mengembangkandiri.com gift-shop-at-the-street-market-in-istanbul-turkey-2021-08-26-18-35-40-utc

Karakter Kejujuran Seorang Muslim

Kejujuran, Kebohongan, dan Omong Kosong

Orang-orang yang baru datang ke Turki pasti sepakat akan satu hal: Saat mereka berniaga dengan masyarakat muslim Turki, tidak diperlukan suatu kontrak berdagang tertulis karena perjanjian secara lisan sudah cukup disana. Situasi ini adalah hasil dari etika dan moral Islam yang sudah lama tertanam di masyarakat Turki.  

Muslim yang berpegang kepada akhlak Al Quran digambarkan dengan,

“…… dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji….” (Q.S. Al-Baqarah 2: 177). Dalam kelanjutan ayat itu disebutkan, Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” 

Seorang Jenderal Prancis, Comte de Bonneval, membagikan kekagumannya terhadap kejujuran masyarakat Turki,

“Kriminalitas seperti ketimpangan hukum, monopoli, dan pencurian seakan tidak dikenal di Turki. Singkat kata, entah karena keyakinan agama atau ketakutan kepada hukum, mereka menampilkan satu tingkat integritas yang membuat banyak orang tercengang kepada kejujuran mereka.”

Ketelitian dan sensitivitas pedagang Turki dalam urusan kejujuran tergambar dalam kisah berikut:

Kala itu, seorang pedagang tekstil dari negeri nan jauh datang ke negeri Utsmani dan ingin membeli seluruh kain yang dibuat oleh satu pabrik kain yang sangat dia sukai.

Namun, suatu ketika, dia melihat pemilik pabrik menyingkirkan satu gulungan kain saat kain yang lain sedang ditimbang.

Ketika ditanya alasannya, pemilik itu menjawab, “Saya tidak bisa memberikan kain ini, kain ini memiliki cacat.”

Meskipun pedagang asing tadi berkata, “Itu tidak masalah,”

Si pengusaha Turki tetap tidak mau menjual satu gulungannya itu dan berujar,

“Sudah kubilang bahwa kain ini cacat. Anda pun sudah tahu perihal ini. Ketika Anda menjual barang cacat ini di negerimu, orang-orang tidak akan tahu bahwa saya sudah memberitahu Anda. Maka, saya seolah menjual barang cacat ke rakyat negerimu. Harga diri dan kehormatan Daulah Utsmani akan dicerca dan mereka akan menyangka bahwa kami ini culas. Inilah mengapa saya tidak akan menyerahkan gulungan cacat ini bagaimanapun jua.”

Demikian dia menjelaskan alasannya kukuh tidak menjual kain tadi.

Satu karakter yang membedakan Bangsa Turki dari bangsa-bangsa lain adalah mereka tidak mengenal tindakan menipu dan berbohong. Ajaran agama Islam telah masuk menjadi pendirian dari masyarakat Turki untuk mencintai akhlak mulia serta menolak perbuatan tercela.

Hal ini disampaikan dalam dokumen sejarah dari Abad XIX yang  tertulis sebagai berikut:

“Kita harus mencari tahu karakter suatu bangsa dari kelas menengahnya, di antara orang-orang yang mencari rezeki di pabrik kecil, mereka yang tidak miskin dan tidak pula kaya: kelas menengah pada bangsa Turki, memiliki nilai moral dan kebajikan yang terikat dengan ilmu pengetahuan yang cukup sepadan dengan kebutuhan mereka, dengan kecenderungan patriarki kekotaan di level keluarga satu rumah dan di masyarakat. Kejujuran juga menjadi karakter khas pengusaha Turki… Di perkampungan mereka, di mana tidak ada orang Yunani, kesederhanaan hidup dan kemurnian prilaku manusia amatlah terlihat, dan disana tidak dikenal istilah penipuan.” (Thomas Thornton (1762–1814), seorang pedagang Inggris di Timur Tengah dan penulis tentang Turki).

Pengamatan pengusaha-pelancong Prancis Abad VII, Du Loir, bisa menjadi simpulan yang gamblang: “Tidak diragukan lagi, politik dan kehidupan di Turki, dalam hal moralitas, adalah role model bagi seluruh dunia.”  .

Seorang Muslim harus Jujur dan Amanah

Seorang muslim harus jujur dan amanah, perkataan dan perbuatan yang dilakukannya tidak boleh berlawanan dengan pikiran dan perasaannya. Kita harus berusaha banting tulang untuk tetap dalam kondisi seperti itu. Rasulullah sendiri memberikan perhatian yang lebih dalam penanaman nilai moral ini pada diri anak-anak.

