rumman-amin--BHiUdFK5T4-unsplash

Sekali Lagi Pembahasan Tentang Salat

Sekali Lagi Pembahasan Tentang Salat[1]

Terdapat sebagian orang yang mengatakan bahwasanya disebabkan oleh kesibukan, dia tidak memiliki waktu untuk menunaikan salat. Apa yang dapat Anda sampaikan terkait permasalahan ini?

Jawab: Sebagaimana inti dari segala permasalahan adalah iman, maka pendekatan yang harus diambil dalam menangani permasalahan ini utamanya harus berasal dari kerangka iman itu sendiri. Demikianlah, di antara prinsip-prinsip yang membentuk iman, ia kemudian membentuk sudut pandang seseorang terhadap dunia. Berdasarkan hal tersebut, iman kepada Allah merupakan satu-satunya asas yang tiada duanya dalam menghadirkan dan menjamin ketenteraman kalbu. Kalbu yang tidak memiliki iman kepada Allah SWT, tidak akan bisa menutup kekosongan itu dengan hal lainnya. Maka waspadalah! Ayat: “Hanya dengan berzikirlah kalbu bisa menjadi tenang” mengingatkan kita akan hakikat ini.

Iman kepada Para Nabi merupakan faktor penting yang dapat menyelamatkan kita dari kerugian menatap masa lalu sebagai kegelapan dan menghadapi masa depan dengan penuh kekhawatiran. Berkat iman kepada para Nabi, khususnya iman kepada Sultannya para Nabi yaitu Nabi Muhammad SAW, kita pun meyakini bahwa kita bisa melewati tempat-tempat paling berbahaya baik di dunia maupun di akhirat layaknya kilatan petir yang menyilaukan mata; kita juga meyakini bahwa kita dapat meraih nikmat-nikmat di luar jangkauan panca indera kita melalui syafaatnya.

Iman kepada para malaikat memberikan keyakinan kepada diri kita bahwasanya dalam kondisi sendiri pun mereka senantiasa membersamai dan mengawasi kita. Dengan keyakinan seperti ini, maka perilaku kita akan senantiasa berada di bawah kendali dan kita pun menjalani kehidupan ini dengan penuh kesadaran.

Iman kepada takdir berarti meyakini sepenuh hati bahwasanya musibah dan kebahagiaan semuanya berasal dari Allah SWT serta tidak memberi kesempatan pikiran kita untuk memikirkan jika semua itu berasal dari hal-hal selain Allah SWT.

Iman kepada akhirat selain menjadi unsur terbesar yang menjaga sikap dan perilaku kita supaya senantiasa selalu terkendali, ia juga memberikan manfaat-manfaat duniawi yang tak terhitung banyaknya. Selain itu, cita-cita teragung setiap mukmin yaitu untuk bertatap muka dengan Rasulullah hanya dapat terwujud di akhirat. Para Nabi, para salafus salih, para auliya kiram, para asfiya fiham, semuanya berkumpul di akhirat.  Oleh karena itu, para mukmin yang memiliki kerinduan mendalam untuk bertemu sosok-sosok agung seperti mereka, merupakan sisi lain yang dihasilkan oleh iman kepada akhirat.

Sekarang, mengimani semua asas-asas ini, akan membantu setiap individu khususnya dalam pelurusan akidah, kemudian ia akan berpijak di tempat di mana seharusnya berpijak, dan dengannya ia akan menemukan ketenteraman sejati. Kemudian, unsur-unsur yang dapat merusak ketenteraman ini akan ditolak secara iradiyah (sengaja) dan ibadah-ibadah yang memelihara kelanjutan ketenteraman ini pun dikerjakan. Oleh karena itu, permasalahan yang dibahas dalam pertanyaan, apabila ingin dicari solusi pencegahannya, maka hendaknya ia dicari pada sumber masalah, yaitu asas-asas iman yang secara singkat dibahas tadi sebelum masuk ke dalam pembahasan ibadah. Mereka yang memiliki iman kamil tidak akan pernah mengalami masalah-masalah seperti itu.

Ketika mencari jawaban atas pertanyaan tersebut, saya rasa beberapa bahasan ringkas seputar salat juga dapat dilakukan. Salat adalah ibadah yang mengingatkan kita akan asas-asas iman yang sebelumnya kita bahas secara ringkas tadi. Di dalam salat senantiasa terdapat potensi pengingat dan dzauq (kelezatan maknawi) yang amat dalam. Salat mengingatkan manusia betapa tak berdaya dan papanya ia di hadapan Rabb-nya Masalah-masalah besar yang dirasa mustahil ditangani ataupun jalan keluar dari problem yang timbul menunjukkan bahwa asas dan sumber dari kekuatan yang mampu menangani segala sesuatu adalah iman kepada Sang Pemilik Takdir yang Mutlak SWT. Jawaban terakhir, kita dapat membuka pembahasan ini lebih lebar lagi lewat perenungan terhadap beberapa ayat dalam surat al Fatihah.

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ (Alhamdulillahi rabbil ‘alamin). Pujian hanyalah bagi Allah SWT, yang mengatur, menumbuhkan, dan mematangkan segala sesuatu, mulai dari zarah hingga ke sistem. Setelah beriman kepada Sang Rabb yang telah menyelamatkan kita dari keterbenaman dan menggenggam tangan kita saat berhadapan dengan seribu satu peristiwa, bagaimana mungkin aku bisa berputus asa?

الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (Ar Rahmanir rahim). Dia Maha Pengasih, baik kepada orang kafir maupun kepada orang mukmin, di dunia dan di akhirat. Rahmatnya melebihi kemarahan dan kemurkaanNya. Jika demikian, bagaimana mungkin aku bisa berputus asa?

مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (Maaliki yaumiddin). Dia adalah Sang Pemiliki dari hari pembalasan. Amal terkecil dari seorang hamba yang dikerjakannya di dunia akan ditampilkan di hadapanNya dan akan dimintai pertanggungjawaban.  Akan tetapi, Allah SWT yang rahmatNya melebihi murkaNya kembali akan mengulurkan tanganNya untuk menolongku.

اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (Iyyaka na’budu wa iyyaka nastain): Penghambaanku hanya kupersembahkan kepadaMu, dan hanya kepadaMu kumohon pertolongan. Kami datang ke pintu gerbangMu dengan penyerahan dan kesadaran total atas Rububiyah dan UluhiyahMu. Dengan demikian, kami mengakui dan mendeklarasikan bahwasanya kami adalah hambaMu. Akan tetapi, betapa mulianya penghambaan ini. Sultan kami adalah Sultannya para sultan, itulah Engkau Ya Allah. Di samping itu, kita adalah hambaMu yang mulia dan terhormat, di mana kami tidak bersujud di hadapan makhluk lainnya, dan hanya kepadaMu saja kami memohon. Dalam ungkapan yang digunakan oleh Yunus Emre:

Yang disebut-sebut sebagai surga
Berisi beberapa istana dan bidadari
Berikanlah ia kepada mereka yang menginginkannya
Aku hanya menginginkan Kamu cuma Kamu…

Demikianlah.
Kini, tampilan akidah tauhid di segala sisi dan pengakuan penghambaan yang penuh kesadaran serta permohonan bantuan semata-mata kepadaNya sebenarnya merupakan rasa syukur yang sudah selayaknya disampaikan atas beragam anugerah dan kebaikan Ilahi, serta merupakan pengiktirafan bahwasanya ibadah belum ditunaikan dengan sempurna.  Pernyataan yang menggambarkan hubungan antara makhluk ciptaan dengan Sang Pencipta adalah ungkapan perasaan tak berdaya dan papa. Jika demikian, orang yang memiliki pemikiran dan pandangan yang seperti itu, bagaimana mungkin akan putus asa?

