sangga-rima-roman-selia-FLtz7WMP6XE-unsplash

Jadwal Imsakiyah Ramdhan 1442H

Pembaca mengembangkandiri.com, demi membantu dan memperlancar ibadah berpuasa pada Bulan Ramadhan tahun ini, berikut kami sediakan jadwal imsakiyah yang dilansir dari website suaramuhammadiyah.id untuk beberapa wilayah yang ada di Indonesia. Semoga bermanfaat, terus baca artikel setiap hari!

Banda Aceh – [embeddoc url=”https://mengembangkandiri.com/wp-content/uploads/2021/04/Banda-Aceh.pdf” download=”all” text=”Unduh”]

Medan – [embeddoc url=”https://mengembangkandiri.com/wp-content/uploads/2021/04/Medan.pdf” download=”all” text=”Unduh”]

Pekanbaru – [embeddoc url=”https://mengembangkandiri.com/wp-content/uploads/2021/04/Pekanbaru.pdf” download=”all” text=”Unduh”]

DKI Jakarta – [embeddoc url=”https://mengembangkandiri.com/wp-content/uploads/2021/04/Artboard-1.pdf” download=”all” text=”Unduh”]

Bandung – [embeddoc url=”https://mengembangkandiri.com/wp-content/uploads/2021/04/Bandung.pdf” download=”all” text=”Unduh”]

Semarang – [embeddoc url=”https://mengembangkandiri.com/wp-content/uploads/2021/04/Semarang.pdf” download=”all” text=”Unduh”]

Yogyakarta – [embeddoc url=”https://mengembangkandiri.com/wp-content/uploads/2021/04/Yogyakarta.pdf” download=”all” text=”Unduh”]

Surabaya – [embeddoc url=”https://mengembangkandiri.com/wp-content/uploads/2021/04/Surabaya.pdf” download=”all” text=”Unduh”]

Malang – [embeddoc url=”https://mengembangkandiri.com/wp-content/uploads/2021/04/Malang.pdf” download=”all” text=”Unduh”]

Banjarmasin – [embeddoc url=”https://mengembangkandiri.com/wp-content/uploads/2021/04/Banjarmasin.pdf” download=”all” text=”Unduh”]

ijaz-rafi-zrlMJyijims-unsplash

Mengapa Kita Malu

Seorang ibu mengaku amat resah saat menyadari anak laki-lakinya yang telah beranjak SMA belum juga memiliki seorang pacar. Lalu sang ibu sibuk mengajari anak tersebut bagaimana agar segera bisa memiliki kekasih hati. Belum cukup dengan hal itu ibu dan ayah dari anak ini bahkan memberikan ‘iming-iming’ tambahan uang saku dan fasilitas kendaraan bila si buah hati berhasil mendapat pacar. Keadaan ini semakin diperparah dengan banyaknya film dan tayangan televisi yang mengarahkan generasi muda untuk mengikuti pola hidup hedonis. Maka tak heran jika beberapa waktu lalu dunia pendidikan Indonesia dihebohkan dengan adanya pesta tidak senonoh yang diadakan sebelum dan sesudah UN dalam rangka pelepas kegembiraan para remaja tersebut. Lebih miris lagi saat perayaan hari kasih sayang atau valentine day lalu, beberapa anak usia SD mengirimkan tweet atau status FB yang mengumbar status bernada mesra pada ‘teman khususnya’ dengan bahasa yang masih belum pantas mereka gunakan.

Jika ditelusuri lebih jauh kita dapat melihat mata rantai yang hilang dari pendidikan agama anak-anak dan generasi muda saat ini, dan mungkin sudah sejak lama, yaitu rasa malu atau haya yang terlupa untuk diajarkan bahkan seringkali disalah artikan. Benar adanya bahwa betapa beruntungnya anak-anak di Indonesia yang bisa belajar mengaji dan shalat sejak usia mereka amat dini, sementara mungkin di belahan bumi yang lain ‘nikmat’ ini sulit untuk didapat. Namun sayangnya pelajaran agama yang didapatkan anak dari sejak mereka kecil tidak dibarengi dengan pemahaman moral dan iman yang benar-benar terpatri di hatinya, dan sesungguhnya salah satu cabang dari iman adalah malu. (HR.Muslim, al-Iman 57,58)