Untuk menghindarkan para orang tua dari dosa berbohong, meskipun kepada anak-anak mereka, beliau telah merumuskan prinsip-prinsip umum sebagai pedoman dalam hubungan antara anak dan orang tua.

Sebagai contoh, tidak boleh seorang ayah atau ibu untuk berbohong pada anaknya, dalam kondisi apapun, dan tidak pula membeda-bedakan perlakuan kepada tiap anak.

Abdullah bin Amir menceritakan: “Suatu hari ibuku memanggilku, di saat Rasulullah SAW tengah duduk di rumah kami. Kata ibuku: Datanglah kemari! Aku akan memberimu sesuatu. Rasulullah bertanya padanya: Apa yang akan Engkau berikan padanya? Jawab ibuku: Saya ingin memberinya kurma. Maka Rasulullah berkata: Jika engkau malah tidak memberinya apa-apa, maka itu akan jadi dosa bagimu.” 

Abu Hurairah juga meriwayatkan kisah serupa: “Rasulullah SAW bersabda, Barang siapa yang berkata kepada anaknya, “Datanglah kemari, aku akan memberimu sesuatu,” lalu malah tidak memberi apapun kepada si anak, maka itu akan dicatat sebagai perbuatan dusta.”

Kesesuaian antara hati dengan perilaku yang ditampilkan oleh seorang muslim juga amat penting untuk nilai integritasnya. Sama dengan kita harus menjauhi perkataan kasar, kita juga harus menjaga diri kita dari perasaan atau pemikiran penuh benci.

Dengan kata lain, seorang muslim harus berkata-kata sesuai dengan pikirannya, dan berperilaku sesuai dengan perkataannya; tidak boleh ada perbedaan antara yang terdapat dalam hati kita dengan perilaku yang kita tampilkan.

Hadis berikut mengupas aspek integritas:

“Barang siapa yang hatinya batil, tidak akan memiliki iman yang sempurna. Jika lidahnya tidak berkata benar, maka dalam hatinya tidak ada kebenaran, dan jika tetangganya tidak selamat darinya, maka dia tidak akan masuk surga” (Al-Musnad, 3/198).

Di sini Nabi mengajarkan bahwa hati dan lidah harus saling berkesesuaian, dan keduanya harus menampilkan integritas.

Ketika terdapat kesesuaian antara aktivitas batin seorang muslim dengan aktivitas lahirnya, maka dia akan selalu jujur, dalam bekerja maupun berniaga. Setiap muslim harus dengan detail tidak pernah sekalipun berbuat curang atau menipu orang lain demi mendapat laba yang lebih besar ataupun demi kepentingan lain.

Terdapat hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah berbunyi,

“Suatu hari Nabi melihat (seorang lelaki menjual) setumpuk gandum. Nabi memasukkan tangannya ke tumpukan itu dan menemukan bahwa gandum yang di bawah basah sedangkan yang di tumpukan atas kering.

Maka Nabi bertanya kepada si penjual, ‘Apa ini?’

Lelaki itu menjawab, ‘Hujan telah membuatnya basah.’

Jawab Nabi, ‘Kamu harus meletakkan gandum yang basah di atas (agar semua orang bisa melihatnya).

Penipu bukan termasuk golongan kami.’”

Abu Sa’id al-Khudri meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda,

“Pedagang yang tidak melenceng dari nilai keadilan dan kejujuran akan dibangkitkan bersama dengan para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang taqwa.”

Salah satu karakteristik unik pada diri sahabat Nabi -barangkali adalah karakteristik yang paling penting- adalah integritas dan kejujuran yang teguh. Kualitas ini telah membawa satu atmosfer mendalam berupa kelapangan dan rasa aman pada batin dan hubungan antarpribadi mereka.

Pada suatu waktu Abu al-Haura bertanya kepada Hasan bin Ali, “Apa yang engkau hafal dari Rasulullah?”

Jawabnya, “Aku menghafal dari beliau: ‘Tinggalkan apa-apa yang membuatmu ragu, beralihlah ke apa-apa yang menghapuskan keraguan darimu.’

Dalam riwayat yang sama, Sufyan bin Abdullah As-Sakafi berkata, “Wahai Rasulullah, berilah ilmu tentang Islam kepadaku yang cukup bagiku sehingga aku tidak perlu bertanya kepada siapapun lagi tentang Islam.”

Beliau menjawab, “Katakanlah, ‘Aku beriman kepada Allah,’ kemudian jadilah benar-benar jujur dalam segala hal.”

Pertolongan-Nya dalam Mengabdi di Jalan-Nya

Allah Azza wa Jalla dalam Al Quran berfirman,

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS.Ali Imran : 102)

Ayat ini memiliki makna yang begitu dalam.