Kalimat-kalimat berikutnya dari surah Al Fatihah juga dapat dipahami dalam bentuk yang serupa. Oleh karena saya anggap makna yang akan dijelaskan dapat dipahami sebagaimana mestinya, maka saya menjelaskannya singkat saja. Ya, seorang manusia yang berhasil menunaikan salat dengan pemahaman dan pemikiran demikian, tidaklah mungkin akan mengabaikan salat disebabkan oleh alasan-alasan pekerjaan duniawi. Jika demikian, setelah iman, maka kita memiliki kewajiban juga untuk menjelaskan hakikat salat, atau jika memungkinkan membuat informasinya sampai kepada setiap manusia.

Seorang manusia dengan ibadah salatnya akan menyempurnakan dirinya sebagaimana bunga matahari yang pertumbuhannya menjadi sempurna dengan mekar ke arah matahari bersinar. Dengan bertawajuh kepada Tuhannya sehari sebanyak lima kali, seseorang akan membangkitkan kembali kesadarannya yang layu dan lesu. Kesadarannya akan bangkit dan ia pun memperbaharui janji setianya kepada Rabbnya. Dari sisi ini, maka salat adalah anugerah terbesar dari Allah SWT kepada kita. Ketiadaannya seperti ketiadaan mentari. Sebagaimana ketiadaan mentari akan menyebabkan ketiadaan bunga matahari dari segi hukum sebab akibat; maka ketiadaan ibadah yang demikian di satu makna berarti juga ketiadaan manusia. Jika demikian, maka sebenarnya kitalah yang membutuhkan ibadah.

Seorang manusia yang menunaikan salat dan mengisi ulang energinya di hadapan Sang Rabb akan terhindar dari hal-hal haram dan makruh ketika menekuni bidang perdagangan. Khususnya salat yang ditunaikan di tengah hari seperti salat zuhur dan ashar, ia dapat mengobarkan semangat muraqabah dan muhasabah dari seorang manusia. Salat di waktu itu akan membangkitkan mekanisme tersebut dan menyelamatkan manusia dari berbuat kesalahan. Sedangkan salat magrib, isya, tahajud, dan subuh merupakan pusat tajali rahasia yang ingin dijelaskan dalam bait berikut ini:

Di tempat di mana dialami kebuntuan
Seketika terbukalah tirai
Menjadi solusi bagi setiap masalah

Dan salat merupakan faktor yang mendorong seorang muslim untuk menata hidupnya dalam sistem yang teratur. Seorang manusia yang menemui Tuhannya sehari sebanyak lima kali mau tidak mau akan menata kehidupannya menjadi lebih teratur. Dia mulai bekerja sesudah menunaikan salat subuh. Setelah lelah bekerja selama 6-7 jam, maka ia kembali mengobarkan semangatnya melalui salat zuhur. Ia kembali bekerja hingga tiba waktu ashar. Melalui salat ashar sekali lagi ia menyegarkan pikirannya dan badan pun menikmati masa istirahatnya.  Apabila ia tidak membagi waktunya dengan cara demikian, maka pekerjaan yang ditekuninya tidak akan bisa meraih hasil yang diinginkan, bahkan performanya akan menurun. Mereka yang tidak mampu memahami prinsip-prinsip tersebut yang terdapat di dalam salat, akan terjebak ke dalam pusaran kekacauan, dia akan terseret dari krisis yang satu ke krisis yang berikutnya.

Kesimpulannya, mereka yang tidak menemukan waktu untuk menunaikan salat sebenarnya adalah mereka yang matanya tertutup dari hakikat-hakikat Ilahi. Berdasarkan pada hal itu, kelemahan iman, tidak meyakini prinsip-prinsip iman sebagaimana mestinya, dan ketidakmampuan memahami hakikat salat sebagaimana kita singgung dalam satu dua tempat di atas, sayangnya dapat mendorong masyarakat kita ke pemikiran yang seperti itu. Cara untuk menyelamatkan diri dari bahaya itu adalah dengan beriman dan menampilkannya dalam kehidupan kita sebagaimana sebagian telah dijelaskan pada pembahasan di atas.


[1] https://fgulen.com/tr/eserleri/prizma/bir-kere-daha-namaz

fatih-yurur-kNSREmtaGOE-unsplash

Keutamaan Sepuluh Malam Pertama Zulhijah

Sepuluh Hari Pertama Zulhijah Bagaikan Ramadhan Kecil

10 malam pertama bulan Zulhijah yang dibahas dalam Al Quran di awal surat al Fajr:

وَلَيَالٍ عَشۡرٍۙ

“Demi malam yang sepuluh” (QS 89:2) adalah sebuah khazanah spektakuler bagi kehidupan ibadah dan doa kita. Hari-hari yang penuh keberkahan tersebut pada tahun ini akan jatuh bertepatan dengan tanggal 1 Juli 2022 dimana hari Idul Adha yaitu tanggal 10 Zulhijah 1443H akan jatuh pada tanggal 10 Juli 2022, insya Allah.

Baginda Nabi SAW yang menjelaskan keutamaan dari hari-hari tersebut telah memberikan kabar gembira kepada kita:

عن أبى هريهرة رضي الله عنه, عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: ما من ايام احب الى الله تعالى أن يتعبد له فيهن من أيام عشر ذى الحجة, وان صيام يوم يعدل صيام سنة, وقيام ليلة كقيام سنة

“Tidaklah ada hari yang paling disukai oleh Allah swt, dimana Dia disembah pada hari itu kecuali, sepuluh hari bulan Dzulhijjah. Puasa satu hari di dalamnya sama halnya dengan puasa satu tahun. Ibadah, shalat malam sekali pada malamnya seperti shalat malam selama satu tahun pula.” (HR Tirmizi, Kitab Shaum, no. 52 dan Ibnu Majah, Kitab Siyam, no.39).

Artinya puasa yang dijalankan di hari-hari mulia tersebut satu harinya setara dengan berpuasa selama 365 hari masehi. Apa mungkin kita tidak tertarik dengan promosi indah dan manis tersebut? Demikian juga dengan keutamaan malam-malamnya dimana ia menjadi tambahan motivasi lainnya. Satu salat malam di salah satu malamnya setara dengan salat malam setahun penuh.

