Dua Prinsip Penting Dalam Dakwah: Sidik dan amanah[1]
Tanya: Dapatkah Anda menjelaskan maksud dari pernyataan berikut “Setiap yang kamu katakan haruslah kebenaran, tetapi kamu tidak mempunyai hak untuk mengatakan semua kebenaran”[2]
Jawab: Pernyataan ini ketika pertama-tama tumbuh di jiwa manusia dan berkembang di dalam masyarakat, ia telah mengguncang sebab-sebab kedustaan dari pondasinya.
Dusta dengan penjelasan paling sederhananya adalah mengklaim suatu hal yang sebaliknya. Al Quran menyebut setiap sikap dan laku mereka yang mengingkari Allah sebagai dusta disebabkan mereka mengingkari hakikat besar di alam semesta ini.
Artinya: Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah dan mendustakan kebenaran ketika datang kepadanya? Bukankah di neraka Jahannam tersedia tempat tinggal bagi orang-orang yang kafir? (Az Zumar 39:32)
Ayat tersebut dengan gamblang menjelaskan betapa perbuatan mendustakan Allah dan mendustakan kebenaran merupakan sebuah dosa yang amat menakutkan, saya tidak tahu apakah masih diperlukan untuk mengemukakan penjelasan lainnya.
Kedua; dusta adalah sebuah karakter buruk yang dapat melenyapkan perasaan aman dan loyalitas yang terdapat pada seorang manusia. Seorang manusia yang beberapa kali berdusta lama kelamaan seperti meletakkan bayangan di hadapan segala kebenaran yang terpancar dari dirinya. Demikian pentingnya kebenaran, ketika prinsip-prinsip kenabian lainnya seperti tablig, fatanah, seimbang dan tidak jatuh kepada ifrat dan tafrit, serta kompetensi untuk senantiasa berada di atas siratal mustakim tumbuh di bawah spektrum bimbingan wahyu; karakter sidik dan amanah telah mulai tumbuh sejak Nabi masih belia dan berlanjut di sepanjang umur kehidupannya. Andaikata seorang Nabi di masa belianya sebelum diangkat menjadi nabi pernah berdusta ataupun diketahui tidak amanah, maka saat diangkat menjadi nabi orang-orang di sekitarnya akan berkata:” Kamu memang sebelumnya sudah sering berdusta. Kini dari mana kami tahu jikalau pesan-pesanmu tersebut bukanlah kedustaan lainnya?”
Sidik adalah sifat para nabi yang paling utama, sedangkan dusta adalah sifat yang paling jauh dari kenabian. Al Quran pada surat al Anbiya ayat 58-68 menjelaskan peristiwa bagaimana Nabi Ibrahim as menghancurkan patung-patung yang disembah oleh kaumnya dimana beliau kemudian meletakkan kapaknya di leher patung yang terbesar dan setelah memberi isyarat bahwa patung besar itulah yang melakukannya, beliau berkata:
بَلْ فَعَلَهُ كَبِيرُهُمْ هَٰذَا
Artinya: Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya,
Barangkali pernyataan metafora tersebut dengan sedikit sentuhan kecermatan adalah pernyataan yang benar. Akan tetapi, karena uslub yang demikian kurang cocok dengan tingginya derajat kenabian maka kepada mereka yang di hari akhir nanti meminta syafaat kepadanya, beliau akan berkata:” Seorang manusia yang pernah berbuat kekeliruan seperti itu tidak bisa memberi syafaat kepada kalian”. Pernyataan beliau tersebut juga memberi penekanan yang teramat penting betapa menyeramkannya dusta.
Potret Kebanggaan Umat Manusia SAW telah masyhur dengan sifat jujur dan amanahnya jauh sebelum beliau diangkat menjadi nabi. Di antara banyak peristiwa barangkali kisah ini dapat dianggap sebagai dokumentasi penting yang menjelaskan karakteristik istimewa beliau tersebut: Suatu hari Kabah mengalami perbaikan. Ketika tiba waktu untuk meletakkan hajar aswad di tempatnya semula, muncullah ketegangan di antara kabilah. Hampir-hampir semua perwakilan kabilah mengeluarkan pedangnya dan menyatakan bahwa kabilahnyalah yang paling layak untuk mengerjakan tugas itu. Kemudian mereka membuat keputusan: Orang pertama yang memasuki Kabah akan mereka pilih sebagai hakim dimana keputusannya akan diterima oleh semua kabilah. Semua orang pun menunggu dengan penuh rasa penasaran hingga akhirnya orang yang pertama masuk adalah Nabi Muhammad. Sedangkan beliau saat itu tidak mengetahui apa yang sedang terjadi. Ketika kawan maupun lawan menyaksikan sosok yang memberikan rasa aman ini masuk maka berserulah mereka:”Yang datang adalah al Amin!”. Semua anggota kabilah sepakat untuk menerima apapun keputusan beliau tanpa syarat atau kondisi apapun. [3]
Terdapat satu lagi peristiwa yang mendokumentasikan keterpercayaan beliau bahkan di kalangan lawan-lawannya: Sang Nabi beberapa saat setelah turunnya kenabian mengumpulkan orang-orang. Sambil menatap Jabal Abu Qubais, beliau bersabda “Apakah kalian percaya jika kukatakan bahwa di balik bukit itu terdapat pasukan musuh yang sedang datang untuk menyerang?” Kaum musyrik demi mendengar pertanyaan ini menjawab:”Ya, kami percaya!” Menimpali jawaban tersebut, Baginda Nabi kembali bersabda:”Ketahuilah bahwa aku adalah seorang Nabi yang diutus oleh Allah SWT.” Beliau menyelesaikan kata-katanya tetapi sebagian besar dari yang berkumpul tetap hidup dalam keadaan menentang kenabiannya.
Pada hari ini, sosok yang dianggap sebagai hulubalang dakwah nabawiyah haruslah memberi perhatian besar kepada sifat sidik dan amanah sebagaimana Sang Nabi mempraktikkannya. Setiap kata yang disampaikan haruslah kata-kata yang benar. Di masa di mana dusta makin digemari dan banyak orang dengan santainya berdusta, maka kebenaran semakin mendapatkan nilai. Untuk itu, setiap murid Al Quran tidak boleh merendahkan dirinya di hadapan dusta bahkan yang terkecil sekalipun; murid Al Quran harus menyampaikan kebenaran atau jika tidak bisa maka ia lebih baik tidak berbicara.
Ketiga, dalam beberapa keadaan, seorang manusia, bangsa, ataupun negara bisa saja berhadapan dengan kondisi dimana mereka diharuskan berbohong demi menjaga keselamatan dirinya. Dalam keadaan demikian sekalipun hendaknya kita memberi perhatian lebih spesifik lagi dan sama sekali tidak boleh menggunakan dusta sebagai jalan keluarnya. Ya, representasi dari rasa aman serta saksi kebenaran setiap saat harus berpikir dengan benar, berbicara dengan benar, dan bergerak dengan benar.
Ya, setiap orang memang harus menyampaikan kebenaran, tetapi “Setiap kebenaran tidak harus disampaikan di setiap tempat.” Misalnya, seseorang yang memberikan informasi kepada musuh tentang posisi barak militer pertahan pasukannya sama artinya dengan memberi bara api kepada musuh dan membiarkannya menyerang pertahanan bangsanya. Untuk itu, dalam keadaan demikian hendaknya mencukupkan diri dengan kebenaran yang tidak memberikan implikasi bahaya. Tidak perlu baginya membocorkan kebenaran-kebenaran yang dapat membahayakan kelanggengan pos pertahanannya.
Kesimpulannya, seorang manusia tidak perlu membuka pintu dusta walaupun itu tujuannya untuk masuk surga. Sambil menggenggam pernyataan “Setiap yang kamu katakan haruslah kebenaran, tetapi kamu tidak mempunyai hak untuk mengatakan semua kebenaran” sebagai prinsip, maka kita harus mengatakan kebenaran di setiap waktu.
[1] Diterjemahkan dari artikel yang berjudul: Tebligde iki Onemli Esas: Sidk ve Emanet, dari buku Prizma 4
[2] Bediuzzaman Said Nursi, Maktubat, Surat ke-22, Pembahasan Pertama
Ada seorang pemuda dimasa Sayyidina Umar bin Khattab, yang beliau kenal, ketika tidak hadir di masjid dalam 2-3 hari berturut-turut, di sudah pemuda yang selalu hadir di shaf pertama tanpa mengenal panas dan dingin cuaca, siapakah yang tahu betapa sempurna rukuknya sehingga membuat Umar bin Khattab merasakan kehadirannya.
Siapakah yang tahu kekuatan yang terselip dalam pujian rukuk yang dibaca: “Rabbana wa lakal hamdu mil as samawati wa mil al ardhi wa mil ama syi’ta min syai’in ba’du” yang membuat dadanya Sayyidina Umar bergejolak.
Siapakah yang tahu, sebagaimana pandangan dari kalian telah jadi wasilah yang memberiku ilham, ia pun membuat dadaku bergejolak; sebagaimana sebagian pandangan kosong yang mengeringkan air mataku, sebagaimana sebagian pandanganpun membuatku mengalirkan air mata, siapakah yang tahu, betapa banyak diantara jamaah yang telah mengilhami beliau ra.
Inilah salah satu diantaranya sosok yang setiap hari beliau melihatnya. ketika beliau tidak melihatnya dalam 2-3 hari, dimana pemuda ini?
Biarlah aku yang menjadi kurban atas tingginya pahaman para sahabat, demikian menjaga adabnya mereka, karena beberapa alasan tertentu, mereka tidak menyebut namanya dalam buku-buku hadist. Kalau saya sangat penasaran.
Betapa tidak beruntungnya saya, tidak bisa mengetahui nama pemuda ini. Betapa banyak buku rijal (biografi para rawi hadist) yang saya teliti, namun tetap tidak dapat ditemukan. Tidak ada namanya. seorang pemuda yang majhul (tidak dikenal).
Walaupun namanya tidak ada, namun kalau puncak everest dijadikan monumen untuk mengenangnya, itu pantas baginya. seperti yang diungkapkan penyair Mehmet Akif : “Jika seandainya batu kabah dijadikan nisannya, itu masih belum pantas untuknya”.Jika seandainya puncak everest dijadikan nisannya, tidak cukup untuk menjadi monumen yang pantas untuk mengenang pemuda ini.
Masih jejaka, fisiknya sempurna, ketika dia pulang ke rumah, ada.seoramg wanita yang terpikat dengannya. Setiap hari ia melakukan hal-hal berbeda untuk menarik perhatian pemuda ini agar mau mengunjungi rumahnya. Rasulullah, beliau bersabda: sepeninggalku tidak ada fitnah yang lebih besar kecuali fitnah wanita’.
Ya tidak ada orang yang paling berbahaya selain orang yang berniat untuk membuat fitnah. ya sebuah fitnah yang seperti ini setiap hari merintangi jalannya. pada akhirnya, pemuda ini hanyalah seorang manusia. hatinya pun mulai condong kepada wanita itu.
Dikatakan seperti itu saya tidak bersama dengan dia untuk bisa mengetahui keadaan sebenarnya, apalagi hati saya. akan tetapi situasi dan kondisinya dikatakan demikian. pemuda ini lewat didepan fitnah ini selama satu, dua,tiga bulan, tetapi ia tidak memedulikannya. Akan tetapi suatu hari, sepertinya terdapat keraguan dalam langkahnya. ataukah tersandung kakinya.
