zdenek-machacek-jbe0iCwo-U0-unsplash

Dua Prinsip Penting Dalam Dakwah: Sidik dan amanah

Dua Prinsip Penting Dalam Dakwah: Sidik dan amanah[1]

 Tanya: Dapatkah Anda menjelaskan maksud dari pernyataan berikut “Setiap yang kamu katakan haruslah kebenaran, tetapi kamu tidak mempunyai hak untuk mengatakan semua kebenaran”[2]

Jawab: Pernyataan ini ketika pertama-tama tumbuh di jiwa manusia dan berkembang di dalam masyarakat, ia telah mengguncang sebab-sebab kedustaan dari pondasinya.

      Dusta dengan penjelasan paling sederhananya adalah mengklaim suatu hal yang sebaliknya. Al Quran menyebut setiap sikap dan laku mereka yang mengingkari Allah sebagai dusta disebabkan mereka mengingkari hakikat besar di alam semesta ini.

۞ فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ كَذَبَ عَلَى اللَّهِ وَكَذَّبَ بِالصِّدْقِ إِذْ جَاءَهُ ۚ أَلَيْسَ فِي جَهَنَّمَ مَثْوًى لِلْكَافِرِينَ

Artinya: Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah dan mendustakan kebenaran ketika datang kepadanya? Bukankah di neraka Jahannam tersedia tempat tinggal bagi orang-orang yang kafir? (Az Zumar 39:32)

      Ayat tersebut dengan gamblang menjelaskan betapa perbuatan mendustakan Allah dan mendustakan kebenaran merupakan sebuah dosa yang amat menakutkan, saya tidak tahu apakah masih diperlukan untuk mengemukakan penjelasan lainnya.

        Kedua; dusta adalah sebuah karakter buruk yang dapat melenyapkan perasaan aman dan loyalitas yang terdapat pada seorang manusia. Seorang manusia yang beberapa kali berdusta lama kelamaan seperti meletakkan bayangan di hadapan segala kebenaran yang terpancar dari dirinya. Demikian pentingnya kebenaran, ketika prinsip-prinsip kenabian lainnya seperti tablig, fatanah, seimbang dan tidak jatuh kepada ifrat dan tafrit, serta kompetensi untuk senantiasa berada di atas siratal mustakim tumbuh di bawah spektrum bimbingan wahyu; karakter sidik dan amanah telah mulai tumbuh sejak Nabi masih belia dan berlanjut di sepanjang umur kehidupannya. Andaikata seorang Nabi di masa belianya sebelum diangkat menjadi nabi pernah berdusta ataupun diketahui tidak amanah, maka saat diangkat menjadi nabi orang-orang di sekitarnya akan berkata:” Kamu memang sebelumnya sudah sering berdusta. Kini dari mana kami tahu jikalau pesan-pesanmu tersebut bukanlah kedustaan lainnya?”

        Sidik adalah sifat para nabi yang paling utama, sedangkan dusta adalah sifat yang paling jauh dari kenabian. Al Quran pada surat al Anbiya ayat 58-68 menjelaskan peristiwa bagaimana Nabi Ibrahim as menghancurkan patung-patung yang disembah oleh kaumnya dimana beliau kemudian meletakkan kapaknya di leher patung yang terbesar dan setelah memberi isyarat bahwa patung besar itulah yang melakukannya, beliau berkata:

بَلْ فَعَلَهُ كَبِيرُهُمْ هَٰذَا

Artinya: Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya,

           Barangkali pernyataan metafora tersebut dengan sedikit sentuhan kecermatan adalah pernyataan yang benar. Akan tetapi, karena uslub yang demikian kurang cocok dengan tingginya derajat kenabian maka kepada mereka yang di hari akhir nanti meminta syafaat kepadanya, beliau akan berkata:” Seorang manusia yang pernah berbuat kekeliruan seperti itu tidak bisa memberi syafaat kepada kalian”. Pernyataan beliau tersebut juga memberi penekanan yang teramat penting betapa menyeramkannya dusta.

