casey-horner-432428-unsplash

Al Qulubud Daria (Kalbu yang Merintih)

“Al Qulubud Daria (Kalbu yang Merintih)”

Tanya: Dalam rangka belajar adab memohon dan berdoa kepada Allah serta untuk senantiasa berada dalam keadaan bertawajuh kepadaNya, buku kumpulan doa yang bernama Al Qulubud Daria terlihat amat penting peranannya dimana ia berhasil mengisi kekosongan itu. Akan tetapi, walaupun kita bisa membaca huruf-huruf Al Quran, kita masih belum mampu memahami makna sebagian besar wirid dan zikir yang terdapat di buku tersebut. Terkait hal ini, apa nasihat Anda untuk kami?

Jawab: Al Qulubud Daria bermakna kalbu penuh linangan air mata yang mengetuk pintu Allah, dimana pintuNya adalah satu-satunya tempat untuk berlindung; kalbu yang bersedekap, menunduk, membungkuk di pinggir pintuNya, yang mengemis dan memohon kepadaNya; kalbu yang membuka isi di dalamnya; kalbu yang mencurahkan satu per satu segala masalah yang membebaninya; serta kalbu yang merintih karena terbakar dan dibakar. Untuk merangkum semua makna ini barangkali dapat digunakan istilah “Kalbu yang Meratap”. Buku ini dirangkum dari kitab doa sebanyak tiga jilid yang bernama Majmuatul Ahzab karya Gumushanevi Ahmed Ziyauddin Efendi yang diklasifikasi ulang.

Sayyidina Gumushanevi dan Majmuatul Ahzab

Almarhum Ahmed Ziyauddin Efendi adalah ulama di periode akhir Usmani. Beliau lahir pada tahun 1813 di Desa Emirler, Kecamatan Gumushane. Beliau tidak hanya sibuk dengan ilmu-ilmu zahir. Di waktu yang sama, beliau juga menuntut ilmu-ilmu batin dan berhasil meraih ijazah di dua bidang tersebut. Sayyidina Gumushanevi merupakan salah satu Syeikh dari Tarikat Naqsyabandiyah Khalidiyah, beliau mendedikasikan hidupnya untuk ilmu dan irsyad. Pada tahu 1893 beliau kembali ke rahmatullah di Kota Istanbul dengan meninggalkan puluhan karya.

Salah satu karya beliau yang paling dikenang adalah Majmuatul Ahzab, sebuah karya setebal kurang lebih dua ribu halaman. Sayyidina Gumushanevi menyiapkan karyanya ini bersama murid-muridnya dengan perhatian yang amat besar. Berkat kerja kerasnya, ia berhasil mengumpulkan ratusan wirid dan zikir yang diamalkan oleh puluhan kekasih dan wali-wali Allah. Dalam kitabnya tersebut, dijelaskan nama hizib[1], penulisnya, kapan dan bagaimana ia dibaca. Misalnya, terdapat istigfar pekanan yang biasa dibaca oleh Imam Hasan Basri, dimana istigfar tersebut dibaca harian dimulai dari hari jumat. Selain itu, di kitab tersebut juga terdapat bagian hizib, wirid, zikir malam, doa, istigfar, istiazah, tasbih, tahlil, salawat, dan qasidah bertajuk ‘usbuiyah/pekanan’ yang dibaca oleh para sultan alam maknawi seperti Sayyidina Ali karamallahu wajhah, Usamah r.a., Muhyiddin Ibnu Arabi, Abu Hasan Syazili, serta Imam Jafar as Sadiq dimana di dalamnya terdapat doa yang dibaca setiap hari selama seminggu.

Majmuatul Ahzab adalah kitab doa yang tak pernah lepas dari tangan Bediuzzaman Said Nursi. Demikian dekatnya beliau dengan kitab ini, karya bernilai tinggi yang tebalnya kurang lebih tiga kali mushaf ini diselesaikan setiap lima belas hari sekali. Aku juga beberapa kali mendengar penjelasan mengenai pentingnya membaca majmuatul ahzab dimana ia menjadi salah satu rukun dalam Profesi Nur. Ini artinya, Sang Penulis Nur, menyisihkan waktunya kurang lebih sebanyak 5-6 jam setiap hari untuk menyelesaikan pembacaan kumpulan ini dan demikianlah beliau menyibukkan dirinya dengan wirid dan zikir.

Di sini aku ingin menyampaikan sebuah kenangan yang mungkin keluar dari topik pembahasan kita: Ada salah satu tokoh alim agung yang juga ahli kalbu yang sangat kagum pada bagaimana uslub Ustaz memahami, menjelaskan, menguraikan, dan menyebarkan hakikat-hakikat iman. Ia menyampaikan bahwasanya risalah nur penulisannya amatlah sulit, merupakan karya-karya yang sangat berharga, dimana karya tersebut tak mungkin bisa ditulis hanya dengan membayangkannya saja. Ia juga menjelaskan bahwasanya karya tersebut hanya dapat digandakan dan disebarkan jika ia bersandar pada sumber yang amat kuat. Dalam setiap kesempatan yang didapatnya, ia selalu menyampaikan penghormatannya kepada Sang Penulis Nur serta kepada setiap pengabdian iman. Kemudian ada satu orang yang menunjukkan kitab Majmuatul Ahzab kepada alim tersebut serta menyampaikan bahwasanya Ustaz tak pernah lepas darinya. Sang alim kemudian berkata: “Kini aku tahu apa sumber kuat tersebut. Berarti Bediuzzaman memiliki hubungan yang amat serius dengan Rabbnya. Hubungan Ustaz dengan Allah SWT amatlah kuat. Oleh karena Ustaz tidak pernah mengendurkan tawajuhnya kepada Allah serta tidak pernah lalai dalam menjaga hubungan dengan Rabbnya, maka Allah SWT senantiasa mengokohkan kedudukannya serta menganugerahinya berbagai ihsan ilahi. “

Ya, dari manapun Anda melihat Ustaz, Anda akan menyaksikannya sebagai suatu prasasti yang sempurna. Ia tidak berkata:”Aku mengabdi kepada iman, tak apa aku ada cela dalam wirid dan zikirku!” atau “Aku mendedikasikan diriku kepada zikir dan tafakur, tak apa aku agak tertinggal di bidang meninggikan kalimat Allah!” ataupun “Aku akan mengerjakan pekerjaan ini dengan sempurna, tak apa aku agak kendor di bidang itu!”. Beliau hidup sebagai manusia yang seimbang. Beliau menganut prinsip seimbang di semua lini. Maka beliau pun mempraktikkan pembagian waktu dan pemanfaatan umur kehidupan dengan baik. Beliau tidak pernah berlaku sia-sia, tak ada waktu kehidupannya yang kosong. Beliau senantiasa memenuhi waktu dan umur kehidupannya sehingga tidak ada yang kosong. Untuk itu, tidak ada satupun tugas yang berkaitan dengan penghambaan yang diabaikan. Beliau tidak pernah menunda untuk membaca wirid dan zikir hariannya. Sebagaimana beliau menuntaskan pembacaan kitab Majmuatul Ahzab, beberapa bagian doa dari kitab tersebut semisal Jausyan, Wirid Naqsyabandi, Dalailun Nur, Sakinah, Munajat Uways al Qarani, Doa Ismu Azam, Munajat al Quran, Tahmidiyah, serta Khulasatul Khulasah dikumpulkannya menjadi sebuah hizib. Beliau berharap agar mereka yang tidak mampu membaca kitab doa ini dari awal hingga akhir setidaknya dapat mengamalkan hizib ini. Mereka yang mencintai dan mengamalkan nasihat-nasihatnya dari masa itu hingga masa ini pun  senantiasa mengamalkan hizib ini, sekarang pun demikian, di masa yang akan datang pun mereka tetap harus kontinyu dalam mengamalkannya.

