IMG-20250424-WA0003

Pengabdian sebagai Bahasa Syukur yang Tertinggi

Rasa syukur adalah sikap menghargai dan berterima kasih atas setiap anugerah dalam hidup—baik besar maupun kecil. Ia hadir dalam bentuk penghargaan atas kesehatan, keluarga, pertemanan, pengalaman, bahkan momen sederhana seperti secangkir kopi hangat di pagi hari. Syukur sejati bukan hanya muncul di kala segalanya berjalan baik, tetetapijustru menjadi paling bermakna saat seseorang mampu melihat cahaya di tengah kegelapan. Ia bukan berarti menutup mata terhadap kesulitan, melainkan memilih untuk tetap menemukan kebaikan dalam setiap ujian. Semakin hati dipenuhi rasa syukur, semakin terasa kecukupan hidup yang hakiki.

Dalam gerakan Hizmet, syukur menjadi inti kehidupan spiritual. Ia tidak berhenti sebagai ungkapan lisan, melainkan termanifestasi dalam pelayanan yang tulus kepada sesama. Hocaefendi Fethullah Gülen menekankan bahwa syukur sejati mendorong lahirnya kerendahan hati, sebab seorang hamba yang sadar bahwa segala nikmat berasal dari Allah ﷻ akan terdorong untuk menggunakan nikmat itu demi kemaslahatan. Dalam perspektif ini, pengabdian adalah bentuk syukur yang paling luhur—ibadah yang tumbuh dari kesadaran spiritual dan kepedulian sosial.

Syukur juga menjadi energi yang mendorong lahirnya karya dan aksi nyata: di bidang sosial, pendidikan, budaya, hingga dialog lintas iman. Ia menjembatani kesenjangan, menumbuhkan solidaritas, dan mempererat ikatan kemanusiaan. Sebagaimana pepatah mengatakan, “True gratitude is expressed not only in words, but in service to others.” Maka, syukur yang tulus tak cukup diucapkan, tetetapiharus diwujudkan dalam pengabdian. Nikmat Allah adalah amanah yang harus dibagikan demi kebaikan bersama.

Nabi Muhammad ﷺ adalah teladan agung dalam menebar kasih dan melayani dengan penuh syukur. Dikisahkan, suatu hari ketika beliau sedang lapar, datang seorang wanita yang memberinya sepotong roti. Namun, beliau tidak menyantapnya untuk diri sendiri, melainkan membagikannya kepada para sahabat. Saat ditanya, beliau menjawab bahwa memberi kepada orang lain membuatnya merasa lebih bahagia. Syukur beliau juga tercermin dalam hubungannya dengan Allah ﷻ. Meskipun sudah dijamin masuk surga dan diampuni, beliau tetap beribadah dengan sungguh-sungguh hingga kakinya bengkak. Semua itu adalah wujud syukur yang mendalam—melayani umat tanpa pamrih dan terus beribadah sebagai bentuk cinta kepada Sang Pencipta.

Sahabat Abu Hurairah raḍiyallāhu ‘anhu merupakan contoh lain dari pribadi yang hidup dalam syukur. Meski hidup dalam kekurangan dan sering menahan lapar, beliau tidak pernah mengeluh. Sebaliknya, beliau senantiasa berada di sisi Rasulullah ﷺ, menyimak setiap sabda, dan menyebarkannya dengan semangat. Dari beliau kita belajar bahwa keterbatasan bukanlah halangan untuk tetap memberi dan mengabdi.

Fethullah Gülen dan Bediüzzaman Said Nursi juga menunjukkan keteladanan serupa. Said Nursi, meski berada dalam penjara dan pengasingan, tidak menyia-nyiakan waktunya. Ia menulis Risale-i Nur, karya yang menegaskan pentingnya sabar, syukur, dan pelayanan di tengah cobaan. Fethullah Gülen, meski harus hidup jauh dari tanah kelahirannya dan menghadapi berbagai kesulitan, tetap berkomitmen dalam menyebarkan nilai-nilai pendidikan, kedamaian, dan dialog antaragama. Keduanya mengajarkan bahwa pengabdian bukan hanya soal ibadah pribadi, tetapijuga aksi nyata yang memberi manfaat luas bagi umat manusia.

