mengembangkandiri.com feather-g8127c7e69_1920

AKTIVASI MEMBACA

Pertanyaan: Penghormatan terhadap “Gerakan Hati” terlihat meningkat berlipat ganda dari hari ke hari di seluruh penjuru dunia. Dari segi ini hal apa saja yang sebelumnya harus dianjurkan guna tidak membuang kesempatan yang ada dan mempersiapkan kebahagiaan dunia-akhirat seorang lawan bicara?

Jawaban: Esensinya perluasan geometri dewasa ini menjadi pokok pembicaraan. Pribadi kita dalam kondisi sudah mencapai ke 150-160 negara di seluruh wilayah muka bumi. Layaknya hampir tidak ada suatu tempat yang kalian tidak perdengarkan hempasan suara kalian. Sebagai pengutaraan nikmat bisa dikatakan bahwa, kita mendapatkan penghargaan anugerah yang serupa dengan anugerah yang dimuliakan kepada para sahabat. Secara mutlak bahwa skema ini, seutuhnya merupakan sebuah anugerah dan karunia Allahﷻ.

Mengapa anugerah dan karunia ini -diberikan- kepada kita, kita tidak tahu?

Insyallah ini bukanlah sebuah istidraj; ialah bukan karena secara hasil tidak memikat hati kita begitu mengarahkannya kedalam kebanggaan diri.

SEBUAH AKTIVASI RUH YANG BARU  

Berlawanan dengan ukuran ini yakni perluasan geometri saat ini, jika kuantitas dan kualitas orang-orang yang akan melakukan bimbingan masih dalam kondisi matematis (masih bisa dihitung), ketika itu rasa cinta dan kerinduan akan sebuah aktivasi baru dalam hati mereka perlu dihias kembali saat meninjau kondisi yang ada, sama seperti teman-teman di awal tahun 90-an yang mengorganisir kolonisasi ke luar negeri begitu menuturkan pahala hijrah. Al-Quran berpesan وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ “Orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah,” menunjukkan kepada kita tujuan ini. Yakni, orang-orang mendapatkan sebuah nilai di sisi Allahﷻ dengan berhijrah. Setelah itu saat mengungkapkan inilah hak sebuah perjalanan hijrah, mereka berjuang di jalan untuk mempertemukan kembali hati orang-orang dengan Allahﷻ begitu menyisihkan hambatan-hambatan yang berada diantara Sang Pencipta dengan hambanya di tempat mereka berhijrah. Oleh karena itu, berhubungan dengan adanya perluasan geometri, merunduk kedalam kehidupan kalbu dan ruh dengan bimbingan yang akurat sama seperti di Periode Kebahagian, kerja keras dalam poin untuk mengarahkannya secara langsung kepada Allahﷻ dalam orbit kalbu dan ruh begitu menggeliat dari kejasmanian, mengeluarkannya dari perihal hewani merupakan hal yang sangat penting. Di masa terakhir sahabat, di awal periode tabiin beberapa pendatang baru yang masuk Islam karena tidak mampu menelaah ruh agama menyebabkan keluarnya aliran seperti Khawarij, Rafidhi dan Batini. Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam ketika mengungkapkan kondisi ini, bersabda; “Akan keluar suatu kaum dari umatku, mereka membaca Al-Quran, bacaan kamu dibandingkan dengan bacaan mereka tidak ada apa-apanya, demikian pula shalat dan puasa kamu dibandingkan dengan shalat dan puasa mereka tidak ada apa-apanya. Mereka membaca Al-Quran padahal yang mereka baca tidak sampai ke tenggorokan, mereka lepas dari Islam sebagaimana melesatnya anak panah dari buruannya.”

Kalian juga bisa berpikir dalam makna ini untuk periode kalian sendiri yang diungkapkan didalam Hadits Syarif. Beberapa orang bisa jadi dahi dan lutut mereka berbelulang karena sholat; tetapi karena tidak mampu sampai kedalam intisari pemahaman hakikatnya mereka tidak bisa lepas dari ifrath dan tafrith. Berlawanan dengan tampilan mereka layaknya mendekatkan diri secara hakikat kepada Allahﷻ dengan tenangnya, mereka mampu mengatakan kafir kepada para paduka seperti Abu Baqar Ash Shidiq, Umar bin Khatab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib yang Rasullah Shallallahu Alaihi Wasallam limpahkan kabar gembira dengan Surga. Lihatlah bagaimana mereka berada dalam sebuah kontradiksi. Rasullullah Shallallahu Alaihi Wasallam yang kalian kaitkan kedalam agama memberikan kabar gembira -kepada- sepuluh orang dengan Surga, tetapi beberapa menggerutu akan mereka dengan keluhan yang mampu membuat bulu kuduk merinding begitu melontarkannya. Ini merupakan sebuah kejahilan yang bersumber dari ketidaksadaran akan ruh dan intisari agama serta ketidaktahuan akan masalahanya.

Oleh karena itu, ketika sebuah ruh aktivasi yang kedua kembali dipaparkan, supaya tidak terjerumus kedalam deformasi dan perubahan dalam perbedaan kultur dan pemahaman, kita harus mencari celah menumbuhkan insan kamil. Untuk itu yang pertama, individu yang bisa kita katakan sebagai mursyid dan pembimbing harus mengetahui dengan baik Al-Quran dan Sunnah yang merupakan sumber utama agama. Pada waktu yang sama mereka harus mengetahui lawan bicara yang berada di tempat mereka pergi dengan skema karakteristik dan garis dasar mereka. Disamping ini semua, dalam ukuran tertentu mengetahui akan ilmu sains, yakni sedikit banyak mereka harus meneguk ilmu-ilmu seperti fisika, kimia, matematika dan antropologi. Ya, seorang insan yang akan menjadi pembimbing, harus pergi sebagai seorang individu yang terdidik secara sempurna ketempat ia pergi. Mereka yang pergi sebagai perintis telah pergi dengan iman yang murni, nyata dan tulus dan dengan inayah Allahﷻ menjadi wasilah untuk banyak kebaikan. Namun setelah ini ketika terbuka ke seluruh penjuru dunia maka akan di perlukan sebuah kedalaman, keluasan dan atribut yang berbeda.

YANG MEREKA JANJIKAN DARI MEMBACA DENGAN BERTUKAR PIKIRAN

Ketika karya-karya tuntunan yang kita miliki dibaca untuk kedalaman, keluasan dan atribut ini bukan seperti adat/kebiasaan, melainkan dengan perspektif yang komparatif dan analitik, kita harus membacanya dengan kegigihan dan kerja keras untuk sampai kedalam analisis dan sintesis yang baru.

Lihatlah akan sejarah tafsir; dari hari Al-Quran turun hingga sekarang terdapat banyak tafsir yang telah ditulis, terdapat banyak hasyiah yang disusun. Ya, tafsir yang ditulis tentang Al-Quran kini sudah sampai hingga ribuan jilid. Di satu sisi setiap mufassir yang merupakan “ibnu zaman” sambil memperkukuh tafsiran yang ia ilhamkan sesuai dengan kondisi di masanya berkata, “Dari ayat ini dipahami seperti itu, sampai kedalam kesimpulan yang seperti itu.” ; mengatakannya dan demi pemahaman Al-Quran menawarkan beberapa inisiatif yang baru. Jika kita sudah pernah memadukan beberapa tafsir yang berbeda, kita akan melihat perbedaan ini. Misalkan Razi, menafsirkan sebuah ayat, tetapi Zamakhsyari mengutarakan sebuah makna yang berbeda darinya. Sedangkan al-Bayzawi mengambilnya dengan analisis yang lain. Meskipun biasanya Abu Suud bertopang kepada al-Bayzawi, ia juga memiliki tafsiran khasnya sendiri. Yakni tafsir Al-Quran terus berlanjut tanpa henti hingga ulama Hamdi Yazar yang ada di abad ini dan secara pasti akan terus berlanjut setelahnya. Kita semua harus bergerak dengan cara pandang ini dan kita harus menumbuhkan insan-insan yang membaca dengan baik buah -yang diperoleh dari- eranya, yang sanggup sampai kedalam determinasi dan analisis yang berbeda, yang mampu melihat kedalam makna dengan lebih luas, lebih merangkul dan lebih tajam. Karena para pembina ini akan berhadapan dengan anak-anak dalam atmosfer kultur yang berbeda. Oleh karena itu seorang manusia, jika tidak memiliki persiapan dan berkapasitas terhadap permasalahan beragam yang pemahaman dan kultur itu lontarkan kehadapannya maka ia akan terkena pukulan knockout.

Oleh sebab itu kita mengatakan bahwa, Allahﷻ bisa saja menganugerahkan wasilah yang berbeda yang kalian dapat suarakan petunjuk hati kalian ditempat yang dituju. Tetapi kalian, ketika mengevaluasi wasilah ini, petunjuk ruh kalian, bukan menurut Turki dan kondisi kultur kalian, melainkan harus menyuarakannya menurut kondisi kultur yang kalian pijak didalamnya. Menunjukkan bahwa perlunya pembimbing yang mampu melihat benda dan peristiwa secara lebih komperehensif, yang bisa merangkul lawan bicara lebih luas, yang memiliki hati nurani yang lapang. Untuk memenuhi kebutuhan ini harus dimulai kembali aktivasi membaca dan berpikir.

Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam mendekati permasalahannya dengan kosa kata “tadzakur.” Makna kosa kata ini ialah bertukar pikiran atas beberapa permasalahan dengan keikutsertaan paling sedikit dua atau lebih orang. Dari segi ini Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mengungkapkan juga apakah orang-orang yang berada dalam tukar pikiran akan terangkul dengan rahmat ilahi begitu membentuk halaqah diantara mereka dan ditempatkan di bawah perlindungan. Di sisi lain Ia Shallallahu Alaihi Wasallam memberikan kabar gembira, untuk majlis yang seperti ini لَا يَشْقَى بِهِمْ جَلِيسُهُمْ “Tidak akan rugi orang-orang yang bermajelis dengan mereka.” Yakni mau tidak mau sesuatu dari kelompok masyarakat mampu tercampur ke semua yang berada dalam majlis tersebut, masuk kedalam kepala atau kalbunya. Mungkin juga individu tersebut masuk dengan pertimbangan duniawi kedalam perhimpunan tersebut, berupaya untuk mengikat dan memutuskan beberapa manfaat material. Tetapi sambil bertukar pikiran bersama orang-orang itu sesuatu pun akan tercampur kedalam dirinya. Lebih tepatnya individu tersebut, akan merasakan celupan perhimpunan. Satu kuas Syakhsiah Ma’nawiyah pun terambang kepadanya dan dengan ini ia pun akan tercelup dengan celupan ma’nawiyah. Dari segi ini dengan pertolongan dan anugerah Allahﷻ, para mursyid dan pembimbing, dengan wasilah bertukar pikiran, harus ditunjukkan kedalam tingkatan untuk mampu meletakan jalan keluar setiap permasalahan, mencari solusi setiap persoalan, menjawab setiap pertanyaan.

Namun sayangnya kini kita sebagai masyarakat menjauh dari metode membaca seperti ini. Bahkan kalamullah Al-Quran pun menjadi korban kebiasaan, habituasi dan keteledoran. Mungkin ia, tertata dalam sarung beludru di samping tempat tidur kita. Bangsa kita memiliki sebuah rasa hormat dan takzim yang mutlak seperti ini terhadapnya. Aku pun mengapresiasi rasa hormat tersebut. Namun kini orang-orang kita tidak mengetahui akan maknanya. Sedangkan itu adalah sebuah pesan yang datang dari Allahﷻ kepada kita. Namun sayangnya, kita tidak berusaha untuk memahaminya begitu berkata: “Kira-kira dalam pesan ini apa yang diinginkan Allahﷻ dari kita?.” Kita menjadi asing seperti ini terhadap kitab kita sendiri. Ya, kebiasaan dan habituasi telah membutakan mata kita, tidak mengetahui makna kitab agung kita, hanya mencukupi dengan sebuah rasa hormat yang datar seperti ini. Aku sampaikan kembali bahwa aku pun mengapresiasi rasa hormat yang seperti itu. Namun rasa hormat yang sebenarnya akan terwujud dengan menyelusuri ruh, makna dan intisarinya.

Di era ini, bisa dikatakan bahwa kita pun merasakan kebutaan yang sama terhadap karya-karya yang menggambarkan kepada kita akan hakikat Al-Quran dan Sunnah. Melakukan pelajaran secara rutin begitu mengambil salah satu dari karya-karya tersebut pada waktu subuh, tidaklah cukup guna memahaminya. Hakikat yang seharusnya ialah melihat kedalaman hikmah pemikiran dan pemahaman yang dikemukakan dalam karya-karya tersebut dan berusaha untuk memahaminya dengan cara melakukan perbandingan dengan bahasan yang lain. Misalkan kita bisa melakukan interpretasi komparatif dalam ukuran sanggup mengatakan “Imam Ghazali di topik ini mengatakan seperti ini, tetapi Bediüzzaman Said Nursi mendekatkan permasalahan ini dengan sudut pandang yang berbeda” dan meningkatkan sebuah sistem interpretasi yang baru. Pikirkanlah, karya yang memiliki nilai yang agung ini, pertama kali di periode kalian mendengarnya bagaimana ia menggugah perasaan hati kalian, memacu dan menggerakkan kalian? Namun apa yang telah terjadi sehingga karya-karya itu berubah menjadi layaknya sebuah adat? Padahal karya-karya ini yang merupakan kebutuhan pokok bak roti dan air seharusnya diambil lebih dalam lagi dengan sudut pandang yang berbeda, bahkan harus berusaha juga untuk menangkap cakrawala yang ia tunjukkan begitu merasa tidak cukup dengan yang ia ungkapkan; meningkatkan cara membaca dengan analisa dan sintesis saat berusaha.

KEDALAMAN YANG BERBANDING LURUS DENGAN PERLUASAN

Kita membutuhkan pembimbing dan mursyid yang mampu menerangi jalan kita saat membaca karya-karya dalam metode dan keluasan ini yang sebanding dengan perluasan geometri. Sedangkan ketika kita mencukupi dengan kondisi matematis, karena tidak adanya penyaluran (bimbingan) yang serius bisa jadi terbentuk banyak sekali kerusakan. Bahwasanya kerusakan yang sering keluar pun secara prinsip bersumber dari kealfaan akan kerja keras untuk membaca dengan sungguh-sungguh akan intisari dan perolehan nilai-nilai pribadi kita. Terpaku terhadap simbol dan bentuk, bersandar hanya kedalam lapisan luarnya saja, merupakan perkara pokok yang terletak di dasar permasalahan yang seperti ini. Ustad Said Nursi, membaca 115 kali Risalah Ihlas yang ia tulis sendiri. Seorang profesor sambil menyatakan keheranannya berkata: “Apakah mungkin seorang manusia membaca karya yang ia tulis sendiri sebanyak ini?” Menurut saya karya itu harus dibaca, jika memang ia mengimplementasikannya sebanyak itu. Ustad Said Nursi, di setiap membacanya, terbuka kedalam cakrawala lain dengan mawarid dan mawahib (pemberian dan anugerah Allahﷻ) yang lahir kedalam hati dan mengitari layar kedalaman yang berbeda. Namun sayangnya, meski terdapat kesempatan yang luas saat ini, saya merasa bahwa kita tidak sanggup membaca dengan sudut pandang yang tajam dalam keluasan “Topik ini disana dibahas seperti ini. Sedangkan ditempat yang lain dalam bentuk rangkuman mengemukakannya seperti ini. Diantara yang disana dengan yang disini memiliki hubungan yang seperti ini.”

Kini sebagai masyarakat, kita membutuhkan mursyid dan pembimbing yang menjadikannya sebagian dari tabiatnya sambil memasukkan, menyerap dan mencerna karya-karya yang telah dilakukan penafsiran dan penjelasan dalam esensi yang khas baik itu menurut Al-Quran, Sunnah atau era kita. Jika tidak, ketika di satu sisi terwujud perluasan dengan kecepatan akhir, di sisi lain kita berhadapan dengan lima puluh permasalahan yang berbeda di lima puluh tempat dalam bentuk yang tidak kita tunggu. Kali ini kalian akan berpikir bagaimana menyelesaikan permasalahan itu, menghabiskan energi kalian dengan hal tersebut dan mungkin sebagian besar tidak akan mampu untuk mencari solusinya.

Ya, saya ungkapkan sekali lagi bahwa, sepanjang sejarah, orang-orang yang belum terdidik matang selalu mengeluarkan masalah. Ribuan Khawarij memiliki anggapan menurut mereka sendiri begitu berpadu. Ketika Ibnu Abbas yang dimuliakan dengan julukan ulama ummat berkata saat pergi kehadapan mereka “Kalian mengklaim seperti ini namun masalah yang sebenarnya ialah seperti itu” ratusan dari mereka menjawab, “Benarkah? Kita tidak pernah memahami permasalahannya seperti ini!.” Mungkin ada beberapa diantara mereka ini yang sholat seratus rakaat setiap hari, menghatamkan Al-Quran dalam waktu tiga hari. Namun orang mereka memandang kafir para sahabat seperti Ali bin Abi Thalib, Muawiyah, Amr Ibnu Ash.

Topik yang perlu diketahui oleh setiap orang jika tidak diketahui dengan benar dan utuh dan jika tidak berjalan menurut maklumat yang benar itu dapat keluar sebagai masalah setiap saat. Dalam kondisi ini kuantitas akan menunjukan perkembangan meskipun serampangan dan hafidzanallah permasalahan akan masuk kedalam sebuah titik yang mana mengharuskan kalian mengatakan “Seandainya tidak terdapat sebuah perkembangan kuantitas dalam ukuran ini!.” Oleh karena itu untuk tidak memberikan celah kepada orang lain, kalian perlu mengetahui hal-hal yang harus kalian ketahui, membangkitkan kedalam kehidupan kalian sesuatu yang seharusnya kalian bangkitkan. Ketika kalian menunaikan sholat kalian harus menunaikan dalam tamkin (mencapai ketenangan) dan kesadaran berada dihadapan Allahﷻ; ketika kalian bersujud hati kalian harus mendidih layaknya panci panas yang mendidih.  Orang-orang harus melihat kalian seperti itu; berkata “Mereka ini benar-benar orang yang beriman dari dalam hati kepada Allahﷻ,” dan mengagumi sholat kalian. Secara pasti kita tidak melakukan ini semua supaya mereka mengatakannya. Tetapi kita harus menjadikannya salah satu dari tabiat dan kedalaman kita. Oleh karena itu ketika orang-orang mengetahui banyak akan kedalaman dan kuantitas ini yang dijadikannya sebagai tabiat, layaknya terperangkap ke dalam jazibah kudsiyah (tarikan suci) mereka akan mengatakan “Inilah sesuatu yang aku cari, aku telah menemukan yang aku cari!”

