big-heap-columns-different-coins (1)

Tidak Mengharapkan Upah dari Melayani

Seseorang yang beriman sebaiknya tidak mengharapkan hal duniawi maupun ukhrawi saat melayani agamanya. Dalam salah satu dialognya, Ustad Fethullah Gülen menjabarkan tentang penjelasan ini dalam beberapa uraian berikut:

“Bagian kita adalah melayani tanpa mengahrapkan apapun. Entah itu ditempat yang sekarang atau dimanapun nanti, seorang yang melayani tidak boleh mengharapkan hal-hal duniawi. Saya selalu sampaikan kepada siswa-siswa terkasih saya, “Menyebarlah ke seluruh dunia. Jangan harapkan upah ataupun beasiswa. Jadilah buruh, pencuci piring atau tukang sapu dan hidupilah diri anda, namun tetap layani masyarakat sekitar dan agama anda. Jika anda punya bakat atau keahlian, tulislah sesuatu, terbitkan buku. Jika tidak ada pilihan lain, jadilah pengangkut sampah, tapi jangan pernah mengharapkan apapun sebagai upahmu. Jika tidak seperti itu, anda akan melewatkan hari-hari yang diimpikan di masa depan.”

Dalam hal melayani, seorang yang beriman harusnya ada di baris terdepan, namun saat tiba waktu pembagian upah, dia ada di baris paling belakang tak mengharap imbalan apapun. Seseorang dengan jiwa melayani hanya mengharapkan upah balasan dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Dia tidak boleh berharap apapun dari orang lain. Orang-orang dengan jiwa melayani, yang tidak memiliki impian kecuali Ridha dari Allah SWT, harusnya selalu sensitif terhadap kedudukan dunia yang hanya sebagai tempat sementara bukan tempat untuk mencari pamrih. Mereka harus memiliki pemahaman bahwa “Upah dari pelayanan kami adalah nanti di Akhirat”; karenanya mereka akan terus berusaha tanpa lelah, tanpa mengharapkan sekepingpun koin sebagai imbalan.

Sebagai contoh, salah satu harapan yang paling penting adalah untuk mendidik generasi emas. Investasi terbaik adalah investasi yang disalurkan untuk mendidik seorang manusia, khususnya adalah anak muda. Pemuda hari ini akan menjadi pelayan bagi bangsa dan masyarakat di masa depan sebagai sosok dewasa masa depan.

Suatu hari, berkumpulah sekumpulan prajurit dalam suatu musyawarah. Umar bin Khattab bertanya kepada mereka satu per satu: “Anda memiliki impian untuk melayani Islam. Jika saja Tuhan menerima doamu, apa yang akan Anda minta dari-Nya atasnama untuk melayani Islam?”

Seorang dari mereka membalas: “Jika doa saya dikabulkan, saya akan meminta sebuah peti emas. Saya akan gunakan itu semua untuk mengabdi kepada Islam.”

Umar bertanya pertanyaan yang sama kepada seorang yang lain yang ada di sebelahnya, dia menjawab: “Saya juga akan meminta sepeti penuh harta dan saya akan gunakan semua koin peraknya untuk mengabdi kepada Islam.”

Seorang yang lain menyaut: “Kalau saya akan meminta dari Allah SWT sekawanan domba yang sangat besar, hingga memenuhi padang pasir. Saya akan menyalurkan hasil susu dan daging dari hewan ternak tersebut untuk para muslim dan untuk melayani Islam.”

Diakhir, pasukan tersebut bertanya ke Sayidina Umar, apa yang akan dia doakan. Umar menjawab: “Jikalau Tuhan mengabulkan apa yang saya minta, saya tidak akan meminta perak, emas, domba ataupun unta. Saya akan memohon seorang kawan yang setia. Kawan seperti Abu Ubayda, Abu Dharr dan Muaz bin Jabal.”

Memang, membesarkan generasi yang dirahmati adalah hal yang paling penting.

patrick-tomasso-fBpGf_W9hS4-unsplash

Apa yang Harus Diperhatikan Saat Melayani Bangsa dan Agama?

Apa yang harus dimiliki oleh seorang mukmin yang bertanggung jawab, yang jantungnya berdebar-debar dengan niat mulia untuk melayani agama dan bangsa miliknya? Mari kita coba temukan jawaban untuk pertanyaan ini.

Pertama-tama, kita perlu mempelajari agama kita dengan benar. Untuk melakukan ini, kita perlu mempelajari esensi agama dengan belajar dari sumber-sumber yang otentik. Pengetahuan yang dipelajari harus tercermin dalam kehidupan kita. Utamanya, seseorang yang bertanggung jawab harus mempelajari agamanya dalam kerangka keyakinan orang-orang Sunni (Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah) dan mengamalkan apa yang sudah didapatnya.