Semua orang beriman harus memiliki pijakan yang kuat; berusaha menjaga kesucian hati; selalu mengingat makna penciptaan;  sekuat tenaga memenuhi janji pada-Nya.

Senada dengan ayat dalam surat Al-baqarah, “…penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu, dan takutlah kepada-Ku saja.” (Al-baqarah : 40)

Kita sudah berjanji untuk mengenal-Nya, mengenalkan-Nya pada insan lainnya, dan menyembah-Nya dengan sebaik-baik penyembahan. Jika janji kita ini terpenuhi, niscaya Dia akan mengampuni hamba-hamba-Nya dan menganugerahkan indahnya surga.

Memiliki pijakan yang kuat memiliki makna tersendiri. Makna tersebut termaktub dalam ayat, “Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad : 7)

Tidak ada seorang hamba pun yang mampu menolong Allah dan Allah tidak membutuhkan pertolongan dari siapapun. Ayat ini bermakna bahwa kita harus menolong agama Allah dan berjuang untuk mensyiarkan keagungan nama-Nya. Barangsiapa yang menolong agama-Nya pasti akan mendapat ampunan Allah kelak di akhirat. Mereka akan meninggalkan dunia fana ini dengan iman di kalbunya. Allah akan meneguhkan kedudukannya sepanjang hayatnya.

Hal ini berlaku bagi kedua belah pihak, pihak yang membimbing dan pihak yang dibimbing.

Di akhirat, begitu banyak balasan yang tidak terduga menunggu hamba-hamba yang seperti ini.

Ada satu kisah yang sangat menarik.

Seorang pemuda bernama Safa yang sedang menempuh studinya di Asia Tengah bercerita,

“Saya memiliki seorang teman yang mendapat beasiswa pemerintah. Kita berada di jurusan dan kelas yang sama. Ia lulusan dari sekolah menengah teknik sebelumnya.

Ia tinggal di asrama yang disediakan oleh pihak perguruan tinggi.

Selama liburan musim panas, ia pulang kampung halaman dan ayahnya merasa anaknya itu telah berubah.

Sang ayah berkata, “Nak, saya pikir, sepertinya disana, semua sudah menjadi terlalu bebas bagimu. Ayah tidak akan mengirimmu kembali lagi ke sana.”

Ia bersikeras agar ayahnya mengizinkannya kembali berkuliah, dengan dalih bahwa pendidikan merupakan sesuatu yang begitu berarti baginya.

Ayahnya menimpali, “Saya akan mengizinkanmu dengan satu syarat. Kamu harus selalu berbuat baik dan berteman dengan orang-orang saleh, kemudian saya akan mempertimbangkannya.”

Ia pun menerima syarat itu.

Awal semester telah tiba. Ia mendatangiku dan menceritakan segalanya.

Ia meminta agar dapat tinggal bersama di kontrakan saya waktu itu.

“Begitulah syarat ayahku.  Untuk melanjutkan studiku, Aku harus tinggal bersama kalian.” ucapnya.

Saya pun menjawab, “Itu bisa diatur. Namun sebelumnya Aku harus berbicara kepada penghuni yang lainnya.”

Langsung, setelah itu saya menemui teman-teman dan menjelaskan kondisinya. Mereka berpendapat bahwa ia memiliki reputasi yang buruk, sehingga dikhawatirkan akan berpengaruh pada kami. Sekuat apapun saya membujuk teman kontrakan, mereka tetap bersiteguh dengan keputusan tidak menerimanya.

Setiap hari ia terus mengajak saya berbicara, hanya berdua dan bertanya, “Apa yang terjadi? Apakah kamu sudah berbicara dengan mereka?”

Saya terus membuat alasan dengan mengatakan, “Aku akan segera berbicara dengan mereka.”

Saya pikir perlahan-lahan ia akan menyerah. Namun, hal itu tidak terjadi.

Saya pun sedikit lebih memaksa penghuni kontrakan.

Salah seorang menjawab, “Jika memang benar kamu begitu ingin membantunya, mengapa kamu tidak pergi saja dan tinggal bersamanya.”

Saya pun setuju. Saya pergi bersama beberapa teman yang sepemahaman dan menyewa sebuah rumah. Dengan begitu, saya dapat mengajaknya untuk tinggal bersama kami.

Tidak lama kemudian, sikap dan perilaku teman saya tadi mulai menunjukkan tanda-tanda perubahan. Ia meninggalkan beberapa kebiasaan buruknya dan mulai memperbaiki diri. Tidak hanya itu, kini ia menjadi sosok baru, yang raut wajah dan rohaninya seperti memancarkan cahaya. Semua tetangga dan teman kami menyukainya.

Suatu hari ia menderita sakit parah. Kami pun membawanya ke rumah sakit terdekat. Setibanya di sana, dokter berkata, “Kalian sudah terlambat, usus buntunya sudah pecah.”

