afdhalul fadhail 2

APA ITU AFDHALUL FADHAIL?

APA ITU AFDHALUL FADHAIL?

Baginda Rasul al Akram S.A.W bersabda: “Fadhilah yang paling utama ialah menyambung kasih kepada orang yang memotong hubungan dengan anda, berbuat baik kepada orang yang tidak berbuat baik kepada anda, dan santun kepada orang yang mencaci maki anda” (HR Ahmad No. 15065), dan dalam riwayat lainnya: “memaafkan mereka yang berbuat zalim kepada anda”. Berkenankah Anda menjelaskan intisari pesan dan hakikat yang terkandung di dalam hadis ini? Apa yang dimaksud dengan fadhilah?

Fadhilah yang di zaman sekarang ini mereka katakan sebagai keutamaan atau kalau memang maknanya sepadan, anda dapat menyebutnya dengan “keutamaan yang paling utama”. Prinsipnya, di satu sisi pemilik fadhilah adalah sang pahlawannya pahlawan. Maksudnya, pahlawan dengan bakat di atas kemampuan pahlawan biasa, dengan kata lain merekalah yang dimuliakan dengan bakat kemampuan yang melampaui kemampuan orang-orang pada umumnya. Merekalah yang dimuliakan dengan berbagai macam kelebihan oleh Penciptanya (SWT).

Dari sisi pendefinisian ini, maka dapat diketahui bahwa kata “utama” tidak mungkin sepadan dengan kata “fadhilah”. Disabdakan bahwasanya fadhilahnya fadhilah (أَفْضَلُ الْفَضَائِلِ) yang pertama adalah أَنْ تَصِلَ مَنْ قَطَعَكَ (An tashila man qatha ak). Jadi maksudnya, tugas mendasar anda adalah untuk tidak pernah memutuskan hubungan dengan yang memutuskan silaturahminya dengan anda. Sekarang bagaimana kita tidak terpengaruh dengan sikap orang-orang yang memutuskan hubungan dengan kita? Kita harus tetap mempererat tali kasih sayang seerat hubungan orang-orang yang tidak bercerai-berai, sebagaimana di dalam hati nurani kita yang sebenarnya senantiasa terpatri perasaan untuk saling terhubung. Entah itu kerinduan kepada tanah air, sedangkan untuk kerinduan kita kepada ayah dan ibu, kita menyebutnya: “ikatan kepada ayah dan ibu”.

Terkadang dalam satu frame, semua tempat yang pernah kita kunjungi, hampiri, dan tinggali semuanya menjadi satu dalam sebuah keinginan, meliputi pikiran kita. Seringkali kita pun mengerang menahan kerinduan terhadap tempat-tempat itu, oleh karena itulah jangan sampai kita mengizinkan perpisahan dan perpecahan muncul di tengah kita. Prinsipnya adalah jangan sampai kita membiarkan mereka (yang memutuskan hubungan dengan kita) dalam kesendiriannya. Kalau hati mereka cenderung kepada perpisahan, mereka bagai melepaskan diri mereka, seperti dahan yang menggugurkan daunnya, hingga sang daun pun membusuk di tanah. Maka kita pun dengan segala daya yang ada di tangan, kita harus bisa menjadi penghalang terjadinya perpecahan. Jangan sampai memberi kesempatan kepada timbulnya perpecahan, kalau anda bisa melakukannya, maka itulah yang disebut “fadhilahnya fadhilah” untuk anda.

Kesendirian adalah masalah yang amat krusial, ketika anda mengatakan: “afdholul fadhooili an tashila man qatha ak…”, maka sebenarnya kalimat itu menitikberatkan pada masalah bersendiri (krn berpisah). Tetapi masalahnya tidak hanya sampai disitu, poin tadi hanyalah salah satu dari 4 asas fadhilah, akan tetapi jika ada satu orang yang memilikinya, maka itulah sifat mukmin sejati, itulah akhlaknya Al Quran, akhlak Nabawiyah SAW.