 

Puasa di Hari Arafah Setara dengan Seribu Hari Puasa

            Sekali lagi sebuah kalimat motivasi luar biasa dari Sang Nabi:

مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ وَلَا أَحَبُّ إِلَيْهِ الْعَمَلُ فِيهِنَّ مِنْ

هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنْ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالتَّحْمِيدِ

Artinya, “Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan amal saleh di dalamnya lebih dicintai oleh-Nya daripada hari yang sepuluh (sepuluh hari pertama dari Dzulhijjah), karenanya perbanyaklah tahlil, takbir, dan tahmid di dalamnya” (HR Ahmad, Musnad Ahmad 1/257).

Bacaan tasbih adalah subhanallah, tahmid adalah alhamdulillah, tahlil adalah la ilaha illallah, sedangkan takbir adalah Allahu akbar.

Posisi hari Arafah di antara 10 hari ini benar-benar istimewa. Di tempat lain terdapat hadis luar biasa lainnya:

“Ketika hari Arafah datang, rahmat Allah SWT bertebaran. Tidak ada hari dimana manusia yang dibebaskan dari api neraka lebih banyak dari hari itu. Barangsiapa meminta sesuatu kepada Allah baik untuk kepentingan dunia ataupun kepentingan akhiratnya di hari arafah, Allah akan mengabulkannya”

“Berpuasa di hari arafah seperti berpuasa selama seribu hari (Targhib wat Tarhib, 2:460)

Berpuasa di siang hari serta mengisi malam-malam tersebut dengan ibadah akan menjadi sarana bagi diraihnya ampunan dan pahala yang besar.

 

Malam tersebut setara kemuliaannya dengan Lailatul Qadar, Nisfu Syaban, dan Malam Mikraj

Bediuzzaman Said Nursi ketika menyampaikan keutamaan sepuluh hari pertama bulan Zulhijah dari berbagai hadis mengatakan kalimat ini:

Sepuluh malam ini, dengan Al Quran bersumpah atasnya “Wal fajr wa layaa lin ‘asyr (QS al Fajr 89:1-2), oleh karena perhatian besar yang diberikan kepadanya maka malam tersebut memiliki nilai yang sangat agung sebagaimana mulianya malam Lailatul Qadar, Nisfu Syaban, dan Malam Mikraj. Karena berkat rahasia haji, atas nama dunia Islam, ribuan jamaah haji yang datang dari segala penjuru memiliki hubungan dengan semua entitas semesta, di satu sisi membuat mereka yang sibuk dengan amal salih di malam-malamnya kemudian memiliki bagian atas kebaikan-kebaikan makbul dan doa-doa yang dipanjatkan untuk umat Nabi Muhammad SAW oleh para jamaah haji tersebut (Kastamonu Lahikasi, surat ke-7).”

Pada hari itu jutaan mukmin berangkat ke tanah suci. Sebagian dari mereka bertawaf mengelilingi Kabah, sebagiannya menumpahkan air matanya di depan Raudhah Mutahharah, sebagiannya ber-sa’i, sebagiannya salat di Maqam Ibrahim, sebagiannya lagi memohon ampunan di Multazam. Sedangkan di hari arafah, semua jamaah haji datang dan berkumpul di Padang Arafah. Mereka berlindung di dalam rahmat Rabb-nya dengan kalimat-kalimat talbiyah “labbaik, allahumma labbaik!”

Demikianlah, dengan membayangkan kondisi di musim haji seperti itu kita berharap dapat meraih keutamaan maknawi. Marilah kita beribadah dengan harapan doa kita bisa masuk ke dalam doa-doa yang dipanjatkan oleh para jamaah haji, insya Allah

 

Kita Harus Memanfaatkannya Seakan Ia adalah Ramadhan Kecil

Untuk memanfaatkan sepuluh hari yang mulia ini, pertama-tama kita tidak boleh mengabaikan penunaian salat lima waktu kita. Karena tidak ada satupun ibadah sunah yang dapat menggantikan posisi ibadah wajib. Kita harus meningkatkan semangat untuk bisa bergabung dalam salat jamaah dan memberi perhatian lebih pada ibadah-ibadah kita serta menunaikannya dengan penuh khusyuk.

Sebisa mungkin siang hari saat berpuasa, waktu yang ada kita isi dengan membaca al Quran, istigfar, salawat, zikir, dan doa. Sebagaimana di bulan Ramadhan, marilah kita undang rekan, tetangga, dan handai tolan untuk berbuka puasa di rumah kita. Hal itu selain mengingatkan mereka tentang kesunahan puasa zulhijah juga sebagai dorongan motivasi agar mereka turut serta memuliakannya.

Jika kita tak mampu rutin mengerjakannya maka di hari-hari mulia ini marilah kita menggeliat demi meraih ampunan Ilahi dengan mengerjakan salat sunah dhuha, awwabin, tahajud, dan hajat. Bahkan dengan menjadikan ampunan dan rida ilahi sebagai tujuan utama, kita harus memanfaatkannya sebagaimana kita memanfaatkan sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Bagi yang tidak mampu menjalankannya sepuluh hari penuh setidaknya menguatkan tekad untuk bisa berpuasa di hari arafah dan sehari sebelumnya (hari tarwiyah) serta mengisinya dengan ibadah-ibadah lainnya.

Dalam sepuluh malam tersebut, khususnya di malam tarwiyah, arafah, dan hari raya, terdapat tempat istimewa bagi mereka yang menghidupkannya: Membaca seribu surat al ikhlas di hari arafah dan jangan lupakan keutamaan takbir tasyrik dari salat subuh hari arafah hingga hari keempat hari raya (tanggal 9-13 Zulhijah).

Diterjemahkan dari artikel Cemil Tokpinar pada laman:

https://www.yeniailem.com/zilhiccenin-ilk-on-gunu-sanki-kucuk-ramazan/#.XSMi8ugzbDc

reborn

Rasa dari Iman: Membarui Iman Layaknya Para Sahabat

“Rasa dari Iman: Membarui Iman Layaknya Para Sahabat”

Akhir dari berbagai deformasi dan laku korupsi di atas muka bumi bergantung pada bagaimana kita bisa menemukan identitas diri yang sejati. Tanpa mengubah diri sendiri, tak ada manfaatnya kita menunggu orang lain untuk berubah. Dapat saya katakan dengan pertimbangan penuh harapan bahwasanya kita sudah memulai langkah tersebut. Akan tetapi, kita belum membuat perkembangan yang berarti. Usaha kita masih belum selesai.

Seperti yang dikatakan oleh seorang penyair: ”Aku belajar di sekolah cinta bersama Majnun. Aku telah mengkhatamkan seluruh isi Al Quran tetapi ia hanya bisa sampai di Surat al Lail”

Dengan kata lain:”aku telah meraih tujuanku tetapi si Majnun mandek dan tak henti berucap: “Kekasihku Laila, Kekasihku Laila, Kekasihku Laila”.

Rekonstruksi dunia secara menyeluruh menjadi koridor surga adalah sumber harapan bagi banyak manusia.  Di satu sisi, adalah sangat penting untuk memiliki cita-cita dan tujuan yang patut ditiru tersebut. Saya yakin, tidak ada pihak lain yang memiliki cita-cita seagung itu. Saya tidak bisa memaksudkannya ke level kepemilikan dan berkata: “Anda memiliki cita-cita ini, gerakan itu memiliki cita-cita ini, komunitas ini memiliki cita-cita ini..” Karena itu hanya akan menjadi pernyataan tanpa dasar. Tetapi jika saya tidak mengatakannya, maka hal itu seperti mengingkari anugerah suci dari Allah SWT.