Dalam Surah Al-Baqarah ayat 152, Allah ﷻ berfirman:

“Maka ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku.”

Dan dalam Surah Ibrahim ayat 7:

“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, dan jika kamu kufur, sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”

Bagi mereka yang berada di jalan Hizmet, syukur bukan sekadar pengakuan terhadap nikmat, tetetapijuga bahan bakar untuk terus bergerak, melayani, dan berkontribusi. Syukur menumbuhkan kerendahan hati dan kesadaran bahwa setiap karunia adalah amanah untuk dimanfaatkan sebaik-baiknya. Maka, bersyukur berarti menjadikan hidup sebagai ladang pengabdian yang tulus—bukan hanya bagi Allah ﷻ, tetetapi juga bagi sesama.

Ya Rabb, kami bersyukur atas segala nikmat dan karunia-Mu yang tak terhitung. Jadikanlah hati kami selalu terhubung dengan-Mu dalam rasa syukur yang tulus, dan arahkan langkah kami untuk terus melayani dengan ikhlas di jalan-Mu.

Ya Rabb, kuatkan kami untuk bersyukur melalui tindakan, bukan hanya dengan ucapan. Jadikanlah pengabdian kami sebagai bukti cinta dan kerinduan kami kepada-Mu dan Rasul-Mu. Jauhkan kami dari kekufuran dan kelalaian, dan tumbuhkanlah dalam hati kami rasa cukup, lapang, serta bahagia atas apa pun yang Engkau anugerahkan.

Aamiin.

Wallāhu Ta‘ālā A‘lam.

mengembangkandiri.com-misteri-puasa

Misteri Puasa, Hemat, dan Syukur

david-papillon-1310641-unsplash

ANTARA RISALAH NUR, RASA SYUKUR DAN REZEKI

Risalah Nur dan Bersyukur adalah Jalan Keluar dari Kesempitan Rezeki

Saudara-saudaraku yang setia lagi mulia,

Pada bentuk yang pasti dan pada hampir seribuan pengalamanku, akhirnya aku sampai pada kesimpulan absolut yang aku rasakan pada sebagian besar waktu bahwasanya selama aku mengerjakan khidmat Risalah Nur, aku melihat terdapat perkembangan, kelapangan, kelegaan, serta berkah di hati, badan, pikiran, serta rezekiku.  Baik saat masih di sana maupun saat sudah di sini, aku merasakan keadaan yang sama juga dialami oleh sebagian besar saudara-saudaraku. Dan sebagian besar dari mereka memang mengakui: ”Kita juga merasakan hal yang sama.” Bahkan sebagaimana yang aku tulis tahun lalu, rahasia dari mampu hidupnya aku dengan asupan makanan yang sangat sedikit adalah keberkahan tersebut.

Juga terdapat riwayat dari Imam Syafii: ”Saya dapat menjamin rezeki para penuntut ilmu yang ikhlas.”[1] Karena terdapat kelapangan dan keberkahan di dalamnya.

Oleh karena hakikatnya ternyata seperti itu dan oleh karena murid-murid risalah nur menunjukkan kompetensi yang amat sesuai dengan kriteria penuntut ilmu yang ikhlas. Tentu saja meninggalkan khidmat risalah nur di saat kondisi kelaparan dan kekeringan seperti saat ini serta daripada sibuk mencari rezeki dengan alasan kedaruratan rezeki maka jalan keluar terbaiknya adalah bersyukur, hidup kanaah, dan menggenggam erat identitas sebagai murid risalah nur.

Ya, masalah rezeki mengguncang semua orang di semua tempat. Orang-orang yang sesat memanfaatkan kondisi ini. Sedangkan orang-orang ahli agama menganggap keadaan tersebut sebagai uzur dan berkata: ”Kondisinya sedang darurat, apa boleh buat.”

Artinya murid-murid Risalah Nur dalam menghadapi musibah kelaparan dan keadaan darurat lainnya harus kembali kepada Risalah Nur. Tugas bagi setiap murid Risalah Nur tidak hanya menyelamatkan imannya; barangkali ia juga berkewajiban untuk menjaga iman orang lain. Dengan demikian pengabdiannya pun akan berlanjut secara serius.

