mengembangkandiri.com nature-background-with-flower-behind-patterned-gla-2021-12-09-17-48-43-utc

Kejujuranku Menyelamatkanku

Sebuah kisah dari sosok, seorang sahabat, teladan umat Islam, Ka’b bin Malik tentang kejujurannya yang sudah menyelamatkannya.

Ka’b bin Malik: “Kejujuranku Menyelamatkanku”

Dalam setiap diskusi membahas tentang kejujuran, sosok Ka’b ibn Malik selalu menjadi rujukan karena kisahnya ini.

Beliau adalah sahabat yang sangat ahli dalam menggunakan pedang dan kata-kata.

Beliau adalah seorang penyair.

Melalui syair-syairnya, Ka’b ibn Malik dapat melemahkan semangat orang-orang kafir. Beliau telah bersumpah setia kepada Rasulullah di Aqabah. Oleh karena itu, dia termasuk orang-orang pertama yang beriman di Madinah. Namun, dia tidak bisa mengikuti perang Tabuk. Mari kita dengarkan saat dia menceritakan kisahnya sendiri:

“Panggilan untuk berjihad dalam perang itu ditujukan untuk semua orang, karena perang itu diprediksi akan berlangsung secara sengit. Namun, prediksi keberlangsungan perang ini bukanlah ketetapan dari Allah SWT dan bahkan, pertarungan secara langsung tidak terjadi dalam perang itu. Hasil dari peperangannya mungkin atau juga mungkin tidak diilhamkan kepada Rasulullah SAW. Namun, Beliau sangat memberikan perhatian kepada kesiapan pasukan perang tersebut.

Seperti yang lain, saya juga melakukan persiapan. Bahkan, saya tidak pernah bersiap lebih baik dibandingkan perang-perang sebelumnya. Rasulullah SAW memberi sinyal kepada pasukan muslim untuk mulai berangkat.

Saya tidak mengikuti mereka dan berpikir, ‘Saya dapat mengejar mereka bagaimanapun juga.’

Saya tidak memiliki kegiatan lain yang khusus. Tapi karena kepercayaan diri saya, saya tertinggal. Sehingga saya menunda keberangkatan ke hari berikutnya, namun, banyak hari pun berlalu.

Saya tidak mungkin lagi mengejar Rasulullah.

Saya tidak bisa melakukan apapun selain menunggu mereka kembali. Tapi penantian ini terasa begitu lama bagi saya.

Akhirnya, kabar kembalinya Rasulullah SAW pun datang juga. Madinah akan segera hidup sebelum Beliau kembali. Kegembiraan akan kembalinya Rasulullah terlihat di wajah semua orang…

Akhirnya, harapan mereka terkabul, dan pasukan tiba di Madinah.

Seperti biasa, Rasulullah SAW pergi ke masjid dan melakukan shalat dua rakaat dan mulai menyapa orang-orang. Kemudian semua orang datang ke masjid secara berkelompok dan mengunjungi Beliau.

Mereka yang tidak bisa mengikuti peperangan menyampaikan permintaan maaf mereka. Sebagian besar orang yang tidak ikut berperang telah menyebutkan alasan mereka, dan Rasulullah telah menerima alasan mereka.

Saya bisa melakukan hal yang sama karena saya memiliki kemampuan khusus untuk membujuk orang dan menggunakan bahasa dan retorika.

Tapi bagaimana saya bisa berbohong kepada Rasulullah, karena saya tidak punya alasan.

Saya tidak melakukannya; saya tidak bisa.

Saat kami bertemu, Rasulullah menyapa saya dengan senyum masam yang menusuk hati saya.

“Di mana dirimu?” beliau bertanya.

Saya menjelaskan cerita saya apa adanya.

Beliau memalingkan wajahnya dari saya dan berkata tanpa suara,

‘Pergi.’

Saya pun pergi.

Orang-orang mengerumuni saya, berkata, ‘Beri alasan dan bebaslah.’ Mereka membujuk saya.

Tapi saya sadar dan bertanya, ‘Apakah ada orang lain seperti saya?’

‘Ya,’ jawab mereka, dan menyebutkan nama dua orang.

Keduanya adalah sahabat terkemuka yang pernah berpartisipasi dalam Perang Badar yaitu Murarah bin Rabi dan Hilal bin Umayyah. Mereka tidak menyebutkan alasan apapun, tetapi mengatakan yang sebenarnya.

Mereka seperti saya.

Saya bisa mengikuti cara mereka. Saya memutuskan untuk seperti mereka dan menghindari menyampaikan alasan apapun.

Sebuah perintah dikeluarkan perihal kami bertiga. Perintahnya adalah melarang siapapun berbicara atau bertemu dengan kami.

