Doa Nisfu Sya’ban
Doa Nisfu Sya’ban
.اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيراً وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيراً، فَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً
.اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ سَيِّدِنَا وَسَنَدِنَا ومَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِين
اَللّٰهُمَّ إِنْ كُنْتَ كَتَبْتَ اسْمِي فِي دِيوَانِ السُّعَدَاءِ فَأَثْبِتْهُ، وَإِنْ كُنْتَ كَتَبْتَ اسْمِي فِي دِيوَانِ الْأَشْقِيَاءِ فَامْحُهُ، فَإِنَّكَ قُلْتَ ﴿يَمْحُو اللّٰهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ﴾.
أَعُوذُ بِعَفْوِكَ مِنْ عِقَابِكَ، وَأَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ، جَلَّ وَجْهُكَ، لاَ أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ
.أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ
اَللّٰهُمَّ يَا ذَا الْمَنِّ وَلاَ يُمَنُّ عَلَيْكَ، يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالْإِكْرَامِ، يَا ذَا الطَّوْلِ وَالْإِنْعَامِ، لاَ إِلٰهَ إلاَّ أَنْتَ، يَا ظَهِيرَ الرَّاجِينَ، وَيَا جَارَ الْمُسْتَجِيرِينَ، وَيَا صَرِيخَ الْمُسْتَصْرِخِينَ، وَيَا أَمَانَ الْخَائِفِينَ، ويَا دَلِيلَ الْمُتَحَيِّرِينَ، وَيَا غِيَاثَ الْمُسْتَغِيثِينَ، وَيَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.
اَللّٰهُمَّ إِنْ كُنْتَ كَتَبْتَنِي فِي أُمِّ الْكِتَابِ عِنْدَكَ شَقِيّاً فَامْحُ عَنِّي اسْمَ الشَّقَاوَةِ، وَإِنْ كُنْتَ كَتَبْتَنِي عِنْدَكَ سَعِيدًا غَنِيّاً فَأَثْبِتْهُ، وَإِنْ كُنْتَ كَتَبْتَنِي فِي أُمِّ الْكِتَابِ عِنْدَكَ مَحْرُومًا مُقَتَّراً عَلَيَّ رِزْقِي فَامْحُ عَنِّي حِرْمَانِي وَتَقْتِيرَ رِزْقِي وَاكْتُبْنِي عِنْدَكَ غَنِيّاً مُوَفَّقًا لِلْخَيْرِ، مُوَسَّعاً عَلَيَّ رِزْقِي، فَإِنَّكَ قُلْتَ فِي أُمِّ الْكِتَابِ ﴿يَمْحُوا اللّٰهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ
﴾.وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ
إِلٰهِي بِالتَّجَلِّي الْأَعْظَمِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ الْمُكَرَّمِ الَّتِي ﴿فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ﴾ وَيُبْرَمُ، اِكْشِفْ
.عَنِّي مِنَ الْبَلاَءِ مَا أَعْلَمُ وَمَا لاَ أَعْلَمْ، وَاغْفِرْ لِي مَا أَنْتَ بِهِ أَعْلَمُ، إِنَّكَ أَنْتَ الْأَعَزُّ الْأَكْرَمُ
اَللَّهُمَّ اجْمَعْ شَمْلَنَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، لاَسِيَّمَا شَمْلَ إِخْوَانِي وَأَخَوَاتِي وَأَصْدِقَائِي وَأَحْبَابِي
.وَأَحِبَّائِي فِي كُلِّ أَنْحَاءِ الْعَالَمِ، وَفِي كُلِّ نَوَاحِ الْحَيَاةِ
.اَللَّهُمَّ اجْمَعْ شَمْلَنَا، وَأَلِّفْ بَيْنَنَا، وَأَيِّدْنَا بِرُوحٍ مِنْ عِنْدِكَ
.اَللَّهُمَّ وَفِّقْنَا إِلَى مَا تُحِبُّ وَتَرْضَى
.وَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ
Sungguh Mahabesar Allah. Segala puji hanya bagi-Nya sebanyak-banyaknya. Mahasuci Allah, baik di waktu pagi maupun petang.
