mengembangkandiri vintage-letter-background-2021-08-31-09-47-07-utc

Surat Cinta kepada Rasulullah SAW

Ketika sinar mentari mulai menyinari seluruh permukaan bumi, begitu pula dengan nama-Mu yang telah dirindu oleh penduduknya. Tersebar, menyiratkan kedamaian yang diamanahkan bagi para pewarisnya. Terbuka jalan menuju cahaya cinta dan kasih sayang dalam keabadian untuk para kekasih yang mengemban derita ini. Menerbangkan dua sayap patahnya agar bisa bertemu dengan-Mu.

Ya, akulah si pemilik dua sayap patah itu.

Aku, sosok hina yang tak pernah henti merindukan sinar wajah-Mu dalam mimpi-mimpiku. Aku, pribadi papa yang selalu mengharapkan tetesan cinta dari luasnya samudera kasih sayang-Mu. Meski aku bukanlah orang yang layak untuk menjadi butiran debu yang menempel pada jejak kaki-Mu yang mulia.

Meskipun begitu, aku tak akan putus asa.

Sebuah impian agung yang telah termanifestasi menjadi bukti lantunan cinta ini, ingin aku persembahkan pada-Mu. Sebuah rintihan nada rindu dari lubuk hati yang paling dalam, bahwa aku sangat mencintai dan begitu merindukan-Mu. Biarlah ini menjadi goresan dari sederet harapan agar aku bisa berjumpa dengan-Mu.

Wahai Rasulullah..

Harmoni rasa rindu akan sebuah hakikat sudah sejak lama hadir, bahkan sebelum aku mengenal-Mu. Melodi keindahan beserta kesempurnaan lirik yang kau lantunkan, tak hentinya menggetarkan jiwa ini, untuk melebur bersama dengan merdunya irama iman dan harapan. Kini sudah tiba waktunya untuk aku pergi bersama dengan impian agung ini, demi mengalunkan kemuliaan nama-Mu sebagai nada awal untuk melengkapi komposisi lantunan cahaya Islam.

Dengan rasa cinta ini aku ingin terbang bersama-Mu untuk menjelajahi nilai kemanusiaan yang haus akan hakikat kebenaran. Menyelam bersama kasih sayang-Mu demi meraih indahnya mutiara Islam yang mampu menerangi seluruh alam semesta. Berjalan, bersama melangkahkan kaki, agar dapat menempuh kedalaman iman yang mampu menembus keabadian. Berlari, bersama-Mu mencari dan menyelamatkan jiwa-jiwa yang terkoyak akan gemuruh dunia.

Wahai Rasulallah..

Aku selalu berharap untuk menjadi sosok yang mendampingi-Mu di setiap waktu dan tempat. Yang selalu membuktikan cintanya dengan manifestasi luhur keimanan dan ketakwaan mereka. Dengan kemuliaan agung, mereka yang tak pernah henti untuk melukiskan pancaran sinar benderang ke dalam kalbu setiap mukmin dengan pena iman dan warna-warni aksi luhur dari kuas yang telah mereka goreskan. Merekalah sosok-sosok seperti, Abu Bakar Ash-Shidiq, Umar bin Khatab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Mushab bin Umair, Khalid bin Walid, Hamzah bin Abdulmuttalib.

Sudah sejak lama kita merasa dahaga yang begitu dalam akan contoh luhur mereka yang meneladani-Mu. Semoga pancaran iman, kedamaian Islam, dan dimensi ihsan yang dimanifestasikan sebagai tugas dakwah oleh orang-orang yang mencintai-Mu, meski sebenarnya mereka belum pernah melihat-Mu, dapat menjadi oase bagi kerinduan mereka untuk bisa berjumpa dengan-Mu. Tentunya jika kita dan mereka juga mampu dengan yakin berucap,

Ya Allah, kami sudah siap untuk tidak pernah kenyang dalam memberikan setiap pengorbanan bagi dakwah ini dengan jiwa raga dan juga harta yang kami miliki.

mengembangkandiri mountain-sunrise-5WMXRKU

Keikhlasan

 

Shalawat

Keikhlasan,

Yang dimaksud dengan keikhlasan adalah melakukan atau meninggalkan sesuatu hanya karena Allah. Para nabi adalah orang orang yang telah mencapai tingkat keikhlasan tertinggi. Sejak mereka mulai misi yang mereka emban. 

