mengembangkandiri.com (18)

MENYULAM CINTA DALAM SETIAP AYAT-NYA

Ditulis Oleh : Febrian Suhud

Di dalam lembaran-lembaran suci Al-Qur’an terukir petunjuk hidup yang abadi, sebuah permata yang tak terperi indahnya, yang diterangi oleh cahaya Ilahi. Khidmah kepada Al-Qur’an bukanlah sekadar tindakan, tetapi sebuah perjalanan batin yang mengalir dalam denyut nadi umat manusia, sebuah rasa yang menyelimuti jiwa dan meresap dalam kalbu. Sebuah pengabdian yang sejatinya adalah pengorbanan tanpa pamrih, yang tiada akhir, yang menuntun umat menuju jalan kebahagiaan yang hakiki.

Khidmah kepada Al-Qur’an bermula dari sebuah cinta yang murni dan tulus, cinta yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata, tetapi terasa dalam setiap hela nafas yang kita hirup. Cinta kepada Al-Qur’an adalah cinta yang melampaui waktu, yang tidak mengenal batas ruang dan zaman. Ia adalah cinta yang menjelma dalam setiap titian langkah, dalam setiap detik yang kita jalani, sebuah hubungan antara hamba dan Tuhan yang tiada terungkap oleh dunia. Seperti lautan yang dalam, cinta ini tak terukur, tak ternilai harganya, tetapi ia mampu menenangkan gelora jiwa dan menyegarkan raga yang letih.

Di setiap ayat yang terkandung dalam Al-Qur’an, terdapat gema suara Ilahi yang menyapa jiwa kita. Bagaikan sebuah angin damai yang mengalun lembut, tiap kata dalam Al-Qur’an menyentuh relung-relung terdalam hati, mengundang nurani untuk merenung dan menghayati betapa Maha Agung-Nya Allah. Inilah cinta yang tak tampak dengan kasat mata, namun terasa dalam getaran hati yang bergetar setiap kali kita membacanya, dan setiap kali kita menghayati maknanya.

Khidmah kepada Al-Qur’an adalah amanah yang disandangkan kepada setiap hati yang beriman. Sebagaimana bumi yang menjaga tanaman dan bunga-bunga dengan penuh kasih sayang, begitu pula kita harus menjaga kemurnian wahyu ini dengan segenap jiwa raga. Al-Qur’an adalah firman Tuhan yang abadi, yang tidak pernah lekang oleh zaman. Setiap hurufnya adalah cahaya yang memancar dari Tuhan, dan menjaga Al-Qur’an berarti menjaga api tersebut agar tetap menyala dengan terang di setiap relung hidup kita.

Salah satu bentuk khidmah yang paling mulia adalah menghafal Al-Qur’an, sebuah ibadah yang bukan hanya melibatkan ingatan, tetapi juga jiwa dan hati. Menghafal Al-Qur’an adalah menanamkan cahaya Ilahi dalam diri, sebuah komitmen untuk mengingat-Nya dalam setiap helaan nafas, untuk menghidupkan kata-kata-Nya dalam setiap langkah hidup. Sebab, dalam setiap ayat yang terpatri di dalam dada seorang penghafal, terdapat cahaya yang tidak akan pernah padam, dan itulah pengabdian yang tiada bandingannya.

Khidmah kepada Al-Qur’an tidak hanya tertuang dalam kata-kata atau sekadar hafalan. Ia adalah sebuah perjalanan hidup yang mengalir dalam setiap tindakan. Sebagaimana bunga yang mekar dengan indah, setiap amalan yang terinspirasi oleh Al-Qur’an adalah buah dari cinta yang kita tanam dengan penuh kesungguhan. Setiap petunjuk yang terkandung dalam Al-Qur’an adalah bimbingan bagi kehidupan yang penuh tantangan ini. Dalam setiap persoalan hidup, Al-Qur’an adalah penyuluh yang tidak pernah pudar, memberikan kita cahaya untuk menapaki jalan yang gelap.

