Mengembangkandiri.com[Downloader.la]-635797bdc99ab

Prioritas Membaca dan Menjadi Mentor

Artikel pertama dari seri artikel ini membahas tentang “Rumah”. Oleh karena itu, di artikel seri kedua, topik yang akan kita bahas adalah bagaimana seharusnya orang-orang yang tinggal di Rumah tersebut dididik dan dibina, serta apa saja buku-buku yang harus mereka dibaca?.

Fungsi utama dari Rumah adalah untuk mendidik dan membina orang-orang yang tinggal didalamnya, agar mengagungkan sang pencipta mereka, serta berkomitmen penuh dalam mewujudkan nilai-nilai universal dan kemanusiaan. Sehingga, mereka yang tinggal di Rumah ini adalah “individu” yang telah menetapkan hati mereka pada i’lâ-ı kalimatullah (mengagungkan Allah), yang berempati kepada sesama dimanapun ia berada, mengutamakan nilai-nilai kemanusiaan, mengorbankan kenyamanan pribadi demi terciptanya perdamaian umat manusia dan berdiri di garda terdepan dalam menentang ketidakadilan.

Sebagai relawan Hizmet, panduan utama kita adalah Risalah Nur. Tanpa membaca dan memahami Risalah Nur dengan baik, mustahil untuk bisa memahami Hizmet secara mendalam.

APA ITU RISALAH NUR?

Risalah Nur bukanlah sekedar sumber pengetahuan yang biasa saja. Tidaklah cukup hanya menganggapnya sebagai karya yang dapat membuktikan keberadaan Tuhan secara logika saja. Risalah Nur adalah sumber yang menjelaskan tentang ‘ma’rifatullah‘ secara rinci. Risalah Nur adalah kunci pengetahuan tentang Tuhan. Risalah Nur adalah tafsir Al-Qur’an yang menerangi zaman ini. Oleh karena itu, ia berisi ilham serta memiliki pesona dan celupan dari Al-Quran. Sebagai contoh, jika anda membaca Risalah Ikhlas anda akan menemui setiap kalimatnya adalah kata-kata mulia yang bersumber dari Al-Qur’an, seperti itulah setiap bagian dari Risalah Nur. Risalah Nur ditulis dengan kezuhudan yang tinggi dan dengan rahmat Allahﷻ, sehingga Risalah Nur menjadi sumber inspirasi Ilahi.

Apakah ada mahakarya yang seperti Risalah Nur ini dalam sejarah?

Selama lebih dari 60 tahun telah dibaca dan didiskusikan ribuan kali bahkan ratusan ribu kali dan bahkan sampai jutaan kali, baik di Rumah-rumah di Turki maupun di seluruh dunia dan hal ini masih terus berlanjut hingga hari ini.

Penerimaan yang baik ini merupakan anugerah Ilahi atas kebulatan tekad, kebaikan, dan kezuhudan serta keikhlasan penulisnya.

Allahﷻ menganugerahkan pesona yang luhur kepada “Risalah Nur”. Disaat anda membacanya dan pikiran anda sibuk dengan kata-kata yang ada didalamnya, disaat bersamaan ia memperbaiki hati anda. Disaat anda mencoba memahami kata-kata yang ada didalamnya, disaat bersamaan ia merekonstruksi pikiran anda. Bahkan ketika anda menyelesaikan suatu topik pembahasan dalam Risalah Nur, namun anda tidak mengerti apa-apa, pada hakikatnya tanpa anda sadari ia memenuhi alam pikiran anda dengan cahaya. Dan dengan cahaya itu akan memberikan panduan yang sempurna kepada jiwa anda untuk berperilaku positif. Semua ini akan terwujud selama Risalah Nur dijadikan wasilah dan sarana menuju Allahﷻ.

