mengembangkandiri.com (2)

GURU SEJATI DALAM SOROTAN ZAMAN

Bagi mereka yang memperhatikan perkembangan zaman dengan hati dan pikiran, tentu risau melihat banyaknya sosok yang disebut “guru” justru terjerat dalam berbagai masalah sosial hingga amoral. Di masa lalu, kata “guru” begitu sakral, berakar dari bahasa Sanskerta yang memiliki makna mendalam. Kata “guru” berasal dari gabungan dua kata: gu dan ru. Gu berarti kegelapan, kejumudan, dan kelemahan, sedangkan ru bermakna cahaya, penyibak, pengungkap, dan pembebas. Maka, seorang guru adalah sosok yang menyibak kegelapan dengan cahaya ilmu. Sayangnya, kesakralan sosok guru kini terkikis oleh perilaku yang jauh dari moral.

Dalam terminologi Jawa, kata guru dikaitkan dengan istilah digugu lan ditiru — sosok yang dapat dijadikan teladan dalam gerak-gerik, perilaku, dan sopan santun. Namun, dalam dekade terakhir, kata “guru” kerap disandingkan dengan istilah-istilah yang merendahkan. Kini, kita tak lagi asing mendengar istilah seperti “guru cabul,” “guru gabut,” dan “guru tanpa prestasi.” Sementara itu, jarang terdengar lagi istilah “guru berprestasi,” “guru teladan,” atau “guru inspiratif.” Media sosial dan massa lebih gemar membahas perilaku negatif para guru daripada menyoroti guru-guru inspiratif. Apakah benar bahwa guru sejati kini telah menjadi langka sehingga sulit menjadi tajuk utama media?

Memahami Makna Guru

Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan guru sebagai seseorang yang profesinya mendidik atau mengajar. Dalam pengertian undang-undang, guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. Dengan demikian, guru adalah orang yang berprofesi sebagai pendidik, yang bertugas mendidik, mengarahkan, mengajar, dan membimbing peserta didik.

Dalam bahasa Arab, kata “guru” memiliki beberapa padanan kata yang berbeda seperti mu’alim, mu’addib, murabbi, mursyid, dan ustadz. Meski memiliki kemiripan makna, istilah-istilah ini memiliki titik tekan yang berbeda. Mu’alim berarti orang yang mengajar dan memiliki ilmu pengetahuan luas. Murabbi adalah orang yang memelihara dan menjaga murid agar mencapai pertumbuhan moral dan intelektual. Mudarris adalah sosok yang meninggalkan bekas positif dalam hati peserta didiknya, baik dalam perilaku maupun ilmu. Mu’addib adalah orang yang melatih adab, sedangkan mursyid adalah sosok yang memberi petunjuk, mengarahkan, dan membimbing murid menuju keinsyafan serta kedewasaan berpikir.

Guru sebagai Pewaris Warisan Para Nabi

Nabi Muhammad SAW, sebagaimana nabi lainnya, diutus untuk membimbing kaum jahiliyah yang tidak memiliki harapan dan terombang-ambing dalam kebingungan. Nabi datang dengan keteguhan hati dan kelapangan dada, membimbing mereka menuju keluhuran, dan mengangkat derajat mereka dari keterbelakangan menjadi umat yang memimpin peradaban. Nabi tidak hanya mengeja hakikat iman, penciptaan, dan keberadaan, tetapi juga menekankan pentingnya pena, buku, dan membaca. Amanah pertama yang beliau terima adalah perintah “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan.”

Nabi Muhammad SAW adalah guru sejati yang menguasai semua kompetensi hakiki seorang pendidik. Sebelum metodologi mengajar dirumuskan, Rasulullah telah mempraktikkannya, menjadikan muridnya tidak hanya cerdas, tetapi juga luhur. Kurikulum yang diterapkannya mampu mengubah pribadi bengis menjadi pribadi yang penuh kasih sayang, jauh sebelum ada standar kompetensi guru masa kini.

Pada awal masa kenabiannya, Rasulullah mengenalkan dirinya sebagai Muallim (guru), karena tugas utama sang Nabi adalah mengajar dan membangun peradaban melalui iman. Pendidikan adalah profesi yang diamanahkan kepada para Nabi karena tujuannya selaras dengan hakikat penciptaan alam semesta: mengenalkan manusia kepada Tuhan dan mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Walaupun para Nabi telah tiada, kewajiban mendidik tetap relevan, karena kematangan manusia membutuhkan proses panjang.