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Selawat beserta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, begitupula kepada keluarga dan para Sahabatnya semua.
Ya Allah.. jika sekiranya Engkau menuliskan namaku pada buku catatan orang-orang yang berbahagia (diwan as-Su’ada’), maka tetapkanlah namaku di dalamnya. Namun jika sekiranya Engkau menuliskan namaku pada buku catatan orang-orang yang celaka (diwan al-Asyqiya’), maka hapuskanlah namaku dari dalamnya dan masukkan diriku ke dalam kumpulan orang-orang saleh. Sesungguhnya Engkau telah berfirman, “Allah menghapus dan menetapkan apa yang dikehendaki-Nya, dan di sisi-Nya terdapat Ummul Kitab.”
Ya Allah.. hamba berlindung dengan ampunan-Mu dari siksa-Mu. Hamba berlindung dengan rida-Mu dari murka-Mu. Hamba berlindung kepada-Mu dari-Mu. Hamba tidak mampu menghitung pujian kepada-Mu, Engkau sebagaimana yang Engkau puji atas diri-Mu.
Ya Allah.. Zat Pemilik anugerah dan nikmat, tiada yang mampu memberi nikmat kepada-Mu. Wahai Zat yang memiliki keagungan dan kemuliaan. Wahai Zat yang memiliki kerunia dan kenikmatan. Tiada Tuhan yang patut disembah melainkan Engkau. Wahai Zat yang menjadi sandaran bagi orang-orang yang memohon. Wahai Zat yang melindungi mereka yang meminta perlindungan. Wahai Zat yang mendengar jeritan mereka yang meminta. Wahai Zat yang memberi rasa aman bagi mereka yang takut. Wahai Zat yang memberi petunjuk kepada mereka yang bingung. Wahai Zat yang menolong mereka yang membutuhkan bantuan. Wahai Zat yang Mahapemurah!
Ya Allah.. jika sekiranya Engkau menuliskan diriku pada buku catatan besar-Mu (termasuk dalam) orang-orang yang tidak beruntung atau celaka, maka hapuskan nama ketidakberuntungan dari diriku. Jika Engkau menuliskan diriku sebagai orang-orang yang berbahagia dan kaya, maka tetapkanlah diriku di dalamnya. Jika Engkau menuliskan diriku di dalam Ummul Kitab sebagai orang-orang terhalang rezekinya, maka hapuskan diriku dari orang-orang yang disempitkan dalam hal memperoleh rezekinya lalu tulislah namaku di sisi-Mu sebagai orang-orang yang kaya dan mendapatkan taufik dalam melakukan kebaikan dan yang luas rezekinya, Sesungguhnya Engkau telah berfirman, “Allah menghapus dan menetapkan apa yang dikehendaki-Nya, dan di sisi-Nya terdapat Ummul Kitab.”
Ya Tuhanku.. dengan sifat kemuliaan-Mu yang agung pada malam Nisfu Sya’ban yang mulia ini, yang, ‘‘Pada malam itu dijelaskan segala perkara yang penuh hikmah’’, ditetapkan dan juga dihapuskan, hapuskan dariku segala macam bala bencana, baik yang kami ketahui maupun yang tidak. Berikanlah ampunan-Mu kepadaku. Engkaulah yang Mahamengetahui atas segala sesuatu. Sesungguhnya Engkau adalah Zat yang Mahagung lagi Mahamulia.
Ya Allah.. berikanlah persatuan dan kesatuan kepada umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, khususnya kepada saudara-saudara, saudari-saudari, teman-teman, dan sahabat-sahabat kami di seluruh penjuru dunia, juga di setiap bagian dari kehidupan ini.
Ya Allah.. berikanlah persatuan kepada kami, rekatkanlah kerenggangan yang ada di antara kami, dan kumpulkanlah kami dengan ruh dari sisi-Mu.
Ya Allah.. berikanlah taufik-Mu kepada kami dalam mengerjakan segala yang Engkau sukai dan ridai.
