bangsa ini, Serta memberikan hidayah di jalan lurusNya. Semoga Allah SWT menyelamatkan mereka yang fakir dan pendosa dari sifat riya dan kemunafikan. Jika saya naik mimbar tanpa menghidupkan malam, kuanggap diriku telah berlaku munafik. Kuanggap diriku munafik, karena aku berwajah dua. Semoga Allah lewat hidayahNya, meluruskan hidup yang tidak bisa saya luruskan selama 40 tahun umurku.

Semoga Allah menyelamatkanku dari ketenggelaman dalam kesalahan saat berusaha menyelamatkan diri. Semoga Allah menyelamatkan mereka yang keadaannya mirip denganku. Saya rasa banyak orang yang saya kenal memiliki kegelisahan yang sama. Lewat bait Yunus Emre, yang keindahannya membuat bunga berbicara.

Aku bertanya kepada satu bunga mengapa kamu menunduk. Bunga berkata: Wahai Darwis, aku menunduk di hadapan al Haq

Dan refrein pun dimulai: Aku adalah budakMu yang tak berdaya, Banyak sekali dosanya. Sebesar gunung besarnya satu dosa. Duhai Allah ampuni hamba. Demikian bunyi refreinnya.

Betapa banyak orang yang saat kulihat, Ia seperti budakNya yang tak berdaya, banyak berdosa, dimana satu dosa setara gunung besarnya. Betapa banyak orang, kulihat mereka seperti halnya diriku yang tak mencium sajadah di tengah malam. Keningnya tidak mencium sajadah.

Betapa banyak orang, bertahun-tahun sajadahnya kering dari air matanya. Betapa banyak orang, di gelap rumahnya tak muncul gelombang semangat, tak terdengar rintihan kalbu.

Betapa banyak orang hidup dengan kalbu yang mati, berkeliling dengan kalbu yang mati, Bangun dan tidur sebagai orang dengan kalbu yang mati. Semoga Allah memberikan irsyad dan hidayah kepada orang-orang yang mirip denganku, Juga kepada mereka yang seperti halnya kita, terjatuh dalam sebagian sifat nifak.

Saat sosok seperti Sayyidina Umar & Sayyidatina Aisyah khawatir ada ciri nifak dalam dirinya, Pun saat aku mengkhawatirkan ciri nifak pada diriku, hendaknya tidak membuat kalian putus asa. Hal itu terkait padaku, mungkin hal itu adalah kesalahan. Tetapi demikianlah aku memandang diriku, aku tak ingin memandang diriku dari perspektif lainnya.

Demi generasiku, ketika aku menjelaskan keadaan mereka, Sebagai seseorang dari mereka yang tampil di hadapan Baginda Nabi, penjelasanku meraih suatu bentuk yang berbeda. Walau aku merasakan hal berbeda saat mengimami salat, aku tak pernah lupa akan sifat nifakku.

Atas nama generasiku, Jika aku mengulurkan keningku untuk dicium Baginda Nabi, Aku melakukannya atas nama generasiku, serta atas nama mereka yang melayani Al Quran dan iman. Tetapi tak pernah saya lupa, bahwa saya bahkan bukan sesuatu dibandingkan Qitmirnya Ashabul Kahfi. Di akhir zaman, Allah SWT akan menghembuskan nafas kehidupan kepada umat manusia. Andai aku dijadikan keledainya al Masih, aku akan menganggapnya sebagai kemuliaan dan berharap bisa masuk surga karenanya. Demikianlah saya melakukan perhitungan pada diri saya. Demikianlah saya menutup buku amal saya. Saya juga ingin agar nanti dapat mati seperti itu. Itulah dua sisi kehidupanku.

Ketika mempersembahkan keadaan generasiku di hadapan Rabbku, Ketika menghadap Baginda Nabi dengan leher menunduk dan punggung membungkuk, Aku berusaha menjelaskan keadaan dan derita yang dirasakannya. Kepada generasi yang menderita, Kepada penerjemah generasi yang rasakan derita! Seandainya Allah menjadikannya merasakan derita yang sejati, seandainya sebagaimana dulu, Allah membuatku menangis dalam setiap segmen kehidupan. Seandainya Allah membuatku mampu melihat ciri nifakku lebih serius lagi sebagaimana dulu kala. Seandainya Allah menganugerahiku akhir yang baik dari kehidupan yang fana ini, Aku akan menganggapnya sebagai kebahagiaan terbesar.

Aku menyandarkan harapanku pada derajat yang akan diraih jamaah ini di hadapan Allah. Generasi yang dengan semangatnya dapat meraih siratal mustakim & kecintaan untuk pahami Quran. Jika mereka masuk surga, mereka akan melihatku di belakangnya. Barangkali mereka tak akan memasuki surga tanpa mengajakku juga. Demikianlah saya menyandarkan harapanku.

Aku menyandarkan harapanku kepada mereka yang tak berdosa. Semoga Allah menghidupkanku dengan harapan ini, serta mencabut nyawaku dengan harapan ini. Semoga Allah SWT terus hidupkan rasa ini pada diriku, rasa tak berdaya, papa, & remeh di hadapanNya. Semoga Allah anugerahi kita dengan pemahaman dan kesadaran ini!

[1] QS As-Sajdah ayat 16

casey-horner-432428-unsplash

Al Qulubud Daria (Kalbu yang Merintih)

“Al Qulubud Daria (Kalbu yang Merintih)”

Tanya: Dalam rangka belajar adab memohon dan berdoa kepada Allah serta untuk senantiasa berada dalam keadaan bertawajuh kepadaNya, buku kumpulan doa yang bernama Al Qulubud Daria terlihat amat penting peranannya dimana ia berhasil mengisi kekosongan itu. Akan tetapi, walaupun kita bisa membaca huruf-huruf Al Quran, kita masih belum mampu memahami makna sebagian besar wirid dan zikir yang terdapat di buku tersebut. Terkait hal ini, apa nasihat Anda untuk kami?

