Mengembangkandiri.com [Downloader.la]-6328082ce580d

Hikmah Sejarah

Karya Pembaca : Saeful Arif

Apa Itu sejarah?

Terkadang datang tanpa rencana, berlalu begitu saja, perginya meninggalkan cerita, itulah sejarah, semua peristiwa yang telah berlalu hakikatnya adalah sejarah, tak peduli seberapa singkat peristiwa itu terjadi jika telah terlewati maka ia telah menjadi bagian dari keping sejarah yang mungkin bisa saja terulang dengan aktor dan pemeran yang berbeda.

J.Bank, Sir Charles Firt, Jhon Tosh dan para ahli sejarah lainnya mencoba mendefinisikan sejarah sebagai semua kejadian atau peristiwa masa lalu. Sejarah berfungsi untuk memahami perilaku masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang, sejarah dapat juga diartikan sebagai memori kolektif maupun pengalaman melalui pengembangan suatu rasa identitas sosial manusia dan prospek manusia tersebut pada masa yang akan datang.

Kenapa perlu belajar sejarah?

Disadari atau tidak sebenarnya kehidupan kita senantiasa dipandu oleh sejarah, seorang anak gadis belajar tahu bagaimana caranya menjadi ibu yang baik karena ada memori sejarah dari orang tuanya terdahulu, anak kecil yang pernah secara tak sengaja menyentuh api maka ia akan tahu bagaimana panasnya api, singkatnya semua rangkaian episode kehidupan yang telah dilewati dapat menjadi sejarah yang bisa saja menjadi pemberi warna tertentu bagi kehidupa-Nya.

Sebuah bangsa yang mempelajari dan mengetahui sejarahnya akan lebih memiliki karakter yang kuat dan menjadikan sejarahnya sebagai motivator abadi, sebagai contoh misalkan, Sebagian penduduk Thaif yang membaca serta merenungi sejarah nenek moyangnya akan merasa malu dan bersalah terhadap Rasulullah SAW atas peristiwa pengusiran dimasa lalu, namun peristiwa itu mendorong mereka saat ini untuk senantiasa memuliakan Rasulullah SAW. Contoh lainnya adalah bangsa Yahudi yang merasa berhak atas tanah Palestina, hal itu didorong oleh sejarah masa lalunya yang menumbuhkan keyakinan akan hak kepemilikan atas tanah Palestina.

Sejarah merupakan Tsaqofah wajib para sultan, ilmu akidah, ilmu fikih, ilmu Al-Qur’an Hadit, ilmu Bahasa, ilmu geografi dan ilmu sejarah , menjadi bekal ilmu yang wajib dikuasai oleh para sultan, bukankah sultan Muhammad al-Fatih juga mempelajari sejarah penyebab kegagalan para pendahulu-Nya dalam membebaskan Konstantinopel?

Hikmah sejarah

Sejati-Nya ada banyak hikmah dalam mempelajari sejarah, namun kita akan coba membatasi hanya pada apa yang dikabarkan Allah SWT dalam firmanya, dalam Al-Qur’an Allah SWT memberitahu kita hikmah mempelajari sejarah.

“Dan semua kisah Rasul-rasul, Kami ceritakan kepadamu (Muhammad), agar dengan kisah itu Kami teguhkan hatimu; dan didalamnya telah diberikan kepadamu (segala) kebenaran, nasihat dan peringatan bagi orang yang beriman. (Q.S Hud ayat 120)”

Berdasarkan ayat diatas kita dapati hikmah pertama dari mempelajari sejarah adalah adanya keteguhan hati, teguh hati berarti memiliki hati yang kokoh  dan tidak mudah goyah, tidak gamang dan latah dalam menyikapi peristiwa, orang yang memahami sejarah seolah-olah memiliki buku panduan dalam bersikap disegala keadaan, karena hakikatnya sejarah senantiasa berulang yang berbeda hanya pemeranya. Orang yang tidak memahami sejarah akan panik, bingung dan canggung dalam menghadapi peristiwa,  dan bukankah Nabi kita juga menjadikan sejarah sebagai tuntunan dalam menyikapi sesuatu?

Dikisahkan setelah perang Hunain Rasulullah kemudian membagikan ghanimah dengan kadar dan takaran tertentu, namun tiba-tiba salah seorang diantara mereka ada yang memprotes pembagian tersebut karena dirasa tidak adil, seketika wajah mulia sang Nabi menjadi merah karena marah, kemudian beliau bersabda “semoga Allah merahmati saudaraku Nabi Musa, beliau telah disakiti lebih dari ini dan bersabar“ disini Rasulullah menggunakan sejarah Nabiyullah Musa AS sebagai acuan dalam bersikap.