Segala macam perkembangan asalnya dari Fadilat, Karim, Tawajuh, dan Kehendak Agung Allah SWT. Segala sesuatu yang telah terjadi dan telah dicapai adalah referensi tentang apa saja yang akan terjadi di masa mendatang. Kita harus meyakininya dan selalu berjuang untuk memperbaharui diri.

Allah SWT berfirman:

 يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ ءَامِنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَٱلۡكِتَٰبِ ٱلَّذِي نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَٱلۡكِتَٰبِ ٱلَّذِيٓ أَنزَلَ مِن قَبۡلُۚ

“Wahai orang-orang yang beriman! Tetaplah beriman kepada Allah dan RasulNya (Muhammad) dan kepada Kitab (Al Quran) yang diturunkan kepada RasulNya, serta kitab yang diturunkan sebelumnya!” (QS An Nisa 4:136)

Ayat ini berbunyi: ”Wahai orang-orang yang beriman!” Ayat ini tidak berbunyi: ”Wahai orang-orang yang tidak beriman, munafik, pendosa, lagi fasik!” Dan secara gramatikal ayat ini berkata: ”wahai orang-orang yang senantiasa berada dalam keimanannya.” Di satu sisi, ayat ini merujuk kepada mereka yang senantiasa memperbaharui keimanan agar selalu ada dalam kesadarannya secara kontinu, yang senantiasa berlari untuk membuktikan keimanannya. Mereka melubangi hati mereka dengan makrifatullah. Mereka bergerak dengan khusyuk dan penuh rasa takut kepada Rabbnya. Dengan menggunakan akal pikiranmu di jalan ini dan mengarahkannya ke pemikiran positif, datang dan berimanlah sekali lagi.

Para sahabat memahami dengan baik ayat ini dan sering kali menyeru orang-orang yang mereka temui di pinggir jalan: “Datanglah! Mari bersama-sama memperbaharui keimanan kita kepada Allah!” Para sahabat beriman dengan level yang jauh di atas level iman kita. Mereka beriman seakan-akan telah menyaksikan Allah SWT. Mereka menunjukkan laku yang mengisyaratkan ketinggian level ihsan mereka.  Rasulullah telah menjadi contoh bagi mereka. Mereka membentuk dirinya dengan mencontoh akhlak Baginda Nabi.

Mereka mencontohnya di segala aspek. Apa yang dia lakukan, bagaimana beliau bersemangat menyebarkan pesan Tuhan, menumpahkan air mata, bagaimana menyungkurkan kepalanya di atas tanah untuk bersujud bermenit-menit, mereka berusaha mengopi Rasul SAW, mereka ada di jalannya. Berusaha menjadi seperti dirinya, berusaha untuk layak menjadi sosok disisinya, berusaha menjaga kualitas dirinya, atas izin dan inayah Allah.

Usaha ini terus berlanjut hingga waktu tertentu. Beliau SAW bersabda:

خَيْرُكُمْ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

 “yang terbaik di antara kalian adalah mereka yang hidup di masaku (para sahabat). Lalu yang mengikuti mereka (Tabiin), lalu yang mengikuti mereka yang mengikut sahabatku (tabiut tabiin)[1].”

Masa terbaik adalah masa dimana banyak terdapat manfaat buat umat manusia, masa yang paling dirindukan adalah masaku. Lalu masanya para tabiin, dimana mereka masih mengikuti jalan kenabian yang terang benderang. Dia adalah Qamari Munir (Bulan Yang Cemerlang). Ustaz menggunakan istilah ini untuk mengagungkannya. Sahabatnya adalah lingkaran cahaya yang mengitarinya.

Lewat sabdanya ini Baginda Nabi mendorong umat manusia untuk mengikuti jalan para sahabatnya. Baginda Nabi bersabda:

أَصْحَابِي كَالنُّجُومِ، بِأَيِّهِمُ اقْتَدَيْتُمْ اِهْتَدَيْتُمْ

“Sahabatku bagaikan bintang gemintang. Siapa pun yang kalian ikuti, kalian akan terbimbing ke jalan kebenaran.[2]

Mereka seperti bintang gemintang yang mengitari matahari ataupun tata surya. Khususnya para khulafaur rasyidin.

Oleh karenanya, para sahabat adalah representasi murni dari Islam yang menampilkan sinar iman di jalan hidup yang mereka tempuh. Mereka yang mengikuti para sahabat secara otomatis berarti mengikuti jalannya Sang Nabi, dan membentuk dirinya sesuai dengan yang diarahkan sang Nabi. Mereka senantiasa mengecek apakah ada laku mereka yang bertentangan dengan arahan Nabi dan menyetel ulang kehidupannya secara kontinu.

Mereka berkata: Inilah yang dikerjakan oleh para sahabat, dan mereka pun menjunjung tingginya. Mereka membentuk detak dunia kalbunya sesuai dengan ritme yang dihentakkan oleh para sahabat.  Ketika Anda menjauhi jalan para sahabat, perlahan Anda pun dijauhkan dari cahaya sucinya. Mungkin cahayanya tidak benar-benar padam. Tetapi ia tidak mengeluarkan radiasi sekuat sebelumnya.

Di masa tabiut tabiin dan di masa-masa setelahnya, menyebar berbagai macam pemikiran dan ideologi aneh yang sanggup membuat perut kita mual: Neo Platonism, Pemikirannya Sokrates, Aristoteles, dan Filsafat Yunani membangun jalannya menuju pemikiran suci dunia intelektual kita. Mereka mulai menimbulkan kesakitan di dunia intelektual kita.

[1] HR al-Bukhâri, 3651, dan Muslim, 2533.

[2] `Abd ibn Humayd, ad-Daraqutnii, ibn `Adiyy, ibn `Abd al-Barr, dengan sanad yang tidak sahih, tetapi maknanya sahih.

Desain tanpa judul

Waktunya Mendengarkan Ruh Kita: Tiga Bulan Suci (Rajab, Sya’ban, Ramadhan)

“Waktunya Mendengarkan Ruh Kita: Tiga Bulan Suci (Rajab, Syaban, Ramadhan)”

Tanya: Untuk bisa mendengarkan gairah tiga bulan suci di dalam jiwa kita, serta agar kita dapat memanfaatkan secara maksimal amosfer maknawi dan rohani tiga bulan suci tersebut, apa saja nasihat dari Anda?

Jawab: Sebelum sampai pada jawaban pertanyaan, perlu saya sampaikan kembali bahwasanya pada tiga bulan suci ini manusia memiliki kesempatan terbaik untuk bisa lebih dekat kepada Allah SWT, meraih rahmatNya yang luas, melepaskan diri dari cengkeraman dosa dan melakukan perjalanan ruh dan kalbu di dalamnya. Dalam usaha tazkiyatun nafs atau pembersihan jiwa, untuk mentarbiyah ruh dan membersihkan kalbunya, manusia memang pada dasarnya membutuhkan sebuah periode rehabilitasi samawi setiap tahunnya. Tiga bulan yang penuh berkah ini merupakan periode waktu paling penting dalam usaha rehabilitasi  tersebut.

