mengembangkandiri.com

ORANG-ORANG YANG BERIMAN SEPERTI ORGAN-ORGAN DARI TUBUH YANG SAMA

Suatu hari organ tubuh mengadakan pertemuan di antara mereka sendiri. Mereka semua mengeluh tentang pekerjaan untuk perut. Perut tampaknya tidak melakukan banyak hal dan tanpa istirahat ia tidak dapat melakukan apa-apa. Semua organ tampak sangat kesal. Di akhir pertemuan, semua organ memutuskan bahwa mereka tidak akan lagi memenuhi semua permintaan perut. Mereka tidak akan menghabiskan semua upaya mereka untuk perut.

Mata mengatakan bahwa mereka tidak akan melihat lagi, tangan menekankan bahwa mereka tidak akan menggenggam, mulut menyatakan bahwa ia tidak akan menyantap lagi, gigi memutuskan untuk tidak mengunyah dan kaki mengklaim bahwa mereka tidak akan lagi berjalan untuk perut.

Mereka melakukan apa yang mereka klaim dan meninggalkan perut tanpa makanan. Namun, tak lama kemudian, mata mulai kabur, tangan mulai bergetar, mulut mengering, gigi mulai rusak dan kaki bahkan tidak bertenaga untuk melangkah. Jelas bahwa meski perut tidak bisa bertahan tanpa mereka, untuk bertahan hidup mereka juga membutuhkan perut.

Mereka menyadari bahwa semua organ tubuh saling mendukung satu sama lain dan tidak mungkin mempertahankan kehidupan tanpa keharmonisan dan kesatuan tersebut. Ini berarti bahwa setiap orang bekerja untuk satu sama lain dan ketiadaan satu organ akan dirasakan oleh yang lainnya.

Dalam sabda Nabi kita, keadaan orang beriman dalam hubungannya satu sama lain sama dengan hubungan antara organ dan sel-sel tubuh. Seperti halnya ketika ada rasa sakit di satu bagian tubuh, seluruh tubuh merasakannya dan dengan demikian berusaha untuk menyingkirkannya, semua muslim juga harus merasakan sakit yang dirasakan saudaranya dan karenanya mereka harus bertindak dengan tanggung jawab dan mencari cara untuk menyelesaikan masalah.  Keburukan yang terjadi kepada seorang muslim mendorong semua muslim untuk saling membantu dalam segala situasi.

Mengembangkandiri.com trees-7847672_1920

MENGHINDARI GIBAH DAN KRITIK BERLEBIHAN DALAM MASYARAKAT

 

Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita menemukan orang yang suka mengkritik dan menggunjing saudara-saudaranya. Apalagi dalam lingkup masyarakat yang masih memiliki sikap terbuka terhadap gibah dan kritik yang berlebihan. Hal ini tentunya dapat mempengaruhi tercapainya tujuan pembinaan yang ditujukan kepada kita.

Menganggap sikap mengkritik dan gibah sebagai hal yang lumrah dapat membuat masyarakat menjadi tidak sensitif terhadap tindakan tersebut. Padahal, Al-Quran, Hadits, dan Risalah yang sudah sering kita baca telah menyampaikan bahwa kita harus memandang saudara-saudara kita dengan sudut pandang yang positif, mengabaikan kesalahan yang pernah mereka lakukan.

Masa kini memang lebih menonjolkan nilai-nilai kemanusiaan dan nilai-nilai Islam seperti kasih sayang, kelembutan, tenggang rasa, dan toleransi. Namun, hal ini tidak berarti kita harus membiarkan kritikan. Berbagai macam pemikiran, celah-celah kesalahan bisa diberikan kritik yang membangun seraya menawarkan alternatif yang tepat.

Namun, dalam memberikan kritik, kita harus berhati-hati. Hal ini dikarenakan jika kita tidak hati-hati, kritik yang kita sampaikan dapat memunculkan gibah dan kritik yang berlebihan. Kita harus belajar untuk memandang saudara-saudara kita dengan sudut pandang yang positif. Kita juga harus selalu mengingatkan diri kita untuk tidak terjerumus dalam perilaku mengkritik yang berlebihan.

Bahkan, menurut Ustaz Said Nursi dalam Risalahnya, meskipun benar, seseorang yang mengkritik tetaplah salah. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati dan tidak sembarangan dalam memberikan kritik kepada saudara-saudara kita.

Dalam hal ini, kita harus memahami bahwa membicarakan keburukan orang lain merupakan sebuah gibah. Tetapi membicarakan orang-orang yang sudah menyatukan hatinya pada Hizmet merupakan perilaku gibah yang berlebihan. Begitu pula dengan mengkritik orang lain. Tetapi mengkritik orang-orang yang ada dalam Hizmet merupakan kritik yang berlebihan.

