fatih-yurur-kNSREmtaGOE-unsplash

Keutamaan Sepuluh Malam Pertama Zulhijah

Sepuluh Hari Pertama Zulhijah Bagaikan Ramadhan Kecil

10 malam pertama bulan Zulhijah yang dibahas dalam Al Quran di awal surat al Fajr:

وَلَيَالٍ عَشۡرٍۙ

“Demi malam yang sepuluh” (QS 89:2) adalah sebuah khazanah spektakuler bagi kehidupan ibadah dan doa kita. Hari-hari yang penuh keberkahan tersebut pada tahun ini akan jatuh bertepatan dengan tanggal 1 Juli 2022 dimana hari Idul Adha yaitu tanggal 10 Zulhijah 1443H akan jatuh pada tanggal 10 Juli 2022, insya Allah.

Baginda Nabi SAW yang menjelaskan keutamaan dari hari-hari tersebut telah memberikan kabar gembira kepada kita:

عن أبى هريهرة رضي الله عنه, عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: ما من ايام احب الى الله تعالى أن يتعبد له فيهن من أيام عشر ذى الحجة, وان صيام يوم يعدل صيام سنة, وقيام ليلة كقيام سنة

“Tidaklah ada hari yang paling disukai oleh Allah swt, dimana Dia disembah pada hari itu kecuali, sepuluh hari bulan Dzulhijjah. Puasa satu hari di dalamnya sama halnya dengan puasa satu tahun. Ibadah, shalat malam sekali pada malamnya seperti shalat malam selama satu tahun pula.” (HR Tirmizi, Kitab Shaum, no. 52 dan Ibnu Majah, Kitab Siyam, no.39).

Artinya puasa yang dijalankan di hari-hari mulia tersebut satu harinya setara dengan berpuasa selama 365 hari masehi. Apa mungkin kita tidak tertarik dengan promosi indah dan manis tersebut? Demikian juga dengan keutamaan malam-malamnya dimana ia menjadi tambahan motivasi lainnya. Satu salat malam di salah satu malamnya setara dengan salat malam setahun penuh.

 

Puasa di Hari Arafah Setara dengan Seribu Hari Puasa

            Sekali lagi sebuah kalimat motivasi luar biasa dari Sang Nabi:

مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ وَلَا أَحَبُّ إِلَيْهِ الْعَمَلُ فِيهِنَّ مِنْ

هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنْ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالتَّحْمِيدِ

Artinya, “Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan amal saleh di dalamnya lebih dicintai oleh-Nya daripada hari yang sepuluh (sepuluh hari pertama dari Dzulhijjah), karenanya perbanyaklah tahlil, takbir, dan tahmid di dalamnya” (HR Ahmad, Musnad Ahmad 1/257).

Bacaan tasbih adalah subhanallah, tahmid adalah alhamdulillah, tahlil adalah la ilaha illallah, sedangkan takbir adalah Allahu akbar.

Posisi hari Arafah di antara 10 hari ini benar-benar istimewa. Di tempat lain terdapat hadis luar biasa lainnya:

“Ketika hari Arafah datang, rahmat Allah SWT bertebaran. Tidak ada hari dimana manusia yang dibebaskan dari api neraka lebih banyak dari hari itu. Barangsiapa meminta sesuatu kepada Allah baik untuk kepentingan dunia ataupun kepentingan akhiratnya di hari arafah, Allah akan mengabulkannya”

“Berpuasa di hari arafah seperti berpuasa selama seribu hari (Targhib wat Tarhib, 2:460)

Berpuasa di siang hari serta mengisi malam-malam tersebut dengan ibadah akan menjadi sarana bagi diraihnya ampunan dan pahala yang besar.

 

Malam tersebut setara kemuliaannya dengan Lailatul Qadar, Nisfu Syaban, dan Malam Mikraj

Bediuzzaman Said Nursi ketika menyampaikan keutamaan sepuluh hari pertama bulan Zulhijah dari berbagai hadis mengatakan kalimat ini:

Sepuluh malam ini, dengan Al Quran bersumpah atasnya “Wal fajr wa layaa lin ‘asyr (QS al Fajr 89:1-2), oleh karena perhatian besar yang diberikan kepadanya maka malam tersebut memiliki nilai yang sangat agung sebagaimana mulianya malam Lailatul Qadar, Nisfu Syaban, dan Malam Mikraj. Karena berkat rahasia haji, atas nama dunia Islam, ribuan jamaah haji yang datang dari segala penjuru memiliki hubungan dengan semua entitas semesta, di satu sisi membuat mereka yang sibuk dengan amal salih di malam-malamnya kemudian memiliki bagian atas kebaikan-kebaikan makbul dan doa-doa yang dipanjatkan untuk umat Nabi Muhammad SAW oleh para jamaah haji tersebut (Kastamonu Lahikasi, surat ke-7).”

Pada hari itu jutaan mukmin berangkat ke tanah suci. Sebagian dari mereka bertawaf mengelilingi Kabah, sebagiannya menumpahkan air matanya di depan Raudhah Mutahharah, sebagiannya ber-sa’i, sebagiannya salat di Maqam Ibrahim, sebagiannya lagi memohon ampunan di Multazam. Sedangkan di hari arafah, semua jamaah haji datang dan berkumpul di Padang Arafah. Mereka berlindung di dalam rahmat Rabb-nya dengan kalimat-kalimat talbiyah “labbaik, allahumma labbaik!”

Demikianlah, dengan membayangkan kondisi di musim haji seperti itu kita berharap dapat meraih keutamaan maknawi. Marilah kita beribadah dengan harapan doa kita bisa masuk ke dalam doa-doa yang dipanjatkan oleh para jamaah haji, insya Allah

 

Kita Harus Memanfaatkannya Seakan Ia adalah Ramadhan Kecil

Untuk memanfaatkan sepuluh hari yang mulia ini, pertama-tama kita tidak boleh mengabaikan penunaian salat lima waktu kita. Karena tidak ada satupun ibadah sunah yang dapat menggantikan posisi ibadah wajib. Kita harus meningkatkan semangat untuk bisa bergabung dalam salat jamaah dan memberi perhatian lebih pada ibadah-ibadah kita serta menunaikannya dengan penuh khusyuk.

Sebisa mungkin siang hari saat berpuasa, waktu yang ada kita isi dengan membaca al Quran, istigfar, salawat, zikir, dan doa. Sebagaimana di bulan Ramadhan, marilah kita undang rekan, tetangga, dan handai tolan untuk berbuka puasa di rumah kita. Hal itu selain mengingatkan mereka tentang kesunahan puasa zulhijah juga sebagai dorongan motivasi agar mereka turut serta memuliakannya.

Jika kita tak mampu rutin mengerjakannya maka di hari-hari mulia ini marilah kita menggeliat demi meraih ampunan Ilahi dengan mengerjakan salat sunah dhuha, awwabin, tahajud, dan hajat. Bahkan dengan menjadikan ampunan dan rida ilahi sebagai tujuan utama, kita harus memanfaatkannya sebagaimana kita memanfaatkan sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Bagi yang tidak mampu menjalankannya sepuluh hari penuh setidaknya menguatkan tekad untuk bisa berpuasa di hari arafah dan sehari sebelumnya (hari tarwiyah) serta mengisinya dengan ibadah-ibadah lainnya.

