elly-johnson-0omE39JtUAQ-unsplash

Penderitaan dan Kesengsaraan

Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata,

“Kapankah datang pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat. (Q.S. al-Baqarah 2:214)

Apa itu Penderitaan dan Kesengsaraan?

Dalam tulisannya, Ustadz Fethullah Gulen menyebutkan bahwa penderitaan dan kesengsaraan adalah sarana yang penting untuk mencapai tujuan luhur dan memperoleh hasil yang maksimal. Seorang yang mencari kebenaran disucikan oleh penderitaan, dimurnikan olehnya dan dengannya dia dapat mencapai hakikat kebenaran. Seseorang tidak dapat mencapai kematangan dan pemahaman akan kalbunya, tanpa ada penderitaan.

Semua sebab dari peristiwa besar dan tujuan altruistik terbabar dalam bayang-bayang, serba kekurangan, penderitaan, dan kesengsaraan. Tidak ada hakikat kebenaran dan cita-cita yang mulia yang dapat dicapai tanpa menghadapi suatu kesulitan dan dilalui tanpa kekurangan.

Suatu Sebab Memerlukan Penderitaan dan Kesengsaraan

Pengabdian kepada Islam dan kesuksesan di jalan ini selalu terjadi dengan metode yang sama, dan begitu banyak jenis penderitaan dan kesengsaraan yang harus ditanggung. Teladan kehidupan yang penuh akan penderitaan dan kesengsaraan dalam pengabdian di jalan Tuhan dapat dilihat dalam kehidupan generasi awal masyarakat yang hidup berabad-abad yang lalu bersama Rasul mereka.

Misalnya, jika kata-kata atau cacian yang dilontarkan ke Nabi Nuh oleh umatnya, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Quran, dilontarkan kepada salah satu dari kita di pinggir jalan dan jika kita dihina dengan cara seperti ini, kejiwaan kita akan goyah oleh rasa sakit. Salah seorang dari lima Nabi termulia, pelayan Tuhan ini pergi dari pintu ke pintu setiap hari dan menyentuh gagang pintu rumah setiap umatnya seraya berkata, “Katakan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan jadilah yang terselamatkan”; Namun, balasan dari umat-umatnya terkadang adalah mengikat tali ke kakinya dan menyeretnya, kadang-kadang mengeroyok dan memukulinya, juga melemparkan tanah padanya dan bahkan melontarkan hinaan yang sangat kejam.

Jika kita mencermati kisah kehidupan Nabi Ibrahim as, terlihat betapa berat kesulitan yang Beliau alami. Beliau menghadapi penderitaan dan kesengsaraan terberat, seperti dilempar ke dalam kobaran api, diperintahkan membawa pergi jauh istrinya dan meninggalkannya disana, dan diperintahkan untuk menyembelih putranya.

Salah satu murid Nabi Isa as mengkhianati Beliau. Kemudian, umatnya sendiri dengan licik mengepung rumahnya dan berlomba-lomba untuk menyalib Sang Nabi.

Ringkasnya, semua Nabi mengalami penderitaan. Jalan seperti inilah merupakan jalan yang mereka lalui. Oleh sebab itu, Yunus Emre (w. 1321 M) berkata:

“Jalan ini panjang; rintangannya banyak. Tidak ada jalan masuk, hanya perairan yang dalam.”

Saat kita meninjau dari perhatian yang seperti ini, mereka yang bertugas di jalan Tuhan harus disiapkan untuk semua jenis kesukaran dan kesulitan, penderitaan dan kesengsaraan. Mereka yang beriman sebaiknya bisa menerima bahwa sejak awal mungkin akan ada malapetaka mengintai mereka dalam tugas untuk menjelaskan Tuhan dan kebenaran kepada setiap hati yang membutuhkan, dan mereka harus mengetahui dengan baik dan menerima bahwa mereka harus menanggung seperti ini.

sangga-rima-roman-selia-FLtz7WMP6XE-unsplash

Jadwal Imsakiyah Ramdhan 1442H

Pembaca mengembangkandiri.com, demi membantu dan memperlancar ibadah berpuasa pada Bulan Ramadhan tahun ini, berikut kami sediakan jadwal imsakiyah yang dilansir dari website suaramuhammadiyah.id untuk beberapa wilayah yang ada di Indonesia. Semoga bermanfaat, terus baca artikel setiap hari!

Banda Aceh – [embeddoc url=”https://mengembangkandiri.com/wp-content/uploads/2021/04/Banda-Aceh.pdf” download=”all” text=”Unduh”]

Medan – [embeddoc url=”https://mengembangkandiri.com/wp-content/uploads/2021/04/Medan.pdf” download=”all” text=”Unduh”]

Pekanbaru – [embeddoc url=”https://mengembangkandiri.com/wp-content/uploads/2021/04/Pekanbaru.pdf” download=”all” text=”Unduh”]

DKI Jakarta – [embeddoc url=”https://mengembangkandiri.com/wp-content/uploads/2021/04/Artboard-1.pdf” download=”all” text=”Unduh”]

Bandung – [embeddoc url=”https://mengembangkandiri.com/wp-content/uploads/2021/04/Bandung.pdf” download=”all” text=”Unduh”]

Semarang – [embeddoc url=”https://mengembangkandiri.com/wp-content/uploads/2021/04/Semarang.pdf” download=”all” text=”Unduh”]

Yogyakarta – [embeddoc url=”https://mengembangkandiri.com/wp-content/uploads/2021/04/Yogyakarta.pdf” download=”all” text=”Unduh”]