Oleh karena itu, kita harus berusaha menghindari gibah dan kritik yang berlebihan dalam masyarakat. Sebagai masyarakat yang saling mendukung dan membangun, kita harus selalu mengingatkan diri kita untuk tidak terjerumus dalam perilaku mengkritik yang tidak sehat. Kita harus belajar untuk menghargai dan memandang saudara-saudara kita dengan sudut pandang yang positif, dan memberikan kritik yang membangun serta menawarkan alternatif yang tepat. Dengan demikian, kita dapat menciptakan masyarakat yang lebih baik dan harmonis.

“Aku memohon kepada kalian, demi cinta Allah jangan sampai kita menghilangkan ribuan keberkahan yang ada pada Hizmet. Janganlah saling membicarakan keburukan orang lain, janganlah saling mengkritik, janganlah menggandakan musibah. Jangan sampai kesalahan perilaku kita seperti kesalahan teman² kita membuat kepala mereka terpukul. Sehingga membuat semangat mereka pun tururn, jangan sampai mempermalukannya di hadapan orang lain. Mari kita sampaikan keindahan-keindahan yang nantinya akan menjadi sumber bagi usaha, perjuangan dan gairah mereka. Kita persembahkan pemikiran kita sebagai alternatif yang sesuai. Dan mengantarkan keberuntungan mereka pada kehidupan kita semua.”

Mengembangkandiri.com wooden-hut-7884975_1920

DUNIA ADALAH TEMPAT UJIAN

Manusia selalu diuji setiap saat, dan dengan ujian tersebut manusia bisa menjadi mulia atau hina. ini menunjukkan bahwa kehidupan di dunia adalah tempat ujian, bukan tempat untuk mencari imbalan semata. Namun, pada kenyataannya, kita juga mendapatkan ganjaran dan manfaat di dunia ini, seperti lahirnya kita sebagai manusia, beragama Islam, menjadi umat Nabi Muhammad ﷺ, mengenal Al-Qur’an dan melihat alam semesta berdasarkan petunjuknya.

Dalam kehidupan ini, ujian yang kita hadapi sesuai dengan tingkat keimanan kita kepada Allah ﷻ dan keluhuran hati kita. Seperti Nabi Muhammad ﷺ yang diuji dengan ujian yang sangat berat, tetapi Ia tidak pernah gentar dengan ujian tersebut. Ia selalu teguh dalam tugas, kokoh dalam pendirian, dan yakin dalam penghambaan.

Kita harus mengingat bahwa kehidupan di dunia ini adalah tempat berkhidmah, bukan tempat untuk mencari imbalan semata. Seperti Ustadz ucapkan bahwa jika kita ingin menikmati kenikmatan, kelezatan, dan kesenangan, maka harus berada dalam lingkupan dan ketentuan yang dibolehkan oleh Al-Qur’an. Sebagai seorang muslim, kita harus menjalankan tabligh dan tamsil yang diajarkan oleh Nabi Muhammad ﷺ.

Jika kita benar-benar beriman kepada Allah ﷻ, maka kita tidak perlu merasa lemah atau khawatir menghadapi ujian. Kebenaran selalu menang, dan tidak ada satupun yang bisa mengalahkannya.

“Dan janganlah engkau bersedih hati terhadap mereka, dan janganlah (dadamu) merasa sempit terhadap upaya tipu daya mereka.” (Q.S An – Naml : 70)

Firman Allah ﷻ telah menjelaskan bahwa janganlah kita bersedih hati, karena Allah ﷻ selalu membersamai kita dan memberikan kekuatan yang tak tertandingi.

Dalam menjalani kehidupan ini, kita harus selalu mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian dan menjalankan tugas dengan penuh penghambaan kepada Allah ﷻ. Kita harus teguh dalam pendirian dan tidak gentar menghadapi masalah dan musibah. Kita harus mengingat bahwa kebenaran itu tinggi, tidak ada yang lebih tinggi dari kebenaran. Oleh karena itu, kita harus senantiasa berusaha untuk hidup dalam kebenaran dan menjalankan segala tugas dengan sepenuh hati, serta yakin dalam penghambaan kepada Allah ﷻ.

pexels-ali-karim-5798526

USLUB DALAM BERKHIDMAT

Tanya: Apa saja sarana yang diperlukan untuk mendapatkan inayah Ilahi dalam menggapai ufuk keridaan-Nya?

