mengembangkandiri.mother-and-child-YRN2PWM

Dengan Pengorbanan

“Bolehkah saya melihat bayi saya?” pinta seorang Ibu muda itu. Sebuntal kain yang lembut diletakkan dalam dekapannya, sang ibu yang bahagia itu bergegas membuka kain selimut itu untuk segera melihat wajah mungil si jabang bayinya.

Sang ibu tertegun tidak bisa berkata-kata dengan apa yang dilihatnya. Dokter yang memperhatikan ibu dan bayi itu bergegas memalingkan wajahnya. Sang dokter segera berpaling dari mereka dan melihat ke luar jendela.

Bayi itu tidak memiliki telinga.

Hasil pemeriksaan medis menunjukkan bahwa fungsi pendengaran bayi tidak terpengaruh, hanya secara fisik luar tidak memiliki daun telinga.

Tahun demi tahun telah dilalui, bayi itu tumbuh dewasa dan mulai menempuh pendidikan di sekolah. Suatu ketika, sekembalinya dari sekolah, dia bergegas berlari dan mendekapkan dirinya ke pelukan sang Ibu dan menangis tersedu-sedu.

Ini adalah kekecewaan besar pertamanya.

Sambil menangis, dia berkata, “Seorang kakak kelas memanggil saya monster, Ibu.” dan terus semakin dalam isak tangisnya.

Anak kecil itu terus tumbuh dewasa.

Dia populer di antara teman sekelasnya dan menjadi siswa yang cerdas. Bahkan dia bisa saja menjadi ketua kelas, hanya jika dia dapat berbaur dengan teman-temannya.

“Kamu harus bisa bergaul dengan anak-anak lain, Nak.” ibunya selalu berpesan, meskipun di saat yang sama sang Ibu merasa sangat kasihan dengan kondisinya. Sang Ayah sempat berkonsultasi dengan seorang dokter tentang kondisi putranya.

“Tidak adakah yang bisa dilakukan, Dok?” tanya sang Ayah. 

Dokter memberikan jawabannya, “Transplantasi daun telinga bisa saja dilakukan, jika ada seseorang yang berkenan mendonorkannya.”

Pencarian pendonor untuk transplatasi daun telinga sang pemuda pun dimulai….

Setelah dua tahun penantian, sang Ayah berkata,

“Bergegaslah pergi ke rumah sakit, Nak. Ibumu dan aku telah menemukan seseorang yang akan mendonorkan daun telinganya untukmu, tetapi ingatlah bahwa ini adalah rahasia.”

Singkat cerita, operasi itu berjalan dengan lancar. Sekarang sang Pemuda sudah memiliki telinga yang sempurna. Keadaan emosionalnya membaik dengan penampilan barunya, pemuda itu mencapai kejayaan dalam kehidupan akademik dan sosial. Ia kemudian menikah dan menjadi diplomat.

Bertahun-tahun berlalu dan suatu hari anak laki-laki itu pergi menemui ayahnya dan bertanya,

“Ayah, saya sangat ingin tahu pendonor yang telah mengubah hidup Saya kala itu? Saya tidak bisa melakukan apapun untuknya…”

“Sampai saat ini tidak ada yang dapat kamu lakukan untuknya,” kata Ayahnya.

“Kesepakatannya sudah jelas. Kamu belum bisa mengetahuinya sekarang. Belum.” imbuh sang Ayah.

Rahasia yang disembunyikan selama bertahun-tahun akhirnya akan terungkap juga. Datanglah hari dimana rahasia itu tersingkap, waktunya telah tiba untuk mengungkapkannya.

Hari itu adalahah hari terkelam dalam hidup sang Pemuda, dia menunggu bersama ayahnya di samping tubuh ibunya yang sudah tidak bernyawa….

Ayahnya secara perlahan mengulurkan tangannya ke arah kepala sang Ibu. Sang Ayah dengan lembut mengurai rambut cokelat keemasan sang Ibu ke belakang.

Sang Ibu tidak memiliki daun telinga.

mengembangkandiri mountain-sunrise-5WMXRKU

Keikhlasan

 

Shalawat

Keikhlasan,

Yang dimaksud dengan keikhlasan adalah melakukan atau meninggalkan sesuatu hanya karena Allah. Para nabi adalah orang orang yang telah mencapai tingkat keikhlasan tertinggi. Sejak mereka mulai misi yang mereka emban. 

Demikian juga orang kebanyakan dapat mencapai tingkat tertentu dalam keikhlasan. Asalkan mereka mau berusaha. Hanya saja, setinggi-tinggi tingkat keikhlasan yang mereka capai sebenarnya itu adalah tingkat keikhlasan terendah, dari yang dimiliki oleh para nabi. Sebab keikhlasan para nabi bagaikan permata. Itulah sebabnya mereka dijuluki dengan istilah Al Mukhlasun. Salah satu contoh ketinggian derajat keikhlasan para rasul ini dinyatakan oleh Al Quran dalam ayat yang menyebut nama Musa a.s. 

Dan ceritakanlah hai Muhammad kepada mereka kisah Musa di dalam al kitab Al Qur’an ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang mukhlas serta sekaligus seorang nabi dan rasul. (Q.S. Maryam19; 51)

Demikian pula dengan nabi Yusuf a.s. “Sesungguhnya yusuf itu termasuk hamba hamba kami yang mukhlas. (Q.S. Yusuf 12; 24)

Allah bahkan berfirman kepada Rasulullah Muhammad SAW. 

Sesungguhnya, kami menurunkan kepadamu kitab Al Quran dengan membawa kebenaran. Maka sembahlah allah dengan memurnikan atau mukhlis ketaatan kepada nya. (Q.S. Az Zumar 39; 2)

Dan Allah Pernah meminta Rasulullah SAW untuk mengingat-Nya. Dengan sebuah firman.

