Kehidupan di Luar Dunia Kita
Apa itu Malaikat?
Percaya kepada para malaikat merupakan salah satu rukun iman. Malaikat adalah makhluk yang diciptakan dari cahaya, tanpa jenis kelamin dan diciptakan oleh Allah untuk selalu tunduk pada perintah-Nya.
Dalam Al-Qur’an, Allah menyebutkan dan menjelaskan, bahwa beriman kepada para malaikat termasuk diantara rukun-rukun iman: “Rasul (Muhammad) beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya (Al-Qur’an) dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semua beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya” (al-Baqarah 2:285).
Apakah Keberadaaan Malaikat Dapat Dibuktikan?
Ada ribuan bentuk dan ragam wujud kehidupan di planet kita, yang mana itu semua hanyalah ruang kecil dalam alam semesta. Pertanyaan berikut mungkin timbul pada benak kita dikarenakan hal tersebut:
Dalam situasi sekarang kita hidup di bumi, namun mungkinkah ada bentuk kehidupan atau ragam makhluk lain yang dapat hidup dengan kondisi lingkungan di bintang, planet, atau tata surya lain yang jauh berbeda?
Dengan tergesa-gesa menjawab “Tidak”, dalam menanggapi pertanyaan semacam ini dapat menimbulkan pemikiran yang lebih salah arah.
Sama sekali tidak masuk akal dengan hanya membandingkan segala bentuk dan jenis kehidupan dengan apa yang ada di dunia kita saja, dan hanya memandang planet dan makhluk dimensi lain sebagai kerangka kosong tak bernyawa.
Seperti inilah kondisi kita selama ini, akan lebih bijak bagi kita, apabila kita mempercayai tentang pesan yang telah dibawa oleh para nabi kepada kita tentang hal-hal seperti ini.
Dengan menggunakan sebuah perumpamaan, permasalahan seperti ini akan lebih mudah untuk dijelaskan:
Mari kita misalkan ada seorang raja yang memiliki harta dan karya seni yang tidak terhitung banyaknya. Sang Raja membangun sebuah kota, tak lupa, dengan berbagai istana yang tak tertandingi kemegahannya. Sang Raja juga membangun sebuah gubuk kecil yang dibangun di salah satu sudut kota yang megah itu.
Kita dapat dengan cermat mengamati aktivitas kehidupan dan keaktifan didalam bangunan kecil ini. Namun saat kita mengarahkan pandangan kita ke arah lain menuju ke istana-istana yang megah, kita tidak melihat siapapun di sana.
Ketidakmampuan kita melihat kehidupan di dalam istana yang megah tersebut mungkin disebabkan oleh tiga alasan utama, yaitu: Kita mengalami sejenis gangguan penglihatan, atau penghuni istana yang sedang menyembunyikan dirinya dari kita, atau memang benar bahwa di istana tersebut tidak ada penghuninya sama sekali.
Kemungkinan terakhir, yang menyiratkan bahwa dalam ribuan istana megah tersebut tidak ada kehidupan sementara di dalam gubuk kecil di sudut kota itu dipenuhi dengan kehidupan, bukanlah pandangan yang bijaksana bagi kita yang berakal sehat.
Maka dari itu, dikarenakan ada gangguan penglihatan yang menghalangi kita untuk melihat penghuni istana-istana itu, atau karena para penghuni disana yang sedang menyembunyikan dirinya dari kita (karena alasan yang kita tidak ketahui) adalah kemungkinan yang lebih mungkin.
Gubuk kecil pada analogi kota megah itu layaknya seperti dunia tempat kita hidup sekarang. Sedangkan istana-istana megah di kota itu adalah benda-benda langit dan makhluk dimensi lain di luar dunia kita.