Kompetensi Guru Sejati

Profesi guru melibatkan hampir semua aspek kehidupan. Guru sejati menyerahkan waktu, pikiran, tenaga, bahkan terkadang jiwa dan hartanya untuk memastikan generasi tumbuh sebagaimana mestinya. Jika pandai besi harus serius menempa pedang, maka guru harus lebih sungguh-sungguh dalam menempa pribadi. Imam Al-Ghazali menyatakan bahwa seorang guru harus hidup sesuai dengan apa yang diajarkannya. Ia menggambarkan guru sebagai tongkat, dan murid sebagai bayangannya — bayangan tidak akan lurus dari tongkat yang bengkok. Al-Ghazali juga menekankan pentingnya kasih sayang, kezuhudan, menghindari dosa, serta kebijaksanaan dalam mengajar.

Muhammad Fethullah Gulen, ulama kharismatik masa ini, menjelaskan bahwa guru ideal harus terus menambah wawasan dan menyesuaikan diri dengan perkembangan ilmu. Pertama, guru harus membekali diri dengan ilmu yang luas. Kedua, hati guru harus selaras dengan Al-Qur’an, sumber ilmu bagi orang beriman. Ketiga, metode yang digunakan harus sesuai dengan syariat. Keempat, guru perlu menjaga keikhlasan, hanya mengharapkan ganjaran dari Allah. Kelima, guru harus melakukan apa yang diajarkannya, karena tidak boleh ada pertentangan antara ucapan dan batin seorang pendidik.

Fethullah Gulen juga menegaskan bahwa guru teladan adalah sosok yang hatinya penuh kasih sayang, rela berkorban untuk memastikan generasi berkembang sebagaimana mestinya. Mereka selalu memanjatkan doa untuk muridnya, toleran, empati, lapang dada, dan memiliki kesucian hati tanpa prasangka, kebencian, atau iri. Guru teladan menjalankan amanah dengan penuh kerinduan, mengutamakan pendidikan generasi di atas kepentingan pribadinya.

Guru Sejati di Tengah Keramaian Zaman

Guru sejati tidak pernah hilang, meski terkadang tersembunyi dari keramaian zaman. Jika kita masih melihat generasi yang tumbuh, maka itu adalah tanda bahwa guru sejati masih ada. Guru sejati ibarat tanah yang, meski jarang dipuji, konsisten menumbuhkan bunga-bunga indah.

Terima kasih kepada para guru sejati, yang dedikasinya akan terus hidup abadi di dalam hati. “Jadilah tanah, agar kamu menumbuhkan mawar; tak ada selain tanah yang mampu menumbuhkan mawar.”

 

Referensi

Fakhrul Rijal. Guru Profesional Dalam Konsep Kurikulum 2013. Jurnal Mudarrisuna: Media Kajian Pendidikan Agama Islam. Vol 8, No. 2 (2018). Hal 330. Lihat juga Amka Abdul Aziz, Guru Profesional Berkarakter, (Klaten: CempakaPutih, 2012), hlm. 1.

Badan Pengembang dan Pembinaan Bahasa. KBBI Online. https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/guru. Diakses pada 22 Agustus 2023. Pukul 09.52

Undang-undang No. 14. Tahun 2005. Lihat https://peraturan.bpk.go.id/Home/Details/40266/uu-no-14-tahun-2005.  Di akses pada 28 Agustus 2023 pukul 10.29

 Samsul Nizar, Fisafat Pendidikan Islam ( Jakarta : Ciputat Pers, 2002) , h. 43

Adib Bisri dan Munawwair A. Fatah, Kamus Bahasa Arab-Indonesia, (Surabaya: Pustaka Progresif, 2012), h. 229, dan lihat Ramayulis dan Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2009), h.139

Al-Mu‟jam al-Wasit, Kamus Arab, (Jakarta: Matha Angkasa, tt), hlm. 1

QS Al-a’laq ayat 1-5

 Hadits Ibnu Majah No 229

Mokhamad Ali Musyaffa, Hakikat Tujuan Pendidikan Islam Perspektif Imam al-Ghazali. Dar al-Ilmi: Jurnal Studi Keagamaan Pendidikan dan Humaniora. Vol 9 No. 1 (April 2022). Hal 22. Lihat juga al-Ghazali Ihya Ulumuddin ilid I, Alih bahasa Moh. Zuhri (Semarang: CV. Asy-Syifa’, 1993) hal 42

Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin Juz I, terj. Ismail Yakub, (Jakarta: CV. Faizan, 1994) hlm. 58

Abu Yahya Al Nawawi, Al Tibyan fi Adab H m l t Al Qur’ n, (Damaskus; Dar Al Bayan, 1985), h23

Lihat buku Dakwah: Jalan terbaik dalam berpikir dan menyikapi hidup. Bagian kedua dan bagian ketiga.

Syekh Sadi dalam karyanya Gulistan.