Apakah terdapat sesuatu yang memasuki pikirannya. ataukah sekelebat hanya terlintas dalam benaknya. saya tidak akan bisa mengetahuinya. ketika dia sadar ayat ini terulang-ulang diantara lisannya, kondisi ini bisa terjadi pada siapapun, bahkan karena pernah terjadi pada Qitmir ini, karenanya aku pun menyaksikan ini juga terjadi pada orang lain: innalladziina ittaqwa idzaa massahum thaa-ifun mina sysyaythaani tadzakkaruu fa-idzaa hum mubshiruun.
Ketika dia sadar, dia melihat lidahnya membacanya entah mungkin ratusan kali, tanpa berhenti. Allah seakan menggerakan lidahnya untuk membaca ayat ini, lidahpun seakan terkunci dari hal lain dan hanya membaca ayat ini. Mereka yang berada didaerah takwa ini ketika berada dalam kondisi labil, saat kembali mengingat Allah, mata pun terbuka dan tersadar.
Ayat terbaca dilidahnya, namun belum masuk ke hati. Dan ketika kalbu merasakan beratnya ayat, ia pun jatuh tersungkur di depan pintu. lalu para tetangga pun berlari, membopong dan membawanya ke rumah. Akan tetapi, sungguh jiwanya telah menyaksikan keagungan ayat : irji’i ila rabbiki radhiyatan mardhiyyah…
Sungguh jiwanya telah menyaksikan keagungan ayat : “wahai jiwa-jiwa yang bersih, sungguh Allah telah ridha kepadamu, engkau pun ridha kepadaNya, kembalilah kepada Rabbmu…” Mereka membawa lalu menguburkannya. Para tetangga berpikir bahwa meninggal di depan rumah wanita asing adalah hal yang memalukan.
Sayyidina Umar : “bagaimana bisa meninggal dunia? tidak ada tanda-tanda kesakitannya. Bukankah seharusnya kalian menceritakannya kepadaku? Mereka pun menceritakan peristiwanya. Sayyidina Umar pun berdiri di kubur pemuda ini.
Beliau pun berdoa tanpa henti, memohon ampunan kepada Allah. Lalu, karena besarnya ketakutannya kepada Allah, beliau pun membaca ayat : “wa li man khaafa maqama rabbihii jannataan” Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua surga.
Wahai pemuda….
Bukan satu surga melainkan dua surga. Surga Firdaus dengan segala keindahannya terhampar dibawah kakinya. Para sahabat mungkin terkesima, kepada siapa Sayyidina Umar berbicara. Jika mereka mengenal Umar ra, sebenarnya mereka tidak perlu heran. Umar adalah sosok yang berseru dari mimbar kepada komandan pasukan yang berjarak sepuluh hari darinya.
Komandan Sariyah ketika itu tidak menyadari datangnya musuh dari belakang. Lalu tabir ghaib terbuka, Allah menunjukkannya kepada Umar, beliau pun menghentikan khutbahnya dan berseru : ” Ya Sariyah, al jabal… al jabal…” Dan komandan Sariyah yang berjarak sepuluh hari mendengar seruan ini, ia pun mengatur strateginya sesuai dengan arahan ini.
Inilah suara Umat yang terdengar dari jarak yang tak terhingga. Dalam satu bagian dari sisi suara Umar berhubungan dengan dimensi lain, seperti seorang Imam yang manalqin mayit, beliau menyeru pemuda di dalam kubur ini: ” wa li man khaafa maqama rabbihii jannataan” Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua surga.
Jangankan sekedar mendengarkan suaranya, seandainya pemuda ini telah lama wafat, tulang-belulangnya telah remuk terpencar, telah ditempatkan di ujung surga, walaupun naik ke ujung langit yang menggelegar, maka ia akan menjawabnya: ” Labbayk ya Amir al Mukminin, betapa tidak beruntungnya saya, tiga hari tidak bisa shalat dibelakangmu, mereka membawaku ke tempat ini.”
Ruh-ruh yang terbuka dengan makna, telah membuat hari-hari kita merasakan tegangan metafisik. Dimasa dimana kejadian-kejadian metafisik menjadi obrolan dimana saj, tidak bisa diperdebatkan lagi apakah suara kubur bisa terdengar atau bisakah bicara dengan roh.
Setelah suara Sayyidina Umar selesai, terdapat keheningan sesaat. Tiba-tiba muncul suara yang memecah keheningan. Suara ini muncul dari dalam bumi. Suara yang bisa didengar oleh semua orang :” ya Amir al Mukminin, inni wajadtu marratain. Saya menemukan dua kali lipat dari apa yang Anda katakan.”
Dengan apa kamu temukan dua kali lipat itu? Di tempat dimana kamu harus menjaga kesucianmu, dimana kamu dapat menjaga perasaan yang mengalir dalam urat nadi dengan mengatakan : ” syahwat….syahwat’ Dimana kamu mengatakan tidak terhadap syahwat, membuatmu tiba-tiba naik ke martabat kewilayahan (kewalian) yang paling tinggi, sehingga seruannya terdengar datang dari akhirat ke dunia. demikian sebaliknya, suara yang datang dari dunia didengar di akhirat.
Walaupun kamu berada dibalik surga, tetapi kamu tetap menjawab seruan Sayyidina Umar. Peristiwa yang terjadi pada Kifl juga demikian. Para ustadz sudah menjelaskannya berulang kali. Ketika gejolak syahwat menggebu-gebu, ia berhasil meredamnya dan meninggal dunia karenanya. Tertulis di pintu rumahnya : ” Allah telah mengampuni Al Kifl.” Orang-orang yang berlalu lalang dirumahnya pun berdoa: ” Semoga Allah mengampuni Al Kifl.”
Dan Sayyidina Yusuf as pun sampai pada puncak kematangannya. Beliau menjawab ajakan “hayta laka…” yang dihiasi dengan kecantikan sempurna seorang wanita, bahkan dengan ancaman dari wanita itu: “kalau kamu tidak menerima ajakan saya, akan saya laporkan kamu!” dengan jawaban : ‘Qala ma’adzallah (aku berlindung kepada Allah)’ Ia berdiri tegak sebagai monumen kesucian, ‘Qala ma’adzallah, innahu rabhi ahsana matswaaya, innahu la yuflihu adz dzalimun.’ (Q.S Yusuf)
Dalam penafsiran yang lain, kata ‘rabbi’ disitu mengarah kepada ‘tuanku’. Dia telah memberiku kedudukan dan jabatan yang layak. Dia mempercayaiku. Salah satu dari sifat para nabi adalah ‘amanah’. Baginda Nabi SAW pun dengan sifat amanahnya diterima oleh masyarkatnya. Ketika sifat amanah ini tidak dikokohkan, bagaimana bisa masyarakat menerima pesan-pesan kalian.
Nabi Yusuf as dimasa mendatang akan menyampaikan pesan-pesannya. Beliau akan bersabda : ‘ percayalah padaku’. Orang yang dasar imannya goyah, tidak akan bisa mengokohkan sifat amanah dalam setiap pesan yang disampaikannya. Amanah adalah sifat utama para Nabi. Sedemikian amanahnya para Nabi, jika kalian akan pergi ke suatu tempat, kalian bisa menitipkan istri kalian kepadanya, mereka bahkan tidak akan melihat wajahnya.
Bediuzzaman Said Nursi, sang monumen kesucian dimasanya, beliau ketika itu tinggal dikediaman Gubernur Tahir Pasha Di rumahnya juga ada dua putrinya yang berumur 12 – 13 tahun. Beliau berkata : ‘seandainya ditanyakan yang mana si A dan si B, saya bisa bersumpah bahwa saya tidak bisa membedakannya. Apa hak saya. Saya tidak punya hak untuj melihat mereka yang merupakan kehirmatan dan kesucian tuan rumah. inilah cara pandang yang suci.
Beliau adalah teladan dari iffah (kesucian). Masyarakat pun dengannya mempercayai dan mengandalkan Anda. Mereka akan mengamanahkan anak gafisnya kepada Anda. Para Ustadz menjelaskannya dengan indah dari pensyarah kitab Multaqa:’ pada suatu malam yang berkabut, ada anak gadis dari Pasa yang tersesat dijalan. Anak gadis ini lalu meminta bantuan kepada seorang pemuda yang sedang belajar dan menulis buku dengan temaram cahaya lilin.
Sesekali ia mengulurkan tangannya ke api lilin, dan menariknya ketika merasa kepanasan, ia mengulanginya hingga subuh. Ketika pagi tiba, sang ayah menjemputnya. Si gadis menceritakan peristiwa ini kepada ayahnya. Sang ayah lalu memanggil si pemuda dan bertanya kepadanya : ” kenapa kamu melakukan hal itu hingga pagi?”
Pemuda menjawab: ‘ ketika nafsu datang menggodaku, terdapat ayat Quran yang merangkum peristiwa ini: nazghun min nazaghi asy syaithan, ketika syaitan mengelincirkanku, aku pun mengulutkan tanganku ke atas api lilin sambil berujar: ‘inilah hukuman bagi orang yang menuruti nafsu jasmaninya, kalau kamu tahan, kamu boleh melakukannya. Dengannya, aku pun membuat perhitungan terhadap nafsuku sampai pagi.’
Dengannya, aku berjuang melawan nafsuku. Sang ayah: “sebenarnya, aku juga sedang mencari calon menantu yang iffahnya setinggi ini. Dalam manakibah, tidak terdapat jalur periwayatan dari fulan, dari fulan, dari fulan… dalam manakibah, tidak perlu dipertanyakan ke tsiqahan perawinya. inilah manakibah. Akan tetapi, mekarnya bunga iffah dan futuwwah (kematangan) dapat kita lihat ribuan contohnya di sekitar kita.
Sewaktu saya bertugas sebagai manajemen di suatu lembaga, ada siswa yang saya kenal, kedua siswa tersebut menghampiri teman kami. wajahnya bercahaya, ia berkata : ‘saya melihat tanpa sengaja hal yang haram. Tolong berikan uang ini sebagai sedekah kepada seseorang, dan jangan certitakan kepada siapapun.’ Teman ini pun datang dan dengan penuh haru menceritakan peristiwa ini kepada saya.
Saya bertanya: ‘apakah si fulan?’ bagaimana anda bisa mengetahuinya?’. Saya tahu, karena dia selalu menjaga pandangan pada waktu berjalan inilah momentum iffah. Diantara mereka masih ada yang hidup. Dan masyarakat memandang anda seperti ini. Dan kita yakin Anda sekalian akan menjadi sumber amanah dan kepercayaan bagi masyarakat anda. semoga Allah tidak mengecewakan prasangka kita.’
Semoga Allah menjadikan kalian sebagai sosok yang teguh pendirian, menampilkan pendirian, menampilkan futuwwahnya, dan ksatria dalam mengalahkan nafsu jasmaniahnya. Karena saya akan menjelaskan dimensi lainnya, mungkin saya membebani Anda, mohon maaf sebelumnya. Futuwwah itu apa, lalu saya sendiri apa. Jika futuwwah ingin dirangkum dalam satu majlis, sungguh amatlah susah.