Jawab: Al Qulubud Daria bermakna kalbu penuh linangan air mata yang mengetuk pintu Allah, dimana pintuNya adalah satu-satunya tempat untuk berlindung; kalbu yang bersedekap, menunduk, membungkuk di pinggir pintuNya, yang mengemis dan memohon kepadaNya; kalbu yang membuka isi di dalamnya; kalbu yang mencurahkan satu per satu segala masalah yang membebaninya; serta kalbu yang merintih karena terbakar dan dibakar. Untuk merangkum semua makna ini barangkali dapat digunakan istilah “Kalbu yang Meratap”. Buku ini dirangkum dari kitab doa sebanyak tiga jilid yang bernama Majmuatul Ahzab karya Gumushanevi Ahmed Ziyauddin Efendi yang diklasifikasi ulang.

Sayyidina Gumushanevi dan Majmuatul Ahzab

Almarhum Ahmed Ziyauddin Efendi adalah ulama di periode akhir Usmani. Beliau lahir pada tahun 1813 di Desa Emirler, Kecamatan Gumushane. Beliau tidak hanya sibuk dengan ilmu-ilmu zahir. Di waktu yang sama, beliau juga menuntut ilmu-ilmu batin dan berhasil meraih ijazah di dua bidang tersebut. Sayyidina Gumushanevi merupakan salah satu Syeikh dari Tarikat Naqsyabandiyah Khalidiyah, beliau mendedikasikan hidupnya untuk ilmu dan irsyad. Pada tahu 1893 beliau kembali ke rahmatullah di Kota Istanbul dengan meninggalkan puluhan karya.

Salah satu karya beliau yang paling dikenang adalah Majmuatul Ahzab, sebuah karya setebal kurang lebih dua ribu halaman. Sayyidina Gumushanevi menyiapkan karyanya ini bersama murid-muridnya dengan perhatian yang amat besar. Berkat kerja kerasnya, ia berhasil mengumpulkan ratusan wirid dan zikir yang diamalkan oleh puluhan kekasih dan wali-wali Allah. Dalam kitabnya tersebut, dijelaskan nama hizib[1], penulisnya, kapan dan bagaimana ia dibaca. Misalnya, terdapat istigfar pekanan yang biasa dibaca oleh Imam Hasan Basri, dimana istigfar tersebut dibaca harian dimulai dari hari jumat. Selain itu, di kitab tersebut juga terdapat bagian hizib, wirid, zikir malam, doa, istigfar, istiazah, tasbih, tahlil, salawat, dan qasidah bertajuk ‘usbuiyah/pekanan’ yang dibaca oleh para sultan alam maknawi seperti Sayyidina Ali karamallahu wajhah, Usamah r.a., Muhyiddin Ibnu Arabi, Abu Hasan Syazili, serta Imam Jafar as Sadiq dimana di dalamnya terdapat doa yang dibaca setiap hari selama seminggu.

Majmuatul Ahzab adalah kitab doa yang tak pernah lepas dari tangan Bediuzzaman Said Nursi. Demikian dekatnya beliau dengan kitab ini, karya bernilai tinggi yang tebalnya kurang lebih tiga kali mushaf ini diselesaikan setiap lima belas hari sekali. Aku juga beberapa kali mendengar penjelasan mengenai pentingnya membaca majmuatul ahzab dimana ia menjadi salah satu rukun dalam Profesi Nur. Ini artinya, Sang Penulis Nur, menyisihkan waktunya kurang lebih sebanyak 5-6 jam setiap hari untuk menyelesaikan pembacaan kumpulan ini dan demikianlah beliau menyibukkan dirinya dengan wirid dan zikir.

Di sini aku ingin menyampaikan sebuah kenangan yang mungkin keluar dari topik pembahasan kita: Ada salah satu tokoh alim agung yang juga ahli kalbu yang sangat kagum pada bagaimana uslub Ustaz memahami, menjelaskan, menguraikan, dan menyebarkan hakikat-hakikat iman. Ia menyampaikan bahwasanya risalah nur penulisannya amatlah sulit, merupakan karya-karya yang sangat berharga, dimana karya tersebut tak mungkin bisa ditulis hanya dengan membayangkannya saja. Ia juga menjelaskan bahwasanya karya tersebut hanya dapat digandakan dan disebarkan jika ia bersandar pada sumber yang amat kuat. Dalam setiap kesempatan yang didapatnya, ia selalu menyampaikan penghormatannya kepada Sang Penulis Nur serta kepada setiap pengabdian iman. Kemudian ada satu orang yang menunjukkan kitab Majmuatul Ahzab kepada alim tersebut serta menyampaikan bahwasanya Ustaz tak pernah lepas darinya. Sang alim kemudian berkata: “Kini aku tahu apa sumber kuat tersebut. Berarti Bediuzzaman memiliki hubungan yang amat serius dengan Rabbnya. Hubungan Ustaz dengan Allah SWT amatlah kuat. Oleh karena Ustaz tidak pernah mengendurkan tawajuhnya kepada Allah serta tidak pernah lalai dalam menjaga hubungan dengan Rabbnya, maka Allah SWT senantiasa mengokohkan kedudukannya serta menganugerahinya berbagai ihsan ilahi. “

Ya, dari manapun Anda melihat Ustaz, Anda akan menyaksikannya sebagai suatu prasasti yang sempurna. Ia tidak berkata:”Aku mengabdi kepada iman, tak apa aku ada cela dalam wirid dan zikirku!” atau “Aku mendedikasikan diriku kepada zikir dan tafakur, tak apa aku agak tertinggal di bidang meninggikan kalimat Allah!” ataupun “Aku akan mengerjakan pekerjaan ini dengan sempurna, tak apa aku agak kendor di bidang itu!”. Beliau hidup sebagai manusia yang seimbang. Beliau menganut prinsip seimbang di semua lini. Maka beliau pun mempraktikkan pembagian waktu dan pemanfaatan umur kehidupan dengan baik. Beliau tidak pernah berlaku sia-sia, tak ada waktu kehidupannya yang kosong. Beliau senantiasa memenuhi waktu dan umur kehidupannya sehingga tidak ada yang kosong. Untuk itu, tidak ada satupun tugas yang berkaitan dengan penghambaan yang diabaikan. Beliau tidak pernah menunda untuk membaca wirid dan zikir hariannya. Sebagaimana beliau menuntaskan pembacaan kitab Majmuatul Ahzab, beberapa bagian doa dari kitab tersebut semisal Jausyan, Wirid Naqsyabandi, Dalailun Nur, Sakinah, Munajat Uways al Qarani, Doa Ismu Azam, Munajat al Quran, Tahmidiyah, serta Khulasatul Khulasah dikumpulkannya menjadi sebuah hizib. Beliau berharap agar mereka yang tidak mampu membaca kitab doa ini dari awal hingga akhir setidaknya dapat mengamalkan hizib ini. Mereka yang mencintai dan mengamalkan nasihat-nasihatnya dari masa itu hingga masa ini pun  senantiasa mengamalkan hizib ini, sekarang pun demikian, di masa yang akan datang pun mereka tetap harus kontinyu dalam mengamalkannya.

