mengembangkandiri.com_great-wall-2021-08-26-13-40-08-utc

Perbaikan Benteng Kemanusiaan

Badiuzzaman mengatakan bahwasanya hizmet tak sekedar melakukan perbaikan kecil dan parsial. Sebaliknya, hizmet melakukan perbaikan pada benteng yang melingkupi Islam dimana benteng ini mengalami pengeroposan. Pada prinsipnya, ia disebut memperbaiki kemanusiaan.

Apa benteng ini bisa disebut benteng kemanusiaan?

Ya, pada prinsipnya ia adalah benteng kemanusiaan.

Kini, sistem yang dirindukan umat manusia sedang tidur lelap ketika penindasan terjadi di muka bumi. Sistem ramah manusia yang dilukis para utopis, dimana dunia berdasar pada hukum dan melindungi hak manusia. Pada sistem ini, kemanusiaan memiliki posisi mulia. Demikian juga para wanita.

Dunia di mana orang-orang akan bergumam: “Di sinilah saya akan meraih ketenteraman…”

Itulah dunia yang diimpikan.

Maka masalah kemanusiaan pada hari ini adalah tidak adanya dunia yang seperti itu. Bumi kini alpa akan kehadirannya. Karena ia alpa, manusia pun saling menyembelih sesamanya.

Mereka menyusun rencana untuk menghabisi sesamanya: “Ditebas dibagian mana bagusnya?

Apa kita babat tenggorokannya, atau lengannya, atau kakinya, atau kita cungkil matanya…?

Atau kita hujani telinganya dengan peluru..” dan rencana setan lain semacamnya.

Atau pemikiran seperti:”Bagaimana kalau kita gantung?

50.000 orang itu kita hukum gantung?”

Bukankah dulu saat 15.000 orang digantung, masyarakat berhasil diselimuti rasa takut? Jika kini 50 ribu orang digantung, masyarakat akan tunduk pada Firaun, Amenophis, dan Ramses abad ini! Apabila demikian, rencana-rencana setan itu akan selalu bergaung di masa ini.

Kini sebagian sisinya menatap wajah dunia Islam -disini saya menyebut dunia Islam secara umum-. Teleskopnya sedang diarahkan ke wajah dunia Islam. Mereka menyaksikannya, membaca, dan memahaminya.

Saat mereka beropini, pasti mereka berkata: “Mengapa dunia Islam akan memikirkannya?”

Dari sini, pada prinsipnya masalah dunia Islam adalah masalah seputar iman. Karena itu Sang Juru Bicara abad ini, Badiuzzaman Said Nursi mengerahkan semua dayanya untuk meletakkan hakikat iman dalam diri manusia. Beliau senantiasa melakukan fortifikasi pada isu ini. Beliau mengulang penjelasan isu yang sama dengan puluhan cara berbeda. Teknik ini disebut al Quran sebagai tasrif yaitu menjelaskan hal yang sama dengan versi berbeda. Ia menjelaskan iman kepada Allah dengan uslub tertentu. Di tempat lain, dijelaskan dengan jalan lain. Sebab manusia memiliki latar belakang bakat, kemampuan, pendidikan, profesi, watak & kecondongan yang berbeda-beda. Manusia memahami sesuatu dengan jalan berbeda-beda. Ada yang memahami Hijaz, ada yang memahami Usyak. Sisanya paham Saba, Huzzam, atau Segah (nama-nama tadi adalah nama ragam nada pada azan). Itulah pentingnya tasrif: menjelaskan sebuah persoalan dengan berbagai versi. Sebagaimana Azan dikumandangkan dengan nada berbeda, sesuai waktunya.

Dengan demikian semua orang bisa memahami lalu mengucap kalimat iman. “Aku beriman kepada Allah, malaikat, para nabi, kitab-kitabNya, akhirat, serta beriman bahwasanya takdir baik dan takdir buruk itu asalnya dari Allah. Aku mengimani kebangkitan setelah kematian adalah benar, Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan RasulNya…”

Inilah rukun iman.

Namun, Ustaz fokus pada empat pilar iman dimana semua agama samawi sepakat: tauhid, kenabian, kebangkitan, dan keadilan.

Imam Ghazali menyebut ada 3 pilar iman, dengan menggabungkan dua pilarnya jadi satu. Beliau juga menyusun banyak penjelasan untuk menerangkan urgensinya. Kehilangan terbesar bagi kemanusiaan adalah hilangnya iman: Manusia tidak mengimani Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebagaimana mestinya; Manusia tidak mengimani para Nabi sebagaimana mestinya; Manusia tak memiliki mahabbatullah dengan kadar melebihi cintanya pada hal yang dicintainya.