Karena wirid dan zikir merupakan nutrisi terpenting bagi kaum mukminin yang bermujahadah di jalan ilayi kalimatullah (usaha untuk meninggikan kalimat Allah). Wirid dan zikir adalah tanda serta isyarat dari kedekatan hubungan seorang hamba dengan Allah SWT. Seorang manusia yang meyakini kekuatan Allah, meyakini bahwasanya Allah mahakuasa atas segala sesuatu, dan meyakini segala kehendakNya, maka sebagai konsekuensi dari keyakinannya tersebut ia harus senantiasa bertawajuh kepadaNya. Dalam rangka memenuhi segala kebutuhan dan keinginannya, hendaknya ia senantiasa hanya memohon kepadaNya. Seseorang yang berdoa, jika ia mampu mengarahkan segenap sendi dalam kalbunya untuk memohon dan mengemis kepada Allah SWT, maka ia akan melewati jarak yang bersumber dari badan dan jasmaninya. Ia akan meraih kedekatan istimewa dimana tidak ada suatu apapun yang lebih dekat kepada dirinya selain Allah SWT. Allah SWT pun akan memperdengarkan kepadanya segala sesuatu yang layak untuk didengarnya, menunjukkan segala sesuatu yang patut untuk dilihatnya, membimbing lidahnya untuk mengucapkan kata-kata yang pantas untuk diucapkan olehnya, serta mengarahkannya untuk beramal sesuai dengan yang diharapkan darinya.

Diterjemahkan dari artikel: “el kulubud daria yakaran gonuller” 

Website: http://www.herkul.org/kirik-testi/el-kulubud-daria-yakaran-gonuller/ 

[1] Hizib adalah kumpulan bacaan atau doa yang diambil dari al-Qur’an dan hadits yang disusun para wali atau ulama dan diamalkan dengan cara tertentu, dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

popularity

Prinsip ke-5: Tidak Mencari dan Menginginkan Popularitas

“Prinsip ke-5: Tidak Mencari dan Menginginkan Popularitas”

Said Baru sebagaimana Said Lama, betul-betul menolak, tidak pernah dan tidak akan pernah mau menerima penghormatan kepada dirinya; tidak akan pernah mau mencari perhatian kepada dirinya, serta tidak akan pernah mau mencari popularitas dan kemuliaan.

Lampiran Emirdag, 1/117

Penjelasan

Bagian ini diambil dari salah satu bab pada buku Lampiran Emirdag dan buku Tarihce Hayati di bagian Kehidupan di Emirdag, tepatnya di artikel yang berjudul “Tiba-tiba diperingatkan; Aku pun terpaksa menulis”.

Lewat topeng komite rahasia yang dipegang oleh pihak asing dimana benang-benangnya terhubung pada orang-orang tak beragama, untuk meruntuhkan pengaruh pengabdian kepada iman dan Al Quran, mereka secara terang-terangan menghina dan mencaci-maki Ustaz guna menghapuskan atensi dan perhatian masyarakat kepada pengabdiannya. Ustaz pun menyatakan bahwasanya dirinya memang tidak menginginkan atensi dan perhatian tersebut. Ustaz memberi tahu bahwasanya pengabdiannya ini merupakan pelindung dari usaha-usaha anarkis dari pihak luar yang berusaha masuk ke tanah airnya. Ustaz memberi tahu bahwa pengabdiannya ini merupakan titik pondasi terbesar dari rasa cinta kepada tanah air, serta bahwasanya ia berusaha mencetak rasa cinta kepada dunia Islam yang memiliki penduduk jutaan jiwa di tanah airnya.

Diterjemahkan dari buku Seputar Panduan Berkhidmah, oleh Bediuzzaman Said Nursi.

Pemilihan artikel dan penjelasan oleh Abdullah Aymaz.

Sumber: Aymaz, Abdullah, 2010, Hizmet Rehberi Uzerine, Istanbul: Sahdamar Yayinlari, hlm. 12

jesse-roberts-146556-unsplash

Rumah Cahaya dari Masa ke Masa

Rumah Cahaya dari Masa ke Masa

(Diterjemahkan dari Prizma 2 artikel berjudul Dünden Bugüne İbn Ebi’l-Erkam Evleri)

Tanya: Apa esensi dari Rumah Cahaya dan apa saja yang bisa diuraikan terkait dengan misi yang diembannya?

Jawab: Topik dan gagasan yang paling sering saya sampaikan dan paling jelas saya kemukakan hingga saat ini salah satunya adalah rumah cahaya. Tidak mungkin saya bisa mengingat keseluruhan penjelasan saya di masa lalu untuk kemudian mengulangi menjelaskannya kembali secara sistematik saat ini. Akan tetapi, karena kembali ditanyakan, saya akan berusaha menjelaskannya kembali sesuai dengan apa yang terlintas dalam pikiran saya, mohon maklum jika tidak tertib.

Benih mungil yang di lempar di padang ketiadaan

Semua institusi yang kita kelola pada hari ini, dapat diibaratkan seperti pohon besar yang tumbuh dari sebuah benih mungil yang dilempar di atas padang ketiadaan.

Ya, di masa dimana sebuah lilin dinyalakan di tengah kegelapan yang semakin pekat melingkupi – perlahan ia menyirnakan kegelapan pekat tersebut; ruang mungil yang dibangun, pelan-pelan  ia menjadi sebuah  rumah cahaya, lalu menjadi kompleks perumahan yang lebih besar; persis seperti karakter fitri sebuah sperma yang mengandung cahaya dari Baginda Nabi Shallallahu  Alayhi Wasallam sebagai sebab pertama dari penciptaan dasar langit dan bumi, ia pun lewat perwalian Nuru Adzam  melakukan hal yang kurang lebih sama.

Rasulullah membangunnya dari sebuah rumah

Jika kita melihat bagaimana Rasulullah SAW memulai usaha ini, beliau juga memulainya dari rumah-rumah ini. Ya, ketika Rasulullah SAW memulainya dengan sebuah rumah, maka bumi berubah menjadi masjid, dimana Mekkah menjadi mihrabnya, Madinah menjadi mimbarnya. Semua manusia di seluruh penjuru dunia, dari yang berumur tujuh hingga tujuh puluh tahun, dari laki-laki hingga perempuan, satu per satu menjadi santri yang juga jamaah dari masjid ini serta membenarkan pesan dari madrasah irsyad dan tablig ini. Yaitu usaha dakwah dan mematangkan jiwa manusia.