Demikian juga orang kebanyakan dapat mencapai tingkat tertentu dalam keikhlasan. Asalkan mereka mau berusaha. Hanya saja, setinggi-tinggi tingkat keikhlasan yang mereka capai sebenarnya itu adalah tingkat keikhlasan terendah, dari yang dimiliki oleh para nabi. Sebab keikhlasan para nabi bagaikan permata. Itulah sebabnya mereka dijuluki dengan istilah Al Mukhlasun. Salah satu contoh ketinggian derajat keikhlasan para rasul ini dinyatakan oleh Al Quran dalam ayat yang menyebut nama Musa a.s. 

Dan ceritakanlah hai Muhammad kepada mereka kisah Musa di dalam al kitab Al Qur’an ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang mukhlas serta sekaligus seorang nabi dan rasul. (Q.S. Maryam19; 51)

Demikian pula dengan nabi Yusuf a.s. “Sesungguhnya yusuf itu termasuk hamba hamba kami yang mukhlas. (Q.S. Yusuf 12; 24)

Allah bahkan berfirman kepada Rasulullah Muhammad SAW. 

Sesungguhnya, kami menurunkan kepadamu kitab Al Quran dengan membawa kebenaran. Maka sembahlah allah dengan memurnikan atau mukhlis ketaatan kepada nya. (Q.S. Az Zumar 39; 2)

Dan Allah Pernah meminta Rasulullah SAW untuk mengingat-Nya. Dengan sebuah firman.

Katakanlah, hanya Allah saja yang aku sembah dengan memurnikan mukhlis ketaatan kepada Nya dalam menjalankan agama-Ku. (Q.S. Az Zumar 39; 14)

Alasan manusia untuk beribadah adalah karena adanya perintah allah. Sementara buah yang dipetik dari ibadah adalah keridhoan Allah dan balasan di akhirat. Ibadah seperti ini yang dapat menjaga kualitas kehidupan seseorang secara sempurna. Dan akan tercermin pada seluruh tingkah laku dan perbuatan orang yang bersangkutan. Said An Nursi sang mufakir Al Ashr pemikir zaman ini. Ia memahami betul arti keikhlasan pernah menyatakan sebagai berikut.

Wahai diriku. Jika kau tak mau jadi orang bodoh dan tolol, maka memberilah dengan nama allah. Ambillah dengan nama allah. Mulailah dengan nama allah. Dan berbuatlah dengan nama allah. Wassalam. 

Keikhlasan adalah tanda orang yang lurus. Orang yang ikhlas, tidak akan menempuh jalan yang menyimpang. Karena kehidupan rohani seseorang yang ikhlas adalah sebuah kehidupan yang benar benar lurus dan selalu naik derajatnya ke tingkat yang lebih tinggi. Apalagi orang orang ikhlas seperti itu pasti akan selalu menjaga kesucian dari keikhlasan yang menjadi titik sentral hidup mereka. Tetapi alangkah sedikitnya orang orang yang seperti itu. 

Ada satu sosok unik di sepanjang sejarah manusia yang berhasil mencapai puncak keikhlasan tertinggi, sehingga tidak ada lagi yang lebih tinggi darinya.

Sosok istimewa itu adalah, Rasulullah SAW.

Betapa tidak? Rasulullah adalah sosok yang kondisi keikhlasan dan kerendahan hatinya. Di saat mulai berdakwah sama persis dengan kondisi keikhlasan dan kerendahan hati beliau di saat peristiwa penaklukan Mekah. Rasulullah berhasil menaklukkan Mekah melalui jalan damai. Tentu saja hal ini akan kita sepakati jika kita mengenyampingkan beberapa insiden di beberapa sudut Mekkah yang tidak dapat kita generalisir sebagai sebuah penyerangan. 

Ketika Rasulullah SAW sang kebanggaan semesta memasuki kota Mekah yang beberapa tahun sebelumnya beliau pernah diusir darinya. Rasulullah tidak masuk dengan sikap sebagai seorang Panglima yang baru berhasil menundukkan sebuah kota. Alih-alih justru Rasulullah memasuki Mekah dengan kepala menunduk sampai sampai nyaris menyentuh punggung bagal yang beliau kendarai. 

