museums-victoria-CzsHs8A87Y0-unsplash

Sebuah Nafas – Wajah Pahit dan Hikmah dari Musibah

Sebuah Nafas – Wajah Pahit dan Hikmah dari Musibah


“Api neraka sekali-kali tidak akan menyentuh kaki yang berdebu di jalan Allah. Segala sesuatu berasal dari-Mu, Ya Ghani Rabbku, wajahku kupalingkan pada-Mu. Engkalah al-Awwal dan al-Akhir, Rabbku, wajahku kupalingkan pada-Mu.” Ketika wajah sudah bertawajuh kepada-Nya, wajah itu takkan pernah redup dan menghitam. Dikatakan: “Wajah harus senantiasa menghadap matahari, sehingga bayangan jatuh di belakang”. Jika yang menghadap matahari adalah punggung, Maka kita akan terpaku pada bayangan seperti halnya ahli dunia. Allah telah menciptakan kita sebagai manusia. Allah berikan kita anugerah kesempatan untuk menjadi manusia beriman. Dia mengirimkan Sang Sayyidul Anam, Muhammad SAW sebagai imam sekaligus pembimbing kita. Dengan berjalan di atas jalan yang dipandunya, insya Allah akan mengantarkan kita kepada-Nya, berkat Inayat dari Allah SWT. Pujian hanya bagi Allah yang memberi jalan ini kepada kita (QS. Al-A’raf 7:43).

وَنَزَعْنَا مَا فِى صُدُورِهِم مِّنْ غِلٍّ تَجْرِى مِن تَحْتِهِمُ ٱلْأَنْهَٰرُ ۖ وَقَالُوا۟ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِى هَدَىٰنَا لِهَٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِىَ لَوْلَآ أَنْ هَدَىٰنَا ٱللَّهُ ۖ لَقَدْ جَآءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِٱلْحَقِّ ۖ وَنُودُوٓا۟ أَن تِلْكُمُ ٱلْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan Kami cabut segala macam dendam yang berada di dalam dada mereka; mengalir di bawah mereka sungai-sungai dan mereka berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk. Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan kami, membawa kebenaran”. Dan diserukan kepada mereka: “ltulah surga yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan”

Bala dan musibah dari luar terlihat tidak menyenangkan, buruk, dan membuat mual. Tetapi kita harus melihat hasil akhirnya. Terdapat ribuan orang hidup dalam beragam kesulitan dan penderitaan. Tetapi kesulitan tersebut perlu diterima sebagai doa yang dipersembahkan kepada-Nya. Kadang karena doa seseorang yang menderita, Allah mengampuni dosa seluruh umat. Merintihlah..! Letakkan kepalamu di atas sajadah! Ungkapkanlah semua isi hatimu kepada Allah di atas sajadah itu! Jangan sampai menyesal: “Aduh! Kupikir kehidupan dunia ini abadi!

Ya, hidup yang sementara ini berlalu seperti mimpi dan tidur. Umur yang tak berpondasi ini mengalir dan berlalu seperti sungai. Seperti angin yang berhembus dan menghilang. Seperti petir yang awalnya menggelegar namun setelahnya meredup. Supaya tak menyesal, maka kita biiznillah harus mengisi hidup kita. Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarah, dia akan melihat balasannya. Allah mengetahui kebaikan & keburukan walau sebesar massa atom, elektro, proton, & neutron. Demikian juga dengan balasan apa yang layak Dia berikan kepada Anda. Semoga Allah SWT memberi keberhasilan pada Anda untuk berbuat banyak kebaikan. Semoga Allah menjauhkan kita dari perbuatan buruk walau hanya seberat atom & electron.

Ya Allah! Sukseskanlah kami menjadi representasi dari kebaikan dengan kata dan laku kami. Ya Arhamar Rahimin, Ya Dzal Jalali wal Ikram. Membahagiakan kalian dengan surga Firdaus-Nya. Semoga Allah menjauhkan Anda sejauh-jauhnya dari neraka Jahannam. Wassalam.

free-to-use-sounds-ohk-ggBkfik-unsplash

Sebuah Nafas – Definisi Jiwa Berdedikasi di Masa Kini

Sebuah Nafas – Definisi Jiwa Berdedikasi di Masa Kini


Ketika manusia membaca dan menulis demi bisa menjelaskan sesuatu kepada orang lain, dia bisa terjatuh dalam kelalaian. Ia bisa menganggap seeakan hanya orang lain dan bukan dirinya yang membutuhkan nasihat itu. Pada prinsipnya, yang paling butuh nasihat adalah dirinya sendiri, Bagaimana supaya apa yang diyakini dapat menjadi bagian dari karakternya di masa dimana iman terguncang dari akarnya. Saya rasa itulah definisi futuwah yang sejati. Agar imannya terus menyala, ia harus selalu ternutrisi dengan baik. Mungkin Anda duduk dan bangkit untuk salat, berpuasa menahan lapar, dan melakukan perjalanan jauh untuk berhaji. Saya tidak meremehkan penunaian ibadah tersebut, ia memiliki arti di sisi-Nya. Namun, bagi mereka yang bertahun-tahun berada di gerakan ini tapi masih saja taklid buta. Masih saja mudah jenuh & bosan, Ketika disebut nama “Allah & Nabi” hatinya tetap tidak bergeming. Masih belum bisa berseru: “Hal min mazid  (هَلْ مِنْ مَزِيدٍ)  /Ya Allah mau tambah lagi”.

