ilustrasi-potret-said-nursi-_mengembangkan_diri

Membaca Risalah Nur Setiap Hari

Sebaiknya Dalam Sehari Kita Baca Risalah Nur Berapa Halaman?[1]

Penulis | Cemil Tokpınar

Beberapa tahun yang lalu, kami pernah bertamu ke rumah salah satu teman yang berprofesi sebagai seorang guru. Di rak bukunya terdapat set risalah nur.

Ketika senggang, kami membaca sebuah pelajaran dari buku tersebut.

Buku terlihat baru, masih mulus. Mungkin baru dibeli.

Karena penasaran, aku pun bertanya:

“Apakah Anda telah selesai membaca semua set buku risalah nur?”

“Belum” jawabnya.

“Apakah Anda telah menyelesaikan seri-serinya yang paling tebal? Misalnya al Kalimat, al Maktubat, atau judul risalah lainnya?” tanyaku lagi.

“Saya belum pernah menyelesaikan buku-buku yang tebal. Di program-program membaca, saya biasanya membaca atau menyimak buku-buku risalah yang tipis.

Rupanya ia sudah berkenalan dengan buku-buku Risalah Nur sepuluh tahun lamanya.  Apabila ia membaca sedikitnya sepuluh halaman per hari, pastilah dalam setahun ia telah menyelesaikan semua set setidaknya sebanyak satu kali.

Sebenarnya, ada beberapa contoh serupa yang saya temui. Pada diri pribadi, keluarga, dan lingkaran pertemanan dapat ditemui mereka yang sudah mengenal risalah nur tetapi belum cukup dalam membacanya.

Pada hari ini saya ingin membahas kuantitas dalam memaksimalkan pelajaran-pelajaran iman secara harian.

Waktu mengalir seperti air.

Hari-hari ketika kita tidak mampu menyisihkan waktu untuk membaca risalah nur akan ditulis sebagai kerugian dalam hidup kita. Karena membaca karya-karya tersebut menjadi sarana bagi peningkatan kualitas iman, ibadah, ikhlas, ketakwaan, dan akhlak, maka tidak membacanya akan meninggalkan kerugian yang amat serius.

Seberapa banyak kita membaca dalam sehari tergantung pada target yang kita tentukan. Pada hari ini, coba kita mulai dari target yang paling rendah.

Seperti yang Anda ketahui, setetes demi setetes lama-lama menjadi samudera.  Meskipun sedikit, apabila kita tidak mencicil apa yang kita targetkan maka kita akan kehilangan samudera.

Orang-orang di masa kini memiliki banyak kesibukan. Terdapat nasihat dan motivasi penting dari Ustaz Said Nursi tentang berapa banyak waktu yang harus kita curahkan untuk membaca atau menyimak Risalah Nur di tengah hiruk-pikuk kesibukan sehari-hari.

Dalam sebuah surat yang dikutip dalam Lampiran Emirdag (Emirdağ Lâhikası), Ustaz membahas sebuah peringatan spiritual yang diterimanya. Ketika memberikan motivasi untuk membaca setiap hari, Beliau memberikan kabar gembira yang luar biasa:

“Apabila seorang lelaki di rumahnya terdapat 4-5 anak, hendaknya ia mengubah rumahnya tersebut menjadi Madrasah Nuriyah. Apabila ia tinggal sendirian, ia bisa mengundang 3-4 tetangganya yang paling akrab dan mengondisikan tempatnya berkumpul sebagai Madrasah Nuriyah mini. Jika itu juga tidak memungkinkan, setidaknya ia menyisihkan waktu meskipun hanya 5-10 menit untuk membaca, menyimak, atau menulis risalah nur. Dengan demikian ia bisa mendapat pahala dan kemuliaan penuntut ilmu yang hakiki. Ia juga bisa meraih lima jenis ibadah seperti yang ditulis di risalah ikhlas. Dalam hatiku muncul peringatan bahwa sebagaimana para penuntut ilmu yang hakiki, muamalah agung yang mereka kerjakan untuk mendapat penghasilan guna memenuhi kebutuhan sehari-hari pun dapat dianggap sebagai salah satu jenis ibadah.”

Apabila pernyataan tersebut memerlukan penjelasan ringkas, kita dapat melihat aktivitas membaca ini akan dilakukan dengan siapa, dimana, bagaimana, minimal seberapa banyak, dan kabar gembira bagi mereka yang melaksanakannya.

Bagaimana membaca buku dan dengan siapa saja:

Pertama-tama, ia disarankan untuk dilakukan bersama keluarga. Apabila ia tinggal sendirian, disarankan untuk membacanya bersama para tetangga. Apabila cocok, aktivitas menuntut ilmu ini bisa dilakukan baik bersama keluarga maupun bersama teman-teman lainnya. Pernyataan ini juga dapat kita pahami bahwasanya proses membaca disarankan menggunakan metode muzakarah. Cara membaca yang demikianlah yang dianggap memenuhi kriteria membaca harian. Namun, apabila kesempatan seperti itu sulit untuk dilaksanakan, maka aktivitas membaca bisa dilakukan kapan pun dan dimana pun ketika sempat.

Aktivitas membaca baiknya dilakukan di mana: 

Apabila ruang institusi resmi seperti pusat kebudayaan atau pun ruang belajar tidak tersedia, aktivitas membaca bisa dilaksanakan di rumah-rumah atau di mana saja boleh dilakukan, menyesuaikan dengan kondisi. Sebagai langkah antisipasi pandemi global yang sedang kita hadapi, alangkah indahnya jika kita berhasil mengkreasikannya dengan sistem digital dan menggubah seluruh penjuru bumi menjadi dershane.