A. TAWAJUH KEPADA ALLAH
Tawajuh kepada Allahﷻ adalah hal yang sangat penting bagi para pahlawan cinta, serta penyandang kasih sayang yang bertekad meraih rida Allahﷻ. Sebagaimana perkembangan karakteristik personal dari umat manusia dapat terwujud berkat tawajuh kepada Allahﷻ, demikian juga perkembangan usaha khidmat –dakwah– sebagaimana bunga-bunga yang mekar menghadap ke arah matahari, dan hanya mungkin akan terjadi berkat bertawajuh kepadaNya.
Jika seandainya umat manusia memutus tawajuhnya kepada Allahﷻ, maka ia akan masuk dalam ketergelinciran cara pandang terhadap Allahﷻ dan akan terbelenggu oleh angan-angan dunianya fana. Untuk itu, tawajuh kepada Allahﷻ dalam dimensi tauhid, rida, dan keikhlasan amatlah penting demi terraihnya inayat Ilahi yang merupakan salah satu jalan yang tak bisa diabaikan demi menjaga nur kehidupan.
Orang-orang suci yang telah menyerahkan hatinya untuk tujuan yang mulia – dakwah – selama mereka mengikuti prinsip penting ini, maka setiap khidmat yang mereka lakukan, sudah pasti akan mendapat keuntungan dalam kehidupan personal walaupun mungkin mereka tidak mampu menggapai kesuksesan dari segi materi.

B. SESUAI DAN MENGIKUTI SUNATULLAH
Hal lain yang juga diperlukan guna meraih inayat Ilahi adalah mengikuti sunatullah. Allahﷻ menciptakan kita lewat tabir berbagai sebab. Sedangkan perkembangan nama Allahﷻ al-Qudrah akan dimanifestasikan di akhirat. Di akhirat, segala sesuatu terjadi dengan sangat mengagumkan dan hal-hal menakjubkan senantiasa berlangsung disana. Sedangkan dunia ini merupakan alam hikmah sehingga segala sesuatunya terbungkus oleh tabir sebab. Mengabaikan tabir sebab walaupun sebab-sebab itu nyata tidak lain merupakan tindakan jabariah.
Jika demikian, maka sebab demi sebab harus dengan sensitif diikuti dan gerakan demi gerakan harus disusun tanpa cela sesuai dengan sebab-sebab yang berlaku, sehingga mereka yang mengamatinya akan berkata: “Orang-orang ini tidak lain adalah orang-orang yang mencintai sebab-sebab”. Mereka juga harus bertawakal dan bertawajuh kepada Musabbibul Asbab, yaitu Allahﷻ, sembari menihilkan sebab-sebab, sehingga kali ini orang-orang yang menyaksikannya akan berkata: “Mereka seperti jabari yang tidak menerima satupun sebab dan menyerahkan segala-galanya kepada Allahﷻ.” Perilaku yang seperti ini merupakan sesuatu yang amat penting dalam menjaga keseimbangan antara hubungan dengan Sang Musabbibul Asbab dan sebab-sebab yang diciptakanNya.
Kita juga dapat menyaksikan keseimbangan ini pada kehidupan Baginda Nabi. Baginda Nabi di perang yang satu dan di medan perang lainnya senantiasa membangun benteng-benteng kokoh dan mengenakan dua lapis baju zirah.[2] Contoh ini dan juga banyak contoh lainnya menunjukkan betapa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mengikuti sunatullah dalam derajat yang luar biasa sensitif. Di sisi lainnya beliau juga mengangkat kedua tangannya untuk berdoa dan bermunajat: “Ya Allah, janganlah Engkau datangkan kekalahan bagi pasukanku ini!”. Seakan beliau tidak melakukan persiapan apa-apa. Dengan demikian, kehalusan dan ketelitian Baginda Nabi dalam mengikuti sunatullah serta kepasrahan totalnya kepada Sang Musabbibul Asbab telah sampai pada titik koheren. Ya, beliau telah sampai pada titik koheren dan dengan demikian telah berhasil menjaga keseimbangan sebagai penggambaran dari pemahaman tauhid hakikinya yang sempurna.

C. KEBERLANGSUNGAN DAN KONTINUITAS
Salah satu dinamika terpenting yang perlu dikerjakan demi diraihnya inayat Ilahi adalah keberlangsungan serta kontinuitas usaha dan upaya seseorang dalam mencapai tujuan yang diharapkannya. Perlu diingat juga betapa banyak sosok yang memulai pekerjaan ini dengan penuh kebanggaan, namun tiga langkah kemudian disebabkan oleh kelelahan, kebosanan, kejenuhan, serta ditinggalkannya aktivitas suci ini karena merasa ia tidak berbeda dengan aktivitas lainnya tepat sesaat sebelum datangnya masa ‘panen’, lalu mereka pun tergusur dan hanya menjadi sesuatu yang tak lebih dari sekedar secuil penggalan sejarah belaka.