Konteks malu ini sendiri seringkali salah dipersepsikan oleh masyarakat. Seringkali masyarakat kita mengartikan malu sebagai perasaan tidak enak hati karena berbuat sesuatu yang tidak baik atau karena memiliki kekurangan. Sehingga sejak kecil anak-anak telah diajarkan untuk ‘berani tampil’ dan tidak merasa malu. Padahal malu yang dalam bahasa Arab disebut al-haya, al-khajal atau al-hisymah diartikan sebagai menjauhi segala yang tidak diridhai Allah karena takut dan segan kepada-Nya. Ketika sikap ini berpadu dengan perasaan malu yang telah ada secara naluriah di dalam watak manusia, maka hal tersebut akan membentuk orang tersebut memiliki hubungan erat dan jalinan kuat yang sesuai dengan nilai-nilai adab dan kehormatan. Sementara menurut Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, haya adalah sebuah tabiat yang mendorong seseorang meninggalkan perbuatan dan mencegahnya dari meremehkan kebaikan.

Betapa kontras kedua pemaknaan malu ini sehingga para orang tua yang belum memahami esensi dan pentingnya rasa malu justru mendorong anak-anaknya dari sejak balita untuk justru mengurangi bahkan menghilangkan rasa malu yang sesungguhnya adalah fitrah manusia. Jika dalam sabdanya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam: “Malu hanya akan mendatangkan kebaikan” (HR.Bukhari, Adab: 77). Maka bisa kita bayangkan keburukan apa yang akan menimpa sebuah generasi yang terus ditekankan untuk tidak malu. Padahal perasaan yang pertama pada seorang manusia adalah haya atau rasa malu. Begitu pentingnya rasa malu ini hingga dalam hadis yang lain beliau mengingatkan kita : “Jika kau tidak merasa malu, maka berbuatlah sesukamu.” (HR.Bukhari, Adab:78). Maka amatlah jelas terlihat bahwa perilaku sesuka hati yang terus menggejala semakin parah akhir-akhir ini adalah karena manusia seringkali telah amat kehilangan fitrahnya dalam menjaga malu yang sesungguhnya adalah akhlak seorang mukmin sejati.

Banyak perilaku sehari-hari yang sering kita anggap sepele namun perlahan-lahan telah mengikis fitrah malu yang ada pada diri kita. Dengan gampang kita memuji wanita lain di depan suami atau sebaliknya bangga saat ketampanan suami dikagumi oleh wanita lain adalah pintu malu yang seringkali lupa kita tutup. Bahkan maraknya media sosial berbasis internet telah membuat kita menjadi-jadi dalam sikap tanpa malu massal. Di masa ini orang dapat tahu pasti apa yang kita lakukan dengan suami, kemana kita pergi dengannya dan kegiatan pribadi lain yang seharusnya menjadi batas privasi kita dan keluarga lalu justru menjadi konsumsi publik hanya dengan melihat status dan foto yang kita unggah di internet. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam berkata : “Janganlah seorang wanita memandang dan mengagumi wanita lain, lalu ia menceritakan sifat-sifatnya kepada suaminya seakan-akan suaminya sedang memandangnya.” (HR.Bukhari dan Muslim)

calin-stan-7a_PHX91su8-unsplash

Memahamai Hakikat Karakteristik Kehidupan Dunia

Dalam menjalani kehidupan di dunia ini, seharusnya setiap manusia tahu dan paham akan karakter kehidupan di dunia  yang sedang ia  jalani. Sehingga dalam menjalani alur kehidupanya, ia merasakan arti disetiap detiknya. Oleh karena itu penting bagi setiap manusia untukmengetahui hakikat hidupnya di dunia ini yang bersifat sementara.

Di dalam kehidupan dunia ini, kita terkadang mendapatkan apa yang kita inginkan tetapi tak jarang juga mendapatkan kesulitan, tetapi dari sini kita pahami bahwasanya hakikat dunia adalah ujian, yang kadang kali kita menemukan yang mudah dan ada juga yang sulit yang mungkin banyak membutuhkan perjuangan dalam menjawabnya, ketika kita tahu karakteristik dunia maka kita  tidak akan banyak keluh kesah  melainkan yang  ada lebih banyak  belajar memahaminya.

Ibnu Athoillah assakandari seorang tokoh sufi di dalam kitabnya al hikam ketika mensifati dunia beliau mengatakan :

لا تَسْتَغْرِبْ وُقوعَ الأَكْدارِ ما دُمْتَ في هذهِ الدّارِ. فإنَّها ما أَبْرَزَتْ إلّا ما هُوَ مُسْتَحِقُّ وَصْفِها وَواجِبُ نَعْتِها

 “Jangan engkau merasa heran atas terjadinya kesulitan selama engkau berada di dunia ini. Sebab memang begitulah yang patut terjadi dan yang menjadi karakter asli dunia.”