Dua orang yang lain tinggal di rumah, menangisi dosa-dosa mereka. Saya lebih muda dan lebih kuat. Jadi saya bisa berjalan di jalan-jalan dan pasar dan saya bisa pergi ke masjid pada waktu salat.

Tapi tidak ada yang berbicara kepada saya. Saya menghabiskan sebagian besar waktu di masjid.

Saya akan menunggu dengan sungguh-sungguh senyum dari Rasulullah.

Yang membuat saya cemas, setiap hari saya pulang ke rumah dengan kekecewaan.

Meskipun selalu ada senyum di wajahnya, Rasulullah tidak pernah menatap saya dan tersenyum pada saya.

Saya selalu menyambutnya dan menunggu dengan seksama jawaban darinya.

Tapi bibir Beliau tetap tertutup untuk saya.

Saya juga terkadang mencuri-curi pandang kepada Beliau saat berdoa. Beliau melihat kearah saya ketika saya mulai melakukan shalat, tapi Beliau mengalihkan pandangannya dari saya selepas shalat.

Selama lima hari saya dalam keadaan seperti ini. Semua orang di sekitar tempat saya tinggal mulai tampak begitu asing sehingga terasa seperti tinggal di negara asing.

Suatu hari, saya melewati pagar dan masuk ke kebun Abu Qatadah —Beliau adalah putra paman saya dan kami sangat dekat— dan pergi menemuinya.

Saya mengucapkan salam kepadanya. Demi Allah, dia tidak membalas salam saya.

Saya berkata: ‘Wahai Abu Qatadah, saya memohon padamu demi Allah! Tahukah kamu bahwa saya mencintai Allah dan Rasul-Nya?”

Dia diam.

Saya mengulangi pertanyaan saya tiga kali. Akhirnya, dia berkata, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih tahu,’ dan pergi.

Seluruh dunia tampak terbalik.

Saya tidak pernah menyangka akan mendengar hal ini dari Abu Qatadah.

Mataku berlinang air mata dan menangis.

Suatu hari, saya sedang berjalan-jalan di Madinah, dan saya mendengar seseorang mencari saya. Dia datang kepada saya dan menyerahkan surat kepada saya..

Itu dari raja Ghassan. Raja mengundang saya ke negaranya.

Surat itu tertulis: ‘Saya telah diberitahu bahwa sahabatmu (Rasulullah SAW) telah memperlakukanmu dengan kasar. Bagaimanapun, Allah tidak membuatmu tinggal di tempat di mana kamu merasa rendah diri dan kehilangan hakmu. Jadi, bergabunglah dengan kami, dan kami akan menghiburmu.’

Ketika saya membacanya, saya berkata pada diri sendiri, ‘Ini juga adalah ujian,’ dan saya membawa surat itu ke perapian dan membakarnya.

Pada hari ke 40 dari 50 hari yang berlalu.

Seorang utusan Rasulullah datang kepada saya dan berkata, ‘Rasulullah memerintahkanmu untuk menjauhi istrimu.’

Saya berkata, ‘Haruskah saya menceraikannya; atau apa yang harus saya lakukan?”

Dia berkata, “Tidak, jauhi saja dia dan jangan bergaul dengannya.”

Saya berkata kepada istri saya, ‘Pergilah ke orang tuamu dan tinggal bersama mereka sampai Allah memberikan keputusan-Nya dalam masalah ini.’

Sementara itu, istri Hilal telah meminta izin untuk melayani Hilal. Hilal adalah seorang lelaki tua tak berdaya yang tidak memiliki pelayan untuk merawatnya. Rasulullah memberikan izin kepadanya.

Beberapa orang menyarankan agar saya meminta izin dengan cara yang sama.

Tapi saya tidak mau melakukannya. Saya tidak tahu bagaimana reaksi Rasulullah jika saya melakukan itu.

Kami terus berada dalam kondisi tersebut selama 10 malam, hingga periode 50 malam selesai.

Jiwa saya terasa sesak dan bumi tampak sempit bagi saya, padahal ia begitu lapang.

Setelah menyelesaikan salat Subuh pada pagi kelima puluh, saya mendengar seseorang memanggil nama saya. ‘Wahai Ka’b, berbahagialah (dengan menerima kabar baik)’ katanya.

Mengetahui bahwa telah datang pengampunan-Nya, saya pun tersungkur  dalam sujud di hadapan Allah.

Rasulullah telah mengumumkan penerimaan taubat kami oleh Allah setelah salat Subuh.

Saya berlari ke masjid.

Semua orang mengucapkan selamat kepada saya.

Talhah dengan cepat mendatangi saya, menjabat tangan saya dan memberi selamat kepada saya. Seolah-olah saya berada di hari Aqaba.

Saya pergi ke hadapan Rasulullah dan memegang tangannya. Beliau juga meraih tangan saya.