Kami telah menulis kepada Anda untuk tidak melawan mereka yang berlawanan dengan rasa permusuhan. Sebisa mungkin ambillah orang-orang yang bertakwa dan berilmu sebagai teman. Namun, perhatikan titik berikut ini: Janganlah mendorong mereka ke dalam wilayah yang dapat menyinggung keteguhan dan keyakinan para murid serta merugikan Risalah Nur. Yang demikian jika tidak masuk dengan niat ikhlas akan mengakibatkan kelesuan. Jika di dalamnya terdapat egosentris dan keakuan, mereka dapat meremukkan keteguhan murid-murid Risalah Nur, pandangannya dapat menarik dan memencarkan sisi eksternal dari Risalah Nur. Saat ini dibutuhkan perhatian serta keteguhan  yang amat sangat.

Pada keadaan yang demikian, tentu saja harapan saya berada di puncak tertinggi, telah muncul dua pahlawan dari kalangan murid-murid Risalah Nur: Bapak-anak Ahmed Nazif dan Salahaddin. Kita melihat dalam usaha menerbitkan Risalah Nur, usaha dua sosok ini setara dengan pencapaian kerja dari 200 orang. Singkatnya, salah satunya, yaitu anaknya, dia tinggal di Kars tetapi lewat korespondensi usahanya memberikan pengaruh yang kuat bagi Van, Erzurum, Konya, serta bagi daerah ini – layaknya surat yang tersertakan ketika kukirim kepada kalian. Ia betul-betul mirip seperti Abdurrahman.

Saudaramu,

Said Nursi

 

Keterangan:

Salahaddin Celebi yang berasal dari Kecamatan Inebolu, Provinsi Kastamonu, seperti halnya ayahnya, Ahmed Nezif Celebi, dia juga salah satu murid Risalah Nur yang penting. Lahir pada tahun 1913. Lewat perantara ayahnya, ia mengenal Ustaz di tahun 1938. Ia masuk dalam sejarah sebagai salah satu orang yang menggandakan Risalah Nur dengan mesin fotokopi untuk pertama kalinya. Ia menjelaskan sendiri keadaannya tersebut: ”Aku melihat mesin fotokopi di salah satu ruang usaha di Istanbul. Ketika aku mengetahui bahwa mesin ini dapat mencetak 100 halaman dalam satu menit, segera kubeli dan kubawa mesin itu ke Inebolu. Bagian yang pertama kali kugandakan dengan mesin tersebut adalah sinar ketujuh dari Risalah Ayatul Kubra yang membahas “Kesaksian Pengelana Alam.” Ketika aku membawakan salinan pertama yang dihasilkan mesin tersebut, Ustaz sangat gembira. Gambaran perasaan ustaz akan karya tersebut dijelaskan dalam ungkapan: ”Ya Rabbi! Anugerahilah surga firdaus kepada Nazif Celebi dan para penolongnya yang dengan satu pena menghasilkan 500 salinan risalah!” Salahaddin Celebi juga membersamai Ustaz saat berada di Penjara Denizli dan Afyon.  Sosok Salahaddin Celebi yang digambarkan Ustaz dengan ungkapan “Pada keadaan yang demikian, tentu saja harapan saya berada di puncak tertinggi, telah muncul dua pahlawan dari kalangan murid-murid Risalah Nur: Bapak-anak Ahmed Nazif dan Salahaddin. Kita melihat dalam usaha menerbitkan Risalah Nur, usaha dua sosok ini setara dengan pencapaian kerja dari 200 orang”, wafat pada tahun 1977.

Diterjemahkan dari buku Nurlardan Secmeler Vol.8 Bagian Kastamonu Lahikasindan  halaman 115-117 dan  174-175

Asli Kaplan (Ed), 2011, Nurlardan Secmeler – 8, Istanbul: Mustu Yayinlari

[1] Al Qudai, Musnadus Syihab 1/244; al Kannuji, Abcadul ulum 1/98; al Munawi, Faidhul Qadir 6/175