Jika kata telah dipraktikkan berarti kata itu telah berhasil memberi pengaruh. Karena yang pengaruhnya paling kuat adalah perbuatan & representasi harian. Dan sisi paling berpengaruh dari Sang Nabi adalah bagaimana beliau mempraktikkan pesan-pesan yang diterimanya. Dan layaknya “Cermin yang Agung” beliau memantulkan cahaya-Nya ke orang-orang di sekitarnya. Ketika orang melihatnya SAW, mereka akan mengingat Allah SWT. Seolah-olah Sang Nabi sedang berdiri di hadapan Allah SWT, bukan sekedar kata ataupun sandiwara belaka.

Saat ini kita hidup di masa dimana banyak pihak muncul mengatasnamakan Islam, tetapi justru mencorengnya. Mereka yang mengaku “Aku seorang muslim”, kebanyakan malah menodai Islam. Mereka berkata: “Gampang sekali mengendalikan masyarakat kita bisa menipu mereka dengan kedok agama”. Dikatakan: “Dengan ini kita bisa jalan-jalan dengan mobil mewah berlapis baja”. Mereka membeli pesawat pribadi, membangun istana dengan ribuan kamar. Katanya demi wibawa negara. Padahal tidak ada hubungannya, walau hanya sebesar zarah. Seandainya ada hubungannya, pasti kita lihat ratusan contoh dari masa sebelumnya. Mereka tak terbebani hisab di hari kiamat atas apa yang telah mereka lakukan itu, karena tak ada satupun penyesalan yang terlihat. Berarti mereka memang berada di jalan yang salah. Bediuzzaman Said Nursi berkata: “Gunakanlah prinsip-prinsip brilian dari Al-Quran”. Zaman ini adalah masanya Al-Quran, Sunah, & mengenalkan Allah lewat amal perbuatan. Itulah prinsip dasar futuwah di masa kini. Allah tidak memberikan tugas yang tak bisa kita tunaikan. Semoga Allah memberi kita kesuksesan dalam mengemban amanah suci ini. Dengan izin Allah, semoga kita bisa menjadi representasi ruh futuwah di abad ini.

 

 

matt-howard-A4iL43vunlY-unsplash

Sebuah Nafas – Ufuk Kebangkitan di Dalam Hati

Sebuah Nafas – Ufuk Kebangkitan di Dalam Hati


Karena egoisme yang masuk di sela antara kita dengan Allah, kita membuat gerhana terjadi di dunia kalbu kita. Jangan tanya bagaimana manusia putus hubungan dengan Allah pada saat ini. Sudah berabad-abad lamanya, dunia kalbu umat jauh dari semangat. Berabad-abad lamanya air mata ini kering. Perhatikan penekanannya: “berabad-abad!” Selama itu juga kita semakin jauh dari Allah SWT. Ketika kita berpaling, kita pun terpaku pada bayangan kita, yaitu egoisme kita. Alam bawah sadar berkata: “Kita yang paling tahu, hanya kita yang bisa kerjakan”. Jangan tanya bagaimana kita telah jauh melangkah di atas telapak kaki setan. “Waspada! Perhatikan langkahmu! Takutlah tenggelam (dalam dosa)!”.

Jangan sampai tenggelam oleh sifat-sifat hewani. Mulai dari satu suapan, satu kata, satu tepukan tangan, pujian, jabatan, kedudukan, harta yang tak seberapa, kenyamanan dunia seperti makan, minum, dan tidur. Selama manusia tak menginjak-injak keburukan itu dengan kelapangan dada melalui pemikiran & perasaan, manusia takkan bisa mengarah kepada Allah. Padahal Allah SWT menciptakan manusia dengan potensi “Ahsani Takwim”. Betapa istimewanya manusia, jika dilihat akan melahirkan respon: “Inilah yang layak menjadi cermin Sang Rabb”. Jika manusia menerima potensi seistimewa ini, maka mereka harus memberi sesuatu sebagai balasannya. Penghambaan yang kita lakukan kepada Allah bukanlah awal dari apa yang akan kita ambil di masa mendatang. Imbalannya telah kita ambil sedari dulu kala. Penghambaan yang kita lakukan tak lebih merupakan pujian dan syukur untuk-Nya. Betapa berat kewajiban yang dipikul mereka yang yakin kepada Allah & kebenaran. Sekali lagi terdapat kewajiban untuk membangkitkan dunia kalbu. Terdapat kewajiban untuk mengakui kesalahan umat hingga detik ini. Dimana wajib menyucikannya dengan air mata saat menghadap Tuhan di waktu malam. Wajib menyucikan kotoran itu dengan jalan membasahi sajadah, dan dengan bersujud di atas sajadah basah itu. Jangan remehkan tetesan air mata itu. Karena ia adalah telaga kautsar yang satu tetesnya dapat memadamkan bara api neraka sebesar gunung.

Untuk itu Nabi bersabda: “Aku berlindung dari mata yang tak pernah menangis, sebagaimana aku berlindung kepada-Mu dari godaan setan”.

aung-soe-min-f6UX-It1N7g-unsplash

Memadukan AKAL & KALBU dalam BERIMAN

Memadukan AKAL & KALBU dalam BERIMAN