Kemudian yang kedua: “wa tu’tiya mammana ‘aka”. Ketika seseorang tidak memberi anda, baik itu berupa penghargaan atau pemuliaan, baik itu berupa pemberian satu sama lain, kalau misalnya ada kebutuhan anda mungkin berupa sedekah kalau ada keperluan yang lain, misalnya berupa zakat, kalau misalnya ketika ada sebuah pekerjaan, mungkin berupa support dukungan. Mungkin dia tidak melakukan hal tersebut, dia mungkin tidak membantu anda dalam kasus ini, dia bisa dikatakan tidak menunaikan tugasnya untuk membantu sesama muslim. Akan tetapi walaupun demikian, anda harus tetap meneruskan bantuan anda kepadanya di dalam kasus itu, demi terwujudnya perasaan memberi kepada sesama, anda harus hadir menghadapi sikapnya yang tidak mau memberi dengan tetap berbagi.

Dia mungkin tidak memperhatikanmu, acuh tak acuh, dia mungkin juga tidak menghargai anda. Meski demikian tetaplah tunjukkan perhatian anda kepadanya dan hargailah ia, pastikan tangan dan hati anda selalu terbuka untuknya. Tetaplah berprasangka baik saat berhadapan dengannya, jangan sembunyikan senyum diwajahmu saat berpapasan dengannya, jangan menyimpan uluran tanganmu untuknya, demikian juga dengan sifat suka memberimu. Inilah poin kedua hadis ini, poin ini pun membahas topik “kesendirian”. Lagi-lagi merupakan hal yang penting, ini pun adalah sifat seorang mukmin, bersamaan dengan itu inilah khuluqul Quran (akhlak Ilahi). Mengapa demikian? Karena Allah Jalla Jalaluhu, walaupun syukur kita sedikit tetapi Dia tetap senantiasa membagikan rizki-Nya, tak pernah meninggalkan kita sehingga tidak mendapat kebagian.

Mengenai hal ini saya memohon izin untuk menyampaikan sebuah riwayat, Sayyidina Hz Ibrahim as ketika ada tamu yang datang, beliau senantiasa menghidangkan jamuan, itulah Hz Ibrahim yang masyhur dengan kedermawanan dan kemuliaan hatinya. Sebagaimana beliau as masyhur dengan ketulusannya, kesetiaannya, dan kehangatannya terhadap sahabat-sahabatnya, beliau pun terkenal dengan kedermawanannya, memberi makanan kepada semua orang, beliau menyuapi masyarakatnya dengan apapun yang dimilikinya.

Dalam riwayat yang lain, disebutkan bahwa malaikat berkata: “Ya Rabbi, kekasihmu ini (Hz Ibrahim) kalau dilihat dari status kedekatannya dengan-Mu, bagaimana bisa mempunyai dunia (materi) begitu banyak?”. Dengan level kedekatannya yang seperti ini, bagaimana bisa beliau as mempertahankan memiliki harta duniawi yang banyak sekaligus juga menjadi khalilullah? Disini Allah SWT mengirimkan malaikatnya, sebenarnya dalam kisah ini kita tidak perlu memfokuskan pada apa yang dikatakan secara zahir oleh para malaikat, kita harus melihat hakikat apa yang sebenarnya terjadi dalam riwayat ini. Malaikat mendatanginya, kemudian para malaikat mengatakan kepada Hz Ibrahim: “Subbuhun Quddusu Rabbuna Wa Rabbil Malaikatu Warruh…”, dan tentu saja Hz Ibrahim as bukanlah sosok yang tidak paham makna dari kalimat ini. Beliau as, menghambakan diri dalam bentuk yang paling cocok dengan bayangan Zat Ilahi. Maka, demikian bersemangatnya di dalam penyucian dan penghambaan kepada Allah, Hz Ibrahim (demi mendengar tasbih yang dibacakan malaikat) mengatakan: “Biarlah 1/3 dari hewan ternakku ini untukmu saja”.