Akhirnya disamping kecerahan pikiran, kejernihan dan pengungkapan permasalahannya dengan benar, daya tarik yang ada dalam tamsil (contoh) memiliki pengaruh dan kedalaman tersendiri. Dari segi ini ketika memulai aktivasi yang baru atas nama kemanusiaan, kita harus berdedikasi dengan penuh semangat layaknya baru memulainya kembali secara dunia ruh dan alam jiwa begitu berkata “Bismillah.” Keidealan ini, ketika dimisalkan dalam contoh Hulusi Efendi, Hafiz Ali dan Husrev Efendi, orang-orang yang melihatnya akan datang sambil berlari dan seorang yang datang pun tidak akan pergi begitu berpaling. Kita harus tahu bahwa orang-orang yang pergi begitu berpaling, pergi karena tidak menemukan yang mereka cari. Yakni dia akan masuk kedalam pertimbangan “Mengapa saya harus membuang waktu dengan sia-sia? dan menjauh. Oleh karena itu meski diri kita dan hawa nafsu, dalam topik ini yang seharusnya kita lakukan ialah harus hidup untuk menghidupkan, bangkit begitu jatuh dan sepanjang hidup meletakkan kerja keras dan harapan yang sungguh-sungguh.

(Diterjemahkan dari artikel “Okuma Sefebirliği” dari buku Kırık Testi 11; Yaşatma İdeali)

mengembangkandiri.com pexels-miguel-á-padriñán-194094

INTENSITAS DAN KASIH SAYANG DALAM KEPEMIMPINAN

Pertanyaan: Jika seorang pemimpin memiliki sifat yang lembut dan fleksibel, terlihat bahwa orang-orang akan mudah berpadu dengannya, namun mereka bisa saja menyikapinya tanpa ada rasa kerja keras yang disiplin; sedangkan jika memiliki sifat yang keras mereka akan bekerja dengan serius tetapi kali ini mereka tidak dapat mencurahkan rasa kasih mereka terhadap atasan, merubahnya kedalam kondisi ruh yang kaku dan mudah tersinggung. Sikap yang bagaimana dalam situasi ini yang seharusnya dilakukan oleh seorang pemimpin yang ideal?

Jawab: Kepemimpinan, merupakan sebuah tugas dan tanggung jawab yang pertama kali dimulai oleh ayah dan ibu, yang kemudian berlanjut sesuai usia dalam keluarga, yang nantinya akan kita jumpai dalam hampir setiap tahapan kehidupan. Untuk itu, sama halnya kepala sekolah yang ada di sekolah, guru yang ada di kelas, komandan yang ada di barak, direktur yang memberikan pekerjaan di pabrik; seseorang yang memiliki tanggung jawab yang berkaitan dengan individu juga merupakan pemimpin. Namun kepemimpinan, apalagi sebuah kepemimpinan yang adil bukanlah pekerjaan yang mudah seperti yang dibayangkan; merupakan hal yang benar-benar sulit dan secara hakikat jumlah orang yang berhasil dalam kepemimpinan sangatlah sedikit.

‘GILA’ ATAU SOSOK JAWARA DALAM PEKERJAAN?

Untuk sebuah kepemimpinan yang ideal, memiliki etika kerja yang tangguh dan bergerak dengan disiplin sangatlah penting. Namun sifat ini tidak cukup untuk sebuah kepemimpinan yang sempurna di level yang diinginkan. Misalkan ada beberapa orang yang bertugas sebagai pemimpin yang telah mendedikasikan dirinya dalam pekerjaan dan menunaikan tugasnya dengan kedisiplinan tinggi. Ia menjalankan tugas selama dua puluh jam, bahkan begitu pergi ke rumah, ia pun masih melakukan hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaannya.

Namun sayang, manusia-mansuia semacam ini justru dianggap sebagai orang yang gila kerja oleh lingkungannya. Ia merasa terganggu dan terasingkan dengan kondisi ini. Padahal seseorang yang bekerja keras untuk sebuah keidealan yang agung, berambisi dan gemar terhadap pekerjaan yang ia lakukan, bahkan menjadikannya tergila-gila akan pekerjaan tersebut bukan merupakan hal yang seharusnya dikucilkan begitu dianggap sebagai sifat yang negatif. Ya, yang bekerja keras siang-malam untuk menunaikan tugas yang ia ambil dalam bentuk yang paling sempurna, layaknya meniadakan dirinya dalam pekerjaan itu, orang-orang yang menghabiskan waktunya supaya tidak terwujud kerusakan di lingkup tanggung jawab yang ia jalani dan agar tidak merasakan kegagalan bukanlah seorang yang gila kerja, mungkin harus dilihat sebagai jawara pekerjaan, -dengan kata lain- individu yang menjadi contoh dalam pekerjaannya.

Apalagi disaat keengganan dan kemalasan dalam menjalankan tugas menjadi trand topic pada masa ini, andai semua orang bisa menjalankan pekerjaan yang ia lakukan sambil memiliki etika kerja yang begitu luhur dengan kesensitifan yang penuh dan keseriusan yang tinggi, tanpa harus mengurangi hak orang tua, anak-cucu, dan semua orang yang berada pada tanggung jawabnya. Manusia semacam itu tidak bisa dikategorikan sebagai “gila kerja,” sebaliknya itu adalah sebuah ahlak agung yang dikhususkan kepada orang-orang yang luhur dan sifat mulia yang perlu diapresiasi.

Orang-orang yang memiliki ahlak mulia ini mereka begitu menghayati pekerjaannya itu, sehingga ia pun tak henti berpikir bahkan ketika ia wudhu atau melakukan istibra. Meski pun pertimbangan sejenis itu, dalam lingkup kebutuhan tersebut terlihat tidak sesuai, namun mereka memikirkan rencana dan projek yang berhubungan dengan pekerjaan itu guna tidak berdiam diri disana. Jika seseorang menyatu begitu tergetarkan jiwanya dengan pekerjaan -apalagi jika pekerjaan tersebut berkaitan dengan sebuah keidealan agung dan luhur- yang ia pikul, orang itu akan menjalankan kehidupannya sibuk dengan mencari solusi permasalahan yang berhubungan dengan pekerjaan tersebut. Kalian dapat melihat seseorang yang seperti ini yang dimuliakan dengan etika kerja begitu membuang bagian “gila”nya, dengan pertimbangan sebagai pahlawan yang telah menyatu dengan tugasnya dan kalian dapat mengungkapkan kondisi ini dengan perkataan “Sungguh merupakan sebuah karakter yang mulia, sebuah sikap yang luhur!.”

METODE PERSUASI DAN KESAMAAN DERITA

Namun pemimpin yang sebenarnya bukanlah seseorang yang berjalan sendiri. Ia, adalah seseorang yang menempuh jarak  dengan orang-orang menurut kekuatan dan kesanggupan, kemampuan dan kapasitas mereka yang ada bersamanya, yang mengantarkan serta mengarahkan orang-orang yang ada dibelakangnya kedalam tujuan yang agung dan luhur, yang menggandeng saat membawa mereka dalam sebuah keistiqamahan tujuan. Ini pun akan terwujud dengan penyampaian seorang pemimpin kepada pemikiran orang-orang yang berada bersamanya, masuk kedalam hatinya, menjelaskan deritanya dan pada akhirnya membuatnya menerima saat membujuk mereka kedalam pekerjaan yang mereka lakukan dan pentingnya pekerjaan tersebut.

Ya, pemimpin yang nyata menggetarkan jiwa yang ada dalam hatinya, dan menebarkannya kepada ruh orang-orang yang berada bersamanya, menanamkan kedalam pemikiran mereka dan menjadikan asas yang ia getarkan sebagai derita alam. Misalkan sambil berkata, “Allahﷻ telah memberikan kesempatan dan anugerah sebanyak ini kepada kita. Melimpahkan atmosfer pekerjaan yang indah seperti ini. Oleh karena itu yang layak kita lakukan ialah menggunakan kesempatan dan anugerah ini dengan sesuai tanpa harus menguranginya sedikit pun.

Jika saja kita tidak menggunakan kesempatan ini dan menyia-nyiakannya, apakah Allahﷻ tidak akan menanyakan satu per satu hisab ini semua kepada kita?

Bagaimana kita bisa bangkit dibawah tanggungan ini, bagaimana kita akan memberikan hisabnya?