Dalam sepuluh malam tersebut, khususnya di malam tarwiyah, arafah, dan hari raya, terdapat tempat istimewa bagi mereka yang menghidupkannya: Membaca seribu surat al ikhlas di hari arafah dan jangan lupakan keutamaan takbir tasyrik dari salat subuh hari arafah hingga hari keempat hari raya (tanggal 9-13 Zulhijah).

Diterjemahkan dari artikel Cemil Tokpinar pada laman:

https://www.yeniailem.com/zilhiccenin-ilk-on-gunu-sanki-kucuk-ramazan/#.XSMi8ugzbDc

yasmine-arfaoui-1392471-unsplash

Salat Jumat Rasulullah SAW

“Salat Jumat Rasulullah SAW”

Jamaah Muslim yang terhormat! Kita akan memanfaatkan jalan yang ditunjukkanNya, memanfaatkan anugerah yang diberiNya kepada kita. Dengan jalan yang ditunjukkanNya, kita akan termuliakan saat mendekatkan diri di hadapan Allah. Dengan perintah Allah dan jalan Baginda Nabi, kita akan meraih syafaat Rasulullah. Allah telah menunjukkan jalan keselamatan, langkah menjadi manusia, muncul dengan kalbu dan ruhani. Jalan bagi kita agar  layak mendiami alam abadi. Allah SWT telah menunjukkan jalan yang akan mengantarkan kita ke keabadian. Jalan raya tersebut bernama siratal mustaqim. Siratal mustaqim adalah jalan yang mengandung banyak rukun. Ketika berjalan di atasnya, tanpa merasa putus asa menghadapi segala hal yang perlu dilakukan. Mereka yang demikian akan meraih tujuan dan cita-citanya, yaitu Allah.

Pintu menuju surga bergantung pada bagaimana hidup dengan jalan ini. Untuk meneladani Baginda Nabi, maka ia bergantung pada pada sejauh mana kita mengikuti rukun jalan ini. Syarat untuk bisa menyaksikan jamaliyah Allah yang merupakan sumber dari segala keindahan, bergantung pada bagaimana kita hidup dengan rukun dari jalan itu. Mengikuti rukun jalan ini tidak begitu mudah. Hidup dengan rukun jalan ini sangatlah berat, tetapi orang-orang mukmin dan muslim, akan meringankannya.

وَٱسۡتَعِينُواْ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى ٱلۡخَٰشِعِينَ 

” Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan itu sungguh berat kecuali bagi orang yang khusyuk (QS 2:45)”

Dengan ayat itu, Allah menjelaskan beratnya salat bagi sebagian orang. Allah mengecualikan mereka yang kalbunya penuh rasa takut, hormat, khusyuk, dan kerendahan hati. Inilah jalan yang memiliki banyak adab dan rukun, tetapi manusia yang bertekad meniti jalan ini, akan hidup dengan tenteram berkat taufik dari Allah SWT. Saya hingga saat ini selalu berusaha menyampaikan salah satu rukun penting dari jalan ini.

Salat adalah pilar bagi kapal bernama agama, dengannya agama dapat berlayar. Salat bagaikan kompas yang membantu orang mukmin mengarahkan kapalnya. Salat adalah tangga bagi mukmin untuk melakukan mikraj dimana satu ujungnya di tangan Allah, sedangkan ujung lainnya ada di tangannya sebagai ikatan yang kuat. Salat adalah bentuk ibadah yang membawa seseorang bersedekap di hadapan Allah atas izinNya, dan model serta ringkasan terbaik salat adalah topik pembahasan kita hari ini, yaitu salat jumat!

Penunaian salat jumat adalah ungkapan hasrat dan gairah kolektif nurani dalam bentuk jamaah. Menurut Ibnu Hajar, Sang Kebanggaan Semesta diwajibkan mengerjakan salat jumat di Kota Mekkah. Pernyataan imam agung ini pasti memiliki dasar, tetapi ada sesuatu yang jelas, yang tak bisa dipahami oleh umum. Di lokasi dimana syaratnya tak bisa dipenuhi, tidak mungkin memahami kewajiban dari Allah tersebut. Sudah jelas Baginda Nabi tidak akan bisa menunaikan salat jumat karena syaratnya belum terpenuhi. Lalu mengapa Allah mewajibkan beliau menunaikan salat jumat?

Ya, tidak mungkin kita memahaminya. Ada sesuatu yang kita ketahui Rasul Akram SAW tidak pernah menunaikan salat jumat walau hanya sekali ketika di Mekkah. Dan salat jumat pertama dikerjakan setelah Rasulullah meninggalkan masjid Kuba. Dari sini kita pahami bahwa salat jumat adalah salat yang terbentuk oleh jamaah. Untuk itu, jika orang-orang tidak terkumpul sebagai jamaah yang cukup, maka salat jumat tidak wajib. Salat jumat memiliki syarat. Ia didirikan oleh imam dan jamaah.Salat jumat mensyaratkan adanya imam, mensyaratkan adanya masyarakat. Jumatan mensyaratkan seseorang yang menyerahkan hatinya kepada Rabb, yang memimpin dan mengatur, serta mensyaratkan adanya jamaah yang mentaati dan mematuhi Allah.

Salat jumat adalah salat berjamaah. Jika jamaah tidak terbentuk mereka tidak bisa menunaikan salat jumat. Jamaah ini terbentuk dari kelompok selain wanita, budak, dan orang sakit. Salat jumat mensyaratkan perbaikan, kepemimpinan, masyarakat, dan jamaah. Untuk itu Baginda Nabi tidak wajib mengerjakan salat jumat ketika masih di Mekkah. Ketika jalan ke Madinah terbuka dan Rasul Akram SAW diperintahkan untuk berhijrah, Beliau datang ke kota suci bernama Kuba, dan tinggal di sana pada hari senin, selasa, rabu, hingga kamis. Beliau membangun Masjid Kuba dengan tangannya sendiri. Masjid kemudian mengalami renovasi hingga mencapai bentuknya hari ini. Ganjaran salat di masjid itu setara dengan pahala umrah. Sang Kebanggaan alam semesta SAW setiap jumat pergi ke masjid Kuba dan menunaikan salat di sana. Sejak hari itu hingga sekarang disunahkan salat di Masjid Kuba. Semoga Allah menakdirkan mereka yang berziarah untuk bisa salat di situ, dan bagi yang belum semoga bisa berziarah ke sana.

Mereka tinggal di Kuba selama empat hari. Masyarakat Kuba dan Madinah pun dipenuhi oleh “perhiasan”. Mereka meninggalkan Kuba di hari jumat. Ketika mereka sampai di Lembah Bani Salim bin Auf, Malaikat Jibril membawa kabar dan Baginda Nabi pun menunaikan salat jumatnya di situ. Jika Anda ke Kuba, pemandu akan menunjukkan tempat ditunaikannya salat jumat pertama itu. Rasul Akram SAW telah mendapatkan jamaah. Kini Nabi berkesempatan untuk mengumumkan wajibnya salat jumat secara terang-terangan. Wilayahnya ada di perbatasan kota yang akan dibangunnya. Di sana beliau akan mengecapkan stempelnya, jamaah akan menyimaknya, beliau akan mengimami salat jumat. Saat posisi imam telah boleh diumumkan, dan orang-orang yang akan menjadi jamaah berhasil dikumpulkan, Allah pun mewajibkan salat jumat. Salat sebelumnya dilaksanakan sebagai sunah. Beliau melaksanakan salat jumat pertamanya.