Seperti Sayyidina Umar radhiyallahu anhu yang merevisi ungkapan cintanya pada Nabi: “Aku mencintaimu Ya Rasulullah, lebih dari cintaku pada diriku sendiri”.

PR utamanya adalah bagaimana kita bisa mengungkapkan perasaan ini dengan lebih tulus lagi! Disinilah Bediuzaman memfokuskan usahanya, yaitu fokus pada masalah iman. Jika benteng iman diperbaiki, maka benteng kemanusiaan akan pulih kembali. Apa yang diperintahkan oleh Islam…?

Ketika ditanya apa itu Akhlak Agung Islamiyah?

Mari mengecek referensi kitab-kitab akhlak Islam. Maka Anda akan menyaksikan bagaimana manusia ini hidup layaknya malaikat.

Orang akan pangling melihat imam masjid dan berujar: “Apakah dia ini Jibril, Mikail, atau Israfil?” Masyarakatnya akan terenovasi ke level tersebut saat kata “bohong” terucap, mereka akan bingung memahaminya. Sebab kata itu terhapus dalam perbendaharaan kata dii kamusnya. Kebohongan akan ditelan oleh air terjun kebohongan, ia tak akan pernah kembali. Kata “fitnah”, pun akan terhapus. Sehingga mereka akan bingung memahaminya saat ia terucap. Demikian juga dengan istilah “pembunuhan karakter”, semua akhlak tercela ini, yang Imam Ghazali sebut sebagai “Muhlikat”, akan terhapus dari memori umat manusia.

Orang-orang untuk mengingat makna dari istilah itu akan saling bertanya. Apa itu “marah”, apa itu “benci”, apa itu “dendam”, apa itu “dengki”, apa itu “terlaknat”. Khususnya rasa dengki yang mewabah di zaman ini: “Kamu berhasil sukses, sedangkan aku gagal. Karena itu saya harus menghabisimu”. Akhlak terlaknat itu sayangnya sedang mewabah di masa ini.

Menghadapi dunia seperti ini, Anda membangun dinding blokade dengan pondasi iman. Jika keseimbangannya Anda susun sesuai standar Islam, jika Anda bangun ia dengan kokoh dan tak mudah roboh. Sebagaimana Badiuzzaman mengerahkan semua usahanya untuk fokus pada masalah itu. Ya, Anda akan menyelesaikan pembangunan dunia yang tak mampu dibangun oleh kaum utopis. Singkatnya, Orang-orang cerdik cendekia akan terkejut melihat keberhasilan Anda. Anda membangun “Negara Matahari” yang diimpikan Campanella, negara yang hanya ada dalam khayalan. Anda akan membangun masa jaya Usmani. Mungkin bukan di masa jaya, tapi tepatnya di masa saat matahari Usmani akan tenggelam. Masa ketika matahari tergelincir akan terbenam, udara mulai sejuk, yaitu setelah waktu ashar. Masa itu dapat kita sangsikan, karena kemantapannya perlahan mulai pudar, mulai luntur. Pada masa senjanya Usmani saja sang cendekia berujar: “Sia-sia saya menulis Negara Matahari. Ternyata ia ada dan nyata di sini!” Bayangkanlah! Anda seakan merangkum Kitab Şecere-i Numâniye tulisan Muhyiddin Ibn Arabi yang membahas Usmani.

Saat Anda membangun pondasi dunia yang didambakan tersebut, Anda akan jadi sumber harapan bagi umat manusia. Anda akan jadi representasi dari nilai kemanusiaan, umat manusia akan banyak belajar dari Anda. Misalnya, bagaimana menghargai orang lain serta bagaimana menegakkan hukum dan keadilan. Dengannya, mereka akan membangun dunia yang sanggup menghembuskan angin ketenteraman. Dari sini, Anda tidak hanya membangun kebaikan yang eksklusif untuk dunia Anda sendiri. Di waktu yang sama, ia akan bermanfaat bagi seluruh penjuru dunia. Demikian strategisnya prasasti yang Anda bangun, ia akan terlihat dari segala penjuru.