D. PEMUFAKATAN DAN PERSATUAN
Selain tiga sarana yang telah disebutkan sebelumnya, pemufakatan dan persatuan adalah sebuah sarana yang amat penting guna menggapai inayat Ilahi. Walaupun kekuatan setiap individu yang berkumpul bersama ataupun kemampuan suatu masyarakat yang berkumpul bersama, kekuatannya tak diragukan lagi. Hal ini adalah sebuah fakta bahwasanya anugerah Allahﷻ kepada suatu jamaah lebih besar dibandingkan dengan kumpulan andil dari setiap individu yang berkumpul dalam satu kesatuan tersebut. Karena Allahﷻ telah menyatukan syarat terwujudnya kesuksesan pemakmuran dunia dan tersebarnya ruh Sang Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dengan perjuangan kaum mukminin yang terbungkus dalam pemufakatan dan persatuan. Maka saat ia – pemufakatan dan persatuan – diabaikan, walaupun kumpulan mukminin tersebut diisi oleh sosok-sosok agung dan intelek seperti Imam Hasan Syadzili, Imam Ahmad Badawi, dan Syekh Abdul Qadir Jailani, kesuksesan tidak akan mungkin bisa dicapai. Ya, Allahﷻ telah mensyaratkan pemufakatan dan persatuan untuk tercapainya kesuksesan tersebut. Anugerah Allahﷻ yang luas kualitasnya melebihi ke-qutb-an[3] dan ke-ghauts-an[4]. Hal ini sebagaimana diisyaratkan dalam firman Allah: يَدُ اللهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ “Tangan Allahﷻ berada di atas tangan mereka”[5] serta sabda Baginda Nabi: “Inayat dan kodrat Ilahi ada bersama jamaah”[6]. Maka dari itu sebagaimana telah diterangkan sebelumnya, permohonan terbaik guna dikabulkannya pertolongan dan inayat Ilahi adalah pemufakatan dan persatuan.
Kesimpulannya, barangsiapa yang ingin meraih inayat Allahﷻ, maka dia harus mengikuti nasihat-nasihat ini; khidmah-khidmah yang akan dikerjakan harus dijalankan di atas petunjuk dan bimbingan ini.

(Diterjemahkan dari artikel berjudul ‘Hizmette Üslup’ Dari Buku Prizma 4)

EVALUASI
Apa hubungan inayah Allah dan tawajuh kepadaNya?
Apakah yang dimaksud dengan sunnatullah? Jelaskan!
Sebutkan empat langkah untuk mendapatkan inayah Ilahi!

mengembangkandiri.com pexels-eugene-golovesov-14762148

CARA MENGHINDARI DOSA

Pertanyaan: Apa saja yang harus kita perhatikan terhadap sebuah dosa?                                   Apa langkah-langkah kita untuk bertaubat dari dosa-dosa?

Taubat adalah benteng perlindungan kita yang paling besar ketika kita berhadap-hadapan dengan dosa. Dalam hal ini, kita sangat perlu memperhatikan hal-hal berikut untuk kehidupan kalbu dan jiwa kita:

1. REAKSI DI HADAPAN DOSA

Hal ini berkaitan erat dengan keadaan ruhani manusia pada saat itu. Kadang hal seperti ini terjadi. Yaitu ketika Anda melakukan dosa, maka kepala Anda tertunduk, lalu Anda mulai berdoa dan memohon-mohon agar dosa Anda diampuni. Terkadang juga, tangisan dan rintihan yang Anda lakukan tidak juga menenangkan kalbu Anda. Teriakan yang Anda suarakan pun tidak dapat memadamkan api di dalam hati Anda. Tapi semoga saja rasa sedih yang selalu mengganggu batin Anda untuk sebuah taubat akan lebih makbul dan lebih valid di sisi Allahﷻ.

Ketika melewati pasaran dan pekan, jika tanpa disengaja mata Anda tergelincir dan membuat Anda berpikiran seperti ini: “Aduh! Apa yang telah kulakukan! Harusnya aku bertawajjuh kepada Allahﷻ di setiap saat sebanyak partikel tubuhku, aku malah melihat sesuatu yang tidak seharusnya dilihat dan berbuat dosa. Sedangkan aku bisa saja menutup mata. Harusnya aku bisa memilih jalan yang lebih selamat dan aman meskipun jalannya jauh dst.” dan Anda segera menghamparkan sajadah serta bersujud sembari merintih memohon ampunan atau dengan kesedihan yang menyelimuti batin membuat dunia Anda semakin menghimpit, artinya pada saat itu Anda telah mencapai taubat yang hakiki. Ya. Taubat sebenarnya adalah sebuah penyesalan dan api yang membara di dalam hati.