Karena wirid dan zikir merupakan nutrisi terpenting bagi kaum mukminin yang bermujahadah di jalan ilayi kalimatullah (usaha untuk meninggikan kalimat Allah). Wirid dan zikir adalah tanda serta isyarat dari kedekatan hubungan seorang hamba dengan Allah SWT. Seorang manusia yang meyakini kekuatan Allah, meyakini bahwasanya Allah mahakuasa atas segala sesuatu, dan meyakini segala kehendakNya, maka sebagai konsekuensi dari keyakinannya tersebut ia harus senantiasa bertawajuh kepadaNya. Dalam rangka memenuhi segala kebutuhan dan keinginannya, hendaknya ia senantiasa hanya memohon kepadaNya. Seseorang yang berdoa, jika ia mampu mengarahkan segenap sendi dalam kalbunya untuk memohon dan mengemis kepada Allah SWT, maka ia akan melewati jarak yang bersumber dari badan dan jasmaninya. Ia akan meraih kedekatan istimewa dimana tidak ada suatu apapun yang lebih dekat kepada dirinya selain Allah SWT. Allah SWT pun akan memperdengarkan kepadanya segala sesuatu yang layak untuk didengarnya, menunjukkan segala sesuatu yang patut untuk dilihatnya, membimbing lidahnya untuk mengucapkan kata-kata yang pantas untuk diucapkan olehnya, serta mengarahkannya untuk beramal sesuai dengan yang diharapkan darinya.

Diterjemahkan dari artikel: “el kulubud daria yakaran gonuller” 

Website: http://www.herkul.org/kirik-testi/el-kulubud-daria-yakaran-gonuller/ 

[1] Hizib adalah kumpulan bacaan atau doa yang diambil dari al-Qur’an dan hadits yang disusun para wali atau ulama dan diamalkan dengan cara tertentu, dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

popularity

Prinsip ke-5: Tidak Mencari dan Menginginkan Popularitas

“Prinsip ke-5: Tidak Mencari dan Menginginkan Popularitas”

Said Baru sebagaimana Said Lama, betul-betul menolak, tidak pernah dan tidak akan pernah mau menerima penghormatan kepada dirinya; tidak akan pernah mau mencari perhatian kepada dirinya, serta tidak akan pernah mau mencari popularitas dan kemuliaan.

Lampiran Emirdag, 1/117

Penjelasan

Bagian ini diambil dari salah satu bab pada buku Lampiran Emirdag dan buku Tarihce Hayati di bagian Kehidupan di Emirdag, tepatnya di artikel yang berjudul “Tiba-tiba diperingatkan; Aku pun terpaksa menulis”.

Lewat topeng komite rahasia yang dipegang oleh pihak asing dimana benang-benangnya terhubung pada orang-orang tak beragama, untuk meruntuhkan pengaruh pengabdian kepada iman dan Al Quran, mereka secara terang-terangan menghina dan mencaci-maki Ustaz guna menghapuskan atensi dan perhatian masyarakat kepada pengabdiannya. Ustaz pun menyatakan bahwasanya dirinya memang tidak menginginkan atensi dan perhatian tersebut. Ustaz memberi tahu bahwasanya pengabdiannya ini merupakan pelindung dari usaha-usaha anarkis dari pihak luar yang berusaha masuk ke tanah airnya. Ustaz memberi tahu bahwa pengabdiannya ini merupakan titik pondasi terbesar dari rasa cinta kepada tanah air, serta bahwasanya ia berusaha mencetak rasa cinta kepada dunia Islam yang memiliki penduduk jutaan jiwa di tanah airnya.

Diterjemahkan dari buku Seputar Panduan Berkhidmah, oleh Bediuzzaman Said Nursi.

Pemilihan artikel dan penjelasan oleh Abdullah Aymaz.

Sumber: Aymaz, Abdullah, 2010, Hizmet Rehberi Uzerine, Istanbul: Sahdamar Yayinlari, hlm. 12

jesse-roberts-146556-unsplash

Rumah Cahaya dari Masa ke Masa

Rumah Cahaya dari Masa ke Masa

(Diterjemahkan dari Prizma 2 artikel berjudul Dünden Bugüne İbn Ebi’l-Erkam Evleri)

Tanya: Apa esensi dari Rumah Cahaya dan apa saja yang bisa diuraikan terkait dengan misi yang diembannya?

Jawab: Topik dan gagasan yang paling sering saya sampaikan dan paling jelas saya kemukakan hingga saat ini salah satunya adalah rumah cahaya. Tidak mungkin saya bisa mengingat keseluruhan penjelasan saya di masa lalu untuk kemudian mengulangi menjelaskannya kembali secara sistematik saat ini. Akan tetapi, karena kembali ditanyakan, saya akan berusaha menjelaskannya kembali sesuai dengan apa yang terlintas dalam pikiran saya, mohon maklum jika tidak tertib.

Benih mungil yang di lempar di padang ketiadaan

Semua institusi yang kita kelola pada hari ini, dapat diibaratkan seperti pohon besar yang tumbuh dari sebuah benih mungil yang dilempar di atas padang ketiadaan.

Ya, di masa dimana sebuah lilin dinyalakan di tengah kegelapan yang semakin pekat melingkupi – perlahan ia menyirnakan kegelapan pekat tersebut; ruang mungil yang dibangun, pelan-pelan  ia menjadi sebuah  rumah cahaya, lalu menjadi kompleks perumahan yang lebih besar; persis seperti karakter fitri sebuah sperma yang mengandung cahaya dari Baginda Nabi Shallallahu  Alayhi Wasallam sebagai sebab pertama dari penciptaan dasar langit dan bumi, ia pun lewat perwalian Nuru Adzam  melakukan hal yang kurang lebih sama.