Al-Qur’an mengajarkan kita tentang kebijaksanaan yang tiada tara, tentang kesabaran yang mengalir seperti sungai yang tenang, tentang kejujuran yang menghiasi setiap tindakan. Ia bukan hanya kitab yang dibaca, tetapi juga kitab yang harus dihidupkan. Menjadi seorang yang berakhlak mulia, meneladani sifat-sifat Rasulullah yang terpatri dalam Al-Qur’an, adalah bentuk nyata dari khidmah kita kepada kitab yang mulia ini. Kita menjadikan setiap ajaran-Nya sebagai pedoman hidup, menyelami maknanya dalam setiap langkah, dan menebarkan kebaikan kepada sesama, sebagaimana Al-Qur’an yang selalu menyapa hati manusia dengan kedamaian.

Khidmah kepada Al-Qur’an juga terwujud dalam sikap kita yang senantiasa ingat kepada-Nya, dalam setiap hembusan angin kehidupan. Di tengah deru gelombang dunia yang tak terduga, Al-Qur’an adalah jangkar yang menenangkan, pelita yang tak pernah padam. Setiap ayat yang terukir di dalamnya adalah sumber kekuatan yang tiada terhingga. Ia menjadi obat bagi luka-luka batin, penghibur bagi hati yang gundah, dan cahaya bagi jiwa yang tersesat.

Khidmah yang terakhir, yang tak kalah penting, adalah mengajarkan Al-Qur’an kepada generasi yang akan datang. Sebagaimana seorang pelita yang memberikan cahaya kepada yang lain, begitu pula kita harus menjadi penyebar cahaya wahyu Allah kepada orang lain. Mengajarkan Al-Qur’an adalah tugas mulia yang membawa pahala yang tiada terhingga, dan dengan mengajarkannya, kita menanamkan benih-benih kebaikan yang akan berkembang hingga ke anak cucu kita. Mengajarkan Al-Qur’an adalah menyebarkan kasih sayang-Nya, membimbing umat menuju kehidupan yang penuh berkah.

Khidmah kepada Al-Qur’an adalah pengabdian yang tiada batas. Sebagaimana langit yang tak mengenal ujung, begitu juga pengabdian ini, yang terus mengalir dan menghidupkan dunia. Setiap langkah kita dalam mengikuti Al-Qur’an adalah langkah menuju kebahagiaan abadi, sebuah kebahagiaan yang melampaui dunia, yang hanya bisa diraih dengan cinta yang mendalam kepada kitab-Nya. Al-Qur’an adalah petunjuk yang selalu menemani, sebuah cahaya yang tak akan pernah padam, dan khidmah kita kepadanya adalah perjalanan yang tiada akhir, yang akan membawa kita menuju kasih-Nya yang tak terhingga.

Sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 2, “Kitab ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” Di situlah letak hakikat khidmah yang sebenarnya: menghidupkan Al-Qur’an dalam setiap detik kehidupan, menjadikannya sebagai pelita, dan melaksanakan ajarannya dengan hati yang penuh cinta. Inilah pengabdian yang sejati, yang tak akan pernah lekang oleh waktu.

Mengembangkandiri.com (17)

PENGELOLAAN TUGAS DAN KEHIDUPAN BERKELUARGA

Ditulis oleh Fethullah Gülen Diterbitkan pada Kendi Yang Retak.

Pertanyaan: Selain tugasnya sebagai Rasulullah dan pemimpin negara, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam  juga memiliki peran sebagai seorang ayah, suami, serta teman terdekat bagi para Sahabat-nya. Beliau membagi waktunya dengan sangat adil antara peran-peran tersebut hingga tidak ada seorangpun yang haknya terlanggar. Karena itu, bagaimanakah seorang mefkure insanı[1] seharusnya mengelola waktu mereka sehingga dapat menciptakan suatu keseimbangan dalam memenuhi hak-hak setiap orang atas dirinya?

Jawaban: Pengelolaan waktu artinya adalah mengetahui segala sesuatu yang harus dilakukan, menentukan urutan kepentingannya, dan merencanakan kegiatan sehari-hari berdasarkan hal tersebut. Hal ini harus dilakukan sedemikian rupa sehingga peribadatan kita semisal shalat, dzikir dan do’a juga termasuk di dalamnya. Begitu juga kewajiban terhadap orang-orang yang menjadi tanggung jawab kita semisal keluarga dan anak-anak, hal-hal tersebut haruslah kita perhatikan.