Tetapi, ketika anda mendekati teks-teks Risalah Nur dengan kesombongan, kefanatikan, dan keinginan menjadi orang ternama dalam masyarakat, maka pesonanya akan hilang. Ketika anda menjadikan Risalah Nur sebagai tujuan bukan sebagai sarana, mengubahnya menjadi komoditas komersial, atau menjadikan Risalah Nur hanya sebagai alat untuk mempublikasikan pengetahuan yang anda miliki, maka Risalah Nur yang luar biasa ini menutup pintunya bagi anda. Sihir dan celupannya akan hilang, penunjuk arahnya akan buram. Jika seperti ini, meskipun Risalah Nur ada dalam hafalan anda, namun anda tidak akan mendapatkan manfaat apa-apa dari Risalah Nur.

BUKU PIRLANTA

Setelah Risalah Nur menenangkan jiwa dan menjadikan tawajjuh kepada Allahﷻ sebagai sifat serta karakternya, maka hal yang perlu dilakukan selanjutnya adalah mewujudkannya dalam bentuk amal saleh. Untuk melakukan amal saleh dan kedisiplinan ada seri buku Prisma, seperti: Buku Dakwah, Cahaya Al-Qur’an, Cahaya Abadi dan Kriteria.. Namun sebelum membaca buku-buku yang disebutkan di atas, buku pertama yang perlu dibaca dan diselesaikan terlebih dahulu adalah seri buku Pirlanta.

Menjaga keikhlasan saat menulis sesuatu, mudah jika hanya dalam ucapan saja, namun dalam pelaksanaanya sangatlah sulit. Prinsip dalam meneliti sebuah karya adalah seseorang tidak boleh mencampurkan keinginan pribadinya pada sebuah karya yang ia teliti. Cobalah telaah kumpulan ceramah yang sudah disampaikan 50 tahun yang lalu dan telitilah dengan prinsip tersebut diatas. Jika anda adalah orang yang memiliki rasa keingintahuan yang tinggi, anda akan dapat membedakan kalimat-kalimat yang bercampur dengan keinginan pribadi pembicara. Sosok yang sudah berbicara selama puluhan tahun dan apa yang ia sampaikan tidak ada unsur keinginan diri pribadinya meskipun satu kalimat, hal ini menunjukan sebuah fakta bahwa pembicara tersebut berbicara dengan keikhlasan dan ketulusan yang sangat tinggi. Oleh karena itu, untuk mendapatkan celupan keikhlasan yang sama, membukukan dan membacanya adalah wasilah yang sangat membahagiakan.

Seperti yang diajarkan oleh Risalah Nur kepada kita yaitu perbedaan antara “makna huruf” dan ” makna ismi”, dalam pandangan kami, karya-karya ini juga demikian:

“Alam semesta harus dimaknai dengan makna huruf dan melihatnya berdasarkan pandangan tersebut. Adalah suatu kesalahan jika memahami alam semesta dengan makna ismi dan sebab-sebabnya.”

Merupakan suatu hal yang berbahaya, jika memuliakan karya-karya ini dan penulisnya dengan makna ismi. Memuliakannya dengan sebutan wali atau sosok yang bebas dari kesalahan, bahkan menyebutnya dalam setiap majelis sebagai manusia luar biasa dan mengagungkannya dengan makna ismi sebagai manusia suci. Pernyataan-pernyataan ini dan yang serupa dengannya dapat berujung pada kemusyrikan. Hal ini juga menyebabkan hilangnya cahaya dari karya-karya ini.

Selain daripada itu, jika hanya berfokus pada bagian luar saja, bukan pada makna yang terkandung didalamnya. Hanya terpaku pada satu dari delapan Risalah atau hanya terpikat dengan pola formal buku yang dibaca, terpesona dengan fiksi teksnya, tertarik pada sajak-sajak puisinya. Hal ini ibaratkan memakan madu yang ada dalam sebuah botol dengan menjilati bagian luar botolnya saja.Ketika perhatian hanya terfokus pada sastra, gaya bahasa dan kefasihannya saja, maka esensi yang ada didalamnya akan terlupakan.