Dari contoh ini, apakah masuk akal bagi seseorang yang menyaksikan langsung fenomena ribuan cahaya, warna-warni, dan berbagai suara dari luar sana beranggapan bahwa istana-istana tersebut hampa akan kehidupan? Apakah kita yang juga mengalami hiruk pikuk dan roda kehidupan secara terus-menerus di sebuah titik kecil di sudut kota alam semesta ini layak mengira bahwa istana-istana megah alam semesta di luar sana itu hampa akan kehidupan?
Tentu saja tidak.
Ada kehidupan di sana, dan juga ada penghuni yang tinggal di dalamnya. Ketidakmampuan kita dalam melihat mereka yang tak terlihat tidak melenyapkan keberadaan mereka.
Yang Tak Terlihat Bukan Berarti Tidak Ada
Berkaitan dengan pembahasan ini, kenyataan bahwa malaikat tak dapat dilihat dan dirasakan dengan panca indera, tidak dapat dijadikan pembenaran untuk mengingkari keberadaan mereka. Ketidaktampakan mereka bukan berasal dari ketiadaan atau ketidakmampuan mereka untuk dilihat, tetapi dikarenakan oleh diri kita yang tidak memiliki kapasitas untuk melihat mereka.
Dengan kata lain, tak terlihatnya para malaikat adalah karena sifat metafisik dan immaterial mereka, yang membuat mereka berada di luar domain pengamatan dan pengetahuan eksperimental kita.
Bahkan jika kita tidak dapat menerima apa yang telah disampaikan kepada kita terkait hal ini, menahan diri untuk menolaknya secara langsung tampaknya menjadi jalan yang lebih bijaksana, karena pasti ada ahlinya sendiri yang berkaitan dengan hal ini.
Ada ribuan individu di zaman kita, yang pernah secara langsung, dalam kehidupan pribadinya mengalami, menyaksikan atau mendengar langsung. Mereka menjadi saksi-saksi langsung dalam menggambarkan para malaikat, menceritakan kisah hidup jin, dan menjelaskan hal-hal spiritual, dan ada banyak kejadian lain yang pernah mereka riwayatkan.
Percayakah Engkau dengan yang Tak Terlihat?
Saya hanya Percaya dengan Sesuatu yang Dilihat Mata Saya!
Seorang ateis bertanya kepada Imam Abu Hanifah, “Jika Allah memang benar ada, mengapa Dia tak terlihat?”
Beliau menimpali, “Mohon bawakan beberapa gelas susu, kemudian kita lanjutkan pembicaraan kita.” Si ateis tampak bungah setuju.
Jamuan pun tiba.
*Zaman itu, masyarakat Arab menggunakan sari tebu sebagai pemanis minuman, mengingat belum ditemukan gula layaknya sekarang. Alangkah baiknya jika sari tebu itu kita sebut sebagai gula dalam artikel ini. *
Si ateis mulai meminum susu.
Imam Abu Hanifah menawarkan beberapa sendok gula kepadanya. Beliau dengan nada memerintah berkata, “Ambillah lagi!”
Karena sudah terasa manis tentu sang ateis menolak tawaran Beliau. “Terima kasih, tapi susu ini sudah manis. Apakah Anda bisa langsung saja menjawab pertanyaan saya di awal tadi?”, tanyanya dengan angkuh.
“Tambahkanlah dulu gula di susumu, barulah kita lanjutkan berbicara.”
Sang ateis menjawab dengan suara lantang, “Saya sudah melakukannya!”
Sang imam sinis menimpali, “Aku tidak percaya.”
Dalam kondisi hati marah sang ateis bertanya, ” Mengapa?”
Dengan teguh Beliau menjawab, “Saya tidak percaya terhadap sesuatu yang tak terlihat.”
Sang ateis kukuh mendebat, “Bagaimana Anda melihat gula yang sudah tercampur dengan air susu? Memang saya tidak bisa menunjukkannya. Jika Anda meminumnya, pasti terasa manis. Mengapa Anda malah bertanya demikian? Bisakah Anda menjawab pertanyaan saya diawal tadi saja?”