 

mengembangkandiri.com (17)

SISTEM PENDIDIKAN KITA

Alamiahnya, pikiran kita akan tertuju pada kualitas sekolah-sekolah dan beberapa guru ketika tahun ajaran baru telah dimulai. Tetapi kita tidak dapat berhenti memikirkan hal tersebut karena pendidikan sekolah adalah merupakan sesuatu yang cukup penting untuk membangun manusia yang berkualitas. Sekolah dapat dianggap sebagai sebuah laboratorium yang dimana sebuah obat mujarab yang ditawarkan dapat mencegah ataupun mengobati beberapa penyakit dalam hidup, dan guru-guru adalah orang-orang ahli yang keterampilan dan kebijaksanaannya dibutuhkan untuk menyiapkan dan meramu obat mujarab tersebut.

Sekolah adalah sebuah tempat untuk belajar, di mana segala sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan ini dan kehidupan setelahnya dapat dipelajari di sini. Sekolah dapat menyebarkan sinar pada gagasan-gagasan dan kejadian-kejadian penting dan membuat para muridnya mengerti tentang lingkungan alam dan kehidupan manusia di sekitar mereka. Sekolah juga dapat dengan cepat membuka jalan untuk menyibak arti dari segala sesuatu dan kejadian, yang menggiring manusia menuju keutuhan pemikiran dan perenungan. Intinya, sekolah adalah sejenis tempat ibadah di mana imamnya adalah para guru.

Sekolah-sekolah yang bagus sama berharganya dengan paviliun-paviliun para malaikat, di mana perasaan-perasaan akan kebaikan dikembangkan untuk para muridnya dan membimbing mereka untuk meraih kemuliaan pikiran dan semangat. Namun apabila terjadi sebaliknya, mereka nampak terbangun dengan sempurna, namun pada kenyataannya mereka mengalami kerusakan –mereka menanamkan ide-ide yang salah kepada murid-murid mereka– yang dapat mengakibatkan murid mereka menjadi seorang ‘monster.’ Sekolah seperti ini sama dengan sarang ular, dan kita harus merasa malu karena sekolah seharusnya merupakan sebuah tempat untuk belajar.

Seorang guru sejati adalah seseorang yang menabur benih-benih murni dan memeliharanya. Adalah merupakan tugasnya untuk selalu berada dalam kebaikan dan pikiran yang sehat, dan juga untuk selalu memimpin dan membimbing anak-anak menghadapi segala sesuatu di dalam hidup mereka. Di kehidupan nyata, yang biasanya anak-anak memiliki arah yang berbeda, mereka memperoleh karakter dan identitas mereka yang stabil, begitu juga ketika mereka berada di sekolah; seorang anak adalah merupakan bentuk dari cetakan mereka yang sebenarnya dan mencapai sebuah kepribadian yang misterius. Sama seperti sebuah sungai yang lebar dan penuh yang mendapatkan kekuatan ketika aliran sungai itu mengalir di dalam sebuah saluran yang sempit, begitu juga dengan kehidupan yang terus mengalir tak tentu arah ini yang kemudian disalurkan menuju kebersamaan melalui media sekolah. Sama halnya dengan, buah adalah merupakan perwujudan dari kebersamaan yang tumbuh dari keberagaman pohon-pohon buah.

Sekolah dianggap berhubungan dengan beberapa fase kehidupan saja. Kenyataannya lebih dari itu. Sekolah adalah sebuah ‘teater’ di mana semua hal yang tersebar di dunia ini ditampilkan di sini. Sekolah menyediakan segala kemungkinan untuk terus membaca dan berbicara kepada para murid bahkan ketika suasana hening sekalipun. Karena hal itulah, meskipun terlihat sulit untuk terlibat dalam sebuah fase kehidupan, namun sekolah mampu mengontrol semua waktu dan kejadian. Setiap murid biasanya menerapkan kembali di sepanjang hidupnya apa yang telah ia pelajari di sekolah dan selalu memperoleh efek dari pelajaran tersebut. Apa yang dipelajari ataupun diperoleh di sekolah dapat berupa khayalan dan cita-cita, atau keterampilan dan kenyataan tertentu. Namun, apa yang lebih penting adalah bahwa segala sesuatu yang diperoleh haruslah, dengan beberapa cara yang misterius, menjadi kunci untuk pintu-pintu yang tertutup, dan sebagai sebuah panduan menuju jalan untuk kebaikan.

