mengembangkandiri.com gift-shop-at-the-street-market-in-istanbul-turkey-2021-08-26-18-35-40-utc

Karakter Kejujuran Seorang Muslim

Kejujuran, Kebohongan, dan Omong Kosong

Orang-orang yang baru datang ke Turki pasti sepakat akan satu hal: Saat mereka berniaga dengan masyarakat muslim Turki, tidak diperlukan suatu kontrak berdagang tertulis karena perjanjian secara lisan sudah cukup disana. Situasi ini adalah hasil dari etika dan moral Islam yang sudah lama tertanam di masyarakat Turki.  

Muslim yang berpegang kepada akhlak Al Quran digambarkan dengan,

“…… dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji….” (Q.S. Al-Baqarah 2: 177). Dalam kelanjutan ayat itu disebutkan, Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” 

Seorang Jenderal Prancis, Comte de Bonneval, membagikan kekagumannya terhadap kejujuran masyarakat Turki,

“Kriminalitas seperti ketimpangan hukum, monopoli, dan pencurian seakan tidak dikenal di Turki. Singkat kata, entah karena keyakinan agama atau ketakutan kepada hukum, mereka menampilkan satu tingkat integritas yang membuat banyak orang tercengang kepada kejujuran mereka.”

Ketelitian dan sensitivitas pedagang Turki dalam urusan kejujuran tergambar dalam kisah berikut:

Kala itu, seorang pedagang tekstil dari negeri nan jauh datang ke negeri Utsmani dan ingin membeli seluruh kain yang dibuat oleh satu pabrik kain yang sangat dia sukai.

Namun, suatu ketika, dia melihat pemilik pabrik menyingkirkan satu gulungan kain saat kain yang lain sedang ditimbang.

Ketika ditanya alasannya, pemilik itu menjawab, “Saya tidak bisa memberikan kain ini, kain ini memiliki cacat.”

Meskipun pedagang asing tadi berkata, “Itu tidak masalah,”

Si pengusaha Turki tetap tidak mau menjual satu gulungannya itu dan berujar,

“Sudah kubilang bahwa kain ini cacat. Anda pun sudah tahu perihal ini. Ketika Anda menjual barang cacat ini di negerimu, orang-orang tidak akan tahu bahwa saya sudah memberitahu Anda. Maka, saya seolah menjual barang cacat ke rakyat negerimu. Harga diri dan kehormatan Daulah Utsmani akan dicerca dan mereka akan menyangka bahwa kami ini culas. Inilah mengapa saya tidak akan menyerahkan gulungan cacat ini bagaimanapun jua.”

Demikian dia menjelaskan alasannya kukuh tidak menjual kain tadi.

Satu karakter yang membedakan Bangsa Turki dari bangsa-bangsa lain adalah mereka tidak mengenal tindakan menipu dan berbohong. Ajaran agama Islam telah masuk menjadi pendirian dari masyarakat Turki untuk mencintai akhlak mulia serta menolak perbuatan tercela.

Hal ini disampaikan dalam dokumen sejarah dari Abad XIX yang  tertulis sebagai berikut:

“Kita harus mencari tahu karakter suatu bangsa dari kelas menengahnya, di antara orang-orang yang mencari rezeki di pabrik kecil, mereka yang tidak miskin dan tidak pula kaya: kelas menengah pada bangsa Turki, memiliki nilai moral dan kebajikan yang terikat dengan ilmu pengetahuan yang cukup sepadan dengan kebutuhan mereka, dengan kecenderungan patriarki kekotaan di level keluarga satu rumah dan di masyarakat. Kejujuran juga menjadi karakter khas pengusaha Turki… Di perkampungan mereka, di mana tidak ada orang Yunani, kesederhanaan hidup dan kemurnian prilaku manusia amatlah terlihat, dan disana tidak dikenal istilah penipuan.” (Thomas Thornton (1762–1814), seorang pedagang Inggris di Timur Tengah dan penulis tentang Turki).

Pengamatan pengusaha-pelancong Prancis Abad VII, Du Loir, bisa menjadi simpulan yang gamblang: “Tidak diragukan lagi, politik dan kehidupan di Turki, dalam hal moralitas, adalah role model bagi seluruh dunia.”  .