Orang-orang mukmin masuk ke Kota Madinah dalam keadaan tenteram, senang, dan bahagia. Hal pertama yang dikerjakan Sang Kebanggaan Alam Rasulullah SAW setelah memasuki Kota Madinah adalah membeli sebagian reruntuhan milik yatim dan membangunnya sebagai masjid. Setelah itu salat jumat akan dikerjakan di sana seterusnya. Kita menyebutnya sebagai Masjid Nabawi, Kita menyebutnya sebagai Raudhah Thahirah. Apa yang bisa kita katakan, tak ada kata yang cocok untuk memahami makna hakiki dan menjelaskannya. Walaupun Makkah amat suci dan Ka’bah merupakan mihrab bagi manusia dan malaikat, Tak mungkin membandingkan tanah tempat bersemayamnya Rasul SAW dengan tanah lain di dunia. Tak peduli ia datang dari surga ataupun diciptakan khusus dari cahaya Ilahi. Apapun itu, kita tak akan pernah memahami makna agung dari Masjid Nabawi. Kita akan mencukupkan diri dengan penjelasan tentang sebagian sifatnya hingga kiamat tiba.

Masjid yang menaungi Raudhah Thahirah, Masjid suci yang amat agung. Rasulullah SAW bersabda bahwa hanya tiga masjid yang layak untuk diziarahi. Ini ada di Bukhari, Muslim, dan Musnad Ahmad Hanbal.[1] “Tidak boleh melakukan perjalaan jauh untuk menunaikan salat di masjid yang agung dan mulia, Akan tetapi, dibolehkan melakukan perjalanan jauh untuk menunaikan salat di tiga masjid tersebut. Untuk tiga masjid itu, jika perlu juga diperbolehkan menantang bahaya di tengah perjalanan.” Yang pertama, Masjidil Haram. Yang kedua, Masjid Nabawi, tempat yang kita sebut Raudhah Tahirah. Yang ketiga, Masjidil Aqsa, yang sayangnya hari ini ia tak dalam pengelolaan kita. Ia sedang menunggu kaum Muslim merdeka. Masjidil Aqsha sedang menanti sosok seperti Salahuddin al Ayyubi dan Muhammad al Fatih. Kaum mukminin tidak bisa berangkat ke Masjidil Aqsha walaupun berniat untuk pergi. Kaum mukminin tak bisa salat di tempat yang ditunjuk Rasulullah itu, padahal pahalanya ribuan kali lipat. Kondisi mukmin sedang buruk, kaum mukmin tertindas dan di posisi rendah! Di abad ke-21 ini mereka dijauhkan untuk bisa salat di Masjidil Aqsha. Tetapi kaum mukmin tidak menyadari penderitaan ini.

Perjalanan boleh dilakukan untuk salat di tiga masjid Itulah sabda Rasulullah SAW, salah satunya adalah Masjid Nabawi karena Ustaz serta mandor dari masjid itu adalah Ustaz serta mandornya umat manusia, Rasulullah SAW. Rasul SAW memanggul batu bata di punggungnya bersama Salman al Farisi dan Bilal Habasyi. Bersama Ammar, Rasulullah SAW mengaduk adonan lumpur dan menyekopnya ke cetakan. Pondasi dari masjid diletakkan di atas ketakwaan. Ia dibangun di atas kebaikan. Dua rakaat salat yang didirikan di Masjid Nabawi setara dengan ratusan rakaat salat di masjid lain. Semoga Allah mengabadikan anugerah itu hingga kiamat tiba. Semoga Allah tidak membiarkan tangan orang kafir, fajir, dan fasik mengusiknya. Semoga tempat-tempat suci tersebut tidak terkotori di abad 21, Semoga tangis darah kedua tidak ditumpahkan.

Yang dikerjakan pertama kali oleh Baginda Nabi adalah membangun Masjid Nabawi. Dibangunlah dan disitu beliau menyampaikan khutbahnya. Jamaahnya adalah pasukan pertama penakhluk dunia. Jangan kira jumlahnya ribuan atau ratusan ribu. Setelah masjid dibangun, jumlah sahabat yang memasukinya untuk menyimak khutbah Sang Nabi, sebagaimana yang Anda lihat di Medan Badar, tak lebih dari 313. Yakni sepersepuluh dari jumlah kalian, itulah jumlah jamaah yang menyimak Baginda Nabi. Masjid itu tidak memiliki mimbar, pilar, dan tiang spektakuler seperti yang dimiliki masjid masa kini. Dindingnya dibangun dari bata dan lumpur, langit-langitnya ditutup pelepah kurma. Ketika hujan, pelepah itu jatuh dan membuat lantai masjid becek. Setelah Rasul Akram SAW sujud, beliau bangkit dengan lumpur yang menempel di wajah mulianya. Mereka menunaikan salat dalam keadaan hujan. Mereka rukuk dan sujud dalam keadaan hujan dan berlumpur. Masjid yang sederhana, dimana mimbarnya terbuat dari batang kurma. Sang Kebanggaan Semesta bersandar padanya dan berkhutbah kepada jamaah.

Beberapa bulan kemudian, Rasul SAW meminta seorang wanita Ansar yang anaknya itu tukang kayu, “Sampaikan pada putramu, buatkan aku mimbar dengan 3-4 anak tangga, agar jamaah bisa menyimakku saat berkhutbah.” Mimbar dibuat dan diletakkan pada posisinya. Sejak hari itu, para pecinta Rasul berkhutbah dengan bersandar pada pilar dan tiang marmer. Mimbar dibuat dari marmer. Sejak saat itu menapakkan kaki di anak tangga mimbar itu dianggap tidak sopan secara akhlak. Umat Islam memuliakan mimbar sang Nabi. Kaum muslimin sejak saat itu hingga saat ini sangat menghormati mimbar Baginda Nabi.

Mimbar pertama adalah batang kurma. Batang kurma tidak menginginkan pesaing. Batang kurma ingin agar Nabi dengan cahaya langit dan berkah tetap menggunakannya hingga lapuk. Si batang kurma tidak mau tempatnya digantikan. Masjid sekalinya dibangun seperti itu ingin tetap begitu. Sisi manapun dari masjid yang dibangun oleh Rasulullah hendak Anda ubah, maka bagian masjid itu akan berteriak. Tetapi pada waktu itu yang diubah hanya batang mimbar saja. Karena yang diubah hanya batang mimbar, maka teriakan hanya muncul dari batang mimbar saja. Menurutku, andai tiang-tiang kurma itu juga diubah, mereka juga pasti akan berteriak. Jika pelepah kurma sebagai atap itu juga diganti, mereka juga pasti akan berteriak. Karena tidak satupun dari mereka yang sanggup berpisah dari Baginda Nabi.