Dan semoga selawat beserta salam senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, begitupula kepada keluarga, dan para Sahabatnya seluruhnya.
Panggilan Berdoa
Teman-teman yang mulia,
Seperti halnya di seluruh penjuru dunia, di sini pun Pandemi Virus Corona telah menjadi bahan pembahasan penting dalam diskusi. Langkah antisipasi telah diambil semaksimal mungkin. Semua saran para ahli termasuk di dalamnya para dokter telah dipraktikkan.
Sebagai langkah antisipasi, Fethullah Gulen Hojaefendi dalam setiap kesempatan kembali menyampaikan poin-poin berikut:
Teman-teman kita di setiap negara dan wilayah harus menaati dengan seksama semua keputusan terkait pandemi yang disampaikan oleh para ahli. Langkah antisipasi berbeda bisa diterapkan menyesuaikan tingkat keparahan pandemi, faktor geografis, dan struktur masyarakat di wilayah setempat. Untuk itu, menaati keputusan dan himbauan para ahli serta penanggungjawab daerah setempat memiliki urgensi tersendiri.
Secara umum, kita perlu menjauhi tempat di mana orang-orang berkumpul. Jika tidak ada kebutuhan yang sifatnya darurat baik secara individu ataupun masyarakat, maka sudah seharusnya kita tidak keluar rumah.
Di saat kita berlaku sensitif terkait isu ini, mereka yang membutuhkan bantuan Anda tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Agar asas taawun tidak terganggu, apabila terdapat kebutuhan darurat yang perlu dibantu, sebisa mungkin bantuan dilakukan dalam jumlah sekecil mungkin, barangkali tugas tersebut bisa ditunaikan dengan bantuan 2-3 orang. Bantuan tersebut harus dikerjakan dengan menaati arahan dari para ahli dan tenaga kesehatan serta tetap memperhatikan jarak satu sama lain.
Guru kita selain menjelaskan poin-poin tersebut, beliau juga memberi penekanan pada pentingnya menjaga hubungan dengan Allah SWT di setiap waktu, betapa banyak pesan dan hikmah yang bisa diambil dari musibah ini, serta bagaimana menyalahkan pihak lain atas terjadinya musibah ini tidak sesuai dengan karakter seorang mukmin. Tugas kita adalah fokus untuk mengevaluasi diri terkait kesalahan yang pernah kita lakukan serta dengan tobat dan istigfar kita kembali bertawajuh kepada Allah SWT.
Beberapa kalimat lain dari beliau yang berhasil kami catat di antaranya sebagai berikut:
1. Betapa jauhnya kita dari Allah SWT. Dia lebih dekat dari urat nadi kita tetapi sayangnya kita menjadi korban dan terhukum disebabkan jauhnya kita dariNya. Allah SWT berfirman:
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِه۪ نَفْسُهُۚ وَنَحْنُ اَقْرَبُ اِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَر۪يدِ
Artinya: Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.
(QS. Qaf 50:16)
Ya, Dia senantiasa dekat, tetapi sayangnya kita teramat jauh dariNya. Kita harus memperhatikan dan mengevaluasi diri sendiri dari perspektif ini.
2. Adalah benar bahwasanya setiap peristiwa memiliki bahasanya sendiri. Walaupun di dalam kepala kita bergaung pikiran bahwa musibah dan bencana dalam skala besar ini pasti disebabkan kezaliman-kezaliman yang berlangsung dalam skala global, tetapi kita hanya layak menginvestigasi diri kita sendiri. Lebih layak kita menginvestigasi diri betapa banyak tugas yang tak dapat ditunaikan dengan sempurna. Muhasabah yang demikian sesungguhnya lebih dekat dengan jalan kebenaran.