Seorang Muslim harus Jujur dan Amanah

Seorang muslim harus jujur dan amanah, perkataan dan perbuatan yang dilakukannya tidak boleh berlawanan dengan pikiran dan perasaannya. Kita harus berusaha banting tulang untuk tetap dalam kondisi seperti itu. Rasulullah sendiri memberikan perhatian yang lebih dalam penanaman nilai moral ini pada diri anak-anak.

Untuk menghindarkan para orang tua dari dosa berbohong, meskipun kepada anak-anak mereka, beliau telah merumuskan prinsip-prinsip umum sebagai pedoman dalam hubungan antara anak dan orang tua.

Sebagai contoh, tidak boleh seorang ayah atau ibu untuk berbohong pada anaknya, dalam kondisi apapun, dan tidak pula membeda-bedakan perlakuan kepada tiap anak.

Abdullah bin Amir menceritakan: “Suatu hari ibuku memanggilku, di saat Rasulullah SAW tengah duduk di rumah kami. Kata ibuku: Datanglah kemari! Aku akan memberimu sesuatu. Rasulullah bertanya padanya: Apa yang akan Engkau berikan padanya? Jawab ibuku: Saya ingin memberinya kurma. Maka Rasulullah berkata: Jika engkau malah tidak memberinya apa-apa, maka itu akan jadi dosa bagimu.” 

Abu Hurairah juga meriwayatkan kisah serupa: “Rasulullah SAW bersabda, Barang siapa yang berkata kepada anaknya, “Datanglah kemari, aku akan memberimu sesuatu,” lalu malah tidak memberi apapun kepada si anak, maka itu akan dicatat sebagai perbuatan dusta.”

Kesesuaian antara hati dengan perilaku yang ditampilkan oleh seorang muslim juga amat penting untuk nilai integritasnya. Sama dengan kita harus menjauhi perkataan kasar, kita juga harus menjaga diri kita dari perasaan atau pemikiran penuh benci.

Dengan kata lain, seorang muslim harus berkata-kata sesuai dengan pikirannya, dan berperilaku sesuai dengan perkataannya; tidak boleh ada perbedaan antara yang terdapat dalam hati kita dengan perilaku yang kita tampilkan.

Hadis berikut mengupas aspek integritas:

“Barang siapa yang hatinya batil, tidak akan memiliki iman yang sempurna. Jika lidahnya tidak berkata benar, maka dalam hatinya tidak ada kebenaran, dan jika tetangganya tidak selamat darinya, maka dia tidak akan masuk surga” (Al-Musnad, 3/198).

Di sini Nabi mengajarkan bahwa hati dan lidah harus saling berkesesuaian, dan keduanya harus menampilkan integritas.

Ketika terdapat kesesuaian antara aktivitas batin seorang muslim dengan aktivitas lahirnya, maka dia akan selalu jujur, dalam bekerja maupun berniaga. Setiap muslim harus dengan detail tidak pernah sekalipun berbuat curang atau menipu orang lain demi mendapat laba yang lebih besar ataupun demi kepentingan lain.

Terdapat hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah berbunyi,

“Suatu hari Nabi melihat (seorang lelaki menjual) setumpuk gandum. Nabi memasukkan tangannya ke tumpukan itu dan menemukan bahwa gandum yang di bawah basah sedangkan yang di tumpukan atas kering.

Maka Nabi bertanya kepada si penjual, ‘Apa ini?’

Lelaki itu menjawab, ‘Hujan telah membuatnya basah.’

Jawab Nabi, ‘Kamu harus meletakkan gandum yang basah di atas (agar semua orang bisa melihatnya).

Penipu bukan termasuk golongan kami.’”

Abu Sa’id al-Khudri meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda,

“Pedagang yang tidak melenceng dari nilai keadilan dan kejujuran akan dibangkitkan bersama dengan para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang taqwa.”

Salah satu karakteristik unik pada diri sahabat Nabi -barangkali adalah karakteristik yang paling penting- adalah integritas dan kejujuran yang teguh. Kualitas ini telah membawa satu atmosfer mendalam berupa kelapangan dan rasa aman pada batin dan hubungan antarpribadi mereka.

Pada suatu waktu Abu al-Haura bertanya kepada Hasan bin Ali, “Apa yang engkau hafal dari Rasulullah?”

Jawabnya, “Aku menghafal dari beliau: ‘Tinggalkan apa-apa yang membuatmu ragu, beralihlah ke apa-apa yang menghapuskan keraguan darimu.’

