mengembangkan diri cahaya-abadi-muhammad-1-768x1178

Menepati Janji – Cahaya Abadi Muhammad SAW

-salawat-

Al Quran memuji orang-orang yang memiliki sifat Sidiq

Quran surat al-ahzab ayat 23 yang artinya di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah maka diantara mereka ada yang gugur dan di antara mereka ada pula yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak mengubah janjinya

Anas bin Malik r.a. menjadi pelayan Rasulullah SAW melalui sebuah peristiwa unik, yaitu ketika ibunya menggendongnya saat ia berusia 10 tahun ke kediaman Rasulullah SAW untuk diserahkan sebagai pelayan kalau itu sang Ibu berseru wahai Rasulullah ini pelayanmu Anas lalu wanita itu meninggalkan Anas begitu saja dan beranjak pulang. Anas bin Malik r.a. berkata ayat ini turun disebabkan Pamanku Anas bin Nadhar dan orang-orang yang seperti dia. Sejak Anas bin Nadhar r.a melihat Rasulullah SAW pada peristiwa Baitul Aqabah, paman Anas bin Malik itu sudah amat mencintai Beliau hanya sayangnya disebabkan adanya beberapa hal, Anas bin Nadhar tidak dapat ikut Perang Badar. Padahal Perang Badar memiliki posisi khusus yang sangat istimewa di kalangan umat Islam. Semua sahabat yang mengikuti perang ini mendapatkan predikat khusus diantara para sahabat yang lain bahkan menurut Jibril Alaihissalam yang menjadi panglima golongan malaikat dalam Perang Badar para malaikat yang ikut dalam Perang Badar juga mendapatkan kedudukan istimewa diantara para malaikat yang lain 

Tentang pamannya Anas bin Malik r.a. menuturkan, pamanku yang namaku berasal dari namanya tidak ikut berperan di Badar bersama Rasulullah SAW sungguh hal itu telah membuatnya gelisah Pamanku berkata pada peperangan pertama yang harus dihadapi rasulullah aku tidak ikut serta. Seandainya saja Allah berkenan menyampaikan aku pada perang yang terjadi nanti bersama Rasulullah pastilah Allah akan melihat Apa yang kulakukan. 

Rupanya Pamanku berkata begitu karena dia tidak sanggup mengatakan yang lebih dari itu, maka kemudian dia ikut berperang bersama Rasulullah dalam Perang Uhud. 

Saat itu dia bertemu, Saad bin Muadz, yang bertanya padanya, “Wahai Abu Amr hendak kemanakah Engkau?”

Ia menjawab, “Semerbak aroma surga, sudah kucium di kaki gunung uhud!”

Maka dia pun maju bertempur sampai akhirnya syahid.

Ketika mengenang kembali Perang Uhud kita pasti tak akan bisa menahan sesak yang mendadak terasa di dada. Sebab, itulah perang, yang dalamnya 70 sahabat Rasulullah gugur sebagai syahid. 

Tampaknya itulah penyebab yang membuat Rasulullah SAW, setiap hari melintas di dekat Uhud selalu berkata, “Uhud adalah gunung yang mencintai kita dan kita pun mencintainya.” 

Maksud ucapan Rasulullah SAW ini adalah agar umat Islam tidak membenci Uhud. Uhud memang sebuah gunung yang sulit didaki, tapi Perang Uhud jauh lebih sulit dihadapi. Pada saat itu sebagian sahabat meninggalkan pos yang telah ditetapkan oleh Rasulullah SAW selama beberapa saat sebagai bentuk perubahan strategi, itulah sebabnya kita tidak dapat menyebut Perang Uhud sebagai sebuah kekalahan. Penghormatan kita terhadap para sahabat dan sudut pandang kita sebagai Muslim lah yang mengharuskan hal itu. 