Mimbar baru diletakkan di samping batang kurma lama. Rasul Akram SAW menaiki tangga mimbar. Hampir 20 sahabat yang meriwayatkannya. Riwayat ini diceritakan secara mutawatir oleh Bukhari Muslim serta kitab hadis lainnya. Mereka yang tidak mempercayai peristiwa ini dari perspektif ahli kalam bisa jadi dihukumi kafir. Semoga Allah menjaga kita.

Ini bukan seperti mukjizat lainnya. Peristiwa ini mutawatir. Rasulullah berkhutbah di mimbar barunya. Si batang kurma ditinggalkan. Jamaah memusatkan perhatian untuk menyimak Rasul Akram SAW. Tiba-tiba muncul suara yang tensinya lebih tinggi daripada suara Baginda Nabi. Setiap sahabat menceritakan peristiwa ini dengan penjelasannya masing-masing. Ada yang menceritakan suaranya mirip anak unta yang ditinggal induknya, ada yang bilang suaranya mirip suara rintihan manusia. Demikian tinggi tensi suaranya, masjid seperti terguncang. Jamaah pun teralihkan fokus perhatiannya. Suara berasal dari batang kurma. Bahkan beberapa sahabat mencatatkan bahwa batang kurma itu terbelah.

Rasul Akram SAW memahami pokok permasalahannya. Beliau turun dari mimbar. Dengan penuh keseriusan beliau mendekati si batang kurma. Beliau mengelus si batang kurma sambil menyampaikan sesuatu. Bibir mulianya komat kamit menjanjikan sesuatu pada si batang kurma. “Mana yang kamu pilih, kuletakkan dirimu di salah satu sudut masjid hingga dirimu lapuk, atau biar Allah menjadikanmu sebagai pohon abadi yang memberi buahnya kepada penghuni surga. Mana yang kamu pilih, disini saja atau fana di tempat lainnya.”

Si batang kurma memilih untuk menjadi pohon yang menghasilkan buah di surga. Elusan Baginda Nabi membuat teriakan berhenti dan Beliau bersabda, “Jika aku tidak mengelusnya, kalian akan mendengar teriakan itu hingga kiamat datang.” Si batang kurma berteriak. Posisinya diubah Seakan dikatakan, “Minggirlah! Mimbar telah menggantikan posisimu.” Ia tak mampu menahan perpisahan dengan Sang Nabi. Pergilah ke Masjid Nabawi. Sentuhlah pilar dan dindingnya, akan terdengar teriakan mereka semua. Jika ada telingamu, kalbumu, kesadaran dan perasaanmu, maka inderamu akan mendengarnya. Padahal selain batang kurma, ada banyak hal yang dulu dibangun Sang Nabi kini telah diruntuhkan. Selain batang kurma, betapa banyak hal yang dibuang, betapa banyak hal telah disingkirkan. Betapa banyak hal yang telah disingkirkan, termasuk cahaya bagi jiwa dan mataku, yaitu al Quran. Kepada generasi kita, bukan si batang kurma saja yang diminta untuk dilupakan, melainkan Baginda Nabi. Nama Agungnya diusahakan untuk dilupakan. Allah dan NabiNya berusahauntuk diingkari.

Bagaimana benda-benda dan peristiwa berteriak? Bagaimana Masjid Nabawi menjerit? Bagaimana semua yang dibangun Baginda Nabi SAW menjerit? Seseorang harus menjadi ahli nurani agar ia bisa mendengar dan terpengaruh oleh jeritan tersebut, dan untuk bisa mengatakan, “Malulah diriku, malulah jamaahku, malulah umat manusia!”

Jamaah Muslim Yang Mulia! Aku membuat pembukaan dari masjidnya Baginda Nabi. Dari mimbar tempat beliau berkhutbah kepada jamaahnya, hingga akhirnya sampai ke titik ini. Pembahasan utama kita adalah salat jumat dan jamaah. Rasulullah SAW dengan mengambil jamaah yang bersatu dan memiliki kesadaran sama, di hari dimana para hamba berkumpul & menghadap Allah, dimana pertemuan itu setara dengan mikraj, yaitu salat jumat. Menit ini, detik ini, saat ini, memiliki makna besar dan agung seperti itu. Bertawajuhlah kepada Allah dengan kalbu sadar. Semoga berkat rahmat Ilahi mempertemukan kita dengan waktu dimana doa-doa dikabulkan.

Saya juga ingin memberi kabar gembira ini juga, sekali lagi di salah satu hadits sahih, Rasulnya para rasul bersabda, “Di hari jumat ada suatu waktu dimana tidaklah seorang hamba berdoa, melainkan Allah memberi apa yang dipintanya.”[2] Mengenai waktu tersebut, para sahabat, tabiin, dan fukaha menyebutkan waktu yang berbeda-beda. Menurutku waktu tersebut mirip Lailatul Qadar, ia berganti-ganti di antara hari bulan Ramadhan. Seperti Nabi Khidir as, ia berjalan di antara manusia. Untuk merasakan menit tersebut, fokuskanlah tawajuhmu kepada Allah pada hari jumat. Nabinya para nabi dan mereka yang makbul doanya berhasil meraih menit, detik, dan waktu tersebut. Di waktu tersebut, mereka memanjatkan doa kepada Allah, dan Allah pun mengabulkan doa-doa mereka.

Menurut kebanyakan fukaha, waktu tersebut adalah saat ketika khatib berkhutbah. Waktu tersebut dikonfirmasi dengan diangkatnya kedua tangan Baginda Nabi untuk beroda di saat berkhutbah. Beliau berkhutbah di atas mimbar, lalu masuk seorang badui. Ia mengeluhkan kekeringan, “Ya Rasulullah! Semua hewan dan makhluk hidup mati kekeringan. Tidakkah engkau berdoa kepada Allah?” Rasulullah SAW mengangkat tangannya dan berdoa agar Allah menurunkan hujan. Sahabat berkata, “Saya bersumpah kepada Allah, di langit tak ada sedikitpun awan, Padahal ketika Rasul SAW turun dari mimbar dengan senyumannya, air hujan mengalir deras dari janggutnya. Hujan turun seminggu penuh, lembah Madinah dipenuhi banjir seminggu penuh. Seminggu penuh jalan tertutup.

Jumat berikutnya, Baginda Nabi kembali berkhutbah di atas mimbar. Seorang Badui kembali berdiri dan berkata, “Ya Rasululah! Terjadi banjir dimana-mana, tidakkah Engkau berkenan untuk berdoa kepada Allah!” Rasulullah kembali meraih waktu mustajab tersebut dan mengangkat kedua tangannya, “Ya Allah, turunkan hujan di sekitar kami, dan jangan turunkan kepada kami untuk merusak kami.” Sahabat kembali bersumpah, kegelapan di atas Madinah segera terbuka, hujan pun berhenti. Awan pergi ke sekitar. Pendatang membahas hujan deras, tetapi di Madinah tak ada hujan walau setetes. Karena ada yang mengangkat tangannya agar tidak jatuh setetespun hujan, Allah pun membuka pintu rahmatNya dan mengijabah permintaan dan permohonannya.