Hakikat dunia memang begitu adanya, karena memang kehidupan di dunia yang bersifat fana’ atau sementara merupakan bentuk ruang ujian yang penuh dengan persoalan – persoalanya yang harus dijawab dan diselesaikan dengan memulainya  dengan selalu mencoba menjawabnya lalu belajar memahami persoalanya sehingga dapat terjawab dengan baik, maka dari sini tak heran banyak ulama’ kita yang mengatakan bahwasanya dunia merupakan tempat berjuang bukan tempat rohah atau istirahat untuk berleha- leha saja, karena sejatinya waktu istirahat semuanya hanyalah  di akhirat, diibaratkan bahwasanya seorang mukmin ketika ia hidup di dunia sejatinya ia sedang menanam sebuah tanaman yang mana ia harus menjaganya dengan baik sehingga ia akan dapat memanenya dengan hasil yang baik di akhirat kelak.

Hal ini juga senada apa yang dikatakan oleh Ja’far Asshadiq yang mengatakan : “Siapa yang meminta sesuatu yang tidak diberikan oleh Allah, sama dengan melelahkan dirinya sendiri.” Ketika ditanya meminta apa itu? Ja’far Asshaddiq menjawab, “Kesenangan di dunia.”

Dengan pahamnya kita hakikat atau karakteristik dari kehidupan dunia ini , maka dikit sedikit kita akan biasa membangun rasa terus belajar dan bersyukur dengan tidak mengeluh apa yang kita nilai memiliki  kesulitan , keresahan  apa yang ada di dunia ini kelak akan menjadi nilai plus di dalam kehidupan akhirat, dan perlu diketahui juga bahwasanya para nabi merupakan manusia yang paling  berat cobaanya supaya kita bisa mengambil  suri tauladanya lewat kesabaran mereka dalam berjuang untuk menanamkan nilai – nilai kebaikan untuk   menegakkan hal yang benar.

Artikel merupakan karya kiriman dari Sdr. Ashari Asrawi.

gary-bendig-WPmPsdX2ySw-unsplash

Mimpi Untuk Memiliki Dua Sayap

Memiliki mimpi dan angan-angan merupakan sebuah anugerah yang dilimpahkan oleh Sang Pencipta kepada umat manusia. Ia adalah pancaran cahaya yang akan mengantarkan setiap individu ke dalam sebuah perjalanan luhur, sesuai dengan keyakinan yang mereka miliki. Tak khayal, jika seseorang yang memiliki tekad dan semangat yang tinggi, akan terus berusaha melewati semua rintangan yang dihadapi demi meraih mimpinya tersebut. Perjalanan panjang akan ia lalui, hamparan laut pun akan ia seberangi untuk menggapainya. Ia laksana ramuan mujarab yang melantunkan melodi harapan kepada jiwa yang hampir terjerumus ke dalam lubang putus asa.

Setiap manusia lazimnya memiliki mimpi yang ingin mereka raih. Muka bumi ini pun dilingkupi oleh beragam mimpi yang setara dengan jumlah manusia yang menetap di hamparannya. Dari seorang anak kecil yang berangan-angan ingin menjadi pilot, remaja yang bermimpi untuk menjadi dokter, hingga orang dewasa yang menuai harapan untuk menjadi pengusaha kaya nan dermawan. Tentunya semua mimpi itu indah, apalagi jika ia berhasil mencapainya. Namun terlepas dari itu semua, apakah semua mimpi itu luhur? Apa kriteria luhurnya sebuah mimpi dan bagaimana kita dapat mewujudkannya?

Kita tidak dapat memungkiri bahwa setiap individu akan menganggap mimpinya itu luhur. Tetapi keluhurannya itu, tentu akan sesuai dengan harapan dan keyakinan yang ada. Mimpi yang hanya mengikat kepentingan pribadi, pastinya tak akan sebanding dengan mimpi yang memiliki tujuan untuk menyebarkan benih kebahagiaan kepada seluruh umat manusia. Di saat masyarakat merintih atas derita kebodohan, kemiskinan, dan perpecahan, mimpi yang berharap untuk menjadi pelipur dan penuntun bagi mereka. Ketika ada jiwa yang terluka sehingga tak memiliki tenaga untuk menyulutkan semangat hidup, mimpi yang akan mengantarkan dirinya ke dalam sebuah pengorbanan untuk turut menjadi ksatria kalbu, mengobati setiap luka yang ada. Merupakan kriteria utama yang seharusnya dimiliki oleh mimpi-mimpi luhur itu.