Karena saya akan membahas tema lainnya, mudah-mudahan Anda mengerti dan memahamiku, inilah ufuk toleransi dan penyerahan diri kepada Allah. Dengan definisi yang lain, ia berlepas dari kehidupan pribadinya dan memilih merasakan lezatnya menghidupka orang lain. Kalaupun hidup, ia akan hidup untuk orang lain.
‘La yazalu Allahu fi ‘awnil abdi ma dama al abdu fi ‘awni akhihi’, Allah akan senantiasa menolong hambaNya yang menolong sesamanya. Dan sosok yang memiliki ‘awn (menolong) teragung adalah Baginda Nabi SAW. Kalian dan kita semua berhutang budi kepada Beliau SAW. Kita belajar segala sesuatu dari Beliau SAW.
Dalam riwayat yang disampaikan oleh Imam Hakim dan Ahmad bin Hambal, Rasulullah membaca ayat ini dan menangis sampai pagi. Tangisannya beliau adalah sesuatu ynag berbeda. Tangisan yang menggetarkan. Ketika beliau menangis, tak ada yang bisa bertahan untuk tidak ikut menangis. Ketika melihatnnya, Sayyifina Abu Bakar datang bersimpuh dan berkata: ‘Biarlah ayah dan ibuku menjadi tebusan!’
Tidak, biarlah semua ayah dan ibu kita yang menjadi tebusannya!
Ayahku telah menjadi tebusannya. Kini hanya tersisa ibuku. Semoga ibuku dan semua orang yang kita cintai menjadi tebusannya. Tetapi engkau telah pergi…
sayyidina Abu Bakar : ‘Biarlah ayah dan ibuku yang menjadi tebusanmu’. Saya tidak tahu, apakah ketika itu Rasulullah menghentikan tangisannya atau tidak. Beliau hingga pagi membaca ayat ini
Salah satu ayatnya merupakan kata-katanya Nabi Ibrahim as. Sedang ayat lainnya merupakan kata-katanya Nabi Isa a.s. Lalu kemudian diturunkan sebagai bagian dari ayat Al Quran : ‘Rabbi inna hunna adhlalna katsiran minannas, faman tabi’ani fainnahu minni, wa man ‘ashani fa innaka ghafurur rahim’ (Q.S Ibrahim). Nabi Ibrahim adalah sosok yang kalbunya seringkali terbakar, ketika terbakar, terbakar sejari-jadinya.
Ya Allah, berhala-hala ini menyehatkan banyak orang. Dan barangsiapa yang mengikuti saya (walaupun sedikit), adalah bagian dari saya…. Dan barangsiapa yang mengingkari saya, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Penyayang…
Beliau tidak berkata: ‘lemparkanlah mereka ke api neraka.’ Inilah kalbunya Ibrahim, inilah kalbunya futuwwah, inilah kalbunya kalian.
Kepada yang memukul tidak dibalas dengan pukulan, dan kepada yang mencaci tidak dijawab dengan cacian… tanpa sakit hati, tanpa tersinggung, berdo’a: ‘wa man ‘ashani fi innaka ghafurie rahim’. Nabi Muhammad SAW mengutip doa Nabi Ibrahim, yang tercatat juga didalam Al Quran, beliau memgangkat tangannya dan bermunajat sambil menangis: ‘ummati..
ummati’.
Para ahli kasyaf mengatakan: Suleyman Celebi, dengan telinga Ibunda Aminah, berusaha mendengarkan apa yang dikatakan bayi mulia itu, ternyata sang bayi mengatakan: ‘ummati… ummati…
Menurut sebagian ahli kasyaf juga, diakhirat nanti, ketika semua orang mengatakan: ‘diriku…diriku… Beliau pun dengan meletakkan kepala mulianya untuk bersujud dan berkata: ‘ummati… ummati… ia memgatakannya sambil menangis: ummati…ummati’.
Sayyidina Al Masih as mengucapkan doa yang tercantum didalam Al Quran. Intuadzdzibhum fa innahum ‘ibaaduk, wa intaghfirlakum fa innaka antal azizul hakim (al Maidah:118)
Sayyidina Isa akan dipanggil oleh Allah, dan akan ditanyakan….
semoga jiwa saya jadi tebusannya. Allah akan bertanya: Apakah kamu yang memerintahkan agar mereka menyembahmu?
Aku ini Esa, apakah kamu yang memerintahkan agar mereka menyembah tiga tuhan(trinitas)?
Apakah kamu yang mengatakan bahwa Maryam juga Tuhan?
Dialah Nabi yang penyayang, lembut, penuh kasih, sosok yang keseluruh kehidupannya untuk umat manusia, siapa yang bisa tahub apa yang dirasakan Nabi Isa ketika menghadapi pernyayaan seperti ini?
Beliau pun menjawab: ‘ Intuadzdzibhum fa innahum ‘ibaaduk, wa in taghfirlahum fa innaka antal ‘azizul hakim (Al Maidah : 118) Ya Allah, aku ketika itu berada diantara mereka, waktu itu tidak ada hal seperti itu. Engkaulah yang lebih mengetahui apa yang terjadi setelah itu… Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka hamba-hamba Engkau. Jika Engkau mengampuni mereka, maka Engkaulah Yang Maha Perkasa dan Maha Bijaksana.
Engakaulah yang menciptakan segala sesuatu dengan segala hikmahnya… Engkaulah satu-satunya Pemenang, tidak ada satupun yang bisa mengatakan sesuatu atas kata-kataMu. Rasulullah SAWA membaca ayat ini sambil mengangkat kedua tangannya, berdoa dengan tangisan yang tersedu-sedu hingga pagi tiba. Sebagaimana biasanya setiap tangisan beliau diijabah dibumi, ia pun pasti diijabah dilangit juga.
Beliau selalu menangis, Allah senantiasa mendengar dan menyaksikannya… Allah biasanya mengirimkan Jibril untuk menghiburnya. Kali ini pun Allah menyuruh malaikat Jibril untuk pergi ke kekasihNya dan menanyakan apakah gerangan yang membuatnya menangis. Rasulullah jika sudah menangis, untuk sekedar berbicarapun beliau tidak mampu.
Lalu beliau menemukan kesempatan, demikian tenggelamnya beliau dalam perasaannya, dan dalam tangisannya, seringkali beliau tidak menemukan kesempatan untuk berkata-kata. Segera setelah beliau mendapatkan kesempatan tersebut, hal yang dikatakannya adalah: ‘ummati…ummati…’ pesan yang dibawa Jibril kepada Allah tidak lain adalah kalimat ini.
Insya Allah, mereka yang meneteskan air mata, insyaa Allah mereka akan mendapatkan kebaikan yang diharapkan. Ketika kita menyampaikan suara hati kita, khususnya yang terdapat dalam hati saya tetapi saya tidak dapat mengungkapkannya, semoga dapat diijabah juga. Semoga disetiap doa anda, Allah berkenan mengulurkan bantuannya. Saya sangat jauh dari posisi tersebut, sehingga saya tidak bisa mengatakan hal seperti itu…
Ya Rasulullah saya bahkan tidak berani mengatakan : ‘ummatmu…ummatmu…’ akan tetapi saya diantara kalian. saya menjelaskan hakikat-hakikat yang terdapat pada Rasulullah SAW kepada anda… saya berharap dan memohon… semoga Allah berkenan mengampuni anda sekalian dan saya. semoga Allah tidak membiarkan kita kalah di duniandan di akhirat nanti…
Ringkasan
1. wafatnya seorang pemuda di zaman sayyidina Umar karena takut kepada Allah ketika menghadapi tawaran tidak berakhlak dari seorang wanita.
2. “sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya
3. Dan barang siapa yang takut akan menghadap Tuhannya, ada dua surga. (Q.S Rahman: 46)
Sarana Mendekatkan Diri Kepada Allah SWT dan Umat Manusia: Kurban[1]
Pertanyaan: Jiwa-jiwa berdedikasi melalui sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT, yaitu kurban, telah membangun jembatan simpati, baik di dalam negeri, mulai dari bagian timur hingga barat Turki, maupun ke berbagai wilayah di luar negeri, khususnya negeri-negeri yang amat miskin di belahan benua Afrika. Apa saja ide serta nasihat Anda agar aktivitas penyelenggaraan ibadah kurban yang demikian dapat dikelola lebih baik lagi?
Jawaban: Awalnya segala sesuatu bermula dari hal kecil. Selang beberapa waktu kemudian, tumbuh rasa kepemilikan pada generasi berikutnya. Mereka memberikan pundaknya untuk dipikuli sebagian beban, mengembangkan sistem dan metode baru, serta menghasilkan beragam alternatif lainnya. Demikian juga dengan ibadah kurban. Pada satu periode waktu di negara kita ia hanya dilakukan untuk menunaikan kewajiban[2] individu dimana daging dari hewan kurban yang dipotong hanya dibagikan kepada tetangga kanan-kiri saja. Seiring berjalannya waktu, tidak hanya di dalam negeri, kurban telah menjadi sarana penting untuk mendekatkan hati antar manusia di berbagai penjuru dunia.
Allah SWT tepat di awal surat kedua berfirman: “…dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS Al Baqarah 2:3) mengisyaratkan bahwasanya pemilik hakiki dari segala harta benda adalah Dirinya, sedangkan kita manusia hanyalah pengemban amanah yang dititipi olehNya. Yakni, apa yang kita berikan pada dasarnya merupakan nikmat-nikmat yang dianugerahkan Allah SWT kepada kita. Saat berfirman “Kamilah yang memberi rezeki” Dia mengingatkan kita untuk tidak perlu khawatir kehabisan rezeki. Topik ini dibahas lebih eksplisit pada ayat lainnya:”Sungguh Allah, dialah Pemberi rezeki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh” (QS adz Dzariyat 51: 58).
Sebenarnya bagi seorang manusia, baik itu zakat, sedekah, ataupun ibadah kurban, terkait bahasan memberikan harta yang dimiliki kepada orang lain, ibadah tadi hanyalah sisi minimum dalam menunaikannya. Maksudnya adalah Dia seolah mengatakan “Jika hal tadi pun kalian tidak menunaikannya, kalau begitu carilah sendiri tempat untuk kalian tinggali!.” Sisi maksimum dari bahasan tersebut ditunjukkan oleh ayat lainnya:”Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (Muhajirin) atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan (QS al Hasyr 59:9).” Seseorang yang bergerak dengan semangat ini, waktunya, kelapangan kesempatannya, ilmunya, pengetahuannya, kekayaannya, pikirannya, pendeknya, segala sesuatu yang dianugerahkan Allah SWT kepada dirinya dipersembahkan untuk turut dinikmati oleh seluruh umat manusia hingga tetes terakhir. Istilah populernya, membagikan segala apa yang ada di tangannya kepada orang lain.
Demikian juga di musim kurban, kaum muslimin setidaknya melalui ibadah kurban akan menampilkan jiwa kedermawanannya, menakhlukkan kalbu-kalbu, dan membuat mereka yang tak pernah menikmati daging akan merasakannya melalui daging hewan-hewan kurban yang dipotong di hari itu. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadis bahwa Allah SWT akan menjadikan hewan-hewan kurban yang disembelih tersebut sebagai hewan tunggangan di hari dimana mereka akan sangat membutuhkannya.[4] Mereka yang berkurban di hari akhir kelak akan berkata:”Hewan manakah yang akan kutunggangi?” dimana ujaran ini menggambarkan ketakjuban mereka pada besarnya ganjaran dari penunaian ibadah kurban tersebut.