Dalam riwayat yang sama, Sufyan bin Abdullah As-Sakafi berkata, “Wahai Rasulullah, berilah ilmu tentang Islam kepadaku yang cukup bagiku sehingga aku tidak perlu bertanya kepada siapapun lagi tentang Islam.”

Beliau menjawab, “Katakanlah, ‘Aku beriman kepada Allah,’ kemudian jadilah benar-benar jujur dalam segala hal.”

matt-howard-A4iL43vunlY-unsplash

Keteladanan – Cahaya Abadi Muhammad SAW

Selawat

Tujuan dihadirkannya Rasulullah SAW,  para nabi dan rasul adalah agar mereka semua menjadi suri teladan dan contoh yang dapat diikuti oleh umat mereka masing-masing. Allah menyatakan di dalam Alquran:

“Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah maka Ikutilah petunjuk mereka.” Q.S. Al An’am ayat ke-90

Ayat ini ditujukan kepada Rasulullah SAW sebagai pesan Allah untuk beliau agar mengikuti jejak para nabi terdahulu yang nama-nama mereka telah disebutkan di ayat sebelumnya. Marilah kita renungi ayat berikut ini:

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” Q.S Al-Ahzab ayat 21 

Para Nabi adalah teladan kita dan sekaligus menjadi imam kita. Sebagaimana halnya kita harus mengikuti imam di saat salat. Kita juga harus mengikuti perilaku para Nabi dalam seluruh aspek kehidupan. Hal itu harus dilakukan, sebab kehidupan yang hakiki bagi kita adalah kehidupan yang dicontohkan oleh nabi kita Muhammad SAW dan para nabi lain sebelum beliau. Para sahabat yang hidup semasa dengan Rasulullah telah berhasil mengikuti jejak Rasulullah langkah demi langkah. Itulah sebabnya para sahabat dan tabiin berhasil mencapai kedudukan mulia. Seperti yang disebutkan oleh Rasulullah SAW dalam hadits beliau: 

Akan datang suatu masa pada manusia ketika mereka menyerang segolongan orang lain mereka ditanya: 

“Apakah diantara kalian ada yang pernah bertemu Rasulullah?” 

mereka menjawab “Ya” maka dibukakanlah jalan kemenangan untuk mereka 

kemudian mereka menyerang segolongan orang lalu mereka ditanya 

“Apakah diantara kalian ada yang pernah bertemu orang yang bersahabat dengan Rasulullah?”

mereka menjawab iya maka dibukakanlah jalan kemenangan untuk mereka 

kemudian mereka menyerang segolongan orang lalu mereka ditanya 

“Apakah diantara kalian ada yang pernah bertemu orang yang bersahabat dengan orang yang bersahabat dengan Rasulullah?” 

mereka menjawab Ya maka dibukakanlah jalan kemenangan untuk mereka 

dalam hadis lain dinyatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda

 “Sebaik-baik manusia adalah masa lalu orang-orang setelah mereka lalu orang-orang setelah mereka.”

Lewat sampai ini Rasulullah SAW menyatakan keunggulan masa yang terdekat dengan masa hidup beliau. Hal itu dapat terjadi karena orang-orang muslim yang hidup pada masa itu memiliki kepekaan yang tinggi dalam mengikuti sunah-sunah Rasulullah SAW dalam segala hal, dalam kehidupan, perilaku dan pemikiran. Jadi tak dapat dipungkiri bahwa amatlah penting bagi mereka untuk selalu berusaha memiliki tujuan hidup yang semirip mungkin dengan Rasulullah, yang telah diutus untuk menjadi teladan dan kemudian mengimplementasikannya dalam kehidupan nyata. Begitulah para sahabat, tabiin, tabiut tabiin, memang telah menunjukkan kepekaan yang tinggi atas masalah yang satu ini. Itulah sebabnya mereka menjadi manusia-manusia yang lebih baik dibandingkan semua orang yang hidup di masa yang lain. Merekalah para sahabat Rasulullah SAW yang dimaksud oleh Isa a.s. dalam sabdanya 

“Di tangan mereka tergenggam panji-panji orang-orang Kudus.” At-Tsaniyah bab 33 ayat 3 

sungguh sebuah ungkapan penghormatan yang luar biasa.