Dalam hal ini yang terpenting adalah mampu menerima dan menganggap hidup bersama dosa-dosa sama dengan hidup bersama ular dan kelabang. Pandangan seorang Mukmin terhadap dosa adalah seperti ini dan harus seperti ini. Sebaliknya, ini berarti ia memiliki keraguan atas akibat dan konsekuensi dari dosa.

Kemampuan untuk merespon setiap dosa dalam bentuk perubahan arus dan perputaran darah di dalam ritme dan pembuluh darah hati dengan sebuah penyesalan batin adalah sangat penting.

2. DOSA BERUMUR PENDEK

Ketika Anda jatuh pada sebuah dosa dan terpeleset dalam atmosfer dosa, maka Anda harus segera bangkit dan melakukan pembersihan diri dengan taubat dan istighfar. Anda harus segera membersihkan diri dan mestinya tidak menunda-nunda. Karena satu jam setelahnya tidak ada dalil dan kepastian bahwa kita tidak akan menghadap ke hadirat Rabb. Jiwa-jiwa yang bersih tidak akan mendapatkan kenyamanan dan tidak akan bisa tidur jika tidak membersihkan dulu dosa-dosa yang telah diperbuatnya.

Meskipun memberikan kesempatan selama satu detik untuk sebuah dosa, sama dengan melakukan sesuatu yang menyerang diri sendiri. Dan yang terpenting dari ini adalah berusaha menunjukkan rasa hormat terhadap ketidak-adaan rasa hormat kepada Allahﷻ. Tidak ada hak untuk melakukan sebuah dosa bahkan untuk sedetik pun. Karena jika tidak segera dihapus dengan taubat, dosa akan seketika berubah menjadi seekor ular beracun yang menggigit kalbu. Dan ketika hati telah ternodai sekali, maka kalbu akan terbuka untuk noda-noda yang baru. Dengan demikian manusia akan jatuh ke dalam ruangan keburukan. Setiap satu dosa melahirkan dosa baru yang lain. Pada akhirnya rahasia ayat, “Tidak, tidak, kalbu mereka telah berkarat.” (QS. Al Muthaffifin 83/14) akan muncul.

Oleh karena itu, perasaan dan pemikiran yang ada dalam diri manusia harus ditarik ke pemahaman ini. Menjelaskan hakikat kepada mereka dan berusaha menyadarkan mereka di hadapan dosa-dosa adalah suatu hal yang sangat penting. Bahkan jika Anda memiliki kekuatan yang mencukupi atau sebuah makam kewalian pun, Anda harus menunjukkan sisi buruk dari sebuah dosa. Hal ini harus dilakukan, hingga Anda benar-benar dapat menghentikan mereka untuk melakukan dosa tersebut.

Ya, orang-orang yang memiliki kalbu yang terjaga dan jiwa yang peduli seolah-olah seperti orang yang mencium bau aneh ketika sedang dekat dengan setiap dosa.

3. MEMBENCI DOSA

Salah satu hal terpenting dalam taubat yang akan kita lakukan adalah melihat dosa dengan kebencian.  Jika dosa tersebut tidak dibenci, maka keinginan untuk menghindari dosa tidak akan pernah terlihat seperti menghindar dan lari dari ular maupun kelabang. Ketika tidak bisa lari dari dosa maka taubat dengan keinginan dan kesungguhan kuat untuk tidak melakukan dosa pun tidak mungkin terjadi. Misalnya, ada sebuah vas kristal yang sangat langka di tangan Anda. Kemudian Anda menjatuhkannya dan pecah. Anda pun akan sangat menyesali dan merintih karenanya. Sama seperti itu. Setiap dosa yang Anda kerjakan akan mengotori dan memecahkan lentera kehidupan Anda. Maka setidaknya Anda perlu bisa merasakan pengaruh seperti pecahnya sebuah kristal materi, ketika berhadapan dengan sebuah dosa. Jika tidak Anda berarti meremehkan dan mengabaikan sebuah dosa.