Harus membangkitkan kesadaran lawan bicara dalam hal pekerjaan yang mereka lakukan, membuat mereka menerimanya begitu membujuknya. Dan juga, pesan yang ingin disampaikan hanya dengan menyampaikan satu kali seperti itu, bisa jadi tidak akan terpantul dalam hati mereka. Oleh sebab itu layaknya melakukan rehabilitasi, permasalahan harus diungkapkan berulang kali dengan metode yang sesuai.

Di sisi lain seseorang yang bertugas sebagai pemimpin, jika permasalahan ini dengan pengutaraannya sendiri mampu menjadikan sebab reaksi, ketika saat itu yang harus dilakukan adalah menemukan seseorang yang tidak akan memberikan reaksi kepada orang-orang itu, kemudian membiarkan orang tersebut menyampaikan perihal yang penting ini. Jika perlu dalam perihal ini berusaha mengadakan satu kali atau beberapa seminar, mengorganisir konferensi dan menjelaskan pentingnya permasalahan ini. Jika seorang pemimpin terus memegang satu sisi penekanan pada dirinya namun yang ada disampingnya selalu bersandar dibelakangnya, guna menjalankan pekerjaan dalam bingkai yang sesuai ia seharusnya memundakkan beban kepada orang yang ada bersamanya dan membawanya saat menariknya, ini pun setelah beberapa waktu berarti menjadikan pekerjaan tersebut tak dapat lagi dikerjakan. Oleh karena itu pemimpin, harus mengajak orang yang ada dibelakangnya untuk berlari, menanamkan kepada mereka perasaan dan pemikiran untuk menjadi pelari dalam sebuah maraton dan untuk itu harus menyediakan keberlangsungan sebuah pekerjaan dalam jangka waktu yang panjang dengan usaha dan kerja keras yang sama.

Seorang pemimpin untuk dapat mewujudkannya, jangan sampai memandang kecil dan rendah pendapat dan pemikiran orang lain serta harus mengapresiasi begitu menerima dengan bijak apa yang mereka lakukan, menghembuskan kerja keras dan gairah mereka. Misalkan, meskipun pekerjaan yang dilakukan tidak sesuai dengan yang diharapkan, dengan mengatakan; “Teman-teman! Saya berterima kasih atas kerja keras dan semangat yang telah kalian upayakan dalam perihal ini. Sebenarnya yang seharusnya dilakukan adalah hal lain tetapi apa yang kalian lakukan pun tidak mungkin untuk tidak diapresiasi,” harus mengetahui untuk meletakkan sebuah sikap yang struktural dan positif bahkan dihadapan banyak kekurangan. Dengan ini tidak mendorong adanya rasa tidak hormat dan reaksi orang-orang akan dirinya serta tidak sampai menjatuhkan wibawanya sendiri dihadapan mereka. Karena ketika seorang pemimpin selalu menyalahkan orang-orang yang ada bersamanya, akan memacu perasaan bersalah yang ada dalam diri mereka, menjauhkannya dari dirimu dan bahkan dapat mengarahkan mereka menuju jalan yang akan memutuskan hubungannya denganmu.

KASIH SAYANG YANG LEBIH LUAS DARI ORANGTUA

Seorang pemimpin yang hakiki, sifat-sifat yang satu sama lain dapat berkembang secara berkebalikan, yang terlihat kontras, di waktu yang sama adalah pahlawan keseimbangan yang menempatkan dirinya tepat di jalan tengah. Dari segi ini, disamping kesadaran yang luhur, keseriusan yang tinggi dan kedisiplinan yang matang, ia bersikap dengan cinta dan kasih sayang sedapat mungkin kepada orang-orang yang ada disekitarnya. Yakni, di satu sisi menjaga kedewasaan dan keseriusan yang tugas haruskan, tidak berbaur berlebihan dengan orang-orang yang ada bersamanya dalam ukuran yang akan meretakkan kedewasaan dan keseriusan itu, tidak masuk kedalam perbincangan yang sia-sia. Namun di sisi lain layaknya malaikat yang penuh dengan kasih sayang selalu berada disamping mereka dalam segala jenis derita dan permasalahan dan bergetar diatasnya. Misalkan, ketika kamu sadar bahwa mukanya terlihat masam di saat salah satu diantara mereka datang ke kantor, segera mendekatinya dengan sebuah kasih sayang yang lebih dari kasih sayang orang tua; berusaha untuk mempelajari begitu memahami apakah ada masalah dengan istri, anak atau masalah dengan salah seorang atau juga sebuah hutang. Yang mana ia akan menyikapinya dengan penuh perhatian dalam ukuran yang orang tuanya pun sendiri tidak akan mampu menyikapinya seperti itu, membakar hatinya dan mencari jalan solusi alternatif. Dan sikap ini tidak hanya sekali, tetapi mengetahuinya sebagai tugas yang harus dilakukan dalam setiap derita dan permasalahan.

Kita bisa memperbanyak contohnya. Jika kalian seorang guru, kalian bisa mengatur jarak tertentu terhadap siswa kalian, kalian tidak akan bersama dengan mereka dalam permainan dan hiburan yang akan meretakkan sikap kedewasaan dan keseriusan kalian. Karena yang berbagi sikap kelalaian dengan siswa-siswanya dengan jalur permainan, dalam artian yang bersikap kekanak-kanakan seperti mereka, sangatlah sulit untuk menjaga sikap keseriusan, sulit membuat mereka mendengarkan perkataan di kesempatan lain begitu menjaganya. Namun dihadapan derita dan permasalahan mereka layaknya malaikat pelindung segera menunjukan dirinya disamping mereka dan mengepakan sayap kedalam diri mereka. Ketika kalian melihat seorang siswa yang memasamkan mukanya kalian akan mengelus rambutnya dan meluapkan kasih sayang dan kehangatan yang dapat membuka permasalahannya kepada kalian. Yang mana ia akan membuka dengan mudahnya kepada kalian derita dan permasalahan yang bahkan ia tidak sampaikan kepada ayah ibunya, kalian akan dijadikan sebagai teman penjaga rahasia dan memiliki derita yang sama. Dalam setiap unit apapun ia berada, jika seorang pemimpin dapat membawa dua masalah ini dengan seimbang berarti ia telah berhasil dalam kepemimpinan di ukuran tersebut. Jika permasalahan hanya bergantung dengan keseriusan dan kekerasan kalian, akan dianggap oleh para lawan bicara sebagai bentuk kebencian, terbesit komentar aneh berhubungan dengan yang kalian lakukan, menghubungkannya kedalam bait negatif seperti “gila kerja” dan pada akhirnya kalian akan jatuh kedalam posisi seorang pemimpin yang tidak didengar perkataannya sambil merasakan kehilangan kewibawaan. Yang mana meski kalian dalam kondisi berlari mati-matian, apa yang kalian lakukan akan tertindas kedalam pandangan yang negatif begitu tersohor dengan sifat-sifat yang negatif pula.

Selain itu, ketika seseorang melakukan kesalahan saat tidak mampu menjaga keseimbangan ini ia pun seharusnya tidak bersikap keras kepala dalam kesalahannya dan seharusnya mencoba untuk memperbaiki kesalahannya itu. Mari kita katakan bahwa, kalian telah memarahi siswa kalian karena kesalahan yang ia lakukan, ketika kalian sebenarnya mampu untuk memperingatinya dengan bujukan yang logis, kalian telah mematahkan hatinya dengan sikap yang keras. Dihadapan kondisi yang seperti ini, pertama yang harus dilakukan, kalian perlu membuka dompet kalian dengan murah hati begitu menggandengnya dengan segera, menjamunya dan berusaha mengambil hatinya dengan cara memberikan uang jajan dan kalian harus mampu mengatakan “Maafkanlah saya.” Kalian akan mengatakan “Jika kamu tidak memaafkan saya, saya tidak akan meninggalkan kamu!.” Dengan ini, jika kesalahan yang dilakukan segera diperbaiki, hati yang terpatahkan itu pun akan kembali terangkul dan hubungan dengan kalian akan tersegarkan kembali. Ya, salah satu asas yang paling penting tugas kita adalah kasih sayang. Kasih sayang disamping kedisiplinan, kasih sayang disamping etika kerja, kasih sayang disamping hidup secara teratur… kasih sayang, kasih sayang, kasih sayang…

Apakah kalian tidak melihat kedalam kehidupan Nabi Muhammad SAW! Ia selalu mengatakan apa yang ia katakan kepada khalayak umum, ia tidak pernah berbicara menjurus langsung kepada seseorang. Ketika melihat seseorang dikucilkan ia segera bergerak melindunginya. Misalkan, suatu hari seseorang yang baru masuk Islam, meminta bantuan dari Nabi Muhammad SAW begitu datang kehadapan Beliau. Rasulullah memberikan apa yang orang tersebut inginkan. Namun ia, mengungkapkan ketidakpuasannya sambil merasa tidak cukup dengan hal ini. Oleh karena itu beberapa dari para sahabat bergerak untuk memberi hukuman akan ketidakhormatannya ini, mereka berjalan menuju orang itu. Namun Nabi Agung yang dikirimkan sebagai rahmat untuk seluruh alam, menghalangi mereka dan membahagiakan orang tersebut sambil memberikan sesuatu yang lain. Setelah itu Beliau memberikan sebuah contoh begitu kembali kepada para sahabat seperti ini : “Seseorang melepaskan seekor unta dan orang-orang berlari untuk menangkap unta tersebut. Namun unta yang bergairah itu semakin menjadi-jadi dan lari sekuat tenaga. Pemilik unta datang dengan segenggam rumput ditangannya dan berkata : ‘Jangan mencampuri urusanku dengan untaku!.’ Setelah itu mendekati untanya secara perlahan, memasang tali ke lehernya dan membawanya begitu mengambilnya.” Nabi Muhammad SAW, setelah memberikan contoh ini ia kembali ke para sahabat dan bersabda: “Jika kalian tidak membiarkan orang itu kepada saya, kalian pun akan semakin menjauhkannya dan kalian telah melemparkannya kedalam api. Janganlah kalian ikut campur urusan ummatku!.”

