david-papillon-1310641-unsplash

ANTARA RISALAH NUR, RASA SYUKUR DAN REZEKI

Risalah Nur dan Bersyukur adalah Jalan Keluar dari Kesempitan Rezeki

Saudara-saudaraku yang setia lagi mulia,

Pada bentuk yang pasti dan pada hampir seribuan pengalamanku, akhirnya aku sampai pada kesimpulan absolut yang aku rasakan pada sebagian besar waktu bahwasanya selama aku mengerjakan khidmat Risalah Nur, aku melihat terdapat perkembangan, kelapangan, kelegaan, serta berkah di hati, badan, pikiran, serta rezekiku.  Baik saat masih di sana maupun saat sudah di sini, aku merasakan keadaan yang sama juga dialami oleh sebagian besar saudara-saudaraku. Dan sebagian besar dari mereka memang mengakui: ”Kita juga merasakan hal yang sama.” Bahkan sebagaimana yang aku tulis tahun lalu, rahasia dari mampu hidupnya aku dengan asupan makanan yang sangat sedikit adalah keberkahan tersebut.

Juga terdapat riwayat dari Imam Syafii: ”Saya dapat menjamin rezeki para penuntut ilmu yang ikhlas.”[1] Karena terdapat kelapangan dan keberkahan di dalamnya.

Oleh karena hakikatnya ternyata seperti itu dan oleh karena murid-murid risalah nur menunjukkan kompetensi yang amat sesuai dengan kriteria penuntut ilmu yang ikhlas. Tentu saja meninggalkan khidmat risalah nur di saat kondisi kelaparan dan kekeringan seperti saat ini serta daripada sibuk mencari rezeki dengan alasan kedaruratan rezeki maka jalan keluar terbaiknya adalah bersyukur, hidup kanaah, dan menggenggam erat identitas sebagai murid risalah nur.

Ya, masalah rezeki mengguncang semua orang di semua tempat. Orang-orang yang sesat memanfaatkan kondisi ini. Sedangkan orang-orang ahli agama menganggap keadaan tersebut sebagai uzur dan berkata: ”Kondisinya sedang darurat, apa boleh buat.”

Artinya murid-murid Risalah Nur dalam menghadapi musibah kelaparan dan keadaan darurat lainnya harus kembali kepada Risalah Nur. Tugas bagi setiap murid Risalah Nur tidak hanya menyelamatkan imannya; barangkali ia juga berkewajiban untuk menjaga iman orang lain. Dengan demikian pengabdiannya pun akan berlanjut secara serius.

Kami telah menulis kepada Anda untuk tidak melawan mereka yang berlawanan dengan rasa permusuhan. Sebisa mungkin ambillah orang-orang yang bertakwa dan berilmu sebagai teman. Namun, perhatikan titik berikut ini: Janganlah mendorong mereka ke dalam wilayah yang dapat menyinggung keteguhan dan keyakinan para murid serta merugikan Risalah Nur. Yang demikian jika tidak masuk dengan niat ikhlas akan mengakibatkan kelesuan. Jika di dalamnya terdapat egosentris dan keakuan, mereka dapat meremukkan keteguhan murid-murid Risalah Nur, pandangannya dapat menarik dan memencarkan sisi eksternal dari Risalah Nur. Saat ini dibutuhkan perhatian serta keteguhan  yang amat sangat.

Pada keadaan yang demikian, tentu saja harapan saya berada di puncak tertinggi, telah muncul dua pahlawan dari kalangan murid-murid Risalah Nur: Bapak-anak Ahmed Nazif dan Salahaddin. Kita melihat dalam usaha menerbitkan Risalah Nur, usaha dua sosok ini setara dengan pencapaian kerja dari 200 orang. Singkatnya, salah satunya, yaitu anaknya, dia tinggal di Kars tetapi lewat korespondensi usahanya memberikan pengaruh yang kuat bagi Van, Erzurum, Konya, serta bagi daerah ini – layaknya surat yang tersertakan ketika kukirim kepada kalian. Ia betul-betul mirip seperti Abdurrahman.

Saudaramu,

Said Nursi

 

Keterangan:

Salahaddin Celebi yang berasal dari Kecamatan Inebolu, Provinsi Kastamonu, seperti halnya ayahnya, Ahmed Nezif Celebi, dia juga salah satu murid Risalah Nur yang penting. Lahir pada tahun 1913. Lewat perantara ayahnya, ia mengenal Ustaz di tahun 1938. Ia masuk dalam sejarah sebagai salah satu orang yang menggandakan Risalah Nur dengan mesin fotokopi untuk pertama kalinya. Ia menjelaskan sendiri keadaannya tersebut: ”Aku melihat mesin fotokopi di salah satu ruang usaha di Istanbul. Ketika aku mengetahui bahwa mesin ini dapat mencetak 100 halaman dalam satu menit, segera kubeli dan kubawa mesin itu ke Inebolu. Bagian yang pertama kali kugandakan dengan mesin tersebut adalah sinar ketujuh dari Risalah Ayatul Kubra yang membahas “Kesaksian Pengelana Alam.” Ketika aku membawakan salinan pertama yang dihasilkan mesin tersebut, Ustaz sangat gembira. Gambaran perasaan ustaz akan karya tersebut dijelaskan dalam ungkapan: ”Ya Rabbi! Anugerahilah surga firdaus kepada Nazif Celebi dan para penolongnya yang dengan satu pena menghasilkan 500 salinan risalah!” Salahaddin Celebi juga membersamai Ustaz saat berada di Penjara Denizli dan Afyon.  Sosok Salahaddin Celebi yang digambarkan Ustaz dengan ungkapan “Pada keadaan yang demikian, tentu saja harapan saya berada di puncak tertinggi, telah muncul dua pahlawan dari kalangan murid-murid Risalah Nur: Bapak-anak Ahmed Nazif dan Salahaddin. Kita melihat dalam usaha menerbitkan Risalah Nur, usaha dua sosok ini setara dengan pencapaian kerja dari 200 orang”, wafat pada tahun 1977.