Abu Hanifa, “Anda tidak memberiku kesempatan menjawab. Anda justru menjawabnya sendiri.”
“Apa maksudnya?”
Sang imam menjelaskan,
“Gula dalam susu memang ada namun tak terlihat, demikian halnya dengan Allah SWT. Mustahil bagi manusia untuk melihat gula dalam susu dengan mata telanjang. Manusia hanya dapat mengetahui dengan merasakannya, bukan dengan melihatnya. Bukankah banyak hal di alam semesta yang tak kasat mata, namun masih bisa diketahui keberadaannya melalui panca indera?
Diri manusia terlalu rendah untuk melihat wajah Allah jika melihat rasa manis gula dalam segelas susu saja tidak sanggup. Mata manusia terbatas. Manusia mampu mengetahui kekuasaan Allah melalui kreasi ciptaan-Nya yang indah luar biasa. Manusia merasakan-Nya dalam pikiran dan hati.”
Siapakah yang Menciptakan Allah?
Sekelumit pertanyaan yang mengandung kesalahan logika.
Tiada yang menciptakan Allah.
Sifat-Nya mengungkapkan bahwa Ia Maha Berdiri Sendiri, tidak membutuhkan apapun. Misal sesuatu bergantung pada suatu hal, tentu tidak dapat dikatakan berasal dari keilahian.
Allah-lah yang menciptakan semua makhluk. Pertanyaan perihal pencipta Sang Maha Kuasa merupakan kesia-siaan belaka yang nanti berujung kepada siklus sebab-akibat tanpa ujung.
Logika dan nalar dapat memahami bahwa setiap orang harus menempatkan suatu entitas yang mampu berdiri sendiri dengan kemandirian mutlak yang tak membutuhkan apapun dalam urutan teratas, bukankah demikian?
Coba pahami analogi dengan contoh konkret dalam kehidupan nyata berikut:
Tatkala melihat sebuah kereta bergerak bagai kilat, tampak gerbong kereta ditarik mengikuti gerbong depannya. Sampailah pada bagian mesin utama yang disebut lokomotif. Siapakah gerangan yang menghidupkan dan mengendalikan lokomotif terdepan? Bukankah demikian merupakan sesuatu yang tak masuk akal?
Lokomotif merupakan penggerak utama gerbong kereta, namun ia tetap mampu menggerakan diri sendiri. Demikian halnya dengan Allah, yang menjadikan semua orang beriman menyebut-Nya Allah.
Ibarat kursi dengan dua kaki saja, yang pasti tidak dapat berdiri sendiri. Mari bayangkan semisal kursi dengan dua kaki itu bersandar pada kursi dengan dua kaki yang lain, tetap saja mereka tidak mampu berdiri sendiri. Berapapun banyaknya jumlah kursi dengan dua kaki tersebut, tetap saja tak dapat berdiri tegak sendiri kecuali hingga ada sandaran kursi dengan empat kaki atau kursi yang mampu berdiri sendiri di ujungnya.
Ketika salat berjamaah misalnya, tentu makmum harus mengikuti sang imam. Lantas siapakah sosok yang diikuti imam? Sang imam tentu tidak mengikuti siapapun. Sebaliknya, jika kasusnya imam memiliki seseorang yg diikuti saat salat berjamaah, pasti dia bukanlah imam, namun dia pasti bagian dari makmum.
Seorang tukang kayu sama sekali tidak menyerupai meja yang dia buat. Tak ada kemiripannya. Demikian dengan Allah, tidak ada yang menyerupai-Nya, tiada bandingannya. Meja tentu tidak dapat berpindah dengan sendirinya. Tukang kayulah yang dapat berbuat demikian. Manusia tidak akan hidup dengan sendirinya, berbeda dengan Sang Maha Hidup.
[E-Book] Dimanakah Dirimu? Jiwa-jiwa yang melayani
Dapatkan Buku Elektronik Dimanakah Dirimu? Jiwa-jiwa yang Melayani, persembahan Redaksi Mengembangkan Diri.