Sebuah hadis Dhaif berbunyi 

“Para ulama umatku adalah seperti nabi-nabi bagi Israel” terlepas dari kedhaifannya hadits ini menunjukkan keunggulan umat Muhammad SAW. Ya, para pengikut Rasulullah memang telah berhasil mengikuti jejak sang nabi hingga mencapai tingkat yang sedemikian tinggi, dan berada persis di bawah derajat kenabian. Kiranya Umar bin Khattab r.a., dapat menjadi contoh mengagumkan di antara sekian banyak manusia biasa yang telah berhasil menjadikan Rasul Allah sebagai pembimbing dan teladan dalam semua sendi, serta aspek kehidupan. Dan kemudian menghiasi hidup mereka dengan contoh yang telah diberikan Rasulullah. Bahkan Umar sama sekali tidak mengubah sedikitpun gaya hidupnya, setelah berhasil menundukkan Byzantium dan bangsa-bangsa lain. 

Ketika Al-Quds, Yerusalem, yang saat itu masih berduka di bawah cengkraman penjajah Israel dan menjadi noda yang mencoreng wajah umat Islam, dulu berhasil ditaklukan Pasukan Islam, ternyata para pendeta yang berada di kota suci itu tidak bersedia menyerahkan kunci kota kepada Panglima pasukan muslim, yang telah memenangi pertempuran. 

Para pendeta itu berkata: “Kami tidak menemukan seorang pun di antara kalian, yang layak menerima kunci kota suci ini.”

Singkat cerita setelah berita tentang sikap para pendeta itu sampai ke telinga Umar r.a. Sang Amirul Mukminin langsung berangkat menuju Al Quds, dengan mengendarai seekor unta yang dipinjamnya dari Baitul Mal. Di sepanjang perjalanan menuju akun Umar r.a. bahkan rela bergantian mengendarai unta pinjaman itu dengan pelayannya. Secara kebetulan, ketika unta yang dikendarai Umar hampir sampai di gerbang Al Quds tibalah giliran si pelayan untuk mengendarai unta itu. Umar pun turun dan mempersilahkan pelayannya untuk naik ke punggung unta. Sementara dia menuntun, sambil berjalan. Si pelayan pun menolak karena tak bisa membiarkan sang Amirul Mukminin, memasuki Al Quds sambil berjalan menuntun unta, yang dikendarai oleh seorang pelayan.

Silakan Anda bayangkan betapa dramatisnya peristiwa itu.

Dalam sekejap mendadak seisi Yerusalem riuh rendah oleh orang-orang yang tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Seorang pemimpin tertinggi kekhalifahan Islam berjalan memasuki kota sambil menuntun unta yang dikendarai oleh pelayannya sendiri. 

Dan ketika hal itu dilihat oleh para pendeta memegang kunci kota, mereka pun berujar: “Iya memang seperti inilah sifat orang yang akan menerima kunci kota ini! Seperti yang telah disebutkan dalam kitab suci kami. 

Mereka langsung menyerahkan kunci kota al-quds kepada Umar Bin Khattab r.a.

Selain peristiwa ini silakan Anda bayangkan ketika Umar tergeletak di tanah setelah ditikam oleh seorang lelaki majusi, sehingga membuat makanan yang baru disantapnya terburai keluar dari perut yang sobek. Ketika itu Umar tergolek diam tak sadarkan diri dan tak ada seorangpun yang berhasil membuatnya siuman. 

Berkenaan dengan kejadian ini Miswar bin Makhzamah menuturkan sebuah riwayat “Ketika aku melihat Umar Bin Khattab sedang tergeletak, aku bertanya kepada orang-orang yang ada di situ, Menurut kalian bagaimana keadaannya? 

Mereka menjawab, “Keadaannya separah yang kau lihat.” 

Aku berkata, “Bangunkanlah Ia dengan seruan salat.

Ketika kami tidak mengetahui ada cara yang lebih ampuh untuk menyadarkan Umar dari pingsan melainkan dengan mengajaknya salat. 

Maka orang-orang pun berseru, “Salat…! Wahai Amirul Mukminin!” 