     Potret Kebanggaan Umat Manusia SAW telah masyhur dengan sifat jujur dan amanahnya jauh sebelum beliau diangkat menjadi nabi. Di antara banyak peristiwa barangkali kisah ini dapat dianggap sebagai dokumentasi penting yang menjelaskan karakteristik istimewa beliau tersebut: Suatu hari Kabah mengalami perbaikan. Ketika tiba waktu untuk meletakkan hajar aswad di tempatnya semula, muncullah ketegangan di antara kabilah. Hampir-hampir semua perwakilan kabilah mengeluarkan pedangnya dan menyatakan bahwa kabilahnyalah yang paling layak untuk mengerjakan tugas itu. Kemudian mereka membuat keputusan: Orang pertama yang memasuki Kabah akan mereka pilih sebagai hakim dimana keputusannya akan diterima oleh semua kabilah. Semua orang pun menunggu dengan penuh rasa penasaran hingga akhirnya orang yang pertama masuk adalah Nabi Muhammad. Sedangkan beliau saat itu tidak mengetahui apa yang sedang terjadi. Ketika kawan maupun lawan menyaksikan sosok yang memberikan rasa aman ini masuk maka berserulah mereka:”Yang datang adalah al Amin!”. Semua anggota kabilah sepakat untuk menerima apapun keputusan beliau tanpa syarat atau kondisi apapun. [3]

         Terdapat satu lagi peristiwa yang mendokumentasikan keterpercayaan beliau bahkan di kalangan lawan-lawannya: Sang Nabi beberapa saat setelah turunnya kenabian mengumpulkan orang-orang. Sambil menatap Jabal Abu Qubais, beliau bersabda “Apakah kalian percaya jika kukatakan bahwa di balik bukit itu terdapat pasukan musuh yang sedang datang untuk menyerang?” Kaum musyrik demi mendengar pertanyaan ini menjawab:”Ya, kami percaya!” Menimpali jawaban tersebut, Baginda Nabi kembali bersabda:”Ketahuilah bahwa aku adalah seorang Nabi yang diutus oleh Allah SWT.” Beliau menyelesaikan kata-katanya tetapi sebagian besar dari yang berkumpul tetap hidup dalam keadaan menentang kenabiannya.

        Pada hari ini, sosok yang dianggap sebagai hulubalang dakwah nabawiyah haruslah memberi perhatian besar kepada sifat sidik dan amanah sebagaimana Sang Nabi mempraktikkannya. Setiap kata yang disampaikan haruslah kata-kata yang benar. Di masa di mana dusta makin digemari dan banyak orang dengan santainya berdusta, maka kebenaran semakin mendapatkan nilai. Untuk itu, setiap murid Al Quran tidak boleh merendahkan dirinya di hadapan dusta bahkan yang terkecil sekalipun; murid Al Quran harus menyampaikan kebenaran atau jika tidak bisa maka ia lebih baik tidak berbicara.

       Ketiga, dalam beberapa keadaan, seorang manusia, bangsa, ataupun negara bisa saja berhadapan dengan kondisi dimana mereka diharuskan berbohong demi menjaga keselamatan dirinya. Dalam keadaan demikian sekalipun hendaknya kita memberi perhatian lebih spesifik lagi dan sama sekali tidak boleh menggunakan dusta sebagai jalan keluarnya. Ya, representasi dari rasa aman serta saksi kebenaran setiap saat harus berpikir dengan benar, berbicara dengan benar, dan bergerak dengan benar.

         Ya, setiap orang memang harus menyampaikan kebenaran, tetapi “Setiap kebenaran tidak harus disampaikan di setiap tempat.” Misalnya, seseorang yang memberikan informasi kepada musuh tentang posisi barak militer pertahan pasukannya sama artinya dengan memberi bara api kepada musuh dan membiarkannya menyerang pertahanan bangsanya. Untuk itu, dalam keadaan demikian hendaknya mencukupkan diri dengan kebenaran yang tidak memberikan implikasi bahaya. Tidak perlu baginya membocorkan kebenaran-kebenaran yang dapat membahayakan kelanggengan pos pertahanannya.

       Kesimpulannya, seorang manusia tidak perlu membuka pintu dusta walaupun itu tujuannya untuk masuk surga. Sambil menggenggam pernyataan “Setiap yang kamu katakan haruslah kebenaran, tetapi kamu tidak mempunyai hak untuk mengatakan semua kebenaran” sebagai prinsip, maka kita harus mengatakan kebenaran di setiap waktu.

[1] Diterjemahkan dari artikel yang berjudul: Tebligde iki Onemli Esas: Sidk ve Emanet, dari buku Prizma 4

[2] Bediuzzaman Said Nursi, Maktubat, Surat ke-22, Pembahasan Pertama

[3] Musnad Imam Ahmad, Mustadrak Imam Hakim

afdhalul fadhail 2

APA ITU AFDHALUL FADHAIL?

APA ITU AFDHALUL FADHAIL?