Entah mengapa ia tidak menyadari penyakit ini. Kebocoran ususnya sudah menyebabkan luka yang serius di organ lainnya. Tidak ada harapan baginya. Dokter pun menyarankan agar kami memberi tahu keluarganya untuk mendampinginya untuk yang terakhir kali. Sang ayah tiba dan melihatnya menghembuskan napas terakhir.

Beberapa bulan kemudian, saya bermimpi bertemu dengannya.

Ia sedang duduk beralaskan tanah menikmati teh sementara kami saling berbincang-bincang. Ia duduk di sebelah saya. Di sebelah saya juga terdapat teman yang lain.

Saya bertanya, “Bagaimana mereka memperlakukanmu disana?”

“Aku diperlakukan seperti saat bersama diantara kalian. Mereka tidak menjerumuskan orang-orang sepertimu ke dalam jurang neraka. Itulah mengapa aku juga dianugerahi Surga.”

Saya pun terbangun, dan menangis tanpa henti.

Sang Bediuzzaman menyampaikan kabar gembira kepada kita semua. Dalam kondisi zaman dan era seperti ini, siapa saja yang mengabdi kepada iman dan Al Quran niscaya ia akan ditolong oleh-Nya.

Beliau menjuluki mereka yang berkhidmah sebagai “Orang-orang beriman dan penyelamat”

Allah berkuasa untuk membalas sekecil apapun usaha dari hamba yang berjuang di jalan-Nya dengan imbalan yang lebih besar. Dialah Yang Maha Kuasa. Pintu ampunan selalu terbuka lebar kepada siapa pun yang mengetuknya dengan penuh keikhlasan. Selama mereka tidak menyimpang dari jalan cahaya, rombongan keabadian, keadilan dan kebenaran.

close-up-students-writing-reading-exam-answer-sheets-exercises-classroom-school-with-stress

Pejuang Altruistik Risalah Nur

Ustadz Bediüzzaman, sosok teladan yang menghabiskan kehidupannya di bawah naungan Al-qur’an dan sunnah, tidak hanya seseorang yang penuh semangat dan ambisi, tetapi juga seseorang yang penuh logika dan gagasan.

Dalam mahakaryanya, beliau mempersembahkan luasnya iman, akhlak, dan kalbu Islami dalam bentuk yang begitu murni. Beliau adalah sosok yang luar biasa pada zamannya. Sosok yang dijiwai oleh rasa kemanusiaan, kesetiaan, kerendahan hati, kesucian, dan keikhlasan, beliau adalah sosok yang luar biasa.

Meskipun tampilan luarnya amat sederhana, beliau adalah sosok  yang memiliki visi dan kedalaman baik dalam pemikiran maupun perilakunya. Beliau terus-menerus menggali solusi permasalahan umat di bawah semarak cahaya Al-qur’an dan sunnah. 

Tidak hanya sebagai ulama yang ahli berlogika, beliau juga mampu mencerminkan satu karakter kuat dalam pemikiran dan perilakunya. Beliau mampu merangkul semua umat dengan pemikiran tajamnya dan melawan dengan keras kekufuran, kesewenang-wenangan, dan penyimpangan.

Mereka yang sungguh beruntung  berada di sisinya telah melihat kedalaman spiritual, kebijaksanaan, kesederhanaan, keikhlasan, dan kerendahan hati sosok ini. Merekalah murid Risalah Nur. 

Salah satu ciri-ciri utama mereka yang menjadi murid pertama Ustad Said Nursi adalah sifat kepekaan dalam mengabdi kepada agama dan Islam yang begitu dalam, dan tanpa mengharap imbalan apapun. Mereka yang tidak pernah bergumam “Aku telah mengabdi” ternyata sukses besar dalam perjuangannya, mengingat mereka menjauhkan diri kekayaan dunia, kemunafikan, dan kepuasan diri.

Mereka adalah para profesional di bidangnya masing-masing. Tatkala mereka menghadapi cobaan dan kesulitan, mereka akan mengalahkannya dengan kekuatan iman dan keikhlasan. Tentu hal ini terjadi dengan izin Allah Azza wa Jalla.

Para pejuang generasi pertama Risalah Nur, yang sangat meneladani guru mereka, mereka menempuh jalan penuh kebaikan dan aksi positif dengan tujuan menjaga ketertiban dan kedamaian dalam kehidupan masyarakat.

Dengan berlandaskan pada intisari Risalah Nur, mereka memiliki sasaran untuk mengabdi kepada agama dan Alquran atas nama-Nya yang agung tanpa menyinggung  siapapun, dengan penuh kedamaian.

Mereka tidak menaruh nilai pada pribadi diri mereka.