Dalam satu hari sebaiknya membaca berapa halaman:

Dalam surat yang ditulis Ustaz tersebut, disampaikan sedikitnya membaca selama 5-10 menit. Bila kita konversi waktu 5-10 menit tersebut menjadi jumlah halaman, kita dapati dalam durasi waktu tersebut kita telah membalik 2-4 halaman. Apabila kebiasaan ini bisa dilakukan secara kontinu, maka ia bisa digunakan sebagai target harian. Ungkapan “setidaknya” menyampaikan pesan bahwa durasi ini bisa ditambah jika sedang senggang.

Apa saja kabar gembira yang bisa diraih:

Mereka yang membaca secara rutin setiap hari akan meraih kemuliaan dan keutamaan para penuntut ilmu. Selain itu, mereka juga meraih lima jenis ibadah yang dijelaskan dalam risalah ikhlas.

Kemuliaan dan keutamaan para penuntut ilmu telah dijelaskan dalam banyak hadis.  Demikian banyak kemuliaannya, tidurnya para penuntut ilmu yang hakiki dan ikhlas pun bernilai ibadah, apabila meninggal mereka meraih derajat syahid, amalan duniawi yang mubah akan terhitung sebagai ibadah.

Sedangkan lima jenis ibadah yang dibahas dalam risalah ikhlas adalah sebagai berikut:

  1. Ia merupakan bentuk jihad maknawi yang merupakan perjuangan terpenting dalam menghadapi kaum yang sesat.
  2. Ia merupakan pengabdian dalam bentuk bantuan bagi ustadz untuk menyebarluaskan kebenaran
  3. Ia merupakan pengabdian bagi seluruh kaum muslimin dari sisi keimanan
  4. Ia merupakan bentuk pemerolehan ilmu lewat tulisan
  5. Ia merupakan bentuk ibadah tafakkur yang satu jam darinya senilai dengan satu tahun ibadah.

Kini mari kita melakukan muhasabah dan menanyakan pertanyaan berikut kepada diri kita sendiri:

Berapa tahun kita telah mengenal Risalah Nur? Berapa kali kita mampu menyampaikan Risalah Nur? Melalui kehidupan dan ilmu, seperti apa kita telah menjadi teladan bagi anggota keluarga dan lingkungan masyarakat? Apakah kita memiliki jadwal membaca dan menyimak harian yang rutin? Apabila masih belum ada, kira-kira kapan akan dimulai?

Umur akan segera berlalu layaknya angin. Apabila kita menyisihkan 5-10 menit waktu yang dimiliki untuk membaca Risalah Nur, dalam 5 tahun kita akan menyelesaikan membaca semua setnya setidaknya sekali. Dalam 50 tahun, artinya kita akan menyelesaikan semua setnya sebanyak 10 kali. Dengannya kita akan meletakkan pelajaran-pelajaran dan tafsir dari ribuan ayat-ayat Al-Qur’an yang membahas iman ke dalam akal, kalbu, dan perasaan kita. Apakah kita tidak memiliki setidaknya 5-10 menit dalam sehari untuk meraih iman dan makrifat, mendaki anak tangga ketenteraman dan ihsan, menyelamatkan iman diri kita sendiri serta menjadi sarana bagi terselamatkannya iman orang lain?

Kita sedang hidup di periode masa di mana semua set risalah baik dalam bentuk tulisan ataupun audio dapat diakses melalui telepon genggam. Di mana pun kita bisa temukan kesempatan, ia dapat segera digunakan untuk membaca risalah sebanyak 3-4 halaman. Apalagi, setiap hari terdapat lebih dari 5-10 menit yang kita gunakan untuk singgah pada hal-hal tidak perlu yang bahkan merugikan.

Apabila saat ini kita tidak mengatakan “cukup” pada kebiasaan kita yang absen dari rutinitas membaca, lalu akan kita mulai kapan?

[1] Diterjemahkan dari: https://www.tr724.com/gunde-kac-sayfa-risale-i-nur-okuyalim/

olia-gozha-J4kK8b9Fgj8-unsplash

Kita Tidak Mampu Membaca Seperti Dulu Kala

Kita tidak mampu membaca seperti dulu kala. Kita tidak mampu membaca buku-buku itu (Risalah Nur).

Menurut saya, membaca buku-buku itu, meskipun mengulang apa yang sudah kita ketahui, di satu sisi, hal tersebut menunjukkan adanya hubungan, antara memahami apa yang seharusnya dibaca, setelah Al-Quran dan Sunnah, dengan apa yang seharusnya dipahami dan hubungan antara pendekatkan diri kita dengan ruh dan sosok yang ada di balik tugas mulia tersebut bersama dengan wasilah tersebut kita juga mendekatkan diri kepada Nabi Muhammad SAW dan Allah SWT. Jika memang untuk meraih hubungan tersebut harus menempuh jalan ini, namun terutama diri kita seolah-olah telah menghancurkan jembatan tersebut.

Maksudnya, jika setiap pagi kita tidak membaca buku-buku dengan rasa cinta yang mendalam, meski kita memiliki kesempatan, namun kita tidak membacanya dengan benar, kita tidak mengulas lebih dalam Risalah Nur dari beberapa sudut pandang yang berbeda, hanya disertai dengan sedikit pengkajian, jika kita tidak mencari tahu hubungan peristiwa yang terjadi dengan masa sekarang, jika kita tidak menelaah lebih dalam apa yang disampaikan dari mana dan ke arah mana arah bacaan, jika tidak demikian maka kita anggap buku-buku (Risalah Nur) itu seperti setumpuk buku usang, layaknya buku yang dijual di toko buku bekas. Dengan sudut pandang ini, kita akan terhalangi dari Risalah Nur dan keberkahan yang ada di dalamnya.