Di hari jumat ada suatu waktu yang jika seorang hamba berdoa maka Allah akan mengijabahnya. Jika demikian, maka hargailah waktu jumat dengan tawajuh penuh agar doamu kepada Allah diijabah, sehingga satu hari jumatmu menerangi hari-harimu dalam seminggu. Agar salat lima waktu kita tak memiliki kekurangan apapun, sehingga kita menjadi orang bersujud dan terang nuraninya. Semoga Allah menebarkan cahaya pada kalbu kalian, menjadikan kalian sukses secara materi dan maknawi. Semoga Allah menjadikan kita layak menjadi umat Nabi Muhammad yang dibanggakan semesta lagi mulia. Aamiin.

——————————————————————————-

[1] Salah satu riwayat dari hadis tentang ini yaitu Nabi shallallahu‘alaihi wasallam bersabda:

لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ مَسْجِدِي هَذَا وَمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِ الْأَقْصَى

“Janganlah kalian menempuh perjalanan jauh kecuali menuju ke tiga masjid: masjidku ini (Masjid Nabawi), masjid Al Haram, dan masjid Al Aqsha” (HR. Bukhari no. 1115 dan Muslim no. 1397)

[2] Dalam hadis dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tentang hari Jumat, lantas beliau bersabda,

فِيهِ سَاعَةٌ لاَ يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ ، وَهْوَ قَائِمٌ يُصَلِّى ، يَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى شَيْئًا إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ

“Di hari Jumat terdapat suatu waktu yang tidaklah seorang hamba muslim yang ia berdiri melaksanakan shalat lantas dia memanjatkan suatu doa pada Allah bertepatan dengan waktu tersebut melainkan Allah akan memberi apa yang dia minta.” (HR. Bukhari 935, Muslim 2006, Ahmad 10574 dan yang lainnya).

Desain tanpa judul

Waktunya Mendengarkan Ruh Kita: Tiga Bulan Suci (Rajab, Sya’ban, Ramadhan)

“Waktunya Mendengarkan Ruh Kita: Tiga Bulan Suci (Rajab, Syaban, Ramadhan)”

Tanya: Untuk bisa mendengarkan gairah tiga bulan suci di dalam jiwa kita, serta agar kita dapat memanfaatkan secara maksimal amosfer maknawi dan rohani tiga bulan suci tersebut, apa saja nasihat dari Anda?

Jawab: Sebelum sampai pada jawaban pertanyaan, perlu saya sampaikan kembali bahwasanya pada tiga bulan suci ini manusia memiliki kesempatan terbaik untuk bisa lebih dekat kepada Allah SWT, meraih rahmatNya yang luas, melepaskan diri dari cengkeraman dosa dan melakukan perjalanan ruh dan kalbu di dalamnya. Dalam usaha tazkiyatun nafs atau pembersihan jiwa, untuk mentarbiyah ruh dan membersihkan kalbunya, manusia memang pada dasarnya membutuhkan sebuah periode rehabilitasi samawi setiap tahunnya. Tiga bulan yang penuh berkah ini merupakan periode waktu paling penting dalam usaha rehabilitasi  tersebut.

Tidak ada keraguan bahwasanya manusia memerlukan tafakkur dan tazakkur yang amat serius agar dalam periode waktu yang penuh berkah ini mereka dapat meninggalkan beban jasmani dan nafsu syahwatnya sehingga mereka pun bisa berhasil naik ke ufuk yang lebih tinggi. Namun ketika melakukannya, mereka harus senantiasa membuka kalbu dan ruhnya ke sisi maknawi. Maksudnya, ia di satu sisi dengan akal dan pikirannya harus berusaha memahami topik-topik seputar iman dan Al Quran lewat aktivitas muzakarah; di sisi lainnya, ia juga harus berusaha meraih tetes demi tetes hujan maknawi yang sedang turun dengan derasnya dalam periode waktu yang penuh keberkahan tersebut.

Tawajjuh Ilahi Harus Dibalas dengan Tawajjuh Lagi

            Betapa banyak tokoh agama yang menggambarkan keutamaan periode waktu ini dengan berbagai penjelasannya yang indah. Betapa banyak ungkapan yang mereka gunakan untuk menarik hati kaum yang beriman agar bersemangat meraih banyak keutamaan dalam tiap siang dan malam yang mengiringinya. Agar mampu mendengar serta memahami keberadaan dan keutamaan dari tiga bulan yang penuh berkah ini, adalah sangat penting bagi kita meluangkan waktu  untuk menganalisis karya-karya para ulama besar yang mengulas keutamaan bulan-bulan ini, lalu mencerna setiap kata yang digunakan di dalamnya dengan metode muzakarah. Ya, agar kita mampu mengambil manfaat secara maksimal dari karya-karya tersebut, kita harus menjauhi cara membaca biasa yang hanya menampakkan permukaannya saja; kita harus mengetahui cara membuka kedalaman setiap topik yang dibahas di dalamnya. Jika jiwa dan pikiran kita tidak dipersiapkan,  tidak mungkin kita dapat meraih manfaat maksimal dari setiap pembahasan yang kita baca dan dengarkan seputar kemuliaan tiga bulan ini.

            Selain itu, untuk dapat merasakan kelezatan dan keindahan khusus yang dimiliki periode waktu ini secara sempurna di dalam hati kita, di awal kita harus  mengetahui dan menyadari bahwa tiga bulan mulia ini adalah “bulan-bulan ghanimah”, lalu diikuti dengan tekad untuk tidak menyia-yiakan setiap detik yang berlalu dalam siang dan malamnya. Misalnya, bagi mereka yang tidak bertekad untuk menemui Tuhannya di waktu sepertiga malam terakhir serta bagi mereka yang tidak meneguk kesadaran untuk memuliakan waktu malamnya; tidak mungkin mereka dapat merasakan dan menikmati keindahan mendalam yang mengiringi tiga bulan mulia ini. Ya, jika mereka memasuki bulan-bulan mulia ini dengan tegangan metafisik yang tinggi; tidak menyerahkan dirinya dalam suatu penghambaan yang serius; dan tidak menyeburkan diri ke dalamnya; walaupun keutamaan yang dibawa oleh bulan mulia ini ditumpahkan seperti gelas penuh berisi air yang dibalik, mereka tidak akan mampu mendengar dan merasakannya. Bahkan mereka bisa menganggap orang-orang yang sibuk mengumpulkan dan meraih keutamaan bulan mulia ini sebagai fantasi belaka.

            Ya, kemampuan mendengar ilham yang mengalir dengan derasnya di hari-hari yang penuh berkah tersebut sangat berkaita dengan sejauh mana kita meyakini dan bertawajjuh kepadanya. Karena tawajjuh harus dibalas dengan tawajjuh lagi. Jika Anda tidak bertawajjuh atau mengalihkan pandangan kita kepada ruh dan makna dari bulan-bulan yang istimewa ini, mereka pun tidak akan membukakan pintunya kepada Anda. Bahkan ungkapan dan penjelasan terbaik seputar keutamaan tiga bulan mulia ini pun bisa jadi hanya bernilai seperti seonggok jasad tak bernyawa nan redup tak bercahaya di mata Anda. Penjelasan Ibnu Rajal al Hanbali yang menyentuh dawai hati ataupun penggambaran Imam Ghazali yang mengguncang kalbu pun akan memberi efek kebalikan di hati Anda. Mungkin Anda akan mengatakan:”Ngomong apa sih mereka?!” lalu pergi dan mengabaikannya. Karena kekuatan pengaruh dalam setiap kata, selain bergantung pada nilai yang dibawa oleh pilihan katanya, juga dipengaruhi oleh perspektif, niat, sera keterbukaan pikiran dan perasaan pendengarnya terhadap masalah yang dibahas.