Demikian pula ketika tinggal di Madinah. Rasulullah SAW sama sekali tidak berubah, suatu ketika para sahabat pernah bangkit berdiri untuk menunjukkan penghormatan. Para sahabat menganggap bahwa bentuk penghormatan seperti itu amat pantas diberikan kepada Rasulullah. Sebab Rasulullah selalu bangkit berdiri sebagai bentuk penghormatan ketika ada keranda mayat yang diusung lewat di depan beliau. Akan tetapi, Rasulullah sama sekali tidak suka para sahabat berdiri menyambutnya. Beliau lalu berkata, janganlah kalian berdiri menyambutku seperti yang dilakukan orang orang Ajam. 

Demikianlah, Rasulullah SAW telah memangkasi tugas mulia yang dipikulnya dengan sikap yang sama persis dengan sikap beliau di saat baru mulai berdakwah. Tahun demi tahun, berlalu bagaikan alunan irama merdu. Tak ada satu tindakan pun, yang dilakukan Rasulullah, melainkan beliau selalu berhasil mengakhirinya dengan baik. Semua itu tentu merupakan keberhasilan yang tak terbantahkan.

 Dapat dikatakan bahwa Rasulullah SAW memulai alunan senandung ilahi dengan nada lembut, tapi kemudian terus naik hingga menggetarkan seluruh jagat raya. Rasulullah, telah bersumpah, untuk membaktikan segenap jiwa dan ibadahnya hanya kepada Allah SWT. Itulah yang membuat jiwa Rasulullah SAW dilingkupi dengan ma’rifat terhadap allah. Siapapun dapat dengan mudah melihat jejak keagungan dan keluhuran akhlak beliau. Sebab jiwa Rasulullah selalu dipenuhi dengan berbagai kenikmatan rohani yang padat. Beliau selalu awas terhadap hakikat, dan hatinya selalu terbuka pada kebenaran. Tak pernah sedetik pun, Rasulullah SAW berhenti berzikir. Semua itu terjadi karena Rasulullah adalah pribadi yang ikhlas dan selalu berserah diri kepada Allah. Apalagi prinsip ihsan yang beliau ajarkan telah membuka dimensi baru bagi beliau. Ihsan yang dijelaskan oleh Rasulullah lewat sambil terkenal. Kau beribadah kepada Allah. Seakan akan kau melihatnya. Tapi jika kau tidak mampu melihat nya, maka sesungguhnya dia melihatmu. 

Cahaya abadi Muhammad SAW Kebanggaan umat manusia -Hoca  Efendi. 

 

mengembangkandiri.com-universe

Kehidupan di Luar Dunia Kita

Apa itu Malaikat?

Percaya kepada para malaikat merupakan salah satu rukun iman. Malaikat adalah makhluk yang diciptakan dari cahaya, tanpa jenis kelamin dan diciptakan oleh Allah untuk selalu tunduk pada perintah-Nya.

Dalam Al-Qur’an, Allah menyebutkan dan menjelaskan, bahwa beriman kepada para malaikat termasuk diantara rukun-rukun iman: “Rasul (Muhammad) beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya (Al-Qur’an) dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semua beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya” (al-Baqarah 2:285).

Apakah Keberadaaan Malaikat Dapat Dibuktikan?

Ada ribuan bentuk dan ragam wujud kehidupan di planet kita, yang mana itu semua hanyalah ruang kecil dalam alam semesta. Pertanyaan berikut mungkin timbul pada benak kita dikarenakan hal tersebut:

Dalam situasi sekarang kita hidup di bumi, namun mungkinkah ada bentuk kehidupan atau ragam makhluk lain yang dapat hidup dengan kondisi lingkungan di bintang, planet, atau tata surya lain yang jauh berbeda?

Dengan tergesa-gesa menjawab “Tidak”, dalam menanggapi pertanyaan semacam ini dapat menimbulkan pemikiran yang lebih salah arah.

Sama sekali tidak masuk akal dengan hanya membandingkan segala bentuk dan jenis kehidupan dengan apa yang ada di dunia kita saja, dan hanya memandang planet dan makhluk dimensi lain sebagai kerangka kosong tak bernyawa.

Seperti inilah kondisi kita selama ini, akan lebih bijak bagi kita, apabila kita mempercayai tentang pesan yang telah dibawa oleh para nabi kepada kita tentang hal-hal seperti ini.

Dengan menggunakan sebuah perumpamaan, permasalahan seperti ini akan lebih mudah untuk dijelaskan: 

Mari kita misalkan ada seorang raja yang memiliki harta dan karya seni yang tidak terhitung banyaknya. Sang Raja membangun sebuah kota, tak lupa, dengan berbagai istana yang tak tertandingi kemegahannya. Sang Raja juga membangun sebuah gubuk kecil yang dibangun di salah satu sudut kota yang megah itu. 