Setelah membangun sebuah pondasi yang kokoh dengan semua karya-karya ini, setiap orang harus mampu beradaptasi dengan dunia yang selalu berubah secara proporsional sesuai dengan cakrawala mereka. Lalu setiap orang perlu membaca karya klasik dunia dan karya klasik lokal dari negara asal mereka masing-masing agar dapat mengenal dan memahami manusia lain yang ada disekitarnya. Namun hal-hal yang juga perlu diingat adalah, bahwa setiap orang perlu menguasai sejarah, filsafat, ilmu logika dan bidang ilmu pengetahuan lainnya pada tingkatan tertentu.

KAKAK PEMBINA

Membaca sangatlah penting, tetapi membaca bukanlah segalanya. Jika karya yang dibaca tidak dihayati dalam kehidupan, jika semua sikap dan tingkah laku tidak berubah menjadi amal saleh, maka menjadi nyata kebenaran ayat berikut: “Perumpamaan orang-orang yang diberi tugas membawa Taurat, kemudian mereka tidak membawanya (tidak mengamalkannya) adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Sangat buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat- ayat Allahﷻ. Dan Allahﷻ tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim” (Al-Jumu’ah ayat 5).

Seorang kakak pembina harus mengisi waktunya dengan amal saleh agar tidak terlena oleh godaan hawa nafsu.

Siapa yang akan mendidik dan membina kakak pembina?

Seperti yang disebutkan dalam sebuah paradoks “Apakah ayam yang keluar dari telur atau telur yang keluar dari ayam”. Sama halnya, bahwa siswa yang berkualitas tidak akan hadir tanpa kakak pembina (mentor) yang berwibawa dan berkualitas atau dalam arti kiasan “idola” yang mendidik dan membimbing mereka dengan baik. Kakak pembina (mentor) yang berkualitas hanya dapat dibentuk oleh sosok yang berkualitas juga. Jika tidak ada siklus yang benar seperti ini, rumah- rumah tidak dapat menjalankan fungsinya secara sempurna. Saat ini, kakak pembina (mentor) adalah aspek yang sangat dibutuhkan, terutama bagi siswa yang pergi ke luar negeri dan mencoba untuk belajar bahasa dan beradaptasi dengan sekolah asing.

Membina generasi tidak bisa dilakukan secara paketan. Membina secara paketan sama seperti membuat patung secara grosir. Patung buatan bisa diproduksi secara langsung dalam jumlah yang banyak tetapi tidak memiliki nilai seni. Membina secara paketan tidak bisa melahirkan “Individu” yang dapat menjadi diri mereka sendiri dan berkontribusi pada dunia.

Apakah Kamp itu mesin cetak?

Kamp adalah program kolektif yang sangat penting dan tak tergantikan. Sudah barang tentu program ini memberikan nilai-nilai yang positif. Tetapi kamp bukanlah “mesin cetak”. Jika tidak ada bimbingan terhadap siswa secara individu, mendengarkan permasalahan yang mereka alami satu persatu, memahami apa yang mereka inginkan dan membangun ukhuwah yang kokoh, maka efek kamp akan seperti api yang membakar daun kering yang membesar seketika lalu habis dengan sekejap. Jika kamp yang dilakukan selama 10 hari merupakan kelanjutan atau bagian dari apa yang dilakukan pada 355 hari lainnya dalam setahun, maka efisiensi nyata akan dapat diperoleh. Jika tidak, bimbingan yang dilakukan selama kamp akan seperti hujan dimusim panas yang turun tiba-tiba kemudian deras sekejap lalu mengering dengan cepat.

Pertanyaan tes kualitas pembinaan

Apakah pembinaan atau Hizmet di kota tersebut ada atau tidak?

Tes ini dapat dilakukan dengan mudah, ada dua aspek yang dapat dijadikan sebagai tolak ukur:

Pertama: Ada berapa Rumah yang sesuai dengan ketentuan ideal ?

