matt-howard-A4iL43vunlY-unsplash

Sebuah Nafas – Ufuk Kebangkitan di Dalam Hati

Sebuah Nafas – Ufuk Kebangkitan di Dalam Hati


Karena egoisme yang masuk di sela antara kita dengan Allah, kita membuat gerhana terjadi di dunia kalbu kita. Jangan tanya bagaimana manusia putus hubungan dengan Allah pada saat ini. Sudah berabad-abad lamanya, dunia kalbu umat jauh dari semangat. Berabad-abad lamanya air mata ini kering. Perhatikan penekanannya: “berabad-abad!” Selama itu juga kita semakin jauh dari Allah SWT. Ketika kita berpaling, kita pun terpaku pada bayangan kita, yaitu egoisme kita. Alam bawah sadar berkata: “Kita yang paling tahu, hanya kita yang bisa kerjakan”. Jangan tanya bagaimana kita telah jauh melangkah di atas telapak kaki setan. “Waspada! Perhatikan langkahmu! Takutlah tenggelam (dalam dosa)!”.

Jangan sampai tenggelam oleh sifat-sifat hewani. Mulai dari satu suapan, satu kata, satu tepukan tangan, pujian, jabatan, kedudukan, harta yang tak seberapa, kenyamanan dunia seperti makan, minum, dan tidur. Selama manusia tak menginjak-injak keburukan itu dengan kelapangan dada melalui pemikiran & perasaan, manusia takkan bisa mengarah kepada Allah. Padahal Allah SWT menciptakan manusia dengan potensi “Ahsani Takwim”. Betapa istimewanya manusia, jika dilihat akan melahirkan respon: “Inilah yang layak menjadi cermin Sang Rabb”. Jika manusia menerima potensi seistimewa ini, maka mereka harus memberi sesuatu sebagai balasannya. Penghambaan yang kita lakukan kepada Allah bukanlah awal dari apa yang akan kita ambil di masa mendatang. Imbalannya telah kita ambil sedari dulu kala. Penghambaan yang kita lakukan tak lebih merupakan pujian dan syukur untuk-Nya. Betapa berat kewajiban yang dipikul mereka yang yakin kepada Allah & kebenaran. Sekali lagi terdapat kewajiban untuk membangkitkan dunia kalbu. Terdapat kewajiban untuk mengakui kesalahan umat hingga detik ini. Dimana wajib menyucikannya dengan air mata saat menghadap Tuhan di waktu malam. Wajib menyucikan kotoran itu dengan jalan membasahi sajadah, dan dengan bersujud di atas sajadah basah itu. Jangan remehkan tetesan air mata itu. Karena ia adalah telaga kautsar yang satu tetesnya dapat memadamkan bara api neraka sebesar gunung.

Untuk itu Nabi bersabda: “Aku berlindung dari mata yang tak pernah menangis, sebagaimana aku berlindung kepada-Mu dari godaan setan”.

aung-soe-min-f6UX-It1N7g-unsplash

Memadukan AKAL & KALBU dalam BERIMAN

Memadukan AKAL & KALBU dalam BERIMAN

pretty-drugthings-olWIRB8Mngk-unsplash

Sebuah Nafas – Obat Kesetiaan & Racun Statisitas

Sebuah Nafas – Obat Kesetiaan & Racun Statisitas


 Kita memiliki kewajiban untuk mencari kebersihan hati dalam setiap peristiwa yang terjadi pada diri kita. Membiarkan diri kepada tepian khayalan, pandangan yang buruk, kata-kata yang buruk, mendengar bahasan yang tidak baik, menyimak gibah, dengan berkata: “Bisa jadi,” memberi isyarat setuju akan sebuah fitnah, hal yang demikian adalah undangan  bagi datangnya bala dan musibah. Satu undangan sudah cukup untuk memanggil ribuan bala dan musibah sekaligus. Oleh sebab itu Rasulullah SAW dalam sehari beristigfar sebanyak 70-100 kali. Istigfar yang beliau baca seakan menjadi benteng serta penolak bala dan musibah.

رَبَّنَا لاَ تُعَذِّبْنَا بِذُنُوبِنَا

Yaa Allah, jangan Engkau tinggalkan kami ditimpa musibah karena dosa-dosa kami! Ampunilah kami Yaa Ghaffar! Tutupilah aib kami, Yaa Sattar! Ampunilah kami, Yaa Afuw…!