Surabaya – [embeddoc url=”https://mengembangkandiri.com/wp-content/uploads/2021/04/Surabaya.pdf” download=”all” text=”Unduh”]

Malang – [embeddoc url=”https://mengembangkandiri.com/wp-content/uploads/2021/04/Malang.pdf” download=”all” text=”Unduh”]

Banjarmasin – [embeddoc url=”https://mengembangkandiri.com/wp-content/uploads/2021/04/Banjarmasin.pdf” download=”all” text=”Unduh”]

photo-1585517342886-1f076085742a

Tauhid 7 – Profil Seorang Mukmin dan Bahasa Sikap

Al-Qur’an Mu’jizul Bayan, memiliki narasi dan ekspresi gaya muslim sendiri. Ia menyebut mukmin dengan beberapa kualitas mereka, beberapa sisi keunggulan mereka, dan memperkenalkan gaya mukmin kepada kita. Ia menunjukkan gaya ini kepada orang-orang sebagai panduan dan pengajaran, sebagai contoh, juga sebagai pemimpin yang membimbing jemaah menuju kebenaran. Dalam hal ini, kita dan para pendahulu kita sebagai muslim, pendahulu dan pentabligh kita yakni Rasulullah SAW, memiliki dua macam cara dalam membimbing orang-orang menuju kebenaran. Pertama, kita belajar dan menceritakan masalah yang harus kita sampaikan dengan cara yang terbaik. Dalam hal ini, kita dapat menghadapi semua tantangan. Kita mengarungi lautan darah dan nanah, terbang di atas ladang yang berduri, kita berhadapan dengan kesulitan yang tak terkira. Kita berdakwah karena kita percaya kepada Allah yang membuat kita merasakan kehadiran diri-Nya dalam setiap peristiwa. Kita menggunakan lisan kita, menggunakan kepala kita, menggunakan perasaan kita dan mencoba untuk menyampaikan dakwah. Cara penyampaian yang paling hidup, paling efisien, dan paling efektif adalah bahasa sikap. Menjelaskan Allah dengan bahasa sikap, menjelaskan dan menafsirkan al-Qur’an dengan bahasa sikap dan menjadi cermin Nabi Muhammad SAW dengan bahasa sikap.

Al-Qur’an menerangkan pentingnya bahasa sikap. Selama ini jemaah al-Qur’an telah dibagi menjadi dua bagian: “Mereka yang pandai bersikap dan pandai berbicara”. Mereka yang pandai berbicara bisa berceramah dengan baik dan mengedepankan gagasan dan pernyataan yang tinggi. Tetapi mereka yang pandai bersikap selalu tampil cerah, menonjol dan membelakangi orang-orang yang pandai berbicara. Siapapun yang jujur, siapapun yang tulus, siapapun yang mengarahkan dirinya kepada Allah dengan segenap perasaannya, Allah yang Maha Kuasa telah menyerahkan semua hati kepadanya. Untuk itulah, misi yang menyulut kehebatan al-Qur’an Mu’jizul Bayan dan meningkatkan keyakinan di dalam hati adalah milik mereka yang pandai bersikap, bukan yang pandai berbicara.

Ketika al-Qur’an mengatakan: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal” (al-Anfal: 2). Ia menggambarkan ciri-ciri orang yang beriman. Dan ketika Al-Quran mengatakan: “(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui” (As-Saff-11). Ia menggambarkan ciri-ciri orang yang beriman. Dan ketika Al-Quran mengatakan: “Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan” (Al Furqan-63). Ia menggambarkan ciri-ciri orang yang beriman. Ia menempatkan gaya teladan di depan orang-orang. Ia menekankan di keimanan kepada Allah SWT yang menarik orang dan menjelaskan aspek mukmin ini. Mereka yang mengganggu, mereka yang berpikir bahwa mereka dapat melakukan sesuatu dengan perkataan saja, mereka yang tidak memiliki keimanan kepada Allah akan menyendiri dan tidak akan ada orang di sekitar mereka padahal mereka mengedepankan ide-ide cemerlang. Bahkan mereka tidak akan mampu memiliki jama’ah walaupun hanya semobil angkot.

Rasulullah SAW adalah pribadi yang berharga dan unik, yang bersandar pada Allah, yang memadukan perilaku dan perkataan. Dia telah menyatukan perilaku dengan perkataan. Orang-orang di sekitarnya menggambarkannya sebagai “ketika ia menjelaskan dan memberitahu kami sesuai dengan kehebatannya, bahkan air yang mengalir akan berhenti, air yang mengalir akan berhenti saat dia berbicara. Tetapi perilaku rasulullah lebih jelas, lebih berpengaruh, dan lebih manis daripada kata-katanya. Di sini saya akan mencoba menyampaikannya dengan contoh kecil, sebagai berikut.