Tawajjuh itu sangat penting, seperti halnya bunga yang mengarah ke matahari demi keberlangsungan hidupnya. Demikian juga dengan kehidupan kita, bertawajjuh kepada beberapa unsur seperti sumber cahaya ini sangat penting bagi keberlangsungan hidup kita.

Meskipun topik itu sudah kita ketahui, mungkin saja kalian sudah pernah membaca 100 kali Kalimat Pertama atau Kalimat Ke-2 atau Kalimat Ke-17 membaca dari sudut pandang yang berbeda, mengulasnya dengan perasaan yang beragam, sekali lagi meninjaunya lebih dalam, meniti lebih jauh mutiara yang berada di dalamnya.

Hal itu bisa mengungkapkan hubungan kita dengannya, menjadi wasilah saling bertawajjuh yakni kedekatan yang dibalas dengan kedekatan. Kedekatan ini bisa dalam bentuk kedekatan Ilahi, dalam bentuk kedekatan Nabawi, atau kedekatan dengan Ustad. Ini merupakan salah satu sudut pandang dari permasalah di atas. Hal ini layaknya diet yang disarankan dokter, namun terkadang orang-orang tidak memperhatikan saran tersebut dengan baik namun bagaimanapun keberlangsungan hidup kita berhubungan dengan hal tersebut. Meski susah, namun kita semua harus berusaha dan melanjutkan aktivitas ini.

Salah satu dari permasalahan ini ialah nutrisi yang kita tidak ketahui rahasianya. Sedangkan masalah yang kedua adalah nutrisi yang kita ketahui rahasianya secara langsung. Dalam hal ini apakah kita bisa bertahan dengan berbagai kecerobohan dan kelalaian, dan juga beberapa hal yang dapat merubah kita ke arah yang lebih buruk. Apakah kita sudah menyiapkan hal yang diperlukan untuk menghadapi ini semua?

Seperti contoh, apakah kita sudah memiliki kehidupan tafakkur yang seharusnya? Apakah kita bisa konsisten menemukan setiap solusi dengan bertafakkur, untuk meniti jalan agar meraih kedekatan Allah SWT dari semua jenis tafakkur?

Yang mana Ustadz Nursi menyatakan bahwa hal ini merupakan salah satu dari dua jalan yang sangat penting untuk meraih keihklasan. Beliau menyebutnya optimalisasi cakrawala berpikir, saya sudah pernah membahasnya di berbagai diskusi, saya berusaha mengarahkannya ke dalam topik tersebut. Dalam setiap aktivitas tanpa harus bersikap gegabah, berusaha memusatkan setiap permasalahan untuk membahas Allah Swt menjalin perbincangan dalam lingkup-Nya, dalam setiap waktu, tapi tanpa berlebihan karena kelebihan bahkan satu kosa kata saja pun masuk kategori israf.

Dalam hal mengambil wudhu, meski sedang berada di pinggir samudera, ajaran Islam tetap mengharamkan untuk menggunakan air di luar kebutuhan seperti haramnya penggunaan air itu. Artinya bahwa penggunaan satu kata pun yang berlebih untuk sesuatu yang ingin kita sampaikan, juga tergolong israf yang dilarang.

Karena itu, ketika saya menjelaskan sesuatu kepada kalian saya harus sangat sensitif dalam penggunaan jumlah kata. Jika saya tidak menjaga prinsip dengan berlebihan dalam berbicara meski hanya dua kosa kata, bisa jadi saya akan dihisab karena hal itu.

Selain itu, untuk melawan sikap pemborosan dan ketidakpekaan menurut pengamatan saya, meski Risalah Nur telah banyak sekali mengumpulkan argumen, meskipun selalu mendorong untuk berhemat dan terus menerus menekankan hal itu. Namun di majelis-majelis Risalah Nur, masih sering terjadi pemborosan kata-kata bahkan bisa dikatakan, dibanding dengan jamaah lain suasana pemborosan kata itu terjadi lebih banyak di majelis Risalah Nur dengan tanpa kepekaan sikap, disertai tawaan, candaan, lawakan yang tidak serius, masing-masing bersikap seenaknya, tanpa disertai logika yang benar.

Telah terjadi pemborosan kata yang luar biasa banyak sedangkan para ahli hakikat sejak dulu mengatakan untuk sedikit bicara, sedikit tidur, juga bisa dikatakan sedikit minum, dan menyendiri dari manausia agar dapat menempuh perjalanan di jalan hakikat.

Sedikit makan, sedikit minum, sedikit tidur, dan sedikit bicara”

Dan mereka menjelaskan banyak bicara tergolong hal kecerobohan, dan saat ini dikenal sebagai dengan sebutan “tong kosong nyaring bunyinya”.

Sedangkan ketika kita membuka mulut kita, seperti yang diungkapkan pada Kalimat ke-17, melihat Allah, memikirkan Allah, memperbincangkan Allah, merasakan keberadaan Allah, hidup untuk Allah dan hidup dengan Allah. Hal-hal tersebut haruslah menjadi tujuan bagi kita.

Kita biasanya menyebutnya “mengalihkan pembicaraan”, namun kalian bisa menggunakan kalimat yang lebih cocok, seperti “mengembalikan topik pembicaraan pada dengan tempat yang sesuai”, atau “membawa pembicaraan pada inti topik yang seharusnya”.

Jika sebuah perbincangan tidak membahas tentang Allah, maka itu hanyalah kesia-siaan. Jika kata-kata tidak menjadikan Allah sebagai inti pembahasan, itu israf. Jika kata-kata tidak mengarahkan kepada Allah, sama artinya menipu umat manusia kata-kata itu hanyalah tipu daya belaka.