Contoh lainnya datang dari Sayyidah Aisyah radhiAllahu anha Ketika Sebagian masyarakat Madinah menggunjing dan memfitnah beliau telah berselingkuh dengan salah seorang sahabat, beliau pun menyikapi masalah ini dengan petunjuk sejarah, bukan marah atau pembelaan yang ia lakukan melainkan ia berkata “ aku tidak akan mengatakan perkataan apapun kecuali apa yang telah dikatakan Nabiyullah Ya’qub “Fasobrun jamil wallahul musta’an“ dari dua kisah ini kita dapat mengetahui bahwa sejarah telah memberikan keteguhan dalam hati sehingga sesorang tidak gamang dan serampangan dalam menyikapi sebuah kejadian.

Fungsi sejarah yang selanjutnya adalah sejarah sebagai nasihat dan peringatan, sebuah kemustahilan jika kita mengharapkan sejarah terulang sama persis, karena sejarah terikat oleh ruang dan waktu, namun kemungkinan sejarah terulang dari prespektif kemiripan-Nya sangat mungkin terjadi. Oleh karena itu menjadikan sejarah sebagai juru nasihat dan pengingat tidaklah salah. Bukankah seorang muslim seharusnya tidak terjerumus dalam lubang yang sama dua kali ?. Ulama terkemuka asal Turki Syekh Muhammad Fethullah berkata :

“Manusia juga perlu membaca lembaran sejarah yang menakutkan dan menyeramkan, selain membaca halaman yang membahagiakan dan menentramkan, agar ia bisa mengambil langkah antisipasi yang diperlukan. Kalau tidak, ia akan tetap tidak dewasa layaknya anak-anak dalam pemikirannya”

Semoga kita semua dianugerahkan kedalaman hati sehingga dapat merenungi dan mentadaburi setiap keping sejarah yang telah terlewati, karena hidup adalah tempat belajar maka belajarlah dari kehidupan.

photo-1457269449834-928af64c684d

Tauhid 3 – Ajaklah dengan Hikmah

Allah Swt menunjukkan diri-Nya kepada alam semesta dengan menciptakan manusia untuk mengamati kenikmatan seni-Nya, membuat mereka bertepuk tangan, dan memberi makna pada pengamatan mereka. Dia menciptakan manusia agar mereka dapat mengetahui alam semesta Di alam semesta mereka dapat mengerti arti ma’rifatullah sehingga dapat beribadah kepada-Nya. Karena mata manusia tidak mampu melihat dengan cermat anugerah melimpah di alam semesta, mereka tidak dapat memahami banyak kebenaran yang telah Dia perlihatkan kepada mereka. Dan menyatakan diri-Nya kepada mereka di alam semesta dengan nama Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. “Dia maha peyayang bagi orang-orang yang beriman” (Qs. Al-Ahzab; 43).

Dia mengutus Nabi Muhammad SAW dan semua nabi lainnya ke bumi ini untuk mengajari manusia dan untuk menjelaskan arti alam semesta bagi mereka. Para nabi menjelaskan kepada manusia makna alam, makna manusia dan berusaha menunjukkan kepada manusia jalan menuju kepada Allah SWT.  Jika seseorang tidak memasuki jalan menuju Allah seperti yang ditunjukkan, dijelaskan dan diarahkan oleh para nabi. Berarti dia telah menyimpang dari jalan dan masuk ke dalam hal yang bertentangan dengan ciptaan dan fitrahnya. Orang itu akan dikatakan sesat. Jika seseorang memasuki jalan sebagaimana yang telah ditunjukkan, diarahkan, dan menuju jalan hidayah melalui wasilah nabi, maka dia telah memasuki jalan yang diridhai Allah SWT dan merupakan jalan tujuan diciptakannya alam semesta. Seperti bahasa Al Quran, seperti juga dalam kitab-kitab yang lain, Allah SWT memerintahkan para nabi, memerintahkan nabi-Nya, untuk menjadi penunjuk dan penuntun bagi jalan-Nya. “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran (nasihat) yang baik” (Qs. An Nahl; 125).