Kita dapat dengan cermat mengamati aktivitas kehidupan dan keaktifan didalam bangunan kecil ini. Namun saat kita mengarahkan pandangan kita ke arah lain menuju ke istana-istana yang megah, kita tidak melihat siapapun di sana.

Ketidakmampuan kita melihat kehidupan di dalam istana yang megah tersebut mungkin disebabkan oleh tiga alasan utama, yaitu: Kita mengalami sejenis gangguan penglihatan, atau penghuni istana yang sedang menyembunyikan dirinya dari kita, atau memang benar bahwa di istana tersebut tidak ada penghuninya sama sekali.

Kemungkinan terakhir, yang menyiratkan bahwa dalam ribuan istana megah tersebut tidak ada kehidupan sementara di dalam gubuk kecil di sudut kota itu dipenuhi dengan kehidupan, bukanlah pandangan yang bijaksana bagi kita yang berakal sehat.

Maka dari itu, dikarenakan ada gangguan penglihatan yang menghalangi kita untuk melihat penghuni istana-istana itu, atau karena para penghuni disana yang sedang menyembunyikan dirinya dari kita (karena alasan yang kita tidak ketahui) adalah kemungkinan yang lebih mungkin.

Gubuk kecil pada analogi kota megah itu layaknya seperti dunia tempat kita hidup sekarang. Sedangkan istana-istana megah di kota itu adalah benda-benda langit dan makhluk dimensi lain di luar dunia kita.

Dari contoh ini, apakah masuk akal bagi seseorang yang menyaksikan langsung fenomena ribuan cahaya, warna-warni, dan berbagai suara dari luar sana beranggapan bahwa istana-istana tersebut hampa akan kehidupan? Apakah kita yang juga mengalami  hiruk pikuk dan roda kehidupan secara terus-menerus di sebuah titik kecil di sudut kota alam semesta ini layak mengira bahwa istana-istana megah alam semesta di luar sana itu hampa akan kehidupan? 

Tentu saja tidak. 

Ada kehidupan di sana, dan juga ada penghuni yang tinggal di dalamnya. Ketidakmampuan kita dalam melihat mereka yang tak terlihat tidak melenyapkan keberadaan mereka.

Yang Tak Terlihat Bukan Berarti Tidak Ada

Berkaitan dengan pembahasan ini, kenyataan bahwa malaikat tak dapat dilihat dan dirasakan dengan panca indera, tidak dapat dijadikan pembenaran untuk mengingkari keberadaan mereka. Ketidaktampakan mereka bukan berasal dari ketiadaan atau ketidakmampuan mereka untuk dilihat, tetapi dikarenakan oleh diri kita yang tidak memiliki kapasitas untuk melihat mereka.

Dengan kata lain, tak terlihatnya para malaikat adalah karena sifat metafisik dan immaterial mereka, yang membuat mereka berada di luar domain pengamatan dan pengetahuan eksperimental kita.

Bahkan jika kita tidak dapat menerima apa yang telah disampaikan kepada kita terkait hal ini, menahan diri untuk menolaknya secara langsung tampaknya menjadi jalan yang lebih bijaksana, karena pasti ada ahlinya sendiri yang berkaitan dengan hal ini. 

Ada ribuan individu di zaman kita, yang pernah secara langsung, dalam kehidupan pribadinya mengalami, menyaksikan atau mendengar langsung. Mereka menjadi saksi-saksi langsung dalam menggambarkan para malaikat, menceritakan kisah hidup jin, dan menjelaskan hal-hal spiritual, dan ada banyak kejadian lain yang pernah mereka riwayatkan.

mengembangkandiri.com-susu-sesuatu-yang-tak-terlihat

Percayakah Engkau dengan yang Tak Terlihat?

Saya hanya Percaya dengan Sesuatu yang Dilihat Mata Saya!

Seorang ateis bertanya kepada Imam Abu Hanifah, “Jika Allah memang benar ada, mengapa Dia tak terlihat?”

Beliau menimpali, “Mohon bawakan beberapa gelas susu, kemudian kita lanjutkan pembicaraan kita.” Si ateis tampak bungah setuju.

Jamuan pun tiba.

*Zaman itu, masyarakat Arab menggunakan sari tebu sebagai pemanis minuman, mengingat belum ditemukan gula layaknya sekarang. Alangkah baiknya jika sari tebu itu kita sebut sebagai gula dalam artikel ini. *

Si ateis mulai meminum susu. 