Rasulullah SAW pernah bersabda:”Barangsiapa mampu tetapi tidak menyembelih hewan kurban hendaknya ia tidak mendekati tempat salat kami.”[5] Lewat sabdanya ini beliau berharap agar semua yang memiliki kelapangan untuk memotong hewan kurban. Oleh karena dalam teks hadis tersebut perintah berkurban diikuti oleh ancaman yang amat berat, maka para fukaha Hanabilah mengatakan bahwa lafal hadis menjadi dalil bahwa setidaknya berkurban adalah wajib[6]. Sebagaimana pada zakat terdapat nisab dimana bagi mereka yang memiliki harta telah sampai nisab maka hukumnya membayar zakat bagi mereka adalah fardhu ‘ain, demikian juga bagi mereka yang memiliki kelapangan juga wajib memotong hewan kurban. Oleh karena kurban adalah ibadah yang hukumnya wajib, maka mereka yang memiliki kelapangan juga wajib memotong hewan kurban. Tidak ada orang yang mau masuk ke dalam golongan orang-orang yang dilarang mendekati tempat salat sebagaimana terucap dalam ancaman Baginda Nabi. Kalimat “yang memiliki kelapangan” juga berarti dalam masyarakat juga terdapat orang-orang yang tidak memiliki kelapangan. Dalam keadaan tersebut, mereka yang memiliki kelapangan tidak boleh melupakan hak para fakir miskin yang terdapat di dalam nikmat-nikmat yang dianugerahkan Allah SWT kepada dirinya. Dengan demikian, mereka yang memiliki kelapangan harus mengayomi mereka yang tidak memiliki kelapangan. Orang-orang yang berkurban, dari hewan kurban yang dipotongnya dapat membuat orang-orang yang level ekonominya lebih bawah bisa merasakan kenikmatan daging.
Pembahasan dalam ayat lainnya: “Kamu tidak akan memperoleh kebajikan sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apapun yang kamu infakkan, tentang hal itu sungguh Allah Maha Mengetahui.”[7]memberi kita motivasi untuk berinfak. Jika demikian maka manusia harus memilih hewan paling baik karena nantinya ia akan menjadi tunggangannya di akhirat kelak. Hewan yang bisa digunakan untuk ibadah kurban sendiri sebenarnya memiliki kriteria tertentu seperti tidak boleh buta, cacat, tuli, dan syarat lainnya. Segala sesuatu yang dikerjakan di dunia akan kembali kepada kita manfaatnya sesuai dengan dimensi yang akan diwujudkan oleh alam berikutnya. Oleh karena kita tidak mengetahui alam akhirat serta oleh sebab tidak mungkin bagi kita meletakkan segala sesuatu di alam akhirat ke dalam suatu pola, kita pun tidak bisa mengetahui seperti apa ganjaran yang akan kita dapatkan. Barangkali ia akan tersimulasi di hadapan kita dalam bentuk sebuah pesawat, kapal, sampan, ataupun kuda yang perkasa. Jika kita melihat pembahasannya dari sudut luasnya rahmat Ilahi serta kebenaran dari semua janji-janjiNya, maka dapat kita katakan bahwa segala hal tersebut secara mutlak akan kembali kepada kita.
Berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Ummul Mukminin Aisyah ra, Rasulullah SAW membagikan 2/3 daging dari hewan kurban yang disembelihnya. Agar kebutuhan keluarganya juga terpenuhi, beliau menyisakan 1/3 bagian daging kurban untuk dikirim kepada keluarganya. Demikianlah takaran bagi seseorang yang ingin memanfaatkan daging kurban yang dipotongnya sesuai tuntunan sunah. Akan tetapi, jika dalam satu kepala keluarga dipotong hewan kurban sebanyak jumlah anggota keluarganya maka pembagiannya bisa berbeda. Misalnya salah satu hewan kurban, atau separuhnya, atau sepertiganya dapat dikirimkan ke rumah pengkurban, sedangkan sisanya bisa didistribusikan ke orang lain. Orang yang melakukan pembagian seperti ini di satu sisi tidak meninggalkan anggota keluarganya dalam keadaan melarat, membuat mereka mencicipi daging kurban, serta melunasi hak/hutang mata, di sisi lain lewat kurban kita mengulurkan tangan kepada mereka yang papa, sekaligus membangun jembatan kasih dan sayang antar anggota masyarakat.
Mendarah Dagingnya Tabiat Kepahlawanan
Sebagaimana dijelaskan di awal, pada satu periode di negeri kita[8] semua orang memotong kurban, sebagian daging dikirim ke rumahnya sedangkan sisanya dibagi-bagikan ke tetangga. Akan tetapi, datang suatu hari dimana ibadah kurban tidak hanya dilakukan untuk desa dan kampung kita saja. Ia telah menjadi sarana untuk menjangkau saudara-saudara kita yang membutuhkan di wilayah yang lebih luas. Mereka yang memiliki kelapangan menanggung amanah tersebut. Setelah itu, satu teman tidak hanya mencukupkan dirinya untuk mengeluarkan satu hewan kurban, melainkan dua, tiga, sepuluh, dua puluh, bahkan tiga puluh ekor hewan kurban. Hal tersebut di waktu yang sama merupakan ekspresi bagi berkembangnya tabiat kepahlawanan dan mendarah dagingnya jiwa kedermawanan. Di sisi lain, diumumkannya jumlah hewan kurban dari masing-masing individu membawakan pengaruh berupa tambahan motivasi bagi jiwa-jiwa manusia yang mendengarnya. Dengan demikian, kurban yang diberikan dari negeri kita telah mengayomi kaum fakir miskin di seluruh penjuru dunia. Mereka yang menyaksikan semangat itu kali ini akan berujar:”Ayolah, dengan izin dan inayat Allah SWT mari kita usahakan kegiatan ini untuk jangkauan yang lebih luas lagi!”. Dan pelayanan kurban yang dimulai dengan benih kecil kini telah membentuk lingkaran raksasa. Jiwa-jiwa yang rela berkorban ini tidak menyisakan satu pun negeri dengan kemiskinan serius tidak dijangkau di mana sebagian besarnya terdapat di negeri-negeri di Benua Afrika. Demikian seriusnya kemiskinan di sana, masyarakatnya barangkali juga tidak bisa menemukan daging untuk dimakan walau hanya setahun sekali. Begitulah rekan-rekan berjiwa itsar mulai menegakkan komitmennya dan menjangkau negeri-negeri tersebut dengan ibadah kurban mereka.
Tentu saja tidak hanya Afrika, rekan-rekan kita yang rela berkorban juga memotong hewan kurban serta membagikan dagingnya kepada masyarakat dimanapun mereka berada. Pengabdian kemanusiaan yang demikian terlihat menarik bagi masyarakat setempat yang memiliki latar belakang budaya dan pemikiran berbeda. Daging kurban yang Anda hantarkan baik yang sudah dimasak ataupun masih segar merupakan panorama indah yang baru pertama kali mereka saksikan. Tidak ada budaya demikian dalam kultur mereka. Ya, di daerah dimana jamuan berupa segelas teh tidak akan disuguhkan tanpa adanya barang jaminan dominan, apa yang rekan kalian lakukan adalah suara dan nafas baru bagi mereka. Lewat sarana tersebut, masyarakat itu menyadari nilai-nilai indah yang terdapat pada diri kalian, menyadari kedermawanan Islam, kemurahan hati saudara-saudara muslim, semangat itsar, serta menyaksikan peristiwa memberi makan orang lain walaupun dirinya sendiri belum makan. Pada akhirnya, mereka pun mulai mencintai dan memiliki ikatan hati kepada pondasi yang menjadi dasar gerak dan semangat kalian. Menurut pendapat saya, di dunia yang tengah mengalami globalisasi dewasa ini, kegiatan-kegiatan semacam ini adalah sarana penting bagi terbangunnya jembatan cinta dan dialog antara kultur yang berbeda. Kegiatan yang diselenggarakan di jalan tersebut telah meraih posisi tertentu. Oleh karena mencukupkan diri dengan apa yang sudah dikerjakan merupakan bagian dari kemalasan[9], maka kita harus bergerak sambil selalu menaikkan target di setiap program yang diselenggarakan di masa mendatang.
Penjelasan lain dari point tersebut adalah: Setiap tahun, Anda harus membuat program tersebut selalu menarik dengan jalan memainkan format acara serta menambahkan warna dan pola baru di dalamnya. Misalnya, selain membagikan daging, Anda juga bisa membuka posko pengumpulan pakaian layak pakai dimana orang-orang dapat menyumbangkan pakaian ataupun barang layak pakai yang sudah tidak digunakan lagi. Selain paket kurban yang sudah disiapkan, barang-barang tersebut setelah disortir dapat juga Anda bagikan kepada kaum fakir dan miskin penerima paket kurban. Karena di tempat Anda pergi berkurban, masyarakatnya tidak memiliki pakaian yang layak untuk dikenakan. Anda dapat menyaksikan di satu sisi terdapat gedung-gedung raksasa pencakar langit, tetapi di sisi lain terdapat orang-orang yang kondisinya lebih buruk dari mereka yang tinggal di pinggiran kota. Apalagi di Afrika, demikian buruknya kondisinya, bantuan sederhana pun menjadi sebuah sumbangsih yang amat berarti bagi mereka. Untuk itu, dengan menambah warna dan kedalaman makna di setiap kegiatan atau program yang diselenggarakan, kita harus berusaha mengukir senyum di wajah masyarakat setempat. Apalagi senyuman di wajah mereka akan menjadi sarana bagi terukirnya senyum di wajah kita juga.
Bagaimana Allah SWT memberikan inayatNya serta pintu kebaikan apalagi yang akan dibukaNya di depan kita, kita tak bisa mengetahuinya. Oleh sebab itu, dalam beragam kesempatan kita harus memainkan format acaranya, memberinya variasi dan tambahan yang bakal menarik perhatian, serta harus membangun dan membangkitkan kalbu-kalbu setiap anggota masyarakat yang kita temui. Apa yang akan dikehendaki Allah SWT setelah kita maksimal dalam berikhtiar adalah hak prerogratifNya. Meminjam istilah yang digunakan Ustaz Said Nursi:”Kita kerjakan apa yang menjadi tugas kita, tidak usah mencampuri wilayah rububiyah Ilahi.”[10]
Kejutan-Kejutan yang Datang Bersama Kurban
Sebenarnya di dalam semua ketaatan ibadah, ungkapan lisan seperti: “Ya Allah, saya mengerjakan ibadah ini semata-mata hanya untukMu” serta ketulusan mengucapkannya dari hati yang paling dalam haruslah menjadi asas. Setiap insan harus mengantarkan hidupnya pada pemikiran ini dan menguncinya erat-erat. Dari sisi ini, ketika menunaikan ibadah kurban kita harus menggenggam niat kita dengan kokoh seperti yang diharapkan dari kasdul kalb[11]. Kita harus bisa mengatakan kalimat berikut dengan tulus:”Ya Alah, Engkau memerintahkanku untuk memotong hewan kurban, aku pun memenuhi perintahmu. Andaikan Engkau memerintahkanku untuk memotong leherku sendiri, aku pun dengan senang hati melaksanakannya. Jika untuk mempertahankan agamaku, harga diri dan martabatku, jiwaku, hartaku, serta negaraku diperlukan dibentuknya front pertahanan, aku pun siap melaksanakannya.” Seseorang ketika menyerahkan hartanya yang juga merupakan bagian dari jiwanya, di waktu yang sama ia juga harus mengingat hal apa lagi yang bisa diberinya sambil menunjukkan sikap bahwasanya dia siap untuk melaksanakan perintah berikutnya. Dengan demikian, ketika Al Qur’an menjelaskan keadaan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail a.s.:”Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya, (nyatalah kesabaran keduanya)[12], mengisyaratkan rahasia ubudiyah dan pemahaman keduanya akan kehalusan yang terdapat dalam ketaatan kepada perintah Ilahi sehingga mereka pun mengambil sikap yang paling cocok dengannya.