Katakanlah, hanya Allah saja yang aku sembah dengan memurnikan mukhlis ketaatan kepada Nya dalam menjalankan agama-Ku. (Q.S. Az Zumar 39; 14)

Alasan manusia untuk beribadah adalah karena adanya perintah allah. Sementara buah yang dipetik dari ibadah adalah keridhoan Allah dan balasan di akhirat. Ibadah seperti ini yang dapat menjaga kualitas kehidupan seseorang secara sempurna. Dan akan tercermin pada seluruh tingkah laku dan perbuatan orang yang bersangkutan. Said An Nursi sang mufakir Al Ashr pemikir zaman ini. Ia memahami betul arti keikhlasan pernah menyatakan sebagai berikut.

Wahai diriku. Jika kau tak mau jadi orang bodoh dan tolol, maka memberilah dengan nama allah. Ambillah dengan nama allah. Mulailah dengan nama allah. Dan berbuatlah dengan nama allah. Wassalam. 

Keikhlasan adalah tanda orang yang lurus. Orang yang ikhlas, tidak akan menempuh jalan yang menyimpang. Karena kehidupan rohani seseorang yang ikhlas adalah sebuah kehidupan yang benar benar lurus dan selalu naik derajatnya ke tingkat yang lebih tinggi. Apalagi orang orang ikhlas seperti itu pasti akan selalu menjaga kesucian dari keikhlasan yang menjadi titik sentral hidup mereka. Tetapi alangkah sedikitnya orang orang yang seperti itu. 

Ada satu sosok unik di sepanjang sejarah manusia yang berhasil mencapai puncak keikhlasan tertinggi, sehingga tidak ada lagi yang lebih tinggi darinya.

Sosok istimewa itu adalah, Rasulullah SAW.

Betapa tidak? Rasulullah adalah sosok yang kondisi keikhlasan dan kerendahan hatinya. Di saat mulai berdakwah sama persis dengan kondisi keikhlasan dan kerendahan hati beliau di saat peristiwa penaklukan Mekah. Rasulullah berhasil menaklukkan Mekah melalui jalan damai. Tentu saja hal ini akan kita sepakati jika kita mengenyampingkan beberapa insiden di beberapa sudut Mekkah yang tidak dapat kita generalisir sebagai sebuah penyerangan. 

Ketika Rasulullah SAW sang kebanggaan semesta memasuki kota Mekah yang beberapa tahun sebelumnya beliau pernah diusir darinya. Rasulullah tidak masuk dengan sikap sebagai seorang Panglima yang baru berhasil menundukkan sebuah kota. Alih-alih justru Rasulullah memasuki Mekah dengan kepala menunduk sampai sampai nyaris menyentuh punggung bagal yang beliau kendarai. 

Demikian pula ketika tinggal di Madinah. Rasulullah SAW sama sekali tidak berubah, suatu ketika para sahabat pernah bangkit berdiri untuk menunjukkan penghormatan. Para sahabat menganggap bahwa bentuk penghormatan seperti itu amat pantas diberikan kepada Rasulullah. Sebab Rasulullah selalu bangkit berdiri sebagai bentuk penghormatan ketika ada keranda mayat yang diusung lewat di depan beliau. Akan tetapi, Rasulullah sama sekali tidak suka para sahabat berdiri menyambutnya. Beliau lalu berkata, janganlah kalian berdiri menyambutku seperti yang dilakukan orang orang Ajam. 

Demikianlah, Rasulullah SAW telah memangkasi tugas mulia yang dipikulnya dengan sikap yang sama persis dengan sikap beliau di saat baru mulai berdakwah. Tahun demi tahun, berlalu bagaikan alunan irama merdu. Tak ada satu tindakan pun, yang dilakukan Rasulullah, melainkan beliau selalu berhasil mengakhirinya dengan baik. Semua itu tentu merupakan keberhasilan yang tak terbantahkan.

 Dapat dikatakan bahwa Rasulullah SAW memulai alunan senandung ilahi dengan nada lembut, tapi kemudian terus naik hingga menggetarkan seluruh jagat raya. Rasulullah, telah bersumpah, untuk membaktikan segenap jiwa dan ibadahnya hanya kepada Allah SWT. Itulah yang membuat jiwa Rasulullah SAW dilingkupi dengan ma’rifat terhadap allah. Siapapun dapat dengan mudah melihat jejak keagungan dan keluhuran akhlak beliau. Sebab jiwa Rasulullah selalu dipenuhi dengan berbagai kenikmatan rohani yang padat. Beliau selalu awas terhadap hakikat, dan hatinya selalu terbuka pada kebenaran. Tak pernah sedetik pun, Rasulullah SAW berhenti berzikir. Semua itu terjadi karena Rasulullah adalah pribadi yang ikhlas dan selalu berserah diri kepada Allah. Apalagi prinsip ihsan yang beliau ajarkan telah membuka dimensi baru bagi beliau. Ihsan yang dijelaskan oleh Rasulullah lewat sambil terkenal. Kau beribadah kepada Allah. Seakan akan kau melihatnya. Tapi jika kau tidak mampu melihat nya, maka sesungguhnya dia melihatmu. 

Cahaya abadi Muhammad SAW Kebanggaan umat manusia -Hoca  Efendi. 

 

Pearls of Wisdom - F.Gulen mengembangkandiri

Pearls of Wisdom -M. Fethullah Gülen

Reflections on the Divine - Said Nursi mengembangkandiri

Reflections on the Divine – Badiuzzaman Said Nursi