Ketika beliau SAW memuliakan Madinah dengan kehadirannya, banyak orang berlarian untuk menemuinya. Semua orang berlari untuk melihat siapa pria yang mampu menyeret orang-orang di belakangnya, yang membuat mereka meninggalkan anak-anaknya, wanita menjadi janda, anak-anak yatim. Siapa lelaki yang mampu membuat orang-orang di sekitarnya melupakan diri mereka sendiri. Semua orang bergegas untuk melihatnya gunung batu berlari melihatnya, mereka harus lari, mereka pun berlari. Seandainya bisa, kita juga berlari untuk menemuinya. Anak-anak menyambutnya di bukit dengan tepuk tangan, mereka berseru: “Wahai bulan purnama yang terbit kepada kita, dari lembah Wada’” sedang menabuh genderang dan rebana, menyanyikan lagu dan melantunkan sanjungan sambil menyambutnya hanya karena penguasa zamannya telah datang. Di Madinah saat itu ada banyak orang yang telah mendalami ilmu pengetahuan, mengembangkan dunia ide mereka sendiri. Ada orang-orang yang mengetahui Taurat, mengetahui dunia, di Madinah saat itu juga ada yang mengetahui nabi-nabi. Di antara mereka adalah Abdullah bin Salam, yang dihitung oleh sebagian ulama sebagai seorang dari sepuluh sahabat dengan kabar gembira surga. Ia bercerita, “Saya sedang berada di kebun anggur saya, saya melihat bahwa para sahabat yang berlari untuk menyambutnya sedang berbicara satu sama lain. Saya melihat suku Aus dan Hazraj berlarian di Madinah dalam kegembiraan yang luar biasa ketika menuju Aqabah. Saya menanyakan alasannya, mereka menjawab: “Nabi datang ke Madinah.” Saya juga memutuskan pergi untuk melihatnya. Menurut riwayat Bukhari dan Muslim, Abdullah bin Salam mangajukan 3 pertanyaan kepada Rasulullah. Tetapi pertanyaan-pertanyaan ini hanya seorang Nabi lah yang mengetahui jawabannya. Karena Rasulullah menjawab mereka semua jadi ia beriman dengan megatakan La ilaha illahlah. Dalail menggambarkan kepada kita bahwa Rasulullah SAW sedang duduk di masjid, Abdullah bin Salam masuk. Dia melihat wajah terpancar dan bercahaya Nabi, memperhatikan pidatonya, suasana hatinya, sikap dan perilakunya. Dia mengamati Nabi yang dalam setiap perilakunya dapat dirasakan kristal-kristal iman kepada Allah. Kemudian dia datang ke hadapannya, berlutut dan berkata: “Demi Allah, aku bersumpah, tidak ada kebohongan di wajah ini ini pastilah Nabi”  لَا إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّٰهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ ٱللَّٰهِ.

Seorang ulama yahudi, orang yang sadar, dia akrab dengan kebenaran. Dia adalah seorang yang mengenal nabi dan dia pembaca al-kitab. Bahkan jika tidak ada bukti yang lain satu perilaku Rasulullah cukup menjadi sebab untuk seorang beriman dan cukup untuk membuktikan keberadaan Allah SWT. Izinkan saya menyampaikan tentang Zayd bin Sun’a. Ada banyak suku yang percaya kepada Rasulullah SAW tetapi mereka tidak dapat menemukan jalan untuk datang ke hadapannya dan tidak bisa melihat wajanya yang seperti bunga mawar, duduk di hadapannya, dan tidak bisa mengambil faedah darinya. Mereka berada di tempat yang sangat terpencil. Zayd bin Sun’a menyampaikan kepada kita: Pada suatu hari, waktu itu saya belum menjadi muslim, saya sedang menyelidiki.” “Seorang yang sangat sedih, seolah seluruh dunianya hancur. Ia mendekati Rasulullah dan berkata: “Wahai Rasulullah, setelah saya memiliki keyakinan kepada Allah, saya pergi ke suku saya yang sangat membutuhkan dakwah, saya berkata, berimanlah kepada Allah, Dia akan memberimu rezeki.” Saya berkata, berimanlah kepada Allah, Dia akan memberimu kebahagiaan. “Wallahi, wahai Rasulullah, mereka semua telah beriman kepada Allah tetapi mereka masih dalam kesulitan. Saya takut, hatiku tidak tenang, saya khawatir mereka akan keluar kembali dari agama, mereka akan kehilangan Anda. Wahai Rasulullah, bisakah Anda membantu kami secara finansial dan menyelamatkan mereka dari masalah?” Rasulullah berpikir dalam, apakah dia punya sesuatu di rumahnya sendiri. Tidak ada apapun di rumahnya, tidak ada sesuatu pun yang bisa mengenyangkan perut dan membahagiakan mereka walaupun untuk sementara itu saja. Dia sangat sedih dan patah hati. Saat aku pergi aku mendekatinya dan berkata: “Wahai Muhammad,” dia memanggil Nabi dengan namanya karena dia belum menjadi muslim. “Wahai Muhammad, jika Anda mau, saya akan memberikan Anda uang dan kurma sebagai ganti uang dan kurma yang akan Anda peroleh dan panen di masa depan. Sekarang saya akan memberikan kepada Anda dan Anda akan membayar kembali ke saya di masa depan.” Rasulullah pun menyetujui ketentuan dan syarat kesepakatan dengan mengikuti akad Salam. Beberapa hari telah berlalu, jangka waktu kesepakatan belum jatuh tempo. Kurma di pohon belum cukup matang untuk dipanen. Belum ada apapun yang bisa diperoleh Rasul yang akan pergi dan ambil, tetapi saya pergi. Rasulullah duduk di suatu tempat bersama Abu Bakar dan Umar, seperti biasa saya mendekatinya. Keluarga Abu Thalib adalah keluarga yang sangat terhormat. Mereka menepati kata-kata mereka “Anda membeli kurma dari saya, Anda sama sekali tidak mengeluarkan suara, apakah Anda ingin memakan hak saya? Kapan kamu akan membayarnya kembali?” tanya saya. Utusan Allah, SAW berpaling pada saya, melihat wajah saya dan tersenyum. Dia memberi isyarat kepada Umar dan berkata kepadanya: “Bawa dia dan berikan apa yang dia inginkan dan berikan kepadanya sedikit lebih banyak apa yang dia inginkan!” Umar meraih tangan saya dan membawa saya ke suatu tempat mengembalikan kurma saya dan memberikan sedikit lebih banyak dari apa yang telah saya berikan sebelumnya. Rasulullah SAW tersenyum. “Mengapa Anda memberikan kelebihan ini?”, kata saya. “Rasulullah memerintahkan begitu”, kata Umar radhiyallahu ‘anhu. “Wahai Umar, apakah Anda mengenali saya? Saya seorang Kristen atau pemuka Yahudi Zayd bin Sun’a,” kata saya. “Ya, saya kenal Dan mengapa Anda bersikap tidak hormat kepada Rasulullah? Mengapa Anda bersikap sombong?”. Kemudian ia melanjutkan, “Demi Allah, saya telah membaca kitab-kitab para nabi terdahulu, dan saya telah melihat semua ciri-ciri nabi akhir zaman ada pada dirinya. Kecuali satu hal, kelembutannya akan mengalahkan amarahnya, dia tidak akan marah atas nama dirinya walaupun dunia akan hancur atas kepalanya dia tidak akan marah atas nama dirinya. Saya berperilaku seperti itu karena saya ingin mengetahuinya.Terlepas dari semua kesombongan saya, dia tersenyum dan berkata, “beri dia sedikit lagi,” katanya. Jelaslah ini, dengan kelembutannya, kesabaran yang mengatasi amarahnya inilah yang telah dijelaskan dalam kitab-kitab itu. Kemudian Zayd bin Sun’a datang ke hadapan Rasulullah SAW dan berucap لَا إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّٰهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ ٱللَّٰه.