Ajaklah orang-orang ke jalan Allah. Jalan Allah adalah jalan untuk memahami tujuan Allah menciptakan alam semesta, untuk memahami keagungan Allah, untuk bersimpuh di hadapan kebesaran ini, bersujud, dan mengakui peghambaan kepada-Nya. “Ajaklah orang-orang ke jalan ini”. Begitulah Ia memerintahkan nabi-Nya. “Ajaklah dengan hikmah” (penuh kebijaksanaan). Firman-Nya, “Ajaklah mereka dengan menjelaskan kepada mereka tujuan penciptaan mereka, dengan menjelaskan makna alam semesta, dengan menunjukkan kebijaksanaan-Ku di alam semesta, dengan menunjukkan manfaat maslahat pada objek benda, dengan menguraikan isi suatu objek hingga ke bagian terkecilnya, dengan menceritakan makna pergerakannya, kelebihan-kelebihan dan kapasitasnya, panggil mereka ke jalan-Ku dengan menanamkan makna semua ini sesuai dengan kemampuan dan pengetahuan mereka!” Perintah Allah. Rasulullah saw, telah menyampaikan Hakikat kepada orang-orang yang berada pada zamannya dengan tingkat pemahaman mereka. Faktanya adalah bahwa beliau telah melakukan tugasnya dengan cara yang menyenangkan semua hati. Hati kami juga senang. Semoga Allah memberinya tempat terpuji, menganugerahkan beliau lingkaran cahaya syafaat, dan membuat kita mencapai syafaatnya.

Rasulullah SAW menyampaikan al-Quran dengan cara yang diperintahkan al-Quran, dalam waktu singkat menjadi wasilah pembentukan lingkaran yang terbuat dari cahaya di sekitarnya. Lingkaran cahaya ini terus mengembang tiap harinya. Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Naabi (penyair Turki terkemuka 1642-1712), “Dia bukan bulan yang telah mengumpulkan lingkaran cahaya di sekelilingnya dan duduk di dalamnya. Ia adalah bintang.” Nabi Muhammad saw adalah seorang pengkhutbah yang menjelaskan kebenaran kepada orang-orang. Beliau menjelaskannya dengan ungkapan, “Para sahabatku bagaikan bintang-gemintang.” Sebagaimana juga beliau menjelaskan hakikat kebenaran kepada bintang-bintang. Bintang-bintang ini seperti kilau di sekitar bulan, telah menunjukkan kompetensi berkembang di sekelilingnya setiap hari. Banyak potongan es mencair, banyak batuan padat melebur menjadi tanah, dan padang rumput mulai berfungsi menjadi pot bunga untuk mawar dan bunga-bunga.

Anak dari Abu Jahal (Ikrimah), hatinya penuh dengan permusuhan dan kebencian. Dulunya adalah batuan padat. Tetapi di hadapan Rasulullah SAW, dari mulut beliau yang menuangkan kebijaksanaan dan kebenaran. Ketika beliau membuka mulut, hati Ikrimah yang keras pun luluh dan berubah menjadi padang rumput dan menjadi pot bunga untuk mawar dan bunga-bunga. Salah satu dari mereka yang menentang Rasulullah, yang menutupi telinga dan hatinya dari hikmah, adalah Khalid ibn Al Walid yang tumbuh dalam ras itu dan seorang politikus besar lainnya Amr ibn Al Ash.

Setelah Hudaibiyah, Khalid ibn Al Walid dan Amr ibn Al ‘Ash juga luluh hatinya. Sebenarnya sudah lama petir melintas di kedua pikiran mereka, tetapi karena keras kepala mereka bertahan, tetap menentang Rasulullah. Amr ibn Al ‘Ash telah pergi ke Abyssinia bertahun-tahun yang lalu. Dia telah melihat Amr bin Umayyah ra di sana. Dia meminta izin dari Negus untuk memenggal sahabat Rasulullah. Dan kemudian dinukilkan kepada kita: “Perkenankan saya wahai raja yang mulia untuk memukul kepala ummat shabiin ini. Biarkan aku memenggal Amr bin Umayyah!” Saat dia mengangkat tangannya dan hendak memukul hidungnya dengan keras, dalam kebingungan dan kemarahan itu, jantungku mau loncat karena kaget, takut aku pikir dia akan memenggal aku. Lalu dia berkata; “Bagaimana bisa! Seorang nabi yang menceritakan apa yang dikatakan Nabi Musa, seorang nabi yang adalah pertanda kabar gembira dari Isa, seorang nabi penguasa alam semesta, seorang nabi yang aku imani ini, bagaimana mungkin aku serahkan kepadamu?” “Tuanku yang mulia, apakah anda percaya padanya?” “Aku percaya padanya” katanya. Bahkan Amr ibn Al ‘Ash berkata; “Aku mengulurkan tanganku di sana, memberi penghormatan kepada penguasa.” Setelah itu, menyalalah di benaknya kebenaran cahaya di sana.