Jika seseorang sedari awal mengikatkan ibadah kurbannya kepada niat yang kokoh seperti itu, maka segala yang dia lakukan untuk mewujudkan ibadah kurbannya akan bernilai ibadah, amal-amal lain yang dikerjakan di jalan kebaikan tersebut pun akan kembali kepada pelakunya sebagai pahala layaknya amalan-amalan salih dan kebajikan. Jadi aktivitas seperti pergi ke pasar hewan untuk membeli hewan kurban, mengikatkannya di kandang sementara, menaikkannya ke truk untuk dibawa ke rumah potong hewan, menjaga dan merawatnya hingga hari pemotongan tiba, memberinya makan dan minum, membagikan daging kepada yang membutuhkan setelah hewan kurban selesai dipotong, dan pekerjaan lain yang dikerjakan ketika menunaikan ibadah kurban akan dicatat dalam kitab amal Anda. Di sisi lain hal-hal seperti sentuhan pisau ke leher hewan kurban, hentakan kaki hewan kurban ketika disembelih, dan mengalirnya darah hewan ke tanah; meski rasa sayang dan kasihan menyelimuti tetapi kehalusan yang terdapat dalam amal yang berdasar pada ketaatan Ilahi juga akan ditulis dalam buku kebaikan sebagai tambahan pahala.
Segala amal kebaikan yang dilakukan di sini bisa saja Anda memandangnya sebagai hal yang kecil dan remeh. Akan tetapi, di alam lainnya saat ia ditunjukkan kepada Anda, dengan penuh takjub dan heran Anda akan berkata:”Ya Allah, betapa Pemurahnya Engkau. Amal-amal remeh seperti itu Engkau terima, Engkau agungkan, Engkau perluaskan, Engkau tambahkan, Engkau abadikan, dan kini Engkau tunjukkan kepada kami!” Maka dari sisi ini, seseorang harus mengerjakan ibadah kurbannya dengan penuh kekayaan jiwa dan keyakinan hati. Ayat berikut mengisyaratkan penjelasan tersebut:
“Daging-daging dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.”[13]
Ya, jika seeorang menunaikan ibadah ini dengan mengaitkan hatinya dengan pemikiran untuk menghamba kepada Allah SWT, untuk menyambung hubungan serta keterkaitan dengan Allah SWT, maka mereka akan disambut oleh beraneka ragam kejutan dan kekayaan yang amat istimewa di dunia berikutnya.
[1] Diterjemahkan dari artikel berjudul Hakk’a ve Insanlara Yakinlasmanin Vesilesi: Kurban, dari Buku Kirik Testi 12: Yenilenme Cehdi
[2] Di mazhab hanafi berkurban hukumnya wajib bagi yang mampu
[3] Mendahulukan kebutuhan orang lain walaupun dirinya sendiri juga membutuhkannya
[4] “Perbaguslah hewan kurban kalian karena dia akan menjadi tunggangan kalian melewati sirat” (HR Dailami dalam Musnad al Firdaus:268)
[5] HR Ibnu Majah; Ahmad bin Hambal al Musnad 2/321
[6] Dalam mazhab hanafi ada hukum wajib yang berbeda dengan hukum fardhu ‘ain.
[11] Kasdul kalb tidak hanya melewatkan sesuatu melalui akal dan kalbu smeata, melainkan seseorang bertekad sangat kuat untuk mewujudkan apa yang diniatkannya menjadi suatu amal nyata.
Pertanyaan : Ketika membahas hadist tentang keberangkatan Muadz bin Jabal ra ke Yaman, digarisbawahi juga 4 karakteristik dari seorang mubaligh, keteladanan, memancing rasa ingin tahu, kemampuan untuk menjawab rasa ingin tahu, dan runtutan dalam cara penyampaian. Berkenan kah Anda menjelaskannya sesuai dengan kondisi masa kini?
Jawab : Muadz bin Jabal ra adalah salah satu ulama diantara para sahabat. Beliau adalah sosok manusia yang memiliki akhlak dan karakter istimewa yang membuatnya mudah berinteraksi dengan manusia dari berbagai kalangan. Pada waktu itu penduduk Yaman baru saja mememeluk agama Islam. Dimasa yang akan datang, penduduk Yaman akan melakukan hal-hal penting untuk Islam.
Di perang Qadissiyah, tak terhitung banyaknya penduduk Yaman dari suku Bajali yang menunaikan misi penting menegakkan kalimatullah walaupun harus dibayar dengan kesyahidan. Diantara suku Bajali, terdapat sosok Jarir bin Abdullah al-Bajali ra yang merupakan tokoh terhormat dari kabilahnya. Ketika datang kehadapan Baginda Nabi SAW, karena penampilan beliau yang tak ubahnya seperti orang Badui biasa, tidak ada satupun yang memperhatikan dan mengenalnya. Tentu saja semua orang yang datang kehadapan Baginda Nabi SAW sebagai orang biasa, biarlah nyawa menjadi tebusannya SAW. Ia duduk ditempat kosong yang ditemukannya. Akan tetapi Rasulullah SAW mempersilahkannya untuk duduk disampingnya.
Diriwayatkan bahwasannya Rasulullah SAW juga menghamparkan jubah beliau diatas lantai untuk mempersilahkan Jarir ra untuk duduk diatasnya. Demikianlah kabilah ini diperang Qaddisiyah, mereka menunaikan misi yang sangat agung, seperti misi yang pernah diemban para Assabiqunal Awwalun. Mereka habis-habisan dimedan perang itu. Mereka terlibat dalam penaklukan kerajaan Persia dan menjadikan negara adikuasa ini rata dengan tanah dengan izin dari Allah SWT.
Ketika beliau mengirimkan Muadz bin Jabal ra. ketempat yang spesifik seperti ini, menunjukkan ketepatan Rasulullah SAW dalam menugaskan para sahabat. Dengan fatanahnya yang agung, jangan sebut ini sebagai kecerdasan, ataupun jenius, melainkan ini merupakan “min ‘indillah“, dukungan dari sisi Allah SWT, kemampuan mengambil keputusan, kemampuan melihat potensi, kemampuan mengevaluasi. Hal ini tampak juga dalam penugasan sahabat lainnya: ketika beliau mengirim Khalid bin Walid, kemanapun ia selalu pulang membawa kemenangan. Ketika beliau mengirim sahabat yang lainnya pun mereka selalu pulang membawa kemenangan. Belum pernah terjadi sahabat yang beliau kirimkan pulang membawa kerugian kepada masyarakat muslim.
Pertama-tama kita harus menengok kondisi ketika Muadz bin Jabal ra dikirim ke Yaman. Kondisi yang sama juga terjadi ketika Mus’ab ibn Umayr ra. dikirim ke Madinah Al Munawarah, didapati pilihan yang sangat tepat. Seorang pemuda yang baru beranjak dewasa, belum pernah terjerumus dalam kegelapan dosa, berangkat dengan senang hati dan penuh suka cita. Tetapi disana ditemui perlawanan terhadap agama, yakni perlawanan terhadap Islam. Bahkan terhadap petinggi kaum Madinah yang nantinya jadi petinggi diantara kaum muslimin juga seperti Saad ibn Muadz.
Ketika mereka menodongkan senjata dilehernya, meskipun usianya masih muda Mus’ab ibn Umayr tidak canggung untuk menyapa mereka. entah, “wahai abangku” entah “wahai saudaraku“, atau sapaan lainnya yang berlaku saat itu. “kenapa Anda tidak duduk dulu bersamaku, dan mendengarkan penjelasanku. Jika Anda suka, Anda boleh menerimanya. Namun jika Anda tidak menyukainya, silahkan ambil kepala Saya.”
Merekapun duduk dan mendengarkan penjelasan Mus’ab ibn Umayr `. Seketika mereka luluh dan masuk Islam. Ya, orang-orang yang dikirim Rasulullah SAW selalu kembali dengan membawa keberhasilan. Kalau misalnya ada kegagalan sementara yang terjadi, itu disebabkan oleh kekhilafan pribadi dalam pelaksanaan arahan dari Rasulullah SAW. Sebagai contoh, anda bisa melihatnya pada keadaan orang-orang yang meninggalkan bukit pemanah di perang Uhud. Jangan sekali-kali menyalahkan mereka! Karena Al Quran Karim menyatakan: “Innama Tazallawm”, dikatakan :” Zala” dikatakan juga : Bi ba’dhima kasabu.” Disitu dikatakan : “Kasb”, bukan iktisaba,” Al Qur’an tidak menyatakan mereka kalah karena mereka melakukan kesalahan besar.’ Ya, semua mengambil ghanimah, kalau begitu, ayo kita ambil juga . Perangnya sudah berakhir, lawan-lawan sudah melarikan diri.”
Ini adalah sebuah kesalahan ijtihad, dimana mereka mendapatkan satu pahala, alih-alih mendapatkan dua pahala. Sama seperti itu, di Hunain pun kejadian yang sama juga terjadi. Sebagian dari pasukan muslim maju tanpa pengawalan, dan pasukan musuh segera memanah mereka. Dan disini sekali lagi Rasulullah SAW mengembalikan keadaan yang tadinya genting menjadi kemenangan. Sekali lagi dengan izin dan inayahnya Allah SWT, nama agung Rasulullah SAW kembali berkibar. Peristiwa tersebut harus dipahami dengan baik.
Ketika kita membahas hadist tentang peristiwa saat Rasulullah SAW mengirimkan Muadz bin Jabal sebagai seorang pemegang janji dakwah ke Yaman. Digarisbawahi juga empat karakteristik dari seorang mubaligh yaitu :
1. Tamsil (keteladanan)
Adalah seseorang yang melakukan apa yang dia katakan. Kita menyebut hal ini sebagai keteladanan. Salah satu sifat yang penting dari para Anbiya adalah Tabligh. Tabligh adalah hubungan antara Nabi dengan Allah SWT, wahyu yang diterimanya dari Allah SWT. Menyampaikan wahyu yang diterimanya kepada orang lain adalah misi dan tugasnya. Inilah yang disebut dengan tabligh yang sebenarnya. Mereka disebut sebagai mubaligh karena dilihat dari segi ini. Ambil dari satu tempat untuk diberikan ke tempat yang lain. Karena ini adalah misi yang sangat penting. Ini adalah misi yang sangat agung.
Barangkali menyampaikan wahyu adalah hal yang sangat penting, tetapi melakukan apa yang dikatakan sedetail mungkin jauh lebih penting. “Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan.” Yakni jikalau kalian menyatakan sesuatu, maka kerjakanlah.