Dari segi ini kita bisa mengatakan bahwa jika kita menunjukkan kebencian dan amarah begitu berkata, “kita akan bersikap disiplin, kita akan membawa orang-orang kedalam barisannya begitu bersikap disiplin” kita akan membuat mereka lari dari kita dan menjauh. Daripada itu, tanpa harus menjauhkan sikap keseriusan dari genggaman, kita harus memeluk mereka dengan rasa cinta yang dalam dan kasih sayang yang luas dan mengepakkan sayap untuk mereka. Yang mana, mereka harus melihat kedalam mata kita dan membuat mereka menunggu dari kita apa yang mereka tunggu dari ayah-ibu mereka.

Pada akhirnya, dalam pemahaman ahlak yang kita miliki secara mutlak harus ada sebuah kedisiplinan, secara pasti harus menjaga sikap keseriusan, namun di sisi lain harus memiliki rasa kasih sayang dan rangkulan yang luhur. Ketika kedua ini dibawa dalam ukuran yang seimbang itu berarti telah meletakkan sebuah kepemimpinan yang ideal. Karena sebuah sanjungan akan menghasilkan sanjungan. Ini adalah ahlak Ilahi. Allah SWT bersabda: فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu.” Dari segi ini jika kita memeluk orang-orang yang ada dibawah tangan kita, membukakan hati kita, merangkul mereka dengan kasih sayang dan kedekatan, mereka pun akan memaparkan kesetiaan dalam ukuran yang diinginkan dan berusaha untuk menunaikan tugasnya semampu mungkin dalam bentuk yang sempurna.

(Diterjemahkan dari artikel berjudul “İdarecilikte Ciddiyet ve Şefkat” dari buku Kırık Testi 10; Cemre Beklentisi)

mengembangkandiri.com pexels-eugene-golovesov-14762148

CARA MENGHINDARI DOSA

Pertanyaan: Apa saja yang harus kita perhatikan terhadap sebuah dosa?                                   Apa langkah-langkah kita untuk bertaubat dari dosa-dosa?

Taubat adalah benteng perlindungan kita yang paling besar ketika kita berhadap-hadapan dengan dosa. Dalam hal ini, kita sangat perlu memperhatikan hal-hal berikut untuk kehidupan kalbu dan jiwa kita:

1. REAKSI DI HADAPAN DOSA

Hal ini berkaitan erat dengan keadaan ruhani manusia pada saat itu. Kadang hal seperti ini terjadi. Yaitu ketika Anda melakukan dosa, maka kepala Anda tertunduk, lalu Anda mulai berdoa dan memohon-mohon agar dosa Anda diampuni. Terkadang juga, tangisan dan rintihan yang Anda lakukan tidak juga menenangkan kalbu Anda. Teriakan yang Anda suarakan pun tidak dapat memadamkan api di dalam hati Anda. Tapi semoga saja rasa sedih yang selalu mengganggu batin Anda untuk sebuah taubat akan lebih makbul dan lebih valid di sisi Allahﷻ.

Ketika melewati pasaran dan pekan, jika tanpa disengaja mata Anda tergelincir dan membuat Anda berpikiran seperti ini: “Aduh! Apa yang telah kulakukan! Harusnya aku bertawajjuh kepada Allahﷻ di setiap saat sebanyak partikel tubuhku, aku malah melihat sesuatu yang tidak seharusnya dilihat dan berbuat dosa. Sedangkan aku bisa saja menutup mata. Harusnya aku bisa memilih jalan yang lebih selamat dan aman meskipun jalannya jauh dst.” dan Anda segera menghamparkan sajadah serta bersujud sembari merintih memohon ampunan atau dengan kesedihan yang menyelimuti batin membuat dunia Anda semakin menghimpit, artinya pada saat itu Anda telah mencapai taubat yang hakiki. Ya. Taubat sebenarnya adalah sebuah penyesalan dan api yang membara di dalam hati.

Dalam hal ini yang terpenting adalah mampu menerima dan menganggap hidup bersama dosa-dosa sama dengan hidup bersama ular dan kelabang. Pandangan seorang Mukmin terhadap dosa adalah seperti ini dan harus seperti ini. Sebaliknya, ini berarti ia memiliki keraguan atas akibat dan konsekuensi dari dosa.

Kemampuan untuk merespon setiap dosa dalam bentuk perubahan arus dan perputaran darah di dalam ritme dan pembuluh darah hati dengan sebuah penyesalan batin adalah sangat penting.

2. DOSA BERUMUR PENDEK

Ketika Anda jatuh pada sebuah dosa dan terpeleset dalam atmosfer dosa, maka Anda harus segera bangkit dan melakukan pembersihan diri dengan taubat dan istighfar. Anda harus segera membersihkan diri dan mestinya tidak menunda-nunda. Karena satu jam setelahnya tidak ada dalil dan kepastian bahwa kita tidak akan menghadap ke hadirat Rabb. Jiwa-jiwa yang bersih tidak akan mendapatkan kenyamanan dan tidak akan bisa tidur jika tidak membersihkan dulu dosa-dosa yang telah diperbuatnya.

Meskipun memberikan kesempatan selama satu detik untuk sebuah dosa, sama dengan melakukan sesuatu yang menyerang diri sendiri. Dan yang terpenting dari ini adalah berusaha menunjukkan rasa hormat terhadap ketidak-adaan rasa hormat kepada Allahﷻ. Tidak ada hak untuk melakukan sebuah dosa bahkan untuk sedetik pun. Karena jika tidak segera dihapus dengan taubat, dosa akan seketika berubah menjadi seekor ular beracun yang menggigit kalbu. Dan ketika hati telah ternodai sekali, maka kalbu akan terbuka untuk noda-noda yang baru. Dengan demikian manusia akan jatuh ke dalam ruangan keburukan. Setiap satu dosa melahirkan dosa baru yang lain. Pada akhirnya rahasia ayat, “Tidak, tidak, kalbu mereka telah berkarat.” (QS. Al Muthaffifin 83/14) akan muncul.

Oleh karena itu, perasaan dan pemikiran yang ada dalam diri manusia harus ditarik ke pemahaman ini. Menjelaskan hakikat kepada mereka dan berusaha menyadarkan mereka di hadapan dosa-dosa adalah suatu hal yang sangat penting. Bahkan jika Anda memiliki kekuatan yang mencukupi atau sebuah makam kewalian pun, Anda harus menunjukkan sisi buruk dari sebuah dosa. Hal ini harus dilakukan, hingga Anda benar-benar dapat menghentikan mereka untuk melakukan dosa tersebut.

Ya, orang-orang yang memiliki kalbu yang terjaga dan jiwa yang peduli seolah-olah seperti orang yang mencium bau aneh ketika sedang dekat dengan setiap dosa.

3. MEMBENCI DOSA

Salah satu hal terpenting dalam taubat yang akan kita lakukan adalah melihat dosa dengan kebencian.  Jika dosa tersebut tidak dibenci, maka keinginan untuk menghindari dosa tidak akan pernah terlihat seperti menghindar dan lari dari ular maupun kelabang. Ketika tidak bisa lari dari dosa maka taubat dengan keinginan dan kesungguhan kuat untuk tidak melakukan dosa pun tidak mungkin terjadi. Misalnya, ada sebuah vas kristal yang sangat langka di tangan Anda. Kemudian Anda menjatuhkannya dan pecah. Anda pun akan sangat menyesali dan merintih karenanya. Sama seperti itu. Setiap dosa yang Anda kerjakan akan mengotori dan memecahkan lentera kehidupan Anda. Maka setidaknya Anda perlu bisa merasakan pengaruh seperti pecahnya sebuah kristal materi, ketika berhadapan dengan sebuah dosa. Jika tidak Anda berarti meremehkan dan mengabaikan sebuah dosa.

4. KESEIMBANGAN DOSA DAN TAUBAT

Dosa sangatlah dalam, kotor, dan menjijikkan. Setiap dosa memerlukan taubat yang setimpal. Karena setiap dosa seperti jatuh ke dalam sumur yang penuh dengan kotoran. Sangatlah mudah untuk jatuh ke dalam sumur seperti ini. Namun membutuhkan usaha yang besar untuk mentas darinya.