Sontak Umar pun siuman dari pingsannya, seraya berujar, “

 telah mempelajari semua yang dilakukan itu dari rasulullah yang amat dicintainya. Sosok yang wajib dijadikan panutan dan diikuti dengan cara yang sedemikian rupa untuk kemudian menjadi teladan sempurna bagi semua generasi yang muncul kemudian. Begitulah diutusnya para nabi dan rasul untuk menjadi teladan yang baik bagi umat mereka adalah salah satu tujuan utama kedatangan mereka.

Diambil cahaya abadi Muhammad SAW kebanggaan umat manusia Hocaefendi

mengembangkandiri.com doa pembuka majelis muslim-prayer-beads-on-wooden-background-close-up-2021-09-02-15-22-09-utc

Doa Pembuka Majlis Ilmu

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ     
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ
وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
اَللَّهُمَّ  الْعِلْمَ وَالْإِيْمَانَ الْكَامِلَ وَالْعُبُوْدِيَّةَ الْكَامِلَةَ التَّامَّةَ وَالْإِخْلاَصَ الْأَتَمَّ وَالْيَقِيْنَ التَّامَّ وَالتَّوَكُّلَ التَّامَّ وَالْمَعْرِفَةَ التَّامَّةَ وَالْمَحَبَّةَ التَّامَّةَ وَخَالِصَ العِشْقِ وَالإِشْتِيَاقَ إِلَى لِقَائِكَ وَالْعِفَّةَ وَالْعِصْمَةَ وَالْفَطَانَةَ وَالْحِكْمَةَ وَفَصْلَ الْخِطَابِ وَالْحَافِظَةَ الدَّائِمَةَ وَالذَّاكِرَةَ الدَّائِمَةَ وَالصِّحَّةَ الدَّائِمَةَ الْكَامِلَةَ وَالْعَافِيَةَ الدَّائِمَةَ الْكَامِلَةَ وَالْقَلْبَ السَّلِيْمَ          
اَللَّهُمَّ  أَسْرَارَ الْإِيْمَانِ وَالْإِسْلاَمِ وَالْإِحْسَانِ 
اَللَّهُمَّ  ثَبِّتْنَا عَلَى الْحَقِّ وَالْعَدَالَةِ وَالْإِسْتِقَامَةِ وَالْعِفَّةِ وَالْعِصْمَةِ وَالْفَطَانَةِ وَالْإِذْعَانِ وَثَبِّتْنَا عَلَى مَا تُحِبُّ وَتَرْضَى       
اَللَّهُمَّ  الْإِخْلاَصَ فِيْ كُلِّ أَمْرِنَا وَفِيْ كُلِّ شَأْنِنَا وَرِضَاكَ
اَللَّهُمَّ  أَسْرَارَ الْحَقَائِقِ وَحَقِيْقَةَ الْحَقَائِقِ
اَللَّهُمَّ بَسْطَ الزَّمَانِ وَبَسْطَ الْإِمْكَانِ
اَللَّهُمَّ  أَقْرِرْ أَعْيُنَنَا بِانْتِشَارِ الْإِسْلاَمِ فِيْ كُلِّ أَنْحَاءِ الْعَالَمِ وَفِيْ كُلِّ نَوَاحِيْ الْحَيَاةِ
اَللَّهُمَّ  فَقِّهْنَا فِيْ الدِّيْنِ
اَللَّهُمَّ  فَقِّهْنَا فِي الْقُرْأَنِ الْكَرِيْمِ
اَللَّهُمَّ  فَقِّهْنَا فِي الأَحَادِيْثِ النَّبَوِيَّةِ
اَللَّهُمَّ  فَقِّهْنَا فِيْ كُتُبِ أَسَاتِيْذِنَا
اَللَّهُمَّ  عَلِّمْنَا مِنْ لَدُنْكَ عِلْماً
اَللَّهُمَّ  افْتَحْ عَلَيْنَا حِكْمَتَكَ وَانْشُرْ عَلَيْنَا رَحْمَتَكَ
اَللَّهُمَّ  حَوْلاً وَقُوَّةً مِنْ حَوْلِكَ وَقُوَّتِكَ فِيْ كُلِّ أَمْرِنَا وَفِيْ كُلِّ شَأْنِنَا مِنَ الْخَيْرِ , يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
اللَّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعْنَا وَانْفِعْنَا بِماَ عَلَّمْتَنَا ، وَزِدْنَا عِلْمًا وَ فَهْمًا، وَ اَلْحِقْنَا بِالصَّالِحِيْنَ ، وَأَرِنَا الْحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اِتْبَاعَهُ ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ ، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ يَسْتَمِعُوْنَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ أَحْسَنَهُ ، وَأَدْخِلْنَا بِرَحْمَتِكَ فِيْ عِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ .
وَ صَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّد وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ وَعَلَى إِخْوَانِهِ مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى عِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ , رِضْوَانُ اللهِ تَعَالَى عَلَيْهِمْ وَعَلَيْنَا أَجْمَعِيْنَ