Begitulah jalan khidmah:

Seseorang harus mengabdikan imannya semata-mata demi Tuhan, setiap tindakannya adalah penghambaan yang tulus dan murni.

Seseorang harus berhati-hati dalam menjaga keikhlasannya, karena alasan inilah, ia harus mampu menjauhkan diri dari keinginan duniawi, pangkat, ketenaran, dan kemakmuran.

Benih-benih khidmah yang telah menyinari dunia bagai sang surya, ternyata ditabur oleh segelintir orang, yang mereka memandangi dunia yang sementara ini seperti sesuatu yang tidak mempunyai nilai apapun.

Mereka adalah orang yang berhati mulia, tanpa gelar dan pangkat duniawi. Keikhlasan, altruisme,  pengorbanan, dan bantuan harta dan amal mereka telah membuahkan perkembangan khidmah sampai hari ini, yang begitu indah penuh makna. 

Tren untuk hijrah  atau berpindah tempat tinggal dalam kalangan Muslim sekarang semakin meluas ke seluruh empat penjuru dunia, ini semuda masih terus terjaga karena kekuatan nilai-nilai terpusat ini.  

Tanpa keraguan sedikitpun, di belakang kekuatan ini berdirilah Ustadz Bediüzzaman, yang menolak untuk menerima imbalan meski sebesar biji gandum.

Di sisinya, berdirilah murid-muridnya yang istimewa: Hulusi Yahyagil, Hüsrev Altmbak, Hafiz Ali, Tahiri Mutlu, Zübeyir Gündüzalp, Ceylan Callkan, Mustafa Sungur, Bayram Yüksel, Hüsnü Bayram and Abdullah Yeğin.

Seperti yang dijelaskan oleh Osman Yüksel Serdengeçti, Ustadz Bediüzzaman, yang dikelilingi orang-orang dengan rentang usia delapan hingga delapan puluh tahun, memiliki kebijaksanaan yang tinggi dalam berkhidmah untuk Al-qur’an dan Islam.

Mereka yang berada dekat dengannya memiliki kualitas iman yang tidak dapat digambarkan. Tidak peduli berbagai halangan yang merintang dihadapannya, hati yang haus akan iman terus mengalir dalam semangat kalbu mereka. Mereka yang mengamalkan Risalah Nur sejatinya menempuh jalan kebahagiaan abadi. 

Dengan jiwa yang suci nan mulia dan keyakinan yang terhubung dengan kebenaran abadi,  putra-putra Anatolia yang tulus dan setia telah berkumpul di sekitar pejuang khidmah.  Seorang pria beruntung yang hidup dalam rentang  Era Konstitusi, periode Komite Persatuan dan Kemajuan dan Republik untuk turun dari dataran tinggi di timur dengan iman yang tak tergoyahkan yang membuatnya tetap tegak sementara lainnya banyak yang menghilang tertelan dalam lembaran sejarah.

Orang-orang yang beruntung ini selalu berada di sisi sang Bediüzzaman, meskipun beliau dipenjara dan diseret jasmaninya ke panggung eksekusi. Di sampingnya, mereka telah menghadapi berbagai bentuk ancaman. Kendati demikian, dengan berlandaskan pada kekuatan iman, mereka tetap berdiri tegak dan tetap mengabdi hingga akhir hayat nanti.

mengembangkan diri lilin

Bersembunyi di Balik Seribu Alasan

Saat kita mencoba untuk melakukan tugas Ilahi ini, kita seharusnya tidak bersembunyi di balik berbagai alasan. Perumpamaan berikut adalah ilustrasi yang bagus tentang ini:

Dikisahkan pada suatu hari, perang pecah antara hewan daratan (mamalia) dan burung. Kedua belah pihak berjuang untuk menang atas yang lain. Kelelawar, yang membawa karakteristik kedua belah pihak, tidak memihak.

Ketika burung meminta kelelawar untuk bergabung dengan pasukan burung, kelelawar menjawab: “Kami adalah mamalia” dan ketika hewan mamalia membuat tawaran yang sama; kelelawar menjawab bahwa mereka adalah burung.

Beberapa waktu kemudian, kedua pihak menandatangani suatu perjanjian. Kelelawar dengan cepat mengambil langkah dan memihak bangsa burung dan memberi selamat kepada mereka. Namun, burung tidak menerima kelelawar ke dalam golongannya. Ketika kelelawar mencoba bergabung dengan hewan mamalia, mereka menerima sikap yang sama, penolakan.

Kemudian, alkisah, kelelawar dicap sebagai pengkhianat oleh pihak mamalia dan pihak burung. Bangsa kelelawar tidak punya pilihan lain, selain mengasingkan diri, untuk menjadi tawanan kegelapan (gua).