Penerimaan khalayak terhadap apa yang kamu sampaikan berhubungan erat dengan praktiknya dalam kehidupan sehari-hari. Katakan dan lakukan! Bahkan, katakanlah sekali, lakukanlah dua kali, tiga kali, atau empat kali lipat. Rasulullah membawa wahyu dari Allah SWT. secara objektif kepada ummatnya untuk menunaikan shalat fardhu yang lima waktu. Bahkan menurut mahzab Hanafi shalat witir adalah wajib, walaupun menurut mahzab lainnya hukumnya adalah sunnah. Jika demikian totalnya ada 17 rakaat jika Anda menghitungnya.
Sekian saja kewajibannya. Lalu Jabr-i noksan, diputuskan untuk menutupi jika terdapat kekurangan dalam penunaian fardhu-fardhu itu. Jabr-i noksan bermakna menutupi dan membelit kekurangan dan patahan. Dan buat balutan ini disebut jabirah.
Mungkin ini bukan kewajiban, akan tetapi jika ia ditunaikan bersama dengan yang fardhu, maka sunnah-sunnah ini akan melipatgandakan pendekatan diri kepada Allah SWT. bagi para pelakunya. Jika ia menunaikannya dengan pendekatan fardhu, akan muncul rasa dalam menunaikan sunnah-sunnahnya.
Ini disebut sebagai Qurbu Nawafil, yakni mendekati Allah SWT. lewat ibadah-ibadah sunnah, sebuah pendekatan yang agung.
Demikian agungnya pendekatan ini, Rasulullah memyebutnya : “Allah SWT. akan menjadi mata yang dengannya melihat, menjadi telinga yang dengannya ia mendengar, menjadi lidah yang dengannya ia berbicara, menjadi tangan yang dengannya ia menggenggam.“
Yakni, seolah-olah apa yang ia ingin lakukan adalah hasil dari bimbingan Allah SWT.. Kalau mereka mengulurkan tangannya tidak akan sia-sia. Kalau mereka melangkahkan kakinya ke depan, mereka merasa tidak perlu untuk mundur lagi. Mereka selalu melangkah dari kesuksesan yang satu ke kesuksesan lainnya. Inilah yang disebut sebagai Qurbu nawafil. Oleh karena itulah nafilah perlu ditunaikan.
Ketika Anda menunaikan dhuha, awwabin, tahajud, maka Anda telah menambah kedekatan kepada Allah SWT.. Namun kewajiban seorang manusia, seperti yang disampaikan Bediuzzaman Said Nursi, pelaksanaan shalat dan wudhunya hanya menghabiskan waktu satu jam. Satu jam cukup buat semuanya. Ketika kita melihat cerminan penghambaan dari Sang Kebanggaan Umat Manusia SAW, menunaikan sepuluh kali lipat dari apa yang diwajibkannya kepada kita.
Misalnya, Anda akan melihatnya SAW selalu berpuasa. Seolah-olah beliau SAW berpuasa lebih dari puasa Daud, tetapi beliau tidak memaksa kita untuk melakukannya. Sebaliknya, beliau memudahkan buat mereka yang berusaha mempersulit, mislanya kepada mereka yang berkata: “aku akan berpuasa setiap hari”, dengan berpikir bahwa mereka tidak akan bisa melanjutkannya dimasa tuanya, bahwasannya mereka tidak akan bisa menunaikan hak-hak dari keluarganya. bahwasannya mereka bisa kehilangan kekuatan mereka, barangkali akan tiba tugas lain diluar ibadah personal yang akan diberikan kepada kalian seperti misalnya anda ditempatkan di medan perang.
Dan oleh karenanya Anda tidak bisa meneruskan sepanjang usia Anda. Seperti yang terjadi pada Abu Darda ra, Abdullah Ibn Amr bin Ash, dan Abdullah ibn Umar ra. Misalnya, ada sahabat yang berkata: “Saya akan berpuasa setiap hari.” Tetapi Rasulullah SAW bersabda: “kalau memang kamu ingin berpuasa, berpuasalah setiap hari senin dan kamis. Atau hari ke 13, 14, dan 15 dari setiap bulan.”
Ada yang mengatakan: “Saya bisa lebih dari itu.” Rasulullah SAW: “kalau begitu berpuasalah seperti puasanya Nabi Daud as diluar puasa Ramadhan. Dengan catatan bahwa mereka sebenarnyabtidak berniat untuk menyelisihi saran dari Rasulullah SAW. (bahkan mereka sebenarnya telah menerima saran dari Rasulullah, tetapi dengan niat ingin mendapatkan ganjaran yang lebih besar) mereka tetap melakukan sesuai harapan mereka.
Walaupun mereka tahu bahwa Rasulullah SAW telah memperingatkan dan mempermudahnya, mereka tetap menjalankan niat mereka. Padahal diantara mereka ada sosok seperti Abdulah ibn Amr bin Ash yang notabene putra dari Amr ibn Ash ra. Demikian agungnya sosok dari ayahnya, merupakan salah satu sosok yang paling rasional dan jenius dimasa itu. Kezahidan dan keabidannya tidak perlu dipertanyakan. Diakhir umurnya Abdullah ibn Amr bin Ash menyadari bahwa janjinya ini berlebihan dan menjadi jenuh dengannya.
Ketika kita melihat pada sosok Rasulullah SAW, beliau tidak tidur, shalat hingga bengkak kakinya, puasapun demikian. Lewat penyampaian dari Ummul Mukminun Aisyah ra makan dan minum beliau menyesuaikan puasa beliau. Hal ini dijelaskna dalam hadist-hadist shahib, terkadang 1 bulan lewat, 1 bulan lagi lewat, 1 bulan lagi lewat, selama 3 bulan tiga kalai melihat bulan penuh, dirumah kami tidak ada satupun yang dimasak walaupun air.
Keponkaan Rasulullah SAW, Urwah bin Zubair ibn Awwam ra, cucu dari bibinya Rasulullah SAW, sayyidina Urwah menyampaiakan bahwa dirinya banyak meriwayatkan hadist dari Ummul Mukminin Aisyah ra. Sayyidina Urwah meriwayatkan bahwa ia bertanya kepada bibinya: “Bibi, dengan apa Anda hidup sehari-hari, “bi aswadayin” yakni dengan dua hitam, al ma wa tamr” dengan air dan kurma. Sebagian orang ada yang mengatakan: “kita adalah ummatnya Rasulullah yang mengisi hidupnya dengan air dan kurma, oleh karenanya kita hidup seperti itu.” (kalau memang demikian kehidupanmu) semoga Allah SWT. memberkahi kehidupanmu. Semoga Allah SWT. membuka ufuk ini kepada semua manusia. Ya, shalatnya demikian, puasanya pun demikian.
Ketika terjadi peristiwa yang sangat sulit, misalnya di Perang Badar, pasukan musuh mengepung Rasulullah dan para sahabat. bahkan sampai mencapai tenda beliau SAW. Andai kata tidak ada sahabat yang melindungi beliau, musuh pasti akan melukai beliau. Dan itu pun terjadi, di Perang Uhud gigi Rasulullah SAW pun sampai tanggal, helmnya pecah belah dan melukai wajah mulianya.
Dalam keadaan yang penuh darah seperti itupun, beliau bersikap sesuai kedudukan kenabian beliau dan berdoa: “Ya Allah SWT, anugerahilah ummatku hidayahMu Sesungguhnya mereka tidak mengenalku .” Dalam munajatnya tersebut, Rasulullah SAW tidak merisaukan penderitaannya sendiri, seorang Nabi yang berada dalam kondisi disakiti oleh kaumnya, penuh darah yang mengalir diwajahnya, tetapi dengan ruh itsar yang agung beliau menengadahkan tangannya dan berdoa kepada Allah SWT: “ya Allah mereka tidak mengenalku. Jika seandainya mereka mengenalku, mereka pasti tidak akan melakukannya.
Ya dalam setiap medan berbahaya beliau SAW selalu berada diposisi terdepan. yakni jika Rasulullah SAW tidak berada dalam posisi antara hidup dan mati seperti tadi, maka ummatnya tidak akan memahaminya. Saya duduk dibelakang saja biar yang lainnya saja yang maju dan mati, kemudian berkata kepada orang tua dari jenazah para syahid ini:” betapa bahagianya kalian, lihatlah kalian memiliki banyak syahid”. Sekali-kali bukan demikian! Yang pertama kali akan mempraktikannya adalah Anda sendiri! Jika para komandan berada didepan pasukannya, maka bintang masa depan kita seolah bintang kutub, senantiasa menyinari sekitarnya, tidak pernah berpindah tempat, tidak pernah terbenam, dan bisa jadi bintang-bintang lainnya akan berotasi seakan bertawaf mengelilinginya.
Bintang masa depan kita pada masa dinasti umayyah demikian, tepatnya pada masa Umar bin Abdul Aziz. Demikian pula pada masa Abbasiyah, tepatnya pada masa kepemimpinan Hadi, Wahdi, Harun ar Rasyid dan Mu’tasum. Demukian pula pada masa Utsmani. Bayangkan, Osman Gazi tidak pernah turun dari kudanya dan didalam kemahnyalah ruhnya yang mulia kembali kepada Allah SWT.. Ketika datang dari Asia ke Asia kecil (Anatolia) bagaimana mereka berangkat dari kemah yang satu ke kemah yang lain. di Sogut (wilayah pertama dimana Usmani didirikan) dari kemahnya itu, ia mengisyaratkan penaklukan kota Bursa, meyakinkan para tentaranya. Oleh karena itu tamsil (keteladanan) sangat penting.
Berkhutbahlah kalian dengan kefasihan bahasa seperti Firdaus, atau kehalusan bahasa Jami, atau kedalaman penyampaian Maulana Jalaludin Rumi, itu semuanya tidak akan memberi pengaruh sekuat keteladanan. Demikianlah sosok Osman Gazi. Putranya Orhan Gazi yang melihat keteladanan ini apakah akan turun dari kudanya? Selanjutnya Balkanlah yang ditaklukkan dan Sulaimansyah kepadanya diberikan nama kakeknya, syahid disana. Putranya, Murat Hudavendigar terluka disana. Ketika ruhnya akan kembali ke rahmatullah, kata-kata yang keluar dari bibirnya kepada mereka yang ada disekatnya, juga kepada putranya Yildirim Han, “jangan turun dari kuda!”
Oleh karenanya dalam keteladanan mereka selalu yang terdepan. Ini artinya akan selalu seperti ini. Jika Saya tidak siap mati, Saya tidak bisa meyakinkan orang-orang dibelakang Saya. Kata-kata saja tidak cukup. Yakni, kata-kata Saya walaupun sastranya tinggi hanya akan jadi omong kosong. Dan Saya pun akan gagal dalam meyakinkan orang-orang dibelakang Saya.
Baginda Nabi adalah sosok teladan, demikian juga Abu Bakar, pun Umar dan Utsman serta Ali radhiyallahu an hum alfa marratin, semoga Allah SWT. ribuan kali meridhoi mereka semua. Semoga Allah SWT mendekatkan kita dengan mereka. jika demikian, kita mencium kaki mereka dengan wajah kita, dan jika kita berhasil mendapatkannya kita akan sangat senang.
Ketika Rasulullah SAW mengirim Muadz bin Jabal, artinya beliau benar-benar memilih sebuah karakter, sosok manusia, yang menghayati berkali lipat dari apa yang dikatakannya. Kita menyampaikannya dengan istilahnya Ziya Gokalp hidup dengan mukap (mengatakan satu tetapi menghayati tiga kali lipat).