Sidik (al-shidq)  adalah kata yang digunakan oleh orang Mukmin. Seorang mukmin harus hidup dan berzikir dengan kalimat tersebut. Kalbu yang berpotensi untuk layu, pudar, dan mudah roboh harus dikokohkan dengan kesetiaan. Seorang manusia setelah beriman, keterjagaan imannya bergantung pada aksi dan amal yang dia lakukan. Lewat ikhlas beramal demi meraih ridaNya, maka iman manusia akan tetap segar dan hidup. Jika manusia statis dalam beramal, ia tak bisa menghindari kondisi seperti daun yang berguguran ditiup angin. Misalnya sekarang,  kita sedang dilempar ke dalam sumur, seperti Nabi Yusuf as. Atau kita sedang ditelan ikan besar, seperti Nabi Yunus bin Matta as. Apa yang bisa dilakukan dalam kondisi tersebut? Yang bisa dilakukan adalah tetap beramal…tetap beramal…

Iman jika tidak dinutrisi oleh aksi akan pudar dan layu, seperti halnya daun yang berguguran. Daun yang gugur bagi bunga yang bermekaran adalah kotoran di sekitar tanah. Jika Anda menggunakan segala usaha yang mampu Anda lakukan, maka itu adalah undangan bagi hadirnya rahasia ahadiyah di dalam nur tauhid. Teruslah berjalan… teruslah berjalan… teruslah berjalan… Teruslah berjalan agar tidak terseret di pinggiran jalan.

anton-porsche-sXKsFx98DZA-unsplash

Sebuah Nafas – Cahaya dan Kegelapan

Sebuah Nafas – Cahaya dan Kegelapan


Bagaimanapun, suatu hari matahari akan terbit. Cahaya akan menghujani seluruh alam semesta sekali lagi. Cahaya akan datang menelan kegelapan di semua segmen kehidupan. Dengan beriman, Allah akan menyelamatkan mereka yang berhasil menjadi waliyullah dari kegelapan berlapis-lapis. Allah akan menggenggam tangan mereka dan memasukkannya ke dalam cahaya-Nya. Allah SWT berfirman dalam Q.S. An-Nur ayat 35: “Allah adalah Zat yang senantiasa menyinari langit dan bumi”. Allah SWT adalah sumber cahaya. Oleh karena itu, kita harus senantiasa menjalin hubungan dengan Allah SWT sang Pemilik Cahaya alam semesta. Sebab pada dasarnya, jika manusia kehilangan hubungan dengan Allah, maka ia bukan hanya akan kehilangan satu cahaya, melainkan semua cahaya. Pertama, ia akan kehilangan cahaya siang, lalu ia akan kehilangan cahaya bintang di waktu malam dan seterusnya hingga ia akan tenggelam dalam kegelapan yang berlapis-lapis.

Dalam hal ini, terdapat istilah lingkaran setan. Artinya bahwa ketika seseorang berbuat salah sekali, misalnya berbohong, maka pintu dusta pun akan terbuka untuk kebohongan berikutnya. Sekali seseorang memfitnah kawannya, maka dia akan membuat fitnah lainnya. Sekali dia melangkah ke arah keingkaran, maka dia akan menapakkan langkah lainnya, hafizanallah. Inilah lingkaran yang secara perlahan-lahan menyeret manusia ke dalam kubangan dosa dan kehilangan cahaya Allah SWT. Semoga kita bisa terlepas dari hal tersebut.

Bagaimana caranya agar seseorang bisa terbebas dari lingkaran dosa itu dan kembali mendapatkan cahaya-Nya? Caranya adalah harus ada sahabat sejati yang mendampingi dan membimbingnya. Tetapi harus dipahami bahwa hanya ada satu Sahabat sejati. Jika kamu tak menemukan sahabat yang hakiki, maka kamu akan membabi buta mengikuti puluhan sahabat yang menipu. Jalan untuk melepaskan diri dari sahabat semu dan setan itu adalah dengan menemukan Sang Sahabat Sejati, Allah SWT. Jika tidak, maka tipuan dunia dan nafsu syahwat akan melenakan dan membuat Anda mulai mengejar sahabat semu itu. Anda akan mulai melepaskan diri ke air terjun kehidupan bebas. Satu-satunya jalan melepaskan diri dari ribuan perbudakan yang demikian yaitu dengan menjadi budak-Nya.

Allah SWT berfirman dalam surah An-Nisa ayat 136: “Wahai orang-orang yang beriman, perbaharuilah imanmu!”. Sahabat Rasulullah yang memahami pembahasan ini dengan baik ketika bertemu satu sama lain akan saling berseru: “Datanglah! Dalam beberapa menit ke depan mari perbaharui iman kita” “Mari kita bermuhasabah! Mari menguatkan iman kita!”. Inilah resep agar kita mampu menjalin hubungan persahabatan dengan Allah SWT dan membebaskan diri dari belenggu dosa serta mengeluarkan kita dari kegelapan menuju cahaya-Nya.

Lalu apa yang menjadi masalah kita dewasa ini? Masalah utama yang kita hadapi dewasa ini adalah masalah iman. Lalu kemudian masalah menjauhnya manusia dari jati dirinya sendiri. Maka membaca zaman dengan tepat, lalu menemukan masalah dengan tepat, serta merumuskan resep dan solusi dengan tepat adalah sangat penting. Itulah permasalahan kemanusiaan masa kini.