Sebagai contoh, seseorang yang beriman tidak boleh meninggalkan ibadah malamnya dengan alasan telah atau akan melakukan pelayanan sepanjang hari. Seseorang yang benar-benar beriman haruslah tetap melakukan ibadah di malam hari  meskipun hanya berupa dua rakaat shalat. Seseorang yang bangun di malam hari dan menyisihkan 10-15 menit untuk shalat tahajud dan berdo’a pada Allah tidak akan kehilangan apapun dalam pelayanannya, bahkan sebaliknya akan mendapatkan banyak hal; karena orang yang menggunakan malam harinya untuk beribadah dihitung sebagai seseorang yang menapakkan kakinya pada jalur kebangkitan. Ibadah malam merupakan salah satu amal  perbuatan yang sangat dibanggakan di Mele-i âlâ[2]. Mendekatkan diri kepada Allah dengan bersujud dan merendahkan diri di hadapan Yang Maha Kuasa sembari meneteskan beberapa tetes air mata dalam keheningan malam merupakan suatu bentuk kesalehan yang tak dapat dibandingkan dengan perbuatan  apapun di waktu yang lain. Oleh karena itu, ibadah malam tidak boleh ditinggalkan ketika seseorang merencanakan kegiatan dalam mengisi umur kehidupannya.

Berikan pada Setiap Orang Hak Mereka!

Sebagaimana seseorang tidak boleh mengabaikan ibadah yang menyuburkan hati dan jiwa mereka, mereka juga harus memenuhi setiap kewajiban yang harus dipenuhi dalam kehidupan sosial yang mereka jalani. Hal-hal tersebut harus dimasukkan dalam suatu skala prioritas dan dilaksanakan dengan sebaik mungkin. Sebagaimana yang telah kita ketahui, berkenaan dengan seorang Sahabat yang meninggalkan keluarganya untuk beribadah, Rasululloh Shallallahu Alaihi Wasallam  bersabda: “Jiwamu mempunyai hak atas dirimu, keluargamu punya hak atas dirimu, begitu pula Allah Subhanahu Wa Ta’ala  juga punya hak atas dirimu, maka berikanlah pada masing-masing dari mereka haknya.”[3]Sebagaimana yang dapat dipahami dari hadits ini, bahkan ibadah kita pun jangan sampai menelantarkan hak-hak mereka yang memiliki hak terhadap kita, seperti pasangan, anak-anak, dan juga termasuk diri kita sendiri.

Shalat lima waktu yang ditugaskan pada waktu tertentu dalam satu hari memberikan pelajaran yang berharga pada orang yang beriman mengenai pengelolaan waktu. Ayat yang berhubungan dengan kebijaksanaan dalam penciptaan malam dan siang juga memberikan petunjuk mengenai hal ini. Dinyatakan dalam surat al-Qasas:

وَمِنْ رَحْمَتِهِ جَعَلَ لَكُمُ اللَّیْلَ وَالنَّهَارَ لِتَسْكُنُوا فِیهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

’’Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam hari dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya.” (Al-Qasas 28:73).

Melalui ayat ini dan ayat-ayat lain yang serupa, Al-Qur’an menuntun kita dalam pengelolaan waktu dan memberikan kita pesan berikut: jika kita menjalani hari-hari kita dengan teratur, melakukan apa yang perlu dilakukan dalam waktu yang tepat setiap harinya,  serta memanfaatkan dengan baik setiap waktu di siang dan malam hari yang dianugerahkan kepada kita, maka kita akan terselamatkan dari kehidupan yang serampangan, akan terhalang oleh rintangan yang muncul akibat kurangnya perencanaan, dan pada akhirnya kita akan memiliki kehidupan yang lebih produktif.