Demikian mulia hatinya, demikian dermawan dirinya. Hz Ibrahim berkata: “Bisakah anda membacakan kalimat tasbih tersebut sekali lagi?”, ini maknanya apa? Demikian besarnya pengaruh kalimat tasbih yang diucapkan dari lisan malaikat kepada hati hz Ibrahim. Kata-kata ini pasti bukan karena Hz Ibrahim tidak mengerti kedalaman maknanya sehingga minta diulangi agar bisa dimengerti, tetapi Beliau as ingin mendengarnya lagi (keluar dari lisan para malaikat). Maka ketika dibacakan kembali untuknya sekali lagi, Hz Ibrahim berkata: “Sisa ternak 1/3nya lagi untuk anda”. Sekali lagi dibacakan  untuknya, Hz Ibrahim berkata: “Semua ternak saya untuk anda saja”, dan  ketika keempat kalinya dibacakan lagi untuknya, Hz Ibrahim berkata: “Biarlah saya menjadi budak anda (karena hartanya sudah habis)”. Demikianlah, kemuliaan dan kedermawanan hati hz Ibrahim as sudah memasuki level yang sangat tinggi.

Lokasi Kejadian Bi'ru Maunah

Bi’ru Ma’unah dan Para Sahabat yang Mati Syahid

Bi’ru Ma’unah dan Para Sahabat yang Mati Syahid

Tahun Kenabian           : 17
Tahun Hijriah                : 4
Bulan                                 : Safar
Hari                                    : –
Hari dalam Minggu     : –

Di bulan Safar tahun keempat Hijriah datang seorang pemuka kabilah Banu Amir bin Sa’sa yang bernama Abu Barra’ Amir bin Malik ke kota Madinah. Rasulullah SAW menjelaskan tentang Islam dan mengajaknya untuk menjadi seorang muslim. Namun Ia tidak menyambutnya, namun juga tidak menunjukkan penolakan terhadap ajakan tersebut. Ia tampak bimbang dan ragu. Mungkin Ia membutuhkan wakt. Walaupun Ia tidak mengatakan “Aku menerima” namun Ia menginginkan agar orang-orang terdekatnya bertemu dengan agama yang di bawa Rasulullah SAW ini. Oleh karenanya Ia mengatakan :

“Wahai Rasulullah, jika seandainya engkau mengutus sahabat-sahabatmu kepada penduduk Najd untuk menjelaskan Islam, Aku merasa mereka akan menyambut ajakan ini.”

Rasulullah SAW berkata : “Aku khawatir penduduk Najd akan berlaku buruk terhadap mereka”. Lalu Amir bin Malik menjawab :

“Aku yang akan menjamin (keamanan) mereka. Kirimlah mereka untuk mengajak kepada Islam.”[1]

Sikap umum yang di ambil Rasulullah SAW adalah memanfaatkan segala kesempatan dan mengetengahkan segala usaha untuk menjelaskan sesuatu (Islam) kepada seluruh manusia. Disamping itu hingga hari ini kabar yang datang ke madinah dari daerah tersebut menjelaskan tentang masalah dari segi keamanan yang di hadapi oleh muslim-muslim yang menetap disana. Bahkan kabilah-kabilah seperti Ri’l, Zakwan, Usayyah dah Lihyan mengirimkan kabar dan tentang masalah keamanan ini mereka meminta bantuan dari Rasulullah SAW.[2]

Setelah itu Rasulullah SAW memilih 70 orang sahabat agar berangkat ke penduduk Najd untuk menjelaskan Islam didaerah tersebut. [3] juga dititipkan surat untuk diberikan kepada para pembesar kaum ditempat-tempat yang mereka singgahi. Selanjutnya Munzir bin Amr r.a di ta’yin sebagai pemimpinnya.[4] Semua yang dipilih adalah para sahabat yang sangat bagus pemahamannya terhadap Firman Allah dan Hadis Rasulullah SAW. Mereka adalah para Qari dari Ashabus Suffah.[5]

Setelah melakukan perjalanan mereka tiba di sebuah tempat untuk istirahat, tempat tersebut bernama Bi’r Ma’unah. [6]  Amr bin Umayyah r.a dan Munzir bin Amr r.a memperistirahatkan unta mereka dan membiarkannya untuk mencari makan.[7] Saat itu juga mereka ingin mengirim surat-surat yang diberikan Rasullah SAW kepada orang-orang yang di tuju. Kemudian Haram bin Milhan r.a dengan dua orang sahabat bersedia untuk mengirim surat tersebut.