Surga itu kekal, neraka juga kekal. Semoga Allah menganugerahi Anda, kawan-kawan Anda, saudara-saudara Anda yang merintih dalam keprihatinan, mereka yang dizalimi, menderita, bersembunyi dari pemimpin yang zalim, mereka yang hatinya terus berdetak ingin melayani umat manusia meskipun kondisinya sedang tidak memungkinkan, semoga Allah SWT menjadikan kalian semua sebagai tetangga Rasulullah SAW, membahagiakan kalian dengan surga firdaus-Nya. Semoga Allah menjauhkan Anda sejauh-jauhnya dari neraka jahannam. Aamiin Ya Rabbal’Alamiin. Wassalam

 

 

yeo-khee-BkqUJQiucKY-unsplash

Versi Terdalam : KEHIDUPAN RASUL ALLAH Muhammad SAW

Versi Terdalam : KEHIDUPAN RASUL ALLAH Muhammad SAW

 

warren-wong-J33qmCVr02A-unsplash

 Persaudaraan Ansar dan Muhajirin


 Persaudaraan Ansar dan Muhajirin

Dalam sejarah, kita mengenal kisah yang sangat menggugah hati dan perasaan. Kisah itu menjadi sumber inspirasi bagi generasi setelahnya, bahkan sampai saat ini. Ialah legenda persaudaraan kaum muslim antara Muhajirin dan Ansar. Jikalau kisah tersebut merupakan episode pertama dari legenda persaudaraan umat muslim, maka saat ini andalah yang akan menulis episode kedua legenda persaudaraan Muhajir dan Ansar tersebut yang juga akan menjadi sumber air di tengah dahaga yang melanda dan akan dikenang baik oleh generasi selanjutnya.

Sebagaimana generasi sebelum kita, dimana mereka mentaati perintah Allah dalam al-Quran Surah al-Hasyr ayat 10:

وَالَّذِينَ جَاؤُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيم

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami. Dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”. Jadilah kalian kelompok orang yang dipuji di ayat tersebut: “Orang-orang yang datang sesudah mereka (muhajir dan anshar).

Sang pemberi kabar yang Jujur, Muhammad SAW juga bersabda:

مَنْ لاَ يَهْتَمُّ بِأَمْرِ الْمُسْلِمِيْنَ فَلَيْسَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang tidak berempati dengan derita saudaranya, dia bukan golongan mereka”.

  Dengan kata lain bahwa mereka yang tidak mempedulikan urusan kaum muslimin adalah bukan dari mereka/kaum muslimin. Dalam artian, seorang mukmin harus bergulat dengan penderitaan. Seorang mukmin harus berpilin dengan keprihatinan. Jika Anda tidak merasakan itu dalam jiwamu, Rasulullah bersabda: “mereka bukan bagian dari golongan muslim”. Begitulah cara Rasul SAW mengikat persaudaraan antar sesama muslim dengan tali ikatan yang kuat ini. Dalam al-Quran surah Ali Imran, Allah SWT juga menyeru umat manusia kepada ikatan ini:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ

 “Berpegang teguhlah kalian semua pada tali Allah”. (Q.S. Ali Imran : 103). Berpegangteguhlah pada Al- Quran, itulah tali Allah yang kuat ikatannya.

Dalam hal manfaat materi yang dicintai fitrah pun kalian harus mendahulukan saudaramu sebelum dirimu. Jangan sampai lupa, kamu adalah yang kedua. Kebangkitan yang pertama telah diwujudkan oleh mereka (para sahabat). Dunia Islam sedang mengalami kebangkitan kedua, jadilah kalian sebagai pihak yang mewujudkannya berkat inayat ilahi. Dakwah agung ini tidak mungkin diemban oleh orang-orang yang lemah. Dalam segala hal, baik materi maupun maknawi, Anda harus mendahulukan saudara Anda. Bahkan dalam segi penerimaan anugerah maknawi, bahkan juga untuk masuk surga. Seandainya pintu surga terbuka lebar, surga yang Anda begitu idam-idamkan dalam setiap untaian doa. Di satu sisi, mengharapkan surga adalah tujuan agung yang hampir setara dengan rida Allah. Seandainya pintu surga terbuka lebar, dan kita bertemu dengan saudara mukmin lainnya di sana. Jika masuknya ke aku melewati pintu itu menghalangi saudaraku untuk masuk… maka Anda sanggup ikhlas berkata: “Kamu saja yang masuk…!” Inilah yang diajarkan kepada kita.

Aku tak tahu dihadapanku ada kebakaran! Di dalamnya terdapat “anak-anakku”, yaitu iman & islam yang sedang terbakar. Ketika aku berlari untuk memadamkan kebakaran & menyelamatkan anakku. Tiba-tiba ada yang berusaha menghalangi saya. Memegang kakiku hingga aku terjatuh. Di hadapan peristiwa besar seperti kebakaran, apa pentingnya halangan kecil semacam itu? Kumohon apa pentingnya? Amat besar dakwah yang Anda pikul Demi Allah amat besar! Kalian akan mengatasinya! Dengan musuh pun kalian akan temukan jalan dan berdialog kepada mereka… Apalagi kepada teman dan sahabat Anda… Baik untuk urusan materi dan maknawi, Anda akan mendahulukan saudara Anda.