            Dengan demikian, umat manusia harus menyadari pentingnya tiga bulan tersebut, sampai-sampai mereka pun berubah menjadi bulan rajab, syaban, dan ramadhan itu sendiri. Demikian sempurnanya mereka melebur di dalamnya, sehingga mereka pun mampu mendengar apa yang dibisikkan bulan suci ini kepada jiwa manusia. Jika tidak maka Anda tetap menjadi Anda yang tidak berkembang, tidak mampu melepaskan diri dari superfisial; kata penjelasan dan pembahasan terbaik seputar keutamaan bulan mulia nan agung ini pun hanya akan masuk ke telinga kanan, dan keluar lewat telinga kiri Anda. Mereka yang tidak menghormati bulan ini; mereka yang tidak memiliki semangat dan tekad untuk memperbaharui diri mereka di musim ghanimah ini; mereka yang tidak mampu menangkap keseriusan dalam setiap sikap dan perilakunya; mereka yang demikian akan sulit mendapat manfaat dan kemuliaan dari bulan-bulan yang mulia ini.

Program-Program yang Cocok diadakan di Waktu Mulia ini

            Terkait topik ini, terdapat sisi dimana ia diterima oleh pandangan masyarakat secara umum. Adalah sebuah fakta bahwasanya kedalaman dan keluasan makna dari bulan-bulan mulia ini hanya bisa didengar serta dirasakan oleh ufuk ruh dan kalbu yang secara istimewa dimiliki pribadi-pribadi tertentu. Namun, juga merupakan sebuah kenyataan bahwasanya masyarakat secara umum juga menyambut serta mengagungkan berkah dan nilai dari bulan-bulan mulia ini, dimana mereka berbondong-bondong ke masjid dan mengarahkan diri mereka kepada Allah subhanahu wa ta’ala untuk menyambut kedatangannya.  Dengan mempertimbangkan keadaan tersebut, penyelenggaraan berbagai program dan aktivitas di bulan-bulan mulia ini dapat dijadikan sebagai sarana penting dalam usaha menyampaikan pesan Ilahi  ke dalam hati manusia. Program dan kegiatan yang sesuai dengan nafas agama dapat diselenggarakan untuk mengisi malam-malam mulia seperti Ragaib, Isra Mikraj, Nisfu Syaban, Nuzulul Quran, dan Lailatul Qadar. Lewat jalan tersebut, kita bisa memaksimalkan malam-malam tersebut sebagai sarana untuk memperdengarkan hakikat agama ke setiap kalbu dan mendekatkan umat manusia kepada Penciptanya, yaitu Allah subhanahu wa ta’ala. Sebagaimana hakikat ini bisa disampaikan kepada hati manusia lewat beragam program yang diselenggarakan di masjid, ia pun bisa disampaikan dengan berkumpul dan menyelenggarakan berbagai majelis sohbet dan muzakarah di tempat-tempat lainnya. Dengan jalan demikian, tawajjuh serta harapan orang-orang beriman untuk bisa meraih keberkahan dan keutamaan di bulan-bulan mulia ini bisa difasilitasi dengan tepat.

            Sebelumnya, jika diperkenankan, saya ingin menarik perhatian Anda terkait satu hal yang saya pandang penting terkait dengan penyelenggaraan program di waktu-waktu mulia tersebut. Visi dari setiap program yang kita fasilitasi haruslah bertujuan untuk membuat pikiran dan perasaan manusia selangkah lebih dekat kepada Penciptanya. Jika program-program yang mana kita disibukkan dengannya tersebut tidak menjadikan kita sebagai pemandu bagi tercapainya tujuan tersebut, artinya kita sedang sibuk dengan hal-hal hampa dan tak berarti. Ya, jika program-program yang kita selenggarakan tidak menyampaikan hakikat dari Sang Pencipta, jika ia tidak membuat orang-orang selangkah lebih dekat dengan Junjungannya shallallahu alayhi wasallam; bahkan jika ia hanya dirancang untuk memuaskan nafsu manusia belaka supaya dikatakan: “betapa indahnya waktu yang kita habiskan disini,” bisa jadi kita telah menyia-nyiakan waktu, bisa jadi kita berdosa karenanya. Semua jalan yang tidak mengantarkan pejalannya menuju Allah subhanahu wa ta’ala da dan  Junjungan kita shallallahu alayhi wasallam adalah ‘penipuan.’ Dan memang tugas dan pekerjaan dari mereka yang kalbunya beriman bukanlah untuk menghibur orang-orang dengan festival belaka.

Sebagai tambahan, perlu untuk disadari bahwa orang-orang di zaman modern ini mempunyai gaya hidup yang condong pada program yang bersifat hiburan. Untuk alasan ini, respon positif mereka bisa jadi menipu. Dengan melihat respon positif mereka, bisa jadi Anda berpikir telah melakukan pekerjaan yang baik. Padahal kriteria utama kita bukan sekadar pada bagaimana membuat mereka senang, melainkan apakah yang kita lakukan tersebut sudah sesuai dengan kriteria Al Quran dan sunnah atau belum. Berkenaan dengan hal ini, meskipun acara-acara tersebut nantinya tidak didatangi banyak orang, Anda harus selalu mengejar kebenaran. Dengan kata lain, hal yang paling penting tidak terletak pada pujian dan tepuk tangan orang-orang. Melainkan apakah program tersebut berisi hal-hal yang berarti bagi perkembangan kehidupan spiritual kita atau tidak.

Pada waktu yang penuh berkah ini, ketika langit dipenuhi anugerah dan di bumi terhampar hidangan-hidangan langit, kita haruslah terus menunjukkan kepada orang-orang jalan untuk memperdalam dan meningkatkan kualitas kehidupan spiritual mereka; kita harus mengejar tujuan ini di setiap hal dan program yang kita selenggarakan. Kita harus mampu menyampaikan arti dan semangat baru pada orang-orang setiap saat. Dengannya kita membantu mereka mengibarkan layar perahunya untuk mengarungi cakrawala maknawi tanpa batas.

Untuk mewujudkannya, barangkali nasyid, syair, kasidah, dan puji-pujian kepada Allah dan RasulNya bisa disenandungkan. Komposisi dan melodi baru pun bisa diciptakan. Apapun itu, yang terpenting kita harus selalu memicu kerinduan akan kehidupan abadi yang bahagia pada semua peserta yang hadir ke program-program kita. Tak cukup dengan itu, kita juga harus menghembuskan rasa khawatir akan kehilangan kebahagiaan abadi tersebut. Pada kesimpulannya, kita harus senantiasa memberi pengingatan dan peringatan pada ruh spiritual setiap insan yang menjadi lawan bicara kita.

