Sekelompok pemburu telah melukai seekor burung, dan makhluk malang tersebut berusaha untuk kabur. Dengan penuh susah payah, burung tersebut terus mencoba untuk bisa terbang menjauh, namun para pemburu terus mengejarnya. Tidak ada tempat bersembunyi untuknya. Dimana saja si Burung bersembunyi, pemburu menemukannya, dan dimana saja si Burung mendarat, para pemburu melacaknya.

Jantung burung kecil itu terus berdetak kencang, penuh ketakutan. Dimanapun si Burung berhenti untuk menghela nafas, tembakan senapan dari Pemburu mengarah ke arah si Burung malang. Pemburu-pemburu tersebut menikmati tantangan memburu si Burung; pengejaran tersebut menambah keseruan dalam perjalanan berburu mereka. Rasa belas kasihan sudah hilang dari hati mereka. Mereka sudah tidak peduli dengan kondisi tidak berdaya, lemah, dan rapuh dari si Burung kecil. Mereka tidak menunjukan sedikitpun rasa ampun, dan itu akan terus berlanjut sampai mereka membunuh makhluk malang tersebut. Tercium bau kematian saat peluru senapan ditembakan satu demi satu, bau bubuk senapan menyebar luas ke sekitar.

Sekarang, Si Burung hanya memiliki satu kesempatan terakhir untuk kabur, karena energinya sudah habis terkuras. Tiba-tiba, dia melihat sekelompok manusia duduk di kejauhan. Ada seorang Sheikh duduk di tengah-tengah kelompok tersebut, sedang berzikir dan bersholawat. Si Burung menggunakan energi terakhirnya untuk terbang menuju sekelompok orang tersebut. Dengan instingnya, Si Burung terbang ke dalam sorban dari Sang Sheikh, mencoba untuk bersembunyi. Si Burung sudah menemukan tempat untuk berlindung.

Sang Sheikh merasakan sesuatu bergerak-gerak di atas kepalanya dan dengan panik, meraih benda tersebut. Saat Sang Sheikh menangkapnya dengan tangan -karena Si Burung dalam kondisi yang sangat rapuh- makhluk malang tersebut terbunuh.

Singkat cerita, pada Hari Penghakiman, si Burung kecil mengajukan keluhan terhadap Sang Sheikh yang membunuhnya dulu. Sang Sheikh tidak membunuh Si Burung dengan sengaja, karena saat itu, dia tidak tahu apa yang dia akan raih dari atas kepalanya. Setelah menyadarinya pun, Sang Sheikh merasa sangat menyesal karena dia telah membunuh si Burung kecil. Karena alasan ini, Beliau tidak bersalah. Akhirnya Si Burung menerima, namun dia mengajukan permintaan terakhir yaitu:

“Aku punya permintaan. Saya mencari perlindungan di dalam sorban tanpa ragu karena percaya bahwa saya akan mendapat perlindungan karenanya. Mulai sekarang, orang yang tidak menjaga dan menghormati amanah ini tidak diijinkan memakai sorban agar makhluk lain tidak jatuh ke situasi yang sama seperti saya!”

Nilai moral dari kisah ini adalah bahwa generasi kita sedang mencari suatu tempat perlindungan sehingga mereka terlindungi dari kejamnya jebakan para pemburu. Kemanusiaan sudah jatuh kedalam rawa penuh dosa. Kemanusiaan sedang berjuang dan menangis karena tenggelam semakin dalam ke dalam pasir hisap. Kemanusiaan lah yang bertanggung jawab untuk setiap pemuda yang menjadi pecandu narkoba, karena tidak ada orang yang merangkul mereka, dan kemanusiaan lah yang juga bersalah atas setiap pemuda yang kehilangan kesuciannya, tidak melihat darimana bangsa, ras, atau warna kulit mereka. Rumah sakit, penjara, dan tempat pemakaman sedang berteriak meminta bantuan!

Inilah tanggung jawab besar kita, dan bebannya sangatlah berat. Tidak ada seorangpun yang boleh memupuskan harapan mereka yang sedang kabur dari api penderitaan ini, mereka sedang mencari perlindungan. Selama kita tidak bisa melepas kain iman dari pundak kita, maka kita harus menunjukan usaha yang sungguh-sungguh untuk menjaga dan menghormati sorban ini.

Dari Akar, Mehmet, Mesel Ufku, Istanbul: Timas, 2008, hal. 103

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

More in Khazanah