Para Pembaharu di setiap masa mengikuti jejak langkah Rasulullah

Di masa-masa setelah Rasulullah SAW berpulang ke rahmatullah, metode ini tetap diikuti. Misalnya, di masa dimana Bani Umayyah perlahan mengalami kemunduran, Sayyidina Umar bin Abdul Aziz r.a. bersama 3-5 orang di sekitarnya memulai usaha perbaikan dengan sejumput orang ini. Beliau memulainya dan dalam waktu yang amat singkat, yaitu dalam dua setengah tahun, beliau telah mencapai prestasi yang bahkan tidak akan mampu disamai oleh mereka yang bekerja selama seratus tahun. Beliau membangun usaha agungnya tersebut dari tempat yang kecil dengan dukungan sejumput orang-orang di sekitarnya saja. Kemunduran yang dimaksud disini adalah kemunduran di bidang keinsafan beragama.

Imam Ghazali juga mengikuti jalan yang sama. Ya, beliau juga bersama beberapa orang dari masyarakat yang dipanggilnya, menjelaskan falsafah khidmah kepada para manusia; beliau menunjukkan jalan ‘ihya’ ilmu-ilmu agama  dan ketika beliau mengerahkan penanya untuk menulis  ‘al Munqidhu minad Dhalal’ sebagai usaha dengan tujuan menghidupkan ilmu-ilmu agama tadi; Di sisi yang lain, dengan kitabnya yang berjudul ‘Ihya Ulumuddin’ beliau membakar suluh kebangkitan kehidupan Islami di kalbu kaum mukminin.

Sebenarnya, mulai dari masa dimana cahaya awal itu berpendar hingga masanya Imam Rabbani; dari masa beliau hingga ke masanya Sang Penderita Agung di masa kita ini, Bediuzzaman Said Nursi; Mereka yang berperan sebagai mursyid kepada umatnya Nabi Muhammad SAW di berbagai masa, sosok-sosok agung tersebut senantiasa mengikuti jalan yang sama.

Ya, alam semesta yang luar biasa ini; Sebagaimana sistem tata surya dan galaksi disusun oleh beragam atom berukuran mini. Demikian juga sebuah dakwah agung, ia dibangun dari usaha-usaha kecil tadi yang menggemakan[1] (pesan dakwahnya) ke setiap kalbu. (Atom-atom mini penyusun alam semesta tadi) Menjadi buku yang penuh makna, (ia) berisi berbagai macam galeri[2] (seni yang agung).

Isyarat halus dari Al Quran

Ketika pembahasannya sampai di masa kita ini; Cahaya yang terdapat di Surat An Nuur ~ yang berarti Cahaya;

ف۪ي بُيُوتٍ اَذِنَ اللّٰهُ اَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ ف۪يهَا اسْمُهُۙ يُسَبِّحُ لَهُ ف۪يهَا بِالْغُدُوِّ وَالْاٰصَالِۙ ﴿٣٦﴾

Artinya: di rumah-rumah yang diberi izin oleh Allah buat ditinggikan dan disebut namaNya. Yaitu rumah-rumah yang disucikan namaNya di dalamnya, baik pagi atau petang (QS Nur:36).

 Menurut saya, rumah-rumah cahaya ini memiliki korelasi dekat dengan ayat ini; rumah-rumah cahaya ini menunaikan tugas seperti menara masjid yang sekali lagi memperdengarkan apa makna dari potret seorang muslim.

Bukankah sosok yang berada di garda terdepan dalam pekerjaan ini ketika memperkenalkan dirinya berkata: ”Saya berada di ujung menara abad ke-13 H. Saya mengundang mereka yang secara tersurat seperti orang berpendidikan, tetapi secara tersirat adalah orang terbelakang untuk datang ke masjid.”

Sebenarnya ketika beliau menyampaikan hal tersebut, bukan berarti beliau benar-benar berdiri di atas menara lalu menutup telinganya (seperti bilal yang akan mengumandangkan azan) dengan jemarinya untuk berteriak. Akan tetapi, beliau, dengan menaranya di Barla, menara yang memanggul peran mulia – Pada hari ini pun ia masih tetap berdiri kokoh dengan segala wibawanya di sisi pohon Platanus orientalis – dari tempatnya beristirahat itu, beliau berusaha untuk memperdengarkan suaranya kepada umat manusia.

Tempatnya beristirahat tersebut, – menurutku – Darul Arqam, lalu kediaman mulianya Baginda Nabi SAW, rumah Imam Ghazali, rumah Imam Rabbani, dan rumah-rumah lainnya yang digunakan untuk tujuan yang sama, merupakan sebuah menara agung yang menjelaskan makna kecemerlangan dengan segala sisinya sebagaimana dijelaskan QS An Nur: 36  Yaitu di rumah-rumah yang diberi izin oleh Allah buat ditinggikan dan disebut namaNya. Yaitu rumah-rumah yang disucikan namaNya di dalamnya, baik pagi atau petang.

Karakteristik Rumah Cahaya

Rumah Cahaya ini memiliki karakteristik yang khas. Di sanalah tempat dimana kekosongan jiwa yang bisa muncul karena sisi manusiawi mereka diisi. Ia adalah tempat suci, dimana rencana dan proyek (kemanusiaan) diciptakan; tempat dimana tegangan metafisik terus-menerus dialirkan; tempat  matangnya sosok-sosok beriman sekuat baja, berjiwa kokoh,  dimana Ustadz menjelaskan mereka yang matang tersebut dengan kalimat:  ‘mereka yang berhasil merengkuh iman yang hakiki, akan sanggup membaca semua kebutuhan dunia.’

Dan memang sekarang, penaklukkan dunia tak lagi dilakukan dengan berkuda seperti halnya berlaku di masa lalu; tak juga dengan pedang di tangan, belati di pinggang, ataupun busur panah di punggung; Sudah jelas bahwa di masa kini kalbu-kalbu manusia hanya bisa dimasuki dengan Al Quran di tangan kanan, dan logika di  tangan kiri.

Demikianlah pemuda makna dan ruh matang di rumah cahaya. Merekalah yang akan  memakmurkan jiwa-jiwa yang kosong dengan cahaya yang dianugerahkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala  kepadanya, di atas jalan menuju pembebasan di dalam makna dan di dalam jiwa. Jika demikian, rumah-rumah ini merupakan sebuah madrasah atau meja kerja, dimana generasi  yang latah dengan godaan dunia yang memikat dan anak-anak yang kehilangan arah kemudian dimakmurkan dan dikembalikan ke akar makna dan jiwanya

Khususnya di masa dimana madrasah dan majelis zikir dilarang, apa yang diharapkan dari rumah-rumah tersebut adalah ditunaikannya misi mulia tersebut, yaitu untuk mengisi peran madrasah dan majelis zikir. Rumah-rumah ini mengajarkan ilmu agama dan ilmu pengetahuan positif kepada para penghuninya; Ini artinya, selain menjalankan tugas sebagai majelis zikir dan majelis taklim, ia juga menjalankan tugas sebagai madrasah.