Ini adalah pelajaran tentang bahasa sikap, penyampaian dengan teladan. Ada banyak orang telah belajar banyak hal, membuat dialektika, mempelajari masalah dengan tujuan membungkam lawan bicara mereka. Dan mereka tidak bisa membuat diri mereka disukai oleh orang non muslim, bahkan orang mukmin saja tidak bisa. Ada orang yang berhati sempit, hatinya tidak berkembang, belum mendapatkan “alam nasyrah laka” (al-Insyirah). Yang hatinya tertutup kepada cahaya langit dan cahaya wahyu bahwa mereka mencoba berdebat dengan diri mereka sendiri ketika mereka tidak dapat menemukan orang lain. Betapa banyak orang yang memiliki pengetahuan, tetapi karena cemoohnya, sikap keras dan kasarnya menjadi penghalang terlihat indahnya kemusliman dan keislaman itu sendiri.

Bahasa yang paling berpengaruh adalah bahasa sikap sekalipun hanya diam bahasa yang paling berpengaruh adalah hati. Bahasa yang paling berpengaruh adalah luapan air mata. Bahasa yang paling berpengaruh adalah adanya kepala yang mengerang yang merenung di bawah kegelapan malam.

Saat Anda mendapatkan dan menerapkannya dengan benar, komunitas bangsa lain, negara-negara di dunia akan menerima Islam dalam gerombolan-gerombolan. Meskipun banyak orang yang pendiam menyeret massa, orang-orang seperti saya yang berbicara dengan sastra berkhutbah, tidak bisa mendakwahi seorang pun tentang Allah bahkan mereka tidak mampu memiliki jemaah walaupun hanya semobil angkot.

corina-ardeleanu-sWlxCweDzzs-unsplash

Kesabaran

Kesabaran adalah kemampuan seseorang untuk mentolerir setiap jenis masalah dan kesulitan, dan mampu menanggung situasi yang tidak menyenangkan tanpa terganggu. Orang yang mengalami musibah atau malapetaka dan mampu menanti hasil tanpa mengeluh dan mampu mengatasi hambatan yang muncul di hadapan mereka untuk mencapai hasil.

Manusia dikirim ke dunia ini sebagai ujian. selama masa ujian, kemampuan seseorang berkembang dan akibatnya, dia akan menjadi layak untuk mendapatkan Ridho Allah dan melihat keindahan suci dan tak terbatas. Sebagai suatu ujian di jalan ini, melampaui masalah dan kesulitan hanya dapat dilakukan dengan kesabaran. Kesabaran adalah sifat baik yang akan membawa orang beriman ke cakrawala kebersamaan dengan Tuhan dan akan memungkinkannya untuk mendapatkan kabar baik dari Tuhan. Keberadaan kesetiaan orang beriman kepada Tuhan terkait dengan kesabaran. Kesetiaan tidak bisa dicapai tanpa ada kesabaran.

Tuhan memberi tahu kita bahwa Dia pasti akan menguji hamba-hamba-Nya yang beriman untuk mengetahui mereka yang sabar dan yang tidak. Dia memberi kabar baik kepada orang-orang yang sabar, memberi tahu kami bahwa penerimaan dan ridho-Nya bersama dengan mereka yang memiliki kesabaran, dan Dia menyatakan bahwa Dia akan memberikan pahala yang tidak terbatas kepada hamba yang sabar.

Bersabar adalah menerima dengan senang hati segala kehendak Tuhan yang maha bijaksana serta maha pengasih di alam semesta yang merupakan milik-Nya. Ketidaksabaran adalah penolakan dan pemberontakan. Penting untuk menunjukkan kesabaran dengan kesulitan yang Tuhan kirimkan sebagai cobaan.