Baginda Rasul al Akram S.A.W bersabda: “Fadhilah yang paling utama ialah menyambung kasih kepada orang yang memotong hubungan dengan anda, berbuat baik kepada orang yang tidak berbuat baik kepada anda, dan santun kepada orang yang mencaci maki anda” (HR Ahmad No. 15065), dan dalam riwayat lainnya: “memaafkan mereka yang berbuat zalim kepada anda”. Berkenankah Anda menjelaskan intisari pesan dan hakikat yang terkandung di dalam hadis ini? Apa yang dimaksud dengan fadhilah?

Fadhilah yang di zaman sekarang ini mereka katakan sebagai keutamaan atau kalau memang maknanya sepadan, anda dapat menyebutnya dengan “keutamaan yang paling utama”. Prinsipnya, di satu sisi pemilik fadhilah adalah sang pahlawannya pahlawan. Maksudnya, pahlawan dengan bakat di atas kemampuan pahlawan biasa, dengan kata lain merekalah yang dimuliakan dengan bakat kemampuan yang melampaui kemampuan orang-orang pada umumnya. Merekalah yang dimuliakan dengan berbagai macam kelebihan oleh Penciptanya (SWT).

Dari sisi pendefinisian ini, maka dapat diketahui bahwa kata “utama” tidak mungkin sepadan dengan kata “fadhilah”. Disabdakan bahwasanya fadhilahnya fadhilah (أَفْضَلُ الْفَضَائِلِ) yang pertama adalah أَنْ تَصِلَ مَنْ قَطَعَكَ (An tashila man qatha ak). Jadi maksudnya, tugas mendasar anda adalah untuk tidak pernah memutuskan hubungan dengan yang memutuskan silaturahminya dengan anda. Sekarang bagaimana kita tidak terpengaruh dengan sikap orang-orang yang memutuskan hubungan dengan kita? Kita harus tetap mempererat tali kasih sayang seerat hubungan orang-orang yang tidak bercerai-berai, sebagaimana di dalam hati nurani kita yang sebenarnya senantiasa terpatri perasaan untuk saling terhubung. Entah itu kerinduan kepada tanah air, sedangkan untuk kerinduan kita kepada ayah dan ibu, kita menyebutnya: “ikatan kepada ayah dan ibu”.

Terkadang dalam satu frame, semua tempat yang pernah kita kunjungi, hampiri, dan tinggali semuanya menjadi satu dalam sebuah keinginan, meliputi pikiran kita. Seringkali kita pun mengerang menahan kerinduan terhadap tempat-tempat itu, oleh karena itulah jangan sampai kita mengizinkan perpisahan dan perpecahan muncul di tengah kita. Prinsipnya adalah jangan sampai kita membiarkan mereka (yang memutuskan hubungan dengan kita) dalam kesendiriannya. Kalau hati mereka cenderung kepada perpisahan, mereka bagai melepaskan diri mereka, seperti dahan yang menggugurkan daunnya, hingga sang daun pun membusuk di tanah. Maka kita pun dengan segala daya yang ada di tangan, kita harus bisa menjadi penghalang terjadinya perpecahan. Jangan sampai memberi kesempatan kepada timbulnya perpecahan, kalau anda bisa melakukannya, maka itulah yang disebut “fadhilahnya fadhilah” untuk anda.

Kesendirian adalah masalah yang amat krusial, ketika anda mengatakan: “afdholul fadhooili an tashila man qatha ak…”, maka sebenarnya kalimat itu menitikberatkan pada masalah bersendiri (krn berpisah). Tetapi masalahnya tidak hanya sampai disitu, poin tadi hanyalah salah satu dari 4 asas fadhilah, akan tetapi jika ada satu orang yang memilikinya, maka itulah sifat mukmin sejati, itulah akhlaknya Al Quran, akhlak Nabawiyah SAW.

Kemudian yang kedua: “wa tu’tiya mammana ‘aka”. Ketika seseorang tidak memberi anda, baik itu berupa penghargaan atau pemuliaan, baik itu berupa pemberian satu sama lain, kalau misalnya ada kebutuhan anda mungkin berupa sedekah kalau ada keperluan yang lain, misalnya berupa zakat, kalau misalnya ketika ada sebuah pekerjaan, mungkin berupa support dukungan. Mungkin dia tidak melakukan hal tersebut, dia mungkin tidak membantu anda dalam kasus ini, dia bisa dikatakan tidak menunaikan tugasnya untuk membantu sesama muslim. Akan tetapi walaupun demikian, anda harus tetap meneruskan bantuan anda kepadanya di dalam kasus itu, demi terwujudnya perasaan memberi kepada sesama, anda harus hadir menghadapi sikapnya yang tidak mau memberi dengan tetap berbagi.