Sebenarnya ayat Al Quran mengisyaratkan semua ini:  Penggunaan kata بُيُوتٍ ‘Büyutün’ secara nakiroh (tidak spesifik), mengindikasikan bahwa kata ini dipakai untuk menjelaskan bahwa kata yang dimaksud adalah ‘sesuatu’ selain masjid. Yaitu, ia bukanlah musholla dan masjid dimana azan dikumandangkan lewat menara-menaranya sebagaimana yang kita ketahui; Ia adalah tempat yang tidak spesifik.

Rumah-rumah ini pun seiring berjalannya waktu juga tidak memiliki spesifikasi tertentu. Rumah-rumah ini tidak memiliki spesifikasi yang jelas, karena mereka yang keluar-masuk ke dalamnya senantiasa diawasi.

Walaupun demikian, ada satu yang spesifik dan jelas darinya, yaitu di masa dimana kesulitan menghimpit, rumah demi rumah yang dibuka telah berhasil mendapatkan kemuliaan dan anugerah di masa-masa sulit itu. Tanpa terpaku pada masalah yang sederhana dan sementara, pada masa dimana kumandang azan di menara-menara dan aktivitas mulia lainnya dibungkam, rumah mulia ini menjadi terpuji lewat izin tersirat Allah SWT:”Untuk saat ini biarlah NamaKu dipuji dan digaungkan di rumah-rumah ini”; ia adalah tempat luar biasa, dimana buku-buku dibaca dan kebenaran dikaji.  Setelah ini, kajian-kajian  tentang ruh beragama yang tadinya dilakukan di masjid, ia akan dilakukan di rumah-rumah ini. Dengan pertimbangan ini, rumah-rumah ini adalah tempat yang berkah, yang disebut sebagai “penerjemah wilayah hakikat yang agung”.

Karakteristik Pemuda yang Tinggal di Rumah Cahaya

Keadaan rumah-rumah ini senantiasa cocok dengan apa yang digambarkan Sayyidina Abu Bakar r.a.: “Ketika kita masuk rumah, kita tidak yakin apa masih bisa keluar.  Demikian juga saat kita keluar rumah, kita  tidak yakin apakah masih bisa masuk rumah lagi.“

Ya, adalah sebuah kemungkinan yang sangat terbuka bagi kita untuk ditangkap saat kita menuntut ilmu di dalam rumah; Demikian juga saat kita keluar rumah, juga sangat mungkin penghuni rumah-rumah ini untuk diculik oleh mobil tak dikenal.  Oleh karena itu, Kita harus selalu berlindung kepada Allah SWT dengan berdoa: ”Tidak ada sekutu bagiMu, segala sesuatu ada dalam genggamanMu. Jika Engkau tidak mengizinkan, tidak ada satu keburukan pun yang dapat mencelakakan kami.“ Dengan doa tersebut, kita menyerahkan keamanan rumah ini dan penghuninya kepada penjagaannya Allah SWT.

Menyingkirkan semua ‘sekutu’, sepenuhnya berserah diri dan bertawakkal kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, atau dalam istilah lainnya, duduk dan bangkit ‘bersama’ Allah Subhanahu wa ta’ala, adalah tabiat dari para penghuni rumah-rumah ini

Peran Wanita di Rumah Cahaya

Di sisi lain, ayatul karim ini menggambarkan bagaimana dakwah ini berjalan di masa-masa awalnya, dimana ketika itu hanya sedikit dari kaum wanita yang mengambil peran, atau dengan kaidah taglib[3] dalam bahasa Arab.

رِجَالٌۙ لَا تُلْه۪يهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ وَاِقَامِ الصَّلٰوةِ وَا۪يتَٓاءِ الزَّكٰوةِۙ يَخَافُونَ يَوْماً تَتَقَلَّبُ ف۪يهِ الْقُلُوبُ وَالْاَبْصَارُۙ ﴿٣٧﴾

QS Nur: 37 “Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan  dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu)…” dimana dalam ayat ini seakan-akan hanya kaum lelaki saja yang dibahas. Akan tetapi, sebagaimana dikatakan sebelumnya, bahwasanya ayat ini dengan kaidah taglib juga mengisyaratkan kepada kaum wanita. Dengan demikian kata ‘rijalun’ juga bermakna ‘wanita yang tangguh seperti lelaki’. Yakni, ketika orang lain mengejar jabatan dan kebanggaan diri,  tenggelam dengan penampilan jasmani, sibuk dengan anak-anaknya, sosok-sosok dalam ayat tadi terbang dengan keagungan yang digambarkan ayat tersebut; ia juga bermakna bahwa ada juga wanita-wanita dengan iradah kuat sekuat kaum lelaki sebagaimana dibahas dalam ayat tersebut.

Ya, pada masa permulaannya, bersama para pahlawan dari kaum lelaki seperti Sidik Sulaiman, Hulusi Efendi, dan Husrev Efendi, terdapat pula para pahlawan wanita yang kita kenal, walau jumlahnya sedikit. Mereka bagaikan berada di bawah bayangan Sayyidah Nasibah dan Sumaira yang juga turut terlibat dalam Perang Badar dan Uhud.

Ya, walaupun mereka wanita,  mereka tidak ketinggalan dalam memanggul dakwah yang mulia ini. Pada hari ini pun, rumah-rumah cahaya bertindak sebagai tuan rumah bagi para pahlawan ini.

Peran yang dipikul Rumah Cahaya

Aku rasa, selama rumah cahaya ini dijalankan sesuai dengan tujuan pendiriannya, ia akan  mencapai titik-titik yang tak mampu dicapai oleh tekke (majelis taklim) dan zawiyah (majelis zikir), dan di waktu yang sama ia akan menjadi sebaik madrasah dalam mencetak generasi (emas). Dari rumah-rumah ini akan lahir generasi seperti Abdul Qadir Jailani, Gelenbevi (Professor Matematika Usmani), Ali Kuscu (Ahli Astronomi), Molla Husrev (Syaikhul Islam), Molla Gurani (Guru Para Putra Mahkota Usmani), Ebu Suud (Syaikul Islam di zaman Kanuni Sultan Sulaiman), Ibrahim Hakki dari Erzurum.

Jika tidak, hafizanallah, bisa saja ia berubah menjadi gubuk miskin. Aku rasa, sebagian besar dari mereka yang memiliki perasaan dan pemikiran yang sama denganku, akan lebih memilih mati daripada harus menyaksikan keadaan rumah cahaya berubah menjadi gubuk-gubuk miskin.

Rumah – rumah yang memiliki peran dan tujuan seperti rumah Ibnu Arqam selalu dibuka di berbagai masa, di mulai dengan di masanya Baginda Nabi, pada hari ini pun ia masih melanjutkan tugas dan peranannya.

Rumah-rumah ini, di hari-hari dimana layar mulai terkembang untuk kebangkitan yang ketiga (Kebangkitan pertama adalah  masa Sahabat. Kebangkitan kedua adalah masa Usmani, penerj.), ia akan menjadi tempat dimana generasi pembangkitnya dilengkapi dan  disempurnakan, insya Allah..