Khususnya dalam hal ini majelis-majelis kita seolah terlewat dengan begitu saja kita tidak bisa menutrisi majelis-majelis kita. Yakni hal-hal yang memiliki nilai penting tergantikan oleh hal yang sia-sia, seolah-olah hal yang sia-sia lebih diutamakan dibandingkan hal esensial lainnya.

Ucapan yang tidak memberikan makna yang berasal dari tingkah laku yang tidak serius kata-kata yang mengada-ada, kata-kata kosong, yang tidak memiliki tujuan serta kata-kata yang tak memiliki landasan. Hal ini menurut saya sangatlah penting, terutama mereka yang memiliki wewenang di majelis-majelis penting, seharusnya bisa mengambil tugas sebagai pengatur ‘lalu lintas’ ucapan.

Ketika ada kata-kata yang keluar dari jalur, atau melanggar aturan-aturan ‘lalu lintas’ mereka harus segera menegakkan hukum dengan kapasitas mereka seperti yang Necip Fazil ungkapkan segera merentangkan tangannya dan menghalau mereka, dan harus menyampaikan kepada mereka “Jalan ini adalah jalan buntu, janganlah gegabah!”.

Arahkan setiap perkataanmu menjadi perkataan yang benar dan bermanfaat yang mengantarkanmu kepada Allah SWT, menyuarakan Al-Qur’an dan Nabi Muhammad SAW. Setiap teman kita yang memiliki wewenang dalam majelis, sang pemilik akal yang luhur sedang bagi mereka yang tidak berbuat seperti itu, saya memang melihat mereka bagai orang tak memiliki keluhuran akal sang pemilik akal yang luhur pasti bisa mengatur lalu lintas kata-kata bisa mengarahkan ke tujuan utama mereka.

Ya, salah satu hal pemberian nutrisi berkaitan dengan masalah ini, untuk membangkitkan kehidupan maknawiyah di majelis-majelis kita, sebagaimana dalam kriteria yang Ustadz berikan

Keluarlah engkau dari alam materi tinggalkanlah kehidupan hewani, lalu masuklah pada kehidupan jiwa dan kalbu“.

Di situlah engkau meraih nilai detik-detik kehidupan yang mungkin setara dengan waktu bertahun-tahun. Satu ungkapan “la illaha illallah” akan membentuk pondasi hadirnya anugerah yang luar biasa, dengan ini potensi perbendaharaan akan semakin melimpah.

Yang kedua, kehidupan siang dan dakwah seseorang memiliki hubungan yang sangat erat dengan ibadah malamnya. Terlintas di benak saya, ada dua teman, setiap tahunnya kita sampaikan di sini, laksanakanlah shalat tahajjud berjamaah disini, demi meraih ridho Allah SWT. Paling sedikit, jangan sampai tidak shalat malam sebulan sekali. Jika kalian mampu satu minggu sekali untuk melaksanakan shalat tasbih dan ucapkanlah 300 kali subhanallah walhamdulillah wa la illaha illallah wallahu akbar.

Jika kita adalah hamba Allah Swt yang memiliki gelar “Rabbani”, itu yang kita harapkan jika kita memang benar-benar hidup sebagai pasukan mulia, maka dari itu kita harus berbeda dengan yang lain. Harus memiliki hubungan yang erat dengan Allah Swt, kita harus memiliki kedalaman ibadah yang mana dengan hal tersebut semoga Allah melimpahkan anugerah yang luas kepada perasaan dan pikiran kita, semoga Allah memberikan keberkahan kepada setiap kata-kata kita.

Di sisi lain semoga Allah menjadikan kita pengaruh baik bagi yang lain, ini bukan dalam artian untuk menghakimi atau menjelek-jelekan teman-teman yang lain. Namun jika misalnya saya tanya, malam ini yang tidak bangun sholat tahajjud silakan angkat tangan, beberapa dari kalian akan pasti merasa malu.

Ketika kehidupan malam seseorang tampak gelap, jika seseorang tertutup dari kehidupan barzah, ia tidak mungkin untuk menjelaskan sesuatu di alam barzah. Orang-orang yang selalu kalian sebut dalam penjelasan kalian, mereka hidup di alam barzah sedang kalian tertutup dari alam barzah. Sholat malam itu yang akan membuka pintu dengan alam barzah di Kalimat ke-9 dibahas secara mendalam, di dalam Hadits Syarif juga ada, di berbagai kajian sudah banyak sekali yang mebahas tentang masalah ini.

cover cahaya pilihan (1)

Kendi Yang Retak

aktivasi_membaca

Menjadi Pembaca yang Benar

Menjadi Pembaca yang Benar

 

Tanya: Di seluruh penjuru dunia, perhatian kepada gerakan sukarela ini semakin bertambah dari hari ke hari. Untuk itu, apa saja yang perlu dijadikan prioritas agar kesempatan ini tidak sia-sia dan lawan bicara kita dapat memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat?

Jawab: Pertumbuhan atensi secepat deret geometri[1] kepada gerakan sukarela benar-benar terjadi akhir-akhir ini. Teman-teman kita telah tersebar hingga  ke 150-160 negara. Seakan-akan tidak lagi tersisa tempat dimana Anda tidak menghembuskan nafas dan memperdengarkan pesan-pesan Anda. Sebagai bentuk tahadduts ni’mah[2], dapat dikatakan bahwasanya kita menerima anugerah yang dulu pernah diberikan Allah kepada para sahabat. Tentu saja apa yang tergambar disini semata-mata merupakan anugerah dan kebaikan yang berasal dari Allah SWT. Kita tidak tahu apa sebab dari segala macam anugerah dan kebaikan ini. Insya Allah anugerah ini bukanlah istidraj[3]. Semoga bukan istidraj dan semoga segala anugerah ini tidak menjadikan kita bangga diri.