Kesabaran membutuhkan penyerahan diri kepada Tuhan, resolusi, kekuatan kemauan dan tekad yang kuat. Kesabaran terletak pada fondasi dari setiap jenis kesuksesan material dan spiritual. Untuk alasan ini, kesabaran adalah kunci dari setiap jenis keselamatan.

Jenis Kesabaran

Bediuzzaman Said Nursi membagi kesabaran menjadi tiga jenis:

  1. Kesabaran melawan dosa: Seorang beriman menunjukkan kesabaran untuk melawan daya tarik provokatif dari setiap jenis dosa dan berusaha untuk tidak melakukan dosa.
  2. Sabar melawan malapetaka: Jenis kesabaran ini dibuat sebelum berbagai malapetaka materi dan spiritual dan bencana yang ditemuinya dalam kehidupan duniawi.
  3. Sabar dalam beribadah: Ibadah memberi beban yang nyata pada seseorang seperti shalat lima waktu setiap hari, berwudhu, dan berpuasa. Seorang mukmin juga harus menunjukkan kesabaran terhadap ini dan mendapatkan surga.

Fethullah Gulen menambahkan jenis kesabaran lain pada tiga kategori ini yaitu kesabaran terhadap keindahan dunia yang menarik ini. Ini adalah masalah yang sangat penting terutama bagi umat Islam saat ini. Standar hidup mereka telah meningkat pesat, dan rumah, mobil, rumah musim panas, retret musim dingin, dll. Sayangnya hal ini menjauhkan beberapa orang dari perasaan memikiran tentang kehidupan lain. Ini ditunjukkan dalam ayat ini, “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)” (Al Imran 3:14). Ungkapan “Dijadikan indah pada (pandangan)” menekankan bahwa tidak mungkin orang tidak terpesona oleh hal-hal indah ini. Mengatasi hal ini dapat dilakukan dengan keyakinan dan kesabaran yang sangat kuat sehingga membuat keyakinan terus menerus dikerjakan.

Sabar terhadap kemarahan zaman, kesabaran dalam bentuk ketidakpedulian terhadap perbedaan spiritual. Nyatanya, kesabaran untuk memaksa diri tetap berada di dunia penderitaan ini sekalipun pintu surga telah dibuka lebar-lebar demi pelayanan di jalan Tuhan adalah jenis lain dari kesabaran.

Ada konsep dalam literatur kami yang dikenal dengan “kesabaran aktif”. Mari kita pikirkan seekor ayam betina yang bertelur. Melihat ayam betina dalam keadaan ini, kita berkata, “Hewan ini berbaring malas di atas telurnya.” Namun, selama tiga minggu ia mengalami rasa sakit dan penderitaan yang luar biasa. Ayam betina berhati-hati dalam menjaga telur pada suhu tertentu; sementara dia membaliknya, ayam betina menunjukkan usaha maksimal untuk tidak menyakiti atau menghancurkannya. Jadi, dengan sikap yang sangat sensitif, hati-hati dan aktif ini, ayam ini menunjukkan contoh kesabaran yang aktif.

Contoh lain misalkan untuk membuat makan malam, seorang ibu menyiapkan sayuran, daging, minyak, bawang, rempah-rempah … apa pun yang ada, meletakkannya di atas kompor dan mulai menunggu makanannya matang. Kesabaran aktif adalah melanjutkan keinginannya setelah makanan diletakkan di atas kompor dengan berdoa agar tujuannya didapat saat dia menunggu.

Dalam contoh yang berbeda, dua orang berbicara, setuju dan menikah. Masa menunggu buah hati adalah masa aktif sabar. Pasangan itu tidak bisa berbuat banyak, tetapi mereka berdoa agar bayinya selamat dan sehat.

Singkatnya, seseorang menyajikan makanan yang sudah dimasak, memulai makan dengan bismillah, menyusui bayi yang baru lahir, merawatnya. Ini semua membutuhkan persiapan. Pada titik ini, individu bertanggung jawab untuk melanjutkan tugasnya dengan tekad dan kesabaran, dan dengan memeluk doa dan mengenakan pakaian kesalehan, untuk berdiri kokoh di tempatnya. Mungkin beberapa peristiwa akan terjadi, badai akan mengamuk dan gelombang akan naik. Namun, seorang mukmin akan berdiri kokoh bagaikan bintang kutub dan secara aktif menunggu badai berlalu.

Terjemahan: Wildan Abi

ijaz-rafi-zrlMJyijims-unsplash

Mengapa Kita Malu

Seorang ibu mengaku amat resah saat menyadari anak laki-lakinya yang telah beranjak SMA belum juga memiliki seorang pacar. Lalu sang ibu sibuk mengajari anak tersebut bagaimana agar segera bisa memiliki kekasih hati. Belum cukup dengan hal itu ibu dan ayah dari anak ini bahkan memberikan ‘iming-iming’ tambahan uang saku dan fasilitas kendaraan bila si buah hati berhasil mendapat pacar. Keadaan ini semakin diperparah dengan banyaknya film dan tayangan televisi yang mengarahkan generasi muda untuk mengikuti pola hidup hedonis. Maka tak heran jika beberapa waktu lalu dunia pendidikan Indonesia dihebohkan dengan adanya pesta tidak senonoh yang diadakan sebelum dan sesudah UN dalam rangka pelepas kegembiraan para remaja tersebut. Lebih miris lagi saat perayaan hari kasih sayang atau valentine day lalu, beberapa anak usia SD mengirimkan tweet atau status FB yang mengumbar status bernada mesra pada ‘teman khususnya’ dengan bahasa yang masih belum pantas mereka gunakan.

