popularity

Prinsip ke-5: Tidak Mencari dan Menginginkan Popularitas

“Prinsip ke-5: Tidak Mencari dan Menginginkan Popularitas”

Said Baru sebagaimana Said Lama, betul-betul menolak, tidak pernah dan tidak akan pernah mau menerima penghormatan kepada dirinya; tidak akan pernah mau mencari perhatian kepada dirinya, serta tidak akan pernah mau mencari popularitas dan kemuliaan.

Lampiran Emirdag, 1/117

Penjelasan

Bagian ini diambil dari salah satu bab pada buku Lampiran Emirdag dan buku Tarihce Hayati di bagian Kehidupan di Emirdag, tepatnya di artikel yang berjudul “Tiba-tiba diperingatkan; Aku pun terpaksa menulis”.

Lewat topeng komite rahasia yang dipegang oleh pihak asing dimana benang-benangnya terhubung pada orang-orang tak beragama, untuk meruntuhkan pengaruh pengabdian kepada iman dan Al Quran, mereka secara terang-terangan menghina dan mencaci-maki Ustaz guna menghapuskan atensi dan perhatian masyarakat kepada pengabdiannya. Ustaz pun menyatakan bahwasanya dirinya memang tidak menginginkan atensi dan perhatian tersebut. Ustaz memberi tahu bahwasanya pengabdiannya ini merupakan pelindung dari usaha-usaha anarkis dari pihak luar yang berusaha masuk ke tanah airnya. Ustaz memberi tahu bahwa pengabdiannya ini merupakan titik pondasi terbesar dari rasa cinta kepada tanah air, serta bahwasanya ia berusaha mencetak rasa cinta kepada dunia Islam yang memiliki penduduk jutaan jiwa di tanah airnya.

Diterjemahkan dari buku Seputar Panduan Berkhidmah, oleh Bediuzzaman Said Nursi.

Pemilihan artikel dan penjelasan oleh Abdullah Aymaz.

Sumber: Aymaz, Abdullah, 2010, Hizmet Rehberi Uzerine, Istanbul: Sahdamar Yayinlari, hlm. 12

tanah

Prinsip ke-2 : Berlaku Tawaduk

“Prinsip ke-2 : Berlaku Tawaduk”

Said, layaknya tanah ia wajib memiliki sifat seperti kerendahan hati, meninggalkan akuisme, dan ketawadukan mutlak; Jangan sampai kekurangannya mencemari Risalah Nur dan meremukkan pengaruhnya.

Lampiran Kastamonu, halaman 13

Penjelasan:

Al Quranul Karim dengan maknanya yang menyeluruh bersuara kepada segala masa dan kepada setiap manusia dari beragam derajat dan kedudukan yang hidup di setiap masa tersebut; di dalam makna-makna isyaratnya yang menyeluruh dengan makna parsialnya, ayat tentang tayamum[1] “فَتَيَمَّمُواْ صَعِيدٗا” juga memberikan perhatiannya kepada masa dan pengabdian kita. Kata “ صَعِيدٗا /Sha’idan” disini (dengan huruf shad) yang bermakna tanah mengisyaratkan Said (dengan huruf sin). Kata yang mengisyaratkan penggunaan huruf ‘sin’ di dalam Al Quran juga terdapat pada kata “بَصۜۡطَةٗۖ/bashthatan” di Surat al A’raf ayat ke-69.

Demikianlah, kata “صَعِيدٗا /Sha’idan” yang memiliki makna ‘tanah’, seakan memberi pesan isyarat kepada Ustaz:’Said, milikilah kerendahan hati layaknya tanah; tinggalkanlah akuisme; berlakulah tawaduk secara mutlak. Karena risalah nur merupakan ungkapan indah lagi bersih  yang terperas dan tertapis dari Al Quran, ia bagaikan telaga kautsar dari samudera Al Quran. Agar telaga tersebut tidak tercemari dan pengaruhnya tidak terkurangi, maka ia harus hidup dengan kekhususan-kekhususan tersebut. Sesungguhnya Ustaz sendiri telah menampakkan keindahan dari karakter-karakter ini setiap saat sebagai sesuatu yang diperlukan oleh fitrahnya.

Diterjemahkan dari buku Seputar Panduan Berkhidmah, oleh Bediuzzaman Said Nursi.

Pemilihan artikel dan penjelasan oleh Abdullah Aymaz.

Sumber: Aymaz, Abdullah, 2010, Hizmet Rehberi Uzerine, Istanbul: Sahdamar Yayinlari, hlm. 12

[1] QS Al Maidah 5:6 maka bertayamumlah dengan debu yang baik (suci)