Di satu masa, Tekke dan Zawiyah menjadi tempat yang sangat penting dalam menghasilkan generasi pembangkit. Lewat sosok-sosok bercahaya yang dihasilkannya, ia membangkitkan Anatolia. Dalam kriteria tertentu, lewat penunaian tugas dan fungsinya, ia juga menjadi sumber keberkahan bagi kita.

Dan kini, tidak hanya Anatolia. Bagaimana rumah-rumah ini sanggup mencetak pemuda ruh dan makna yang membangkitkan seluruh penjuru dunia, adalah sangat penting untuk menilai rumah-rumah ini memiliki (peranan yang ) setara dengan madrasah, tekke, dan zawiyah.

Para rijalullah yang dihasilkan dari rumah-rumah ini, sambil mempelajari semua aspek dari ilmu positif,  dilengkapi dengan hadis, tafsir, fiqih, dan cabang ilmu Islam lainnya, mereka harus hidup dengan kehidupan ruh Islam yang amat luas, mereka harus menampilkan makna dan jiwa dari ruh para pendahulunya yang tak pernah lekang oleh waktu.

Jika tidak dilakukan, ia bagaikan pengkhianatan kepada rumah cahaya ini, kepada pemilik rumah ini (Bediuzzaman), kepada inspirasi rumah ini yaitu Arqam,  dan kepada Sang pemberi arti, Baginda Muhammad Mustafa Shallallahu alayhi wa salllam.

Tamsil (perwakilan) dari ruh tersebut, sebagai bentuk dari kedalaman maknawinya, ia harus menunaikan shalat dengan amat dalam, kalau perlu ketika meletakkan kepalanya ke tanah ia sanggup mengatakan ‘Ya Allah, Andai Engkau tidak menakdirkanku untuk mengangkat kepalaku ini. Andai sujudku ini menjadi titik dimana aku kembali kepadaMu!’

Ia tidak akan mengalihkan pandangan matanya ke hal lain, ia berdiri dengan tulus di hadapan Ilahi, ia menutup dirinya untuk hal-hal yang tidak berfaedah, dan seakan ia sedang menyaksikan keindahan (jamal) nya Allah SWT di dalam surga, ia memasuki fase konsentrasi , mempertemukan tangan di atas lututnya, ia keluar dari ‘ana’ (saya) dan ‘nahnu’  (kami – kita),  dan menjadi mata yang memandang ‘Huwa’ (Dia)

Ya, mengarahkan diri kepadaNya dengan kriteria ini…

Ya, bukan dengan pemikiran:’Azan sudah dikumandangkan. Aku masih perlu melakukan beberapa kegiatan. Kalau demikian biar aku selesaikan dengan cepat shalat ini.’

Melainkan: demi bisa berjalan menuju mikraj, seakan ia turun ke jalanan landai (menurun), ia melupakan dirinya, menuju serta mencapai fana fillah, baqa billah, menunaikan shalat  dalam atmosfer kebersamaan denganNya, tanpa memikirkan diri sendiri…

Yakni, menuju Rabb sebagaimana Zübeyr Gündüzalp, Hüsrev Efendi meretakkan kalbunya. Dan dengan awradu azkar (wirid dan zikir), tasbihu takdis (tasbih), di bawah bimbingan cemerlang dari Al Quran, demi bisa mencapai Allah SWT, rumah-rumah cahaya ini dirubah menjadi pelabuhan dan galangan kapal yang tidak ada bandingannya.

Ya, jika rumah cahaya dijalankan seperti tadi, maka ufuk pun akan mencapai Allah SWT;

Tempat Menutrisi Generasi Pembawa Panji Kebenaran

Hari ini, mereka yang memiliki mimpi untuk membawa hakikat dan kebenaran ke tujuh benua, mereka wajib dinutrisi oleh rumah-rumah yang berperan bagai penghasil air susu ibu yang berkah.

Untuk mereka yang tinggal bertahun-tahun di tempat suci tersebut namun tetap tidak memahami Allah SWT, mereka yang tak mampu meraih kecintaan dan hasrat kepadaNya, mereka di satu kriteria merupakan orang-orang yang tidak beruntung dan menyedihkan.

Mereka yang memiliki keadaan demikian, mirip bayi yang berada dalam timangan ibunya, namun tak mampu meraih ASI dari ibunya. Mereka yang demikian, tidak mendapatkan keuntungan apapun, pun tidak akan mampu mengantarkan umat manusia menuju apapun.

Kesungguhan Dalam Mendirikan Shalat

Ketika sampai disini, izinkan aku menyampaikan isi hatiku. Ketika aku melihat orang yang sedang shalat, namun ia shalat sambil tengok kanan-kiri, aku merasakan, jika boleh dikatakan demikian, seakan kemuliaan Tuhanku sedang direndahkan.  Saat itu aku bergumam:’Andai saja orang ini melemparkan sumpah serapahnya saja kepadaku, namun tak menengokkan matanya ke kanan dan ke kiri saat shalat.” Menurutku, sumpah serapah tersebut masih ringan dibandingkan shalat tanpa keseriusan seperti itu.

Ya, orang yang ketika menghadap kepada Allah melakukan gerakan seperti ini, aku secara pribadi menganggapnya sebagai sumpah serapah kepadaNya. Seandainya mereka menusuk jantungku saja, mungkin mereka akan menjadi pembunuh, tetapi aku akan berdoa:’Ya Allah, jika Engkau tidak memaafkan orang ini,–andai aku bisa – aku tidak ingin menghadap kepadaMu.‘

Seperti yang Anda saksikan, aku sangat terganggu oleh mereka yang tidak serius dalam shalatnya.

Tanpa doa dan shalat, atau menunaikan shalat tanpa ruhnya, tak mungkin seseorang bisa menjadi mukmin sejati. Allah SWT berfirman: ‘Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. (Yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya (QS Al Mukminun : 1-2).

Shalatnya mereka yang tinggal di rumah-rumah suci tersebut, lebih penting daripada penakhlukkan dunia tanpa shalat. Dan memang, selama mereka tidak menjadikan shalat sebagai hal paling penting dalam kehidupannya, tidak mungkin dibayangkan mereka akan meraih kesuksesan.

Rumah Cahaya Dibuka Untuk Mengkompensasi Pekerjaan Yang Terabaikan

Kesimpulannya, untuk topik tadi, saya senantiasa merasa terluka. Rumah-rumah cahaya ini dibuka untuk mengkompensasi apa yang telah diabaikan oleh sejarah; barangkali aku tidak tahu seberapa tepatnya ia dijalankan sesuai dengan tujuan awalnya; namun, aku ingin tetap berhusnuzan sambil berkata:’teman-teman pasti menunaikan haknya rumah-rumah cahaya ini’

Jangan lupakan semua umat yang sedang dan akan berada dalam kehancuran dunia, mereka sedang menunggu pemuda irsyad yang matang di rumah-rumah ini untuk membangkitkan mereka. Dan demikian ia dipahami, bahwasanya fungsi dari rumah-rumah ini tidak akan pernah selesai

Jika demikian, maka demi Allah, datanglah, tunaikanlah shalat dengan haknya, berpuasalah; Dan tunaikanlah shalat dan puasa dengan sebaik-baiknya, sehingga malaikat  yang sedari ia diciptakan tak pernah bangkit dari rukuknya pun akan berkata:’Luar biasa! ternyata ada yang menunaikan shalat lebih baik lagi.’  Demikian baiknya kita melebur ke dalam zikir dan fikir, para penghuni langit yang menyaksikan kita pun akan berkata:’merekalah yang akan membangkitkan dunia!’