Merencanakan Dua Puluh Empat Jam Kita

Agar dapat disiplin dan efisien dalam menggunakan waktu, kita bisa menuliskan rencana kita dalam menggunakan 24 jam yang kita punya setiap harinya. Hal ini dilakukan dengan merencanakan waktu untuk berkumpul bersama teman, waktu untuk berbicara dengan orang-orang yang kita cintai, waktu untuk membaca buku sendirian, waktu untuk membersihkan kamar kita, waktu untuk berzikir, waktu untuk mengaji serta menghafal Al Quran, waktu untuk berdiskusi dengan pasangan dan juga anak-anak kita, hingga akhirnya datang waktu untuk beristirahat dan merencanakan kembali hal apa yang akan dikerjakan esok hari dengan jelas. Bahkan waktu yang akan digunakan untuk minum teh atau makan haruslah dimasukkan dalam rencana pengelolaan waktu ini. Sebagai contoh, jika 20 menit cukup untuk makan, seseorang haruslah menggunakannya dengan efisien dan tidak menggunakannya untuk mengobrol kesana kemari. Bahkan merupakan hal yang penting untuk menyediakan waktu darurat dalam perencanaan 24 jam kita sehingga faktor-faktor eksternal yang tiba-tiba muncul tidak merusak program harian kita.

Dari hal yang penting ke hal yang tidak terlalu penting, jika segala sesuatu dapat direncanakan dan dilakukan dengan pendekatan tersebut, maka waktu kita akan lebih produktif dan hasil yang diperoleh akan meningkat dari satu menjadi sepuluh kali lipat. Ketika kehidupan seseorang bisa menjadi seperti itu, maka ke depannya orang tersebut akan menjadi orang disiplin yang sukses, terbiasa bekerja sesuai program dan penuh motivasi, orang tersebut akan mampu melakukan apa yang perlu dilakukan tanpa kesulitan berarti. Namun, Jangan sampai hal ini disalahartikan bahwa program-program tersebut akan membuat kita menyerupai mesin atau robot. Bahkan sebaliknya, seseorang yang disiplin dan menjalani hidup yang sangat teratur tidak akan melewatkan ibadah personal maupun tugas-tugas pekerjaannya serta tidak akan melanggar hak-hak orang lain atas dirinya.

Meyakinkan Orang-orang yang Berjalan Bersama Kita

Hal lainnya yang perlu diperhatikan dalam hal pengelolaan waktu adalah seseorang haruslah mengungkapkan rencana mereka pada orang-orang yang ada dalam hidupnya, yang memiliki hak atas dirinya, mempelajari pemikiran dan pandangan mereka, kemudian meyakinkan mereka baik pikiran maupun perasaannya akan pentingnya kewajiban yang dia miliki. Seiring dengan hak pasangan, anak dan orang tua, penting untuk menjelaskan sejelas mungkin bahwa Allah, agama dan Al-Qur’an juga mempunyai hak atas diri seseorang. Jika seseorang dapat mempertahankan kesepahaman mengenai masalah ini dengan orang-orang di sekitarnya, maka hal ini akan memungkinkan terlaksananya tugas-tugas yang harus dilakukan  tanpa adanya hambatan yang disebabkan perkataan dan respon negatif dari lingkungan keluarga, ataupun orang-orang terdekat kita.

Bayangkan seseorang yang telah meyakinkan dirinya bahwa dia harus mengorbankan satu bagian penting dari waktunya untuk mengagungkan nama Allah dan memiliki keyakinan yang kuat mengenai hal ini. Bayangkan orang tersebut adalah orang yang telah menginternalisasi idealisme ini hingga dalam menunaikan memenuhi tugasnya dia rela mengorbankan segala sesuatu yang sebenarnya juga adalah haknya. Namun, jika mereka yang berbagi kehidupan bersama orang tersebut tidak menyadari hak Allah dan urgensi menggemakan Nama-Nya di seluruh penjuru dunia, tidak memahami fakta bahwa agama ini merupakan warisan yang dipercayakan pada kita dan memerlukan usaha yang konsisten untuk memperjuangkannya, serta tidak memahami pentingnya tugas untuk mengembalikan benteng spiritual yang telah rusak selama berabad-abad, dari esensi hingga detail-detailnya, maka mereka tidak akan mau berjalan bersama dirinya. Orang tersebut, karena hal ini, perlu memberikan suatu usaha ekstra untuk dapat berjalan bersama mereka. Kalau tidak, hal ini akan menghasilkan suatu kelelahan dan kejenuhan dalam perjalanan kehidupannya.