3. Hubungan antara musibah yang terjadi dengan dosa-dosa pasti ada.
إِنَّ اللهَ لاَ يَظْلِمُ النَّاسَ شَيْئًا وَلَكِنَّ النَّاس أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُون
Artinya: Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikitpun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat zalim kepada diri mereka sendiri. (QS. Yunus 10:44)
Daripada kita mengevaluasi kesalahan orang lain, sudah seharusnya kita menginvestigasi dosa dan kesalahan kita sendiri. Misalnya, barangkali kita kurang meyakinkan dalam memotivasi orang lain untuk berbuat yang makruf. Boleh jadi kita juga memiliki kekurangan dalam merepresentasikan kebaikan dan menyebarluaskan keindahan lainnya. Sementara itu, mereka yang memikirkan kebaikan bagi umat manusia, menerimanya sebagai tujuan hidup, serta menjalankannya dengan penuh keikhlasan adalah kelompok orang yang diberi kabar gembira sebagai penangkal bala, baik musibah dari bumi maupun dari langit.
4. Allah SWT berfirman:
وَمَا كَانَ اللهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
Artinya: Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun (QS Al Anfal 8:33)
Guru kita yang mulia sekali lagi ketika membahas poin-poin tersebut bertanya:”Apakah teman-teman kita berdoa?”. Kemudian beliau melanjutkan kalimatnya: ”Dulu kita berkumpul untuk berdoa tetapi sekarang kita sudah tidak bisa lagi berkumpul. Namun, semua teman bisa membaca doa yang berbeda-beda dari kediamannya masing-masing. Mereka misalnya bisa membaca doa berikut:”Wahai Rabb yang memenuhi kebutuhan dan hajat kami! Penuhilah semua kebutuhan kami! Duhai Sultan kami yang melindungi dan memusnahkan segala macam bala, hilangkanlah segala macam bala yang mengancam kami!” Dalam doa ini bisa ditambahkan:”Yaitu Wabah dan Pandemi Virus Corona”. Terdapat banyak sekali doa yang diriwayatkan dari Baginda Nabi. Doa-doa tersebut dapat dibaca setiap saat. Bahkan beberapa doa bisa dibaca oleh satu teman untuk kemudian direkam. Lalu rekaman tersebut diperdengarkan di banyak tempat; Andai rekaman tersebut dapat menjadi media pengingat; Andai di setiap rumah dan di setiap waktu kita ditawajuhkan kepada Allah lewat doa yang dipanjatkan tersebut.”
Kami telah merangkum doa-doa yang disarankan oleh guru kita yang mulia. Kami juga telah meminta satu teman untuk membaca doa tersebut. Bersama ini kami persembahkan doa tersebut baik dalam bentuk tulisan maupun rekaman.
Lewat sarana ini, tentu saja dengan tetap mengambil langkah-langkah antisipasi sebagai bentuk mengikuti sunatullah, sekali lagi kami serukan: marilah memanjatkan doa dan salat hajat demi kebaikan seluruh umat manusia. Semoga Allah SWT Sang Hafiz berkenan menjaga kita semua dari segala macam penyakit jasmani maupun rohani.
***
Do’a Hajat Word :
Doa Hajat (Khususnya Keselamatan dari Corona)
Do’a Hajad PDF :
Doa Hajat (Khususnya Keselamatan dari Corona)
.اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيراً وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيراً، فَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً
.اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ سَيِّدِنَا وَسَنَدِنَا ومَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِين
لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ الْحَلِيمُ الْكَرِيمُ، سُبْحَانَ اللهِ رَبِّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، أَسْأَلُكَ مُوجِبَاتِ رَحْمَتِكَ وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ وَالْعِصْمَةَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ وَالْغَنِيمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ وَالسَّلَامَةَ مِنْ كُلِّ إِثْمٍ، لَا تَدَعْ لِي ذَنْبًا إِلَّا غَفَرْتَهُ وَلَا هَمًّا إِلَّا فَرَّجْتَهُ وَلَا حَاجَةً هِيَ لَكَ رِضًا إِلَّا قَضَيْتَهَا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ. اَللّهُمَّ كَاشِـفَ الْغَمِّ مُفَرِّجَ الْهَمِّ مُجِيبَ دَعْوَةِ الْمُضْطَرِّينَ إِذَا دَعَوْكَ رَحْمانَ الدُّنْيَا وَاْلاخِرَةِ وَرَحِيمَهُمَا فَارْحَمْنِي فِي حَاجَتِي هذِهِ بِقَضَائِهَا وَنَجَاحِهَا رَحْمَةً تُغْنِينِي بِهَا عَنْ رَحْمَةِ مَنْ سِوَاكَ. اَللّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ وَأَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ بِنَبِيّـِكَ مُحَمَّدٍ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ، يَا مُحَمَّدُ إِنِّي أَتَوَجَّهُ بِكَ إِلَى رَبِّي فِي حَاجَتِي هَذِهِ لِتُقْضَى لِي، اَللّهُمَّ فَشَفّـِعْهُ فِيَّ
.اَللَّـهُمَّ يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ وَيَا دَافِعَ البَليَّاتِ اِقْضِ حَوَائِجَنَا كُلَّهَا يَا أَرْحَمَ الرَاحِمِين
.(اَللَّـهُمَّ أَجِرْناَ وخَلِّصْنَا وَنَجِّنَا مِنَ الْوَبَاءِ وَالْبَلاَءِ وَمِنْ سَيِّءِ الْأَمْرَاضِ وَالْأَسْقَامِ (لَا سِيَّمَا فِيرُوسِ كُورُونَا
.بِسْمِ اللهِ، (أَعُوذُ بِعِزَّةِ اللهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ) مِنْ وَجَعي هٰذَا
.اَللَّـهُمَّ رَبَّ النَّاسِ، مُذْهِبَ الْبَأْسِ، اِشْفِ أَنْتَ الشَّافِي لَا شَافِيَ إِلَّا اَنْتَ شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا
بِسْمِ اللهِ، بِسْمِ اللهِ، بِسْمِ اللهِ، بِسْمِ اللهِ أَرْقِيكَ، اللهُ يَشْفِيكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ يُؤْذِيكَ بِسْمِ اللهِ أَرْقِيكَ، اللهُ يَشْفِيكَ مِنْ كُلِّ دَاءٍ فِيكَ
اَللَّـهُمَّ عَافِنَا فِي اَبْدَانِنَا، اَللَّـهُمَّ عَافِنَا فِي اَسْمَاعِنَا، اَللَّـهُمَّ عَافِنَا فِي اَبْصَارِنَا، اَللَّـهُمَّ عَافِنَا فِي كُلِّ أَعْضَائِنَا وَجَوَارِحِنَا وَلَطَائِفِنَا وَحَوَاسِّنَا الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ، لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ
Sungguh Maha Besar Allah, dan segala puji hanya bagi Allah sebanyak-banyaknya, dan Maha Suci Allah, baik waktu pagi dan petang.
Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam, dan shalawat beserta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Saw., begitu pula kepada keluarga dan para sahabat seluruhnya.
Tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah yang maha lembut lagi Maha Pemurah, Maha Suci Allah, Rabb pemilik ‘Arsy yang Maha Agung, segala puji bagi Allah Rabb semesta Alam, aku mengharap rahmatMu, ketetapan hati (untuk meraih) ampunanMu, mendapatkan keberuntungan dengan segala kebaikan dan keselamatan dari segala perbuatan dosa, jangan Engkau biarkan dosa padaku kecuali Engkau mengampuninya, dan jangan Engkau biarkan kegundahan kecuali Engkau membukakannya, dan jangan Engkau biarkan kebutuhan-kebutuhan yang Engkau ridlai kecuali Engkau penuhi, wahai Dzat yang maha pengasih! Ya Allah, Engkau yang memutuskan antara hamba-hamba-Mu mengenai sesuatu yang mereka perselisihkan. Tiada Tuhan kecuali Allah, Yang Maha Luhur dan Maha Agung. Tiada Tuhan kecuali Allah, Yang Maha Lembut dan Maha Mulia. Maha Suci Allah, Tuhan tujuh langit dan Tuhan ‘Arsy yang agung. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Ya Allah, Tuhan yang menyingkap kesedihan, yang menghilangkan kegalauan, dan yang mengabulkan doa orang-orang yang dalam kesempitan ketika mereka berdoa, Maha Pengasih dan Maha Penyayang di dunia dan akhirat, rahmatilah aku dalam hajatku ini dengan mengabulkannya, dengan rahmat yang mencukupi diriku dari mencari rahmat selain diri-Mu. Ya Allah, aku memohon dan mengharap kepadaMu, aku menghadapMu dengan wasilah Nabi Kasih sayang, Nabi Muhammad Saw. Ya Muhammad Saw, wahai junjunganku, aku menghadap Rabb-ku dengan menjadikanmu wasilah agar hajatku ini dipenuhi. Ya Allah, jadikanlah Rasulullah sebagai pemberi syafaat bagiku.