Tidak ada keraguan bahwasanya manusia memerlukan tafakkur dan tazakkur yang amat serius agar dalam periode waktu yang penuh berkah ini mereka dapat meninggalkan beban jasmani dan nafsu syahwatnya sehingga mereka pun bisa berhasil naik ke ufuk yang lebih tinggi. Namun ketika melakukannya, mereka harus senantiasa membuka kalbu dan ruhnya ke sisi maknawi. Maksudnya, ia di satu sisi dengan akal dan pikirannya harus berusaha memahami topik-topik seputar iman dan Al Quran lewat aktivitas muzakarah; di sisi lainnya, ia juga harus berusaha meraih tetes demi tetes hujan maknawi yang sedang turun dengan derasnya dalam periode waktu yang penuh keberkahan tersebut.

Tawajjuh Ilahi Harus Dibalas dengan Tawajjuh Lagi

            Betapa banyak tokoh agama yang menggambarkan keutamaan periode waktu ini dengan berbagai penjelasannya yang indah. Betapa banyak ungkapan yang mereka gunakan untuk menarik hati kaum yang beriman agar bersemangat meraih banyak keutamaan dalam tiap siang dan malam yang mengiringinya. Agar mampu mendengar serta memahami keberadaan dan keutamaan dari tiga bulan yang penuh berkah ini, adalah sangat penting bagi kita meluangkan waktu  untuk menganalisis karya-karya para ulama besar yang mengulas keutamaan bulan-bulan ini, lalu mencerna setiap kata yang digunakan di dalamnya dengan metode muzakarah. Ya, agar kita mampu mengambil manfaat secara maksimal dari karya-karya tersebut, kita harus menjauhi cara membaca biasa yang hanya menampakkan permukaannya saja; kita harus mengetahui cara membuka kedalaman setiap topik yang dibahas di dalamnya. Jika jiwa dan pikiran kita tidak dipersiapkan,  tidak mungkin kita dapat meraih manfaat maksimal dari setiap pembahasan yang kita baca dan dengarkan seputar kemuliaan tiga bulan ini.

            Selain itu, untuk dapat merasakan kelezatan dan keindahan khusus yang dimiliki periode waktu ini secara sempurna di dalam hati kita, di awal kita harus  mengetahui dan menyadari bahwa tiga bulan mulia ini adalah “bulan-bulan ghanimah”, lalu diikuti dengan tekad untuk tidak menyia-yiakan setiap detik yang berlalu dalam siang dan malamnya. Misalnya, bagi mereka yang tidak bertekad untuk menemui Tuhannya di waktu sepertiga malam terakhir serta bagi mereka yang tidak meneguk kesadaran untuk memuliakan waktu malamnya; tidak mungkin mereka dapat merasakan dan menikmati keindahan mendalam yang mengiringi tiga bulan mulia ini. Ya, jika mereka memasuki bulan-bulan mulia ini dengan tegangan metafisik yang tinggi; tidak menyerahkan dirinya dalam suatu penghambaan yang serius; dan tidak menyeburkan diri ke dalamnya; walaupun keutamaan yang dibawa oleh bulan mulia ini ditumpahkan seperti gelas penuh berisi air yang dibalik, mereka tidak akan mampu mendengar dan merasakannya. Bahkan mereka bisa menganggap orang-orang yang sibuk mengumpulkan dan meraih keutamaan bulan mulia ini sebagai fantasi belaka.

            Ya, kemampuan mendengar ilham yang mengalir dengan derasnya di hari-hari yang penuh berkah tersebut sangat berkaita dengan sejauh mana kita meyakini dan bertawajjuh kepadanya. Karena tawajjuh harus dibalas dengan tawajjuh lagi. Jika Anda tidak bertawajjuh atau mengalihkan pandangan kita kepada ruh dan makna dari bulan-bulan yang istimewa ini, mereka pun tidak akan membukakan pintunya kepada Anda. Bahkan ungkapan dan penjelasan terbaik seputar keutamaan tiga bulan mulia ini pun bisa jadi hanya bernilai seperti seonggok jasad tak bernyawa nan redup tak bercahaya di mata Anda. Penjelasan Ibnu Rajal al Hanbali yang menyentuh dawai hati ataupun penggambaran Imam Ghazali yang mengguncang kalbu pun akan memberi efek kebalikan di hati Anda. Mungkin Anda akan mengatakan:”Ngomong apa sih mereka?!” lalu pergi dan mengabaikannya. Karena kekuatan pengaruh dalam setiap kata, selain bergantung pada nilai yang dibawa oleh pilihan katanya, juga dipengaruhi oleh perspektif, niat, sera keterbukaan pikiran dan perasaan pendengarnya terhadap masalah yang dibahas.

            Dengan demikian, umat manusia harus menyadari pentingnya tiga bulan tersebut, sampai-sampai mereka pun berubah menjadi bulan rajab, syaban, dan ramadhan itu sendiri. Demikian sempurnanya mereka melebur di dalamnya, sehingga mereka pun mampu mendengar apa yang dibisikkan bulan suci ini kepada jiwa manusia. Jika tidak maka Anda tetap menjadi Anda yang tidak berkembang, tidak mampu melepaskan diri dari superfisial; kata penjelasan dan pembahasan terbaik seputar keutamaan bulan mulia nan agung ini pun hanya akan masuk ke telinga kanan, dan keluar lewat telinga kiri Anda. Mereka yang tidak menghormati bulan ini; mereka yang tidak memiliki semangat dan tekad untuk memperbaharui diri mereka di musim ghanimah ini; mereka yang tidak mampu menangkap keseriusan dalam setiap sikap dan perilakunya; mereka yang demikian akan sulit mendapat manfaat dan kemuliaan dari bulan-bulan yang mulia ini.

Program-Program yang Cocok diadakan di Waktu Mulia ini

            Terkait topik ini, terdapat sisi dimana ia diterima oleh pandangan masyarakat secara umum. Adalah sebuah fakta bahwasanya kedalaman dan keluasan makna dari bulan-bulan mulia ini hanya bisa didengar serta dirasakan oleh ufuk ruh dan kalbu yang secara istimewa dimiliki pribadi-pribadi tertentu. Namun, juga merupakan sebuah kenyataan bahwasanya masyarakat secara umum juga menyambut serta mengagungkan berkah dan nilai dari bulan-bulan mulia ini, dimana mereka berbondong-bondong ke masjid dan mengarahkan diri mereka kepada Allah subhanahu wa ta’ala untuk menyambut kedatangannya.  Dengan mempertimbangkan keadaan tersebut, penyelenggaraan berbagai program dan aktivitas di bulan-bulan mulia ini dapat dijadikan sebagai sarana penting dalam usaha menyampaikan pesan Ilahi  ke dalam hati manusia. Program dan kegiatan yang sesuai dengan nafas agama dapat diselenggarakan untuk mengisi malam-malam mulia seperti Ragaib, Isra Mikraj, Nisfu Syaban, Nuzulul Quran, dan Lailatul Qadar. Lewat jalan tersebut, kita bisa memaksimalkan malam-malam tersebut sebagai sarana untuk memperdengarkan hakikat agama ke setiap kalbu dan mendekatkan umat manusia kepada Penciptanya, yaitu Allah subhanahu wa ta’ala. Sebagaimana hakikat ini bisa disampaikan kepada hati manusia lewat beragam program yang diselenggarakan di masjid, ia pun bisa disampaikan dengan berkumpul dan menyelenggarakan berbagai majelis sohbet dan muzakarah di tempat-tempat lainnya. Dengan jalan demikian, tawajjuh serta harapan orang-orang beriman untuk bisa meraih keberkahan dan keutamaan di bulan-bulan mulia ini bisa difasilitasi dengan tepat.