4. KESEIMBANGAN DOSA DAN TAUBAT

Dosa sangatlah dalam, kotor, dan menjijikkan. Setiap dosa memerlukan taubat yang setimpal. Karena setiap dosa seperti jatuh ke dalam sumur yang penuh dengan kotoran. Sangatlah mudah untuk jatuh ke dalam sumur seperti ini. Namun membutuhkan usaha yang besar untuk mentas darinya.

5. MELIHAT SEBUAH DOSA SEBAGAI DOSA

Setiap pemikiran yang terlintas di benak kita tentang kritikan pada hukum dosa paling tidak sama seperti mengerjakan dosa itu sendiri.

Misalnya, seseorang yang melakukan perzinahan, suatu waktu terlintas: “Mengapa Allah melarang zina? Betapa indahnya kita menikmatinya!” atau seseorang yang terbiasa makan dan minum tanpa mempertimbangkan halal-haram berpikiran, “Andai saja tidak ada hak manusia, alangkah indahnya!” adalah dosa yang lebih besar daripada melakukan dosa tersebut.

Oleh karena itu kita perlu mengambil sikap tegas terhadap dosa. Kita harus menanamkan prinsip seperti ini: “Hai dosa, kau tidak perlu lelah-lelah. Pintu-pintu telah terkunci. Kau tidak akan bisa masuk!”

Dalam hal dosa perumpamaan yang telah disampaikan Ustaz Badiuzzaman sangat penuh dengan makna: “Larilah kamu dari dosa seperti kamu lari dari ular maupun kelabang. “Mengapa menggunakan ungkapan ular dan kelabang, tidak menggunakan ungkapan kata singa dan harimau yang bahkan sangatlah menarik. Karena, singa dan harimau akan menyerang dengan berani dan gagah. Sebelum kedatangannya Anda bisa merasakan dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan. Tapi ular dan kelabang tidak seperti itu. Kapan dan dari mana mereka menyerang tidak diketahui dengan jelas. Maka seperti itulah dosa, licik seperti ular dan kelabang.

Kesimpulannya, selalu waspada dan sadar terhadap dosa-dosa. Jangan pernah lupa: Kewaspadaan terhadap dosa sama dengan kesetiaan kepada Allahﷻ.

Kita bisa melihat permasalahan dosa sebagai dosa dalam hadis, “Adznaba ‘abdii dzanban”.  Yaitu, hadis yang menjelaskan bahwa seorang hamba mengerjakan dosa berkali-kali dan Allahﷻ pun akan mengampuni setiap ia melakukan itu. Maksudnya: “Zanb” dan “Zanab” berasal dari satu akar kata yang sama. Zanb artinya dosa. Sedangkan Zanab artinya ekor. Dengan begitu: Seorang hamba yang berkata, “Ya Rabbi aku telah melakukan dosa.” “Ya Allah, aku kembali memperpanjang ekorku. Dalam kondisiku yang seperti ini lihatlah aku, baik aku sebagai seekor rubah yang berekor atau seekor kalajengking yang menyengat manusia, ataupun seekor ular yang merupakan ekor itu sendiri! Itulah aku.” Yaitu seorang hamba mengakui dosanya. Tingkatan manusia yang mulia dan diberikan kepadanya seolah dilempar ke sebuah sudut dan terhina. Ia mengakui dirinya telah menjadi hewan dan jatuh ke tingkatan ini.

Sedangkan orang yang telah melakukan dosa dan tidak menyadarinya, ia sebenarnya telah mendapatkan tamparan “kal an’ami balhum adhall” (QS. Al A’raf 7/179) dan terjatuh pada tingkatan yang lebih rendah dari hewan. Pada sebuah hasil survei di kalangan anak muda di Eropa di tahun-tahun sebelumnya menggambarkan sebuah perumpaan yang cocok dengan hal ini. Dalam hasil tersebut, spesifikasi yang dimiliki anak muda Eropa sama dengan spesifikasi anjing jalanan yang liar. Karena sesungguhnya jalan dan cara selain hakikat akan membawa pada hasil di luar hakikat…

(Diterjemahkan dari artikel yang berjudul ‘Günahlardan Çıkış Yolları’ Dari buku ‘Prizma – 1’)

mengembangkandiri.com aleksey-kuprikov-MfAdjCfInz0-unsplash

JALAN DALAM MELAYANI KEBENARAN KETIKA MENGHADAPI RINTANGAN

Tanya: Pada kondisi saat ini, kita melihat bahwa orang-orang yang sibuk dalam kegiatan amal salih dan melayani kebenaran seringkali diserang. Tujuan serangan tersebut adalah untuk memfitnah dan mengaburkan kebenaran. Bagaimana seharusnya para pegiat amal salih menyikapi hal ini?