Seorang mukmin seharusnya tidak mencari-cari alasan untuk berpantang dari tugas melayani. Dia harus menyalakan lilin dalam kegelapan dan berusaha mendukung kebaikan sehingga bisa mengalahkan kejahatan. Tentu saja, ini tidak boleh dilakukan dengan cara yang jahat atau pembalasan kejahatan dengan kejahatan; sebaliknya, ini harus dilakukan melalui representasi kebaikan dan menjelaskan keindahannya.

Jiwa yang mengabdikan dirinya untuk melayani kebenaran telah menerima kemungkinan untuk menanggung berbagai macam kesulitan, masalah dan kesusahan. Seseorang dengan jiwa seperti itu harus melakukan upaya luar biasa untuk memenuhi tugas yang diberikan kepadanya, terlepas dari semua kesulitan dan masalah yang mungkin muncul. Dia harus fokus pada tujuannya dan mengabaikan ribuan masalah dan beban yang mungkin dia hadapi. Selain itu, saat dia melakukan tugasnya, dia harus sangat berhati-hati agar tidak bersembunyi di balik banyak alasan.

Dunia ini adalah tempat ibadah dan pelayanan. Hidup adalah sebuah episode dari alur waktu di mana buah-buah dari keabadian sedang ditanam. Melayani (Hizmet) dapat diartikan sebagai menyebarkan Nama Tuhan Yang Maha Esa kepada seluruh umat manusia, wajar jika misi ini akan selalu menghadapi kesulitan seperti yang telah berkali-kali terjadi di masa lalu. Bagian kita dalam jalan melayani Ilahi ini adalah bekerja tanpa henti, tanpa menunjukkan keengganan dan kelelahan.

ilustrasi-potret-said-nursi-_mengembangkan_diri

Teladan Kehidupan: Sang Badiuzzaman

Kaitannya dengan pengabdian agama, Bediuzzaman adalah salah satu tokoh utama yang patut dijadikan sebagai teladan umat. Beliau berpendirian bahwa mengabdi kepada agama Allah harus menjadi tujuan utama setiap manusia. Beliau tetap bersiteguh dengan keyakinan ini dan tidak pernah menyimpang sedikit pun.

Satu contoh ringan misalnya, tatkala berada di pengadilan Eskişehir, seorang hakim bertanya kepada semua hadirin tentang pekerjaan, dan saat giliran beliau tiba,

Beliau lantas berdiri dan dengan lantang berkata, “Pekerjaanku adalah mengabdi kepada agama Allah.”

Bediuzzaman adalah sosok terhormat yang dengan tulus mengorbankan kehormatan, kebanggaan, jiwa, raga, dan kehidupannya untuk mengabdi kepada Alquran. Meskipun beliau telah menerima segala bentuk pelecehan dan penyiksaan, beliau tidak pernah mengambil langkah mundur dalam menjalankan tugas suci ini.

Bediuzzaman meninggalkan segala kenikmatan duniawi demi berkhidmat di jalan agama, menjauhkan diri dari mengumpulkan harta sebab beliau hidup dalam lingkaran rasa syukur, rasa takut kepada Tuhan, dan juga kesalehan. Beliau menghabiskan setiap menit cahaya kehidupannya dalam cengkeraman masalah dan rintangan lantaran mengamalkan Alquran. Hatinya akan terbakar disebabkan melihat kehancuran umat di tangan kekufuran dan ketidakpedulian.

Beliau selalu terlibat dalam setiap kegiatan yang tujuan utamanya berkutat pada: “mengabdi kepada agama”, menyelamatkan umat Muhammad SAW dan memenuhi kalbu masyarakat dengan rasa syukur.

Di saat begitu banyak orang yang berusaha memenuhi kepentingan pribadinya dan mencari kedudukan dunia yang tinggi, beliau justru mendedikasikan jiwanya untuk menyelamatkan umat dan menganggap hal ini sebagai misi terbesar di jagat raya. Karena sebab mulia inilah, beliau berhasil mempublikasikan buku, meskipun ditulis saat berada dalam kondisi tersulit dalam kehidupan beliau. Melalui Risalah Nur, beliau secara ilmiah mengawali penentangan terhadap materialisme, suatu paham yang menjadi musuh agama Islam. Beliau mampu menyesuaikan gagasan persatuan, kebangkitan umat, risalah kenabian, keadilan, takdir, dan analisis agama yang notabenenya berada dalam ujung kehancuran.