Wahai Dzat yang memenuhi segala kebutuhan, penuhilah kebutuhan-kebutuhan kami, Wahai Dzat yang menjaga dari bala bencana, jagalah kami dari berbagai macam bala bencana yang mungkin datang kepada kami, Wahai Dzat yang Maha Pemurah!
Ya Allah, selamatkanlah kami dari wabah, bala, dan segala macam keburukan penyakit, khususnya pernyakit Covid-19 yang sekarang melanda dunia, lindungilah kami!
Bismillah, dengan namaMu ya Allah, aku berlindung dengan keagungan dan kekuasaanMu dari keburukan rasa sakit yang mungkin akan menyakitiku.
Ya Allah, Rabb semua manusia, yang menghilangkan segala penyakit, sembuhkanlah, karena Engkaulah yang Maha Menyembuhkan, tiada penyembuh selain Engkau, sembuhkanlah dengan kesembuhan yang tidak menyisakan penyakit lagi!
Bismillah!.. Bismillah!.. Bismillah!.. Dengan nama Allah, aku membacakan dan meniupkan padamu, Allah akan menyembuhkan penyakitmu, dari segala macam bahaya yang menyakitkan dirimu, dengan nama Allah aku meruqyahmu, dan Allah-lah yang menyembuhkanmu dari setiap penyakit yang menimpamu.
Ya Allah, berikanlah kesehatan pada tubuh kami, Ya Allah, berikanlah kesehatan pada telinga kami, Ya Allah berikanlah kesehatan pada kedua mata kami, Ya Allah berikanlah kesehatan pada setiap anggota badan dan tubuh kami, lathifah-lathifah kami, dan perasaan kami baik yang zahir maupun batin. Hanya Engkau yang Maha Kuasa atas semua itu, tiada tuhan selain Engkau.
Al Qulubud Daria (Kalbu yang Merintih)
“Al Qulubud Daria (Kalbu yang Merintih)”
Tanya: Dalam rangka belajar adab memohon dan berdoa kepada Allah serta untuk senantiasa berada dalam keadaan bertawajuh kepadaNya, buku kumpulan doa yang bernama Al Qulubud Daria terlihat amat penting peranannya dimana ia berhasil mengisi kekosongan itu. Akan tetapi, walaupun kita bisa membaca huruf-huruf Al Quran, kita masih belum mampu memahami makna sebagian besar wirid dan zikir yang terdapat di buku tersebut. Terkait hal ini, apa nasihat Anda untuk kami?
Jawab: Al Qulubud Daria bermakna kalbu penuh linangan air mata yang mengetuk pintu Allah, dimana pintuNya adalah satu-satunya tempat untuk berlindung; kalbu yang bersedekap, menunduk, membungkuk di pinggir pintuNya, yang mengemis dan memohon kepadaNya; kalbu yang membuka isi di dalamnya; kalbu yang mencurahkan satu per satu segala masalah yang membebaninya; serta kalbu yang merintih karena terbakar dan dibakar. Untuk merangkum semua makna ini barangkali dapat digunakan istilah “Kalbu yang Meratap”. Buku ini dirangkum dari kitab doa sebanyak tiga jilid yang bernama Majmuatul Ahzab karya Gumushanevi Ahmed Ziyauddin Efendi yang diklasifikasi ulang.