            Sebelumnya, jika diperkenankan, saya ingin menarik perhatian Anda terkait satu hal yang saya pandang penting terkait dengan penyelenggaraan program di waktu-waktu mulia tersebut. Visi dari setiap program yang kita fasilitasi haruslah bertujuan untuk membuat pikiran dan perasaan manusia selangkah lebih dekat kepada Penciptanya. Jika program-program yang mana kita disibukkan dengannya tersebut tidak menjadikan kita sebagai pemandu bagi tercapainya tujuan tersebut, artinya kita sedang sibuk dengan hal-hal hampa dan tak berarti. Ya, jika program-program yang kita selenggarakan tidak menyampaikan hakikat dari Sang Pencipta, jika ia tidak membuat orang-orang selangkah lebih dekat dengan Junjungannya shallallahu alayhi wasallam; bahkan jika ia hanya dirancang untuk memuaskan nafsu manusia belaka supaya dikatakan: “betapa indahnya waktu yang kita habiskan disini,” bisa jadi kita telah menyia-nyiakan waktu, bisa jadi kita berdosa karenanya. Semua jalan yang tidak mengantarkan pejalannya menuju Allah subhanahu wa ta’ala da dan  Junjungan kita shallallahu alayhi wasallam adalah ‘penipuan.’ Dan memang tugas dan pekerjaan dari mereka yang kalbunya beriman bukanlah untuk menghibur orang-orang dengan festival belaka.

Sebagai tambahan, perlu untuk disadari bahwa orang-orang di zaman modern ini mempunyai gaya hidup yang condong pada program yang bersifat hiburan. Untuk alasan ini, respon positif mereka bisa jadi menipu. Dengan melihat respon positif mereka, bisa jadi Anda berpikir telah melakukan pekerjaan yang baik. Padahal kriteria utama kita bukan sekadar pada bagaimana membuat mereka senang, melainkan apakah yang kita lakukan tersebut sudah sesuai dengan kriteria Al Quran dan sunnah atau belum. Berkenaan dengan hal ini, meskipun acara-acara tersebut nantinya tidak didatangi banyak orang, Anda harus selalu mengejar kebenaran. Dengan kata lain, hal yang paling penting tidak terletak pada pujian dan tepuk tangan orang-orang. Melainkan apakah program tersebut berisi hal-hal yang berarti bagi perkembangan kehidupan spiritual kita atau tidak.

Pada waktu yang penuh berkah ini, ketika langit dipenuhi anugerah dan di bumi terhampar hidangan-hidangan langit, kita haruslah terus menunjukkan kepada orang-orang jalan untuk memperdalam dan meningkatkan kualitas kehidupan spiritual mereka; kita harus mengejar tujuan ini di setiap hal dan program yang kita selenggarakan. Kita harus mampu menyampaikan arti dan semangat baru pada orang-orang setiap saat. Dengannya kita membantu mereka mengibarkan layar perahunya untuk mengarungi cakrawala maknawi tanpa batas.

Untuk mewujudkannya, barangkali nasyid, syair, kasidah, dan puji-pujian kepada Allah dan RasulNya bisa disenandungkan. Komposisi dan melodi baru pun bisa diciptakan. Apapun itu, yang terpenting kita harus selalu memicu kerinduan akan kehidupan abadi yang bahagia pada semua peserta yang hadir ke program-program kita. Tak cukup dengan itu, kita juga harus menghembuskan rasa khawatir akan kehilangan kebahagiaan abadi tersebut. Pada kesimpulannya, kita harus senantiasa memberi pengingatan dan peringatan pada ruh spiritual setiap insan yang menjadi lawan bicara kita.

Akhirnya, masjid-masjid, jamaah-jamaah, hari-hari jumat, malam-malam di bulan rajab, syaban, dan ramadhan, malam ragaib, isra mikraj, nisfu syaban, nuzulul quran, dan lailatul qadar harus menjadi sarana bagi kita untuk mengarahkan umat manusia bertawajjuh kepada Allah  subhanahu wa ta’ala. Semua kegiatan yang disusun di waktu-waktu yang suci ini, harus diarahkan untuk mewujudkan tujuan mulia dan agung tersebut.

(Diterjemahkan dari ‘Ruhumuzu Dinleme Zamani:

Uc Aylar’ dari buku Kirik Testi 13: Mefkure Yolculugu)

ashkan-forouzani-1169045-unsplash

Merekatkan Ukhuwah dengan Cahaya Iman dan Al-quran

Biismihi Subhanah…

Saudara-saudaraku yang mulia!

Oleh karena kali ini aku melihat Risalah Ikhlas pada tulisan kalian, dengan memasrahkan kalian kepada risalah-risalah seperti risalah ikhlas tersebut, aku merasa tidak perlu lagi membuat pengajian tambahan. Akan tetapi, aku ingin memberi peringatan: Karena pekerjaan kita bersandar pada rahasia keikhlasan, karena pekerjaan kita merupakan iman kepada hakikat, tanpa perlu mencampuri kehidupan duniawi dan masyarakat lainnya, kita berkewajiban untuk menjauhkan diri dari hal-hal yang bersifat persaingan, partisan, dan perselisihan. Sayang seribu sayang, ketika sedang diserang habis-habisan oleh serangan ular yang teramat dahsyat, para ahli ilmu dan ahli agama dengan menggunakan alasan remeh seremeh gigitan nyamuk, justru membantu pengrusakan yang dilakukan kaum munafik, zindik, dan para  ular dengan jalan saling kritik satu sama lain; tanpa disadari mereka telah membantu kaum tersebut untuk membunuhi sesamanya.

(Lampiran Kastamonu, hlm. 212)

* * *

Penjelasan:

Oleh karena prinsip dari pekerjaan ini adalah menjelaskan hakikat iman dengan bersandar kepada rahasia keikhlasan, maka kita harus menjauhkan diri dari hal-hal yang dapat membahayakan pengabdian-pengabdian mulia ini. Untuk itu, sebelum terlambat kita harus:

  1. Tidak turut campur dalam kehidupan duniawi dan kehidupan sosial
  2. Menjauhkan diri dari persaingan, partisan, dan perselisihan

Pekerjaan ini mewajibkan kita untuk berlaku demikian. Sayangnya karena permasalahan ini tidak diperhatikan, di saat ular menyerang dengan dahsyatnya, dengan membesarkan permasalahan sepele seremeh gigitan nyamuk dan menggunakan kesalahan parsial sebagai alasan, para guru dan tokoh-tokoh spiritual sibuk mengkritik satu sama lain. Dengan demikian, tanpa disadari mereka telah memberi kesempatan kepada orang-orang tak beriman untuk melakukan aktivitas pengrusakannya. Keadaan ini mirip seperti memberi senjata kepada orang yang ingin membunuhi kita.