Imam Abu Hanifah menawarkan beberapa sendok gula kepadanya. Beliau dengan nada memerintah berkata, “Ambillah lagi!”

Karena sudah terasa manis tentu sang ateis menolak tawaran Beliau. “Terima kasih, tapi susu ini sudah manis. Apakah Anda bisa langsung saja menjawab pertanyaan saya di awal tadi?”, tanyanya dengan angkuh. 

“Tambahkanlah dulu gula di susumu, barulah kita lanjutkan berbicara.”

Sang ateis menjawab dengan suara lantang, “Saya sudah melakukannya!”

Sang imam sinis menimpali, “Aku tidak percaya.”

Dalam kondisi hati marah sang ateis bertanya, ” Mengapa?”

Dengan teguh Beliau menjawab, “Saya tidak percaya terhadap sesuatu yang tak terlihat.”

Sang ateis kukuh mendebat, “Bagaimana Anda melihat gula yang sudah tercampur dengan air susu? Memang saya tidak bisa menunjukkannya. Jika Anda meminumnya, pasti terasa manis. Mengapa Anda malah bertanya demikian? Bisakah Anda menjawab pertanyaan saya diawal tadi saja?”

Abu Hanifa, “Anda tidak memberiku kesempatan menjawab. Anda justru menjawabnya sendiri.”

“Apa maksudnya?”

Sang imam menjelaskan, 

“Gula dalam susu memang ada namun tak terlihat, demikian halnya dengan Allah SWT. Mustahil bagi manusia untuk melihat gula dalam susu dengan mata telanjang. Manusia hanya dapat mengetahui dengan merasakannya, bukan dengan melihatnya. Bukankah banyak hal di alam semesta yang tak kasat mata, namun masih bisa diketahui keberadaannya melalui panca indera?

Diri manusia terlalu rendah untuk melihat wajah Allah jika melihat rasa manis gula dalam segelas susu saja tidak sanggup. Mata manusia terbatas. Manusia mampu mengetahui kekuasaan Allah melalui kreasi ciptaan-Nya yang indah luar biasa. Manusia merasakan-Nya dalam pikiran dan hati.”

Siapakah yang Menciptakan Allah?

Sekelumit pertanyaan yang mengandung kesalahan logika.

Tiada yang menciptakan Allah.

Sifat-Nya mengungkapkan bahwa Ia Maha Berdiri Sendiri, tidak membutuhkan  apapun. Misal sesuatu bergantung pada suatu hal, tentu tidak dapat dikatakan berasal dari keilahian.

Allah-lah yang menciptakan semua makhluk. Pertanyaan perihal pencipta Sang Maha Kuasa merupakan kesia-siaan belaka yang nanti berujung kepada siklus sebab-akibat tanpa ujung.

Logika dan nalar dapat memahami bahwa setiap orang  harus menempatkan suatu entitas yang mampu berdiri sendiri dengan kemandirian mutlak yang tak membutuhkan apapun dalam urutan teratas, bukankah demikian? 

Coba pahami analogi dengan contoh konkret dalam kehidupan nyata berikut:

Tatkala melihat sebuah kereta bergerak bagai kilat, tampak gerbong kereta ditarik mengikuti gerbong depannya. Sampailah pada bagian mesin utama yang disebut lokomotif. Siapakah gerangan yang menghidupkan dan mengendalikan lokomotif terdepan? Bukankah demikian merupakan sesuatu yang tak masuk akal?

Lokomotif merupakan penggerak utama gerbong kereta, namun ia tetap mampu menggerakan diri sendiri. Demikian halnya dengan Allah, yang menjadikan semua orang beriman menyebut-Nya Allah.

Ibarat kursi dengan dua kaki saja, yang pasti tidak dapat berdiri sendiri. Mari bayangkan semisal kursi dengan dua kaki itu bersandar pada kursi dengan dua kaki yang lain, tetap saja mereka tidak mampu berdiri sendiri. Berapapun banyaknya jumlah kursi dengan dua kaki tersebut, tetap saja tak dapat berdiri tegak sendiri kecuali hingga ada sandaran kursi dengan empat kaki atau kursi yang mampu berdiri sendiri di ujungnya.