Akhirnya, masjid-masjid, jamaah-jamaah, hari-hari jumat, malam-malam di bulan rajab, syaban, dan ramadhan, malam ragaib, isra mikraj, nisfu syaban, nuzulul quran, dan lailatul qadar harus menjadi sarana bagi kita untuk mengarahkan umat manusia bertawajjuh kepada Allah  subhanahu wa ta’ala. Semua kegiatan yang disusun di waktu-waktu yang suci ini, harus diarahkan untuk mewujudkan tujuan mulia dan agung tersebut.

(Diterjemahkan dari ‘Ruhumuzu Dinleme Zamani:

Uc Aylar’ dari buku Kirik Testi 13: Mefkure Yolculugu)

dakwah

Hak Orang Tua dan Hak Dakwah

Tanya: Bagaimana harusnya bersikap kepada kedua orang tua yang tidak menginginkan kita aktif dalam usaha dakwah?

Jawab: Terkait kebutuhan akan pengembangan Islam, setiap masa memiliki prioritasnya masing-masing. Misalnya di masa Dinasti Umayyah, Abbasiyah, dan Usmani. Karena di masa itu hal-hal seperti menguasai ilmu pedang, memelihara kuda perang, dan memiliki niat untuk bergabung dalam jihad adalah hal-hal yang sangat penting, maka semua orang yang hidup di masa tersebut mengetahui bahwa jenis jihad tersebut adalah tugas tersuci. Di samping periode tersebut, juga terdapat periode dimana sosok-sosok seperti Mus’ab bin Umair dan Khabbab bin Arats tumbuh di masa awal penyebaran Islam. Di masa itu misalnya, tidak diketahui adanya pedang maupun kuda yang dipelihara. Sebaliknya, di masa tersebut para pahlawan cinta menyebar ke seluruh penjuru bumi dengan membawa bukti-bukti Al-Quran yang cemerlang layaknya permata. Mereka berperangai lembut dan siap menyingkirkan kerasnya hati dan batunya pikiran di kepala lawan bicaranya. Demikianlah, Khabbab melunakkan hati Mus’ab. Demikian juga Mus’ab menakhlukkan hati tujuh puluh orang dalam setahun dakwahnya di Madinah. Mus’ab bin Umair memberi pelajaran kepada masyarakat Madinah sama persis dengan pelajaran-pelajaran yang diterima dari gurunya, yaitu Sayyidina Khabbab bin Arats yang notabene adalah seorang budak. Demikianlah jihad dilaksanakan di masa itu. Akan tetapi, di hari Uhud Baginda Nabi SAW menginginkan hal lain dari Mus’ab. Masa ketika Sayyidina Mus’ab jatuh syahid di tangan orang-orang kafir, dimana terdapat pedang yang disarungi baju lamanya dan  jubah Rasulullah juga menempel di punggungnya, secara deretan kejadian menunjukkan kondisi yang berbeda. Di hari Uhud, tugas baru yang diemban Sayyidina Mus’ab tersebut secara kebutuhan mendapat prioritas utama. Saya tidak berpikir telah menggambarkan bahasan-bahasan ini untuk menggelorakan emosi dan membangkitkan gairah Anda.  Maksud dari saya menjelaskan bahasan ini adalah untuk menyampaikan bahwasanya di setiap masa terdapat perbedaan pada hal mana yang lebih menjadi prioritas.

***

Di masa kita saat ini, demikian urgennya pekerjaan irsyad dan tabligh untuk menjadi prioritas, tetapi di waktu yang sama menakhlukkan Jerman dengan tank dan membawa semua teknologi industri Jerman ke negeri kita tidaklah lebih utama dibandingkan mengenalkan Allah SWT kepada lima puluh masyarakat Jerman. Membujuk Rusia agar meletakkan hulu ledak nuklirnya di negeri kita tidaklah lebih penting dibandingkan dengan mengenalkan Allah kepada lima puluh warga Rusia. Demikian juga dengan Amerika, membawa semua sistem dan kemajuan di Amerika ke negeri kita tidaklah lebih penting dibandingkan dengan menjelaskan apa itu muslim kepada sepuluh orang negro di sana.

Pada hari ini, disebabkan urgensinyalah irsyad akhirnya sampai pada posisi dimana ia menjadi tugas terpenting yang layak mendapatkan aplaus dari para penghuni langit. Oleh sebab itu, menggeser perhatian masyarakat yang sedang bersemangat dengan Islam ke masalah-masalah materi dan politik, artinya mengeluarkan perhatian masyarakat tersebut dari posisi seharusnya. Hal tersebut adalah salah satu dari banyak kekhawatiran-kekhawatiranku. Kelompok-kelompok yang meyakini segala permasalahan dapat dicarikan solusinya di tingkat parlementer, mereka terhitung sebagai sosok-sosok yang mengeluarkan permasalahan inti dari posisi seharusnya. Tentu saja sebagai sebuah realita jalan parlementer juga perlu digarap. Akan tetapi, apabila masalah amar makruf nahi munkar tidak ditujukan kepada pondasi dasarnya, di waktu yang dekat mereka, termasuk juga para politisi, akan menemui jalan buntu yang akan sangat mengejutkannya. Semoga Allah tidak menunjukkan hari itu kepada kita! Kita harus menggunakan semua upaya yang bisa kita lakukan. Atas inayat Ilahi, kita tidak boleh meninggalkan lahan irsyad dan tabligh kosong  begitu saja.

Di masa ini, kita memiliki putra dan putri yang melakukan pekerjaan irsyad serta tabligh layaknya Sayyidina Sa’ad bin Abi Waqqash dan  Mus’ab bin Umair.  Sayyidina Mus’ab bin Umair, sosok dimana pemuda dan pemudi kita mengambil inspirasi darinya, setelah tinggal di Mekkah selama 4-5 tahun lamanya kemudian pertama-tama ia hijrah ke Ethiopia sebelum akhirnya melanjutkan hijrahnya ke Madinah. Hanya Allah yang mengetahui betapa besar ujian yang diberikan pihak keluarga kepadanya. Anak yang memiliki keindahan surgawi ini telah menerima Islam saat usianya baru menginjak 15-16 tahun. Ia mengerahkan semua upayanya untuk tidak menyakiti hati ibunya. Di waktu yang sama, ia tidak sesaat pun berpaling dari sisi Baginda Nabi SAW. Sa’ad bin Abi Waqqash adalah putra dari pamannya Baginda Nabi. Ia masuk ke naungan Islam di usia 18 tahun. Di umurnya yang masih belia tersebut, ia telah menunjukkan loyalitasnya kepada Baginda Nabi. Ia menjelaskan sendiri keadaannya:

