Teladan Kehidupan: Sang Badiuzzaman
Kaitannya dengan pengabdian agama, Bediuzzaman adalah salah satu tokoh utama yang patut dijadikan sebagai teladan umat. Beliau berpendirian bahwa mengabdi kepada agama Allah harus menjadi tujuan utama setiap manusia. Beliau tetap bersiteguh dengan keyakinan ini dan tidak pernah menyimpang sedikit pun.
Satu contoh ringan misalnya, tatkala berada di pengadilan Eskişehir, seorang hakim bertanya kepada semua hadirin tentang pekerjaan, dan saat giliran beliau tiba,
Beliau lantas berdiri dan dengan lantang berkata, “Pekerjaanku adalah mengabdi kepada agama Allah.”
Bediuzzaman adalah sosok terhormat yang dengan tulus mengorbankan kehormatan, kebanggaan, jiwa, raga, dan kehidupannya untuk mengabdi kepada Alquran. Meskipun beliau telah menerima segala bentuk pelecehan dan penyiksaan, beliau tidak pernah mengambil langkah mundur dalam menjalankan tugas suci ini.
Bediuzzaman meninggalkan segala kenikmatan duniawi demi berkhidmat di jalan agama, menjauhkan diri dari mengumpulkan harta sebab beliau hidup dalam lingkaran rasa syukur, rasa takut kepada Tuhan, dan juga kesalehan. Beliau menghabiskan setiap menit cahaya kehidupannya dalam cengkeraman masalah dan rintangan lantaran mengamalkan Alquran. Hatinya akan terbakar disebabkan melihat kehancuran umat di tangan kekufuran dan ketidakpedulian.
Beliau selalu terlibat dalam setiap kegiatan yang tujuan utamanya berkutat pada: “mengabdi kepada agama”, menyelamatkan umat Muhammad SAW dan memenuhi kalbu masyarakat dengan rasa syukur.
Di saat begitu banyak orang yang berusaha memenuhi kepentingan pribadinya dan mencari kedudukan dunia yang tinggi, beliau justru mendedikasikan jiwanya untuk menyelamatkan umat dan menganggap hal ini sebagai misi terbesar di jagat raya. Karena sebab mulia inilah, beliau berhasil mempublikasikan buku, meskipun ditulis saat berada dalam kondisi tersulit dalam kehidupan beliau. Melalui Risalah Nur, beliau secara ilmiah mengawali penentangan terhadap materialisme, suatu paham yang menjadi musuh agama Islam. Beliau mampu menyesuaikan gagasan persatuan, kebangkitan umat, risalah kenabian, keadilan, takdir, dan analisis agama yang notabenenya berada dalam ujung kehancuran.
Bediuzzaman adalah seseorang yang tekun dalam memberikan aksi nyata, beliau begitu menderita melihat problematika yang dihadapi dunia Islam dan kemanusiaan. Beliau adalah seorang pahlawan pengabdian yang mengorbankan dirinya kepada nilai-nilai yang selama ini beliau percaya. Beliau tidak pernah gentar untuk menyatakan dengan lantang bahwa keyakinan yang dianutnya adalah suatu kebenaran. Beliau adalah seseorang yang sudah pernah diracun berulang kali, hampir dieksekusi mati, pernah dihadapkan pada segala bentuk pelecehan dalam suramnya penjara, serta dikirim menuju pengadilan militer dalam kondisi sangat dingin meskipun sudah berusia tua renta, tetapi beliau tidak pernah sedikitpun lengah atau meringankan apapun dari keyakinannya itu.
Rasa sakit dan penderitaan, dua saksi bisu yang senantiasa menjadi teman bagi siapa saja yang mengabdi kepada agama.
Beliau pernah berkata, “Dalam 80 tahun hidupku, diriku tidak ingat pernah merasakan nikmatnya dunia. Hidupku habis dalam medan perang, penjara bawah tanah, pengadilan, dan bui. Di pengadilan militer, diriku diperlakukan layaknya seorang pembunuh bengis dan dikirim ke pengasingan layaknya seorang gelandangan.”
Uraian kalimat ini sangat sempurna menggambarkan kehidupannya yang penuh dengan ujian.
Seringkali beliau menggambarkan ujian tanpa henti yang mencabik jiwanya dengan ungkapan, “Ada kalanya diri ini sudah lelah dengan kehidupan. Jika agamaku memperbolehkan diriku untuk bunuh diri, Said pasti sudah tiada sekarang.”
Dengan ungkapan ini, Bediuzzaman membuktikan bahwa dirinya selalu melindungi kehormatannya dengan bersabar dan bertahan menghadapi segala bentuk penyiksaan. Beliau seperti sudah mengemas kehidupan duniawi beliau kedalam sebuah keranjang rotan yang selalu beliau bawa dengan tangan. Bagi beliau seperti itulah nilai dari seluruh kehidupan dunia.