Sebagai manusia yang beruntung, atau  sebagai hamba Allah, mari kita  manfaatkan rumah-rumah – keran air susu ibu – yang diliputi berkah tersebut dengan maksimal. Jangan sia-siakan waktu kita dengan canda tawa  seperti orang-orang bodoh, atau dengan kata-kata yang tak bermakna, yang tak memberikan manfaat dunia dan akhirat. Marilah kita jadikan rumah-rumah cahaya ini sebagai sumber cahaya yang akan menerangi seluruh dunia.

Semoga Allah menjadi Penolong bagi kita semua! Amin

 

[1] Menggemakan: menjadikan bergema; gema: bunyi atau suara yang memantul; kumandang; gaung; memantul bergerak balik karena membentur sesuatu atau karena refleksi (KBBI)

[2] Galeri: ruangan atau gedung tempat memamerkan benda atau karya seni dan sebagainya (KBBI)

[3] Taglib : disebabkan suatu hubungan, suatu kata digunakan untuk makna lainnya dengan mengambil makna dari kata tersebut. Misalnya, untuk kata ayah yang berhubungan dengan ibu selaku orang tua, digunakan kata abawayn

reborn

Rasa dari Iman: Membarui Iman Layaknya Para Sahabat

“Rasa dari Iman: Membarui Iman Layaknya Para Sahabat”

Akhir dari berbagai deformasi dan laku korupsi di atas muka bumi bergantung pada bagaimana kita bisa menemukan identitas diri yang sejati. Tanpa mengubah diri sendiri, tak ada manfaatnya kita menunggu orang lain untuk berubah. Dapat saya katakan dengan pertimbangan penuh harapan bahwasanya kita sudah memulai langkah tersebut. Akan tetapi, kita belum membuat perkembangan yang berarti. Usaha kita masih belum selesai.

Seperti yang dikatakan oleh seorang penyair: ”Aku belajar di sekolah cinta bersama Majnun. Aku telah mengkhatamkan seluruh isi Al Quran tetapi ia hanya bisa sampai di Surat al Lail”

Dengan kata lain:”aku telah meraih tujuanku tetapi si Majnun mandek dan tak henti berucap: “Kekasihku Laila, Kekasihku Laila, Kekasihku Laila”.

Rekonstruksi dunia secara menyeluruh menjadi koridor surga adalah sumber harapan bagi banyak manusia.  Di satu sisi, adalah sangat penting untuk memiliki cita-cita dan tujuan yang patut ditiru tersebut. Saya yakin, tidak ada pihak lain yang memiliki cita-cita seagung itu. Saya tidak bisa memaksudkannya ke level kepemilikan dan berkata: “Anda memiliki cita-cita ini, gerakan itu memiliki cita-cita ini, komunitas ini memiliki cita-cita ini..” Karena itu hanya akan menjadi pernyataan tanpa dasar. Tetapi jika saya tidak mengatakannya, maka hal itu seperti mengingkari anugerah suci dari Allah SWT.

Segala macam perkembangan asalnya dari Fadilat, Karim, Tawajuh, dan Kehendak Agung Allah SWT. Segala sesuatu yang telah terjadi dan telah dicapai adalah referensi tentang apa saja yang akan terjadi di masa mendatang. Kita harus meyakininya dan selalu berjuang untuk memperbaharui diri.

Allah SWT berfirman:

 يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ ءَامِنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَٱلۡكِتَٰبِ ٱلَّذِي نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَٱلۡكِتَٰبِ ٱلَّذِيٓ أَنزَلَ مِن قَبۡلُۚ

“Wahai orang-orang yang beriman! Tetaplah beriman kepada Allah dan RasulNya (Muhammad) dan kepada Kitab (Al Quran) yang diturunkan kepada RasulNya, serta kitab yang diturunkan sebelumnya!” (QS An Nisa 4:136)

Ayat ini berbunyi: ”Wahai orang-orang yang beriman!” Ayat ini tidak berbunyi: ”Wahai orang-orang yang tidak beriman, munafik, pendosa, lagi fasik!” Dan secara gramatikal ayat ini berkata: ”wahai orang-orang yang senantiasa berada dalam keimanannya.” Di satu sisi, ayat ini merujuk kepada mereka yang senantiasa memperbaharui keimanan agar selalu ada dalam kesadarannya secara kontinu, yang senantiasa berlari untuk membuktikan keimanannya. Mereka melubangi hati mereka dengan makrifatullah. Mereka bergerak dengan khusyuk dan penuh rasa takut kepada Rabbnya. Dengan menggunakan akal pikiranmu di jalan ini dan mengarahkannya ke pemikiran positif, datang dan berimanlah sekali lagi.

Para sahabat memahami dengan baik ayat ini dan sering kali menyeru orang-orang yang mereka temui di pinggir jalan: “Datanglah! Mari bersama-sama memperbaharui keimanan kita kepada Allah!” Para sahabat beriman dengan level yang jauh di atas level iman kita. Mereka beriman seakan-akan telah menyaksikan Allah SWT. Mereka menunjukkan laku yang mengisyaratkan ketinggian level ihsan mereka.  Rasulullah telah menjadi contoh bagi mereka. Mereka membentuk dirinya dengan mencontoh akhlak Baginda Nabi.

Mereka mencontohnya di segala aspek. Apa yang dia lakukan, bagaimana beliau bersemangat menyebarkan pesan Tuhan, menumpahkan air mata, bagaimana menyungkurkan kepalanya di atas tanah untuk bersujud bermenit-menit, mereka berusaha mengopi Rasul SAW, mereka ada di jalannya. Berusaha menjadi seperti dirinya, berusaha untuk layak menjadi sosok disisinya, berusaha menjaga kualitas dirinya, atas izin dan inayah Allah.

Usaha ini terus berlanjut hingga waktu tertentu. Beliau SAW bersabda:

خَيْرُكُمْ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

 “yang terbaik di antara kalian adalah mereka yang hidup di masaku (para sahabat). Lalu yang mengikuti mereka (Tabiin), lalu yang mengikuti mereka yang mengikut sahabatku (tabiut tabiin)[1].”

Masa terbaik adalah masa dimana banyak terdapat manfaat buat umat manusia, masa yang paling dirindukan adalah masaku. Lalu masanya para tabiin, dimana mereka masih mengikuti jalan kenabian yang terang benderang. Dia adalah Qamari Munir (Bulan Yang Cemerlang). Ustaz menggunakan istilah ini untuk mengagungkannya. Sahabatnya adalah lingkaran cahaya yang mengitarinya.