Demi menghindari perselisihan dan kontroversi, Ustadz pun tidak mengizinkan beberapa risalah untuk diterbitkan. Beliau tidak masuk ke dalam isu-isu kontroversial. Bahkan di tahun-tahun awal kehidupannya di Barla, Husrev Altinbasak abi datang mengunjunginya. Beliau adalah pensiunan tentara dengan pangkat terakhir kapten. Beliau juga merupakan sosok terkemuka di Isparta. Saat itu beliau bertanya kepada Ustaz, apakah diperbolehkan mengusap khuf (sepatu kulit tebal), serta pertanyaan berkenaan tentang syarat-syarat pendirian shalat jumat apakah mengharuskan seseorang sedang berada di kota tempat mukimnya, Ustaz menjawabnya: “Saudaraku, di masa ini membimbing hakikat iman dan al Quran ke setiap kalbu adalah pekerjaan yang sangat penting. Pandangan materialis sedang berusaha mendiktekan ketidakberimanan. Di masa ini, pengabdian yang paling penting adalah pengabdian iman. Jika kita sibuk dengan perihal ikhtilaf fikih, beragam pintu perdebatan akan terbuka di antara pandangan-pandangan fikih. Untuk saat ini, mari kita tidak menyibukkan diri dengannya. Mari kita bersama-sama  mengabdikan diri untuk iman dengan bimbingan cahaya al Quran.” Lewat jawabannya ini Ustaz meyakinkan Husrev abi sehingga ia pun tidak masuk ke masalah-masalah ikhtilaf. Beliau pun dipindahtugaskan dari Barla ke Isparta –sebagai juru tulis ‘Pabrik Mawar’– lewat pena berliannya, ia beralih pada penulisan Risalah Nur.

Diterjemahkan dari buku Seputar Panduan Berkhidmah, oleh Bediuzzaman Said Nursi.

Pemilihan artikel dan penjelasan oleh Abdullah Aymaz.

Aymaz, Abdullah, 2010, Hizmet Rehberi Uzerine, Istanbul: Sahdamar Yayinlari, hlm. 82-83

MURSYID HAKIKI

MURSYID HAKIKI

Tanya: Apa saja karakteristik mursyid hakiki?

Jawab: Seorang mursyid ketika menunaikan tugasnya,  yaitu memberikan pengarahan kepada mereka yang ingin mendapat bimbingan untuk dapat melakukan perjalanan kalbu dan kehidupan ruh, akan memperhatikan kondisi si murid secara umum. Mursyid sejati adalah orang yang mengetahui cara memberi atau cara membentuk dunia ruh, struktur berpikir, dan dunia pikiran murid yang diterimanya. Dia adalah sosok insan yang mampu memasuki kalbu murid-muridnya, dan bukan orang yang sekedar membagikan jumlah tasbih dan zikir kepada orang-orang yang mendatanginya. Dia adalah figur  agung yang mengetahui bagaimana si murid harus mengembangkan potensi dirinya, entah dengan sejumlah bacaan tasbih, ataukah dengan riyadhah, ataupun dengan berkhalwat. Jika sang mursyid mampu mendeteksi dan mampu memasuki kalbu murid-muridnya, maka ia akan dapat mengarahkan murid-muridnya. Membagi-bagikan sejumlah tasbih kepada setiap murid yang datang kepadanya adalah kemursyidan yang polos. Menepikan diri setelah menerima sejumlah tasbih pun merupakan kepolosan dalam menjadi murid.

Ya, hubungan antara seorang mursyid dan murid bergantung pada pengetahuan yang mumpuni. Seorang mursyid harus mengetahui kondisi kejiwaan muridnya. Ia harus mengarahkan dan menjadi sarana bagi kebangkitan muridnya. Sebenarnya seorang murid yang berkonsultasi kepada seorang guru bagaikan seorang pasien yang menemui seorang dokter. Pertama, sang mursyid akan mendiagnosa penyakit si murid yang datang kepadanya. Obat yang sama tidak bisa diberikan begitu saja kepada setiap murid yang datang tanpa ditemukan penyakitnya terlebih dahulu. Solusi dari setiap penyakit berbeda-beda. Ziya Pasa berkata:

Ketahuilah penyakitnya, baru mulai usaha pengobatannya

Apakah kau kira semua balsem merupakan obat bagi setiap penyakit?

Pertama, penyakit harus diketahui baru kemudian cara pengobatan yang tepat dapat dipraktikkan. Jika penyakitnya adalah kekufuran dan keingkaran, walaupun Anda memberinya jutaan tasbih sekalipun tidak akan memberi manfaat. Pengobatan yang harusnya dilakukan kepada orang yang demikian adalah dengan menghilangkan keraguan dan kebimbangan di dalam dirinya. Izinkan saya memberikan contoh dari Era Kebahagiaan:

Sayyidina Julaibib, salah satu di antara sahabat Baginda Nabi, adalah seorang pemuda yang saat itu masih berada di bawah pengaruh watak manusiawinya. Selang berapa lama kemudian, kekurangannya ini menjadi pembicaraan di antara masyarakat. Untuk itu, Baginda Nabi memanggil Sayyidina Julaibib agar menemuinya. Bagaimana Baginda Nabi memberikan perhatian khusus kepada dirinya saja sudah cukup untuk menyihir dirinya. Baginda Nabi kemudian melontarkan pertanyaan-pertanyaan kepada sosok manusia yang telah tersihir ini:

  • Apakah kamu mau jika hal itu dilakukan kepada ibumu?
  • Biarlah jiwaku menjadi tebusanmu, wahai Rasul Allah! Jelas aku tidak menginginkannya.
  • Tidak ada satu seorangpun yang mau hal itu dilakukan kepada ibunya. Andai kamu memiliki anak perempuan, maukah kamu jika hal itu dilakukan kepada anak perempuanmu?
  • Biarlah jiwaku menjadi tebusanmu, wahai Rasul Allah! Jelas aku tidak menginginkannya.
  • Tidak ada satu seorangpun yang mau hal itu dilakukan kepada anak perempuannya. Lalu, maukah kamu jika hal itu dilakukan kepada saudara perempuanmu?
  • Tidak, ya Rasulullah! Aku tidak mau!
  • Maukah kamu jika hal itu dilakukan kepada bibimu?
  • Tidak! Tidak! Aku tidak mau!
  • Demikianlah, tidak ada seorangpun manusia yang mau hal itu terjadi kepada ibu, bibi, dan anak perempuannya

Ya, lewat diskusi ini Baginda Nabi berhasil membujuk akal si pemuda dan memberikan kepadanya pemahaman yang cukup. Kemudian beliau meletakkan tangan mulianya ke atas dada sang pemuda dan mendoakannya:

“Ya Allah, ampunilah dosa-dosanya! Bersihkanlah kalbu  dan jagalah kehormatannya!”