Dalam pertempuran Uhud, Rasulullah terluka dan giginya patah, bahkan ada dua buah mata rantai topi besi Rasulullah yang menancap di wajah Beliau hingga berdarah. Tapi karena Rasulullah telah diutus sebagai rahmat bagi semesta alam, Beliau pun segera melepas baju besinya, seraya berseru kepada Allah, “Wahai Ya Allah ampunilah kaumku karena mereka tidak mengetahuinya 

Dalam Perang Uhud inilah Anas bin Nadhar bergerak tangkas ke sana kemari untuk memenuhi janji yang pernah diucapkannya kepada Rasulullah beberapa tahun sebelumnya. Dalam tempo singkat sekujur tubuh Paman Anas bin Malik ini telah penuh dengan hujanan tombak dan sabetan pedang sampai akhirnya ia pun gugur sebagai Syahid. Demikianlah sejak awal pertempuran Anas bin Nadhar rupanya telah menyadari bahwa hidupnya akan segera berakhir. 

Tapi ketika Saad bin Muadz bertanya kepadanya tentang pertempuran dengan enteng Anas menjawab sembari tersenyum semerbak aroma surga di kaki gunung uhud 

Dalam peperangan uhud, banyak Syuhada yang sulit dikenali wajahnya, Hamzah r.a. Mushab Bin Umair r.a. Abdullah bin Jahs r.a. Anas bin Nadhar.a. Bahkan Anas bin Nadhar hanya dapat dikenali oleh saudara perempuannya lewat jari tangannya sebab tampaknya hanya bagian itulah yang tidak rusak oleh senjata musuh. Mari kita lanjutkan penuturan dari Anas bin Malik, “Dia ada seminar bertempur sampai gugur pada saat itu di sekujur tubuhnya terdapat lebih dari 80 luka sabetan pedang dan tikaman tombak serta anak panah, Bibiku yang bernama Rumbai binti Nadhar berkata, “Aku tidak dapat mengenali saudaraku kecuali hanya lewat jari tangannya!”” 

Pada saat itulah turun ayat yang berbunyi, “Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah maka diantara mereka ada yang gugur dan di antara mereka ada pula yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak mengubah janjinya.” alahzab ayat 23 

Para sahabat menyakini bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Anas bin Nadhar dan para syuhada uhud lainnya, benar, ayat ini memang menjelaskan kepahlawanan orang-orang seperti Anas bin Nadhar. ada orang yang menepati janji yang telah diikrarkan pada dirinya, bahwa, ia akan bertempur sampai titik darah penghabisan. Akhirnya ia memang terbunuh, sebab rupanya bahkan maut pun tak mampu menghalanginya untuk menepati janji, ya, dia telah menepati janjinya kepada Allah, ketika sebuah ayat memuji para syuhada seperti mereka. Maka maksud sebenarnya dari ayat itu adalah untuk menunjukkan bahwa para syuhada itu adalah teladan bagi setiap orang yang bersaksi, bahwa tiada Tuhan selain Allah, lailahailallah. 

Agar mereka tidak mudah menyia-nyiakan agama, menyurutkan keimanan, atau merendahkan syariat Allah. Sungguh Anas bin Nadhar telah menepati janjinya sebagaimana beberapa sahabat lainnya juga telah menepati janjinya dan semua itu mereka lakukan karena mereka telah dididik 

 Jadi sebagaimana halnya sosok yang mereka cintai adalah seorang sadiq yang terpercaya maka para sahabat dan murid-murid beliau pun menjadi orang-orang yang sodiq dan terpercaya inspirasi cahaya abadi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam kebanggaan umat manusia 

mengembangkan diri cahaya-abadi-muhammad-1-768x1178

Rahasia Kekuatan – Cahaya Abadi Muhammad SAW

-Salawat-

Menghadapkan diri, hanya kepada Allah ketika menjalankan tugas mereka para nabi dan rasul tak pernah menunggu upah atau imbalan tertentu baik berupa materi maupun non-materi. Salah satu semboyan mereka yang diabadikan oleh Alquran dalam beberapa ayatnya adalah ungkapan yang pernah dilontarkan oleh beberapa rasul yang berbunyi “Upahku tidak lain hanyalah dari Allah saja.” Q.S. Yunus ayat 72 Hud ayat 29. 