Adapun Khalid ibn Al Walid menceritakan situasinya di Hudaibiyah: Ketika utusan Allah membuat kesepakatan di sana, saya memutuskan untuk menyerang dari belakang dengan pasukan berkuda saya. Mereka berdiri untuk shalat, mereka melaksanakan shalat khauf. Sebagian tentara berdiri di hadapan kami dan sebagian lagi shalat bersama jamaah lainnya di belakang. Kemudian mereka bertukar. Saya tidak diberikan kesempatan untuk menyerang. Kemudian saya bingung tentang apa yang harus dilakukan ketika muslim dan musyrik mencapai kesepakatan.  Sampai hari itu, selama 5-6 tahun saya selalu menarik tirai ke matahari, kututup mataku, tutup telingaku pura-pura tidak mengenalnya. Rasa kantuk seketika hilang, saya merasa tidak nyaman dengan berpikir kemana harus pindah, ke Abyssinia atau Damaskus. Suatu hari, Walid ibn Al Walid, yang adalah saudara saya, lebih duluan pergi dari pada saya mencapai kebahagiaan cahaya. Dia pergi sebelum saya dan masuk ke dalam lingkaran cahaya Rasulullah. Dia menulis surat untuk saya. Dalam surat itu, saudara saya berkata: “Ketika Rasulullah telah melakukan umrah pada tahun berikutnya yang tidak bisa dia lakukan di Hudaybiyah, Dia mengatakan kepadaku “Kenapa orang seperti Khalid yang cerdas berakal masih musyrik? Bukankah seharusnya orang seperti Khalid masuk ke dalam lingkaran cahaya ini? Bukankah seharusnya dia berada di pasukan ini? Bukankah seharusnya dia termasuk di antara para utusannya? Dia menulis dalam suratnya. Ketika saya mendengar ini, saya merasa seperti dunia diberikan kepada saya. Saya telah diliputi oleh kegelisahan, saya lelah pergi ke kedai minum setiap hari, saya lelah melakukan hal-hal kekufuran, saya lelah tanpa sujud, tidak mengingat Allah, hati nurani saya membuat saya malu. Saya akhirnya memutuskan untuk pergi. Saya memutuskan untuk pergi, tetapi bagaimana saya bisa pergi sendiri? Saya pikir saya akan pergi, namun saya akan membawa orang lain. Saya pergi ke Safwan bin Umayyah yang cerdas. Dia telah banyak menentang. “Demi Allah, walaupun aku akan tinggal sendirian aku tidak akan percaya padanya” katanya. Dan saya katakan kepadanya: “Dunia sedang berantakan, pelan-pelan semua orang akan mengikutinya.”

Seolah-olah dia telah melihat hari ini. Seolah-olah dia telah melihat bahwa dua pertiga dari dunia akan berada di bawah kedaulatannya SAW. Es akan mencair, bebatuan akan berubah menjadi tanah lunak. “Semua orang akan tunduk kepadanya, ayuk kita pergi”. Khalid bin Walid kemudian mendatangi Ikrimah dan mencoba meyakinkannya. Tetapi ia tidak mengatakan apa-apa selain kata-kata Safwan. Akhirnya, beliau pergi ke Talhah bin Utsman, dan menawarkan ajakan, dia menerima untuk ikut Bersama Khalid bin Walid. “Kami pergi dalam gelap di malam hari tanpa terlihat. Saya khawatir apa yang akan terjadi jika mereka berada di hadapan kami, jika kami tidak bisa mencapai kapal (hidayah), atau jika mereka menghalangi kita untuk menjangkaunya, bagaimana jika kematian menangkap kita sebelum kita mencapainya. Pada malam hari kami meluncur di kegelapan, kami mendirikan tenda di lembah yang gelap, kami mulai beristirahat.

Utusan Allah juga pernah melewati lembah-lembah gelap di malam yang begitu gelap. Beberapa tahun kemudian, Khalid al Walid bersama Thalhah mengikutinya dalam kondisi pikiran yang sama, di udara yang sama, melewati lembah yang sunyi. Saat mereka bisa berhenti dan istirahat di sana. Malam itu dalam kekhawatiran yang sama Amr bin Al ‘Ash juga berangkat, “Aku muak dengan kekufuran ini, aku jenuh dengan kondisi tanpa shalat ini, aku bosan dengan keadaan hatiku ini yang tiada Allah di dalamnya. Aku mau pergi untuk merasakan ketenangan di kota Madinah. Aku akan bergabung mengikutinya (Rasulullah).”