Informasi yang benar yang didapat di sekolah dan benar-benar mampu menghubungkan berbagai pribadi, adalah sebuah alat dimana sebuah individu dapat terangkat menuju awan-awan di dunia yang luas ini dan mampu mencapai batas-batas keabadian. Informasi yang tidak benar-benar menghubungkan berbagai pribadi ini adalah tidak lebih dari sebuah beban yang dipikul di atas pundak murid-murid. Ini adalah sebuah beban tanggung jawab bagi para pemiliknya, dan setan adalah pengacau pikiran. Informasi yang seperti itu, yang mudah diingat namun susah untuk dicerna, tidak menyediakan sinar menuju pikiran dan semangat yang tinggi, namun meninggalkan gangguan terhadap pribadi itu sendiri.

Jenis pengetahuan terbaik yang harus didapatkan di sekolah adalah sebuah pengetahuan yang mampu membuat para murid menghubungkan segala peristiwa yang terjadi di dunia luar dengan pengalaman-pengalaman mereka sendiri. Seorang guru harus menjadi seorang pemandu yang dapat memberikan pandangan tentang apa yang sedang mereka alami. Tidak diragukan lagi bahwa pemandu terbaik (dan ia yang selalu mengulang-ulang pelajarannya) adalah kehidupan itu sendiri. Meskipun demikian, bagi mereka yang tidak tahu bagaimana memetik langsung pelajaran dari kehidupan ini adalah mereka yang membutuhkan perantara. Perantara-perantara ini adalah para guru –adalah mereka yang mampu menyediakan penghubung antara kehidupan dan sebuah pribadi, dan menginterpretasikan peristiwa-peristiwa yang ada dalam kehidupan ini.

Media massa dapat menyampaikan berbagai informasi kepada seluruh umat manusia, namun media massa tidak akan pernah dapat memberi pelajaran akan kehidupan yang sebenarnya. Dalam hal ini, guru-guru adalah sosok yang tidak akan pernah tergantikan. Hanyalah guru itu sendiri yang dapat menemukan jalan menuju hati para muridnya dan menanamkan pada pikiran mereka tanda-tanda yang tidak mudah luntur. Para guru yang benar-benar mampu mencerminkan dan menyampaikan kebenaran akan juga mampu menjadi seorang panutan yang baik bagi para muridnya dan juga dapat mengajarkan kepada mereka tujuan-tujuan dari ilmu pengetahuan. Guru-guru akan menguji coba berbagai informasi yang akan mereka sampaikan kepada murid-murid mereka melalui penyaringan pikiran mereka sendiri, bukan dengan metode Barat sebagaimana yang kini sering digunakan untuk menemukan jawaban akan segala sesuatu yang terjadi.

Para murid Nabi Isa, belajar darinya tentang bagaimana mengambil resiko akan kehidupan mereka demi tercapainya tujuan mereka dan mampu bertahan ketika mereka berada di mulut singa-singa; mereka tahu bahwa guru mereka telah membekali mereka dengan pelajaran-pelajarannya meskipun mereka berada di ambang batas kematian. Mereka yang telah meletakkan harapan, dan juga memberikan hatinya kepada, Nabi Muhammad, seorang panutan terbaik akan kemanusiaan, menyadari bahwa penderitaan demi tegaknya kebenaran akan menghasilkan kedamaian dan keselamatan. Melalui pengamatan mereka, murid-murid Nabi Muhammad mengetahui bahwa beliau selalu mendoakan orang-orang yang membencinya agar mereka mendapatkan kedamaian dan kebahagiaan walaupun seringkali orang-orang tersebut menyakiti Nabi Muhammad.

Sebuah pelajaran berharga adalah apa yang diajarkan di sekolah oleh para guru sejati. Pelajaran ini tidak hanya menawarkan sesuatu kepada para muridnya, namun juga mampu mengangkat mereka menuju kondisi yang baru dan lebih baik. Dengan begitu, seorang murid akan memperoleh sebuah pandangan yang mampu menembus kebenaran akan segala sesuatu dan melihat setiap kejadian sebagai sebuah tanda dari dunia-dunia yang tak terlihat.

Sekolah akan menjadi sebuah tempat yang begitu melelahkan untuk belajar dan mengajar, apabila para muridnya, melalui semangat yang makin memuncak dari para gurunya, terkadang terlalu jauh melayang menuju angkasa. Kadang-kadang kesadaran mereka terlalu meluap melewati batas kehidupan normal, membanjiri para muridnya dengan rasa keingintahuan akan apa yang mereka pikirkan atau rasakan ataupun alami.

Seorang guru sejati memahami petunjuk-petunjuk dari beberapa kejadian dan peristiwa dan mencoba untuk mengidentifikasi kebenaran-kebenaran di dalamnya, menguraikan rinciannya dengan menggunakan setiap kemungkinan yang ada.