5. MELIHAT SEBUAH DOSA SEBAGAI DOSA

Setiap pemikiran yang terlintas di benak kita tentang kritikan pada hukum dosa paling tidak sama seperti mengerjakan dosa itu sendiri.

Misalnya, seseorang yang melakukan perzinahan, suatu waktu terlintas: “Mengapa Allah melarang zina? Betapa indahnya kita menikmatinya!” atau seseorang yang terbiasa makan dan minum tanpa mempertimbangkan halal-haram berpikiran, “Andai saja tidak ada hak manusia, alangkah indahnya!” adalah dosa yang lebih besar daripada melakukan dosa tersebut.

Oleh karena itu kita perlu mengambil sikap tegas terhadap dosa. Kita harus menanamkan prinsip seperti ini: “Hai dosa, kau tidak perlu lelah-lelah. Pintu-pintu telah terkunci. Kau tidak akan bisa masuk!”

Dalam hal dosa perumpamaan yang telah disampaikan Ustaz Badiuzzaman sangat penuh dengan makna: “Larilah kamu dari dosa seperti kamu lari dari ular maupun kelabang. “Mengapa menggunakan ungkapan ular dan kelabang, tidak menggunakan ungkapan kata singa dan harimau yang bahkan sangatlah menarik. Karena, singa dan harimau akan menyerang dengan berani dan gagah. Sebelum kedatangannya Anda bisa merasakan dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan. Tapi ular dan kelabang tidak seperti itu. Kapan dan dari mana mereka menyerang tidak diketahui dengan jelas. Maka seperti itulah dosa, licik seperti ular dan kelabang.

Kesimpulannya, selalu waspada dan sadar terhadap dosa-dosa. Jangan pernah lupa: Kewaspadaan terhadap dosa sama dengan kesetiaan kepada Allahﷻ.

Kita bisa melihat permasalahan dosa sebagai dosa dalam hadis, “Adznaba ‘abdii dzanban”.  Yaitu, hadis yang menjelaskan bahwa seorang hamba mengerjakan dosa berkali-kali dan Allahﷻ pun akan mengampuni setiap ia melakukan itu. Maksudnya: “Zanb” dan “Zanab” berasal dari satu akar kata yang sama. Zanb artinya dosa. Sedangkan Zanab artinya ekor. Dengan begitu: Seorang hamba yang berkata, “Ya Rabbi aku telah melakukan dosa.” “Ya Allah, aku kembali memperpanjang ekorku. Dalam kondisiku yang seperti ini lihatlah aku, baik aku sebagai seekor rubah yang berekor atau seekor kalajengking yang menyengat manusia, ataupun seekor ular yang merupakan ekor itu sendiri! Itulah aku.” Yaitu seorang hamba mengakui dosanya. Tingkatan manusia yang mulia dan diberikan kepadanya seolah dilempar ke sebuah sudut dan terhina. Ia mengakui dirinya telah menjadi hewan dan jatuh ke tingkatan ini.

Sedangkan orang yang telah melakukan dosa dan tidak menyadarinya, ia sebenarnya telah mendapatkan tamparan “kal an’ami balhum adhall” (QS. Al A’raf 7/179) dan terjatuh pada tingkatan yang lebih rendah dari hewan. Pada sebuah hasil survei di kalangan anak muda di Eropa di tahun-tahun sebelumnya menggambarkan sebuah perumpaan yang cocok dengan hal ini. Dalam hasil tersebut, spesifikasi yang dimiliki anak muda Eropa sama dengan spesifikasi anjing jalanan yang liar. Karena sesungguhnya jalan dan cara selain hakikat akan membawa pada hasil di luar hakikat…

(Diterjemahkan dari artikel yang berjudul ‘Günahlardan Çıkış Yolları’ Dari buku ‘Prizma – 1’)

mengembangkandiri.com aleksey-kuprikov-MfAdjCfInz0-unsplash

JALAN DALAM MELAYANI KEBENARAN KETIKA MENGHADAPI RINTANGAN

Tanya: Pada kondisi saat ini, kita melihat bahwa orang-orang yang sibuk dalam kegiatan amal salih dan melayani kebenaran seringkali diserang. Tujuan serangan tersebut adalah untuk memfitnah dan mengaburkan kebenaran. Bagaimana seharusnya para pegiat amal salih menyikapi hal ini?

Jawab: Orang-orang yang meniti jalan untuk melayani kebenaran, harus terlebih dahulu menerima kenyataan berikut ini. Sama seperti yang terjadi di zaman dahulu dan hari ini juga masih terjadi, orang-orang dengan sifat buruk seperti kebencian, iri hati, dan intoleransi akan menyatakan orang-orang yang tidak berpikir seperti mereka sebagai musuh. Mereka akan terus menyerang di sana-sini dan mengungkapkan kedengkiannya kepada orang lain dalam berbagai bentuk. Hal itu dilakukan demi melindungi kepentingan mereka. Bagaimanapun juga, jiwa-jiwa yang berdedikasi harus senantiasa bertawakkal, berserah diri, serta berlindung kepada Allahﷻ. Mereka harus senantiasa memfokuskan seluruh tindakan mereka untuk memperoleh rida Allahﷻ. Mereka harus selalu menapaki jejak Rasul-Nya dan harus terus berjalan di jalur yang benar dengan hati nurani yang mulia untuk merangkul seluruh umat manusia, tanpa tergoyahkan meski menghadapi segala kejahatan dan hambatan yang terjadi.

Ketika menapaki jalan ini, terkadang Anda dikhianati oleh orang-orang yang Anda harapkan kesetiannya. Anda mungkin ditinggalkan oleh orang-orang yang pernah berjuang dengan Anda. Bahkan bisa jadi Anda secara tiba-tiba ditikam dari belakang oleh orang yang tidak pernah Anda sangka. Namun, Anda harus tetap teguh tak tergoyahkan pada jalan yang benar dan tidak terhalang oleh hal negatif seperti itu, dengan membuka pintu hati nurani yang baru. Dengan menggunakan beberapa strategi baru, Anda harus terus-menerus berusaha untuk menetapkan cakrawala hati nurani dan kelapangan jiwa Anda pada standar yang lebih tinggi.

PARA PEMBIMBING YANG JUJUR

Kita tengah melewati sebuah era kekacauan yang mana telah disebutkan dalam buku hadis di bab “Fitan wal Malahin”, dimana telah dijelaskan bahwa akan terjadi fitnah yang amat besar dan mengerikan, pergolakan dan kekacauan yang bertubi-tubi, serta penipuan dianggap sebagai sebuah hal yang lumrah. Dalam periode ini, ada kebutuhan mendesak akan para pembimbing yang tulus, tidak menipu atau tidak menyesatkan orang; yaitu pembimbing yang akan senantiasa menghembuskan rasa aman di lingkungan sekitarnya. Jadi apa yang perlu Anda lakukan adalah memberikan manusia sebuah pelajaran untuk “tidak menipu,” dengan cara tidak pernah mengelabui siapa pun dengan kata-kata manis, mimik dan juga sikap Anda. Jika ada orang atau pihak yang mengawasi Anda selama berpuluh-puluh tahun, mereka tidak akan dapat menemukan satu pun indikasi dari Anda untuk menipu.

Ini adalah fakta bahwa di masa sekarang begitu banyak orang yang mengejar ambisi duniawi. Oleh karena itu, Anda mungkin mengalami kesulitan dalam membuat orang lain mengerti Anda secara benar. Mereka akan memposisikan Anda layaknya diri mereka dan berpikir bahwa Andapun mengejar keduniawian sebagaimana mereka. Mereka mengira bahwa Anda memiliki maksud-maksud terselubung ketika Anda membuka sekolah dan pusat-pusat budaya, merangkul seluruh umat manusia dengan cinta, serta ketika Anda berusaha menyatukan dan membawa perdamaian bagi berbagai pihak dari latar belakang budaya yang berbeda. Karena setiap tindakan yang mereka lakukan adalah untuk mendapatkan keuntungan duniawi, mereka pun mungkin berpikir bahwa Anda juga mengharapkan hal yang sama. Bahkan beberapa orang yang dekat dengan Anda, yang Anda cintai dan hormati, mungkin tertipu oleh kekhawatiran dan kecemasan tersebut. Dengan menafsirkan sikap dan perilaku sesuai dengan perasaan dan pikiran mereka sendiri, mereka dapat membuat arti yang berbeda dari tindakan Anda ini dan dengan demikian menganggap Anda sebagai ancaman bagi diri mereka sendiri. Namun, tanpa mempedulikan hal tersebut, Anda harus menjelaskan pada setiap kesempatan bahwa Anda tidak mempunyai motif lain kecuali untuk mendapatkan rida Allahﷻ dan menunjukkan hal tersebut dengan sikap dan perilaku Anda.