Bediuzzaman adalah seseorang yang tekun dalam memberikan aksi nyata, beliau begitu menderita melihat problematika yang dihadapi dunia Islam dan kemanusiaan. Beliau adalah seorang pahlawan pengabdian yang mengorbankan dirinya kepada nilai-nilai yang selama ini beliau percaya. Beliau tidak pernah gentar untuk menyatakan dengan lantang bahwa keyakinan yang dianutnya adalah suatu kebenaran. Beliau adalah seseorang yang sudah pernah diracun berulang kali, hampir dieksekusi mati, pernah dihadapkan pada segala bentuk pelecehan dalam suramnya penjara, serta dikirim menuju pengadilan militer dalam kondisi sangat dingin meskipun sudah berusia tua renta, tetapi beliau tidak pernah sedikitpun lengah atau meringankan apapun dari keyakinannya itu.

Rasa sakit dan penderitaan, dua saksi bisu yang senantiasa menjadi teman bagi siapa saja yang mengabdi kepada agama.

Beliau pernah berkata, “Dalam 80 tahun hidupku, diriku tidak ingat pernah merasakan nikmatnya dunia. Hidupku habis dalam medan perang, penjara bawah tanah, pengadilan, dan bui. Di pengadilan militer, diriku diperlakukan layaknya seorang pembunuh bengis dan dikirim ke pengasingan layaknya seorang gelandangan.”

Uraian kalimat ini sangat sempurna menggambarkan kehidupannya yang penuh dengan ujian.

Seringkali beliau menggambarkan ujian tanpa henti yang mencabik jiwanya dengan ungkapan, “Ada kalanya diri ini sudah lelah dengan kehidupan. Jika agamaku memperbolehkan diriku untuk bunuh diri, Said pasti sudah tiada sekarang.”

Dengan ungkapan ini, Bediuzzaman membuktikan bahwa dirinya selalu melindungi kehormatannya dengan bersabar dan bertahan menghadapi segala bentuk penyiksaan. Beliau seperti sudah mengemas kehidupan duniawi beliau kedalam sebuah keranjang rotan yang selalu beliau bawa dengan tangan.  Bagi beliau seperti itulah nilai dari seluruh kehidupan dunia.

Selama 28 tahun kehidupannya di penjara dan pengasingan, beliau senantiasa mengajarkan kepada muridnya arti penting menjaga dan menegakkan hukum. Beliau tidak pernah tunduk kepada peraturan pemerintah yang menindas. Kendati demikian, beliau tidak melawannya dengan kekerasan. Sebaliknya, beliau menggunakan pena untuk mengkritik dan melawan mereka. Kecerdasan dan bersikeras dalam sikap positif itulah yang telah menempatkan beliau di kedudukan yang istimewa dalam sejarah.

Dalam ceramahnya, beliau senantiasa menekankan pentingnya keikhlasan, ukhuwah, keimanan, dan pengabdian kepada Alquran. Di samping itu, beliau juga memperingatkan muridnya akan bahaya kesombongan dan egoisme.

Suatu ketika Zübeyr Gündüzalp mengadu kepada beliau, “Guru, diriku sungguh takut akan kesombongan.”

Mendengar hal itu, beliau menimpali, “Takutlah akan hal itu.”

Berkaitan dengan hal tersebut, beliau menasihati muridnya,

“Saudaraku, tugas kita adalah mengabdi kepada Alquran dan agama dengan penuh keikhlasan. Namun, kesuksesan kita, penerimaan masyarakat, dan kemenangan atas penindasan adalah tugas-Tuhan. Kita tidak boleh ikut campur dalam urusan ini. Bahkan ketika kita kalah pun, kita tidak akan kehilangan semangat dalam menyembah-Nya. Dalam hal ini, kita hanya perlu bertawakal. Seseorang pernah berkata kepada Jalaladdin Kharzamshah, komandan hebat Islam, “Anda akan memenangkan pertempuran melawan Genghis.” Beliau menjawab, “Tugasku adalah berjuang di jalan Allah. Kemenangan hanyalah milik-Nya. Diriku hanya akan melakukan tugasku dan tidak mencampuri urusan-Nya.”

Bediuzzaman seakan-akan sudah ditakdirkan untuk menghadapi segala bentuk cobaan dan kesulitan untuk menegakkan Alquran, keikhlasan, dan ukhuwah. Karakter beliau memberikan kekuatan yang luar biasa besar baginya untuk terus bersabar. Beberapa kejadian yang mereka tujukan kepada beliau sudah melampaui batas.

Beliau berulang kali dipanggil untuk datang ke kantor polisi dan pengadilan pada tengah malam. Menginterogasi beliau tentang kunjungan murid-murid beliau sudah menjadi penghinaan yang lumrah baginya.

Tidak hanya dirinya, orang yang berhubungan dengannya juga diperlakukan buruk.  Sebagai contoh, setiap orang yang mengunjunginya atau mencium tangannya akan segera ditangkap dan diinterogasi tanpa alasan yang jelas.