Sayyidina Gumushanevi dan Majmuatul Ahzab
Almarhum Ahmed Ziyauddin Efendi adalah ulama di periode akhir Usmani. Beliau lahir pada tahun 1813 di Desa Emirler, Kecamatan Gumushane. Beliau tidak hanya sibuk dengan ilmu-ilmu zahir. Di waktu yang sama, beliau juga menuntut ilmu-ilmu batin dan berhasil meraih ijazah di dua bidang tersebut. Sayyidina Gumushanevi merupakan salah satu Syeikh dari Tarikat Naqsyabandiyah Khalidiyah, beliau mendedikasikan hidupnya untuk ilmu dan irsyad. Pada tahu 1893 beliau kembali ke rahmatullah di Kota Istanbul dengan meninggalkan puluhan karya.
Salah satu karya beliau yang paling dikenang adalah Majmuatul Ahzab, sebuah karya setebal kurang lebih dua ribu halaman. Sayyidina Gumushanevi menyiapkan karyanya ini bersama murid-muridnya dengan perhatian yang amat besar. Berkat kerja kerasnya, ia berhasil mengumpulkan ratusan wirid dan zikir yang diamalkan oleh puluhan kekasih dan wali-wali Allah. Dalam kitabnya tersebut, dijelaskan nama hizib[1], penulisnya, kapan dan bagaimana ia dibaca. Misalnya, terdapat istigfar pekanan yang biasa dibaca oleh Imam Hasan Basri, dimana istigfar tersebut dibaca harian dimulai dari hari jumat. Selain itu, di kitab tersebut juga terdapat bagian hizib, wirid, zikir malam, doa, istigfar, istiazah, tasbih, tahlil, salawat, dan qasidah bertajuk ‘usbuiyah/pekanan’ yang dibaca oleh para sultan alam maknawi seperti Sayyidina Ali karamallahu wajhah, Usamah r.a., Muhyiddin Ibnu Arabi, Abu Hasan Syazili, serta Imam Jafar as Sadiq dimana di dalamnya terdapat doa yang dibaca setiap hari selama seminggu.
Majmuatul Ahzab adalah kitab doa yang tak pernah lepas dari tangan Bediuzzaman Said Nursi. Demikian dekatnya beliau dengan kitab ini, karya bernilai tinggi yang tebalnya kurang lebih tiga kali mushaf ini diselesaikan setiap lima belas hari sekali. Aku juga beberapa kali mendengar penjelasan mengenai pentingnya membaca majmuatul ahzab dimana ia menjadi salah satu rukun dalam Profesi Nur. Ini artinya, Sang Penulis Nur, menyisihkan waktunya kurang lebih sebanyak 5-6 jam setiap hari untuk menyelesaikan pembacaan kumpulan ini dan demikianlah beliau menyibukkan dirinya dengan wirid dan zikir.
Di sini aku ingin menyampaikan sebuah kenangan yang mungkin keluar dari topik pembahasan kita: Ada salah satu tokoh alim agung yang juga ahli kalbu yang sangat kagum pada bagaimana uslub Ustaz memahami, menjelaskan, menguraikan, dan menyebarkan hakikat-hakikat iman. Ia menyampaikan bahwasanya risalah nur penulisannya amatlah sulit, merupakan karya-karya yang sangat berharga, dimana karya tersebut tak mungkin bisa ditulis hanya dengan membayangkannya saja. Ia juga menjelaskan bahwasanya karya tersebut hanya dapat digandakan dan disebarkan jika ia bersandar pada sumber yang amat kuat. Dalam setiap kesempatan yang didapatnya, ia selalu menyampaikan penghormatannya kepada Sang Penulis Nur serta kepada setiap pengabdian iman. Kemudian ada satu orang yang menunjukkan kitab Majmuatul Ahzab kepada alim tersebut serta menyampaikan bahwasanya Ustaz tak pernah lepas darinya. Sang alim kemudian berkata: “Kini aku tahu apa sumber kuat tersebut. Berarti Bediuzzaman memiliki hubungan yang amat serius dengan Rabbnya. Hubungan Ustaz dengan Allah SWT amatlah kuat. Oleh karena Ustaz tidak pernah mengendurkan tawajuhnya kepada Allah serta tidak pernah lalai dalam menjaga hubungan dengan Rabbnya, maka Allah SWT senantiasa mengokohkan kedudukannya serta menganugerahinya berbagai ihsan ilahi. “