Muadz bin Jabal pun ketika menasihati orang-orang disekitarnya untuk shalat lima waktu, dia sendiri melaksanakan shalat didua puluh waktu, pada saat itulah ia bisa jadi sosok yang meyakinkan.
Teman-teman Anda dalam kreiteria yang luas, selama kurang lebih 20 tahun berada diberbagai penjuru dunia, Saya tiSdak mau berbuat tidak pantas dengan membandingkan anda dengan para sahabat. Akan tetapi berapa persen yang telah mereka laksanakan, berapa persen yang telah mereka aplikasikan, dengan praktik yang sekedarnya itupun dengan izin dan inayahnya Allah SWT., demikian masuknya mereka ke hati masyarakatnya, sehingga didalam peristiwa yang campur aduk kepala didalam 2-3 tahun ini, mereka memanggil teman-teman kalian dan mengatakan : “jangan perhatikan apa yang mereka katakan, kami hanya tidak ingin merusak hubungan dengan mereka saja, lanjutkanlah pekerjaan kalian!”
Ketika fitnah tentang masalah ini semakin meluas dan makin diperbanyak, disisi lainnya mereka berkata: ” kalau Anda buka beberapa sekolah baru akan jadi lebih bagus.” Selain siswa-siswa yang belajar di sekolah kalian tidak pernah menyesal dengan pilihannya, teman-teman kalian pun tidak di tolak, dengan izin dan inayah Allah SWT. Berapa persen keteladanan ini dipraktikan oleh teman-teman kita, Saya tidak mau bersuudzan, semoga Allah SWT. menyempurnakan praktik keteladanan mereka. Keteladanan sangatlah penting, tak ada satu masalah yang tidak dapat diselesaikan dengan keteladanan.
2. Memancing Rasa Ingin Tahu
Topik ini sangat penting. Pesan yang akan anda sampaiakn harus memancing rasa ingin tahu orang-orang disekitar anda. Anda membahas tentang langit dan bumi, kemanapun anda pergi, anda akan membahas keberadaan sang pencipta. Anda dengan gagasan ini pergi ke para shintois, kepada kaum budhis, brahmanis, konfusius, Saya rasa didalm hati nurani mereka walaupun sebesar zarrah, mereka merasakan adanya sosok pencipta. Diantara kaum musyr’ik pun perasaan ini ada, memang mereka menyembah latta, manna, uzza, isaf dan nayla.
Akan tetapi ketika Al Quran bertanya tentang siapa pencipta langit dan bumi dengan seketika mereka menjawab : “Allah.” Ketika mereka menghadapi sesuatu yang tidak mampu mereka atasi dengan kekuatan mereka maupun berhala-berhala mereka, mereka berpaling kepada Allah SWT. Ini dikatakan sebagai Tauhid Rububiyyah sebagian dari orang-orang salafi dan barangkali ISIS juga melihatnya demikian. Yakni orang yang paling tidak beragama sekalipun juga mempercayai adanya sang pencipta. Jika demikian, dari titik yang beririsan inilah kita harus memulainya. Dari sisi ini, kita memulai dialognya dari sisi yang paling memancing rasa ingin tahu, kita menggugah rasa penasaran mereka.
“Maukah kalian kuberitahu tentang hal yang lebih baik dari apa yang selama ini kalian imani : Laa ilaha illallah.” Dalam hadistnya dikatakan: ketika Rasulullah SAW masih di Mekkah al Mukarramah, beliau bersabda : “Qulu laa ilaaha illallah tuflihu ( katakanlah laa ilaaha illallah dan dapatkanlah keselamatan)” ini terdapat dalam hadist shahih (karena hocaefendi pernah dikritik oleh beberapa orang ketika membahas hadis ini).
Sebenarnya didalam kalimat tersebut secara zimni (tersirat/tersembunyi) terdapat Muhammadar Rasulullah. Ada seseorang yang datang kepada Anda dan berkata: katakanlah Laa ilaaha illallaah dan raihlah kemenangan! lalu kita berpikir: ” bagaimana seseorang bisa berkata demikian, pasti dia mengatakan ini atas sebuah perintah”. ini artinya ia membawa pesan ini dari Allah SWT. berarti dia adalah utusan Allah SWT. Tapi perhatikanlah, dalam kata yang tersirat (zimni) ini terdapat sebuah keunikan. Kenapa? mereka berpendapat tentang Rasulullah bahwa beliau adalah yatimnya Abdul Mutholib, sosok yang besar dibawah bimbingan Abu Tholib. Oleh karena itu, jika beliau mengatakan: “Qulu laa ilaaha illallaah Muhammadur Rasulullah, tuflihu,” maka masyarakatnya akan mengatakan diawal: “Oh, orang ini ingin mengedepankan dirinya atas nama agama.” tetapi beliau memulai dengan sesuatu yang memang mereka sudah yakini. karena mereka pun percaya akan Tauhid Rububiyah (keberadaan Tuhan).
Sedangkan hal-hal yang berhubungan dengan ibadah akan mereka pelajari seiring berjalannya waktu. Oleh karena itu dikatakanlah; Qulu laa ilaaha illallaah tuflihu. Ya dengan penyampaian seperti ini, akan memancing rasa ingin tahu, kemudian ketika akan dikatakan tentang topik berikutnya, penyampaian awal tadi akan menjadi referensi bahwa ia adalah sosok yang bisa dipercaya.
Akan menjadi referensi kalimat berikutnya yaitu: “Muhammadur Rasulullah.” ia akan menjadi referensi ketika diperintahkan untuk tunduk kepada keagungan Allah SWT.. didunia ini ayo sedikit lapar, maksudnya ayo berpuasa, agar diakhirat nanti bisa menikmati berbagai macam kesenangan. Ayo sedikit lapar disini, untuk memahami keadaan laparnya orang fakir dan miskin. Ayolah lapar, untuk memahami makna nikmat yang dianugerahkan Allah SWT, ayo kita lapar, untuk bisa menyadari arti dari kelezatan segelas air dingin ketika waktu iftar tiba, ayolah kita lapar dan haus.
Misalnya mereka bisa saja menanyakan tentang sang pencipta yang pesannya kalian bawa. tetapi Saya tidak yakin apakah ketika itu Heraklius pernah menanyakannya. Ketika Rasulullah menyampaiakn pesan melalui Dihyatul Kalb, beliau menulis : Dari Muhammad Rasulullah SAW kepad penguasa Romawi. (Disini dapat kita lihat bahwa) Rasulullah ketika menulis surat, (kalimat yang disusunnya) bagaikan kunci emas yang menaklukkan hati (pembacanya). Disini Rasululkah mengatakan: ” Dari Rasul Allah SWT. kepada penguasa Romawi,” disini bukan ditulis, “kepada Heraklius ataupun panggilan lainnya. Karena penulisan yang demikian bisa direspon negatif. Ketika surat ini disampaikan, Abu Sufyan juga hadir disitu dengan tujuan berdagang.
Heraklius ketika membaca surat ini berkata: “panggil pedagang yang berasal dari Mekkah itu.” Ketika itu, Abu Sufyan belum memeluk Islam. Tetapi kurasa Abu Sufyan ketika itu lebih jujur dari sebagaian masyarakat muslim masa kini. padahal ketika itu dia masih menyembah berhala dan bermusuhan dengan Rasulullah tetapi kejujurannya diposisi itu adalah sesuatu yang luar biasa. Heraklius : ” ada surat seperti ini datang, bagaimana pendapat anda tentang sosok pengirimnya. Abu sufyan menjawab bahwa dia adalah sosok yang jujur dan benar, sosok yang bisa dipercaya, perbuatannya tidak ada yang bertentangan dengan apa yang dikatakannya. Heraklius berkata: “kalau apa yang anda katakan benar, maka tanah yang kuinjak ini pada suatu hari akan dikuasainya.” Seandainya heraklius-heraklius masa kini memiliki keinsafan (kejujuran) seperti itu juga.
Ya bisa dimisalkan, kalian sudah memancing rasa ingin tahu mereka. kalian menyebut beliau sebagai : “Baginda Rasulullah kita”, tanpa beliau kita tidak bisa membaca kitab alam semesta. Tanpanya kita tidak bisa memahami makna yang ingin dijelaskan oleh kitab ini. Tanpanya kita tidak bisa meresapi asma-asmaNya tanpanya kita tidak bisa menemukan sifat-sifat subhaniyahNya. Tanpanya kita tidak bisa merasakan keheranan akan dahsyatnya Sang Pencipta yang keagungannya tak mampu diraih oleh akal. “Apapun yang dimiliki dunia, itu disebabkan karenanya (Rasulullah); pribadi dan masyarakat berhutang kepadanya: bahkan semua umat manusia berhutang kepadanya.”
Tetapi kalian harus mengetahui dan menguasai apa yang akan kalian katakan, sehingga apa saja yang anda sampaikan selalu tepat dan memiliki landasan yang kuat. Apa yang kalian akan katakan dari sisi uslub (metode penyampaian) tidak boleh menimbulkan reaksi negatif. Saya akan mengulangi untuk menyampaiakn sebuah topik penting dengan kembali ke belakang: pesan Anda bisa jadi sangat berkah, suci, agung, itu adalah asas, dan merupakan hal penting yang berhubungan dengan ushul metodenya. Laa ilaaha illallah adalah sebuah asas, asas yang tidak boleh ditinggalkan, pun Muhammadur Radulullah adalah asas yang tidak boleh ditinggalkan.
Akan tetapi ketika kita menyampaikan asas-asas ini, satu saja kesalahan yang anda lakukan: misalnya bagaimana akan disampaikan, dengan kemasan seperti apa kita akan meletakkanya, bagaimana perasaan lawan bicaranya, yaitu empatinya, kita juga harus tahu. dan jika anda tidak melakukannya, maka artinya anda telah memusnahkan ushul (metode) atas nama uslub (kata-kata, mimik, bahasa tubuh, maksudnya cara penyampaian).
Malapetaka tidak akan bisa dihindarkan dan sekarang narkoba adalah bahaya yang amat serius. Ia menyiangi generasi baru sebagaimana menyiangi tunas yang masih muda, meratakannya dengan tanah, menjadikannya onggokan sampah. Demikian juga dengan alkohol. Pun hal-hal yang bertentangan dengan hukum lainnya. Serta pemenuhan syahwat tanpa kontrol. Jadi misalnya ketika ada anda mengatakan : “ayo kita mulai pembahasan nya dengan riba, menurutku, ketika itu anda sebenarnya tidak berhasil menangkap asas ‘memancing rasa ingin tahu’. Artinya anda gagal memancing rasa ingin tahu mereka. Anda akan langsung nenuai reaksi negatif dari sekitar anda. Pikirkanlah, bahwasannya setiap kata itu sangat berarti, sehingga dikatakan : “kalamu sayyidul basyar, sayyidul kalamul basyar.” Yang artinya: kata-kata dari sayyid (tuan) nya umat manusia adalah sayyidnya kata-kata.
Kata-kata yang Baginda Nabi sampaikan bagaikan mutiara, menaklukan hati para pendengarnya, menundukkan manusia yang mendengarnya. Namun riba dilarang setelah empat tahapan. Tepatnya di kutbah wada, kira-kira 20 tahun kemudian. Lewat empat tahapan, dengan jalan merehabilitasi berkali-kali umat manusia. Dengan memperlihatkan bahaya-bahayanya, dengan menyampaikan bahwa tanpanya pun hidup juga bisa bermanfaat.