Pribadi teladan yang menuntun orang-orang yang ada di sekitarnya untuk belajar memahami hidup. Sosok arsitek pemikiran yang memiliki kontribusi besar dalam membangun peradaban masa depan. Individu yang tak mengenal jasa, demi menebarkan manfaat bagi orang lain. Selain itu, ia juga tak mengenal waktu dalam menyalurkan ilmu dan pengetahuan kepada anak didiknya. Sosok yang selalu diimpikan. Ialah karakteristik seorang guru yang telah lama menjadi mimpi dalam setiap hening malam.

Aku percaya bahwa sosok-sosok istimewa tersebut, akan muncul ketika kita sebagai anak bangsa memiliki impian luhur semacam itu. Selain dapat memahami dan mengarahkan perkembangan anak didiknya, dia juga yang mampu memahami dan menganalisis perkembangan zaman dengan baik. Guru yang tidak hanya mendalami prinsip-prinsip ilmu pengetahuan semata, tetapi mereka juga adalah pribadi yang mampu memberikan cahaya kepada siswanya, baik cahaya bagi akalnya maupun bagi jiwa rohaninya. Mimpi setiap bangsa yang ingin maju dalam kesejahteraan, harus berawal dari sini. Dari mimpi sosok para guru yang akan menerbangkan dua sayap kokoh bagi pembangunan peradaban dunia dan kemanusiaan.

Sosok guru yang memiliki dua sayap ialah potret yang mampu menyeimbangkan kehidupan dunia dengan kehidupan rohani setiap siswanya, setelah ia bimbing mereka untuk meraih hakikat kemanusiaan. Individu yang mampu memberikan kesadaran kepada anak didiknya, untuk tidak berperilaku berlebihan atau juga merendahkan. Ia yang selalu menjaga keseimbangan untuk tidak sombong dan juga mencerca diri. Tak hanya mengajarkan pentingnya membaca buku pelajaran, ia juga mengajak siswanya untuk membaca alam semesta yang indah dan teratur. Tak hanya menerangkan pentingnya menulis sebuah karya, ia juga menuntun anak didiknya untuk menuliskan arti hidup yang sesungguhnya.

Selain itu, ia pun berusaha untuk menyalurkan derita yang ia miliki kepada hati yang lain, agar mereka pun dapat merasakan keindahan dalam menjalankan tugas mulia ini, selagi melanjutkan tongkat estafet yang perlu ia jaga dan ia amanahkan kepada generasi selanjutnya. Ia mengajak mereka untuk ikut berperan sekaligus meyakinkan yang lain, demi menumbuhkan nilai kemanusiaan yang saat ini sedang terpuruk. Karena prinsip utama yang ada dalam mimpinya itu ialah hidup untuk menghidupkan orang lain.

Kita harus percaya bahwa semua hal tidak bisa diukur dengan uang. Ketika sosok guru mampu menuaikan benih, menjadi sosok teladan yang dapat ditiru, dan mengantarkan setiap siswanya untuk memiliki tujuan hidup yang mulia, sebenarnya ia telah berhasil meraih kekayaan yang paling berharga. Tugas mulia ini memerlukan pengorbanan dan kesabaran yang begitu tinggi, karena ia harus menabur dan merawat benih berupa seorang manusia, untuk menjadi pohon subur dan menghasilkan buah yang bermanfaat bagi orang lain. Tentu ia akan mengalami kesulitan, tetapi potret yang berani mendedikasikan dirinya ke dalam impian agung ini, akan mencari berbagai solusi agar benih yang ia tanam tidak membusuk di dalam tanah. Jika semua ini dapat terwujud, di saat semua manusia mengharapkan penghormatan dan pujian, ia justru akan didambakan oleh penghormatan dan pujian itu meski sebenarnya ia selalu menghindar darinya.

Untuk itu, mimpi ini harus berawal dari sebuah derita yang kemudian termanifestasi menjadi sebuah impian agung. Dari sini, kita bisa memahami bahwa seberapa agung impian yang seseorang miliki, di saat yang sama ia sedang mencerminkan nilai yang ada pada dirinya. Dengan kata lain, nilai seseorang akan terlukiskan sesuai dengan mimpi yang ia harapkan. Dari sini sosok mulia seorang guru seyogyanya harus setara dengan makna luhur yang ia miliki. Meski terkadang gemilang dunia selalu menggodanya, namun rasa haus untuk mengayomi masa depan generasi, seharusnya mampu mengantarnya ke dalam kemuliaan.

Artikel ini adalah karya kiriman dari Haerul Al Aziz.

john-fowler-03Pv2Ikm5Hk-unsplash

Doa Bulan Ramadhan: Mukjizatul Qur’an