Jika ditelusuri lebih jauh kita dapat melihat mata rantai yang hilang dari pendidikan agama anak-anak dan generasi muda saat ini, dan mungkin sudah sejak lama, yaitu rasa malu atau haya yang terlupa untuk diajarkan bahkan seringkali disalah artikan. Benar adanya bahwa betapa beruntungnya anak-anak di Indonesia yang bisa belajar mengaji dan shalat sejak usia mereka amat dini, sementara mungkin di belahan bumi yang lain ‘nikmat’ ini sulit untuk didapat. Namun sayangnya pelajaran agama yang didapatkan anak dari sejak mereka kecil tidak dibarengi dengan pemahaman moral dan iman yang benar-benar terpatri di hatinya, dan sesungguhnya salah satu cabang dari iman adalah malu. (HR.Muslim, al-Iman 57,58)

Konteks malu ini sendiri seringkali salah dipersepsikan oleh masyarakat. Seringkali masyarakat kita mengartikan malu sebagai perasaan tidak enak hati karena berbuat sesuatu yang tidak baik atau karena memiliki kekurangan. Sehingga sejak kecil anak-anak telah diajarkan untuk ‘berani tampil’ dan tidak merasa malu. Padahal malu yang dalam bahasa Arab disebut al-haya, al-khajal atau al-hisymah diartikan sebagai menjauhi segala yang tidak diridhai Allah karena takut dan segan kepada-Nya. Ketika sikap ini berpadu dengan perasaan malu yang telah ada secara naluriah di dalam watak manusia, maka hal tersebut akan membentuk orang tersebut memiliki hubungan erat dan jalinan kuat yang sesuai dengan nilai-nilai adab dan kehormatan. Sementara menurut Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, haya adalah sebuah tabiat yang mendorong seseorang meninggalkan perbuatan dan mencegahnya dari meremehkan kebaikan.

Betapa kontras kedua pemaknaan malu ini sehingga para orang tua yang belum memahami esensi dan pentingnya rasa malu justru mendorong anak-anaknya dari sejak balita untuk justru mengurangi bahkan menghilangkan rasa malu yang sesungguhnya adalah fitrah manusia. Jika dalam sabdanya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam: “Malu hanya akan mendatangkan kebaikan” (HR.Bukhari, Adab: 77). Maka bisa kita bayangkan keburukan apa yang akan menimpa sebuah generasi yang terus ditekankan untuk tidak malu. Padahal perasaan yang pertama pada seorang manusia adalah haya atau rasa malu. Begitu pentingnya rasa malu ini hingga dalam hadis yang lain beliau mengingatkan kita : “Jika kau tidak merasa malu, maka berbuatlah sesukamu.” (HR.Bukhari, Adab:78). Maka amatlah jelas terlihat bahwa perilaku sesuka hati yang terus menggejala semakin parah akhir-akhir ini adalah karena manusia seringkali telah amat kehilangan fitrahnya dalam menjaga malu yang sesungguhnya adalah akhlak seorang mukmin sejati.

Banyak perilaku sehari-hari yang sering kita anggap sepele namun perlahan-lahan telah mengikis fitrah malu yang ada pada diri kita. Dengan gampang kita memuji wanita lain di depan suami atau sebaliknya bangga saat ketampanan suami dikagumi oleh wanita lain adalah pintu malu yang seringkali lupa kita tutup. Bahkan maraknya media sosial berbasis internet telah membuat kita menjadi-jadi dalam sikap tanpa malu massal. Di masa ini orang dapat tahu pasti apa yang kita lakukan dengan suami, kemana kita pergi dengannya dan kegiatan pribadi lain yang seharusnya menjadi batas privasi kita dan keluarga lalu justru menjadi konsumsi publik hanya dengan melihat status dan foto yang kita unggah di internet. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam berkata : “Janganlah seorang wanita memandang dan mengagumi wanita lain, lalu ia menceritakan sifat-sifatnya kepada suaminya seakan-akan suaminya sedang memandangnya.” (HR.Bukhari dan Muslim)

photo-1573887128210-844f9b4018ee

Tauhid 6 – Tanggung Jawab untuk Menjelaskan Iman dalam Kondisi Apapun

Atas nama kebenaran, seseorang juga akan menyampaikan apa yang telah diketahui dan diperolehnya kepada orang lain. Dan mencoba memastikan bahwa mereka juga mendapat faedah sebagaimna ia mendapatkannya. Beginilah seharusnya sifat kemanusian. Kata Insan (manusia) berasal dari kata “uns” yang berarti makhluk yang mampu bergaul dengan baik dengan orang lain, berdamai dengan mereka, berkemanusian, memelihara cinta dan kasih sayang, dan makhluk yang bersosial. Insan, melihat alam semesta dalam perspektif persaudaraan. Mereka memandang satu sama lain seperti anak-anak yang tumbuh dirawat di bawah perlindungan orang tua di rumah. Jika seseorang memahami makna kemanusiaan, dia tidak hanya berhubungan dengan manusia lain, tetapi dia juga menjalin hubungan dengan hewan, pohon, hingga rumput, gunung, batu, semuanya dilihat dalam pandangan penciptaan makhluk Allah SWT. “Tuhanku Pencipta gunung-gunung, sungai-sungai, pohon-pohon, rerumputan, dedaunan, makanan, buah-buahan, makhluk-makkhluk yang tidur nyenyak dan orang-orang yang bekerjasama denganku untuk memahami makna alam semesta, Pencipta manusia”. Jika seseorang melihat alam semesta atas nama Allah, maka dia akan memiliki relevansi seperti ini.

