Mengembangkandiri.com (20)

Bediüzzaman Hazretleri: Mereka Tidak Memahami Saya!

Pertanyaan: Dalam perjalanan terakhirnya ke Urfa, Bediüzzaman Hazretleri mengatakan “Mereka tidak memahami saya!” Siapakah yang dimaksud dengan mereka ini dan mengapa mereka tidak memahaminya?

Jawaban:

Bediüzzaman Hazretleri telah hidup dengan penuh kesungguhan, tanpa meninggalkan kekosongan, dan telah memberikan arah hidup kepada banyak orang melalui pemikirannya, karya-karyanya, dan kehidupannya. Dengan kejujuran, kesederhanaan, akhlaknya yang luhur, ia menjalani hidup dengan sangat hati-hati dan penuh ukuran. Sebagai contoh, dalam soal makan dan minum, ia tidak pernah berlebihan. Ia hanya memenuhi kebutuhan tubuhnya dengan kalori yang cukup, hidup dengan disiplin, dan karena itu, ia tidak pernah mengalami kelebihan berat badan, bahkan hingga akhir hayatnya, ia mempertahankan kesehatan dan kebugarannya. Hubungannya dengan Allah sangat kuat, sehingga segala cobaan yang datang ia terima dengan penuh kerelaan. Beliau hidup dengan penuh kehati-hatian.

Memulai dari Dasar

Sepanjang hidupnya, ia berjuang untuk menciptakan tipe manusia baru dalam perasaan dan pemikiran. Ia mulai dari dasar, dari “abc,” dengan perlahan menarik orang-orang untuk bersamanya, mendidik mereka satu per satu. “Bismillah,” ia mulai dari awal, berusaha meyakinkan orang-orang di sekitarnya akan nilai-nilai yang diyakininya. Ia menyadari bahwa masalah besar dalam masyarakat tidak akan terselesaikan hanya dengan menggugah jiwa massa melalui populisme atau politik. Ia percaya bahwa masalah-masalah besar dalam dunia Islam hanya dapat diatasi oleh orang-orang yang memiliki iman yang mendalam, yang berpegang pada logika Al-Qur’an, dan yang mampu melihat peristiwa-peristiwa dari perspektif Al-Qur’an. Oleh karena itu, ia memulai dari dasar, merenovasi sebuah benteng yang telah lama diabaikan, dan sebagai seorang arsitek pemikiran, ia membentuk kembali cara berpikir manusia.

Kepeduliannya terhadap Orang Lain

Bediüzzaman Hazretleri mengabdikan hidupnya untuk melayani agama Islam dan sangat peduli dengan masalah-masalah yang berkaitan dengan takdir agama. Ia selalu menghargai setiap bentuk pelayanan kepada Islam, meskipun hanya dalam cahaya sekecil apapun. Ia memberikan apresiasi dan dukungan terhadap setiap usaha yang dilakukan demi Islam. Ia bersikap baik sangka terhadap orang-orang yang berusaha untuk berkhidmat kepada agama dan selalu mendorong mereka. Misalnya, ia sangat senang dengan berdirinya sekolah-sekolah Imam Hatip, dan mendukung dengan sepenuh hati publikasi-publikasi yang ia anggap sebagai suara dan nafas bagi umat Muslim di dunia. Ia tidak pernah memandang masalah pelayanan agama dalam pandangan yang sempit atau terbatas, dan tidak pernah mengorbankannya dengan pertimbangan afiliasi.

Keterikatan dengan Al-Qur’an

Jika Anda melihat Bediüzzaman Hazretleri dari berbagai sisi, Anda akan sulit menemukan kekurangan pada dirinya. Karya-karyanya dipenuhi dengan spiritualitas, karena karya-karya tersebut, yang ujungnya terhubung dengan Al-Qur’an, mengalirkan ilham dari Al-Qur’an. Oleh karena itu, ketika Anda membaca karya-karya yang ia tinggalkan, Allah akan membuka cakrawala Anda terhadap Al-Qur’an dan menanamkan wahyu-wahyu-Nya ke dalam hati Anda. Seperti Imam Rabbani dan Ibn Arabi, Bediüzzaman Hazretleri adalah seorang tokoh besar yang menyampaikan rahasia-rahasia Ilahiyat dari Allah. Saat menyampaikan tema-tema mendalam ini, ia selalu memperhatikan tingkat pemahaman lawan bicaranya dan menggunakan gaya bahasa yang bisa dipahami oleh mereka. Namun, di balik gaya bahasa yang tampak sederhana ini, tersembunyi makna-makna yang sangat dalam. Jika Anda membaca karya-karyanya dengan fokus, dan menganalisis kata-kata yang ia gunakan secara serius, Anda akan dapat menemukan kedalaman tersebut.

Bediüzzaman Hazretleri sepenuhnya menyerahkan dirinya kepada Al-Qur’an, oleh karena itu terminologi, argumen, dan gaya bahasanya dalam karya-karya beliau sangat Qur’ani. Semua topik yang ia bahas dapat dikaitkan dengan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis. Namun, karena kita telah terasing dari sumber-sumber Ilahi tersebut, kita tidak dapat menghubungkan titik-titik tersebut dengan baik, dan kita kesulitan untuk memahaminya secara menyeluruh.