Beli sekarang juga
Rp22.000,00
Tugasmu Sebagai Anak
Apakah Tugas Seorang Anak terhadap Orangtuanya?
Kita dapat melihat dalam Al-Qur’an dan hadits Nabi bagaimana Islam sangat memperhatikan pentingnya perlakuan baik terhadap orang tua. Hal ini mendorong kita untuk memperhatikan tentang apa yang dapat kita perbuat untuk mereka secara nyata.
Dapat dikatakan bahwa tanggung jawab seorang anak terhadap orang tuanya dapat dikelompokkan menjadi dua tahap: tanggung jawab terhadap orang tua selama mereka masih hidup dan tanggung jawab terhadap orangtua setelah mereka sudah meninggal.
A. Tanggung jawab utama seorang anak terhadap orang tua ketika mereka masih hidup:
-
- Mengunjungi mereka;
- Memenuhi kebutuhan dan melayani mereka;
- Mematuhi kata-kata mereka, selama mereka tidak menyuruh kita melakukan dosa atau melakukan tindakan yang mengarah kepada suatu dosa;
- Memperlakukan mereka dengan cinta, kasih sayang dan kelembutan;
- Menghormati mereka;
- Tidak mengganggu tidur mereka atau membangunkan mereka sembarangan;
- Meminta izin sebelum memasuki kamar mereka;
- Berusaha terus menuntun orang tua tetap dalam jalan kebenaran;
B. Tanggung jawab utama kita terhadap orang tua setelah mereka meninggal:
-
- Memenuhi wasiat mereka;
- Bberdoa untuk mereka dan meminta Allah untuk mengampuni mereka;
- Menyumbangkan amal atas nama mereka;
- Melakukan ibadah yang tidak bisa mereka lakukan, seperti pergi haji (ziarah);
- Mengunjungi kerabat mereka;
- Mengunjungi kuburan mereka.
Melawan atau memberontak orang tua termasuk salah satu dosa besar, dan tentu saja salah satu perbuatan yang tidak disukai oleh Allah SWT. Dengan memutus hubungan dengan orang tua, seseorang sudah termasuk melakukan perbuatan yang merupakan ciri orang yang dikutuk Allah SWT (hipokrit), bukan seorang muslim. Sebagaimana gambaran karakteristik orang-orang yang dikutuk Allah SWT dalam Ayat 22 dan 23 surat Muhammad, Al-Qur’an menyebutkan bahwa salah satunya adalah mereka yang memutus hubungan kekeluargaan mereka.
Jika seseorang memutus hubungan dengan orang tua dan kerabatnya, dia akan kehilangan rahmat dan berkah Allah dan doanya mungkin tidak bisa dikabulkan, dan akhirnya dia tidak berhak atas surga-Nya. Untuk alasan ini, siapa pun yang berusaha untuk mencapai keberkahan dan kebahagiaan baik di dunia dan di akhirat, maka mereka yang utama adalah harus berusaha untuk mendapatkan ridha dari orang tuanya.
Perlu dicatat bahwa ketika mereka membesarkan kita, mereka tidak merawat kita hanya satu hari saja dalam setahun, tidak seperti “hari anak”. Sebaliknya, mereka merawat dan mendidik dengan penuh pengorbanan siang dan malam dan bahkan sampai kita bisa mandiri. Oleh karena itu, tugas kita adalah bersungguh-sungguh dalam memenuhi amanah agama kita, yang ada dipundak, untuk orang tua dan berusaha untuk mendapatkan ridha mereka. [1]
Apapun yang Engkau Perbuat, Tidak Ada yang Sepadan dengan Rasa Sakit yang Diderita Ibumu Saat Melahirkanmu
Muadz bin Jabal, salah seorang sahabat Nabi, seorang beruntung yang berkesempatan langsung menghadiri jamuan spiritual Nabi.