Sementara kufur, karena memutuskan hubungan dengan Allah, ia ibarat menabur benih asing di antara makhluk lainnya, mengubahnya menjadi musuh satu sama lain. Suatu pohon, yang terikat dengan kuat pada akarnya, dahan dengan daunnya, buah dengan tangkainya, beginilah perumpamaan manusia yang seharusnya bisa membangun ikatan kasih sayang. Tetapi jika akarnya dipotong dari tempat ia bertahan, jika Allah dikeluarkan dari hati mereka, jika hati membangkang kepada Allah, maka tidak akan ada cinta dan kasih sayang di antara sesama manusia. Bom-bom akan meledak, orang-orang akan saling membunuh, yang kuat akan menindas yang lemah, tangisan dan rintihan orang-orang lemah akan menjadi melodi dan kesenangan bagi mereka.

Karena alasan inilah, seorang muslim harus menjadi pelayan (pendakwah) setelah dia mempelajarinya dari Allah dan Nabi SAW. Lalu mencoba menyebarkan pemahaman tentang persaudaraan ini di muka bumi.

Dan alasan inilah para nabi dan sahabat mereka paling menderita dalam masalah ini. Lingkaran cahaya yang berkembang di sekitar Rasulullah SAW, menelan semua kezaliman dan semua kegelapan. Nabi Muhammad SAW telah mencapai posisi itu hingga 3/4 dunia mengatakan apa yang dia katakan dan bergabung dengannya, mereka membaiatnya dan tunduk padanya. Allah telah menganugerahi mereka hari-hari yang diberkati itu. Kami memohon darinya hal yang sama. Ini semua tergantung bagaimana kita berusaha untuk mendapatkannya.

Untuk tujuan ini, Rasulullah SAW telah mengirim muridnya yang mulia yaitu Mus’ab ke Madinah.  Mus’ab berasal dari salah satu anggota keluarga ternama di kota Mekah. Bahkan dia biasanya memakan makanannya sendiri dan tidak suka duduk di meja yang sama dengan orang lain. Allah telah memperkenalkan dia kepada Rasulullah SAW pada usia 17-18 tahun, yaitu di puncak hidupnya. Tiba-tiba, hatinya menjadi luluh. Mus’ab yang kasar, keras, dan yang tidak bersosial dengan orang lain tiba-tiba berubah menjadi seperti malaikat. Setelah dia mulai mengikuti majelis Rasulullah dia terus maju. Tidak ada lagi Mus’ab yang dilihat orang dari balik tirai. Tidak ada lagi wanita yang melambaikan serbet mereka, dan tidak ada lagi Mus’ab yang bangga dan bisa membeli setengah dari Mekah dengan hartanya. Berbalut mentel kambing ia berdiri diam dan ia mendengar dengan khusyu pada Rasulullah yang sedang berbicara tentang alam semesta. Dia mendengarkan Rasulullah, yang merupakan burung Bulbul alam semesta.  Utusan Allah yang membelah bulan dengan mengangkat jarinya, dengan jari tersebut menunjuk ke arahnya dan berkata “lihat ini”! Saat Mus’ab berkeliling di jalan-jalan Mekah, jendela-jendela terbuka dan semua orang akan melihatnya. Dia bisa membeli setengah dari Mekah dengan hartanya. Ketika dia berumur 18 tahun yang merupakan periode paling matang, dia telah menyerahkan dirinya kepada Allah dan menerima Islam.

Mayoritas orang yang menempuh jalan kebenaran mempunyai usia yang hampir sama. Mus’ab pergi ke Madinah dan ia membimbing orang-orang menuju kepada kebenaran. Mereka tidak lama melihat keadaan Mus’ab yang seperti ini. Di Perang Uhud, dia melakukan tugas terakhirnya dan pergi ke hadapan Allah. Mungkin dia belum berusia 25 tahun, dia telah syahid dan menghadap Allah SWT. “Pedang berputar di kepalaku, pisau diasah dengan kebencian.” “Tetapi aku dengan satu pengawas berdakwah tentang Allah yang aku imani di Madinah.” “Saya mencoba untuk menceritakan tentang Allah, yang tanpa-Nya hati manusia menjadi hancur berkeping.” “Saya mencoba untuk menceritakan Allah yang dengannya kedamaian dan ketenangan dapat dicapai.

As’ad ibn Zurarah adalah salah satu dari mereka yang menanggung banyak penderitaan dan tidak sempat melihat kejayaan islam. Dia tidak sempat melihat perang badar ataupun Uhud. Ketika Rasulullah hijrah ke Madinah, dia sudah lebih dulu hijrah kepada Allah SWT. Tapi dia telah melindungi Mus’ab, saat itu ia hampir menjulurkan kepalanya sebagai perisai ke arah pedang yang dihunus kepada Mus’ab, karena Mus’ab saat itu sedang menjelaskan tentang Allah dan Rasulullah. Madinah tiba-tiba tergoncang, di setiap jalan kota Madinah semua orang dari yang besar hingga anak kecil mengatakan Allah, dan mengatakan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Jalan yang gelap itu, bahkan jika anda pergi hari ini akan terlihat terang benderang di malam hari. Mereka telah diterangi dengan cahaya Muhammad SAW. Bahkan jika tidak ada fajar atau bulan di malam hari, cakrawala kota Madinah berkilauan. Seolah-olah semua bintang dunia sedang melihat ke sana. Mereka mencari di sana, karena bintang dari semua bintang SAW ada di sana. Semua orang datang ke Mus’ab dengan kemarahan. Mereka yang menceritakan kebenaran, mereka yang melindungi kebenaran harus memperhatikan dengan cermat penjelasan ini. Mereka perlu menyadari tanggung jawab untuk berdakwah, dan menceritakan tentang Allah dalam kondisi apapun.