Ya, dari manapun Anda melihat Ustaz, Anda akan menyaksikannya sebagai suatu prasasti yang sempurna. Ia tidak berkata:”Aku mengabdi kepada iman, tak apa aku ada cela dalam wirid dan zikirku!” atau “Aku mendedikasikan diriku kepada zikir dan tafakur, tak apa aku agak tertinggal di bidang meninggikan kalimat Allah!” ataupun “Aku akan mengerjakan pekerjaan ini dengan sempurna, tak apa aku agak kendor di bidang itu!”. Beliau hidup sebagai manusia yang seimbang. Beliau menganut prinsip seimbang di semua lini. Maka beliau pun mempraktikkan pembagian waktu dan pemanfaatan umur kehidupan dengan baik. Beliau tidak pernah berlaku sia-sia, tak ada waktu kehidupannya yang kosong. Beliau senantiasa memenuhi waktu dan umur kehidupannya sehingga tidak ada yang kosong. Untuk itu, tidak ada satupun tugas yang berkaitan dengan penghambaan yang diabaikan. Beliau tidak pernah menunda untuk membaca wirid dan zikir hariannya. Sebagaimana beliau menuntaskan pembacaan kitab Majmuatul Ahzab, beberapa bagian doa dari kitab tersebut semisal Jausyan, Wirid Naqsyabandi, Dalailun Nur, Sakinah, Munajat Uways al Qarani, Doa Ismu Azam, Munajat al Quran, Tahmidiyah, serta Khulasatul Khulasah dikumpulkannya menjadi sebuah hizib. Beliau berharap agar mereka yang tidak mampu membaca kitab doa ini dari awal hingga akhir setidaknya dapat mengamalkan hizib ini. Mereka yang mencintai dan mengamalkan nasihat-nasihatnya dari masa itu hingga masa ini pun senantiasa mengamalkan hizib ini, sekarang pun demikian, di masa yang akan datang pun mereka tetap harus kontinyu dalam mengamalkannya.
Karena wirid dan zikir merupakan nutrisi terpenting bagi kaum mukminin yang bermujahadah di jalan ilayi kalimatullah (usaha untuk meninggikan kalimat Allah). Wirid dan zikir adalah tanda serta isyarat dari kedekatan hubungan seorang hamba dengan Allah SWT. Seorang manusia yang meyakini kekuatan Allah, meyakini bahwasanya Allah mahakuasa atas segala sesuatu, dan meyakini segala kehendakNya, maka sebagai konsekuensi dari keyakinannya tersebut ia harus senantiasa bertawajuh kepadaNya. Dalam rangka memenuhi segala kebutuhan dan keinginannya, hendaknya ia senantiasa hanya memohon kepadaNya. Seseorang yang berdoa, jika ia mampu mengarahkan segenap sendi dalam kalbunya untuk memohon dan mengemis kepada Allah SWT, maka ia akan melewati jarak yang bersumber dari badan dan jasmaninya. Ia akan meraih kedekatan istimewa dimana tidak ada suatu apapun yang lebih dekat kepada dirinya selain Allah SWT. Allah SWT pun akan memperdengarkan kepadanya segala sesuatu yang layak untuk didengarnya, menunjukkan segala sesuatu yang patut untuk dilihatnya, membimbing lidahnya untuk mengucapkan kata-kata yang pantas untuk diucapkan olehnya, serta mengarahkannya untuk beramal sesuai dengan yang diharapkan darinya.
Diterjemahkan dari artikel: “el kulubud daria yakaran gonuller”
Website: http://www.herkul.org/kirik-testi/el-kulubud-daria-yakaran-gonuller/
[1] Hizib adalah kumpulan bacaan atau doa yang diambil dari al-Qur’an dan hadits yang disusun para wali atau ulama dan diamalkan dengan cara tertentu, dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT.