Semangat Mobilisasi yang Baru

Jika pertumbuhan atensi yang seperti deret geometri ini hanya dibarengi oleh pertumbuhan kualitas dan kuantitias setara deret aritmetika dari orang-orang yang akan melakukan pendampingan dan bimbingan, maka sumber daya manusia yang ada harus kembali dibakar semangatnya dengan api yang pernah membara di dada teman-teman kalian yang dulu amat bersemangat dan bergairah untuk meraih pahala hijrah di tahun 90an.

Firman Allah di dalam Al Quran berikut ini menunjukkan target tersebut.

وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ

Artinya:

…dan orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah… (QS al Baqarag 2:218)

Maksudnya, seorang manusia dengan berhijrah ia dapat meraih derajat mulia di sisi Allah. Selain itu, di tempat tujuan hijrah, mereka berjuang untuk meruntuhkan tembok yang menghalangi manusia dari mengenal Allah. Perjuangan mereka dilatarbelakangi oleh semangat bahwasanya apa yang mereka lakukan itu semata-mata merupakan penunaian kewajiban yang diemban oleh mereka yang berhijrah. Untuk itu, agar dapat mengimbangi pertumbuhan geometrik atensi masyarakat kepada gerakan sukarela ini, usaha untuk melejitkan manusia ke dalam kehidupan kalbu dan ruh, menjauhkan manusia dari jasmaninya, serta mengeluarkan manusia dari kebutuhan hewaninya untuk kemudian memasukkan mereka ke dalam orbit kalbu dan ruh dengan pendidikan ketat ala sahabat di Era Kebahagiaan merupakan hal yang sangat penting. Disebabkan oleh ketidaksempurnaan orang-orang yang baru masuk Islam di akhir era sahabat dan di awal era tabiin dalam memahami ruh agama, maka muncullah golongan-golongan seperti Khawarij, Rafidhah, dan Kebatinan. Sabda Baginda Nabi ketika menyampaikan keadaan tersebut: “Akan muncul di antara kalian orang-orang yang akan membuat kalian menganggap shalat, puasa, dan amal kalian tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan shalat, puasa, dan amal mereka. Mereka membaca al Quran tetapi al Quran yang mereka baca tidak sampai melewati batas tenggorokannya. Mereka  keluar dari Islam secepat anak panah meluncur dari busurnya (HR Bukhari, bab Fadhailul Quran, 36; HR Muslim No.1773).

Anda dapat memikirkan makna hadits itu untuk masa Anda saat ini. Beberapa orang salat sedemikian rupa hingga meninggalkan bekas di dahi dan lututnya. Akan tetapi, karena ia tidak berhasil mencapai informasi-informasi prinsip di dalam salat, ia pun tidak berhasil menyelamatkan dirinya dari bahaya ifrat dan tafrit[4]. Berkebalikan dengan penampilan mereka yang mirip seperti orang yang dekat dengan Allah, dengan mudahnya mereka mengafirkan sosok-sosok seperti Sayyidina Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali. Padahal sosok-sosok tersebut adalah sosok-sosok yang dijanjikan Baginda Nabi dengan surga. Perhatikanlah bagaimana pandangan mereka yang satu berkontradiksi dengan pandangan mereka lainnya. Rasulullah yang mana dirimu mengaitkan diri dengan agamanya telah menjanjikan sepuluh sahabatnya dengan surga, tetapi beberapa manusia kemudian bangkit dan menuduhkan hal-hal yang membuat bulu kuduk berdiri. Itulah kebodohan yang berasal dari ketidaktahuan dan ketidaksadaran pada ruh dan esensi agama.

Oleh karena itu, kita harus meneliti jalan apa saja yang bisa digunakan untuk mencetak insan kamil agar ketika mengobarkan semangat mobilisasi di kalbu-kalbu manusia untuk kedua kalinya, kita tidak menderita distorsi dan deformasi yang bersumber dari ragam kultur budaya dan latar belakang pemahaman yang berbeda-beda. Untuk dapat mewujudkannya, orang-orang yang nantinya akan jadi pemandu, pembina, pembimbing, harus menguasai secara mendalam al Quran dan as Sunnah sebagai rujukan utama agama kita. Di waktu yang sama, mereka juga harus mengetahui dan mengenal karakter  para lawan bicara di tempat mereka menjalankan tugasnya. Di samping itu, mereka juga harus memiliki pengetahuan memadai seputar sains dan ilmu sosial. Mereka setidaknya pernah mempelajari dasar-dasar ilmu seperti fisika, kimia, matematika, dan antropologi. Ya, seseorang yang akan melakukan tugas membimbing manusia harus berangkat sebagai seseorang yang telah matang dengan sempurna. Generasi pertama dari kawan-kawan kalian telah berangkat dengan keimanan yang murni, penuh keikhlasan, serta kesederhanaan. Berkat inayat ilahi mereka telah menjadi sarana bagi terwujudnya banyak kebaikan. Akan tetapi, mulai dari sekarang, di saat ada banyak tempat yang membuka dirinya kepada kalian, dibutuhkan kedalaman, keluasan, dan kelengkapan perangkat yang lebih baik lagi.

Manfaat yang Dijanjikan oleh Membaca secara Muzakarah[5]

Ketika kita sedang membaca buku-buku referensi untuk menutrisi kedalaman, keluasan, dan kelengkapan perangkat kita, hendaknya ia tidak sekedar dibaca begitu saja. Kita harus membacanya dengan penuh gairah, diperbandingkan satu karya dengan karya lainnya, dianalisis, dengan tekad meraih kombinasi informasi yang terbaik dan teruji.