Kala itu, seseorang bertanya kepadanya, “Seberapa banyak seseorang berhutang budi kepada orang tuanya?”
Dia menjawab, “Kamu tidak akan dapat melunasi hutangmu kepada orang tuamu bahkan jika kamu menghabiskan semua kekayaanmu”
Said ibn Abu Burda meriwayatkan sebuah cerita yang didengar oleh ayahnya Abu Burda dari ibn Umar.
Suatu hari ibn Umar melihat seorang pria dari Yaman yang sedang mengelilingi Ka’bah sambil menggendong ibunya di punggungnya.
“Saya adalah unta rendahan untuk ibu saya,” gumam pria itu.
“Apakah saya sudah melunasi hutang budi saya kepada ibu saya dengan melakukannya?” tanyanya pada bin Umar.
“Tidak, tidak sedikit pun. Dengan apa yang kamu lakukan, kamu tidak dapat membalas rasa sakit yang diderita ibumu saat melahirkanmu,” jawab ibn Umar.
Seorang pria bertanya kepada Umar, khalifah kedua, yang terkenal karena keadilannya: “Saya memiliki seorang ibu yang tidak mampu merawat dirinya sendiri. Saya menggendongnya di punggung saya dan saya membantunya mengambil wudhu. Selama melakukan semua ini, saya tidak pernah mengeluh atau mencelanya. Apakah saya sudah melunasi hutang budi saya kepada ibu saya?
“Tidak,” jawab Umar.
“Saya sudah menjadikan diri saya seperti binatang pelana untuknya. Saya mendedikasikan diri untuk merawatnya. Bagaimana mungkin saya masih belum melunasi hutang saya kepada ibu saya?” tanya pria itu dengan heran.
Kemudian Umar membuat pernyataan yang luar biasa ini: “Ibumu telah melakukan semua itu untukmu. Saat itu, dia melakukannya agar Engkau hidup dan tumbuh dewasa. Tapi saat Engkau merawat ibumu sekarang, engkau sedang menunggu kematiannya.”
Kala itu, Umar melihat seorang laki-laki yang sedang mengelilingi Ka’bah dengan menggendong ibunya.
Sambil menggendong ibunya, dia berkata: “Saat ini saya menggendong ibu saya di punggung saya. Tapi sebenarnya, beliaulah yang menjadi seorang pengangkat (portir). Beliau sudah menyusui saya dan memberi saya makanan yang melimpah.”
Melihat peristiwa ini, Umar berkomentar: “Melihat pengorbanan pria ini, saya lebih menyadari bahwa ibu saya memiliki hak yang sangat banyak atas saya. Melakukan perbuatan seperti orang ini akan lebih baik bagi saya daripada memiliki unta merah (jenis unta yang paling berharga).”
Dengan berucap demikian, Umar sedang mengungkapkan kerinduannya. Dia menunjukkan bahwa Beliau akan bersemangat untuk menggendong ibunya di punggungnya jika dia masih hidup. Untuk membuat analogi, dia mengatakan dia lebih suka menggendong ibunya daripada memiliki kendaraan yang mewah.
Abu Nawfal meriwayatkan:
Suatu hari seorang pria mengunjungi Umar dan berkata bahwa dia telah melakukan pembunuhan.
“Kasihan. Sayang sekali. Apakah Engkau melakukan pembunuhan itu dengan sengaja atau tidak sengaja?” tanya Umar.
Ketika pria itu mengatakan bahwa itu adalah sebuah kecelakaan. Kemudian Umar bertanya apakah orang tuanya masih hidup. Pria itu menjawab bahwa ayahnya masih hidup. Dan Umar memberinya nasihat berikut: “Segeralah pergilah ke ayahmu, rawat dan layani dia. Lakukan semua yang bisa Anda lakukan untuk mendapatkan ridhanya.”