Kedua: Berapa banyak pembina yang memenuhi syarat yang anda miliki?

Aspek-aspek lainnya adalah data statistik saja.

Jika tidak ada pembinaan seperti ini, maka sekolah maupun lembaga lain yang kita miliki tidak lebih berharga daripada sekolah biasa atau lembaga biasa. Dari perspektif ini dapat dikatakan bahwa Rumah yang ideal lebih berharga daripada sekolah yang besar atau institusi yang megah sekalipun.

********

Makna Huruf (Simbolik): yaitu melihat segala sesuatu yang ada pada makhluk dan seluruh alam semesta adalah dari Allahﷻ dan Allahﷻ lah yang menciptakan itu semua. Artinya, segala sesuatu tidak memiliki makna jika tidak dinisbatkan kepada sang penciptanya yaitu Allahﷻ. Jika melihat pada sebuah apel, maka ada ratusan simbol yang menunjukkan bahwa sang penciptanya adalah Allahﷻ. Maka dari itu, ratusan simbol yang menunjukan adanya sang maha pencipta disebut dengan makna huruf.

Makna Ismi (Hakiki): yaitu melihat segala sesuatu yang ada pada makhluk dan seluruh alam semesta adalah sebuah hakikat dan bukan dari Allahﷻ. Dengan kata lain, melihat makhluk dan alam semesta atas nama mereka sendiri dan tidak menisbatkannya kepada Allahﷻ. Jika melihat pada sebuah apel dan menilai bahwa apel itu ada dengan sendirinya, maka hal ini adalah peniadaan terhadap ribuan simbol yang menunjukan sang maha pencipta yaitu Allahﷻ. Makna ismi (hakiki) hanya milik Allahﷻ.

pexels-oleksandr-pidvalnyi-2781814

Puncak Masa Depan Yang Didambakan

Karya Pembaca : Imam H.

Mungkin kita pernah berharap pada suatu hari nanti kita bercita-cita ingin menjadi seorang guru, dosen, dokter, insinyur, pelaut, petani dll. Hal tersebut kita lakukan tidak lain agar mempunyai tujuan yang jelas di masa yang akan datang sehingga kita bisa mempersiapkannya dengan lebih matang.

Akan tetapi pada akhirnya mungkin kita akan bertanya-tanya, masa depan itu apa?

Atau apakah masa depan itu mempunyai batas?

Kalaupun iya, lalu apa puncak dari masa depan itu?

Ada yang mendefinisikan bahwa masa depan itu adalah: (1) Periode kehidupan yang akan kita jalani dan berakhir ketika kita meninggal nanti. (2) Periode mendatang yang membutuhkan perencanaan yang bisa dipersiapkan dan bisa dirancang untuk mencapainya.

Semua itu mungkin saja benar karena setiap orang mempunyai definisi yang berbeda akan masa depan. Yang jelas masa depan adalah suatu kejadian yang akan terjadi.

Masa depan berkaitan erat dengan keinginan dan harapan. Terkadang harapan dan keinginan itu menjadi benang merah tolak ukur tercapainya masa depan yang kita dambakan. Apapun yang kita lakukan di detik ini adalah demi terwujudnya masa depan yang lebih baik, ntah apa yang kita ingin dan harapkan akan terwujud atau tidak. Yang jelas setiap detik kedepannya adalah masa depan yang akan kita lalui.

Akan tetapi setiap kali kita mencapai apa yang kita inginkan di masa depan, semua itu pun menjadi masa kini, baik itu  hari yang sedang kita jalani, kepuasan yang sedang kita nikmati, harapan-harapan masa kecil yang telah kita capai, semua itu akan menjadi masa kini atau masa lalu yang telah berlalu.