Mereka akan ditanyai, “Mengapa kamu menyalaminya?” “Mengapa kamu menatapnya?” Orang tidak berdosa pun akan mendapat perlakuan buruk hanya karena berinteraksi dengan beliau. Menghadapi kondisi demikian, sosok ideal ini justru lebih menunjukan kekokohan sikap sabarannya, atas nama ukhuwah demi menjaga keikhlasan dalam lubuk hatinya.

Permasalahan umat yang beliau beri perhatian ialah sikap mendahulukan kehidupan akhirat di atas dunia dan mengabdi kepada agama tanpa mengharap imbalan apapun. Meninggalkan tugas mengabdi kepada iman atau menunjukan kelesuan dalam menjalankannya adalah sesuatu yang tidak dapat beliau diterima.

big-heap-columns-different-coins (1)

Tidak Mengharapkan Upah dari Melayani

Seseorang yang beriman sebaiknya tidak mengharapkan hal duniawi maupun ukhrawi saat melayani agamanya. Dalam salah satu dialognya, Ustad Fethullah Gülen menjabarkan tentang penjelasan ini dalam beberapa uraian berikut:

“Bagian kita adalah melayani tanpa mengahrapkan apapun. Entah itu ditempat yang sekarang atau dimanapun nanti, seorang yang melayani tidak boleh mengharapkan hal-hal duniawi. Saya selalu sampaikan kepada siswa-siswa terkasih saya, “Menyebarlah ke seluruh dunia. Jangan harapkan upah ataupun beasiswa. Jadilah buruh, pencuci piring atau tukang sapu dan hidupilah diri anda, namun tetap layani masyarakat sekitar dan agama anda. Jika anda punya bakat atau keahlian, tulislah sesuatu, terbitkan buku. Jika tidak ada pilihan lain, jadilah pengangkut sampah, tapi jangan pernah mengharapkan apapun sebagai upahmu. Jika tidak seperti itu, anda akan melewatkan hari-hari yang diimpikan di masa depan.”

Dalam hal melayani, seorang yang beriman harusnya ada di baris terdepan, namun saat tiba waktu pembagian upah, dia ada di baris paling belakang tak mengharap imbalan apapun. Seseorang dengan jiwa melayani hanya mengharapkan upah balasan dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Dia tidak boleh berharap apapun dari orang lain. Orang-orang dengan jiwa melayani, yang tidak memiliki impian kecuali Ridha dari Allah SWT, harusnya selalu sensitif terhadap kedudukan dunia yang hanya sebagai tempat sementara bukan tempat untuk mencari pamrih. Mereka harus memiliki pemahaman bahwa “Upah dari pelayanan kami adalah nanti di Akhirat”; karenanya mereka akan terus berusaha tanpa lelah, tanpa mengharapkan sekepingpun koin sebagai imbalan.

Sebagai contoh, salah satu harapan yang paling penting adalah untuk mendidik generasi emas. Investasi terbaik adalah investasi yang disalurkan untuk mendidik seorang manusia, khususnya adalah anak muda. Pemuda hari ini akan menjadi pelayan bagi bangsa dan masyarakat di masa depan sebagai sosok dewasa masa depan.

Suatu hari, berkumpulah sekumpulan prajurit dalam suatu musyawarah. Umar bin Khattab bertanya kepada mereka satu per satu: “Anda memiliki impian untuk melayani Islam. Jika saja Tuhan menerima doamu, apa yang akan Anda minta dari-Nya atasnama untuk melayani Islam?”

Seorang dari mereka membalas: “Jika doa saya dikabulkan, saya akan meminta sebuah peti emas. Saya akan gunakan itu semua untuk mengabdi kepada Islam.”

Umar bertanya pertanyaan yang sama kepada seorang yang lain yang ada di sebelahnya, dia menjawab: “Saya juga akan meminta sepeti penuh harta dan saya akan gunakan semua koin peraknya untuk mengabdi kepada Islam.”

Seorang yang lain menyaut: “Kalau saya akan meminta dari Allah SWT sekawanan domba yang sangat besar, hingga memenuhi padang pasir. Saya akan menyalurkan hasil susu dan daging dari hewan ternak tersebut untuk para muslim dan untuk melayani Islam.”

Diakhir, pasukan tersebut bertanya ke Sayidina Umar, apa yang akan dia doakan. Umar menjawab: “Jikalau Tuhan mengabulkan apa yang saya minta, saya tidak akan meminta perak, emas, domba ataupun unta. Saya akan memohon seorang kawan yang setia. Kawan seperti Abu Ubayda, Abu Dharr dan Muaz bin Jabal.”

Memang, membesarkan generasi yang dirahmati adalah hal yang paling penting.