Semua orang bergabung dengannya dan menemukan kebahagiaan. Dia juga muncul dari lembah gelap lain dalam sensasi dan emosi yang sama. Amr ibn Al ‘Ash berkata: “Ketika aku melihat bayangan di depan dalam kegelapan, aku berkata ‘Duh, aku tertangkap!’ Perlahan aku mendekati tenda, untuk memeriksa siapa yang ada di dalamnya. Aku berhadapan dengan Khalid ibn Al Walid. Kami telah berhadapan dengan Rasulullah di Badr. Kami berperang melawannya. Dulu kami menentang orang Muslim di Badr. Di Uhud, bersama-sama kami telah menyerang Rasulullah dari belakang. Di Khandaq kami juga bersama. Di Hudaibiyah kami juga dalam permainan yang sama, kami bermain bersama (perang).” Kami terkejut ketika kami bertemu. “Pergi kemana kamu, Khalid?” Tidak, aku hanya keluar jalan-jalan” “Dan bagaimana denganmu?” “Aku juga lagi jalan-jalan” Seorang yang lalai, seseorang yang tidak percaya kepada Allah, mengembara, berjalan dan hanya berkeliling sia-sia. Perlahan hati mereka terbuka, “Wahai Khalid, aku sudah bosan, aku sudah bosan dengan hidup dalam kekufuran. Aku juga ingin pergi ke Rasulullah untuk mengikutinya, aku akan pergi dan mengatakan: “Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, yang menyembuhkan segala penyakit.”Betulkah? Aku juga keluar karena itu, aku juga sedang pergi ke arah sana.” Kedua komandan saling berpelukan. Mereka menangis di pundak mereka dan berjalan beriringan bersama dalam perjalanan mereka menuju kekekalan.

Berita itu sudah sampai ke Rasulullah. Allah, yang kebesaran-Nya menghubungkan langit dan bumi, memusatkan dan menentukan barat dan timur. Allah telah mengirim malaikat-Nya dan telah memberitakan kabar ini. Khalid bertemu dari jauh, dan mengatakan bahwa dia sedang ditunggu oleh Rasulullah. Khalid begitu bahagia. “Kami tinggal di Aqabah, ada orang yang datang menemui kami, lalu kami pergi ke Madinah, memasuki hadirat Rasulullah. Beliau Saw. menyambut kami dengan senyum di wajahnya. Ketika duduk langsung saya ucapkan:    أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله

Khalid ibn al Walid mengatakan: “Saya merasa seolah-olah memasuki surga, tetapi ada masalah dalam diriku. Baik saya maupun Amr ibn Al Ash tidak dapat mengangkat kepala dan memandang wajah beliau.” Terutama yang dikatakan Amr ibn Al ‘Ash, “Wahai Rasulullah, saya telah melakukan banyak hal jahat kepadamu sehingga tak mampu melihat wajahmu, doakan saya! Begitupun Khalid al Walid juga mengatakan hal yang sama, meminta dimohonkan ampunan dari Rasulullah. Kemudian Rasulullah mengangkat tangannya: “Ya Allah, ampunilah Khalid. Sejak hari itu, Rasulullah menggambarkan Khalid sebagai pedang yang ditempatkan melawan kekufuran. Ia menjulukinya Saifullah. Tentara ciut di hadapannya, batu-batu melebur. Nama Allah berkibar di bahu dan di embara. Nama Allah adalah yang tertinggi, ditunjukkan di alam semesta sebagai yang tertinggi oleh Khalid ibn al Walid dan Amr ibn Al ‘Ash.

Ya, ceritakan kebenaran dengan kebijaksanaan, ceritakan Al-Quran dengan kebijaksanaan. Ceritakan nabi kita Muhammad SAW yang mulia yang telah melakukan misinya dengan kebijaksanaan. Es akan mencair, gunung-gunung akan meleleh, batu-batu akan melebur, semua orang dan segala sesuatu di alam semesta akan datang dan  mengatakan Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.” Rahasia “tidak ada yang tidak memuliakan Dia dengan pujian-Ny” akan dipahami. Dia yang ditinggikan dan dimuliakan oleh segala hal akan dinyatakan, semuanya akan berlutut di hadapan Allah. Anda hanya perlu memberitahu tentang-Nya kepada semua orang di mana pun anda berada. Semoga Allah Yang Maha Kuasa melindungi hati dari petunjuk yang buruk, hasrat kepada-Nya, dan memberikan semangat ini kepada mereka yang hatinya telah terjepit dan membusuk di abad ini. Terutama Muslim yang menderita, dengan memberi mereka makan dengan inspirasi ini. Semoga Dia memberi kepercayaan kepada hati. Semoga Dia menganugrahkan antusiasme menjadi orang yang percaya setelah mendengar kebenaran iman dan menceritakannya kepada yang lain!