NIAT YANG BAIK

Sebuah hal yang mustahil bagi para pegiat amal yang menyebar ke seluruh penjuru dunia dimana mereka berusaha menciptakan dunia yang penuh cinta dan dengannya berupaya meraih rida Ilahi akan memiliki ambisi keduniawian. Para pegiat amal tersebut hanya mengarahkan pandangan mereka pada keridaan Allahﷻ dan dengan dedikasi mereka yang tulus telah bertekad untuk memperindah wajah dunia. Namun, jika mereka belum dapat merealisasikan rencana untuk mewujudkan dunia yang penuh kasih sayang dan perdamaian, mereka akan tetap menjadi pahlawan dikarenakan niat mereka yang baik dan mereka akan mendapatkan balasan dari Allahﷻ. Seperti yang pernah disabdakan oleh Nabi yang mulia, Shalallahu Alaihi wassalam, “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan apa yang diniatkannya.” Oleh karena itu, faktor yang benar-benar penting bagi seseorang adalah ketulusan dan nilai dari niat mereka. Allahﷻ akan membalas seseorang dengan ganjaran di akhirat sesuai dengan tulusnya niat dan hati nurani seorang manusia.

Sebagai contoh, Anda memulai perjalanan Anda dengan niat untuk menciptakan perdamaian di seluruh dunia dengan izin dan rahmat Allahﷻ. Ketika kondisi tempat yang Anda datangi kondusif, maka Anda tidak akan melamban akan tetapi usaha yang Anda lakukan malah akan jauh lebih meningkat. Namun, ada saatnya beberapa kendala muncul di hadapan Anda dan Anda hanya sanggup mencapai sepuluh persen dari target dan niat Anda. Dikarenakan niat Anda adalah seratus persen, maka Allahﷻ akan membalas seratus persen sesuai dengan niat Anda.

Dalam rangka mencapai hasil yang indah seperti itu, Anda harus tulus ikhlas dalam berusaha di atas jalan kebenaran. Bahkan pikiran-pikiran seperti, “Apakah mereka akan memberi kita jabatan sebagai balasan atas pelayanan yang kita lakukan?” tidak diperkenankan terlintas dalam benak Anda. Sebaliknya, apabila pikiran-pikiran semacam itu terlintas dalam benak Anda, Anda harus meyakini bahwa pikiran-pikiran itu adalah bisikan setan dan Anda harus segera menjauhkan diri dari hal tersebut.

Hal ini bukan berarti bahwa sebagian orang tidak akan dianugerahkan jabatan tertentu yang layak untuk diberikan kepada mereka. Tentu saja orang-orang yang layak akan mendapatkan jabatannya masing-masing. Namun, mereka yang mendedikasikan diri agar umat manusia menghirup udara kedamaian dan hanya mengharapkan rida Allahﷻ, seharusnya tidak mencari jabatan-jabatan untuk kepentingan duniawi belaka. Mereka seharusnya tidak terburu-buru untuk menerima ketika ditawari suatu jabatan. Bahkan misalnya saja ada tawaran menjadi menteri atau perdana menteri, mereka harus mempertimbangkan terlebih dahulu apakah tawaran tersebut baik untuk tujuan ideal mereka, baru kemudian memutuskan. Jika tidak, mereka akan mencemari niat tulus mereka dalam menempuh jalan ini. Mereka akan menghancurkan kesempatan untuk bisa menginspirasi orang lain dengan tangan mereka sendiri. Mereka pun akan kehilangan kepercayaan dan kredibilitas di mata orang lain.

Menurut saya, orang-orang yang memiliki cita-cita yang mulia jangankan memiliki harapan pangkat dan jabatan, bahkan jika terbesit keinginan untuk mewujudkan penaklukan dunia sekalipun itu adalah langkah mundur dari tujuan mulianya. Ya. Upaya penaklukan dunia bila dibandingkan dengan cita-cita mulia dengan menyelamatkan satu kehidupan abadi seorang manusia adalah seperti setetes air di lautan. Dalam hal ini, para pegiat amal dengan cita-cita mulia mereka harus menganggap cita-citanya sebagai pencapain terbesar untuk membantu menyalakan api-api kebaikan cinta dalam hati, menumbuhkan moralitas dan kebajikan dalam hati, dan untuk menjadi sahabat bagi semua orang. Mereka harus mendesain hidup mereka berdasarkan kemuliaan cita-cita ini tanpa membuang satu kesempatan pun dalam mencapainya.

(Diterjemahkan dari Kırk Testi artikel berjudul ‘Engellemeler Karşısında Hakka Hizmet Yolu’)

aaron-burden-xtIYGB0KEqc-unsplash

KEIKHLASAN: RUH DARI SEGALA AMAL PERBUATAN

Pertanyaan: Dalam salah satu hadis Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam yang mulia, bersabda:

أَخْلِصُوا أَعْمَالَكُمْ لِلهِ فَإِنَّ اللهَ لَا يَقْبَلُ مِنَ الْعَمَلِ إِلَّا مَا خَلَصَ لَهُ

“Ikhlaslah dalam semua amal perbuatan kalian, sesungguhnya Allahﷻ tidak menerima amal, kecuali amal yang ikhlas.”[1]

Bagaimana kita dapat mencapai kebaikan ini yang telah disampaikan Rasul Shalallahu Alaihi Wassalam, dan menjadi tersadar dan fokus akan “hanya mengharap rida-Nya dalam segala amal kita?”

Jawab: Seorang yang benar-benar beriman yang cinta kepada Allahﷻ, harus mengharap rida-Nya dalam segala perilaku dan perbuatannya; dia tidak seharusnya melihat kepada sosok dirinya sendiri, bahkan hanya untuk sekejap; dia tidak seharusnya berucap “Aku berbicara, Aku melakukan, Aku berhasil…” dan dia tidak mengungkit-ungkit amal baik termasuk dari ingatannya. Terutama ketika dia sedang mengajak orang lain dalam kebenaran, seorang mukmin hendaknya tidak pernah berusaha untuk memamerkan dirinya. Dimana saja ketika ia sedang berbicara atas nama kebenaran, perkataannya harus memantulkan suara yang ada di dalam kalbunya. Saat ia berhasil pada tujuannya, tidak pernah terbesit sekecil apapun dalam pikirannya keberhasilan ini adalah hasil jerih payahnya.

LISAN YANG TIDAK BERJIWA, OLEH KARENA BERTENTANGAN DENGAN KALBUNYA

Sebuah kesadaran seperti yang disebutkan di atas tentu saja adalah sesuatu yang tidak bisa diraih hanya dalam sekejap mata. Seseorang harus secara terus menerus menghilangkan ego dirinya dan mencapai derajat berkata, “Apakah diriku benar-benar ada,” dan pada akhirnya mencapai sebuah tingkatan melupakan dirinya. Jika tidak, maka pengaruh dari perbuatan baiknya hanya akan terbatas pada lingkup yang kecil, dan tidak akan berbuah manis. Meskipun pada awalnya nampak hasilnya, sifatnya hanya sementara dan manfaatnya tidak akan berjangka panjang.

Tidak mencapai sepersepuluh dari zikir-zikir pada masjid-masjid saat ini –misalnya membaca surat Ikhlas tiga kali sebelum salat– ada pada zaman Rasul Shalallahu Alaihi Wassalam. Di negeri-negeri muslim hari ini, adzan berkumandang dari menara-menara bergema ke seluruh penjuru daratan. Penceramah silih berganti bertugas di masjid-masjid maupun pada acara di TV; mereka berceramah non-stop. Akan tetapi, ceramah dan ayat-ayat yang dibacakan tidak menyentuh kalbu masyarakat; tidak membekas di hati mereka. Masyarakat tidak dibawa ke jalan mengenal Allahﷻ tidak seperti pada zamannya Rasul yang penuh berkah, oleh karena kata-kata yang keluar dari lisannya bertentangan dengan kalbunya. Jika seseorang hanya sekedar memperlihatkan kehebatannya, bahkan ketika sedang mengucapkan اَللهُ أَكْبَرُ “Allahu Akbar,” dan berusaha menarik perhatian dengan suara dan nada yang ia buat, dan berbicara tentang Allahﷻ dan Rasul Shalallahu Alaihi Wassalam untuk memperlihatkan betapa hebatnya dia dalam berbicara, maka dia hanyalah seorang yang secara diam-diam berdusta.

KEDALAMAN IMAN

Situasi yang dijelaskan di atas adalah sebuah hal besar bagi orang-orang yang telah menaruh kalbunya dalam keimanan. Jika mereka selama ini selalu menganggap kecil hal ini dan tidak berdiri di tengah-tengah topik ini, maka apa yang mereka harus lakukan pertama kali adalah melihat ke dalam jiwanya dan memperbaikinya sebagai syarat untuk memperdalam keimanannya. Sebenarnya, para sahabat pada zaman dahulu melakukan tabiat dan pemahaman ini. Ketika mereka bertemu satu sama lain, mereka akan berkata, سَاعَةً تَعَالَ نُؤْمِنْ “Marilah kita bersama dalam iman kepada Allahﷻ untuk satu jam ke depan.[2] Dengan kata lain, “Iman telah menyelamatkan kita sejauh ini. Tetapi kita tidak tahu apakah kita masih beriman esok hari. Oleh karena itu, marilah kita periksa iman kita sekali lagi.” Jika anda perhatikan, para sahabat tidak berkata “Marilah kita perbarui iman kita,” tetapi “Marilah kita bersama dalam iman kepada Allahﷻ untuk satu jam ke depan.” Maka hal ini bermakna, seperti yang telah Rasul Shalallahu Alaihi Wassalam sampaikan kepada Abu Dharr al-Ghifari, جَدِّدِ السَّفِينَةَ فَإِنَّ الْبَحْرَ عَمِيقٌ “Rawat dan perbaiki kapalmu sekali lagi karena lautan semakin dalam,[3] berlayar ke lautan yang baru setiap hari.

