mengembangkandiri.com_four-gingerbread-cookies-on-green-childrens-hand-2022-02-24-06-34-41-utc

Kasih Sayang dan Kekerasan

Karya Pembaca: Mahir Martin

Dunia memang selalu berubah, bergerak dengan dinamis untuk mencari keseimbangan baru. Beragam peristiwa silih berganti, datang dan pergi membuat kita terkadang harus berada pada kondisi terjepit antara hitam dan putih, gelap dan terang, peperangan dan perdamaian, permusuhan dan persahabatan.

Di tengah kondisi yang terkadang begitu memilukan, hanya ada satu obat penawar bagi segala kemuraman, cahaya bagi kegelapan, kesepakatan bagi peperangan, dan persaudaraan bagi permusuhan. Obat penawar itu adalah rasa kasih sayang. Rasa kasih sayang yang akan menggerus kekerasan yang terjadi di masyarakat.

Pancaran Kasih Sayang

Kasih sayang adalah pancaran dari cahaya akhlak Ilahi yang direpresentasikan dengan hati. Layaknya seorang ibu yang mencurahkan kasih sayang kepada anak-anaknya, seorang guru kepada murid-muridnya, seorang atasan kepada bawahannya.

Seseorang yang sanubarinya diliputi oleh rasa kasih sayang, tidak akan pernah meminta balasan apapun darinya. Kasih sayang akan menjadi kekuatan bagi yang lemah, penghangat bagi yang kedinginan, teman bagi yang kesepian, dan kehadiran bagi seseorang yang tak memiliki siapapun dalam kehidupannya.

Bukankah Nabi berkata bahwa barangsiapa yang tidak menghormati yang lebih tua dan tidak menyayangi yang lebih muda, maka bukanlah bagian dari kita? Ya, begitu pentingnya nilai kasih sayang, sampai-sampai Nabi pun memberikan peringatan ini.

Dengan kekuatan kasih sayang, hati yang keras pun akan menjadi lembut, kepedulian sosial akan muncul, dan saling tolong-menolong akan tumbuh dan berkembang di masyarakat. Dengan kekuatan kasih sayang juga, negara akan menjadi tempat dimana ketuhanan, kemanusiaan, persatuan dan kesatuan, hikmat dan kebijaksanaan, dan keadilan sosial akan dielu-elukan oleh rakyatnya.

Ya, kasih sayang adalah pancaran suci dari langit kepada kita semua. Jika kita ada pada hari ini dan mampu bertahan dalam kehidupan ini, itu karena kasih sayang-Nya; Jika kita saling menyayangi dan disayangi oleh orang-orang yang ada di sekitar kita, itu juga karena rahmat-Nya.

Nabi kita juga mengajarkan dan mencontohkan kepada kita bagaimana seharusnya kita hidup dan bermuamalah dengan penuh kasih sayang, kecintaan, dan kelembutan dalam beragama. Dalam beragama tidak boleh ada paksaan, penekanan, menyusahkan dan menyulitkan.

Kekerasan dalam Beragama

Ajaran dan teladan Nabi dalam beragama tersebut memang seharusnya bisa kita terapkan dalam kehidupan. Namun sayangnya, ada sebagian dari kita yang gagal memahami ajaran agama, gagal merepresentasikannya. Sehingga karena rasa takut yang dirasakan dari paksaan dan kekerasan yang dilakukan, banyak orang-orang yang akhirnya salah mengenali kita. Bukankah pepatah mengatakan bahwa manusia akan memusuhi sesuatu yang tidak dikenalinya?

Ya, hal ini terjadi karena kita tidak mampu untuk keluar dari daerah kita, kita cenderung menutup diri, dan gagal mengedepankan komunikasi dan dialog yang sehat dengan orang-orang yang berbeda pandangan dengan kita. Akhirnya akan selalu muncul percikan api pertikaian antara orang-orang yang beriman dengan yang tidak memiliki keimanan yang sama.

Orang-orang yang beragama terkadang memaksakan kehendaknya dengan kekerasan. Kekerasan sangat bertolak belakang dengan fitrah manusia yang memiliki iradah dan kebebasan berpikir.

Cara seperti itulah yang sangat bertentangan dengan akal dan logika manusia. Cara itu bukanlah cara yang berdasarkan dengan hasil pemikiran yang benar. Cara itu bisa saja menjadi bumerang yang justru dampak buruknya akan kembali kepada siapa yang melakukannya.

Hal ini yang akhirnya menyebabkan profil seseorang yang beragama menjadi sesuatu yang menakutkan dan mengkhawatirkan. Jika ini terjadi, maka kedepannya untuk merubah keadaan ini akan semakin sulit dilakukan, dan mungkin kekuatan kita tidak akan mampu menghadapinya.

Sebuah Refleksi

 Bagi orang yang beriman, menggunakan kekerasan untuk memaksakan kehendaknya, sebenarnya menunjukkan betapa lemah keimanannya. Artinya, ia tidak benar-benar yakin dengan keimanannya sehingga ia harus membuktikannya dengan memaksakannya kepada orang lain.