Terkadang kita pun tidak menyadari ternyata kita sedang ataupun sudah berada di masa lalu yang dahulu kita ingin dan harapkan. Tetapi, waktu tidak peduli, dia tetap akan berjalan. Meskipun kita sadar atau tidak, waktu tidak akan peduli dan terus akan berjalan.

Ketika kita masih kecil, melihat orang-orang dewasa bisa berjalan dengan baik, memperhatikan mereka melakukan segala sesuatu dengan mudahnya, kita pun berharap agar segera tumbuh seperti mereka. Masa itu kita ingin sekali mempercepat waktu dan pada akhirnya ketika kita mencapai apa yang kita inginkan, masa itu pun menjadi masa kini dan waktu pun terus berlanjut. Ketika kita mulai menuntut ilmu dari taman kanak-kanak (TK) kemudian melanjutkan ke jenjang SD,SMP,SMA, sampai mendapatkan gelar sarjana,  semua itu demi masa depan. Ketika kita berharap mendapatkan pekerjaan, menikah, mendambakan keturunan, mempunyai anak, cucu, cicit semuanya demi masa depan.

Ketika semua itu sudah tercapai, masa lalu itu menjadi masa kini.

Masa depan tetap berlanjut, kita selalu menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Hingga kita mati pun, masa depan tetap berlanjut sampai pengadilan Allahﷻ ditetapkan.

Apakah kita dimasukkan ke dalam Surga atau neraka?

Hey, ternyata masih berlanjut. Lalu puncak masa depan itu sampai dimana?

Semua orang mempunyai pendapat atau pemikirannya masing-masing. Sebagai umat Muslim kita akan berpikir lebih mendalam lagi, melihat, membaca, merujuk, dan menelaah dari kitab suci Al-qur’an. Al-Qur’an menjelaskan bahwa puncak dari masa depan adalah ketika kita mampu meraih rida Allah سبحانه وتعالى. Puncak dari masa depan yang kita ingin dan harapkan adalah sebagaimana firman Allah سبحانه وتعالى :

 {يا أَيَّتُهَا النَّفْسُ المطمئنة (27) ارْجِعِي إِلى رَبِّكِ راضية مرضية (28) فَادْخُلِي فِي عِبادِي (29) وَادْخُلِي جنتي (30)}.

Artinya: “Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (Q.S. Al-Fajr [89]: 27-30)

“Wahai jiwa yang tenang!” para mufassir berkata ini adalah perkataan malaikat maut ketika ingin mencabut nyawa-nyawa orang yang beriman. Wahai jiwa yang tenang, wahai jiwa yang beriman, Kalimat tersebut dikatakan kepada orang mukmin, karena mereka yakin terhadap janji Allahﷻ. Mereka yakin terhadap apa yang dilakukan tidak pernah sia-sia. Mereka yakin terhadap amal saleh yang mereka kerjakan akan diberi ganjaran oleh Allahﷻ. Hati mereka tenang dengan iman dan amal saleh yang mereka lakukan, serta tidak ada sedikitpun keraguan di dalam hati mereka.

“Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya.” Betapa bahagianya seseorang ketika malaikat membisikan kalimat ini kepadanya. Dia akan pulang dalam keadaan rida dan gembira terhadap apa yang menantinya. Bukan hanya sampai disitu, Allahﷻ pun rida terhadap kepulangannya.

Jiwa mana yang tidak bahagia ketika kedatangannya sudah dinanti dan diperlakukan dengan istimewa oleh sang pemilik alam semesta. Terlebih lagi akan diberikan ganjaran yang sangat besar dari amal saleh yang pernah dia kerjakan.

Ketika Allahﷻ berfirman kepadanya, “Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku”, Allahﷻ berkehendak agar dia tidak merasa sendiri. Karena akan ada orang-orang saleh bersamanya dari kalangan ulama, para mujahidin, orang yang sering bersedekah, orang yang taat kepada kedua orang tuanya, para hafiz al-Quran dll. Selain itu, ketika ia akan masuk ke surga, Allahﷻ menyebutnya secara khusus. Dia akan merasa sangat spesial dan istimewa karena perlakuan tersebut.