Penting juga untuk memelihara kesabaran. Seperti halnya dengan, panutan kita dalam menyampaikan kebenaran ke orang lain, Nabi Muhammad, SAW., ketika kita membaca kehidupannya yang bercahaya, kita melihat bahwa beliau memiliki kesabaran yang sangat tinggi.

Sebagaimana yang kita pahami, masalah dan kesulitan besar datang kepada para nabi yang merupakan hamba Allah yang paling terkasih, namun, mereka menunjukkan kesabaran yang luar biasa. Tidak diragukan lagi, pasti akan ada berbagai macam rintangan di jalan orang-orang beriman yang ingin mengabdi pada agama dan bangsanya. Mereka perlu mengatasi rintangan ini dengan kesabaran yang besar, seperti kesabaran yang kita amati dalam kehidupan Nabi yang mulia.

Utusan Allah mengalami segala jenis penghinaan, saat duri-duri dipasang di jalan yang akan dilaluinya dan cairan menjijikan dituangkan di atas kepalanya ketika beliau khusyuk memanjatkan doa. Namun, terlepas dari semua itu, beliau menunjukkan dedikasinya yang luar biasa, tetap mengetuk, berkunjung ke setiap rumah dan tenda di setiap jalanan di Mekah demi membimbing orang ke jalan yang benar.

Salah satu landasan terpenting dalam dakwah Nabi kita adalah toleransi dan kelembutan. Al-Qur’an menggambarkan pendekatan lembut Nabi kami kepada orang-orang dengan ayat berikut:

Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal. (Q.S. Ali Imran 3:159)

Kebajikan adalah kunci terang yang digunakan oleh Nabi kita untuk membuka hati yang ternoda. Dengan kunci ini beliau telah membuka banyak hati. Oleh karena itu, kita juga harus membekali diri dengan prinsip-prinsip berikut ini: “Bersikaplah toleran sehingga hatimu menjadi luas seperti samudra. Terinspirasi oleh iman dan cinta untuk orang lain. Tawarkan bantuan kepada mereka yang kesusahan, dan berikan perhatian ke semua orang. Puji yang baik untuk kebaikan mereka, hargai mereka yang memiliki hati yang teguh, dan bersikap baik kepada orang beriman. Dekati orang-orang kafir dengan sangat lembut terhadap rasa iri dan benci mereka. Membalas kejahatan dengan kebaikan, dan mengabaikan perlakuan tidak sopan. Karakter seseorang tercermin dalam perilakunya. Pilih sikap toleransi, dan murah hati kepada yang tidak sopan. Ciri paling khas dari jiwa yang imannya kuat adalah mencintai semua jenis cinta yang diungkapkan dalam perbuatan, dan memusuhi semua jenis permusuhan di mana kebencian diumbar. Membenci segala sesuatu adalah tanda kegilaan atau tergila-gila pada Setan. “*

Hal lain yang paling penting: Kita mengamati bahwa dalam menjelaskan Islam, Nabi yang mulia lebih memilih menggunakan metode selangkah demi selangkah. Jika Kita menempatkan beban seberat lima puluh kilogram pada seseorang yang kemampuannya dibatasi hingga dua puluh kilogram, Kita kemungkinan besar akan menyebabkan orang tersebut cedera. Rasulullah memperlakukan orang sesuai dengan tingkat dan kemampuan mereka, menjelaskan realitas agama tidak sekaligus tetapi dalam dosis yang disesuaikan dengan cinta dan perhatian, maka inilah cara beliau memungkinkan iman dan kebaikan masuk ke dalam hati mereka.

Kita juga harus menggarisbawahi hal berikut: Seorang mukmin harus berusaha sebisa mungkin, menyerahkan hasil pekerjaannya kepada Allah. Dalam merasakan keberhasilan, seseorang seharusnya tidak pernah merasa bangga dan sombong. Sebaliknya, seseorang harus selalu memiliki pemikiran bahwa Allahlah yang memberikan segalanya dan tidak ada yang dapat dicapai tanpa pertolongan-Nya.

Pada akhirnya, seseorang harus selalu menjaga semangat pelayanannya; di samping Sholat Harian, harus ada Tahajud, Nafilah, Awwabin, Tasbihat dan juga Jawshan. Hal-hal tersebut tidak boleh diabaikan. Kehidupan sehari-hari mukmin harus dibangun di atas ketaqwaan dan zuhud.

*Gulen, M. Fatullah, Pearls of Wisdom, New Jersey: Tughra Books, 2012, hal. 103-104.