Seorang mukmin sejati akan begitu percaya dengan nilai-nilai yang ia miliki dan yakini. Ia akan mengubahnya menjadi pandangan hidup sehingga ia tidak akan takut untuk hidup bersama dengan orang-orang yang memiliki pandangan keimanan yang berbeda.

Ia berani untuk berdialog dengan mereka, meskipun terkadang berada di bawah naungan mereka. Karena seseorang yang tidak ragu dengan nilai-nilai keimanan dalam dirinya, ia tidak akan merasa tertekan dengan melihat kehidupan dan keimanan orang lain.

Apakah ini berarti bahwa nilai-nilai keimanan tidak bisa kita jelaskan kepada orang lain yang belum mendapatkan petunjuk keimanan?

Sudah menjadi tabiat manusia ingin menjelaskan atau mengajak orang lain kepada sesuatu yang ia yakini kebenarannya. Jika hal ini dilakukan dengan cara-cara yang benar, dengan adab dan cara yang benar, dengan tetap menghormati iradah dan kebebasan berpikir yang dimiliki masyarakat, maka masyarakat akan sangat salut, menghargai, dan mengambil contoh dari nilai-nilai keimanan tersebut. Bahkan, mungkin saja mereka akan mengakui nilai-nilai keimanan tersebut dengan menggunakan iradah dan kebebasan yang ada dalam diri mereka masing-masing.

Alhasil, setiap orang berhak memiliki nilai-nilai yang ia yakini, hidupi, dan mungkin ia ingin bagikan kepada orang lain. Yang menjadi permasalahan adalah ketika cara-cara yang penuh kasih sayang dan kelembutan telah digantikan dengan kekerasan dan paksaan dalam menyikapinya.

Oleh karenanya, yang perlu kita kedepankan adalah iradah dan kebebasan berpikir manusia dalam memandang sesuatu. Seseorang yang memiliki pandangan yang berbeda terhadap nilai-nilai yang kita anggap benar adalah suatu kewajaran dan menjadi kekayaan keberagaman yang ada di kehidupan bermasyarakat.

mengembangkandiri.com glass-of-water-with-ice-cubes-2021-08-29-06-09-57-utc

Menyikapi Kebencian

Karya Pembaca: Mahir Martin

Sebagai umat Islam, kita pasti sering mendengar kisah Nabi Adam As. dengan kedua anaknya Habil dan Qabil. Dikisahkan dalam Al-Quran bahwa terjadi konflik antar keduanya. Karena konflik tersebut, Qabil akhirnya membunuh Habil. Peristiwa ini yang diyakini sebagai peristiwa pembunuhan pertama di muka bumi.

Banyak sudah pembunuhan terjadi di muka bumi. Tidak hanya pembunuhan, banyak juga jenis kejahatan lain yang terjadi di muka bumi ini. Jika kita perhatikan, kejahatan itu bisa terjadi salah satunya disebabkan oleh rasa kebencian yang timbul dalam diri seseorang.

Rasa Benci

Tak bisa dipungkiri, nafsu manusia yang dikelilingi dengan rasa iri, dengki, hasad, atau kecemburuan akan membawa kepada kebencian. Rasa benci yang akan membuat pembenci berani melakukan tindakan apapun demi orang yang dibenci.

Pembenci tak akan melihat kebaikan orang yang dibenci, walaupun terkadang kebaikannya justru dilakukan terhadap dirinya. Misalnya, ketika orang yang dibenci menyapa, pembenci akan bermuka masam atau mungkin saja berbalik muka, tak ingin menghiraukan.

Pembenci, pemikirannya berpola tetap.

Di matanya, apapun yang dilakukan orang yang ia benci adalah salah, tak ada benarnya. Ia tak mampu membedakan antara kebaikan dan keburukan lagi. Ia ibarat melihat dengan kaca mata yang dipenuhi dengan kotoran sehingga tidak bisa melihat lagi dengan jernih.

Lebih jauh lagi, sikap membenci terkadang membuat pembenci melakukan tindakan yang tidak rasional, dan di luar nalar akal sehat. Mereka bahkan rela menghalalkan segala cara demi melakukan pembenaran terhadap dirinya, dan menyalahkan orang yang ia benci. Kebohongan, kemunafikan, bahkan perilaku anarkis bisa saja ia lakukan.

Rasa benci itu juga tidak melihat hubungan dan kedekatan seseorang. Kebencian bisa menjadi gunting pemutus ikatan antar sesama kita. Seseorang bisa sangat mudah membenci temannya, sahabatnya, kerabatnya, bahkan saudara kandungnya. Jika sudah kadung benci, hubungan dan ikatan sudah tak memiliki makna lagi.

Sikap Kita

Lantas, bagaimana sebaiknya kita bersikap ketika kita dibenci?