Ketika salat berjamaah misalnya, tentu makmum harus mengikuti sang imam. Lantas siapakah sosok yang diikuti imam? Sang imam tentu tidak mengikuti siapapun. Sebaliknya, jika kasusnya imam memiliki seseorang yg diikuti saat salat berjamaah, pasti dia bukanlah imam, namun dia pasti bagian dari makmum.

Seorang tukang kayu sama sekali tidak menyerupai meja yang dia buat. Tak ada kemiripannya. Demikian dengan Allah, tidak ada yang menyerupai-Nya,  tiada bandingannya. Meja tentu tidak dapat berpindah dengan sendirinya. Tukang kayulah yang dapat berbuat demikian.  Manusia tidak akan hidup dengan sendirinya, berbeda dengan Sang Maha Hidup.

mengembangkandiri.com-jembatan

Kisah Jembatan yang Terbangun Sendiri

Bisakah sebuah jembatan membangun dirinya sendiri?

Saat Imam Abu Hanifah masih muda, datang seorang saudagar majusi mengunjungi kota Basrah untuk berdagang. Si pedagang gemar memprovokasi orang-orang muslim dengan ucapannya, “Aku menyembah api. Api itu nampak, maka aku percaya padanya. Tampakkanlah kepadaku Allah yang kalian sembah itu. Kalian jelas tidak dapat melakukannya karena Dia tidak ada. Bawalah ulama-ulama kalian ke sini dan aku akan membuktikan bahwa Dia tidak ada.”  

Beberapa  masyarakat muslim di wilayah itu menantang si pedagang dengan berkata, “Jika Anda bisa membuat Abu Hanifah sepakat dengan ucapan Anda atau Anda berhasil mematahkan argumen-argumen Beliau, maka kami akan membawakan ulama-ulama ternama ke sini untuk beradu argumen dengan Anda.”

Melihat Abu Hanifa yang masih begitu muda, orang majusi itu meremehkannya dengan berkata: “Seorang anak kecil ini?! Aku tidak akan membuang waktuku dengan mendebat anak kecil!”

Akan tetapi, disebabkan oleh dorongan masyarakat di sana maka si majusi dan Abu Hanifah memutuskan untuk berdebat di masjid esok hari selanjutnya.

Ternyata Abu Hanifah datang terlambat hari itu, sehingga si majusi mengolok-oloknya: “Lihatlah, dimana anak kecil kemarin? dia takut untuk datang ke sini. Aku tidak ingin berdebat dengan anak-anak. Cepat panggil ulama-ulama besar kalian ke sini!”

Semua yang hadir sedikit panik dan khawatir. Tiba-tiba, Abu Hanifah akhirnya datang dengan pakaian yang basah kuyup karena keringatnya.

“Saya mohon maaf karena terlambat! Saya tadi sedang berada di seberang sungai. Tidak ada perahu yang bisa saya pakai untuk menyeberanginya. Maka saya perintahkan pepohonan di tepi sungai untuk berubah menjadi sebuah perahu agar saya dapat menyeberang. Pohon-pohon itu menuruti perintah saya, berubah menjadi perahu, dan saya akhirnya bisa datang ke tempat ini. Itulah mengapa saya terlambat. Saya mohon maaf!”

Sambil tertawa terbahak-bahak, si majusi berucap: “Apakah kalian mendengar apa yang anak kurang waras ini kisahkan kepada kita? Bagaimana mungkin pohon terangkai menjadi sebuah perahu dengan sendirinya?”

Mendengar pendapat orang itu, Abu Hanifah menjawab: “Anda berasumsi bahwa sebuah perahu tidak mungkin dapat dibuat tanpa ada pembuatnya. Lalu, bagaimana mungkin Anda percaya bahwa seluruh semesta bisa eksis tanpa ada pembuatnya?

Masyarakat yang hadir sepakat dengan yang Abu Hanifah jelaskan. Hanya saja, si majusi masih berargumen:

“Lalu, mengapa Allah tidak dapat dilihat? Semua benda yang eksis pasti terlihat.”

Abu Hanifah lalu menanyai orang itu: “Apakah Anda mempunyai akal?”

“Sudah pasti punya,” jawabnya. 

“Kalau begitu tunjukkanlah pada kami!” desak Abu Hanifah.

Seketika dia terpaksa mengakui, “Aku tidak bisa menunjukkannya.”

Balas Abu Hanifah: “Mungkin Anda tidak mempunyainya! Ya, beberapa entitas seperti ruh dan akal tidak bisa kita lihat, tetapi eksistensinya dapat kita rasakan, artinya tidak semua entitas itu harus dapat dilihat oleh mata manusia.”