Selayaknya seorang pemuda yang hendak bepergian jauh akan memeriksa semua bagian mobilnya dari mesin hingga roda, seseorang harus serupa dalam memperbaiki aspek-aspek dirinya yang membutuhkan pemulihan sebagai syarat tanggung jawab dan kewajiban kepada Allahﷻ. Dengan sebuah fokus yang baru, seseorang harus memperbaiki imannya sekali lagi. Seorang yang akan berlayar di lautan hidup ini, yang sangat dalam, dapat tenggelam kapan saja. Apa yang telah menunggu kita di depan adalah sebuah perjalanan panjang yang bermula di alam kubur dan akan berakhir di Surga atau Neraka. Oleh karena itu, seseorang harus mempersiapkan dengan baik sebelum melangkah di perjalanan yang berat ini.

Kemudian, Rasul Shalallahu Alaihi Wassalam bersada: وَخُذِ الزَّادَ كَامِلاً فَإِنَّ السَّفَرَ بَعِيد “Persiapkan bekalmu dengan matang, untuk perjalanan yang sangat panjang ini.” Perbekalan yang seseorang siapkan harus lebih dari cukup agar bisa melewati Jembatan Sirat dan masuk Surga. Jembatan Sirat bukanlah seperti jembatan-jembatan di dunia kita sekarang. Tidak mudah untuk melewatinya. Berdasar yang Rasul Shalallahu Alaihi Wassalam sampaikan dalam pembahasan ini, Jembatan Sirat akan terasa panjang seperti hidup kita di dunia. Seseorang akan bisa masuk surga setelah berhasil melewati tantangan ini.

Sebagai tambahan untuk mendapat bekal yang akan ia butuhkan selama perjalanan ini, seseorang harus selalu menjauhkan diri dari segala larangan dan dosa karena akan menjadi balasan dan siksaan untuk dirinya. Rasulullah menyampaikan hal ini dengan bersabda, وَخَفِّفِ الْحِمْلَ فَإِنَّ الْعَقَبَةَ كَئُودٌ “Ringankanlah bebanmu, untuk tanjakan yang akan sangat terjal.” Seseorang harus berusaha ketika ia masuk kubur, melewati masa-masa di alam barzah, dan berdiri di Hari Pengadilan dengan amat banyak catatan buruk yang harus dipertanggung jawabkan, dan menghindari tercabik oleh besi tajam di Jembatan Sirat.

Sebagai bagian terahir dalam nasihatnya kali ini, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam:

 وَأَخْلِصِ الْعَمَلَ فَإِنَّ النَّاقِدَ بَصِيرٌ

“Ikhlaslah dalam segala perbuatanmu dan hanya berharap ridhonya; kepada Allahﷻ, yang amat teliti perhitungan-Nya, mengawasi segala perbuatanmu.” Bediuzaaman menyampaikan hal ini di “Cahaya Ketiga” sebagaimana berikut: “Segala hal yang kalian perbuat seharusnya untuk Allahﷻ, bertemu orang lain untuk Allahﷻ, dan bekerja demi Allahﷻ. Bertindak dalam lingkup, ‘untuk Allahﷻ, demi Allahﷻ, dan karena Allahﷻ”[4] Allahﷻ yang Maha Kuasa dengan cermat menilai perbuatanmu dan mengambil catatan amal baik dan burukmu; Dia mengawasimu setiap saat, dia mengawasi segala sesuatu, dan dia mengetahui segala yang tersembunyi.

TERUS MENERUS MENGKRITISI DIRI

Kehidupan dunia ini harus dipahami dengan batasan-batasannya. Dalam masalah ini tidak ada ruang untuk kelalaian, keacuhan, melupakan atau sikap masa bodoh. Salah satu tokoh saleh, Aswad ibn Yazid an-Nakhai, menekankan, اَلْأَمْرُ جِدٌّ، اَلْأَمْرُ جِدٌّ “Permasalahan ini tidak seperti yang kamu bayangkan; hal ini sangat serius![5] Alias, permasalahan ini bukan sesuatu yang sederhana dan biasa untuk dihadapi dengan remeh dan sembrono. Ini adalah tentang keselamatan dari siksa abadi. Oleh karena itu, seseorang harus mengevaluasi shalatnya, puasa dan semua ibadah dengan kesadaran ini, dan harus terus menerus mengkitisi dirinya.

Dalam hal ini, ketika menjelaskan sebuah topik tertentu, doa dari penceramah, misalnya, “Semoga Allah yang Maha Kuasa menjadikan kita berbicara benar, menyampaikan dengan efektif; semoga Dia memberikan kekuatan di kata-kata kita dan membuatnya diterima di kalbu-kalbu mereka,” hanyalah salah satu aspek pada permasalahan ini. Aspek lainnya adalah membebaskan diri dari egoisme dan menggantinya dengan keikhlasan. Seseorang harus berdoa,“Ya Ilahi, jadikanlah semua perkataanku terucap dalam ketaatan untuk mencapai rida-Mu.” Dengan kata lain, sebagaimana Al Qur’an ajarkan melalui permohonan Nabi Musa a.s.: “Berkata Musa:

رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي

Ya Tuhanku, lapangkalah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku.” (QS. Thaha ayat 25-28)

Kita harus menirunya dalam doa kita sehari-hari. Selain itu, kita hendaknya juga tidak mengabaikan mengucapkan, مَعَ رِضَاكَ يَا رَبِّ “Ya Tuhanku, bawalah kami ke dalam rida-Mu.”

MONUMEN IKHLAS

Untuk mengurai lebih jelas, seseorang harus senantiasa berdoa, “Tajamkan lisanku dengan rida-Mu, berikan karunia padanya dengan izin-Mu. Jadikanlah lisanku mendapat kedalaman yang tak berhingga dengan karunia-Mu, keagungan-Mu, dan kasih-Mu. Jika tidak, aku hanyalah fana, segala hal akan berakhir ketika hamba masuk ke alam baka. Jika Engkau tidak hadir dalam apa yang aku lakukan dan kerjakan, maka hampa tidak mengandung apapun.” Seseorang harus dengan sungguh-sungguh mengucapkan doa ini 50-100 kali per hari.

Almarhum Nurettin Topcu berkata bahwa mereka yang sedang memamerkan dirinya ketika sedang membacakan ayat-ayat suci adalah “Aktor kerongkongan,” dimana dia sangat tegas terhadap keikhlasan dan istiqomah untuk menekankan pentingnya ikhlas.

Sikap yang mengagumkan diambil Bediuzzaman pada permasalahan ini patut mendapat penghormatan. Dia tidak berharap untuk mendapatkan suatu apapun tanpa keikhlasan; dia menghempaskan segala apapun yang tidak datang dari dasar hatinya, dan menginjaknya. Pada masa kita ada sebuah kebutuhan atas lusinan monumen ikhlas, yang akan merubah wajah dunia. Meskipun mereka yang melaksanakan tugasnya demi mendapatkan keuntungan duniawi, apresiasi dan pujian mungkin berhasil secara sementara, mereka yang demikian tidak pernah berhasil secara abadi, dan mereka tidak akan pernah mampu melakukannya.

Umayyah, Abbasiyah, Khwarezmia, Ayyubiyyah, Seljuk, dan Usmani yang muncul setelah era Kebanggaan Umat Manusia dan era Khulafaur Rasyidin, telah memenuhi pengabdiannya kepada Islam. Khususnya pada masa tertentu, mereka berbakti sebagai tamsil (contoh) Masa Kebahagiaan, dan kemudian mereka meninggalkan dunia ini dengan terhormat. Hanya saja, mereka tidak pernah mencapai kesuksesan era Khulafaur Rasyidin. Penyebab yang harus digarisbawahi adalah khalifah yang diberkati tersebut menjalankan keikhlasan dari hati yang terdalam. Apa yang dibutuhkan umat manusia hari ini bukanlah penampakan luar, formalitas, kerakyatan, apresiasi, tepuk tangan atau tuntutan yang besar, akan tetapi perwujudan praktik ke-Islaman yang sebenar-benarnya dan tanda-tandanya nampak di kepribadian setiap muslim.

[1] Bkz.: ed-Dârakutnî, es-Sünen 1/51; el-Beyhakî, Şuabü’l-îmân 5/33

[2] Ahmed İbn Hanbel, el-Müsned 3/265; İbn Hacer, el-İsâbe 4/83

[3] ed-Deylemî, el-Müsned 5/339

[4] Bediüzzaman, Lem’alar s.21 (Üçüncü Lem’a, Üçüncü Nükte)

[5] Ebû Nuaym, Hilyetü’l-evliyâ 2/104