Seorang guru Rousseau terkenal dengan kepemilikan suara hatinya; guru dari Kant memiliki suara hati beserta alasan-alasannya.. Di sekolah Maulana dan Yunus, guru mereka adalah Nabi Muhammad. Al-Qur’an adalah merupakan wahyu, dimana kata-kata di dalamnya adalah merupakan pelajaran-pelajaran akan Ketuhanan –kata-kata tersebut bukanlah kata-kata biasa namun kata-kata yang penuh misteri yang mampu menjangkau semua kalangan, dan kata-kata tersebut merupakan pembuktian akan kesatuan yang paling tinggi dari keberagaman.

Sekolah yang bagus adalah sebuah tempat suci di mana sinar Al-Qur’an akan dipusatkan, dan guru adalah seorang pemimpin yang memiliki kekuatan sihir dari laboratorium misterius ini. Guru sejati yang sebenarnya adalah ia yang akan menyelamatkan kita dari luka-luka di masa lalu, dan, dengan kekuatan kebijaksanaannya, mengenyahkan kegelapan yang menyelubungi dunia kita.

gary-bendig-WPmPsdX2ySw-unsplash

Mimpi Untuk Memiliki Dua Sayap

Memiliki mimpi dan angan-angan merupakan sebuah anugerah yang dilimpahkan oleh Sang Pencipta kepada umat manusia. Ia adalah pancaran cahaya yang akan mengantarkan setiap individu ke dalam sebuah perjalanan luhur, sesuai dengan keyakinan yang mereka miliki. Tak khayal, jika seseorang yang memiliki tekad dan semangat yang tinggi, akan terus berusaha melewati semua rintangan yang dihadapi demi meraih mimpinya tersebut. Perjalanan panjang akan ia lalui, hamparan laut pun akan ia seberangi untuk menggapainya. Ia laksana ramuan mujarab yang melantunkan melodi harapan kepada jiwa yang hampir terjerumus ke dalam lubang putus asa.

Setiap manusia lazimnya memiliki mimpi yang ingin mereka raih. Muka bumi ini pun dilingkupi oleh beragam mimpi yang setara dengan jumlah manusia yang menetap di hamparannya. Dari seorang anak kecil yang berangan-angan ingin menjadi pilot, remaja yang bermimpi untuk menjadi dokter, hingga orang dewasa yang menuai harapan untuk menjadi pengusaha kaya nan dermawan. Tentunya semua mimpi itu indah, apalagi jika ia berhasil mencapainya. Namun terlepas dari itu semua, apakah semua mimpi itu luhur? Apa kriteria luhurnya sebuah mimpi dan bagaimana kita dapat mewujudkannya?

Kita tidak dapat memungkiri bahwa setiap individu akan menganggap mimpinya itu luhur. Tetapi keluhurannya itu, tentu akan sesuai dengan harapan dan keyakinan yang ada. Mimpi yang hanya mengikat kepentingan pribadi, pastinya tak akan sebanding dengan mimpi yang memiliki tujuan untuk menyebarkan benih kebahagiaan kepada seluruh umat manusia. Di saat masyarakat merintih atas derita kebodohan, kemiskinan, dan perpecahan, mimpi yang berharap untuk menjadi pelipur dan penuntun bagi mereka. Ketika ada jiwa yang terluka sehingga tak memiliki tenaga untuk menyulutkan semangat hidup, mimpi yang akan mengantarkan dirinya ke dalam sebuah pengorbanan untuk turut menjadi ksatria kalbu, mengobati setiap luka yang ada. Merupakan kriteria utama yang seharusnya dimiliki oleh mimpi-mimpi luhur itu.

Pribadi teladan yang menuntun orang-orang yang ada di sekitarnya untuk belajar memahami hidup. Sosok arsitek pemikiran yang memiliki kontribusi besar dalam membangun peradaban masa depan. Individu yang tak mengenal jasa, demi menebarkan manfaat bagi orang lain. Selain itu, ia juga tak mengenal waktu dalam menyalurkan ilmu dan pengetahuan kepada anak didiknya. Sosok yang selalu diimpikan. Ialah karakteristik seorang guru yang telah lama menjadi mimpi dalam setiap hening malam.

Aku percaya bahwa sosok-sosok istimewa tersebut, akan muncul ketika kita sebagai anak bangsa memiliki impian luhur semacam itu. Selain dapat memahami dan mengarahkan perkembangan anak didiknya, dia juga yang mampu memahami dan menganalisis perkembangan zaman dengan baik. Guru yang tidak hanya mendalami prinsip-prinsip ilmu pengetahuan semata, tetapi mereka juga adalah pribadi yang mampu memberikan cahaya kepada siswanya, baik cahaya bagi akalnya maupun bagi jiwa rohaninya. Mimpi setiap bangsa yang ingin maju dalam kesejahteraan, harus berawal dari sini. Dari mimpi sosok para guru yang akan menerbangkan dua sayap kokoh bagi pembangunan peradaban dunia dan kemanusiaan.