Hal pertama yang seharusnya kita lakukan adalah intropeksi diri. Lihat kembali ke dalam diri kita, apakah kita benar-benar sudah menjadi insan yang baik? Apakah kita bisa menjaga tingkah laku kita sehingga orang tidak membenci kita? Jangan-jangan kebencian seseorang timbul disebabkan oleh diri kita sendiri.

Intropeksi diri ini seharusnya dilakukan setiap saat, terlepas kita mengetahui apakah ada orang yang membenci kita atau tidak. Ada atau tidak pembenci, introspeksi dan mawas diri harus terus dilakukan. Sejatinya, rasa benci itu berpotensi untuk ada pada siapapun yang ada di sekitar kita, apalagi jika kita tidak mampu menjaga sikap kita, tidak mampu mengintrospeksi diri kita.

Hal kedua yang perlu kita lakukan jika kita memiliki pembenci adalah sabar menghadapinya. Kebencian yang mengarah kepada kita adalah sebuah ujian yang harus kita hadapi dengan pikiran jernih. Jangan sampai kita terbawa emosi dan perasaan, yang justru bisa melahirkan kebencian juga dalam diri kita. Kebencian tak akan hilang jika dihadapi dengan kebencian juga.

Kesabaran sangat penting karena pembenci pasti akan menyerang dari berbagai sisi dalam diri kita. Jika diri kita kurang sabar, dan benteng pertahanan kita kurang kuat, kita akhirnya bisa terbawa emosi dan perasaan. Jika hal ini terjadi, diri kita sendiri yang akan menderita kerugiannya. Kita bisa saja semakin terpuruk dengan adanya kebencian itu.

Hal ketiga adalah perlu adanya kekuatan mental dalam diri kita. Kekuatan mental sangat diperlukan agar kita tidak terpengaruh dengan adanya para pembenci di sekitar kita. Hanya memikirkan para pembenci akan membuat diri kita lebih terpuruk dan tidak bisa produktif dalam kehidupan.

Memfokuskan perhatian kepada tugas dan kewajiban kita dalam kehidupan bisa menjadi kekuatan terbesar dalam melawan para pembenci kita. Kita harus bisa membuktikan diri bahwa kita masih tetap bisa move on walaupun para pembenci tidak memberikan dukungan kepada kita. Tanpa mereka, kita masih bisa memberikan yang terbaik dalam melaksanakan tugas dan kewajiban kita.

Sebuah Refleksi

Lantas, apa yang semestinya kita lakukan agar tidak ada kebencian dalam kehidupan kita?

Komunikasi yang baik, yang dilakukan dari hati ke hati, akan bisa melelehkan es kebencian dalam hati manusia. Tidak mudah melakukannya ketika ada api kebencian yang membara. Terkadang diperlukan sarana mediator untuk bisa melakukannya. Dengan adanya komunikasi dua arah, kita akan bisa mengetahui apa sebenarnya sumber kebencian yang mungkin timbul dalam hati seseorang.

Kebencian baru bisa dihilangkan dengan adanya kesadaran dalam diri pembenci dan orang yang dibenci. Kesadaran akan terbentuk setelah adanya komunikasi efektif yang dilakukan secara intensif, komunikasi yang tidak hanya dilakukan sesekali atau sekali saja.

Karena kebencian adanya di hati, sebagai manusia sebaiknya kita bisa menjaga hati kita dari belenggu kebencian itu. Menjaga hati tak semudah menjaga diri. Menjaga hati memerlukan kewaspadaan tingkat tinggi. Menjaga hati ibarat menjaga diri dari gigitan kalajengking dan ular kobra, yang bisa saja menyerang tanpa kita sadari.

Alhasil, bersikap seperti Habil dalam kisah Nabi Adam As. di dalam Al-Quran kiranya bisa menjadi sikap yang seharusnya dikedepankan dalam melawan kebencian. Dalam Al-Quran diabadikan bagaimana sikap yang dilakukan Habil ketika berkonflik dengan saudaranya Qabil.

Habil berkata, “Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam” (QS 3:28).

Sikap Habil ini memberikan pembelajaran kepada kita bagaimana seharusnya kita bersikap terhadap orang yang ingin melakukan keburukan kepada kita. Seorang ksatria adalah seorang yang mampu menjawab keburukan yang dilakukan terhadap dirinya dengan kebaikan, mampu menjawab kebencian dengan rasa cinta dan kasih sayang.

Al-Quran sebagai pedoman hidup, pastinya memberikan banyak hikmah dan pelajaran bagi umat Islam. Setiap ayat Al-Quran terkadang tidak langsung kita pahami, perlu penghayatan,  dan perenungan untuk bisa memahami benar-benar apa sebenarnya makna yang terkandung di dalamnya.

Kiranya, kisah Habil dan Qabil bisa membuka perspektif kita bagaimana seharusnya kita memahami dan bersikap menghadapi kebencian yang mungkin saja terjadi kepada diri kita.