Dilihat dari manapun, Prasasti tersebut akan jadi dambaan semua orang:”Menakjubkan sekali!” Sebenarnya umat manusia di masa ini kehilangan pondasi itu. Umat manusia membutuhkan pembentukan (taassus) pondasi itu. Saya gunakan kata taassus karena ia berasal dari istilah takalluf (pelaksanaan kewajiban), dimana dibutuhkan banyak usaha keras dan melewati berbagai kesulitan untuk bisa meraihnya.

mengembangkandiri.com-Cahaya-Iman-768x1122

Cahaya Iman dari Bilik Tahanan

mengembangkandiri.com-al-Maktubat-1-768x1203

Al Maktubat

mengembangkandiri.com-al-Lamaat-1

Al-LAMA’AT

ilustrasi-potret-said-nursi-_mengembangkan_diri

Teladan Kehidupan: Sang Badiuzzaman

Kaitannya dengan pengabdian agama, Bediuzzaman adalah salah satu tokoh utama yang patut dijadikan sebagai teladan umat. Beliau berpendirian bahwa mengabdi kepada agama Allah harus menjadi tujuan utama setiap manusia. Beliau tetap bersiteguh dengan keyakinan ini dan tidak pernah menyimpang sedikit pun.

Satu contoh ringan misalnya, tatkala berada di pengadilan Eskişehir, seorang hakim bertanya kepada semua hadirin tentang pekerjaan, dan saat giliran beliau tiba,

Beliau lantas berdiri dan dengan lantang berkata, “Pekerjaanku adalah mengabdi kepada agama Allah.”

Bediuzzaman adalah sosok terhormat yang dengan tulus mengorbankan kehormatan, kebanggaan, jiwa, raga, dan kehidupannya untuk mengabdi kepada Alquran. Meskipun beliau telah menerima segala bentuk pelecehan dan penyiksaan, beliau tidak pernah mengambil langkah mundur dalam menjalankan tugas suci ini.

Bediuzzaman meninggalkan segala kenikmatan duniawi demi berkhidmat di jalan agama, menjauhkan diri dari mengumpulkan harta sebab beliau hidup dalam lingkaran rasa syukur, rasa takut kepada Tuhan, dan juga kesalehan. Beliau menghabiskan setiap menit cahaya kehidupannya dalam cengkeraman masalah dan rintangan lantaran mengamalkan Alquran. Hatinya akan terbakar disebabkan melihat kehancuran umat di tangan kekufuran dan ketidakpedulian.

Beliau selalu terlibat dalam setiap kegiatan yang tujuan utamanya berkutat pada: “mengabdi kepada agama”, menyelamatkan umat Muhammad SAW dan memenuhi kalbu masyarakat dengan rasa syukur.

Di saat begitu banyak orang yang berusaha memenuhi kepentingan pribadinya dan mencari kedudukan dunia yang tinggi, beliau justru mendedikasikan jiwanya untuk menyelamatkan umat dan menganggap hal ini sebagai misi terbesar di jagat raya. Karena sebab mulia inilah, beliau berhasil mempublikasikan buku, meskipun ditulis saat berada dalam kondisi tersulit dalam kehidupan beliau. Melalui Risalah Nur, beliau secara ilmiah mengawali penentangan terhadap materialisme, suatu paham yang menjadi musuh agama Islam. Beliau mampu menyesuaikan gagasan persatuan, kebangkitan umat, risalah kenabian, keadilan, takdir, dan analisis agama yang notabenenya berada dalam ujung kehancuran.

Bediuzzaman adalah seseorang yang tekun dalam memberikan aksi nyata, beliau begitu menderita melihat problematika yang dihadapi dunia Islam dan kemanusiaan. Beliau adalah seorang pahlawan pengabdian yang mengorbankan dirinya kepada nilai-nilai yang selama ini beliau percaya. Beliau tidak pernah gentar untuk menyatakan dengan lantang bahwa keyakinan yang dianutnya adalah suatu kebenaran. Beliau adalah seseorang yang sudah pernah diracun berulang kali, hampir dieksekusi mati, pernah dihadapkan pada segala bentuk pelecehan dalam suramnya penjara, serta dikirim menuju pengadilan militer dalam kondisi sangat dingin meskipun sudah berusia tua renta, tetapi beliau tidak pernah sedikitpun lengah atau meringankan apapun dari keyakinannya itu.

Rasa sakit dan penderitaan, dua saksi bisu yang senantiasa menjadi teman bagi siapa saja yang mengabdi kepada agama.

Beliau pernah berkata, “Dalam 80 tahun hidupku, diriku tidak ingat pernah merasakan nikmatnya dunia. Hidupku habis dalam medan perang, penjara bawah tanah, pengadilan, dan bui. Di pengadilan militer, diriku diperlakukan layaknya seorang pembunuh bengis dan dikirim ke pengasingan layaknya seorang gelandangan.”