Sosok guru yang memiliki dua sayap ialah potret yang mampu menyeimbangkan kehidupan dunia dengan kehidupan rohani setiap siswanya, setelah ia bimbing mereka untuk meraih hakikat kemanusiaan. Individu yang mampu memberikan kesadaran kepada anak didiknya, untuk tidak berperilaku berlebihan atau juga merendahkan. Ia yang selalu menjaga keseimbangan untuk tidak sombong dan juga mencerca diri. Tak hanya mengajarkan pentingnya membaca buku pelajaran, ia juga mengajak siswanya untuk membaca alam semesta yang indah dan teratur. Tak hanya menerangkan pentingnya menulis sebuah karya, ia juga menuntun anak didiknya untuk menuliskan arti hidup yang sesungguhnya.

Selain itu, ia pun berusaha untuk menyalurkan derita yang ia miliki kepada hati yang lain, agar mereka pun dapat merasakan keindahan dalam menjalankan tugas mulia ini, selagi melanjutkan tongkat estafet yang perlu ia jaga dan ia amanahkan kepada generasi selanjutnya. Ia mengajak mereka untuk ikut berperan sekaligus meyakinkan yang lain, demi menumbuhkan nilai kemanusiaan yang saat ini sedang terpuruk. Karena prinsip utama yang ada dalam mimpinya itu ialah hidup untuk menghidupkan orang lain.

Kita harus percaya bahwa semua hal tidak bisa diukur dengan uang. Ketika sosok guru mampu menuaikan benih, menjadi sosok teladan yang dapat ditiru, dan mengantarkan setiap siswanya untuk memiliki tujuan hidup yang mulia, sebenarnya ia telah berhasil meraih kekayaan yang paling berharga. Tugas mulia ini memerlukan pengorbanan dan kesabaran yang begitu tinggi, karena ia harus menabur dan merawat benih berupa seorang manusia, untuk menjadi pohon subur dan menghasilkan buah yang bermanfaat bagi orang lain. Tentu ia akan mengalami kesulitan, tetapi potret yang berani mendedikasikan dirinya ke dalam impian agung ini, akan mencari berbagai solusi agar benih yang ia tanam tidak membusuk di dalam tanah. Jika semua ini dapat terwujud, di saat semua manusia mengharapkan penghormatan dan pujian, ia justru akan didambakan oleh penghormatan dan pujian itu meski sebenarnya ia selalu menghindar darinya.

Untuk itu, mimpi ini harus berawal dari sebuah derita yang kemudian termanifestasi menjadi sebuah impian agung. Dari sini, kita bisa memahami bahwa seberapa agung impian yang seseorang miliki, di saat yang sama ia sedang mencerminkan nilai yang ada pada dirinya. Dengan kata lain, nilai seseorang akan terlukiskan sesuai dengan mimpi yang ia harapkan. Dari sini sosok mulia seorang guru seyogyanya harus setara dengan makna luhur yang ia miliki. Meski terkadang gemilang dunia selalu menggodanya, namun rasa haus untuk mengayomi masa depan generasi, seharusnya mampu mengantarnya ke dalam kemuliaan.

Artikel ini adalah karya kiriman dari Haerul Al Aziz.

luca-baggio-112868-unsplash (1)

Guru di Perantauan

jordan-rowland-eAiNt7N5FaA-unsplash

Guru adalah Profesi Agung Yang Dimuliakan Oleh Allah dan RasulNya

Rasulullah SAW bersabda:

“Sebaik-baik manusia adalah  yang mengajar kebaikan kepada sesamanya”.

Apa yang dimaksud kebaikan disini?

Mengajarkan dan Mempelajari Al-Quran dan intisari merupakan kebaikan. demikian juga mempelajari Fikih dan Hadis, Al Quran bersumber dari mana? Tanpa ragu sedikitpun, kita menjawab berasal dari sifat Allah, Al Kalam, karena sifat Allah Al Kalam untuk mengatur kehidupan manusia, maka Allah “Berbicara” kepada manusia melalui perantara para nabi.

Al Quran adalah firman Allah, sebagaimana manusia juga mengucapkan sesuatu. Jika ada seseorang yang setelah membaca Al Quran bersumpah bahwa ia baru berbicara dengan Allah, para fukaha berpendapat: “Sesungguhnya dia tidak berbohong atas sumpahnya.”

Benar, dia berbicara dengan Allah, karena dia membaca firman-firman Allah. Al Quran adalah firman Allah yang berasal dari sifat Allah Al Kalam.