Rasulullah membangunnya dari sebuah rumah

Jika kita melihat bagaimana Rasulullah SAW memulai usaha ini, beliau juga memulainya dari rumah-rumah ini. Ya, ketika Rasulullah SAW memulainya dengan sebuah rumah, maka bumi berubah menjadi masjid, dimana Mekkah menjadi mihrabnya, Madinah menjadi mimbarnya. Semua manusia di seluruh penjuru dunia, dari yang berumur tujuh hingga tujuh puluh tahun, dari laki-laki hingga perempuan, satu per satu menjadi santri yang juga jamaah dari masjid ini serta membenarkan pesan dari madrasah irsyad dan tablig ini. Yaitu usaha dakwah dan mematangkan jiwa manusia.

Para Pembaharu di setiap masa mengikuti jejak langkah Rasulullah

Di masa-masa setelah Rasulullah SAW berpulang ke rahmatullah, metode ini tetap diikuti. Misalnya, di masa dimana Bani Umayyah perlahan mengalami kemunduran, Sayyidina Umar bin Abdul Aziz r.a. bersama 3-5 orang di sekitarnya memulai usaha perbaikan dengan sejumput orang ini. Beliau memulainya dan dalam waktu yang amat singkat, yaitu dalam dua setengah tahun, beliau telah mencapai prestasi yang bahkan tidak akan mampu disamai oleh mereka yang bekerja selama seratus tahun. Beliau membangun usaha agungnya tersebut dari tempat yang kecil dengan dukungan sejumput orang-orang di sekitarnya saja. Kemunduran yang dimaksud disini adalah kemunduran di bidang keinsafan beragama.

Imam Ghazali juga mengikuti jalan yang sama. Ya, beliau juga bersama beberapa orang dari masyarakat yang dipanggilnya, menjelaskan falsafah khidmah kepada para manusia; beliau menunjukkan jalan ‘ihya’ ilmu-ilmu agama  dan ketika beliau mengerahkan penanya untuk menulis  ‘al Munqidhu minad Dhalal’ sebagai usaha dengan tujuan menghidupkan ilmu-ilmu agama tadi; Di sisi yang lain, dengan kitabnya yang berjudul ‘Ihya Ulumuddin’ beliau membakar suluh kebangkitan kehidupan Islami di kalbu kaum mukminin.

Sebenarnya, mulai dari masa dimana cahaya awal itu berpendar hingga masanya Imam Rabbani; dari masa beliau hingga ke masanya Sang Penderita Agung di masa kita ini, Bediuzzaman Said Nursi; Mereka yang berperan sebagai mursyid kepada umatnya Nabi Muhammad SAW di berbagai masa, sosok-sosok agung tersebut senantiasa mengikuti jalan yang sama.

Ya, alam semesta yang luar biasa ini; Sebagaimana sistem tata surya dan galaksi disusun oleh beragam atom berukuran mini. Demikian juga sebuah dakwah agung, ia dibangun dari usaha-usaha kecil tadi yang menggemakan[1] (pesan dakwahnya) ke setiap kalbu. (Atom-atom mini penyusun alam semesta tadi) Menjadi buku yang penuh makna, (ia) berisi berbagai macam galeri[2] (seni yang agung).

Isyarat halus dari Al Quran

Ketika pembahasannya sampai di masa kita ini; Cahaya yang terdapat di Surat An Nuur ~ yang berarti Cahaya;

ف۪ي بُيُوتٍ اَذِنَ اللّٰهُ اَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ ف۪يهَا اسْمُهُۙ يُسَبِّحُ لَهُ ف۪يهَا بِالْغُدُوِّ وَالْاٰصَالِۙ ﴿٣٦﴾

Artinya: di rumah-rumah yang diberi izin oleh Allah buat ditinggikan dan disebut namaNya. Yaitu rumah-rumah yang disucikan namaNya di dalamnya, baik pagi atau petang (QS Nur:36).

 Menurut saya, rumah-rumah cahaya ini memiliki korelasi dekat dengan ayat ini; rumah-rumah cahaya ini menunaikan tugas seperti menara masjid yang sekali lagi memperdengarkan apa makna dari potret seorang muslim.

Bukankah sosok yang berada di garda terdepan dalam pekerjaan ini ketika memperkenalkan dirinya berkata: ”Saya berada di ujung menara abad ke-13 H. Saya mengundang mereka yang secara tersurat seperti orang berpendidikan, tetapi secara tersirat adalah orang terbelakang untuk datang ke masjid.”

Sebenarnya ketika beliau menyampaikan hal tersebut, bukan berarti beliau benar-benar berdiri di atas menara lalu menutup telinganya (seperti bilal yang akan mengumandangkan azan) dengan jemarinya untuk berteriak. Akan tetapi, beliau, dengan menaranya di Barla, menara yang memanggul peran mulia – Pada hari ini pun ia masih tetap berdiri kokoh dengan segala wibawanya di sisi pohon Platanus orientalis – dari tempatnya beristirahat itu, beliau berusaha untuk memperdengarkan suaranya kepada umat manusia.

Tempatnya beristirahat tersebut, – menurutku – Darul Arqam, lalu kediaman mulianya Baginda Nabi SAW, rumah Imam Ghazali, rumah Imam Rabbani, dan rumah-rumah lainnya yang digunakan untuk tujuan yang sama, merupakan sebuah menara agung yang menjelaskan makna kecemerlangan dengan segala sisinya sebagaimana dijelaskan QS An Nur: 36  Yaitu di rumah-rumah yang diberi izin oleh Allah buat ditinggikan dan disebut namaNya. Yaitu rumah-rumah yang disucikan namaNya di dalamnya, baik pagi atau petang.

Karakteristik Rumah Cahaya

Rumah Cahaya ini memiliki karakteristik yang khas. Di sanalah tempat dimana kekosongan jiwa yang bisa muncul karena sisi manusiawi mereka diisi. Ia adalah tempat suci, dimana rencana dan proyek (kemanusiaan) diciptakan; tempat dimana tegangan metafisik terus-menerus dialirkan; tempat  matangnya sosok-sosok beriman sekuat baja, berjiwa kokoh,  dimana Ustadz menjelaskan mereka yang matang tersebut dengan kalimat:  ‘mereka yang berhasil merengkuh iman yang hakiki, akan sanggup membaca semua kebutuhan dunia.’