Pertama sekali mereka memberikan kepada Amir bin Malik dan Ia pun membaca suratnya. Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan kepada keponakannya yang bernama Amir bin Tufail. Ketika mendekati kediaman Amir, Haram r.a mengatakan kepada dua orang sahabat yang bersamanya :

“Kalian tetaplah berada disini sampai Aku berada disisi mereka! Jika mereka memberikan keamanan kepadaku maka kalian akan mengetahuinya; akan tetapi jika mereka membunuhku, maka segeralah pergi dan kabari kepada para sahabat-sahabat yang lain.”

Kemudian Ia berjalan sendiri. Setelah tiba di hadapan Amir bin Tufail Ia memberikan surat Rasulullah SAW dan mengajak mereka masuk islam. Amir yang menerima surat dari Rasulullah SAW, tanpa membaca surat tersebut Ia langsung memberikan perintah untuk membunuh Haram. Setelah itu Jabbar bin Sulma mengambil tombak dan menusukkannya dari belakang. Utusan Rasulullah SAW tersebut bersimbah darah, tombak yang menusuk dari belakangnya menembus dadanya.  Haram megusap wajahnya dengan tangan yang penuh darah, dan diwaktu itu juga ketika sedang menangani ujung tombak yang ada di dadanya, dengan hati yang senang Ia mengucapkan kata-kata yang mengambil perhatian orang-orang yang ada di sekitarnya :

“Allahu Akbar! Aku bersumpah kepada Rabbnya Ka’bah bahwa Aku telah selamat!” [8]

Haram bin Malik r.a syahid dengan seketika. Namun kebencian Amir bin Tufail tidak bisa di tenangkan dengan mudah. Ia memerintahkan kepada kabilahnya (Banu Amir) untuk menuju kepada para sahabat yang lain. Akan tetapi Banu Amir tidak menuruti permintaan tersebut karena janjinya Amir bin Malik kepada Rasulullah SAW.

Oleh Karena itu Amir bin Tufail meminta bantuan kepada kabilah Usayyah, Ri’l, Kare dan Zakwan untuk menyerang utusan Rasulullah SAW. Mereka menerima ajakan tersebut dan mengepung para sahabat.

Sahabat-sahabat yang melihat mereka mengatakan :

“Wallahi Kami tidak memiliki urusan dengan kalian! Kami hanya berangkat untuk melaksanakan tugas yang di berikan Rasulullah SAW. Kami adalah utusan Rasulullah SAW.”

Akan tetapi mereka adalah para bandit yang telah merah matanya  dan tidak mau mendengarkan apapun lagi sehingga dengan segala rasa kebencian itu juga mereka menyerang para sahabat Rasulullah SAW. Di tempat yang tidak ada keseimbangan kekuatan ini para sahabat yang dipilih khusus untuk menyampaikan pesan Allah SWT dan Rasulullah SAW, pesan yang memberikan kehidupan. Ya, walaupun mereka ingin melakukan pertahanan namun hingga akhirnya semuanya di hunus pedang dan mati syahid  kecuali Amr bin Umayyah r.a.[9]

Para Syahid Bi’ru Ma’unah

Berikut adalah beberapa nama para sahabat dari 69 sahabat “Qurra” pilihan Rasulullah SAW dari Ashabus Suffah yang dikirim untuk menyampaikan pesan-pesan universal islam ke kabilah Najd dan di jebak di Bi’ru Ma’unah hingga mati syahid :