Rasulullah berkata, ‘Allah memaafkanmu.’ Kemudian, beliau membacakan ayat berikut:

Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (Q.S. At-Taubah 9:118).

Setelah ayat ini turun, Ka’b ibn Malik berkata kepada Rasulullah SAW: “Saya berjanji untuk berkata benar selama hidup saya.”

mengembangkandiri.com gift-shop-at-the-street-market-in-istanbul-turkey-2021-08-26-18-35-40-utc

Karakter Kejujuran Seorang Muslim

Kejujuran, Kebohongan, dan Omong Kosong

Orang-orang yang baru datang ke Turki pasti sepakat akan satu hal: Saat mereka berniaga dengan masyarakat muslim Turki, tidak diperlukan suatu kontrak berdagang tertulis karena perjanjian secara lisan sudah cukup disana. Situasi ini adalah hasil dari etika dan moral Islam yang sudah lama tertanam di masyarakat Turki.  

Muslim yang berpegang kepada akhlak Al Quran digambarkan dengan,

“…… dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji….” (Q.S. Al-Baqarah 2: 177). Dalam kelanjutan ayat itu disebutkan, Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” 

Seorang Jenderal Prancis, Comte de Bonneval, membagikan kekagumannya terhadap kejujuran masyarakat Turki,

“Kriminalitas seperti ketimpangan hukum, monopoli, dan pencurian seakan tidak dikenal di Turki. Singkat kata, entah karena keyakinan agama atau ketakutan kepada hukum, mereka menampilkan satu tingkat integritas yang membuat banyak orang tercengang kepada kejujuran mereka.”

Ketelitian dan sensitivitas pedagang Turki dalam urusan kejujuran tergambar dalam kisah berikut:

Kala itu, seorang pedagang tekstil dari negeri nan jauh datang ke negeri Utsmani dan ingin membeli seluruh kain yang dibuat oleh satu pabrik kain yang sangat dia sukai.

Namun, suatu ketika, dia melihat pemilik pabrik menyingkirkan satu gulungan kain saat kain yang lain sedang ditimbang.

Ketika ditanya alasannya, pemilik itu menjawab, “Saya tidak bisa memberikan kain ini, kain ini memiliki cacat.”

Meskipun pedagang asing tadi berkata, “Itu tidak masalah,”

Si pengusaha Turki tetap tidak mau menjual satu gulungannya itu dan berujar,

“Sudah kubilang bahwa kain ini cacat. Anda pun sudah tahu perihal ini. Ketika Anda menjual barang cacat ini di negerimu, orang-orang tidak akan tahu bahwa saya sudah memberitahu Anda. Maka, saya seolah menjual barang cacat ke rakyat negerimu. Harga diri dan kehormatan Daulah Utsmani akan dicerca dan mereka akan menyangka bahwa kami ini culas. Inilah mengapa saya tidak akan menyerahkan gulungan cacat ini bagaimanapun jua.”

Demikian dia menjelaskan alasannya kukuh tidak menjual kain tadi.

Satu karakter yang membedakan Bangsa Turki dari bangsa-bangsa lain adalah mereka tidak mengenal tindakan menipu dan berbohong. Ajaran agama Islam telah masuk menjadi pendirian dari masyarakat Turki untuk mencintai akhlak mulia serta menolak perbuatan tercela.

Hal ini disampaikan dalam dokumen sejarah dari Abad XIX yang  tertulis sebagai berikut:

“Kita harus mencari tahu karakter suatu bangsa dari kelas menengahnya, di antara orang-orang yang mencari rezeki di pabrik kecil, mereka yang tidak miskin dan tidak pula kaya: kelas menengah pada bangsa Turki, memiliki nilai moral dan kebajikan yang terikat dengan ilmu pengetahuan yang cukup sepadan dengan kebutuhan mereka, dengan kecenderungan patriarki kekotaan di level keluarga satu rumah dan di masyarakat. Kejujuran juga menjadi karakter khas pengusaha Turki… Di perkampungan mereka, di mana tidak ada orang Yunani, kesederhanaan hidup dan kemurnian prilaku manusia amatlah terlihat, dan disana tidak dikenal istilah penipuan.” (Thomas Thornton (1762–1814), seorang pedagang Inggris di Timur Tengah dan penulis tentang Turki).

Pengamatan pengusaha-pelancong Prancis Abad VII, Du Loir, bisa menjadi simpulan yang gamblang: “Tidak diragukan lagi, politik dan kehidupan di Turki, dalam hal moralitas, adalah role model bagi seluruh dunia.”  .