Jawab: Orang-orang yang meniti jalan untuk melayani kebenaran, harus terlebih dahulu menerima kenyataan berikut ini. Sama seperti yang terjadi di zaman dahulu dan hari ini juga masih terjadi, orang-orang dengan sifat buruk seperti kebencian, iri hati, dan intoleransi akan menyatakan orang-orang yang tidak berpikir seperti mereka sebagai musuh. Mereka akan terus menyerang di sana-sini dan mengungkapkan kedengkiannya kepada orang lain dalam berbagai bentuk. Hal itu dilakukan demi melindungi kepentingan mereka. Bagaimanapun juga, jiwa-jiwa yang berdedikasi harus senantiasa bertawakkal, berserah diri, serta berlindung kepada Allahﷻ. Mereka harus senantiasa memfokuskan seluruh tindakan mereka untuk memperoleh rida Allahﷻ. Mereka harus selalu menapaki jejak Rasul-Nya dan harus terus berjalan di jalur yang benar dengan hati nurani yang mulia untuk merangkul seluruh umat manusia, tanpa tergoyahkan meski menghadapi segala kejahatan dan hambatan yang terjadi.

Ketika menapaki jalan ini, terkadang Anda dikhianati oleh orang-orang yang Anda harapkan kesetiannya. Anda mungkin ditinggalkan oleh orang-orang yang pernah berjuang dengan Anda. Bahkan bisa jadi Anda secara tiba-tiba ditikam dari belakang oleh orang yang tidak pernah Anda sangka. Namun, Anda harus tetap teguh tak tergoyahkan pada jalan yang benar dan tidak terhalang oleh hal negatif seperti itu, dengan membuka pintu hati nurani yang baru. Dengan menggunakan beberapa strategi baru, Anda harus terus-menerus berusaha untuk menetapkan cakrawala hati nurani dan kelapangan jiwa Anda pada standar yang lebih tinggi.

PARA PEMBIMBING YANG JUJUR

Kita tengah melewati sebuah era kekacauan yang mana telah disebutkan dalam buku hadis di bab “Fitan wal Malahin”, dimana telah dijelaskan bahwa akan terjadi fitnah yang amat besar dan mengerikan, pergolakan dan kekacauan yang bertubi-tubi, serta penipuan dianggap sebagai sebuah hal yang lumrah. Dalam periode ini, ada kebutuhan mendesak akan para pembimbing yang tulus, tidak menipu atau tidak menyesatkan orang; yaitu pembimbing yang akan senantiasa menghembuskan rasa aman di lingkungan sekitarnya. Jadi apa yang perlu Anda lakukan adalah memberikan manusia sebuah pelajaran untuk “tidak menipu,” dengan cara tidak pernah mengelabui siapa pun dengan kata-kata manis, mimik dan juga sikap Anda. Jika ada orang atau pihak yang mengawasi Anda selama berpuluh-puluh tahun, mereka tidak akan dapat menemukan satu pun indikasi dari Anda untuk menipu.

Ini adalah fakta bahwa di masa sekarang begitu banyak orang yang mengejar ambisi duniawi. Oleh karena itu, Anda mungkin mengalami kesulitan dalam membuat orang lain mengerti Anda secara benar. Mereka akan memposisikan Anda layaknya diri mereka dan berpikir bahwa Andapun mengejar keduniawian sebagaimana mereka. Mereka mengira bahwa Anda memiliki maksud-maksud terselubung ketika Anda membuka sekolah dan pusat-pusat budaya, merangkul seluruh umat manusia dengan cinta, serta ketika Anda berusaha menyatukan dan membawa perdamaian bagi berbagai pihak dari latar belakang budaya yang berbeda. Karena setiap tindakan yang mereka lakukan adalah untuk mendapatkan keuntungan duniawi, mereka pun mungkin berpikir bahwa Anda juga mengharapkan hal yang sama. Bahkan beberapa orang yang dekat dengan Anda, yang Anda cintai dan hormati, mungkin tertipu oleh kekhawatiran dan kecemasan tersebut. Dengan menafsirkan sikap dan perilaku sesuai dengan perasaan dan pikiran mereka sendiri, mereka dapat membuat arti yang berbeda dari tindakan Anda ini dan dengan demikian menganggap Anda sebagai ancaman bagi diri mereka sendiri. Namun, tanpa mempedulikan hal tersebut, Anda harus menjelaskan pada setiap kesempatan bahwa Anda tidak mempunyai motif lain kecuali untuk mendapatkan rida Allahﷻ dan menunjukkan hal tersebut dengan sikap dan perilaku Anda.