Uraian kalimat ini sangat sempurna menggambarkan kehidupannya yang penuh dengan ujian.

Seringkali beliau menggambarkan ujian tanpa henti yang mencabik jiwanya dengan ungkapan, “Ada kalanya diri ini sudah lelah dengan kehidupan. Jika agamaku memperbolehkan diriku untuk bunuh diri, Said pasti sudah tiada sekarang.”

Dengan ungkapan ini, Bediuzzaman membuktikan bahwa dirinya selalu melindungi kehormatannya dengan bersabar dan bertahan menghadapi segala bentuk penyiksaan. Beliau seperti sudah mengemas kehidupan duniawi beliau kedalam sebuah keranjang rotan yang selalu beliau bawa dengan tangan.  Bagi beliau seperti itulah nilai dari seluruh kehidupan dunia.

Selama 28 tahun kehidupannya di penjara dan pengasingan, beliau senantiasa mengajarkan kepada muridnya arti penting menjaga dan menegakkan hukum. Beliau tidak pernah tunduk kepada peraturan pemerintah yang menindas. Kendati demikian, beliau tidak melawannya dengan kekerasan. Sebaliknya, beliau menggunakan pena untuk mengkritik dan melawan mereka. Kecerdasan dan bersikeras dalam sikap positif itulah yang telah menempatkan beliau di kedudukan yang istimewa dalam sejarah.

Dalam ceramahnya, beliau senantiasa menekankan pentingnya keikhlasan, ukhuwah, keimanan, dan pengabdian kepada Alquran. Di samping itu, beliau juga memperingatkan muridnya akan bahaya kesombongan dan egoisme.

Suatu ketika Zübeyr Gündüzalp mengadu kepada beliau, “Guru, diriku sungguh takut akan kesombongan.”

Mendengar hal itu, beliau menimpali, “Takutlah akan hal itu.”

Berkaitan dengan hal tersebut, beliau menasihati muridnya,

“Saudaraku, tugas kita adalah mengabdi kepada Alquran dan agama dengan penuh keikhlasan. Namun, kesuksesan kita, penerimaan masyarakat, dan kemenangan atas penindasan adalah tugas-Tuhan. Kita tidak boleh ikut campur dalam urusan ini. Bahkan ketika kita kalah pun, kita tidak akan kehilangan semangat dalam menyembah-Nya. Dalam hal ini, kita hanya perlu bertawakal. Seseorang pernah berkata kepada Jalaladdin Kharzamshah, komandan hebat Islam, “Anda akan memenangkan pertempuran melawan Genghis.” Beliau menjawab, “Tugasku adalah berjuang di jalan Allah. Kemenangan hanyalah milik-Nya. Diriku hanya akan melakukan tugasku dan tidak mencampuri urusan-Nya.”

Bediuzzaman seakan-akan sudah ditakdirkan untuk menghadapi segala bentuk cobaan dan kesulitan untuk menegakkan Alquran, keikhlasan, dan ukhuwah. Karakter beliau memberikan kekuatan yang luar biasa besar baginya untuk terus bersabar. Beberapa kejadian yang mereka tujukan kepada beliau sudah melampaui batas.

Beliau berulang kali dipanggil untuk datang ke kantor polisi dan pengadilan pada tengah malam. Menginterogasi beliau tentang kunjungan murid-murid beliau sudah menjadi penghinaan yang lumrah baginya.

Tidak hanya dirinya, orang yang berhubungan dengannya juga diperlakukan buruk.  Sebagai contoh, setiap orang yang mengunjunginya atau mencium tangannya akan segera ditangkap dan diinterogasi tanpa alasan yang jelas.

Mereka akan ditanyai, “Mengapa kamu menyalaminya?” “Mengapa kamu menatapnya?” Orang tidak berdosa pun akan mendapat perlakuan buruk hanya karena berinteraksi dengan beliau. Menghadapi kondisi demikian, sosok ideal ini justru lebih menunjukan kekokohan sikap sabarannya, atas nama ukhuwah demi menjaga keikhlasan dalam lubuk hatinya.

Permasalahan umat yang beliau beri perhatian ialah sikap mendahulukan kehidupan akhirat di atas dunia dan mengabdi kepada agama tanpa mengharap imbalan apapun. Meninggalkan tugas mengabdi kepada iman atau menunjukan kelesuan dalam menjalankannya adalah sesuatu yang tidak dapat beliau diterima.

amador-loureiro-BVyNlchWqzs-unsplash

Kata-Kata Bediuzzaman (11-23)