Kemudian, Umar berkomentar: “Demi Allah, jika ibunya masih hidup dan jika dia merawat dan melayaninya, ini akan menjadi harapan bahwa api Neraka tidak akan pernah menyiksanya.”
Abdullah bin Abbas pernah berkata, “Saya tidak pernah tahu, bahwa ada perbuatan yang lebih baik untuk mendekatkan diri kepada Allah daripada bersikap baik kepada ibu dan mendapatkan ridhanya.”
Perbuatan baik terhadap orang tua layaknya sebuah gunung yang dapat membawa kita ke surga. Seorang mukmin harus berusaha keras untuk memenangkan hati orang tuanya, agar dia berhak akan surga dan dimudahkan dalam meraihnya. Jika mereka tidak berkenan dengan kita, semakin besar kemungkinan untuk tidak dapat meraih surga-Nya.
Sebenarnya, mendapatkan ridha orang tua sama dengan mendapatkan keridhaan Allah. Mematahkan hati mereka berarti menghina Allah SWT. Seorang anak yang menyakiti perasaan orang tuanya akan ditolak masuk surga.
Aishah, ibu semua kaum mukminin, semoga rahmat Allah SWT terus tercurahkan kepadanya, mengisahkan: Dalam mimpinya, Nabi Yang Paling Mulia masuk surga dan mendengar seseorang membaca Al-Qur’an. “Siapa ini?” dia bertanya kepada orang-orang di surga. “Ini Haritha ibn an-Numan,” jawab mereka. Beliau adalah salah satu kaum Ansar yang telah berjuang di semua pertempuran termasuk Badar, Uhud, dan Khandaq. Beliau adalah Sahabat yang dihormati, yang dikenal karena kebajikannya. Nabi kita telah memberikan penjelasan tentang sebab Beliau berhak akan surga-Nya, meskipun dia memiliki begitu banyak keutamaan lainnya:
“Itu karena kebaikannya kepada orang tua.”
Setelah mengulangi kalimat ini selama tiga kali, Beliau menambahkan: “Haritha adalah yang paling baik terhadap seorang ibu.”
Ini adalah pelajaran dari Nabi, yang menggugah pikiran kita tentang bagaimana menemukan jalan menuju surga. Untuk mendapatkan kembali surga kita yang hilang, kita harus mengulurkan tangan kita kepada orang tua kita dengan kebaikan, dan kita sangat dekat dengan mereka sehingga mereka berkenan membawa kita ke surga.
Duhai Masa Lalu
Di masa mendatang,
ketika Anda mengkhayalkan hari-hari yang indah. Anda akan mengenang hari-hari yang telah berlalu. Banyak orang mencari hari-hari yang indah tersebut di masa yang akan datang. Namun kalian, justru mencarinya di masa lalu. Saat itu kalian akan mengenang wajah rumah-rumah siswa di masa lalu. Kalian akan mengenang asrama-asrama siswa yang didirikan dengan peluh keringat. Kalian akan merindukan wajah sekolah-sekolah yang kalian dirikan. Kalian akan merindukan wajah anak-anak yang meramaikan masjid-masjid. Akan datang hari, seperti halnya para sahabat.
Kalian akan berkata: “Duhai masa lalu…” Kalian pun akan mengatakan: “Ternyata hari yang indah itu ada di masa lalu”. Mungkin saya juga akan mengatakannya. Entah saat mengatakannya, apa saya sudah di liang lahat, ataukah masih hidup.
‘Wahai masa lalu…’
Ternyata itulah hari yang paling tepat untuk hidup. Hari-hari dimana pengabdian dilakukan tanpa kenal siang dan malam. Hari-hari penuh pengabdian, bagaikan kuda yang lari terengah-engah di tengah panasnya siang. Hari dimana penuh rasa malu dan segan. Hari dimana wajah penuh peluh keringat. Hari dimana kalian diminta untuk bersemangat, demi keridhoan Allah SWT.