Jika orang tersebut dapat membuat mereka percaya pada idealisme yang dia miliki, kemudian bisa berbagi perasaan dan pemikiran yang sama, serta mampu  menggugah perasaan untuk memperjuangkan pelayanan yang dia lakukan, maka dia akan benar-benar dimudahlan dalam penunaian tugas dan pengelolaan waktunya. Ketika dia tidak memenuhi kewajiban yang harusnya dia penuhi, misalnya dia tidak menghadiri sebuah rapat atau program baca buku yang harusnya dia hadiri, dia akan memperoleh teguran pertama kali dari orang-orang tersebut (dari istri atau ibunya), hal yang akan menjadi penguat motivasi bagi dirinya.

Sebaliknya, jika pasangan kita, anak-anak kita atau orang lain yang hidup bersama kita tidak memahami pengelolaan tugas yang kita miliki serta urgensi dalam melaksanakannya, maka munculnya suatu konflik dalam pemikiran dan perasaan tidak dapat terhindarkan, dan hal ini dapat menghambat pertolongan Allah untuk diri kita, karena petunjuk Yang Agung  serta pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta’ala  datang dari persatuan dan kesatuan. Jika kau berharap Allah Subhanahu Wa Ta’ala  akan menyukseskanmu, kamu pertama-tama harus menjaga kesatuan dan persatuan dengan orang-orang di sekitarmu, tak peduli bagaimanapun keadaannya.

Mengorbankan Waktu Extra untuk Hizmet

Hal lain yang mesti diperhatikan di sini adalah durasi dari waktu yang kita alokasikan untuk penunaian idealisme luhur ini. Jika seseorang dengan serius menyisihkan tujuh hingga delapan jam untuk bekerja menggunakan logika pekerja biasa, apa yang akan dia lakukan untuk idealisme hizmetnya akan terhambat oleh sempitnya logika tersebut. Jika seseorang mengemban tiga hingga empat tanggung jawab untuk idealismenya dan jika mengerjakannya membutuhkan waktu sekitar 13-15 jam, maka orang tersebut harus mencoba memenuhinya dengan suatu manajemen tugas yang lebih efektif. Perlu dipertimbangkan bahwa di satu sisi dia harus menyerahkan waktunya sebanyak mungkin untuk menghambakan diri pada Allah Subhanahu Wa Ta’ala  tanpa membuang satu detik pun dari waktunya, namun di sisi yang lain dia juga harus berusaha untuk menggunakan waktunya seefektif mungkin dengan menentukan apa yang harus dia selesaikan dalam suatu urutan skala prioritas tertentu.

Khususnya pada zaman sekarang ini, seiring dengan adanya tugas untuk memperbaiki benteng spiritual yang telah rusak selama berabad-abad, orang-orang yang memutuskan untuk melayani Al-Qur’an dan keimanan harus memberikan pengorbanan yang lebih dari pengorbanan yang telah dilakukannya selama ini dan harus bekerja lebih giat lagi. Mereka haruslah membuat suatu resolusi dalam bekerja yang harus dilaksanakan dengan konsisten. Sebagai contoh, seseorang berkata bahwa dia dapat meluangkan 12 jam sehari untuk melayani masyarakat, orang yang lain mengambil tugas 13 jam sehari dan yang lain berjanji untuk bekerja 14 jam di jalan Allah setiap harinya. Secara singkat, barang siapa dengan kerelaan hati  meyakinkan diri untuk menginfakkan berapapun jumlah waktu yang dimilikinya untuk menyelesaikan suatu tugas, dia akan merancang dan menggunakan waktu tersebut dengan orientasi Hizmet dan berusaha keras untuk memenuhinya secara konsisten. Hal ini merupakan suatu pemahaman yang dimiliki orang-orang yang benar-benar beriman. Jika konsep bekerja ini tidak dilakukan, berarti aspek pengamalan Islam yang satu ini tidak dipahami dengan baik.

Meskipun mampu melakukannya, jika sejumlah orang tidak menginfakkan waktunya untuk melayani iman sesuai yang diharapkan dari mereka, maka mereka sangat perlu untuk diyakinkan kembali. Merupakan hal yang amat penting untuk mencapai suatu kesepahaman dengan orang-orang tersebut mengenai masalah ini. Namun, tak seorang pun boleh membuat pelanggaran akan suatu hak setelah adanya kesepakatan atas sebuah topik tugas. Setiap orang haruslah sangat teliti dalam memenuhi kewajibannya, hingga dengan pasangan dan anak-anaknya mereka tidak saling melanggar hak masing-masing; begitu juga dengan yang terjadi antara pekerja dan atasannya, tidak boleh ada ketidakadilan dan tidak boleh ada kewajiban yang terlanggar.