Munzir bin Amr al-Ansari r.a,

Aus bin Muaz bin Aus al-Ansari r.a,

Hakam bin Kaysan al-Mahzumi r.a,

Haris bin Simmah al-Ansari r.a,

Sahl bin Amir al-Ansari r.a,

Pamannya Sahl bin Amr r.a,

Haram bin Milhan r.a,

Saudaranya Sulaim bin Milhan r.a,

Urwah bin Asma’ bin Salt as-Sulami r.a,

Nafi’/Rafi’ bin Budail bin Warqa’ al-Huzai r.a,

Amir bin Fuhairah r.a,

Qutbah/Dahhak bin Abdu Amr bin Mas’ud r.a,

Malik bin Sabit al-Ansari r.a,

Saudaranya Sufyan bin Tsabit al-Ansari r.a,

Mas’ud bin Sa’ad bin Qais r.a,

Muaz bin Mais/Nais r.a,

Munzir bin Muhammad r.a,

Abu Syaikh/Ubay bin Tsabit r.a,

Abu Ubaidah bin Amr r.a,

Abu Amr bin Ka’ab bin Mas’ud r.a,

Ubay bin Muaz bin Anas r.a,

Saudaranya Anas bin Muaz bin Anas r.a,

Basyir al-Ansari r.a,

Tsabit bin Khalid r.a,

Khalid bin Tsabit r.a,

Khalid bin Ka’ab bin Amr r.a,

Ri’ab bin Hunaif bin Ri’ab r.a,

Sa’ad bin Amr bin Saqf r.a,

Anaknya Tufail r.a,

Sufyan bin Khatib bin Umayyah r.a,

Suhail bin Amir bin Sa’ad al-Ansari r.a,

Aiz bin Mais bin Qais r.a,

Ubadah bin Amr r.a,

Abdullah bin Qais bin Sirmah r.a,

Atiyyah bin Amr al-Ansari r.a,

Al-Muttalib as-Sulami r.a,

Mas’ud bin Khalid r.a


[1] Ibnu Hisyam, Sirah 2/117; Tabari, Tarikh 3/85, 86; Wakidi, Maghazi 261; Tabrani, Kabir 20/356 (841)

[2] Ibnu Hanbal, Musnad 19/119 (12064)

[3] Bukhari, Maghazi 28; Muslim, Masajid 54; Ibnu Hanbal, Musnad 19/119, 141 (12064, 12088); Baihaqi, Kubra 9/377 (18822); Waqidi, Maghazi 261; Tabari, Tarikh 2/86. Ada yang mengatakan 40. Lihat. Ibnu Hisyam, Sirah 2/117; Tabrani, Kabir 20/357(841)

[4] karena Munzir r.a adalah seseorang yang terbakar dengan keinginan untuk mati syahid, maka hari itu untuknya di sebut Mu’iqu li Yamuta, yang artinya orang yang menyerahkan dirinya untuk mati. Lihat Ibnu Hisyam, Sirah 2/117; Tabrani, Kabir 20/357 (841); Ibnu Hajar, Isabah 6/217 (8230)

[5] Bukhari, Maghazi 28; Muslim, Masajid 54; Ibnu Hanbal, Musnad 19/119, 141 (12064, 12087); Waqidi, Maghazi 261.

[6] Ibnu Hisyam, Sirah 2/117; Waqidi, Maghazi 262.

[7] Waqidi, Maghazi 262

[8] Bukhari, Maghazi 28; Ibnu Hanbal, Musnad 20/420 (13195); Nasa’I, Kubra 7/367 (8239), 9/377 (18823); Tabrani, Kabir 20/357 (841); Ibnu Hisyam, Sirah 2/117; Waqidi, Maghazi 262; Tabari, Tarikh 3/86. Haram bin Milhan, merupakan saudara dari (Ibunda Kita) Ummu Sulaim. Lihat, Baihaqi, Sunan 9/225; Ibnu Abdilbarr, Isti’ab, 1/337.

[9] Bukhari, Maghazi 28; Ibnu Hanbal, Musnad 19/119 (12064); Tabrani, Kabir 6/125 (5724), 20/357 (841); Baihaqi, Kubra 2/284 (3096); Ibnu Hisyam, Sirah 2/117; Waqidi, Maghazi 262; Tabari, Tarikh 3/86.

anna-jahn-414466-unsplash

Falsafah Hidup Jiwa-Jiwa Berdedikasi

Adanmış Ruhların Hayat Felsefesi, Herkul | 16/06/2013, BAMTELI

 

Bukanlah kemegahan dunia dan kerajaannya yang akan mengubah arah jalanmu, bukan pula keindahan-keindahan lainnya – Villa di tepi Bhosphorus, rumah-rumah peristirahatan di tempat yang sejuk, harta kekayaan, kesempatan dan keberuntungan, kekuatan dan jabatan – yang  mempesonakan. Karena jalan dimana Anda mewakafkan diri Anda ini, adalah jalannya para jiwa yang berdedikasi, jalannya mereka yang tak mengharapkan pamrih dan imbalan.