Demi menunjukkan kesepahaman mereka dengan penjelasan Abu Hanifah, masyarakat  yang hadir menyorakan syahadat dengan lantang.

Sedang lelaki majusi tadi menjadi semakin marah. Dia bertanya: “Allah sedang apa saat ini?”

“Turunlah dari mimbar dan saya akan menjawab pernyataan Anda setelah saya naik ke sana,” balas Abu Hanifah.

Ketika Beliau sampai di mimbar, Abu Hanifah menjelaskan: “Tepat saat ini Allah sedang membuat seorang bodoh sepertimu turun dari mimbar lalu menaikkan anak kecil sepertiku untuk memberi pelajaran kepada semua orang.”

Menyadari kecerdasan Abu Hanifah, saudagar itupun menyerah.

Dia berterima kasih kepada Abu Hanifah dan masuk Islam saat itu juga yang disaksikan oleh semua orang yang hadir.

Apakah Alam Semesta Tercipta dengan Sendirinya, secara Kebetulan?

Ada sistem dan keteraturan dalam tubuh manusia sehingga tidak satupun sel yang dapat bertindak dengan sendirinya. Sistem seperti ini memperlihatkan kesinambungan dan kolaborasi yang sungguh sempurna. Seolah-olah setiap sel memiliki fungsi seperti makhluk yang bernyawa dan cerdas.

Mari kita amati satu buah sel saja sebagai contoh. Jika kita tidak setuju bahwa sel adalah pelayan Al-Qawiy (Yang Maha Kuat), dengan kata lain, sama saja dengan kita setuju dengan pernyataan ini: Setiap sel makhluk hidup dapat melihat dan sadar terhadap tubuh tempatnya menetap dan paham dengan segala aturan dan bahan pembuat tubuh tersebut.

Jika kita amati sistem pencernaan, misal, nampak semua organ dari mulut hingga usus besar bekerja dalam harmoni yang sempurna. Ditambah lagi, berdasarkan hubungannya dengan semesta, sistem tersebut bahkan memiliki mata yang dapat melihat seluruh semesta dan akal yang paham akan struktur, tugas, dan keseimbangan seluruh tubuh.

Jadi bisa dikatakan bahwa, berdasarkan perhitungan ini, sebuah sel harus memiliki akal setingkat jenius dan kekuatan setingkat Tuhan.

Maka, manusia yang menolak adanya Pencipta Tunggal akan jatuh ke dalam situasi bahwa dirinya -diharuskan- menerima eksistensi tuhan yang banyaknya sejumlah seluruh sel di semesta.

Sungguh tubuh manusia itu seperti istana dengan seribu kubah, setiap kubahnya ditopang oleh ratusan batu yang saling mendukung.

Tubuh kita mempunyai kualitas yang ribuan kali lebih menakjubkan daripada sebuah istana termegah sekalipun, seolah-olah ia diperbaharui secara terus-menerus. Jika kita beranggapan bahwa sel-sel yang menyusun tubuh manusia bukanlah pelayan dari Zat Yang Tanpa Batas, maka sebuah sel harus menguasai sel-sel lain dan selalu mengikat mereka. Dengan kata lain, setiap sel harus memerintah sel-sel lain untuk memastikan sel-sel itu berpindah ke tempat yang tepat, serta, di saat yang sama sel itu yang memerintah juga ikut berpindah ke tempat yang menurut sel lain adalah tempat yang tepat.

Jelas hal seperti ini tidak akan pernah terjadi, sebab masing-masing sel akan bergerak berdasarkan pemikiran yang berbeda-beda.

mengembangkandiri-iman

Bagaimana Imanmu?

Hakikat Iman, Apa itu Iman?

Iman secara bahasa berarti percaya atau yakin. Adapun secara istilah berarti percaya pada sesuatu tanpa ragu-ragu, memberikan keyakinan,  menjamin keselamatan dan keamanan orang lain, serta dapat dipercaya, dapat diandalkan, dan jujur.

Dalam konteks agama, iman bermakna keyakinan dengan sepenuh hati atas keesaan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kenabian Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam,  beserta risalah yang beliau bawa.

Tingkatan Iman

Ulama membagi iman dalam dua tingkatan, yaitu iman ijmali dan iman tafsili. Iman  ijmali bermakna mengimani Allah secara garis besar melalui risalah kenabian. Dengan kata lain, ucapan syahadat, “Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah”, merupakan bentuk iman ijmali.