NIAT YANG BAIK

Sebuah hal yang mustahil bagi para pegiat amal yang menyebar ke seluruh penjuru dunia dimana mereka berusaha menciptakan dunia yang penuh cinta dan dengannya berupaya meraih rida Ilahi akan memiliki ambisi keduniawian. Para pegiat amal tersebut hanya mengarahkan pandangan mereka pada keridaan Allahﷻ dan dengan dedikasi mereka yang tulus telah bertekad untuk memperindah wajah dunia. Namun, jika mereka belum dapat merealisasikan rencana untuk mewujudkan dunia yang penuh kasih sayang dan perdamaian, mereka akan tetap menjadi pahlawan dikarenakan niat mereka yang baik dan mereka akan mendapatkan balasan dari Allahﷻ. Seperti yang pernah disabdakan oleh Nabi yang mulia, Shalallahu Alaihi wassalam, “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan apa yang diniatkannya.” Oleh karena itu, faktor yang benar-benar penting bagi seseorang adalah ketulusan dan nilai dari niat mereka. Allahﷻ akan membalas seseorang dengan ganjaran di akhirat sesuai dengan tulusnya niat dan hati nurani seorang manusia.

Sebagai contoh, Anda memulai perjalanan Anda dengan niat untuk menciptakan perdamaian di seluruh dunia dengan izin dan rahmat Allahﷻ. Ketika kondisi tempat yang Anda datangi kondusif, maka Anda tidak akan melamban akan tetapi usaha yang Anda lakukan malah akan jauh lebih meningkat. Namun, ada saatnya beberapa kendala muncul di hadapan Anda dan Anda hanya sanggup mencapai sepuluh persen dari target dan niat Anda. Dikarenakan niat Anda adalah seratus persen, maka Allahﷻ akan membalas seratus persen sesuai dengan niat Anda.

Dalam rangka mencapai hasil yang indah seperti itu, Anda harus tulus ikhlas dalam berusaha di atas jalan kebenaran. Bahkan pikiran-pikiran seperti, “Apakah mereka akan memberi kita jabatan sebagai balasan atas pelayanan yang kita lakukan?” tidak diperkenankan terlintas dalam benak Anda. Sebaliknya, apabila pikiran-pikiran semacam itu terlintas dalam benak Anda, Anda harus meyakini bahwa pikiran-pikiran itu adalah bisikan setan dan Anda harus segera menjauhkan diri dari hal tersebut.

Hal ini bukan berarti bahwa sebagian orang tidak akan dianugerahkan jabatan tertentu yang layak untuk diberikan kepada mereka. Tentu saja orang-orang yang layak akan mendapatkan jabatannya masing-masing. Namun, mereka yang mendedikasikan diri agar umat manusia menghirup udara kedamaian dan hanya mengharapkan rida Allahﷻ, seharusnya tidak mencari jabatan-jabatan untuk kepentingan duniawi belaka. Mereka seharusnya tidak terburu-buru untuk menerima ketika ditawari suatu jabatan. Bahkan misalnya saja ada tawaran menjadi menteri atau perdana menteri, mereka harus mempertimbangkan terlebih dahulu apakah tawaran tersebut baik untuk tujuan ideal mereka, baru kemudian memutuskan. Jika tidak, mereka akan mencemari niat tulus mereka dalam menempuh jalan ini. Mereka akan menghancurkan kesempatan untuk bisa menginspirasi orang lain dengan tangan mereka sendiri. Mereka pun akan kehilangan kepercayaan dan kredibilitas di mata orang lain.

Menurut saya, orang-orang yang memiliki cita-cita yang mulia jangankan memiliki harapan pangkat dan jabatan, bahkan jika terbesit keinginan untuk mewujudkan penaklukan dunia sekalipun itu adalah langkah mundur dari tujuan mulianya. Ya. Upaya penaklukan dunia bila dibandingkan dengan cita-cita mulia dengan menyelamatkan satu kehidupan abadi seorang manusia adalah seperti setetes air di lautan. Dalam hal ini, para pegiat amal dengan cita-cita mulia mereka harus menganggap cita-citanya sebagai pencapain terbesar untuk membantu menyalakan api-api kebaikan cinta dalam hati, menumbuhkan moralitas dan kebajikan dalam hati, dan untuk menjadi sahabat bagi semua orang. Mereka harus mendesain hidup mereka berdasarkan kemuliaan cita-cita ini tanpa membuang satu kesempatan pun dalam mencapainya.

(Diterjemahkan dari Kırk Testi artikel berjudul ‘Engellemeler Karşısında Hakka Hizmet Yolu’)