Seorang Muslim harus Jujur dan Amanah

Seorang muslim harus jujur dan amanah, perkataan dan perbuatan yang dilakukannya tidak boleh berlawanan dengan pikiran dan perasaannya. Kita harus berusaha banting tulang untuk tetap dalam kondisi seperti itu. Rasulullah sendiri memberikan perhatian yang lebih dalam penanaman nilai moral ini pada diri anak-anak.

Untuk menghindarkan para orang tua dari dosa berbohong, meskipun kepada anak-anak mereka, beliau telah merumuskan prinsip-prinsip umum sebagai pedoman dalam hubungan antara anak dan orang tua.

Sebagai contoh, tidak boleh seorang ayah atau ibu untuk berbohong pada anaknya, dalam kondisi apapun, dan tidak pula membeda-bedakan perlakuan kepada tiap anak.

Abdullah bin Amir menceritakan: “Suatu hari ibuku memanggilku, di saat Rasulullah SAW tengah duduk di rumah kami. Kata ibuku: Datanglah kemari! Aku akan memberimu sesuatu. Rasulullah bertanya padanya: Apa yang akan Engkau berikan padanya? Jawab ibuku: Saya ingin memberinya kurma. Maka Rasulullah berkata: Jika engkau malah tidak memberinya apa-apa, maka itu akan jadi dosa bagimu.” 

Abu Hurairah juga meriwayatkan kisah serupa: “Rasulullah SAW bersabda, Barang siapa yang berkata kepada anaknya, “Datanglah kemari, aku akan memberimu sesuatu,” lalu malah tidak memberi apapun kepada si anak, maka itu akan dicatat sebagai perbuatan dusta.”

Kesesuaian antara hati dengan perilaku yang ditampilkan oleh seorang muslim juga amat penting untuk nilai integritasnya. Sama dengan kita harus menjauhi perkataan kasar, kita juga harus menjaga diri kita dari perasaan atau pemikiran penuh benci.

Dengan kata lain, seorang muslim harus berkata-kata sesuai dengan pikirannya, dan berperilaku sesuai dengan perkataannya; tidak boleh ada perbedaan antara yang terdapat dalam hati kita dengan perilaku yang kita tampilkan.

Hadis berikut mengupas aspek integritas:

“Barang siapa yang hatinya batil, tidak akan memiliki iman yang sempurna. Jika lidahnya tidak berkata benar, maka dalam hatinya tidak ada kebenaran, dan jika tetangganya tidak selamat darinya, maka dia tidak akan masuk surga” (Al-Musnad, 3/198).

Di sini Nabi mengajarkan bahwa hati dan lidah harus saling berkesesuaian, dan keduanya harus menampilkan integritas.

Ketika terdapat kesesuaian antara aktivitas batin seorang muslim dengan aktivitas lahirnya, maka dia akan selalu jujur, dalam bekerja maupun berniaga. Setiap muslim harus dengan detail tidak pernah sekalipun berbuat curang atau menipu orang lain demi mendapat laba yang lebih besar ataupun demi kepentingan lain.

Terdapat hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah berbunyi,

“Suatu hari Nabi melihat (seorang lelaki menjual) setumpuk gandum. Nabi memasukkan tangannya ke tumpukan itu dan menemukan bahwa gandum yang di bawah basah sedangkan yang di tumpukan atas kering.

Maka Nabi bertanya kepada si penjual, ‘Apa ini?’

Lelaki itu menjawab, ‘Hujan telah membuatnya basah.’

Jawab Nabi, ‘Kamu harus meletakkan gandum yang basah di atas (agar semua orang bisa melihatnya).

Penipu bukan termasuk golongan kami.’”

Abu Sa’id al-Khudri meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda,

“Pedagang yang tidak melenceng dari nilai keadilan dan kejujuran akan dibangkitkan bersama dengan para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang taqwa.”

Salah satu karakteristik unik pada diri sahabat Nabi -barangkali adalah karakteristik yang paling penting- adalah integritas dan kejujuran yang teguh. Kualitas ini telah membawa satu atmosfer mendalam berupa kelapangan dan rasa aman pada batin dan hubungan antarpribadi mereka.

Pada suatu waktu Abu al-Haura bertanya kepada Hasan bin Ali, “Apa yang engkau hafal dari Rasulullah?”

Jawabnya, “Aku menghafal dari beliau: ‘Tinggalkan apa-apa yang membuatmu ragu, beralihlah ke apa-apa yang menghapuskan keraguan darimu.’

Dalam riwayat yang sama, Sufyan bin Abdullah As-Sakafi berkata, “Wahai Rasulullah, berilah ilmu tentang Islam kepadaku yang cukup bagiku sehingga aku tidak perlu bertanya kepada siapapun lagi tentang Islam.”

Beliau menjawab, “Katakanlah, ‘Aku beriman kepada Allah,’ kemudian jadilah benar-benar jujur dalam segala hal.”