Iman ijmali yang merupakan rukun Islam pertama tak lain adalah tingkatan pertama keimanan seorang hamba. Perlu dicatat bahwa seseorang memang telah dianggap sebagai mukmin jika sekadar beriman secara ijmali. Kendati demikian, ia diwajibkan mempelajari dan mengamalkan pilar keimanan lainnya beserta syariat agama.

Di sisi lain, iman tafsili, beriman secara komprehensif, bermakna mengimani Allah beserta rukun iman lainnya secara mendalam. Termasuk pula semua ajaran Rasulullah. Iman tafsili terwujud dalam rukun iman dan rukun Islam. Dalam cakupan yang lebih luas, seseorang yang beriman kepada Allah secara tafsili akan berusaha melaksanakan perintah-Nya, seperti shalat fardu, puasa, sedekah, dan haji sekaligus menjauhi larangan-Nya seperti minum minuman keras, berjudi, dan bermaksiat.

Seorang hamba, tanpa terkecuali, harus mengamalkan iman tafsili dalam kehidupan kesehariannya. Seorang kafir akan mudah mengusik keimanan  seseorang melalui tingkat keimanan pertama, yang beriman hanya dalam lisannya. 

Seseorang yang wafat dalam kondisi kalbu penuh dengan iman akan memasuki surga-Nya. Kendati demikian,  keimanan seorang Muslim dapat menjadi lebih tinggi derajatnya dengan keyakinan yang komprehensif (iman tafsili)  yang dibangun di atas fondasi yang kuat.

Ustadz Said Nursi menggambarkan tingkat keimanan seseorang dalam satu cerita berikut:

Mari kita misalkan ada beragam jenis barang-barang antik milik seorang raja atau sultan yang diperjualbelikan di suatu pasar.

Keaslian barang, bahwa barang tersebut adalah milik seorang raja atau sultan, dapat diketahui melalui dua cara.

Yang pertama, percaya secara lugu, berdasarkan penalaran umum, dari perkataan yang ada di khalayak ramai, seperti, “Beragam barang dengan kualitas baik dan jumlah yang banyak seperti ini sudah sewajarnya milik seorang sultan. Tak ada yang lain.”

Akan tetapi, penalaran seperti demikian tidak mampu menghindarkan seseorang dari keraguan.

Misalkan saja ada orang lain lagi yang datang kemudian berkata, “Barang ini sepertinya bukan hanya milik sang sultan, melainkan milik si fulan atau si fulan.” Lantas orang yang berpikir demikian mulai ragu dan akhirnya beralih percaya kepada pemikiran yang baru.

Yang kedua, melalui penalaran secara komprehensif. Seseorang akan memeriksa secara teliti setiap label yang ada di setiap barang, yang dapat membedakan barang asli milik sultan atau milik orang lain. Dengan seperti ini tidak akan ada keraguan dan ketidakpastian sedikitpun.

Tiada seorangpun yang mampu menipu orang yang memiliki level kepercayaan seperti ini.

Seumpama ada lagi seseorang yang datang dan berkata, “Barang ini sebenarnya milik sang sultan dari istana ini dan itu.” Dia pun langsung mampu menimpali, “Anda tidak benar. Barang ini bukanlah miliknya, melainkan milik orang lain.”

Demikianlah betapa jelasnya perbedaan antara iman ijmali (tingkat dasar) dengan iman tafsili (tingkat komprehensif).

Seseorang dengan iman tingkat dasar mungkin akan berpikiran, “Allah-lah yang menciptakan alam semesta beserta isinya, tiada yang lain.”

Namun, orang tersebut tidak terjamin akan terhindar dari segala bentuk keraguan. Adapun jika didatangi orang lain lagi dan dia berkata bahwa, “tidak, Allah tidak menciptakan alam semesta.” dan dijelaskan lebih lanjut dengan pemikiran seperti itu, orang dengan keimanan tingkat dasar ini akan mudah percaya dan menjadi kafir.

Sementara orang dengan tingkat keimanan komprehensif (iman tafsili) tentu akan mentafakuri Allah beserta ciptaan-Nya. Ia akan membuktikan dengan akal dan kalbu bahwa segalanya merupakan ciptaan-Nya. Demikian kuat keimanannya hingga tidak ada keraguan sedikitpun dalam relung kalbunya. Imannya tak akan goyah bahkan di hadapan seorang filsuf ateis durjana.