Usaid bin Hudhair, pemuda terhormat suku Esyhel, segera menghunus pedangnya di hadapan Mus’ab; “Aku tidak bisa membiarkanmu menyebarkan perpecahan di dalam kaumku, aku akan tusuk kamu dengan tombakku ini.” Pelindung menceritakan tentang perilaku Mus’ab pada kondisi itu: “Duduklah disampingku, dengarkan kata-kata yang akan kuucapkan! Jika anda tidak setuju dengan apa yang kukatakan, silakan lakukan apa yang anda inginkan. Tetapi jika saya benar, tidak ada maknanya untuk berdebat di sini dengan sia-sia.” Mus’ab telah mendudukkannya dengan manis di sampingnya. As’ad ibn Zurarah menyampaikan kepada kami: “Wallahi, ia memulai membaca: “Haa Mim. Demi Kitab (Al-Qur’an) yang jelas. Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang diberkahi, sungguh, Kamilah yang memberi peringatan.” (Ad-Dukhan – 44). Saat Mus’ab terus membaca ayat-ayat tersebut, wajah Usayd bin Hudhair mulai berubah. Orang yang datang ke sana dengan sikap kasar, liar bak hewan tiba-tiba berubah menjadi malaikat. Wajahnya dan sikapnya tiba-tiba berubah menjadi malaikat. Di wajahnya sudah mulai terpancar cahaya Rasulullah. Setelah ia mendengarkan Al-Qur’an dan penjelasan Mus’ab, ia bertanya: “Apa yang kamu ingin aku katakan?” Allah menginginkan dari semua orang untuk mengucapkan kalimat ini:

لَا إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّٰهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ ٱللَّٰهِ

Penawar hati yang hancur, obat hati bagi yang jauh dari pada keyakinan kepada Allah SWT. Begitu dia bangun, Usayd memutuskan untuk pergi menemui putra pamannya Sa’ad bin Mu’adz. “Demi Allah, jika saja Sa’ad bin Mu’adz datang, -ia yang akan menjadi pahlawan dalam pertempuran Perang Khandaq, Uhud dan Badar,- jika saja Sa’ad bin Mu’adz datang ia yang akan menyelesaikan permasalahan orang Anshar dan Esyhel.” Dan benar, Sa’ad bin Mu’adz juga datang dengan pedangnya. Dia juga mengancam Mus’ab, entah sudah berapa kali dia menghujamkan pedangnya ke kepala Mus’ab. Tetapi Mus’ab yang manis, Mus’ab yang terkasih, Mus’ab yang ahli di surga menjawabnya: “Duduk dan dengarkanlah terlebih dahulu, setelah itu silakan katakan apapun yang kamu mau!

Wahai semua yang menceritakan tentang hakikat kebenaran, dengarkanlah dengan baik! Mereka semua perlu menyadari pentingnya menjalankan dakwah dalam kondisi apapun. Saya sendiri juga akan mendengarkan. Duduklah, saudaraku! Saudaraku yang terluka! Saudaraku, yang hatinya telah terkoyak! Saudaraku yang tidak percaya pada Allah! Saudaraku yang gelisah! Duduk dan biarkan aku menjelaskannya. Jika kamu tidak menerimanya silakan setelah itu lakukan apapun yang kamu mau!” Mus’ab membacakan ayat-ayat dari Al-Qur’an kepadanya. Hatinya mulai luluh. Sa’ad bin Mu’adz, ia hampir saja mencium tangan dan kaki Mus’ab. Beberapa saat kemudian, cahaya Al-Qur’an dan iman juga mulai muncul di wajahnya. Dia juga berkata dengan sepenuh hati bahwa لَا إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّٰهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ ٱللَّٰهTiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Utusan Allah.”

Dalam seminggu Mus’ab berhasil meyakinkan suku Esyhel. Sebuah kelompok bernama Anshar telah muncul. Mereka menyambut Rasulullah pada tahun berikutnya dengan 70  orang di ‘Aqabah. 70 orang berjabat tangan dengan Rasulullah. Mereka menjanjikan kepadanya dalam perjuangan untuk hidup dan mati. Kami akan mati, tapi kami tidak akan mundur”. “Kami akan melindungi Anda dan tidak akan meninggalkan yang haq”. “Kami akan menjadi pelayan Al-quran dan agama islam, dan kami tidak akan menahan diri untuk memenuhi janji ini” kata mereka. Dan benar, mereka memenuhi janji mereka. Kami juga mengatakan “ya” dalam “Qalu bala” (langkah awal dalam penciptaan manusia). Kami juga telah mengatakan dari bagian terkecil dari tubuh kami dan jiwa kami. Kami membenarkan perkataan kami dengan datang ke masjid. Semoga Allah menganugerahkan juga kepada kita untuk berada di jalan yang sama, memenuhi janji yang sama hingga nafas terakhir. Dan menganugerahi hati kita dengan antusiasme dan cinta untuk berdakwah, menceritakan tentang Allah SWT dalam suasana kebebasan yang luas ini. Semoga Allah SWT memberkati semua orang untuk menceritakan dan menjelaskan hakikat kebenaran ini di manapun ia berada dan sesuai dengan kemampuan dan sarana yang mereka miliki.