Dan memang sekarang, penaklukkan dunia tak lagi dilakukan dengan berkuda seperti halnya berlaku di masa lalu; tak juga dengan pedang di tangan, belati di pinggang, ataupun busur panah di punggung; Sudah jelas bahwa di masa kini kalbu-kalbu manusia hanya bisa dimasuki dengan Al Quran di tangan kanan, dan logika di  tangan kiri.

Demikianlah pemuda makna dan ruh matang di rumah cahaya. Merekalah yang akan  memakmurkan jiwa-jiwa yang kosong dengan cahaya yang dianugerahkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala  kepadanya, di atas jalan menuju pembebasan di dalam makna dan di dalam jiwa. Jika demikian, rumah-rumah ini merupakan sebuah madrasah atau meja kerja, dimana generasi  yang latah dengan godaan dunia yang memikat dan anak-anak yang kehilangan arah kemudian dimakmurkan dan dikembalikan ke akar makna dan jiwanya

Khususnya di masa dimana madrasah dan majelis zikir dilarang, apa yang diharapkan dari rumah-rumah tersebut adalah ditunaikannya misi mulia tersebut, yaitu untuk mengisi peran madrasah dan majelis zikir. Rumah-rumah ini mengajarkan ilmu agama dan ilmu pengetahuan positif kepada para penghuninya; Ini artinya, selain menjalankan tugas sebagai majelis zikir dan majelis taklim, ia juga menjalankan tugas sebagai madrasah.

Sebenarnya ayat Al Quran mengisyaratkan semua ini:  Penggunaan kata بُيُوتٍ ‘Büyutün’ secara nakiroh (tidak spesifik), mengindikasikan bahwa kata ini dipakai untuk menjelaskan bahwa kata yang dimaksud adalah ‘sesuatu’ selain masjid. Yaitu, ia bukanlah musholla dan masjid dimana azan dikumandangkan lewat menara-menaranya sebagaimana yang kita ketahui; Ia adalah tempat yang tidak spesifik.

Rumah-rumah ini pun seiring berjalannya waktu juga tidak memiliki spesifikasi tertentu. Rumah-rumah ini tidak memiliki spesifikasi yang jelas, karena mereka yang keluar-masuk ke dalamnya senantiasa diawasi.

Walaupun demikian, ada satu yang spesifik dan jelas darinya, yaitu di masa dimana kesulitan menghimpit, rumah demi rumah yang dibuka telah berhasil mendapatkan kemuliaan dan anugerah di masa-masa sulit itu. Tanpa terpaku pada masalah yang sederhana dan sementara, pada masa dimana kumandang azan di menara-menara dan aktivitas mulia lainnya dibungkam, rumah mulia ini menjadi terpuji lewat izin tersirat Allah SWT:”Untuk saat ini biarlah NamaKu dipuji dan digaungkan di rumah-rumah ini”; ia adalah tempat luar biasa, dimana buku-buku dibaca dan kebenaran dikaji.  Setelah ini, kajian-kajian  tentang ruh beragama yang tadinya dilakukan di masjid, ia akan dilakukan di rumah-rumah ini. Dengan pertimbangan ini, rumah-rumah ini adalah tempat yang berkah, yang disebut sebagai “penerjemah wilayah hakikat yang agung”.

Karakteristik Pemuda yang Tinggal di Rumah Cahaya

Keadaan rumah-rumah ini senantiasa cocok dengan apa yang digambarkan Sayyidina Abu Bakar r.a.: “Ketika kita masuk rumah, kita tidak yakin apa masih bisa keluar.  Demikian juga saat kita keluar rumah, kita  tidak yakin apakah masih bisa masuk rumah lagi.“

Ya, adalah sebuah kemungkinan yang sangat terbuka bagi kita untuk ditangkap saat kita menuntut ilmu di dalam rumah; Demikian juga saat kita keluar rumah, juga sangat mungkin penghuni rumah-rumah ini untuk diculik oleh mobil tak dikenal.  Oleh karena itu, Kita harus selalu berlindung kepada Allah SWT dengan berdoa: ”Tidak ada sekutu bagiMu, segala sesuatu ada dalam genggamanMu. Jika Engkau tidak mengizinkan, tidak ada satu keburukan pun yang dapat mencelakakan kami.“ Dengan doa tersebut, kita menyerahkan keamanan rumah ini dan penghuninya kepada penjagaannya Allah SWT.

Menyingkirkan semua ‘sekutu’, sepenuhnya berserah diri dan bertawakkal kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, atau dalam istilah lainnya, duduk dan bangkit ‘bersama’ Allah Subhanahu wa ta’ala, adalah tabiat dari para penghuni rumah-rumah ini

Peran Wanita di Rumah Cahaya

Di sisi lain, ayatul karim ini menggambarkan bagaimana dakwah ini berjalan di masa-masa awalnya, dimana ketika itu hanya sedikit dari kaum wanita yang mengambil peran, atau dengan kaidah taglib[3] dalam bahasa Arab.

رِجَالٌۙ لَا تُلْه۪يهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ وَاِقَامِ الصَّلٰوةِ وَا۪يتَٓاءِ الزَّكٰوةِۙ يَخَافُونَ يَوْماً تَتَقَلَّبُ ف۪يهِ الْقُلُوبُ وَالْاَبْصَارُۙ ﴿٣٧﴾

QS Nur: 37 “Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan  dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu)…” dimana dalam ayat ini seakan-akan hanya kaum lelaki saja yang dibahas. Akan tetapi, sebagaimana dikatakan sebelumnya, bahwasanya ayat ini dengan kaidah taglib juga mengisyaratkan kepada kaum wanita. Dengan demikian kata ‘rijalun’ juga bermakna ‘wanita yang tangguh seperti lelaki’. Yakni, ketika orang lain mengejar jabatan dan kebanggaan diri,  tenggelam dengan penampilan jasmani, sibuk dengan anak-anaknya, sosok-sosok dalam ayat tadi terbang dengan keagungan yang digambarkan ayat tersebut; ia juga bermakna bahwa ada juga wanita-wanita dengan iradah kuat sekuat kaum lelaki sebagaimana dibahas dalam ayat tersebut.