Ketika berbicara tentang jam kerja, jika kita bertindak dengan logika pekerja yang lebih sederhana, yaitu memanjakan diri setelah tujuh hingga delapan jam kerja, makan dan jalan-jalan sesuka hati, atau duduk diam menghabiskan waktu, atau sibuk menikmati hiburan dan games, atau bahkan ikut serta dalam suatu aktivitas duniawi yang merusak, maka kita sebenarnya tidak memahami betapa pentingnya  masalah ini. Seseorang yang berkelakuan dan bermental seperti itu tidak akan mampu untuk bahkan melakukan sepersepuluh dari apa yang seharusnya dia lakukan untuk kebaikan  umat manusia. seseorang dengan pemahaman yang semacam  itu tidak akan  ragu untuk berlibur ataupun pulang kampung kapanpun  ia inginkan. Ia justru akan pergi ketika ada suatu permasalahan penting yang harus diselesaikannya, hingga akhirnya mengacaukan tanggung jawab krusial yang sedang menunggunya.

Ini bukanlah suatu pemahaman akan penunaian tugas yang diharapkan dari seorang relawan Hizmet. Mereka mencoba untuk memenuhi tanggung jawab mereka dalam melayani keimanan, dan mereka tidak akan pergi di tengah jalan saat melaksanakan tugas yang telah mereka mulai. Begitu juga, ketika mereka gagal untuk memperhatikan hak-hak pasangannya, anak-anaknya dan keluarganya, mereka akan segera memperbaikinya, mencoba untuk memperoleh kembali hati dari orang-orang yang berpikir bahwa mereka telah ditelantarkan. Sebagai contoh, kadang mereka datang di hadapan mereka dengan sepaket bunga mawar, menjelaskan alasan kenapa mereka terlambat dan ketika datang suatu kesempatan mereka langsung memenuhi janji-janji yang mereka punya, serta mengganti kesalahan dan keteledoran yang dilakukan tanpa disengaja.

Karena itu, pasangan harus bertindak dengan penuh toleransi terhadap satu sama lain pada keterlambatan yang diakibatkan oleh penunaian beberapa tugas yang perlu untuk dipenuhi. Janganlah sampai terlupakan bahwa selama masa penantian tersebut, setiap jam, menit dan bahkan detik akan dihitung sebagai pahala ibadah bagi mereka yang sabar menunggu; tentu saja, penantian tersebut merupakan suatu pengorbanan yang serius. Setiap pasangan tentulah saling membutuhkan satu sama lain. Ada hal-hal yang perlu utuk didiskusikan bersama pasangan. Meskipun memerlukan kehadiran pasangan di rumah, detik-detik dari seorang yang beriman yang digunakan untuk menunggu pasangan yang sedang bekerja dalam rangka melayani iman tanpa disadari dapat menjadi tahun-tahun penghambaan yang berharga karena nilai dari niat seorang yang beriman jauh lebih baik daripada perbuatannya. Sembari pasangannya sibuk dengan perbuatan yang penuh kebajikan dia memberikan dukungan baik material maupun spiritual pada pasangannya tersebut, kemudian dengan izin Allah, mereka berdua menjadi sosok-sosok yang berhak atas  pahala agung dikarenakan kesabaran dan amalan-amalan lainnya tersebut.

Referensi :

[1] Manusia  yang mempertimbangkan idealisme tinggi.

[2] Majelis agung tempat dimana ruh para nabi-nabi dan para malaikat agung berada.

[3] Sahih al-Bukhari, Adab, 86.

Mengembangkandiri.com (2)

BERJALAN DI TAMAN SURGA

Ditulis oleh Fethullah Gülen Diterbitkan pada Makalah.