museums-victoria-CzsHs8A87Y0-unsplash

Sebuah Nafas – Wajah Pahit dan Hikmah dari Musibah

Sebuah Nafas – Wajah Pahit dan Hikmah dari Musibah


“Api neraka sekali-kali tidak akan menyentuh kaki yang berdebu di jalan Allah. Segala sesuatu berasal dari-Mu, Ya Ghani Rabbku, wajahku kupalingkan pada-Mu. Engkalah al-Awwal dan al-Akhir, Rabbku, wajahku kupalingkan pada-Mu.” Ketika wajah sudah bertawajuh kepada-Nya, wajah itu takkan pernah redup dan menghitam. Dikatakan: “Wajah harus senantiasa menghadap matahari, sehingga bayangan jatuh di belakang”. Jika yang menghadap matahari adalah punggung, Maka kita akan terpaku pada bayangan seperti halnya ahli dunia. Allah telah menciptakan kita sebagai manusia. Allah berikan kita anugerah kesempatan untuk menjadi manusia beriman. Dia mengirimkan Sang Sayyidul Anam, Muhammad SAW sebagai imam sekaligus pembimbing kita. Dengan berjalan di atas jalan yang dipandunya, insya Allah akan mengantarkan kita kepada-Nya, berkat Inayat dari Allah SWT. Pujian hanya bagi Allah yang memberi jalan ini kepada kita (QS. Al-A’raf 7:43).

وَنَزَعْنَا مَا فِى صُدُورِهِم مِّنْ غِلٍّ تَجْرِى مِن تَحْتِهِمُ ٱلْأَنْهَٰرُ ۖ وَقَالُوا۟ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِى هَدَىٰنَا لِهَٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِىَ لَوْلَآ أَنْ هَدَىٰنَا ٱللَّهُ ۖ لَقَدْ جَآءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِٱلْحَقِّ ۖ وَنُودُوٓا۟ أَن تِلْكُمُ ٱلْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan Kami cabut segala macam dendam yang berada di dalam dada mereka; mengalir di bawah mereka sungai-sungai dan mereka berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk. Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan kami, membawa kebenaran”. Dan diserukan kepada mereka: “ltulah surga yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan”

Bala dan musibah dari luar terlihat tidak menyenangkan, buruk, dan membuat mual. Tetapi kita harus melihat hasil akhirnya. Terdapat ribuan orang hidup dalam beragam kesulitan dan penderitaan. Tetapi kesulitan tersebut perlu diterima sebagai doa yang dipersembahkan kepada-Nya. Kadang karena doa seseorang yang menderita, Allah mengampuni dosa seluruh umat. Merintihlah..! Letakkan kepalamu di atas sajadah! Ungkapkanlah semua isi hatimu kepada Allah di atas sajadah itu! Jangan sampai menyesal: “Aduh! Kupikir kehidupan dunia ini abadi!

Ya, hidup yang sementara ini berlalu seperti mimpi dan tidur. Umur yang tak berpondasi ini mengalir dan berlalu seperti sungai. Seperti angin yang berhembus dan menghilang. Seperti petir yang awalnya menggelegar namun setelahnya meredup. Supaya tak menyesal, maka kita biiznillah harus mengisi hidup kita. Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarah, dia akan melihat balasannya. Allah mengetahui kebaikan & keburukan walau sebesar massa atom, elektro, proton, & neutron. Demikian juga dengan balasan apa yang layak Dia berikan kepada Anda. Semoga Allah SWT memberi keberhasilan pada Anda untuk berbuat banyak kebaikan. Semoga Allah menjauhkan kita dari perbuatan buruk walau hanya seberat atom & electron.

Ya Allah! Sukseskanlah kami menjadi representasi dari kebaikan dengan kata dan laku kami. Ya Arhamar Rahimin, Ya Dzal Jalali wal Ikram. Membahagiakan kalian dengan surga Firdaus-Nya. Semoga Allah menjauhkan Anda sejauh-jauhnya dari neraka Jahannam. Wassalam.