Lewat sabdanya ini Baginda Nabi mendorong umat manusia untuk mengikuti jalan para sahabatnya. Baginda Nabi bersabda:

أَصْحَابِي كَالنُّجُومِ، بِأَيِّهِمُ اقْتَدَيْتُمْ اِهْتَدَيْتُمْ

“Sahabatku bagaikan bintang gemintang. Siapa pun yang kalian ikuti, kalian akan terbimbing ke jalan kebenaran.[2]

Mereka seperti bintang gemintang yang mengitari matahari ataupun tata surya. Khususnya para khulafaur rasyidin.

Oleh karenanya, para sahabat adalah representasi murni dari Islam yang menampilkan sinar iman di jalan hidup yang mereka tempuh. Mereka yang mengikuti para sahabat secara otomatis berarti mengikuti jalannya Sang Nabi, dan membentuk dirinya sesuai dengan yang diarahkan sang Nabi. Mereka senantiasa mengecek apakah ada laku mereka yang bertentangan dengan arahan Nabi dan menyetel ulang kehidupannya secara kontinu.

Mereka berkata: Inilah yang dikerjakan oleh para sahabat, dan mereka pun menjunjung tingginya. Mereka membentuk detak dunia kalbunya sesuai dengan ritme yang dihentakkan oleh para sahabat.  Ketika Anda menjauhi jalan para sahabat, perlahan Anda pun dijauhkan dari cahaya sucinya. Mungkin cahayanya tidak benar-benar padam. Tetapi ia tidak mengeluarkan radiasi sekuat sebelumnya.

Di masa tabiut tabiin dan di masa-masa setelahnya, menyebar berbagai macam pemikiran dan ideologi aneh yang sanggup membuat perut kita mual: Neo Platonism, Pemikirannya Sokrates, Aristoteles, dan Filsafat Yunani membangun jalannya menuju pemikiran suci dunia intelektual kita. Mereka mulai menimbulkan kesakitan di dunia intelektual kita.

[1] HR al-Bukhâri, 3651, dan Muslim, 2533.

[2] `Abd ibn Humayd, ad-Daraqutnii, ibn `Adiyy, ibn `Abd al-Barr, dengan sanad yang tidak sahih, tetapi maknanya sahih.

fragile

Titik Terlemah Manusia

“Prinsip ke-3”

Lalu di titik terlemah manusia yaitu ‘popularitas, kebanggaan diri, dan kedudukan’ dalam pendekatan yang sangat tercela, demi mengendalikanku lewat titik terlemah manusia ini, tidak ada satupun dari pengkhianatan, makian, dan siksaan yang mereka perintahkan dan harusnya mampu mengusik titik terlemah manusia ini berhasil. Dan mereka sekali-kali tidak akan pernah memahami bahwasanya kami menganggap dunia, popularitas, dan kebanggaan diri yang mereka sembah tersebut merupakan perbuatan ria serta keangkuhan yang membahayakan; bahwasanya kami tidak peduli sedikitpun pada cinta kedudukan, popularitas, kebanggaan diri, serta hal-hal duniawi lainnya yang mana mereka memberikan perhatian besar kepadanya; barangkali mereka kami anggap sebagai orang-orang yang pandir dari sisi ini.

Lampiran Emirdag, 1/232

 

Penjelasan

Di ujung pancingan setan dari kalangan jin dan manusia terdapat titik terlemah manusia yaitu popularitas, kebanggaan diri, pangkat, dan kedudukan. Setan dari kalangan jin dan manusia ini datang dari arah sebaliknya, bekerja keras mengusik titik lemah orang-orang istikamah ini lewat siksaan dan cacian yang merendahkan agar akhirnya mereka melakukan kesalahan. Sayangnya, sebagian orang akhirnya menyerahkan dirinya pada hal-hal duniawi dan fana pada godaan pertama. Sebagiannya lagi tidak bisa menyadari rencana-rencana besar setan, lalu disebabkan tidak adanya strategi khusus untuk menghadapi cacian dan makian yang mengusik titik terlemah itu akhirnya ia masuk ke dalam pembuluh darahnya; Ia pun terjebak dalam kemarahan dan akhirnya menunjukkan tindak-tanduk yang keliru. Harusnya mereka berada dalam kebenaran, tetapi mereka jatuh dalam kesalahan dan akhirnya dihabisi disitu. Ustaz dan pengabdiannya pada agama yang menjadi pantulan dari nama-nama Allah yaitu Rahim dan Hakim, bergerak dengan prinsip kasih sayang, cinta, dan hikmah; dengan penuh kesabaran mereka mengobrak-abrik semua rencana orang-orang munafik dan pengkhianat. Ustaz hanya menunjukkan kemarahannya kepada mereka yang keterlaluan, dan dengan izin Allah berhasil membuat jera orang-orang yang demikian.

Diterjemahkan dari buku Seputar Panduan Berkhidmah, oleh Bediuzzaman Said Nursi.

 

Pemilihan artikel dan penjelasan oleh Abdullah Aymaz.

Sumber: Aymaz, Abdullah, 2010, Hizmet Rehberi Uzerine, Istanbul: Sahdamar Yayinlari, hlm. 12

screen

Kedalaman Makna dalam Tahiyat

“Kedalaman Makna dalam Tahiyat”

Jamaah Muslim yang terhormat! Dengan menunaikan salat secara istikamah, seorang mukmin akan meraih posisi yang harusnya ia raih, yaitu di belakang Rasulullah. Persis seperti derajat beliau SAW yang naik di mikraj berkat penghambaannya. Salat menjadi momen tanya jawab, dimana Rasul bercengkerama dengan Allah SWT secara langsung. Ketika seorang mukmin menunaikan salatnya dengan istikamah demi meraih derajat yang tinggi untuk meraih kedekatan dengan Allah, maka ia harus menunaikan salat, menemui Sang Ilahi dengan penuh gairah.

Seorang mukmin hadir ke hadapan Allah dan menunaikan salat dengan hasrat untuk dapat menyaksikan JamaliyahNya. Mukmin demi meraih janji-janji Allah, ia laksanakan perintah & kewajiban kepada Rabbnya. Mukmin itu akan mendengar dan pasti mendengar kelezatan abadi dari manisnya rukun salat karena di balik itu ada pertemuan dengan Allah. Setelah itu terdapat penyaksian Jamaliyah Allah, dan ketika menunaikan tugas agung ini, ada Baginda Nabi Muhammad SAW di saf terdepan.

Barang siapa memiliki hasrat dan keinginan yang sangat besar untuk menemui Allah, Allah SWT menyukai pertemuan dengannya, Allah SWT senang untuk menyambutnya. Allah SWT amat sudi untuk menjamu dan memuliakannya. Allah SWT cinta untuk mengagungkan si mukmin dengan jalan merangkulnya. Akan Anda saksikan anugerah Ilahi turun sesuai jumlah langkahmu, bahkan lebih banyak berkali lipat. Anda akan saksikan rahmat Allah menghampirimu dalam salat.

Salat adalah bangkit dan duduknya hamba hingga tahiyat. Sebuah usaha dan kerja keras untuk meraih kenaikan derajat. Ungkapan dari habisnya energi diri untuk menghamba. Ada berapa jumlah energi dalam tubuhmu? Ada berapa kadar sensitivitas dalam dadamu? Ada berapa kadar kegembiraan dan kehebohan dalam jiwamu? Seberapa sadar naluri indramu? Semua itu akan digunakan untuk menuju Rabbmu, dan kemudian kamu akan duduk dalam tahiyat.