Mataku terpejam, ku bayangkan masa depan bahagia kan terbentuk di “tanah harapanku”. Keindahan di setiap jenis yang keluar dari sudut eksistensi yang berlari melalui rumah-rumah dan jalanan, juga melalui lembaga-lembaga pendidikan dan sholat kita. Merefleksikan kembali pada kamar-kamar di dalam rumah kita, mereka adalah sampul kita yang dibanjiri cahaya. Dikombinasikan dengan warna, cahaya ini membentuk pelangi, yang ketika saya berjalan di bawahnya terus-menerus men-set-up mata dan jiwa saya sebagai lengkungan dari kebahagiaan akhirat. Meski kita berada di lapisan kedua di bawah lengkung buatan manusia, tampaknya kita tidak mungkin melewati bagian bawah lengkung surgawi (naik) atas kita. Saat kita berjalan di bawahnya, kita merasa bersatu dengan semua kehidupan kita dalam aliran tanpa batas dari sebuah eksistensi. Mengalir kembali pada hiburan yang kita tonton setelah berhenti sejenak pada kedua sisi untuk menyapa kita, dan kemudian diganti dengan yang baru. Kita terpesona dengan aliran baru yang datang dari kesenangan material dan keintiman antara mereka dengan kita.

Pepohonan bergoyang lembut bersama angin, bukit berwarna hijau dan bercahaya, domba merumput di sini dan melompat ke sana kemari sambil mengembek, dan desa-desa di lereng-lereng, dataran-dataran dan lembah berserakan. Kita amati dengan riang bagaimana semua ini berkontribusi pada keharmonisan universal, dan komentar yang satu ini tidak akan cukup mampu bagi usia kita untuk dapat menghirup semua kesenangan ini. Warna-warni lampu dan suara, aktif melompat dari perasaan eksistensi, yang tercermin dalam dunia emosi kita. Kita merasa seolah-olah kita mendengarkan lirik yang terdiri dari lamunan kenangan manis yang mengalir dalam gelombang. Kita telah menyerap luas Kitab Alam, yang membangkitkan dalam diri kita kesenangan spiritual Surga dan Bumi beserta semua isinya. Buku ini mengisi kita dengan kenikmatan dan kegembiraan yang tak terlukiskan, dan mengangkat kita ke alam yang lebih tinggi dari keberadaan.

Setiap musim baru, kita menemukan diri kita seolah-olah terbangun dari tidur kematian dan menghadapi berbagai warna yang berbeda mulai dari ungu ke hijau. Kita serasa membelai angin untuk menebarkan aroma bunga, buah-buahan dan biji-bijian telinga. Ini kacamata luar biasa, yang tersimpan di dalam rasa jiwa keindahan, bahkan untuk memberikan beberapa bantuan mereka pesimis selalu melihat segala sesuatu melalui jendela jiwa yang gelap dan kewalahan dengan pikiran yang jahat dan penuh kecurigaan. Sebagai orang yang beriman, waktu mengalir di dalam mereka dan melodi hidup bergema di setiap sel mereka. Pagi hari datang kepada mereka dengan lagu-lagu lembut bak angin bertiup melalui daun pohon, sungai bergumam, burung berkicau, dan teriakan anak-anak. Matahari terbenam di cakrawala mereka, membangkitkan di dalamnya perasaan memiliki yang berbeda dari cinta dan kegembiraan. Malam membawa mereka, di berbagai lapangan musik, melalui terowongan waktu misterius dan kacamata alam yang paling romantis.

Setiap tontonan yang kita amati dalam cakrawala keyakinan dan harapan, dan setiap deru suara yang kita dengar, Menghapus dari jiwa kita dan membawa kita melalui semua kerudung waktu lembah yang bercahaya dan lembut, murni dan tenang, menyenangkan firdausnya dimanapun tak terhingga. Kedamaian ini menarik kita ke dunia tarik-menarik, setengah terlihat, setengah tidak, yang telah lama kita tonton dengan mata hati kita, seolah-olah itu dari balik tirai renda. Pada titik ini, ketika roh terpesona dengan kesenangan, mengamati, lidah diam, mata terpejam, dan telinga tak lagi menerima suara. Semuanya menyuarakannya dengan lidah hati. Pikiran murni dan ungkapan perasaan sukacita dan kegembiraan menyelimuti sebagian orang, dan dalam menghadapi kacamata yang seperti menyilaukan itu, semangat merasa seolah-olah berjalan diantara kebun surga.