Di dalam Surat Ali ‘Imran Ayat 185 Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ ۖ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ ٱلنَّارِ وَأُدْخِلَ ٱلْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلْغُرُورِ

Artinya: Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.

Ayat ini menjadi pengingat yang kuat akan masa depan yang sebenarnya kita dambakan. Bukan berarti kita melupakan dunia begitu saja, akan tetapi kita mensyukuri yang menjadi bagian kita, sembari menyiapkan bekal sebanyak-banyaknya untuk kehidupan yang kekal abadi.

Marilah kita bermuhasabah diri, setiap kegiatan yang kita lakukan, setiap prestasi yang kita raih, setiap ibadah yang kita persembahkan, setiap kebaikan yang kita usahakan, apakah semua itu karena Allahﷻ?

Apakah semua itu demi mendapatkan rida-Nya?

Apakah hanya ingin mendapatkan pujian dari manusia atau hanya untuk kepentingan dunia yang bersifat sementara saja?

Aduhai, betapa malangnya ketika apa yang kita usahakan semua itu sia-sia belaka. Lelah, letih, kucuran keringat, tetesan air mata, luka dan darah yang kita alami ternyata bukan karena Allahﷻ. Akhirnya semua itu seperti debu yang beterbangan, tidak ada yang tersisa.

Pengadilan yang Maha Agung, tidak akan pernah salah walaupun sekecil apapun. Pengadilan yang menampakkan sejatinya kita di dunia. Mungkin saja di dunia kita nampak sebagai orang baik, namun di pengadilan ini kita adalah orang yang sebaliknya. Begitupun sebaliknya, orang yang nampak buruk di dunia ternyata di akhirat dia dikumpulkan bersama orang-orang saleh.

Marilah kita senantiasa berdoa kepada Allahﷻ agar diberikan kebaikan, baik di dunia maupun di akhirat nanti. Diberikan limpahan rahmat dan karunia-Nya agar kita dapat menggapai hakikat masa depan yang sebenarnya kita dambakan.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Artinya: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.” Aamiin

wallahu a’lam….

pexels-pixabay-236164

Asas – Asas Kebangkitan

Menurut Ustaz, faktor-faktor untuk meraih kemajuan & ketenteraman ada tiga yaitu :

 Faktor Pertama: Manajemen Waktu

Manusia harus mengatur waktunya agar harmonis, baik waktu untuk istirahat, maupun waktu untuk keluarga dan anak-anaknya. Ia juga harus menyiapkan waktu untuk bekerja mencari nafkah. Jika ia seorang guru, maka ia harus menyisihkan waktu untuk mendukung kebutuhan profesinya tersebut. Ia juga harus menyisihkan waktunya untuk membaca. Saat luang, ia perlu berdiskusi dengan sejawatnya, membahas hal-hal agung terkait profesinya. Mereka harus tahu apa yang harus mereka kerjakan di jalan ini.

Mereka yang meluncur seperti karambol akan tersangkut oleh hambatan di tengah jalan. Mereka harus tahu siapa dirinya dan sadar saat menulis visi hidupnya, mereka harus berkata:

“Saya harus begini dan begitu biar sukses!”

Ia harus membagi waktu sesuai visi hidupnya. Manajemen waktu adalah bahasan yang dalam dan serius.

Faktor Kedua: Pembagian Tugas

Pembagian tugas harus didasarkan kepada efektivitas kinerjanya. Dalam pembagian tugas juga membutuhkan sifat itsar “mendahulukan orang lain”.  Ketika memahami itsar, kaidah ini harus diingat: Para nabi tak mungkin berkata: “Kamu kerjakan tugasku!”.