Selama 28 tahun kehidupannya di penjara dan pengasingan, beliau senantiasa mengajarkan kepada muridnya arti penting menjaga dan menegakkan hukum. Beliau tidak pernah tunduk kepada peraturan pemerintah yang menindas. Kendati demikian, beliau tidak melawannya dengan kekerasan. Sebaliknya, beliau menggunakan pena untuk mengkritik dan melawan mereka. Kecerdasan dan bersikeras dalam sikap positif itulah yang telah menempatkan beliau di kedudukan yang istimewa dalam sejarah.
Dalam ceramahnya, beliau senantiasa menekankan pentingnya keikhlasan, ukhuwah, keimanan, dan pengabdian kepada Alquran. Di samping itu, beliau juga memperingatkan muridnya akan bahaya kesombongan dan egoisme.
Suatu ketika Zübeyr Gündüzalp mengadu kepada beliau, “Guru, diriku sungguh takut akan kesombongan.”
Mendengar hal itu, beliau menimpali, “Takutlah akan hal itu.”
Berkaitan dengan hal tersebut, beliau menasihati muridnya,
“Saudaraku, tugas kita adalah mengabdi kepada Alquran dan agama dengan penuh keikhlasan. Namun, kesuksesan kita, penerimaan masyarakat, dan kemenangan atas penindasan adalah tugas-Tuhan. Kita tidak boleh ikut campur dalam urusan ini. Bahkan ketika kita kalah pun, kita tidak akan kehilangan semangat dalam menyembah-Nya. Dalam hal ini, kita hanya perlu bertawakal. Seseorang pernah berkata kepada Jalaladdin Kharzamshah, komandan hebat Islam, “Anda akan memenangkan pertempuran melawan Genghis.” Beliau menjawab, “Tugasku adalah berjuang di jalan Allah. Kemenangan hanyalah milik-Nya. Diriku hanya akan melakukan tugasku dan tidak mencampuri urusan-Nya.”
Bediuzzaman seakan-akan sudah ditakdirkan untuk menghadapi segala bentuk cobaan dan kesulitan untuk menegakkan Alquran, keikhlasan, dan ukhuwah. Karakter beliau memberikan kekuatan yang luar biasa besar baginya untuk terus bersabar. Beberapa kejadian yang mereka tujukan kepada beliau sudah melampaui batas.
Beliau berulang kali dipanggil untuk datang ke kantor polisi dan pengadilan pada tengah malam. Menginterogasi beliau tentang kunjungan murid-murid beliau sudah menjadi penghinaan yang lumrah baginya.
Tidak hanya dirinya, orang yang berhubungan dengannya juga diperlakukan buruk. Sebagai contoh, setiap orang yang mengunjunginya atau mencium tangannya akan segera ditangkap dan diinterogasi tanpa alasan yang jelas.
Mereka akan ditanyai, “Mengapa kamu menyalaminya?” “Mengapa kamu menatapnya?” Orang tidak berdosa pun akan mendapat perlakuan buruk hanya karena berinteraksi dengan beliau. Menghadapi kondisi demikian, sosok ideal ini justru lebih menunjukan kekokohan sikap sabarannya, atas nama ukhuwah demi menjaga keikhlasan dalam lubuk hatinya.
Permasalahan umat yang beliau beri perhatian ialah sikap mendahulukan kehidupan akhirat di atas dunia dan mengabdi kepada agama tanpa mengharap imbalan apapun. Meninggalkan tugas mengabdi kepada iman atau menunjukan kelesuan dalam menjalankannya adalah sesuatu yang tidak dapat beliau diterima.
Potret Maknawi Sang Bediuzzaman : Tidak Takut Akan Siksa Neraka, Tidak Berhasrat Akan Kenikmatan Surga
Bediuzzaman Said Nursi menjelaskan perasaan rohaniah dan pemikirannya yang begitu dalam kepada Esref Edip mengenai pengabdian terhadap agama : “Satu-satunya hal yang membuatku menderita ialah bahaya yang sedang dihadapi umat Islam. Pada masa silam, bahaya berasal dari luar. Namun sekarang, berbagai bahaya itu berasal dari umat Islam sendiri. Sangat sulit untuk melawannya. Diriku amat takut bila umat tidak mampu menahannya, dikarenakan mereka tidak mengetahui keberadaan musuh. Mereka seolah-olah menganggapnya sebagai teman.”
Beliau melanjutkan, “Apabila pandangan masyarakat telah buta, benteng keimanan umat Islam akan berada dalam bahaya. Hanya itulah yang kupedulikan sekarang. Diriku bahkan tidak pernah punya waktu untuk memikirkan semua siksaan and penghinaan yang telah kurasakan. Yang kuinginkan hanyalah keselamatan umat. Itu sudah cukup bagiku. Apabila hal tersebut terwujud, diriku tidak akan keberatan dan bersedia untuk mengalami penderitaan yang lebih pedih.”
“Yang sedang kubicarakan adalah pondasi utama masyarakat Islam. Iman, kalbu, dan nilai-nilai keislaman. Ketiga hal tersebut kuajarkan di bawah naungan persatuan dan keimanan sebagaimana termaktub dalam Alquran. Ketiga hal inilah yang menjadi pilar utama umat Islam. Tanpanya, umat akan hancur suatu saat nanti.”