Dalam empat tahapan alkohol dilarang. Ada banyak juga yang sudah menyadari bahayanya alkohol sedari awal, sehingga mereka pun tidak pernah meminumnya. Alkohol memiliki manfaat dan bahaya, tetapi bahayanya lebih besar. Apa saja misal manfaatnya? Anda bisa membuat semacam minuman seperti sirup dari buah anggur dan kurma, menjualnya dan anda pun bisa mendapatkan untung darinya. Barangkali, karena masih belum terjadi fermentasi, anda masih bisa meminum dan menjualnya. akan tetapi lewat penjelasan tersirat yang menakjubkan didalam Al Quran, mereka yang cerdas seperti Sayyidina Abu Bakar, Sayyidina Umar, dan sosok-sosok seperti mereka lainnya, penjelasan tersebut sudah cukup membuat mereka meninggalkan minuman tersebut. Hingga tiba waktu dimana larangan tersebut ditegaskan, peristiwa ini terjadi setelah Perang Badar. Bayangkanlah peristiwa ini terjadi setelah Perang Badar tepatnya ditahun kedua hijriyah. Rinciannya, 13 tahun periode Mekkah, 2 tahun periode Madinah. Artinya alkohol dengan tegas dilarang setelah 15 tahun kemudian.
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.”
Kalau uslubnya demikian, maka ketika kita menghadapi manusia yang sudah terbiasa dalam kerusakan yang tidak terlalu memperdulikan bahaya dari kesesatan, ketika kita menyampaiakn sesuatu yang mungkin tidak terlalu mereka perhatikan, maka kita akan menuai reaksi negatif. Oleh karena itu, kita harus jeli dalam menentukan titik dimana kita akan memulainya.
Pikirkan bagaimana Bediuzzaman ketika memulai pekerjaan ini. Beliau lebih menitikberatkan usahanya pada topik-topik seputar iman kepada Allah SWT, ketaatan beribadah dan shalat. karena Rasulullah SAW juga memulai usaha denga wahyu pertamanya : ” اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِى خَلَقَ”. perhatiaknlah betapa lembut kalimat ini dikatakan: bacalah! Kalimat ini menjelaskan tajalli (penampakan) dari Dzat yang menciptakan, mendidik dirimu, yang menjadi sebab dari tumbuh kembangnya seorang hamba. اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ, artinya murabbik.
Dikatakan bacalah dengan nama Rabb-mu yang membimbingmu. Tidak akan ada yang menunjukkan reaksi negatif atas penjelasan ini. Dari sini jawaban yang akan anda berikan setalah anda berhasil memancing rasa ingin tahu, haruslah jawaban yang bisa diterima oleh mereka, yang tidak menimbulkan reaksi negatif yang sesuai dengan uslub kita. Karena sudah berulang-kali diulangi, penjelasan tentang topik ini aya serahkan kepada anda. Jadi ini adalah topik yang juga sangat penting.
Kita lihat, Rasulullah SAW tidak mengirimkan Abu Dzar al Ghifari kesana. Padahal ia adalah sosok ahli ibadah yang paripurna. Dia adalah sosok yang berasal dari suku Ghifar. Dimasa awal periode Mekkah, ketika pertama kali melihat sosok Baginda Nabi SAW, ia pingsan seketika. Dalam kondisi tersebut, ia berlari kehadapan kabah dan berteriak. Teriakannya ini dianggap sebuah protes. Ia pun babak belur dihajar kaum kafir di Mekkah. Sebenarnya tidak pantas dikatakan babak belur dihajar, tidak sopan kepada sayyidina Abu Dzar, jika kita mengatakannya, ini seperti membenarkan tindakan menghajar tersebut, tapi sungguh mereka telah menghajarnya. Padahal sosok ini adalah tokoh disuku Ghifari. Kejadian ini terjadi berkali-kali. Tetapi dia tetap berkata: “Saya tidak bisa diam, Saya harus meneriakkan kebenaran ini! biarlah Allah SWT. menjadi saksi! Anda adalah utusan Allah SWT! Saya akan meneriakkannya!
Kemudian Nabi bersabda kepadanya: “sekarang pulanglah kamu ke suku Ghifari, lalu ketika kamu mendengar kabar kami telah hijrah ke Madinah datanglah kembali.” Perhatikan! Sosok ini adalah sosok yang sangat salih, penjunjung kebenaran, siap berkorban, akan tetapi Rasulullah SAW tidak mengirimkannya sebagai utusan, atau mubaligh ataupun mursyid. Justru yang dikirim adalah Muadz bin Jabal. “janganlah sembarang menyerahkan dirimu ke sembarang mursyid. Serahkanlah dirimu kepada mursyid kamil yang jalannya paling mudah.”
Ya, selain harus mampu memancing rasa ingin tahu, di waktu yang sama harus mampu juga menjawab rasa ingin tahu. Muaz bin jabal menjelaskan Rasulullah SAW sebagai sosok yang bertangan dingin, sosok hamba yang agung, yang tumbuh dalam keyatimannya, Allah SWT. mengambil semua sandaran yang dimilikinya. Allah SWT. benar-benar membungkam semua sebab. Diawali dengan diambilnya ayahnya. lalu ibunya, lalu kakek yang melindunginya, lalu pamannya, yang akan menyebabkan beliau hijrah ke Madinah. Allah SWT. mengambil semua tongkat sandaranya. Akan tetapi beliau tidak pernah goyah. Selalu tegak berdiri tidak ada satupun angin topan yang mampu menggoyahkannya. Beliau adalah sosok yang demikian, jelas sayyidina Muadz bin Jabal. Beliau SAW tidak pernah memikirkan keuntungan duniawi dari semua khidmah yang ditunaikannya walaupun sekedar ujung kuku jari. Beliau Saw menjaga idealisme dari awal sampai akhir penunaian tugasnya.
Memancing rasa ingintahu, lalu penguasaan akan apa yang disampaikan kepada masyarakat dan ia harus disampaikan sesuai denga uslub (tata caranya). Jika tidak, hafizanallah (semoga Allah SWT. menjaga kita) seperti yang telah disampaikan dalam berbagai kesempatan, jangan sampai hidangan pencuci mulut disuguhkan diawal jamuan karena jika tidak, anda akan mengacaukan urutannya. Dan bisa jadi, sebagaian besar dari kita, para ustadz yang memberikan ceramah-ceramah, khususnya penceramah yang tidak tahu diri seperti Saya, seringkali membuat kesalahan dalam memilih uslub (tata cara) dalam berdakwah yang menjadikannya dasar utama dari menjauhnya masyarakat dari masjid.
Seperti yang dikatakan ulama-ulama sepuh kita, kamu pembunuh dari beberapa orang? ini maksudnya berapa orang yang karena kesalahan dalam penyampaian ceramahmu, malahan menjauh dari agama, dan membawa dirinya ke kubangan. Ya harus menguasai ilmu untuk bisa menjawab rasa ingin tahu tersebut kemudian perhatian terhadap uslub yang diambil. Lalu keruntutan dalam penyampaian (selangkah demi selangkah). Uslub melengkapi keruntutan. Yakni dari mana akan dimulai tidak bisa semuanya disampaikan dalam satu waktu. Misalnya al-Quran diturunkan selama 23 tahun. Al Quran tidak diturunkan sekaligus dalam bentuk sebuah kitab. Lalu diserahkan kepada Baginda Nabi SAW kemudian beliau pun menerimanya.
Beliau kemudian juga tidak mengatakan : ambil ini, tulis, dan bagi-bagikan biar dibaca dan menjadi insaf. Al Quran diturunkan berangsur-angsur (sesuai runtutan kebutuhannya) selama 23 tahun, sembari merehabilitasi masyarakat, dengan wasilah berbagai peristiwa, yang kita sebut sebagai asbabun nuzul.
Seperti sebuah proyektor, ia menerangi apa makna wahyu yang turun lewat semua peristiwa yang berhubungan dengannya. Sehingga membuatnya dipahami dengan benar. Keruntutan menjadi pengantar dan sebab yang penting dan kini Anda menanyakan tentang penerapan poin-poin tersebut dimasa kini.
Walaupun usaha Saya dalam menjelaskannya masih belepotan menurut Saya sepertinya asas-asas ini tidak berubah dengan kebutuhan masa kini. Mursyid-mursyid dizaman ini pun ketika pergi ke seluruh penjuru dunia, ketika berusaha menggaet orang-orang disekitarnya, dengan istilah bahasa turkinya dimulai dari tetangga disekitarnya. Mereka mengunjungi para tetangga. Lalu mereka juga menciptakan kondisi agar para tetangga juga membuat kunjungan balasan. Menyuguhkan jamuan kepada para tetangga mereka, menciptakan kondisi agar para tetangga juga berkenan menyuguhkan jamuan balasan dengan memanfaatkan beragam wasilah. Dengan membangun jembatan komunikasi dengan istilah eropanya: membangun jembatan dialog; Anda akan berusaha untuk masuk ke hati mereka. Anda akan berusaha menuangkan ilham dari maknawiyah Anda ke dalam hati sanubari mereka. Anda akan menggaet mereka seperti halnya yang telah Anda lakukan dinegara Anda, Anda akan melanjutkannya dinegara-negara lainnya diseluruh dunia.
Dengan memperhatikan kondisi umum masyarakat lokal, yakni dengan membaca secara benar karakter masyarakatnya; dengan membaca secara benar nilai kultur serts lingkungan budaya mereka, dengan memperhatikan hal apa saja yang dapat mempengaruhi mereka menentukan dari titik mana Anda akan memulainya. Berdasarkan titik mulai tersebut Anda mulai menyampaikan pesan Anda dengan runtut, perlahan-lahan, terkadang Anda mungkin akan menghadapi perlawanan. Tanpa menyerah, tanpa putus asa, dengan mengamanahkan usaha ini pada prinsip keruntutan dengan mengatakan: “barangkali waktu matangnya belum tiba, waktu penerimaannya belum datang, karena semua ini ada ditangan Allah SWT.
Karena jikalau demikian, Rasulullah SAW pun jika menginginkan sesuatu, pasti semuanya akan terwujud. Tetapi ternyata tidak demikian. Sosok agung ini diwaktu yang sama juga menampilkan keteladanan yang sangat penting. Allah SWT. karena yang berlaku kepada Baginda Nabi SAW demikian, kemudian seakan berfirman kepada kita: “perhatikanlah! sosok manusia yang paling Aku cintai, barangsiapa yang melihat wajah Rasulullah langsung mengingat Allah SWT.” Sosok yang agung seperti ini pun, Rasulullah SAW menunaikan pesan ini selama 23 tahun, beliau menghabiskan waktunya untuk meyakinkan umat manusia dengan pesan-pesannya dan potret ini adalah contoh keteladanan.
“لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ” Rasulullah adalah uswatun hasanah buat kalian semua. sebagaimana sang uswatun hasanah melakukannya, begitu juga Anda akan melakukannya. Jalan (yang benar) adalah jalannya. metode yang benar adalah metodenya. selain daripadanya hanyalah kesia-siaan.
Semoga Allah SWT menyelamatkan kita dari mengejar hal yang sia-sia.
Wassalam.