Ya, pada masa permulaannya, bersama para pahlawan dari kaum lelaki seperti Sidik Sulaiman, Hulusi Efendi, dan Husrev Efendi, terdapat pula para pahlawan wanita yang kita kenal, walau jumlahnya sedikit. Mereka bagaikan berada di bawah bayangan Sayyidah Nasibah dan Sumaira yang juga turut terlibat dalam Perang Badar dan Uhud.

Ya, walaupun mereka wanita,  mereka tidak ketinggalan dalam memanggul dakwah yang mulia ini. Pada hari ini pun, rumah-rumah cahaya bertindak sebagai tuan rumah bagi para pahlawan ini.

Peran yang dipikul Rumah Cahaya

Aku rasa, selama rumah cahaya ini dijalankan sesuai dengan tujuan pendiriannya, ia akan  mencapai titik-titik yang tak mampu dicapai oleh tekke (majelis taklim) dan zawiyah (majelis zikir), dan di waktu yang sama ia akan menjadi sebaik madrasah dalam mencetak generasi (emas). Dari rumah-rumah ini akan lahir generasi seperti Abdul Qadir Jailani, Gelenbevi (Professor Matematika Usmani), Ali Kuscu (Ahli Astronomi), Molla Husrev (Syaikhul Islam), Molla Gurani (Guru Para Putra Mahkota Usmani), Ebu Suud (Syaikul Islam di zaman Kanuni Sultan Sulaiman), Ibrahim Hakki dari Erzurum.

Jika tidak, hafizanallah, bisa saja ia berubah menjadi gubuk miskin. Aku rasa, sebagian besar dari mereka yang memiliki perasaan dan pemikiran yang sama denganku, akan lebih memilih mati daripada harus menyaksikan keadaan rumah cahaya berubah menjadi gubuk-gubuk miskin.

Rumah – rumah yang memiliki peran dan tujuan seperti rumah Ibnu Arqam selalu dibuka di berbagai masa, di mulai dengan di masanya Baginda Nabi, pada hari ini pun ia masih melanjutkan tugas dan peranannya.

Rumah-rumah ini, di hari-hari dimana layar mulai terkembang untuk kebangkitan yang ketiga (Kebangkitan pertama adalah  masa Sahabat. Kebangkitan kedua adalah masa Usmani, penerj.), ia akan menjadi tempat dimana generasi pembangkitnya dilengkapi dan  disempurnakan, insya Allah..

Di satu masa, Tekke dan Zawiyah menjadi tempat yang sangat penting dalam menghasilkan generasi pembangkit. Lewat sosok-sosok bercahaya yang dihasilkannya, ia membangkitkan Anatolia. Dalam kriteria tertentu, lewat penunaian tugas dan fungsinya, ia juga menjadi sumber keberkahan bagi kita.

Dan kini, tidak hanya Anatolia. Bagaimana rumah-rumah ini sanggup mencetak pemuda ruh dan makna yang membangkitkan seluruh penjuru dunia, adalah sangat penting untuk menilai rumah-rumah ini memiliki (peranan yang ) setara dengan madrasah, tekke, dan zawiyah.

Para rijalullah yang dihasilkan dari rumah-rumah ini, sambil mempelajari semua aspek dari ilmu positif,  dilengkapi dengan hadis, tafsir, fiqih, dan cabang ilmu Islam lainnya, mereka harus hidup dengan kehidupan ruh Islam yang amat luas, mereka harus menampilkan makna dan jiwa dari ruh para pendahulunya yang tak pernah lekang oleh waktu.

Jika tidak dilakukan, ia bagaikan pengkhianatan kepada rumah cahaya ini, kepada pemilik rumah ini (Bediuzzaman), kepada inspirasi rumah ini yaitu Arqam,  dan kepada Sang pemberi arti, Baginda Muhammad Mustafa Shallallahu alayhi wa salllam.

Tamsil (perwakilan) dari ruh tersebut, sebagai bentuk dari kedalaman maknawinya, ia harus menunaikan shalat dengan amat dalam, kalau perlu ketika meletakkan kepalanya ke tanah ia sanggup mengatakan ‘Ya Allah, Andai Engkau tidak menakdirkanku untuk mengangkat kepalaku ini. Andai sujudku ini menjadi titik dimana aku kembali kepadaMu!’

Ia tidak akan mengalihkan pandangan matanya ke hal lain, ia berdiri dengan tulus di hadapan Ilahi, ia menutup dirinya untuk hal-hal yang tidak berfaedah, dan seakan ia sedang menyaksikan keindahan (jamal) nya Allah SWT di dalam surga, ia memasuki fase konsentrasi , mempertemukan tangan di atas lututnya, ia keluar dari ‘ana’ (saya) dan ‘nahnu’  (kami – kita),  dan menjadi mata yang memandang ‘Huwa’ (Dia)

Ya, mengarahkan diri kepadaNya dengan kriteria ini…

Ya, bukan dengan pemikiran:’Azan sudah dikumandangkan. Aku masih perlu melakukan beberapa kegiatan. Kalau demikian biar aku selesaikan dengan cepat shalat ini.’

Melainkan: demi bisa berjalan menuju mikraj, seakan ia turun ke jalanan landai (menurun), ia melupakan dirinya, menuju serta mencapai fana fillah, baqa billah, menunaikan shalat  dalam atmosfer kebersamaan denganNya, tanpa memikirkan diri sendiri…

Yakni, menuju Rabb sebagaimana Zübeyr Gündüzalp, Hüsrev Efendi meretakkan kalbunya. Dan dengan awradu azkar (wirid dan zikir), tasbihu takdis (tasbih), di bawah bimbingan cemerlang dari Al Quran, demi bisa mencapai Allah SWT, rumah-rumah cahaya ini dirubah menjadi pelabuhan dan galangan kapal yang tidak ada bandingannya.

Ya, jika rumah cahaya dijalankan seperti tadi, maka ufuk pun akan mencapai Allah SWT;

Tempat Menutrisi Generasi Pembawa Panji Kebenaran

Hari ini, mereka yang memiliki mimpi untuk membawa hakikat dan kebenaran ke tujuh benua, mereka wajib dinutrisi oleh rumah-rumah yang berperan bagai penghasil air susu ibu yang berkah.