Mereka bertanya kepadaku, “Mengapa Anda mengambil barang ini dan itu?”. “Aku bahkan tidak menyadari hal ini. Kobaran api menyala-nyala di hadapanku, membumbung ke atas langit. Anak-anakku terbakar membara dalam api kekufuran. Begitu pula diriku. Kucoba berlari mendekati kobaran api dan memadamkannya. Aku akan menyelamatkan agamaku sendiri.” Ia beralasan, “Apakah masuk akal bila ada seseorang yang ingin berurusan dengan orang yang berhasrat menjebaknya? Dalam keadaan bahaya ini, seberapa besar dampak yang akan ditimbulkan dari setiap perbuatan kecil manusia?”
Bediuzzaman dengan tegas berkata, “Apakah mereka berpikir diriku adalah seseorang yang egois? Seseorang yang hanya berusaha menyelamatkan dirinya sendiri. Tentu saja tidak. Kukorbankan seluruh dunia dan akhiratku untuk menolong umat. Diriku tidak takut pada siksa neraka dan tidak berhasrat akan kenikmatan surga. Untuk keselamatan dua puluh lima juta orang Turki, tidak hanya satu Said yang akan mengorbankan dirinya. Pasti ada ribuan Said lain yang akan melakukan hal sama. Apabila tidak ada seorang pun yang tunduk pada ajaran Alquran, diriku tidak akan menginginkan kenikmatan surga. Itu akan menjadi penjara bawah tanahku. Lebih baik diriku terbakar api neraka.”
“Dalam 80 tahun kehidupanku, diriku tidak prnah mengetahui secuil pun kenikmatan duniawi. Hidupku habis di dalam penjara bawah tanah, pengadilan, dan pengasingan. Ditambah lagi, kehidupanku dipenuhi dengan kesedihan, penderitaan, dan kesulitan. Kukorbankan semua jiwa dan ragaku untuk keselamatan umat. Lisanku bahkan tidak mampu mengutuk kezaliman mereka. Hanya satu alasan. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyelamatkan umat melalui buku Risalah Nur karanganku.” Memang hal itu sebuah fakta. Berdasarkan penuturan jaksa Afyon, Said Nursi telah menyelamatkan iman 500.000 Muslim atau mungkin lebih banyak, MasyaAllah.
Bediuzzaman adalah seseorang yang siap mengobankan jiwa dan raganya untuk keselamatan umat Islam. Sehubungan dengan hal tersebut, beliau tidak tanggung-tanggung. Beliau melakukan perjaanan ke puncak maknawi tertinggi, Beliau memaafkan semua orang yang telah menyiksanya. Begitu mulianya pribadi beliau!
Beliau melupakan semua rasa sakit dan derita yang dialaminya dengan penerimaan satu orang akan keimanan yang suci. Beliau menganggapnya sudah cukup untuk membalas semua penderitaan yang beliau alami. Beliau berjalan di atas cakrawala Baginda Rasulullah yang bercahaya. Siapakah yang lebih kuat dibandingkan dengan orang yang memiliki kepercayaan dan ketundukan penuh kepada Tuhannya? Bagaimana gelapnya ruang pengadilan, penjara, atau kematian dapat melukainya?
Beliau dengan rasa rendah hati menuturkan, “Sejak diriku tahu bahwa Risalah Nur menyelamatkan kalbu orang-orang yang membutuhkan rasa iman, maka biarkanlah seribu Said mengorbankan dirinya. Diriku telah memaafkan siapa saja yang menzalimi dan menyiksaku selama 28 tahun lamanya. Tidak perlu diragukan, diriku telah memaafkan siapa pun yang mengusirku dari satu kota ke kota lainnya. Kumaafkan semua orang yang menghina dan menuduhku atas banyak hal sehingga membuatku dipenjara! Kumaafkan mereka yang telah melemparkan ragaku yang lemah ini ke dalam penjara bawah tanah!”
“Kukatakan kepada takdir yang selalu adil, diriku pantas menerima tamparan kasih sayang. Jikalau diri ini hidup seperti kebanyakan orang, yang melulu berpikir tentang dirinya sendiri dan selalu mengambil jalan termudah tanpa adanya pengorban jiwa dan raga, niscaya diriku akan kehilangan kekuatan untuk mengabdi kepada agama. Aku telah mengorbankan semuanya. Aku berhasil bertahan dari semua penderitaan pahit. Aku bersabar atas semua siksaan yang pedih. Pada giliranya, realita keimanan sudah tersebar ke segala penjuru. Lembaga pendidikan berbasis Risalah Nur telah berkembang menjadi ribuan dengan jutaan murid yang berdatangan. Mulai sekarang, mereka akan melanjutkan jalan pengabdian ini. Mereka tidak akan menyimpang dari misi pengorbanan ini. Mereka akan melakukan semuanya hanya untuk meraih rida Ilahi semata.” 1
1. Nursi, Bediuzzaman Said, Risale-i Nur Kulliyati-2. Istanbul: Nesil, 1996, hal. 2206