Perhatikanlah tafsir Al Quran: betapa banyak buku tafsir yang ditulis semenjak Al Quran diturunkan hingga hari ini. Betapa banyak pula hasyiah[6] yang telah dituliskan. Ya, hari ini terdapat ribuan jilid buku yang ditulis untuk menafsirkan Al Quran. Di satu sisi, sebagai ibnuzzaman, anak-anak zaman, setiap mufasir mengambil setiap ilham yang didapatkannya serta dengan melihat kondisi terkini di lingkungan sekitarnya kemudian menuliskan: “ayat ini dipahami seperti ini, tujuan seperti ini yang ingin dicapai olehnya.” Lewat tafsiran-tafsirannya tersebut, mereka berangkat menuju pembukaan-pembukaan baru dalam memahami Al Quran. Jika kita membandingkan beberapa buku tafsir, kita akan menemukan perbedaan-perbedaan. Misalnya Imam Fakhruddin ar Razi[7] menafsirkan suatu ayat, tetapi penafsiran Zamakhsyari[8] terkait ayat yang sama berbeda dengannya. Sedangkan Imam al-Baidhawi[9] menganalisis ayat tersebut dengan jalan yang berbeda lagi. Walaupun Ebussuud Efendi[10] umumnya bersandar kepada al Baidhawi, beliau juga memiliki penafsirannya sendiri. Jadi, karya-karya tafsir al Quran terus bermunculan hingga akhirnya terbit karya tafsir abad ini yang ditulis oleh al Allamah Hamdi Yazir[11]. Tentu saja setelah karya beliau juga akan lahir karya-karya lainnya. Kita harus bergerak dengan semangat ini. Kita juga harus mendidik insan-insan yang mampu membaca dengan baik kebutuhan zaman, mampu mendeteksi dan menganalisis sesuatu dengan lebih baik, mampu melihat lebih luas makna di setiap benda dan peristiwa, mampu lebih merangkul, serta mampu melihat lebih detail. Karena para pembimbing ini akan bertemu dengan anak-anak dari beragam latar belakang budaya. Oleh karena itu, jika ia tidak bersiap dan melengkapi dirinya untuk menghadapi beragam masalah yang mungkin muncul akibat perbedaan pemahaman dan budaya, ia akan jatuh KO.

Untuk itu, kita katakan bahwasanya di tempat dimana kita pergi bertugas, Allah SWT dapat menganugerahi hati kita dengan ilham-ilhamNya lewat beragam sarana. Akan tetapi, pada saat Anda ingin memanfaatkan beragam sarana ini, hendaknya ilham-ilham ini tidak disuarakan seperti halnya ketika Anda menyuarakannya kepada lingkungan sekitar Anda, melainkan harus Anda sesuaikan dengan kultur masyarakat di tempat Anda bertugas. Hal ini sekali lagi menunjukkan betapa kita membutuhkan pembimbing yang berkalbu luas, yang mampu melihat makna di balik benda dan peristiwa lebih mendalam, serta mampu merangkul para lawan bicaranya. Untuk memenuhi kebutuhan ini, suatu mobilisasi membaca dan berpikir harus dimulai sekali lagi.

Baginda Nabi SAW menyebut persoalan ini dengan istilah tazakur. Makna dari kata istilah ini adalah suatu persoalan dimuzakarahkan dengan keterlibatan sedikitnya dua orang. Mereka yang terlibat dalam proses muzakarah dan berkumpul di dalam suatu majelis yang seperti ini dikatakan oleh Baginda Nabi sedang berada di dalam rahmat dan penjagaan ilahi. Selain itu, Baginda Nabi menyebut majelis yang demikian dalam sabdanya sebagai berikut:

لَا يَشْقَى بِهِمْ جَلِيسُهُمْ

Artinya: “Tidak akan rugi orang-orang yang bermajelis dengan mereka.” (HR Bukhari, Bab Daawat, 66)

Maksudnya, ala kulli hal, mereka yang hadir di dalam majelis itu pasti akan menerima sesuatu. Pasti sesuatu yang baik akan masuk entah ke dalam hati ataupun ke dalam kepala mereka. Bisa jadi ada seseorang yang duduk di majelis tersebut dengan niat awal yang bersifat duniawi. Bisa jadi ia menghadiri majelis tersebut dengan niatan mendapat manfaat yang sifatnya materi. Namun, karena ia berkumpul bersama orang-orang baik, akhirnya ada nilai kebaikan yang menelusuk ke dalam dirinya. Lebih tepatnya, orang itu memperoleh insibag[12] dari orang-orang saleh di sekitarnya. Syakhsiyah maknawiyah; satu kuas turut digoreskan kepadanya dan dengannya ia pun tergores dengan goresan kuas maknawiyah. Dari sisi ini, dengan inayat dan anugerah ilahi setiap pembimbing dan pembina lewat sarana muzakarah harus dapat membangun jalan keluar permasalahan paling muskil sekalipun. Ia harus mampu menghasilkan solusi bagi segala permasalahan serta mampu meraih level dimana ia bisa menjawab segala macam pertanyaan.

Sayangnya, orang-orang kita saat ini jauh dari metode membaca yang demikian. Bahkan Al Quran yang notabene merupakan firman Sang Rabbi pun terpaksa menjadi korban dari pembacaan dan pembahasan yang biasa, statis dan hanya mengupas kulit permukaannya saja ini. Barangkali saat ini Al Quran sedang tersimpan rapih di dalam sampul beludru di samping tempat tidur kita. Sebenarnya masyarakat kita memiliki penghormatan istimewa terhadap Al Quran. Aku pun memuji penghormatan tersebut. Akan tetapi, masyarakat kita saat ini awam akan makna Al Quran. Padahal ia merupakan pesan dari Allah yang dikirimkan kepada kita. Kenyataan amatlah pahit, kita tidak pernah bertanya kepada diri kita sendiri:”Apa yang sebenarnya diinginkan Allah dari kita lewat pesan-pesanNya ini?” Kita amatlah asing bahkan dengan kitab suci kita sendiri. Ya, pengemasan yang biasa dan statis telah membutakan mata kita, telah membuat kita gagal memahami makna yang terkandung di dalam kitab suci kita. Kita pun telah berpuas diri dengan penghormatan kering tersebut. Sekali lagi, saya memuji penghormatan yang seperti itu. Namun, penghormatan sejati terhadap Al Quran hanya dapat diwujudkan dengan meniti ruh, makna, dan esensi yang ada di dalamnya.