Setelah didoakan, Sayyidina Julaibib berubah menjadi seorang teladan dalam  menjaga ifah[1]. Mungkin ia telah menjadi teladan dalam usaha menjaga ifah, tetapi karena orang-orang mengetahui reputasinya sebelum ini, tidak ada seorang pun yang berkenan menikahkan putrinya kepadanya. Baginda Nabi kemudian sekali lagi menjadi obat bagi permasalahan yang dihadapi sahabat yang akalnya telah direformasi ini. Beliau mengirim utusan kepada seorang ayah untuk menyampaikan niat melamar anak gadisnya guna dinikahkan dengan Sayyidina Julaibib (HR Imam Ahmad, al Musnad 4/442).

Selang beberapa waktu kemudian, Sayyidina Julaibib jatuh sebagai syahid di salah satu medan pertempuran. Di akhir pertempuran, Baginda Nabi bertanya kepada orang-orang di sekitarnya:”Apakah ada yang hilang di antara kalian?” Para ashabu kiram menjawab: ”Tidak, Ya Rasulullah. Jumlah kita lengkap.” Baginda Nabi bersabda: ”Tetapi ada yang hilang dari diriku!” dan beliaupun segera menuju tempat dimana Sayyidina Julaibib gugur sebagai syahid. Beliau meletakkan kepala Sayyidina Julaibib di atas paha mulianya dan bersabda: ”Julaibib berasal dariku dan Aku berasal dari Julaibib.” Sayyidina Julaibib pun terbang ke alam lainnya dengan akhir yang terpuji (HR Muslim, Fadhailus Sahabah, 131).

Demikianlah profil seorang mursyid hakiki, ia adalah insan yang mampu membujuk serta meyakinkan akal dan kalbu; Ia juga sosok yang mampu menyingkirkan masalah yang dihadapi muridnya. Pandangan merupakan hal yang penting. Pandangan seorang wali dapat menjadi sarana bagi melembutnya dan berubahnya hati seorang murid. Akan tetapi, membujuk dan meyakinkan akal adalah prioritas. Manusia bukanlah sekedar makhluk yang tersusun atas kalbu dan perasaan saja. Hampir seperlima bagian dari Al Quran berisi ajakan kepada manusia untuk memanfaatkan pandangannya dengan bertafakur dan menyajikan halaman-halaman buku alam semesta kepada setiap mata yang memandangnya.

Ya, pertama-tama, akal, kalbu, dan perasaan harus dibujuk dan diyakinkan. Kita bukanlah makhluk yang muncul dari perasaan, kalbu, atau pun akal belaka. Jika semua latifah (sederhananya dapat disebut sebagai panca indera ruhani) sepenuhnya diserahkan kepada Allah SWT, maka kita akan menjadi seorang mukmin yang tak mudah terguncang atas inayat Ilahi.

Karakteristik yang kita harapkan dimiliki oleh seorang mursyid di antaranya sebagai berikut: Pertama-tama, seorang mursyid harus menguasai ilmu positif yang berkembang di masanya. Dengan pengetahuannya tersebut, ia harus berusaha menjadi obat penawar bagi setiap permasalahan yang dihadapi semua orang. Jika demikian, luka-luka materi dan maknawi yang tadinya dianggap tidak bisa disembuhkan perlahan akan membaik atas taufik dan inayat dari Allah. Di waktu yang sama, seorang mursyid harus mampu menyingkirkan keraguan dan kebimbangan yang bersumber dari falsafah dialektika. Selain itu, memberikan resep wirid sesuai kebutuhan si murid juga merupakan salah satu tugas dari seorang mursyid. Sang mursyid harus memberi si murid wirid yang paling cocok dengan levelnya.

Sebenarnya semua orang dapat membaca beragam wirid, entah ia mengaitkan dirinya dengan seorang mursyid ataupun tidak. Menurut beberapa pendapat, untuk bisa membaca Awradu Qudsiyah dan Awradu Syah Naqsyabandi seseorang harus mengambil izin. Saya sendiri tidak menemukan landasan perlunya izin untuk dapat mempraktikkan suatu wirid, entah itu dari Al Quran, sunnah, ijma ulama, maupun jalannya para salafus salih. Menurut saya, pendapat ini tidak memiliki dasar. Tidak diperlukan izin khusus untuk berdoa kepada Allah SWT. Inilah jalannya Baginda Nabi, para sahabat, dan salafus salih.

Akan tetapi, tidaklah layak bagi seorang mukmin untuk tidak rutin membaca wirid yang telah diniatkannya. Wirid yang telah diniatkannya harus dibaca secara rutin, dimana pembacaan di hari kedua harus lebih baik daripada hari pertama. Baginda Nabi sangat menekankan urgensi dari hal ini. Ummul Mukminin Aisyah ra menyampaikan bahwasanya Baginda Nabi mengganti ibadah ketaatan di hari berikutnya jika di hari sebelumnya beliau berhalangan (HR Muslim, Salatul Musafirin, 297-298). Demikian sensitifnya beliau dalam menjaga ibadah salat sunah rawatib, dalam kitab-kitab hadist yang terpercaya kita dapat menemukan peristiwa mencengangkan berikut ini: Suatu hari, Baginda Nabi menunaikan dua rakaat salat sunah setelah menunaikan salat ashar. Kepada mereka yang bertanya salat apa ini, jawaban beliau: Ada rombongan tamu dari suatu tempat. Karena sibuk menjamu mereka, aku tidak sempat menunaikan salat bakdiyah zuhur. Jadi selepas salat ashar tadi, aku tunaikan salat bakdiyah zuhur tersebut (HR Bukhari, Mawaqit 33; HR Tirmizi, Salat 21).”

Sebenarnya menurut kitab-kitab fikih, kita tidak perlu mengqadha shalat sunah jika waktu salatnya telah lewat. Akan tetapi, sosok agung yang memiliki hubungan istimewa dengan Tuhannya tersebut, dimana saja beliau memulai hubungan dengan Tuhannya, beliau senantiasa memperdalam hubungannya dan dengan demikian derajat beliau pun melejit.

Ya, Baginda Nabi SAW senantiasa rutin dalam mengerjakan hal-hal yang telah dimulainya. Seandainya kita mampu menyelesaikan doa jausyan sehari sekali, mari kita rutinkan kebiasaan tersebut. Jika tidak mampu membaca sekaligus, ia dapat kita bagi. Sebagian di waktu pagi, sebagian di waktu sore, sebagian lagi di waktu malam. Akan tetapi, adalah sebuah keharusan bagi kita untuk memiliki wirid yang kita baca sehari-hari. Apa yang mampu kita baca harus direncanakan dalam suatu program dan harus kita rutinkan pembacaannya setiap hari.

 

Diterjemahkan dari artikel berjudul Hakiki Mursyid, dari Buku Bahar Nesidesi.

[1] Pengekangan hawa nafsu, pertarakan (KBBI)