fbpx
Nutrisi AkhlakNutrisi ImanNutrisi Karakter

Barometer Keimanan

Karya Penulis : Saeful Arif

Urgensi beriman

Tujuan dari penciptaan manusia salah satunya adalah untuk beribadah kepada Allahﷻ. Dan untuk menuju penghambaan yang sempurna maka pondasinya adalah iman. Iman adalah satu satunya perkara yang tidak bisa di hadirkan kehadapan Allahﷻ dalam keadaan cacat. Jika sholat wajib belum sempurna maka masih bisa di sempurnakan dengan sholat sunnah, jika puasa belum sempurna maka bisa di tutupi dengan puasa sunnah, jika zakat belum sempurna maka bisa di sempurnakan dengan sedekah, namun jika seseorang menghadap kehadiran ilahi dengan iman yang tidak sempurna maka tertolak semua amalnya.

Lalu bagaimana cara menjaga dan memperbaiki iman?

Jauh–jauh hari baginda Muhammad ﷺ telah mengabarkan pada kita bahwa selagi Ruh belum melewati tenggorokan maka potensi iman bertambah atau berkurang senantiasa ada. Namun bersamaan dengan itu beliau juga memberitahukan kita solusi meningkatkan iman, Sabdanya.

Perbaharuilah iman kalian dengan kalimat laa ilaaha illAllaah”. Hadits ini dapat di maknai secara tersurat maupun tersirat, secara tersurat hadits ini menunjukkan bahwa iman dapat bertambah dengan memperbanyak zikir dan menyebut Allahﷻ, sementara makna tersuratnya iman dapat bertambah dengan mengaplikasikan lafadz “laa ilaaha illAllaah” ada dua substansi yang terkandung dalam lafadz tersebut. Pertama penafian, maksudnya adalah menafikan keterkaitan segala sesuatu dalam hidup kita dan substansi kedua adalah penyandaran yaitu menyandarkan segala sesuatu pada Allahﷻ. Maksudnya setelah kita menafikan keterkaitan Zat lain selain Allahﷻ kemudian kita menyandarkanya kepada Allahﷻ.

Contoh sederhana pengaplikasian lafadz “laa ilaaha illAllah“ dalam kehidupan kita sebagai berikut. Suatu hari terjadi kecelakaan di depan halte bus, secara kebetulan di dalam halte ada 3 orang yang sedang menunggu bus. Orang pertama seorang dokter karena profesinya seorang dokter maka ia mengambil kesimpulan awal “mungkin sang driver sedang kurang sehat sehingga terjadi kecelakaan“, sementara orang kedua yang merupakan seorang mekanik bliaupun berkesimpulan “mungkin ada yang tidak beres dengan mesin nya“. orang ketiga berpendapat “bisa jadi kecelakaan ini terjadi karena faktor jalan yang bergelombang atau kontruksi jalan yang tidak pas” hal ini wajar karena latar belakang orang ke tiga ini seorang insinyur kontruksi.

Lalu siapakah yang benar? Tentu kita tidak bisa mengatakan semua benar atau semua salah karena ini hanya kesimpulan sementara berdasarkan latar belakang keahlianya, namun jika kita ingin mengaplikasikan substansi hadits di atas maka yang seharusnya di pikirkan di awal adalah “ kecelakaan ini terjadi karena kehendak dan takdir dari Allahﷻ, namun sebab yang menjadi wasilahnya adalah bisa jadi karena faktor kesehatan driver, faktor kondisi mesin atau factor kontruksi jalan” jika kita senantiasa mengaitkan segala sesuatu yang terjadi kepada Allahﷻ terlebih dahulu baru kemudian mencari sebab atau faktor lain yang menjadi asbab.

Menakar keimanan

Keikhlasan dan kesabaran bagaikan saudara kembar yang senantiasa mendampingi iman. Bagaikan mustahil seseorang mendeklarasikan keimananya tanpa ada ujin dari Allahﷻ. Ujian bagi orang yang beriman bagaikan stempel dan sekaligus barometer untuk mengukur kadar keyakinan seorang mu’min. Dalam QS. Al -Angkabut Allahﷻ berfirman :

Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman,” dan mereka tidak diuji?

Dari ayat ini seolah Allahﷻ ingin mengabarkan kepada orang–orang yang berkeluh kesah terhadap ujian setelah beriman, agar berhenti berkeluh kesah dan bersabarlah, karena ujian adalah tabiat keimanan, maka semakain seseorang ikhlas, ridho dan sabar atas ujian yang ada maka hal itu menunjukkan kualitas keimanan seseorang.

Kualitas keimanan sesorang tidak bisa dilihat dari seberapa besar wawasanya terhadap pengetahuan agama, juga tidak bisa diukur berdasarkan ilmu dan pakaiannya. Jika barometer iman adalah wawasan, ilmu dan pakaian , maka kenapa iblis yang wawasanya melebihi Nabi Adam, dan yang lebih dahulu diciptakan Allahﷻ justru menolak printah Allahﷻ untuk bersujud kepada Adam?

Ujian dapat berupa sesuatu yang terlihat buruk seperti musibah, kesulitan dan kefakiran, dan dapat juga berupa segala sesuatu yang terlihat baik seperti kemudahan, kelapangan kekayaan. Keduanya tetaplah ujian keimanan, keridhoan, keikhlasan dan kesabaranlah barometernya. Jadi barometer bagi keimanan adalah kesabaran, semakin tinggi kadar keyakinan seseorang terhadap Tuhan-nya maka semakin besar pula tingkat kesabarnya, semoga kita semua di masukkan kedalam golongan orang–orang yang beriman dan bersabar.

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan artikel baru setiap saat!    Yees! Tidak Sekarang