Diterjemahkan dari buku Nurlardan Secmeler Vol.8 Bagian Kastamonu Lahikasindan  halaman 115-117 dan  174-175

Asli Kaplan (Ed), 2011, Nurlardan Secmeler – 8, Istanbul: Mustu Yayinlari

[1] Al Qudai, Musnadus Syihab 1/244; al Kannuji, Abcadul ulum 1/98; al Munawi, Faidhul Qadir 6/175

ashkan-forouzani-1169045-unsplash

Merekatkan Ukhuwah dengan Cahaya Iman dan Al-quran

Biismihi Subhanah…

Saudara-saudaraku yang mulia!

Oleh karena kali ini aku melihat Risalah Ikhlas pada tulisan kalian, dengan memasrahkan kalian kepada risalah-risalah seperti risalah ikhlas tersebut, aku merasa tidak perlu lagi membuat pengajian tambahan. Akan tetapi, aku ingin memberi peringatan: Karena pekerjaan kita bersandar pada rahasia keikhlasan, karena pekerjaan kita merupakan iman kepada hakikat, tanpa perlu mencampuri kehidupan duniawi dan masyarakat lainnya, kita berkewajiban untuk menjauhkan diri dari hal-hal yang bersifat persaingan, partisan, dan perselisihan. Sayang seribu sayang, ketika sedang diserang habis-habisan oleh serangan ular yang teramat dahsyat, para ahli ilmu dan ahli agama dengan menggunakan alasan remeh seremeh gigitan nyamuk, justru membantu pengrusakan yang dilakukan kaum munafik, zindik, dan para  ular dengan jalan saling kritik satu sama lain; tanpa disadari mereka telah membantu kaum tersebut untuk membunuhi sesamanya.

(Lampiran Kastamonu, hlm. 212)

* * *

Penjelasan:

Oleh karena prinsip dari pekerjaan ini adalah menjelaskan hakikat iman dengan bersandar kepada rahasia keikhlasan, maka kita harus menjauhkan diri dari hal-hal yang dapat membahayakan pengabdian-pengabdian mulia ini. Untuk itu, sebelum terlambat kita harus:

  1. Tidak turut campur dalam kehidupan duniawi dan kehidupan sosial
  2. Menjauhkan diri dari persaingan, partisan, dan perselisihan

Pekerjaan ini mewajibkan kita untuk berlaku demikian. Sayangnya karena permasalahan ini tidak diperhatikan, di saat ular menyerang dengan dahsyatnya, dengan membesarkan permasalahan sepele seremeh gigitan nyamuk dan menggunakan kesalahan parsial sebagai alasan, para guru dan tokoh-tokoh spiritual sibuk mengkritik satu sama lain. Dengan demikian, tanpa disadari mereka telah memberi kesempatan kepada orang-orang tak beriman untuk melakukan aktivitas pengrusakannya. Keadaan ini mirip seperti memberi senjata kepada orang yang ingin membunuhi kita.

Demi menghindari perselisihan dan kontroversi, Ustadz pun tidak mengizinkan beberapa risalah untuk diterbitkan. Beliau tidak masuk ke dalam isu-isu kontroversial. Bahkan di tahun-tahun awal kehidupannya di Barla, Husrev Altinbasak abi datang mengunjunginya. Beliau adalah pensiunan tentara dengan pangkat terakhir kapten. Beliau juga merupakan sosok terkemuka di Isparta. Saat itu beliau bertanya kepada Ustaz, apakah diperbolehkan mengusap khuf (sepatu kulit tebal), serta pertanyaan berkenaan tentang syarat-syarat pendirian shalat jumat apakah mengharuskan seseorang sedang berada di kota tempat mukimnya, Ustaz menjawabnya: “Saudaraku, di masa ini membimbing hakikat iman dan al Quran ke setiap kalbu adalah pekerjaan yang sangat penting. Pandangan materialis sedang berusaha mendiktekan ketidakberimanan. Di masa ini, pengabdian yang paling penting adalah pengabdian iman. Jika kita sibuk dengan perihal ikhtilaf fikih, beragam pintu perdebatan akan terbuka di antara pandangan-pandangan fikih. Untuk saat ini, mari kita tidak menyibukkan diri dengannya. Mari kita bersama-sama  mengabdikan diri untuk iman dengan bimbingan cahaya al Quran.” Lewat jawabannya ini Ustaz meyakinkan Husrev abi sehingga ia pun tidak masuk ke masalah-masalah ikhtilaf. Beliau pun dipindahtugaskan dari Barla ke Isparta –sebagai juru tulis ‘Pabrik Mawar’– lewat pena berliannya, ia beralih pada penulisan Risalah Nur.

Diterjemahkan dari buku Seputar Panduan Berkhidmah, oleh Bediuzzaman Said Nursi.

Pemilihan artikel dan penjelasan oleh Abdullah Aymaz.

Aymaz, Abdullah, 2010, Hizmet Rehberi Uzerine, Istanbul: Sahdamar Yayinlari, hlm. 82-83