Dapat dikatakan bahwasanya kita juga buta terhadap karya-karya yang membahas hakikat Al Quran dan As Sunnah. Membacakan salah satu kitab tersebut di setiap pagi tidak dapat dikatakan cukup sebagai usaha untuk memahami hakikat-hakikat Al Quran dan Sunnah. Yang menjadi kriteria asas adalah bagaimana kita mampu memperhatikan kepadatan dan kearifan gagasan serta pikiran tokoh tersebut di dalam karyanya, berusaha memahaminya dengan membandingkan gagasan di karya yang satu dengan karya lainnya. Misalnya, terkait suatu topik pembahasan, Imam Ghazali berpendapat seperti ini. Akan tetapi, Bediuzzaman Said Nursi berpendapat berbeda. Kita harus mampu mengembangkan sistem membaca yang baru dan setidaknya kita harus mampu membaca dengan metode perbandingan seperti contoh tersebut. Mari kita pikirkan, bagaimana nama-nama sosok pilihan tersebut mampu membangkitkan semangat kita, bagaimana nama-nama mereka mampu mendiktekan semangat para sahabat kepada Anda, apakah nama-nama mereka mampu memantik dan menggerakkan diri Anda? Tetapi apa yang terjadi, karya-karya agung tersebut kemudian berubah hanya menjadi lembaran-lembaran yang dibaca karena kebiasaan belaka. Padahal karya-karya agung tersebut harus didaras lebih mendalam dengan beragam sudut pandangnya. Bahkan kita seharusnya tidak hanya mencukupkan diri dengan ungkapan-ungkapan di dalam karyanya saja, melainkan kita juga harus berusaha menangkap ufuk pandangnya. Setelahnya, cara membaca yang dipenuhi analisis dan kombinasi dari berbagai karya harus diwujudkan.

 

Kedalaman yang paralel dengan perluasan  

Kita membutuhkan pembimbing dan pembina yang dapat menerangi jalanan kita, yang membaca dan menguasai karya-karya dasar dalam Islam dengan ushul dan keluasan yang paralel dengan pertumbuhan geometrik perhatian masyarakat kepada gerakan sukarela ini. Jika kita mencukupkan diri dengan pertumbuhan aritmetika jumlah pembimbing dan pembina yang mampu menguasai karya-karya tersebut, maka malfungsi akan banyak terjadi karena kurangnya asupan nutrisi pembinaan yang adekuat. Malfungsi yang terjadi hari ini pun bersumber dari lemahnya semangat membaca dan lemahnya usaha untuk menemukan nilai serta jati diri kita. Hal-hal seperti mencukupkan diri pada apa yang tampak, dan berfokus pada hal-hal yang sifatnya permukaan adalah sebab-sebab dasar munculnya masalah-masalah ini. Bediuzzaman misalnya, membaca Risalah Ikhlas yang ditulisnya sendiri sebanyak 115 kali. Ada seorang profesor yang heran dan takjub melihat potret ini dan berkata:”Apa mungkin seseorang  membaca karya yang ditulisnya sendiri sebanyak ini?” Menurut saya, jika karya tersebut layak untuk dibaca sebanyak itu, artinya karya tersebut memang harus dibaca sebanyak itu. Bediuzzaman dalam setiap kesempatan membaca, dengan ilham dan anugerah yang terlahir di dadanya pasca membaca, seakan ada sebuah layar terkembang yang mengantarkannya berlayar menuju ufuk-ufuk yang lebih agung  dan membantunya mencapai kedalaman maknawi yang luar biasa. Sayangnya, meskipun terdapat kesempatan yang amat luas seperti ini, saya rasa kita tidak mampu membaca dan memahaminya dengan cara pandang luas sebagai berikut:”Topik ini dibahas seperti ini di karya itu. Topik yang sama dibahas dan diringkas seperti itu. Dari dua karya tersebut terdapat hubungan demikian ketika membahas topik ini…dan seterusnya”

Pada hari ini, kita sebagai anggota masyarakat membutuhkan pembimbing dan pembina yang mampu mencerna dan menginternalisasi esensi dari Al Quran, as Sunnah, serta karya-karya yang menafsirkan dan menjelaskan rujukan utama Islam ke dalam karakternya. Jika pembimbing dan pembina dengan karakteristik ini tidak tersedia, kita akan menemui banyak masalah yang tidak diharapkan ketika di sisi lain kesempatan untuk menjelaskan hakikat terbuka lebar dengan kecepatan tertingginya.  Akhirnya energi yang ada akan habis oleh usaha untuk memikirkan solusi-solusinya. Mungkin sebagian besar dari Anda tidak akan mampu memecahkan sebagian besar dari masalah yang muncul.