***

Jadilah kalian matahari, yang mengelus lembut ubun-ubun; tak perlu ada pihak lain yang mengirimkan bantuan hidrogen ataupun helium kepada kalian! Biarlah kalian saja yang terbakar.. Jangan tunggu pujian dari orang lain. Mengalir deraslah kalian seperti jeram; menyebarlah kalian dari satu tempat ke tempat lainnya. Akan tetapi jangan sekali-kali menantikan sesuatu dari orang lain. Jadilah tanah, bukalah dada kalian kepada setiap benih. Rawatlah mereka dalam dada kalian sebagaimana ibu merawat anak-anaknya.. Tetaplah di bawah telapak kaki, jangan pernah sekali-kali berpikir untuk melompat (ke arah kesombongan). Jadilah angin, berhembuslah; meresaplah bersama hembusannya, teresaplah dalam hembusannya. Akan tetapi jangan sekali-kali menantikan pamrih. Jangan harap namamu akan mengharum. Jangan berharap:”mudah-mudahan mereka menghadiri pemakaman saya.” Jangan membayangkan:”mudah-mudahan mereka menshalatkan jenazah saya.” Cukuplah Allah buat kalian!

***

Allah SWT telah memperingatkan kepada kita bahwa menyakiti orang lain dengan cara membiarkan mereka berterima kasih atas bantuan kita dapat menjadi sebab bagi tidak diterimanya sebuah amal salih: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian (QS Al Baqarah: 264). Ya, semua sedekah harus dilakukan dengan pendekatan ini; amal kebaikan tidak boleh direndahkan dengan riya’, sum’ah, dan membiarkan orang yang kita bantu merasa berhutang budi. Perbuatan mulia itu tidak boleh dikotori dengan pamrih

***

Tanpa pamrih, adalah syiar dari kenabian; untuk menyelamatkan umat manusia, kekhususan dari jalan irsyad (dakwah) ini adalah selalu bangkit dari ‘kematiannya’ tanpa memandang mulia dirinya, senantiasa berusaha, berlari, dan

thom-holmes-556804-unsplash

Kewajiban Mencari Hakikat dan Tanggung Jawab yang Diemban Setelahnya

Hakikatleri Duyma ve Mesuliyet, Sohbet Atmosferi, s.42-45

 

Apakah mereka yang mengetahui sebuah hakikat nanti akan diminta pertanggungjawaban atas apa yang diketahuinya? Ataukah dengan mengetahui hakikat tersebut berarti dia sudah menunaikan sebagian kewajibannya?

***

Kebodohan adalah hal yang tidak disukai Allah,  Al Quran, dan Islam. Ada pepatah:  “Alhamdulillah aku diciptakan sebagai babi, dan tidak diciptakan sebagai orang bodoh!”. Menurut Islam, bodoh berarti tidak mengetahui Keagungan Allah. Misalnya Abu
Jahal, walaupun ia dikenal sebagai orang yang berbudaya di tengah masyarakatnya, tetapi ia disebut sebagai Abu Jahal  yang berarti Bapak Kebodohan.

***

QS Ankabuut  [29.20] Katakanlah: “Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”  Di ayat ini, kita diperintahkan untuk membaca, mentafakkuri alam, dan menemukan kehidupan kalbu kita.

            Di ayat lainnya, [QS Abasa 80.24] : “maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.”  Di ayat ini, kita perhatikan bahwa makanan kita yang berasal dari hewan maupun tumbuhan didapatkan atau berasal dari siklus hidrologi, yang notabene menjelaskan bagaimana Allah menganugerahkan air hujan dari langit agar tumbuhan dan hewan dapat tumbuh berkembang. Selain itu