Untuk mereka yang tinggal bertahun-tahun di tempat suci tersebut namun tetap tidak memahami Allah SWT, mereka yang tak mampu meraih kecintaan dan hasrat kepadaNya, mereka di satu kriteria merupakan orang-orang yang tidak beruntung dan menyedihkan.

Mereka yang memiliki keadaan demikian, mirip bayi yang berada dalam timangan ibunya, namun tak mampu meraih ASI dari ibunya. Mereka yang demikian, tidak mendapatkan keuntungan apapun, pun tidak akan mampu mengantarkan umat manusia menuju apapun.

Kesungguhan Dalam Mendirikan Shalat

Ketika sampai disini, izinkan aku menyampaikan isi hatiku. Ketika aku melihat orang yang sedang shalat, namun ia shalat sambil tengok kanan-kiri, aku merasakan, jika boleh dikatakan demikian, seakan kemuliaan Tuhanku sedang direndahkan.  Saat itu aku bergumam:’Andai saja orang ini melemparkan sumpah serapahnya saja kepadaku, namun tak menengokkan matanya ke kanan dan ke kiri saat shalat.” Menurutku, sumpah serapah tersebut masih ringan dibandingkan shalat tanpa keseriusan seperti itu.

Ya, orang yang ketika menghadap kepada Allah melakukan gerakan seperti ini, aku secara pribadi menganggapnya sebagai sumpah serapah kepadaNya. Seandainya mereka menusuk jantungku saja, mungkin mereka akan menjadi pembunuh, tetapi aku akan berdoa:’Ya Allah, jika Engkau tidak memaafkan orang ini,–andai aku bisa – aku tidak ingin menghadap kepadaMu.‘

Seperti yang Anda saksikan, aku sangat terganggu oleh mereka yang tidak serius dalam shalatnya.

Tanpa doa dan shalat, atau menunaikan shalat tanpa ruhnya, tak mungkin seseorang bisa menjadi mukmin sejati. Allah SWT berfirman: ‘Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. (Yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya (QS Al Mukminun : 1-2).

Shalatnya mereka yang tinggal di rumah-rumah suci tersebut, lebih penting daripada penakhlukkan dunia tanpa shalat. Dan memang, selama mereka tidak menjadikan shalat sebagai hal paling penting dalam kehidupannya, tidak mungkin dibayangkan mereka akan meraih kesuksesan.

Rumah Cahaya Dibuka Untuk Mengkompensasi Pekerjaan Yang Terabaikan

Kesimpulannya, untuk topik tadi, saya senantiasa merasa terluka. Rumah-rumah cahaya ini dibuka untuk mengkompensasi apa yang telah diabaikan oleh sejarah; barangkali aku tidak tahu seberapa tepatnya ia dijalankan sesuai dengan tujuan awalnya; namun, aku ingin tetap berhusnuzan sambil berkata:’teman-teman pasti menunaikan haknya rumah-rumah cahaya ini’

Jangan lupakan semua umat yang sedang dan akan berada dalam kehancuran dunia, mereka sedang menunggu pemuda irsyad yang matang di rumah-rumah ini untuk membangkitkan mereka. Dan demikian ia dipahami, bahwasanya fungsi dari rumah-rumah ini tidak akan pernah selesai

Jika demikian, maka demi Allah, datanglah, tunaikanlah shalat dengan haknya, berpuasalah; Dan tunaikanlah shalat dan puasa dengan sebaik-baiknya, sehingga malaikat  yang sedari ia diciptakan tak pernah bangkit dari rukuknya pun akan berkata:’Luar biasa! ternyata ada yang menunaikan shalat lebih baik lagi.’  Demikian baiknya kita melebur ke dalam zikir dan fikir, para penghuni langit yang menyaksikan kita pun akan berkata:’merekalah yang akan membangkitkan dunia!’

Sebagai manusia yang beruntung, atau  sebagai hamba Allah, mari kita  manfaatkan rumah-rumah – keran air susu ibu – yang diliputi berkah tersebut dengan maksimal. Jangan sia-siakan waktu kita dengan canda tawa  seperti orang-orang bodoh, atau dengan kata-kata yang tak bermakna, yang tak memberikan manfaat dunia dan akhirat. Marilah kita jadikan rumah-rumah cahaya ini sebagai sumber cahaya yang akan menerangi seluruh dunia.

Semoga Allah menjadi Penolong bagi kita semua! Amin

 

[1] Menggemakan: menjadikan bergema; gema: bunyi atau suara yang memantul; kumandang; gaung; memantul bergerak balik karena membentur sesuatu atau karena refleksi (KBBI)

[2] Galeri: ruangan atau gedung tempat memamerkan benda atau karya seni dan sebagainya (KBBI)

[3] Taglib : disebabkan suatu hubungan, suatu kata digunakan untuk makna lainnya dengan mengambil makna dari kata tersebut. Misalnya, untuk kata ayah yang berhubungan dengan ibu selaku orang tua, digunakan kata abawayn

reborn

Rasa dari Iman: Membarui Iman Layaknya Para Sahabat

“Rasa dari Iman: Membarui Iman Layaknya Para Sahabat”

Akhir dari berbagai deformasi dan laku korupsi di atas muka bumi bergantung pada bagaimana kita bisa menemukan identitas diri yang sejati. Tanpa mengubah diri sendiri, tak ada manfaatnya kita menunggu orang lain untuk berubah. Dapat saya katakan dengan pertimbangan penuh harapan bahwasanya kita sudah memulai langkah tersebut. Akan tetapi, kita belum membuat perkembangan yang berarti. Usaha kita masih belum selesai.

Seperti yang dikatakan oleh seorang penyair: ”Aku belajar di sekolah cinta bersama Majnun. Aku telah mengkhatamkan seluruh isi Al Quran tetapi ia hanya bisa sampai di Surat al Lail”

Dengan kata lain:”aku telah meraih tujuanku tetapi si Majnun mandek dan tak henti berucap: “Kekasihku Laila, Kekasihku Laila, Kekasihku Laila”.