Artinya:

Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk
Dengan menyebut nama Allah, yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Segala puji bagi Tuhan semesta alam yang mana segala pujian hanya layak kepada-Nya. Semoga sholawat dan salam senantiasa tercurahkan pada Baginda kita dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, beserta keluarga dan seluruh sahabatnya. Wahai Allah Azza wa Jalla, anugerahkanlah kami kedalaman ilmu dan keimanan yang sempurna, penghambaan yang utuh, keikhlasan yang sempurna, keyakinan sempurna yang tak tergoyahkan oleh keragu-raguan, tawakal yang sepenuh hati, pengetahuan sempurna yang Engkau hadiahkan pada hamba-hamba pilihan-Mu, rasa cinta hakiki kepada-Mu, serta kerinduan yang tulus untuk bertemu dengan-Mu.

Ya Allah.. Anugerahkan kami kesucian, kebersihan diri dari dosa-dosa, kecerdasan, kebijaksanaan, dan kemampuan untuk menjelaskan suatu persoalan dengan tepat dan benar tanpa kekurangan. Ya Allah.. Anugerahkan kami hafalan dan ingatan yang kuat, kenikmatan untuk bisa selalu mengingat-Mu , serta kesehatan yang tak kurang suatu apapun. Ya Allah.. Kami mohon jauhkanlah kami dari penyakit jasmani dan rohani, anugerahkan kami kesehatan yang sempurna, serta hati nurani yang sehat.

Ya Allah.. Bukakanlah untuk kami rahasia-rahasia di balik iman, Islam dan ihsan. Teguhkanlah diri kami dalam kebenaran, keadilan, istikamah, kesucian, kebersihan diri dari dosa-dosa, kecerdasan dan ketundukan hati pada-Mu. Teguhkanlah hati kami sesuai dengan yang Engkau sukai dan ridai. Ya Allah.. anugerahkan kami keikhlasan dan keridaan dalam setiap urusan dan persoalan kami. Ya Allah.. Tunjukkanlah dan bukakanlah kepada kami rahasia-rahasia dan tabir-tabir di balik setiap hakikat.

Ya Allah.. Anugerahkanlah kelapangan dan keberkahan waktu dan tempat, hingga kami mampu melaksanakan tugas yang berat dalam waktu yang singkat dan menempuh jarak yang jauh tanpa terhambat. Ya Allah.. Bahagiakanlah kami dengan tersebarnya ajaran Islam di seluruh penjuru dunia. Ya Allah.. Berilah kami pemahaman agama yang mendalam, sehingga kami memahami kandungan Al-Qur’an, isi dari hadis-hadis Nabi.. Ya Allah.. Ajarilah kami ilmu-ilmu dari sisi-Mu.

Ya Fattâh, bukakanlah bagi kami hikmah-Mu, tebarkanlah kepada kami rahmat-Mu. Ya Allah.. Berikanlah kami kekuatan dan kemampuan dari daya dan kekuatan-Mu di setiap perkara dan urusan, baik kami Yâ Dzal Jalâl wal Ikrâm. Semoga sholawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, seluruh sahabat, para Nabi dan Rasul, serta para hamba-hamba-Mu yang sholeh. Semoga rida Allah senantiasa bersama mereka dan kita semua. Amin..

jug-book-phlox-white

Al-Qulub Al-Dhariah

Buku Al-Qulub Al-Dhariah (Rintihan Hati) merupakan sebuah kitab berisi kumpulan doa-doa pilihan yang dipilih berdasarkan arahan Ustaz Muhammad Fethullah Gülen, yang bersumber dari berbagai referensi, terutama dari doa-doa yang disusun oleh Syekh Ziyauddin Gumuşhanevi (seorang ulama periode akhir Kesultanan Utsmani) dalam tiga juz yang diberi nama ”Majmu’ah Al-Ahzab” (Kumpulan Hizib-hizib).