Kenabian adalah tugasnya para nabi, mereka tak mungkin berpaling darinya. Selain tugas, kenabian juga merupakan suatu kehormatan. Ia adalah misi dan kewajiban yang tak mungkin bagi para nabi untuk berpaling darinya. Berpaling dari kenabian berarti berpaling dari Allahﷻ, hafizanallah. Karena itu, tak peduli betapa tawaduknya nabi Muhammadﷺ, beliau tidak bisa bersabda:

“Wahai Abu Bakar, Umar, Usman, gantikan saya!”.

Namun demikian, setiap manusia selain nabi perlu mempertimbangkan agar orang lain saja yang mengemban tugasnya lewat semangat itsar. Daripada dirinya sendiri, mereka lebih mengusulkan orang lain: “Si A cocok jadi muazin, si B cocok jadi Bupati, dst”. Tentu disini basirah masyarakat juga dibutuhkan.

Cerita dari pidato Tahir Efendi. Ia berkata: “Anda adalah muntahib (pemilih), sedangkan saya muntahab (yang dipilih) untuk duduk di muntahabun ilaih (majelis). Yang Anda kerjakan adalah intihab (memilih). Intihab berasal dari kata nuhba yang artinya krim (bagian atasnya susu). Seperti apa kualitas susunya, demikian juga kualitas krimnya”.

Ya, saat masyarakat memiliki basirah, siapapun bisa ditugaskan dimanapun. Jika tidak, masyarakat akan memilih orang seperti Karun yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Orang itu akan menyalahgunakan nilai-nilai agung yang Anda junjung tinggi. Mereka akan menyalahgunakannya demi keuntungan pribadi. Untuk itu, intihab (pemilu) sangatlah penting.

Yang Ketiga: Prinsip Tolong Menolong (Ta’awun).

Berasal dari akar tafa’ul (tanda baik), ia menekankan agar kalian saling tolong menolong satu sama lain. Ustaz berkata: “Persatuan dan kesatuan adalah sarana terbesar bagi turunnya taufik ilahi”. Tangan yang saling bergenggaman di jalan Allahﷻ dengan penuh semangat dan memiliki tujuan yang sama, tidak akan pernah Allahﷻ sia-siakan. Anda pun memohon sesuatu yang sama “Ya Allahﷻ, tinggikanlah kalimatMu di segala penjuru, jadikanlah kami sebagai sarananya, dan jadikanlah kami sebagai hambaMu yang mukhlis, mukhlas, muttaqi, wara, zahid, serta muqarrabin. Berikanlah kami, dengan semua itu kerinduan yang membuat kami bisa bertemu dengan kekasihMu ﷺ”.

Itulah penjelasan mengenai apa saja tugas yang menjadi kewajiban kita.

Kita memiliki keahlian dalam beberapa hal. Entah itu, disebabkan oleh lingkungan kita, bakat dan pembawaan kita, atau karena genjotan pada syaraf kita. Kita memiliki kemampuan berfikir yang cukup luas. Dengan kemampuan tersebut, kita harus menggunakannya untuk membantu dan membimbing mereka. Perhatikanlah! Di satu sisi, doa berjamaah, persatuan, dan kesatuan merupakan sarana bagi datangnya taufik ilahi.

Sedangkan sisi lainnya adalah bagaimana kita menjadi sarana matangnya pemikiran dan jiwa umat manusia. Andaikan akal anda telah matang, anda harus membantu dan membimbing manusia agar meraih ufuk pikir itu. Bahkan anda harus berharap agar mereka melebihi Anda. Itulah yang dituntunkan itsar kepada kita.

Itsar : Mendahulukan kepentingan orang lain dari pada kepentingan sendiri.

Contoh lainnya: Anda sedang sekolah. Anda belajar bersama teman-teman anda agar naik kelas. Beberapa dari anda memiliki kemampuan lebih, entah karena faktor keluarga, budaya atau faktor lainnya. Dengan bekal itu, Anda lebih mudah memahami, merangkum, dan menyimpulkan pelajaran. Anda harus sebisa mungkin, membantu teman anda meraih level yang sama. Ini merupakan contoh untuk para pelajar. Di contoh itu, tercerminkan semangat itsar, semangat untuk mengangkat level rekan-rekannya melebihi dirinya.