Rekonstruksi dunia secara menyeluruh menjadi koridor surga adalah sumber harapan bagi banyak manusia.  Di satu sisi, adalah sangat penting untuk memiliki cita-cita dan tujuan yang patut ditiru tersebut. Saya yakin, tidak ada pihak lain yang memiliki cita-cita seagung itu. Saya tidak bisa memaksudkannya ke level kepemilikan dan berkata: “Anda memiliki cita-cita ini, gerakan itu memiliki cita-cita ini, komunitas ini memiliki cita-cita ini..” Karena itu hanya akan menjadi pernyataan tanpa dasar. Tetapi jika saya tidak mengatakannya, maka hal itu seperti mengingkari anugerah suci dari Allah SWT.

Segala macam perkembangan asalnya dari Fadilat, Karim, Tawajuh, dan Kehendak Agung Allah SWT. Segala sesuatu yang telah terjadi dan telah dicapai adalah referensi tentang apa saja yang akan terjadi di masa mendatang. Kita harus meyakininya dan selalu berjuang untuk memperbaharui diri.

Allah SWT berfirman:

 يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ ءَامِنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَٱلۡكِتَٰبِ ٱلَّذِي نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَٱلۡكِتَٰبِ ٱلَّذِيٓ أَنزَلَ مِن قَبۡلُۚ

“Wahai orang-orang yang beriman! Tetaplah beriman kepada Allah dan RasulNya (Muhammad) dan kepada Kitab (Al Quran) yang diturunkan kepada RasulNya, serta kitab yang diturunkan sebelumnya!” (QS An Nisa 4:136)

Ayat ini berbunyi: ”Wahai orang-orang yang beriman!” Ayat ini tidak berbunyi: ”Wahai orang-orang yang tidak beriman, munafik, pendosa, lagi fasik!” Dan secara gramatikal ayat ini berkata: ”wahai orang-orang yang senantiasa berada dalam keimanannya.” Di satu sisi, ayat ini merujuk kepada mereka yang senantiasa memperbaharui keimanan agar selalu ada dalam kesadarannya secara kontinu, yang senantiasa berlari untuk membuktikan keimanannya. Mereka melubangi hati mereka dengan makrifatullah. Mereka bergerak dengan khusyuk dan penuh rasa takut kepada Rabbnya. Dengan menggunakan akal pikiranmu di jalan ini dan mengarahkannya ke pemikiran positif, datang dan berimanlah sekali lagi.

Para sahabat memahami dengan baik ayat ini dan sering kali menyeru orang-orang yang mereka temui di pinggir jalan: “Datanglah! Mari bersama-sama memperbaharui keimanan kita kepada Allah!” Para sahabat beriman dengan level yang jauh di atas level iman kita. Mereka beriman seakan-akan telah menyaksikan Allah SWT. Mereka menunjukkan laku yang mengisyaratkan ketinggian level ihsan mereka.  Rasulullah telah menjadi contoh bagi mereka. Mereka membentuk dirinya dengan mencontoh akhlak Baginda Nabi.

Mereka mencontohnya di segala aspek. Apa yang dia lakukan, bagaimana beliau bersemangat menyebarkan pesan Tuhan, menumpahkan air mata, bagaimana menyungkurkan kepalanya di atas tanah untuk bersujud bermenit-menit, mereka berusaha mengopi Rasul SAW, mereka ada di jalannya. Berusaha menjadi seperti dirinya, berusaha untuk layak menjadi sosok disisinya, berusaha menjaga kualitas dirinya, atas izin dan inayah Allah.

Usaha ini terus berlanjut hingga waktu tertentu. Beliau SAW bersabda:

خَيْرُكُمْ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

 “yang terbaik di antara kalian adalah mereka yang hidup di masaku (para sahabat). Lalu yang mengikuti mereka (Tabiin), lalu yang mengikuti mereka yang mengikut sahabatku (tabiut tabiin)[1].”

Masa terbaik adalah masa dimana banyak terdapat manfaat buat umat manusia, masa yang paling dirindukan adalah masaku. Lalu masanya para tabiin, dimana mereka masih mengikuti jalan kenabian yang terang benderang. Dia adalah Qamari Munir (Bulan Yang Cemerlang). Ustaz menggunakan istilah ini untuk mengagungkannya. Sahabatnya adalah lingkaran cahaya yang mengitarinya.

Lewat sabdanya ini Baginda Nabi mendorong umat manusia untuk mengikuti jalan para sahabatnya. Baginda Nabi bersabda:

أَصْحَابِي كَالنُّجُومِ، بِأَيِّهِمُ اقْتَدَيْتُمْ اِهْتَدَيْتُمْ

“Sahabatku bagaikan bintang gemintang. Siapa pun yang kalian ikuti, kalian akan terbimbing ke jalan kebenaran.[2]

Mereka seperti bintang gemintang yang mengitari matahari ataupun tata surya. Khususnya para khulafaur rasyidin.

Oleh karenanya, para sahabat adalah representasi murni dari Islam yang menampilkan sinar iman di jalan hidup yang mereka tempuh. Mereka yang mengikuti para sahabat secara otomatis berarti mengikuti jalannya Sang Nabi, dan membentuk dirinya sesuai dengan yang diarahkan sang Nabi. Mereka senantiasa mengecek apakah ada laku mereka yang bertentangan dengan arahan Nabi dan menyetel ulang kehidupannya secara kontinu.

Mereka berkata: Inilah yang dikerjakan oleh para sahabat, dan mereka pun menjunjung tingginya. Mereka membentuk detak dunia kalbunya sesuai dengan ritme yang dihentakkan oleh para sahabat.  Ketika Anda menjauhi jalan para sahabat, perlahan Anda pun dijauhkan dari cahaya sucinya. Mungkin cahayanya tidak benar-benar padam. Tetapi ia tidak mengeluarkan radiasi sekuat sebelumnya.

Di masa tabiut tabiin dan di masa-masa setelahnya, menyebar berbagai macam pemikiran dan ideologi aneh yang sanggup membuat perut kita mual: Neo Platonism, Pemikirannya Sokrates, Aristoteles, dan Filsafat Yunani membangun jalannya menuju pemikiran suci dunia intelektual kita. Mereka mulai menimbulkan kesakitan di dunia intelektual kita.

[1] HR al-Bukhâri, 3651, dan Muslim, 2533.

[2] `Abd ibn Humayd, ad-Daraqutnii, ibn `Adiyy, ibn `Abd al-Barr, dengan sanad yang tidak sahih, tetapi maknanya sahih.