Apalagi peristiwa mikraj diabadikan dalam tahiyat. Buah perjalanan penghambaan Baginda Nabi diabadikan disana. Saat manusia memalingkan muka, langit justru tersenyum kepada Baginda Nabi. Terbukanya pintu mikraj dan penyambutanNya “Datanglah!” juga diabadikan di sana. Di tahiyat, Nabi memberikan salam kepada Allah dengan salam yang layak dengan keagunganNya. Setiap mukmin sesuai keluasan hati dan kemampuannya. Sesuai sensitivitas nalurinya, sesuai kepekaan indranya.

Setelah menunaikan salat dengan segala tanjakan dan turunannya, baik ia duduk tak bisa bangkit disebabkan membayangkan beratnya perhitungan amal, maupun duduk tenteram bebas dari apapun dalam atmosfer berhasil meraih segala macam nikmat. Biarlah ia duduk seperti yang dijelaskan oleh Kesucian Hukum dan FirmanNya. Yaitu, biarlah ia duduk di atas sofa-sofa surga,

مُّتَّكِ‍ِٔينَ فِيهَا عَلَى ٱلۡأَرَآئِكِۚ

”…sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah,”(QS: Al-Kahfi 31)

Dan seperti dijelaskan oleh Surat al Isra:

سُبۡحَٰنَ ٱلَّذِيٓ أَسۡرَىٰ بِعَبۡدِهِۦ لَيۡلٗا مِّنَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِ

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram…”(QS: Al-Isra’ 1).

Ia meraih tempat  dan posisi di hadapan Rabb. Biarlah ia duduk di kursi agung, berdiskusi dengan Rabbnya secara langsung,  sesuai keluasan kalbunya, sesuai kepekaan nalurinya. Dengan tanjakan dan turunannya, belokan dan tikungannya, dengan beban serta beratnya materi, barangkali setelah menunaikannya dalam kelapangan jiwa, akan dibacakan epos mikraj.

Tahiyat menjelaskan peristiwa mikraj. Dipahami bahwa pintu untuk hadir ke hadapan Allah SWT terkunci dan tertutup jika kita usaha sendiri. Dipahami juga, walaupun kita banyak beribadah, tanpa perantara Nabi SAW yang lebih dulu tiba, meninggalkan jejak, membuka jalan besar untuk kita, tanpa memberi salam kepadanya SAW, tanpa perantaraannya SAW, Tidak mungkin kita bisa meraih mikraj ke hadapan Allah SWT. Untuk itu, setelah mempersembahkan tahiyat, Ibadah materi dan badani, serta menghidangkan segala sesuatu khusus untukNya, lalu kita berikan salam kepada Nabi Kita SAW.

Gambaran makna dari penjelasan ini sebagai berikut.

Kita berangkat ke hadapan Ilahi dengan segala dosa, kekurangan, kesalahan, serta kealpaan kita. Masuk ke saf Baginda Nabi Muhammad SAW, fokus menyimak sabda mulianya sambil menahan lisan kita, dan berbicara manis di pertemuan manis ini, fokus pada pembahasan di dalamnya, dan berusaha memahami sabda-sabdanya. Rasulullah SAW melakukan mikraj, Salat adalah buah mikraj. Di mikraj, salat adalah hadiah Allah SWT untuk umatnya Nabi Muhammad SAW.

Di serah terima hadiah salat terjadi transaksi jual beli. Rasulullah mengirimkan salam kepada Allah SWT, Allah SWT menerima salam Baginda Nabi. Peristiwa tersebut terjadi di tempat dan kedudukan yang tak bisa dicerna dan dibayangkan oleh akal. Dan ketika peristiwa itu terjadi, sambil berlindung dan berseru untuk meminta perlindungan Nabi, Kita berusaha untuk memfokuskan diri pada suara dan kata-kata ini.

Rasulullah memberi salam kepada Allah, Allah SWT membalas salam Baginda Nabi

Ibadah yang kami lakukan dengan segenap tubuh dan sel-selnya kami persembahkan untukMu!

Segala yang kami habiskan dari harta yang kami kumpulkan semuanya untukMu, demi keridaanMU!

Semua ibadah badani dan materi kami peruntukkan untukMu, Ya Allah!

Segala sesuatu yang kulakukan dengan segala pemberianMu, dijalanMu, kulakukan untukMu!

Untuk bisa menunjukkan kesetiaan pada janjiku, aku mengirim salam di hadapanMu

Allah membalas salam tersebut:

“Duhai Nabi yang Agung! Salam juga untukmu!”

السَّلاَمُ عَلَيْكَ اَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Salam dijawab dengan salam, sebagaimana salam ‘assalamualaikum’ dari seseorang dijawab ‘wa’alaikumsalam’ oleh kawannya. Zat Uluhiyat dengan kesempurnaan hikmahNya membalas salam Nabi Muhammad SAW:

Semoga salam, rahmat, berkah, salam, dan penjagaan Allah keselamatan dari kesusahan dan kesulitan di dunia dan akhirat ketenteraman dan kebahagiaan tercurah untukmu”

Kita dan para malaikat menyaksikan dan berusaha menyimak perbincangan ini, para malaikat menambahkan suatu harmoni ke dalam simfoni manis ini. Semua permukaan langit dan bumi seakan berdering gemerincing berseru:

أَشْهَدُ اَنْ لآ إِلَهَ إِلاَّاللهُ

Kami bersaksi bahwasanya satu-satunya Zat yang layak dan mutlak disembah hanya Engkau, Ya Allah!

Engkaulah Sesembahan di langit dan di bumi, Ya Allah!

Engkaulah Pencipta dan Pemberi Makna, Ya Allah!

Engkaulah Yang Mahamelihat dan Mahamendengar, Ya Allah!

Engkaulah ahsanul khaliqin!

Kami bersaksi dengan penuh kesadaran bahwa Engkaulah Zat yang mutlak layak disembah!

وَاَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهُ

Dan kembali kami bersaksi, bahwasanya Nabi Muhammad SAW adalah utusanMu yang agung!

Beliau telah memenuhi hak dari tugasnya, Beliau meraih kedudukan sebagai imamnya umat manusia dan juga dengan mikraj salat, membawa mereka ke hadapan Allah. Semoga Allah SWT yang Mahasuci berkenan menganugerahi kita salat dengan kesadaran ini di duduk tahiyat.

Tahiyat berasal dari impian dan harapan akhir dari Mikraj. Tahiyat ibarat pengabadian kenaikan kedudukan hamba karena penghambaanya kepada Allah. Kalbu dengan semangat ini, dengan kepekaan dari semua indra, manusia seakan fokus padanya dengan segala atributnya. Meninggalkan jasmani, berpisah dengan badani, hingga hanya tersisa ruh dan kalbunya saja ketika menunaikan penghambaan yang layak dengan keagungan Rabbnya yang Mahabesar. Semoga Allah menganugerahi kita penunaian salat dengan hawa dan atmosfer seperti ini.