Berikutnya, contoh di level yang lebih tinggi. Ketika kita meniti karir. Kita bekerja untuk meraih gelar master, doktor, dan professor. Beberapa teman misalnya, sangat ahli dalam menciptakan lagu. Teman lainnya sangat menguasai perpustakaan. Kata Necip Fazil, mereka ini “tikusnya perpustakaan”. Mereka tahu, topik tertentu yang dibahas di buku mana saja. Orang lain mungkin mengerjakan tugas itu dengan kondisi tidak terlalu menguasai hingga sedetil itu. Yang ahli komposisi lagu harus berkata: “Isu ini sebaiknya disampaikan begini”. Ia harus mendukung temannya.

Yang sedang doktoral, harus menyelesaikannya dalam 2 tahun, jangan 10 tahun, andai aturan memungkinkannya. Beberapa diantaranya, menguasai daftar isi buku-buku, mereka bagaikan tikusnya perpustakaan. Dia berkata: “Kawan, rujukan untuk topik itu ada di rak ini, buku ini dan itu, di halaman sekian…”. Bila perlu, ia ajarkan bagaimana topik tersebut harusnya disampaikan, dengan menyesuaikan karakter dospemnya. Sesuai kaidah ta’awun, Ia juga membantu bagaimana menghadapi dosen pembimbing & menyamakan frekuensi dengannya.

Inilah yang semestinya dilakukan oleh kita, sesuai turunan kata ta’awun: Ta’awana/yata’awanu/ta’awunan yang bermakna: saling menolong dalam menyelesaikan suatu pekerjaan antara dua orang atau lebih. Jadi, suatu pekerjaan tidak diselesaikan dengan satu akal. Melainkan dengan ribuan dukungan akal yang semuanya atas izin dan inayat Allahﷻ. Dengan satu sama lain, saling percaya.

Ia: “Temanku lebih amanah!”.

Keyakinan ini juga bersandar pada semangat itsar. Dengan kadar yang berbeda, ada yang setetes, ada yang secangkir, ada yang segelas, dan ada juga yang segentong. Jika kita saling percaya, maka kekuatan akan lahir melalui persatuan dan kesatuan yang kita bangun. Dan kesuksesan itu pun akan tercapai, atas izin Allahﷻ. Dengan menggabungkannya, Kekuatan rekan dapat menambah kekuatan kita. Jika kita bisa meletakkannya di pondasi yang kokoh. Maka dari satu orang, dapat dihasilkan output setara seribu orang.

Hal penting lainnya adalah saling percaya dan tidak mudah suuzan. Bisa jadi keadaan yang ada sekarang, memudahkan kita bersuuzan. Tapi kita masih punya kesempatan untuk mengujinya. Menguji dengan hal yang sederhana. Jika lulus, maka akan naik kelas. Demikian seterusnya hingga berhasil duduk di hati kita. Ternyata, ia juga penuhi haknya. Lalu kita letakkan ia di pusat hati kita:”Silahkan naik kemari!”. Dan ia penuhi lagi haknya. Maka kita katakan:”Kamu benar-benar layak disini.” Cerita ini hanya permisalan.

Demikian juga dalam Hizmet. Anda ditempatkan disini, sukses. Lalu ditambah tugas baru, sukses. Semua itu terbentuk dari berbagai ujian yang sudah dilalui.

Latar belakang dari semua tugas pengambian adalah husnuzan. Saat Anda meragukan seseorang, sebelum suuzan. Maka ujilah dia… Ujian itu nantinya juga akan mengangkat levelnya. Dengannya, Anda menyiapkan pondasi agar masyarakat bisa menikmati semua potensi yang dimiliki teman-teman anda.