Jika ia bersandar pada Ilmu-Nya Allah, lalu bagaimana dengan kitab alam semesta dengan nama lain (sunnatulah, atau ayatul kauniyah).  Prinsip-prinsip yang menjadi sandaran ilmu Fisika, Kimia, Matematika, Biologi, Geometri dan Alam semesta yang seperti laboratorium. Milik siapakah ini semua? Apakah ada orang lain yang menuliskannya? Alam semesta, juga kitab Allah yang berasal dari sifat Allah lainnya seperti Al Ilmu, Al Kudrat dan Al Iradah. Tidak ada perbedaan di antara dua kitab ini, kita berkewajiban untuk membaca dan mematuhi apa saja yang ditulis dalam dua kitab ini.

Ulama besar abad ini, Bediuzzaman  Said Nursi berkata tentang dua kitab ini, terdapat dua jenis kitab Allah.

Pertama, kitab yang membentuk asas-asas ilmu Fisika, Kimia, Matematika, Geometri dan  kedokteran yang merupakan kumpulan ayat kauniyah, mengatur  alam semesta yang mirip dengan laboratorium ini. Penjelasan ini apakah bisa dipahami? Terkadang dalam artikel ini kami menggunakan istilah lama yang tidak dipahami, tapi saya berusaha mengulang penjelasannya.

Kitab kedua adalah Al Quranul Karim  yang berasal dari sifat Allah, Al Kalam, sebelumnya terdapat  Taurat, Zabur, Injil, dan Suhuf-suhuf.  Jadi ada dua jenis kitab Allah Dan kita wajib untuk mengikuti setiap perintah yang ditulis di keduanya.

Barangsiapa yang mengikuti kitab Al Quran, dia akan mendapat ganjarannya di dunia dan akhirat. Namun, sebagian besar ganjaran  mentaati Al Quran, diberikan nanti di akhirat, jika mentaati, sebagian kecil ganjaran diberikan di dunia. Jika melanggar, sebagian kecil hukuman diberikan di dunia, sebagian besar hukuman  diberikan di akhirat.

Pesan apa yang dapat kita ambil? Dari segi ini, ada sedikit perbedaan antara Kitab Al Quran dan Alam Semesta. Hukuman bagi yang melanggar kitab alam semesta, sebagian besarnya diberikan di dunia, hanya sedikit saja hukumannya ditangguhkan di akhirat. Jika mentaatinya, sebagian besar ganjarannya  diberikan di dunia,  ganjaran yang diberikan nanti di akhirat porsinya lebih sedikit.

Yang mentaati kitab alam semesta, yang Anda sebut sebagai kafir, Allah memberi mereka ganjaran di dunia, jika mereka meneliti hukum alam sedetail-detailnya, mencari  dengan sungguh-sungguh. Jika mereka membangun jembatan antara manusia dengan ciptaan lainnya. Jika tanpa sadar, mereka menghayati ayat  Al Quran dalam setiap ciptaanNya. Allah akan mengganjar mereka, karena Allah Maha Adil, bagaimana kaum muslim? Karena tidak mematuhi  kitab alam, hukuman pun menanti mereka.

Kita kembali lagi ke pembahasan awal.

Rasul bersabda:

“Manusia terbaik adalah yang mengajarkan kebaikan”.

Bagi kita umat muslim, mengajarkan Al Quran dan mengajar Kitab Alam Semesta adalah sama pentingnya oleh karena dua kitab tersebut berasal dari Allah, maka menghormati dua kitab tersebut berarti menghormati Allah, dan acuh kepada dua kitab ini  merupakan sikap yang tidak sopan kepada Allah. Dari sisi tersebut, sebenarnya  pemahaman takwa kita amat luas. Orang yang bertakwa adalah selain mengerjakan yang wajib serta menjauhi yang haram, juga mengikuti prinsip-prinsip kitab alam semesta.

Anda bisa saja mengerjakan yang wajib, menjauhi yang haram, dengannya anda bisa saja masuk surga, tetapi anda tidak bisa bertakwa dengan sempurna, kalau anda tidak mematuhi kitab alam semesta.

Membaca alam semesta di masa ini memiliki posisi yang amat penting,  kini umat muslim mulai merasakan akibatnya. Umat muslim di masa lalu mengabaikan pentingnya penelitian dalam setiap benda dan peristiwa, sedangkan umat lain melakukan Renaissance dengan menggunakan prinsip kalian. Lalu mereka melakukan pembaharuan industri, sedangkan kalian masih terbuai dan mabuk  dengan kesuksesan masa lalu,  mereka membuat pembaharuan teknologi dan pembaharuan ilmu pengetahuan.

Dan kalian hanya menjadi penonton.