Dia mungkin tidak memperhatikanmu, acuh tak acuh, dia mungkin juga tidak menghargai anda. Meski demikian tetaplah tunjukkan perhatian anda kepadanya dan hargailah ia, pastikan tangan dan hati anda selalu terbuka untuknya. Tetaplah berprasangka baik saat berhadapan dengannya, jangan sembunyikan senyum diwajahmu saat berpapasan dengannya, jangan menyimpan uluran tanganmu untuknya, demikian juga dengan sifat suka memberimu. Inilah poin kedua hadis ini, poin ini pun membahas topik “kesendirian”. Lagi-lagi merupakan hal yang penting, ini pun adalah sifat seorang mukmin, bersamaan dengan itu inilah khuluqul Quran (akhlak Ilahi). Mengapa demikian? Karena Allah Jalla Jalaluhu, walaupun syukur kita sedikit tetapi Dia tetap senantiasa membagikan rizki-Nya, tak pernah meninggalkan kita sehingga tidak mendapat kebagian.

Mengenai hal ini saya memohon izin untuk menyampaikan sebuah riwayat, Sayyidina Hz Ibrahim as ketika ada tamu yang datang, beliau senantiasa menghidangkan jamuan, itulah Hz Ibrahim yang masyhur dengan kedermawanan dan kemuliaan hatinya. Sebagaimana beliau as masyhur dengan ketulusannya, kesetiaannya, dan kehangatannya terhadap sahabat-sahabatnya, beliau pun terkenal dengan kedermawanannya, memberi makanan kepada semua orang, beliau menyuapi masyarakatnya dengan apapun yang dimilikinya.

Dalam riwayat yang lain, disebutkan bahwa malaikat berkata: “Ya Rabbi, kekasihmu ini (Hz Ibrahim) kalau dilihat dari status kedekatannya dengan-Mu, bagaimana bisa mempunyai dunia (materi) begitu banyak?”. Dengan level kedekatannya yang seperti ini, bagaimana bisa beliau as mempertahankan memiliki harta duniawi yang banyak sekaligus juga menjadi khalilullah? Disini Allah SWT mengirimkan malaikatnya, sebenarnya dalam kisah ini kita tidak perlu memfokuskan pada apa yang dikatakan secara zahir oleh para malaikat, kita harus melihat hakikat apa yang sebenarnya terjadi dalam riwayat ini. Malaikat mendatanginya, kemudian para malaikat mengatakan kepada Hz Ibrahim: “Subbuhun Quddusu Rabbuna Wa Rabbil Malaikatu Warruh…”, dan tentu saja Hz Ibrahim as bukanlah sosok yang tidak paham makna dari kalimat ini. Beliau as, menghambakan diri dalam bentuk yang paling cocok dengan bayangan Zat Ilahi. Maka, demikian bersemangatnya di dalam penyucian dan penghambaan kepada Allah, Hz Ibrahim (demi mendengar tasbih yang dibacakan malaikat) mengatakan: “Biarlah 1/3 dari hewan ternakku ini untukmu saja”.

Demikian mulia hatinya, demikian dermawan dirinya. Hz Ibrahim berkata: “Bisakah anda membacakan kalimat tasbih tersebut sekali lagi?”, ini maknanya apa? Demikian besarnya pengaruh kalimat tasbih yang diucapkan dari lisan malaikat kepada hati hz Ibrahim. Kata-kata ini pasti bukan karena Hz Ibrahim tidak mengerti kedalaman maknanya sehingga minta diulangi agar bisa dimengerti, tetapi Beliau as ingin mendengarnya lagi (keluar dari lisan para malaikat). Maka ketika dibacakan kembali untuknya sekali lagi, Hz Ibrahim berkata: “Sisa ternak 1/3nya lagi untuk anda”. Sekali lagi dibacakan  untuknya, Hz Ibrahim berkata: “Semua ternak saya untuk anda saja”, dan  ketika keempat kalinya dibacakan lagi untuknya, Hz Ibrahim berkata: “Biarlah saya menjadi budak anda (karena hartanya sudah habis)”. Demikianlah, kemuliaan dan kedermawanan hati hz Ibrahim as sudah memasuki level yang sangat tinggi.