Sementara kita, kalau pun tak mengharap imbalan materi atas sebuah amal maka kita sering mengharapkan imbalan nonmateri dalam bentuk pahala hal seperti itu sama sekali tidak pernah ada pada diri para rasul mereka sama sekali tidak pernah mengharapkan imbalan dari siapapun karena apa yang mereka lakukan sepenuhnya merupakan perintah Allah. Kalaupun kita ingin membayangkan sesuatu yang mustahil seperti misalnya andai saja para nabi dan rasul tahu     bahwa mereka akan masuk ke dalam neraka, maka hal itu pastilah tidak akan membuat mereka ragu untuk menunaikan tugas mereka dan tidak akan membuat mereka lari dari tujuannya meski hanya sesaat. Para nabi dan rasul adalah orang-orang yang selalu siap siaga, mereka selalu mengorbankan seluruh jiwa raga mereka di jalan dakwah yang mereka tempuh. Jadi harapan masuk Surga atau takut akan Neraka bukanlah faktor yang menggerakkan mereka untuk berusaha melaksanakan tugas berat yang mereka pikul alih-alih berharap pamrih. Keridhaan Allah dan perkenan-Nya merupakan puncak dari segala yang mereka harapkan begitulah semua amal yang dilakukan para nabi memang ikhlas dilakukan hanya karena Allah terlebih pada diri Rasulullah SAW prinsip seperti ini telah mencapai puncaknya ketika masih di dunia.

 Rasulullah berkata: “Umatku.”

Dan kelak di padang mahsyar hari kiamat beliau kembali berkata: “Umatku… umatku..”

Jadi silakan Anda bayangkan betapa Tingginya tingkat keikhlasan Rasulullah. Ketika pintu Surga telah terbuka lebar merindukan beliau masuk ke dalamnya, ternyata beliau justru terus saja masgul dengan nasib umat Islam. Demi kitalah kelak Rasulullah rela berlama-lama di padang mahsyar, daripada berleha-leha di dalam Surga. Dan hebatnya Rasulullah tidak melakukan semua itu hanya untuk para kerabat Beliau saja, melainkan juga terhadap seluruh umat beliau termasuk para pendosa di antara mereka.

Demikianlah jendela-jendela jiwa para nabi dan rasul memang hanya terbuka bagi satu tujuan yang sama yaitu keridhaan Allah. Sedangkan terhadap segala yang lain itu jiwa mereka selalu tertutup rapat. Oleh sebab itu, bagi siapapun yang saat ini melakukan dakwah dan tabligh seperti yang dulu dilakukan para Rasul hendaklah mereka selalu berhati-hati dan peka terhadap masalah ini. Sebab, ia merupakan sebuah perkara yang sangat penting dan sensitif. Ingat, besar atau kecilnya efek dari ucapan yang dilontarkan seseorang tidak bergantung pada kefasihan dan kecanggihan struktur bahasanya melainkan berhubungan langsung dengan keikhlasan orang yang mengucapkannya. Al Quran menyinggung hal ini dalam ayat 

Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk Quran Surat Yasin ayat 21 

Benar, ikutilah para nabi yang bertahta di ketinggian langit penyerahan diri dan hidayah Allah, karena mereka tidak pernah meminta imbalan duniawi dari kalian. Pertimbangkanlah masak-masak sebelum anda mengikuti jejak seseorang, sosok yang anda ikuti haruslah orang yang selalu berserah diri kepada Allah. Hari-harinya hanya diisi dengan amal baik di jalan Allah, tidak silau pada gemerlap dunia dan selalu mencurahkan segenap energinya demi kejayaan generasi mendatang. Sosok yang Anda jadikan panutan tidak boleh memiliki sifat hubbud dunya, cinta dunia, dan hatinya harus dilingkupi sikap berserah kepada Allah. 

Oleh sebab itu, telitilah para pemimpin Anda siapa diantara yang memiliki sifat seperti itu, sebelum Anda memilih seorang panutan. Rasulullah adalah pribadi yang selalu Berserah diri kepada Allah, perut beliau tidak pernah kenyang walau hanya dengan roti gandum kasar sekalipun. Seringkali hari, pekan, bahkan bulan berlalu tanpa ada asap yang mengepul dari dapurnya, dari dapur Rasulullah SAW. 