Semua ini dilakukan dengan mengamati denyut nadi dan detak jantung alam semesta,  dan sekarang mereka sedang memetik buahnya.

Pada saat seperti ini dimana posisi kalian ?

Jelas, kalian terpeleset ke lubang terdalam, sekarang mereka melihat kalian dari posisi atas dan Anda kini mengetuk pintu mereka untuk mendapatkan makan dan uang, kalian hanya menjadi buruh. Kalian bekerja hanya untuk mengisi perut, kalian adalah seorang muslim.

Menurut kalian, bagaimana mereka melihat kalian?

Mereka akan memandang kalian sebagaimana majikan memandang seorang hamba. Mereka memandang kalian seperti memandang petugas kebersihan, mereka memandang kalian sebagai orang-orang yang hidup di bawah jembatan. Mereka memandang kalian sebagai orang-orang yang terhimpit kemiskinan, tidak satupun mau menerima nasehat dari orang-orang berlevel di bawahnya.

Apa kalian rela menerimanya?

Misalnya pembantumu berkata: “Tuanku, bosku, presidenku, bagaimana kalau pakai taksi saja?” “Ada hal yang Anda tidak ketahui. Maka dengarkan saran saya!”

Bagaimana Anda menanggapinya?? Artinya, kalau kalian kalah di bidang tersebut, walau kalian memiliki nilai luhur seperti Islam. Mereka tetap memandang kalian dari atas, itu bermakna  kalian membuat nilai luhur tersebut menjadi hina, apakah kalian bisa memahaminya?

Seandainya kalian menjaga wibawa kalian sebagai bangsa besar di antara bangsa lainnya. Sehingga ketika kalian bisa merepresentasikan Al Quran dan menyampaikan pesan Rasulullah dengan sempurna.

Anda akan lebih berhasil menyampaikan pesan kalian.

Artinya, membaca buku alam semesta dengan benar mempengaruhi tersampaikannya pesan Al Quran. Jika sebaliknya, maka akan merugikan Al Quran. Karenanya, arti takwa juga melingkupi kewajiban membaca kitab alam semesta, ia penting demi memahami Al Quran dengan sempurna. Jika kita tak mengaplikasikannya secara sempurna, tak mungkin kita terbebas dari kemiskinan & kesengsaraan.

Arsitek masa depan adalah para guru,

Arsitek yang membangun peradaban madani adalah para guru.

Ya, mereka yang akan membangkitkan generasi emas. Jangan terlalu membesarkan orang lain dan jangan merendahkan diri sendiri. Jika kita bekerja sistematis dan bersabar, sebagaimana dikatakan penyair M.Akif: “Dengan satu langkah, atas inayah Allah, semua itu dapat diraih”.

Jepang, pada perang dunia kedua, mungkin kita tidak menyaksikannya secara langsung. Saat itu pun umur penulis berumur 7 atau 8 tahun, tepatnya tahun 1945, pada saat itu Jepang diratakan dengan tanah.

Pada PD 1, tepat 25 tahun setelah setengah dari negara Turki (negara asal Penulis) diratakan dengan tanah, mereka tidak hancur sebagaimana Jepang dihancurkan.  Saat itu Turki punya prajurit dan komandan yang menulis sejarah besar bangsa. Di Perjuangan Nasional, Bangsa itu berperang di seluruh penjuru negeri melawan negara-negara musuh. Belum habis, Turki lahir sebagai negara ber dikari.

Tapi Jepang diduduki USA. Pada serangan pertama sekitar 80.000 orang mati di Hirosima & Nagasaki. Dan sangat banyak orang cacat seumur hidup akibat efek radioaktif,  dalam waktu lama, Jepang tidak berhasil membangun industri perangnya di bidang lainnya juga sangat terbatas. Jerman pun merasakan hal yang sama, Mungkin setelah  tahun 1950an mereka diberi izin untuk membangun industrinya.

Namun setelahnya, dalam 25 tahun mereka mampu melewati Eropa, USA pun bekerja dengan mereka dalam beberapa proyek.

Kini mereka menjadi negara kaya raya di dunia. Bahkan setelah 1950an, Korea Utara dan Selatan, prestasinya melebihi Turki, mereka juga bersaing dengan Eropa dengan politik dumping, barang-barangnya membanjiri Afrika. Dengannya mereka jadi kaya raya. Jangan berpikir pesprestasi tersebut mustahil diraih. Hal itu dapat diraih dalam 5-10 tahun dengan inayah Allah, asal bekerja sistematis dan sabar. Jika kita bekerja kerja dan semoga Allah tidak memberi kesempatan kepada orang yang mau menghambat usaha kita. maka negara kita akan meraihnya dalam 5-10 tahun