Hari dimana kalian menyeru: “Berilah beasiswa…” “Berilah hewan kurban” “Dirikanlah madrasah…!” “Dirikanlah asrama…! Dirikanlah mes mahasiswa…! “Dirikanlah sekolah…! Dirikanlah…!” Hari dimana peluh keringat bercucuran. Aku akan mengatakannya. Kalian juga akan mengatakannya.
Mungkin hari ini adalah hari-hari yang penuh penderitaan. Atau mungkin hari penuh penantian. Namun suatu hari akan datang, itulah hari-hari yang dirindukan. Sayyidah Nasibah tidak gembira karena dia bisa hidup di Asr-Saadah (Masa Kebahagiaan). Namun dia senang dan tersenyum karena mengenang perjuangan di Perang Uhud. Dia merasa senang karena memiliki bekas luka perang Uhud yang amat besar di punggungnya. Dan sekali-kali bukan karena dia bisa hidup di Asr Saadah.
Abdullah Ibnu Huzafah as-Sahmi mengenang hari dimana kepalanya dimasukkan ke dalam air mendidih. Ia berkata: ‘Duhai Masa Lalu…’ Huzaifah mengenang hari saat ia diusir dari rumah oleh ayahnya. Diapun berkata: ‘Duhai Masa Lalu…’ Begitu juga Ammar yang berjalan terburu-buru. Dia mengenang hari dimana bara api diletakkan dipunggungnya hingga padam. Diapun berkata: ‘Duhai Masa Lalu…’ Zubair bin Awwam, mengenang hari dimana dia dibungkus dalam tikar yang dibakar.
Diapun berkata: ‘Duhai Masa Lalu…’.
Itulah ‘Masa lalu…’. Karena di hari-hari itu orang-orang mukmin sedang mendaki tebing yang terjal untuk naik derajatnya. Kalbu mereka tidak terkait dengan apapun selain-Nya. Mereka tidak pernah merasa lebih berhak walaupun mereka adalah generasi awal. Tanpa merasa berhak karena telah melakukan berbagai khidmah. Kata yang terucap dari lisan mereka hanyalah: ‘Khidmah.’ Dengannya mereka melanjutkan perjalanannya.
Mereka berkata: “Duhai masa lalu…”
Mereka menyebutnya demikian karena di hari-hari yang penuh dengan kepedihan itu tidak ada hal lain yang dikejar selain keridhoan Allah SWT. Karena di hari itu tidak ada yang merasa dirinya lebih penting. Karena di hari itu semuanya sama dan kecil. Karena di hari itu semuanya adalah orang biasa. Karena di hari itu tidak ada yang merasa lebih terhormat. Karena di hari itu, tidak ada yang merasa lebih berharga karena menjadi generasi awal. Karena di hari itu, yang ada hanya: ‘Kun ‘indannasi fardan minannas’ yang artinya “Jadilah manusia biasa di antara para manusia”
Wahai nafsuku yang tidak tahu terima kasih. Kamu pun akan mengatakan: ‘Duhai masa lalu…’ Tak pernah terbersit dalam pikiranmu kan hal-hal seperti di atas? Kamu tidak merasa tersinggung entah mereka menyimak nasihat-nasihatmu atau tidak. Setelah masuk kelas sebanyak 8 jam di pagi hari, engkau pun masuk lagi 2 jam di waktu malam. Lalu di akhir pekan, engkau keliling mulai dari kampung Simav, Gediz, hingga Demirci. Lalu kamu harus segera bersiap untuk pelajaran di hari senin. Namun kamu tidak tersinggung dan kecewa. Kamu tidak sedih karena mereka tidak menyimakmu. Kamu tidak bersedih karena kamu tidak bisa menginspirasi mereka.
Duhai masa lalu!
Betapa jauh dirimu dengan posisi kami.
Betapa dirimu telah menjauhi kami.
Duhai Masa Lalu!
Betapa besarnya kami sekarang!
Duhai Masa Lalu!