“Di suatu malam di Mekkah, saya keluar untuk untuk melakukan hadats kecil. Karena lapar, mata saya tidak dapat melihat dengan jelas. Dari suara air saya memahami bahwa ia telah mengenai sesuatu yang keras. Saya berusaha merabanya dan tangan saya berhasil menemukan sepotong kulit. Dengan hati bahagia aku membawanya pulang. Aku membersihkan dan memasaknya. Aku menikmati kuah sup dari rebusan kulit tersebut selama tiga hari. Dengannya aku mengatasi laparku dalam beberapa hari.”[1] Sayyidina Sa’ad bin Abi Waqqash yang telah melewati beragam kesulitan hidup seperti kisah tersebut kemudian berkata: ”Suatu hari Ibuku datang menemuiku dan berkata: ’Saya bersumpah tidak akan makan apapun dan tidak akan berpindah dari bawah terik matahari sampai engkau berpaling dari jalanmu itu!’ Tiga hari berturut-turut ibuku benar-benar melaksanakan sumpahnya. Ketika ia mulai pingsan di hari ketiga, aku segera menemui Baginda Nabi dan menjelaskan keadaannya. Ayat kemudian turun: ’Dan kami wajibkan kepada manusia agar berbuat kebaikan kepada kedua orang tuanya….’[2][3]

   Di masa itu, sensitivitas di sisi tersebut memang dibutuhkan.  Segala upaya dilakukan untuk tidak menyakiti hati ayah dan ibu yang masih musyrik, tetapi di waktu yang sama kegiatan untuk berdakwah tidak pernah kendur. Hari ini kita hidup di masa dimana segala beban dakwah berada di pundak kita, baik laki-laki maupun perempuan. Semoga Allah SWT mengokohkan generasi ini! Akan tetapi, jangan sampai masalah ini jadi sebab kita menyakiti perasaan kedua orang tua kita. Kita tidak boleh lupa, walaupun misalnya mereka musyrik sekalipun, Al Quran memerintahkan kita untuk menghormati mereka: “…pergaulilah keduanya di dunia dengan baik…”[4]

Tugas dasar kita kepada orang tua adalah sensitif dalam mentaati keduanya serta selalu  memasang wajah penuh senyuman saat berinteraksi dengan mereka. Secara fitrah dan karena kasih sayangnya, tidak ada satu ibupun yang rela hidup berjauhan dengan anaknya, walaupun untuk alasan dakwah. Akan tetapi, jika terdapat ladang dakwah yang membutuhkan pengorbanan dimana di sana dibutuhkan sumber daya manusia untuk mengelola progam-program dakwah, maka dia harus tetap berdiri teguh di sana. Jika tidak berdiri teguh, kegoyahannya tersebut dapat dianggap pengkhianatan kepada dakwah dan teman-teman seperjuangannya. Orang-orang yang berada pada posisi harus memilih salah satu di antara dua pilihan ini harus memohon rida ibunya seraya mencium tangan dan kaki ibunya. Ia harus menumpahkan air matanya dan berkata:”Aku mencium kaki ibu dengan penuh rasa bangga. Karena Baginda Nabi bersabda ‘surga ada di bawah telapak kaki ibu.’[5] Namun, insya Allah aku akan menjadi anak yang membanggakanmu di akhirat dan di hadapan Baginda Nabi SAW,” untuk meyakinkan ibunya. Karena hak terbesar yang harus kita penuhi setelah hak Allah adalah hak orang tua. Dalam Al Qur’an tertera peringatan:”…jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak…”[6] Saya secara pribadi senantiasa gemetar bila mengingat peringatan yang terdapat pada ayat ini.

***

Terkait topik pembahasan, saya hendak menceritakan peristiwa yang terjadi pada diri saya. Saya tidak ingat pernah menyakiti hati ayah saya. Saya hendak menceritakannya sebagai bentuk dari tahdis nikmat: Saya dapat bersumpah bahwa saya tidak pernah menginjak bahkan bayangan dari ayah saya. Ketika berjalan bersamanya, saya selalu berusaha berjalan di belakang bayangannya. Ayah saya adalah sosok yang sangat bersih. Beliau juga merupakan guru bahasa Arab saya. Namun salah satu keputusannya pernah membuatku berkata:”Ayah, permasalahan rumit seperti petualangan yang jatuh kepada saya ini hampir saja membuat ibu dan saudara-saudara lainnya menangis!”. Beliau ketika itu pergi ke tempat yang tidak disukai keluargaku dan ketika perjalanan pulang, beliau terjatuh tepat di atas rel kereta. Namun suratan takdir berkata bahwa kereta tidak melindasnya. Hanya sebagian pakaiannya saja yang tersobek. Ayah dengan nada protes dan marah berkata kepadaku:”Ayah seperti apa yang kau inginkan?”

Jika mengingat peristiwa tersebut, hatiku gemetar terguncang oleh kekhawatiran bagaimana aku mempertanggungjawabkannya di akhirat nanti. Hari itu duniaku runtuh. Demikian dahsyat efeknya, aku sampai tidak ingat pada tungku yang kubakar.  Tungku yang terbakar menjalarkan api ke sekelilingnya. Muncul kobaran api kecil di kamarku. Aku benar-benar terguncang.

Ya, hak ayah dan ibu amatlah besar. Aku tidak bisa memaafkan diriku walau masalah tersebut sepertinya remeh. Bagaimana bisa aku jadi pemicu bagi ayahku yang merupakan seorang religius meluapkan kemarahannya? Aku masih merasakan penyesalan di lubuk hatiku yang paling dalam. Namun, di akhir kehidupannya, beliau menyatakan kebanggaannya kepadaku. Hari-hari terakhir dalam kehidupannya jatuh pada hari kamis pertama di bulan Ramadhan. Aku berkata kepadanya:”Jika ayahanda mengizinkan aku akan berangkat ke Manisa, tempat dinasku yang baru.” Wajahnya menatapku dengan menyiratkan ketidakridaan, tetapi di akhir beliau berkata:”Pergilah anakku! Disini engkau hanya ditunggu oleh empat mata, tetapi di sana engkau telah ditunggu oleh ribuan mata. Ya, beliau meridai dan bangga padaku, tetapi aku tetap tidak bisa memaafkan kesalahanku.

***

Terkait muamalah kepada kedua orang tua, lebih sensitif dan berhati-hatilah, khususnya jika keduanya juga sensitif dalam menjaga wudu dan waktu salat. Jika kalian menginginkan umur yang berkah, ingin istikamah dan kokoh dalam ketakwaan, serta menginginkan wajah bercahaya saat menghadap ke haribaan Ilahi, jangan pernah goyah dalam menghargai kedua orang tuamu. Seorang manusia tidak memiliki hak untuk menentang dan berbuat tidak adil kepada kedua orang tuanya. Memangnya hak apa yang layak dituntut oleh seorang anak kepada kedua orang tuanya? Terkait masalah ini, al Quran sangat tegas dalam menunjukkan sikapnya. Sang Penyusun Gagasan Abad ini dalam menjelaskan masalah ini berkata:”Mereka yang menentang kedua orang tuanya adalah monster yang merusak manusia”[7]

______________________

[1] Abu Nuaim, Hilyatul Auliya, 1/93

[2] QS Al Ankabut 29:8

[3] Wahidi, Asbabun Nuzul, hlm. 341

[4] QS Lukman 31:15

[5] Al Qudai, Musnadus Syihab, 1:102

[6] QS al Isra 17:23

[7] Bediuzzaman Said Nursi, al Kalimat, kata ke-32