Ya, sekali lagi saya sampaikan, di sepanjang sejarah, manusia yang tidak matang selalu menimbulkan masalah. Ribuan orang Khawarij misalnya berkumpul dan menyampaikan tuntutan-tuntutan versi mereka. Ketika sosok yang medapat gelar Al Allamah-nya umat Sayyidina Ibnu Abbas pergi menemui mereka dan menjelaskan duduk persoalannya:”Anda mungkin menuntut hal ini. Akan tetapi, sebenarnya hal ini tidak dipahami demikian!” kemudian muncul jawaban dari ratusan orang di antara mereka:”Astagfirullah! Kita tidak pernah memahami perihal ini seperti itu!” Barangkali di antara mereka, ada orang-orang yang dalam sehari menunaikan shalat ratusan rakaat, mengkhatamkan al Quran tiga hari sekali. Akan tetapi orang yang sama, dengan santainya mengafirkan sosok-sosok agung seperti Sayyidina Ali, Muawiyah, dan Amr bin Ash.

Jika individu-individu tidak memahami suatu topik permasalahan beserta segala tetek bengeknya dengan cara yang seharusnya ia dipahami, dan jika mereka tidak bergerak dengan informasi yang benar, maka mereka akan senantiasa muncul sebagai masalah. Kuantitas yang seperti ini akan mencatatkan kualitas yang tidak jauh berbeda. Hafizanallah, demikian gentingya permasalahan yang akan terjadi, Anda akan terpaksa meresponnya dengan ungkapan:”Seandainya  pertumbuhan atensi masyarakat tidak terjadi secepat ini!”. Untuk itu, agar Anda tidak menyisakan kekosongan di antara manusia, Anda harus mengetahui dan menguasai hal-hal yang harus Anda ketahui, dan menginternalisasikannya dalam kehidupan Anda sehari-hari. Ketika menunaikan shalat, Anda harus menunaikannya dengan kesadaran penuh bahwasanya Anda sedang berada di hadapan Sang Penguasa Alam Semesta. Ketika Anda menyungkurkan diri untuk bersujud, dada Anda harus berguncang dan bergemuruh layaknya suara air mendidih yang direbus di dalam panci. Orang-orang harus melihat Anda dalam keadaan demikian. Mereka harus takjub dengan kualitas Anda dan berkata:”Orang-orang ini betul-betul orang yang mengimani Allah dengan sepenuh hati.” Tentu saja kita tidak melakukannya supaya orang-orang memuji kita. Akan tetapi, kita harus berusaha untuk meraih kedalaman dan sifat-sifat agung ini sebagai tabiat kita. Untuk itu, manusia yang berhasil menjadikan sifat-sifat agung tadi sebagai tabiatnya, seakan tenggelam ke dalam daya tarik suci mereka akan berkata:”Inilah yang aku cari! Aku telah menemukan sesuatu yang telah lama kucari!”

Pendeknya, di samping kecemerlangan dan kemilau indah gagasan serta ketepatan penyajian, daya tarik dari para representasi nilai-nilai ini memiliki  efek dahsyat dan pengaruh luar biasa kepada para pendengarnya. Dari sini, saat kita memulai kembali mobilisasi atas nama kemanusiaan, ruh dan kalbu kita harus menyerukan kalimat “Bismillah tanpa henti!” seakan-akan kita baru pertama kali memulainya. Kita harus terjun ke pekerjaan ini dengan gairah yang luar biasa. Ketika idealisme ini diperankan oleh sosok seperti Hulusi Efendi, Hafiz Ali, dan Husrev Efendi, masyarakat akan berlari menghampiri. Mereka yang datang tidak akan pernah berpaling lagi.Tidak boleh dilupakan, orang-orang akan berpaling saat mereka tidak menemukan apa yang mereka cari. Mereka dapat berpikir: “mengapa aku menyia-nyiakan waktuku di sini?” dan mereka pun perlahan menjauh. Untuk itu, walaupun berat untuk nafsu kita, idealisme hidup untuk menghidupkan orang lain dan semangat berjuang sepanjang umur hingga izrail menjemput harus dicanangkan.

Diterjemahkan dari artikel berjudul “Okuma Seferberligi”

[1] Barisan dan deret geometri adalah barisan bilangan yang nilai pembanding (rasio) antara dua suku yang berurutan selalu tetap. Rasio, dinotasikan dengan huruf r, merupakan nilai perbandingan dua suku berururtan. Rumus suku ke-n adalah Un = arn-1 dengan u1 adalah a, r adalah rasio, dan n adalah bilangan asli. Rasio dapat dihitung dengan rumus r = un : un-1

[2] Menyebut-nebut nikmat Allah yang dilakukan dalam rangka bersyukur kepada Allah dan bukan dalam rangka menyombongkan diri pada yang lain.

[3] Hal atau keadaan luar biasa yang diberikan Allah SWT kepada orang kafir sebagai ujian sehingga mereka semakin takabur dan lupa diri kepada Tuhan, seperti yang terjadi pada Firaun dan Karun.

[4] Ifrath: berlebih-lebihan (terlalu ketat) dalam agama

Tafrith: mengurang-kurangi (terlalu ringan) ajaran agama

[5] Pertukaran pikiran tentang suatu masalah; pengulangan pelajaran secara bersama-sama (KBBI

[6] Catatan atau keterangan yang dituliskan di tepi buku (KBBI); komentar terkait satu karya tafsir

[7] Salah satu karya tafsirnya yang terkenal adalah Mafatih al Ghaibi

[8] Salah satu karya tafsirnya yang terkenal adalah Al Kasysyaf

[9] Salah satu karya tafsirnya yang terkenal adalah Anwar Al Tanzil wa Asrar Al Ta’wil

[10] Syaikhul Islam Usmani, menjalankan tugasnya di masa kepemimpinan Kanuni Sultan Sulaiman dan Sultan Selim II (Sari Selim)

[11]  Salah satu karya tafsirnya yang terkenal adalah Hak Dini Kur’an Dili

[12] Celupan, terwarnai. Lihat QS al Baqarah 2:138 “Sibgah Allah.” Siapa yang lebih baik sibgahnya daripada Allah? Dan kepadaNya kami menyembah