Betapa kecilnya engkau kini?!
Wahai ayyamullah! Wahai bulannya Nabi!
Duhai hari-hari penuh khidmah!
Duhai hari-hari penuh perjuangan! Hari dimana tidak ada hal lain selain-Nya.
Semakin kami besar, engkau pun semakin kecil dan tertinggal di belakang.
Engkau tertinggal di gubuk kayuku di Asrama Kestane Pazari.
Duhai gubuk kayuku!
Segala sesuatu tertinggal dan hilang bersamamu.
Duhai kerendahan hati… Betapa baiknya kamu…
Kita pernah berteman…
Duhai masa lalu!
Kita bukan yang pertama…
Kita juga bukan yang terakhir…
Duhai Masa Lalu…
Duhai hari dimana shalat diimami dengan penuh rintihan air mata.
Hari dimana detak jantung nyaris berhenti ketika membaca Al Quran.
Duhai masa lalu…
Hari dimana ukhuwwah, perasaan saling mencintai dan keterikatan hati.
Hari dimana manusia satu sama lain saling berangkulan.
Sehingga orang yang melihatnya pun takjub & memuji: “Betapa indah persaudaraan mereka”. Duhai masa lalu yang kini jadi kerdil.
Demikian me-raksasa-nya kita.
Kita tak mampu melihatmu walaupun sudah membungkuk.
Kita telah meraksasa hingga setinggi puncak Everest.
Duhai hari yang kerdil…!
Engkau bagai Laut Mati, yang berada 200 meter di bawah permukaan tanah.
Celakalah rasa haus akan penghormatan!
Celakalah pangkat dan jabatannya!
Celakalah kecintaan pada pangkat dan jabatan!
Celakalah ucapan-ucapan dan pikiran berbau syirik: Akulah yang melakukannya. Akulah yang membuatnya. Akulah yang memulainya. Akulah yang membangunnya. Akulah yang memberinya. Akulah yang menginisiasinya. Akulah yang menjalankannya.
Hasya wa kalla. Tidak! Sekali-kali tidak! Allah-lah yang melakukannya. Allah-lah yang mengizinkannya terjadi.
Duhai Masa Lalu. Ketika hal tersebut terbersit dalam pikiran kita, kita telah jatuh kemana? Ketika kita memikirkannya sungguh kita terkungkung oleh mimpi-mimpi. Kita jatuh saat ia terbersit. Duhai Masa Lalu. Hari itu adalah hari yang cerah sebagaimana cemerlangnya Sayyidah Nasibah.
Mereka tegar seperti Ibnu Huzaifah yang saat diusir dari rumah orang tuanya berkata: “Syukurlah! Akhirnya aku menemukan jalan menuju Rasulullah SAW”. Mereka bahagia sebagaimana Sayyidina Huzaifah bahagia. Hari-harinya bagai hari-hari Sayyidina Hamzah yang tak kenal takut dan lalai. Hari-harinya seperti Ali, jauh dari kemalasan, kesantaian, kenyamanan.
Betapa cepatnya hari berubah. Hari-hari itu telah digantikan oleh kasur yang empuk. Hari-hari itu telah digantikan oleh rumah-rumah yang memiliki banyak ruangan. Hari itu telah digantikan oleh meja penuh hidangan yang disiapkan tiga kali sehari. Hari itu telah digantikan oleh kesibukan berumah tangga, bersama pasangan dan anak-anak. Khususnya hari sabtu dan minggu, atau mungkin hari-hari lainnya.
Setelah menunaikan pekerjaannya di hari kerja, orang-orang yang mengatakan: “2-3 hari sudah saya wakafkan di jalan Allah…” Hari-hari yang diwakafkan tersebut pun digantikan dengan perasaan dan gagasan lainnya. Hari-hari tersebut digantikan dengan cita-cita, harapan, dan keinginan yang lain.
Duhai masa lalu…