Abu Hurairah r.a. meriwayatkan 

“Suatu ketika aku menemui Rasulullah yang sedang salat sambil duduk. 

Aku berkata, “Wahai Rasulullah kulihat kau salat sambil duduk, ada apa denganmu?” 

Rasulullah menjawab, “Aku kelaparan.”

 Aku pun menangis mendengar itu. 

Tetapi, Rasulullah menukas, “Jangan kau menangis karena kerasnya hisab di hari kiamat tidak akan menyentuh orang yang kelaparan. Jika dia bersabar di dunia dan apa yang menimpanya itu.”

Ummul mukminin Aisyah r.a. meriwayatkan, “Suatu ketika seorang wanita Anshar menemuiku dan melihat alas tidur Rasulullah berupa kain kasar. Beberapa saat kemudian wanita itu mengirimkan alas tidur berlapis wol. Rasulullah lalu datang dan bertanya apa ini wahai Aisyah? 

Aku menjawab wahai Rasulullah tadi ada seorang wanita Anshor yang datang ke sini lalu melihat alas tidurmu. Setelah dia pulang dia mengirimkan ini ke sini. Rasulullah pun menukas, “Kembalikanlah alas tidur ini.” Tapi aku tidak mengembalikan alas tidur itu dan ternyata Hal itu membuat Rasulullah terkejut, sehingga Beliau kembali memerintahkan agar aku mengembalikan alas tidur itu. Beliau mengulang itu sampai tiga kali. Rasulullah SAW berkata, “Kembalikanlah alas tidur itu wahai Aisyah demi Allah Andai saja aku mau Allah pasti bersedia memberiku gunung emas dan perak.”

Benar seandainya Rasulullah SAW mau beliau sebenarnya dapat menjalani hidup yang menyenangkan dan sejahtera. Tapi beliau tidak menginginkan itu.

Abu Hurairah meriwayatkan, “Suatu ketika Jibril duduk bersama Rasulullah SAW, sesaat kemudian tampak malaikat dari langit. Jibril berkata malaikat itu tidak pernah turun sejak diciptakan kecuali hanya saat ini. Sesampainya malaikat itu di hadapan Rasulullah ia berkata, “Wahai Muhammad Tuhanmu telah mengirimkan ku padamu untuk bertanya, apakah kau ingin menjadi seorang raja yang sekaligus nabi? ataukah seorang hamba yang sekaligus Rasul? Jibril menukas, “Bertawadhu lah pada rabbmu wahai Muhammad.” Rasulullah menjawab, “Aku ingin menjadi hamba yang sekaligus Rasul.” 

Hingga akhir hayatnya tidak pernah sedikitpun Rasulullah SAW makan sampai kenyang.

Abu Umamah meriwayatkan, “Suatu ketika ada seorang wanita yang ucapannya busuk dan gemar mencaci kaum laki-laki. Wanita itu lewat di dekat Rasulullah yang sedang menyantap bubur di atas roti kering. Wanita itu berkata, “Lihatlah orang itu! Dia duduk seperti duduknya seorang hamba atau budak, dan makan seperti makannya seorang hamba. Rasulullah menyahut, “Apakah ada hamba yang lebih hamba dibandingkan aku?”

Lembaran kehidupan Rasulullah memang penuh dengan contoh sikap berserah diri kepada Allah. Siapapun yang ingin mempelajari contoh teladan itu dapat menemukan penjelasan di ratusan kitab yang ada ya semua nabi dengan Rasulullah menjadi yang terdepan memang hidup dalam penyerahan diri kepada Allah mereka sama sekali tidak pernah mengharapkan balasan dunia dan akhirat atas semua yang mereka lakukan. Inilah sebenarnya rahasia, dibalik kekuatan yang mereka miliki dalam mempengaruhi dan meyakinkan umat. Siapapun yang ingin ucapannya memiliki daya ubah, serta dapat menjadi obat penawar kehidupan. Hendaklah ia mengenyampingkan harapan akan imbalan atau upah dari apa yang dilakukannya.

Diambil dari Cahaya Abadi Muhammad SAW kebanggaan umat manusia