Kekuatan Imajinasi

Bediüzzaman Hazretleri adalah seorang yang memiliki imajinasi yang luar biasa luas. Bahkan jika kita hanya melihat keluasan dunia imajinasi dan pemikirannya tanpa memperhatikan kata-kata yang ia ungkapkan, kita akan menyadari betapa pentingnya hal ini. Begitu kita memasuki dunia tahayyul dan tasawur beliau, kita akan merasa pusing, kesulitan untuk mengikuti alur pemikirannya. Ia membuka cakrawala baru dengan berbagai asosiasi, menyampaikan pemikiran-pemikiran orisinal yang melampaui zamannya. Kadang-kadang, ia menghubungkan hal-hal yang kita sulit pahami, dan menyampaikan ide-ide yang sangat orisinal. Sayangnya, karena kebiasaan, kita tidak bisa melihat air terjun imajinasi yang mengalir dalam pikirannya, dan kita tidak dapat membuka diri untuk hal tersebut.

Kekayaan Filosofis

Bediüzzaman Hazretleri menghabiskan beberapa periode dalam hidupnya dengan mempelajari filsafat, dan ia menyadari bahwa beberapa prinsip filsafat bisa berguna. Ia menggunakan latar belakang filosofis ini untuk menghasilkan analisis dan pemikiran yang mendalam. Meski demikian, ia tidak terpengaruh oleh filsafat. Dengan hati-hati, ia menunjukkan kekurangan-kekurangan dalam filsafat dan menghindarinya. Seperti halnya dalam filsafat, ia juga menjauh dari tasawuf teoretis yang tidak dapat diterima oleh semua orang, dan dengan sepenuh hati ia mengarah pada Al-Qur’an. Pandangannya terhadap filsafat dan cara ia menggunakannya, seperti yang diamati oleh para peneliti seperti Taha Abdurrahman, juga layak untuk diteliti lebih lanjut.

Kekuatan Sastra

Mereka yang meneliti karya-karya Bediüzzaman Hazretleri dan menulis buku tentangnya, seperti Feridü’l-Ensarî dalam Âhiru’l-Fursân (Kesatria Terakhir), menyoroti beliau sebagai seorang “sastrawan.” Bahkan banyak yang berpendapat bahwa kekuatan sastra Bediüzzaman lebih unggul daripada Tolstoy dan Dostoyevski. Kekuatan sastra beliau tidak hanya terletak pada susunan kalimat, tetapi juga pada bagaimana beliau mengolah dan membahas topik, makna, dan nuansa dengan cara yang mendalam.

Membaca Zaman

Bediüzzaman Hazretleri adalah salah satu orang yang paling tepat dalam membaca zamannya. Dia menyaksikan bagaimana pemikiran besar dari Barat dapat mengguncang bahkan para intelektual terbaik, atau setidaknya menimbulkan kebingungan serius di antara mereka. Zaman yang ia jalani adalah zaman yang penuh kesulitan, baik dalam hal materi maupun spiritual. Ia sangat memahami bahwa umat Islam mengalami krisis spiritual yang mendalam pada masa itu, di mana mereka terasingkan dan kehilangan arah.

“Mereka Tidak Memahami Saya”

Dari apa yang saya dengar dari Almarhum Bayram Abi, dalam perjalanan terakhirnya menuju Urfa, Bediüzzaman Hazretleri berkata, “Mereka tidak memahami saya!” Saya tidak menganggap beliau mengacu pada orang-orang yang telah sesat atau kafir, karena mereka memang tidak memiliki niat untuk memahami. Namun, yang beliau maksudkan adalah orang-orang yang berada di dekatnya, tetapi tidak dapat memahami ajaran-ajaran yang beliau sampaikan. Banyak orang yang terlalu terbiasa dengan kehidupan sehari-hari, yang terperangkap dalam rutinitas dan kebiasaan, yang tidak dapat menangkap kedalaman pemikiran beliau.

Tentu saja, perasaan ini juga berlaku kepada kalangan ulama dan intelektual, yang seharusnya lebih dekat dengan pemikirannya, tetapi justru banyak yang menjauhkan diri darinya. Kecemburuan, rasa takut, dan tekanan politik pada zaman itu mempengaruhi banyak orang untuk tidak mendekatkan diri kepada beliau. Akhirnya, meskipun karya-karya beliau sangat bermanfaat, banyak yang tidak dapat memanfaatkannya karena mereka terlalu jauh secara emosional atau intelektual.

Kesimpulan

Pada akhirnya, (kecuali beberapa pengecualian) hampir tidak ada yang mendukung Bediüzzaman Hazretleri pada masa hidupnya. Bahkan orang-orang yang seharusnya bisa mengambil manfaat dari ajarannya, banyak yang menjauhkan diri, entah karena alasan pribadi, ketakutan, atau kecemburuan. Seandainya saja, pada waktu itu, seratus orang yang berpengaruh memahami dan mendukung beliau, maka suara mereka akan mengguncang masyarakat dan membuka pintu perubahan besar.

Semoga Allah meridhai Bediüzzaman Hazretleri selamanya, karena karyanya telah menjadi obat bagi luka zaman itu, memberikan harapan kepada umat yang kehilangan harapan dan memperkuat jiwa-jiwa yang lemah.

mengembangkandiri.com (2)

GURU SEJATI DALAM SOROTAN ZAMAN

Bagi mereka yang memperhatikan perkembangan zaman dengan hati dan pikiran, tentu risau melihat banyaknya sosok yang disebut “guru” justru terjerat dalam berbagai masalah sosial hingga amoral. Di masa lalu, kata “guru” begitu sakral, berakar dari bahasa Sanskerta yang memiliki makna mendalam. Kata “guru” berasal dari gabungan dua kata: gu dan ru. Gu berarti kegelapan, kejumudan, dan kelemahan, sedangkan ru bermakna cahaya, penyibak, pengungkap, dan pembebas. Maka, seorang guru adalah sosok yang menyibak kegelapan dengan cahaya ilmu. Sayangnya, kesakralan sosok guru kini terkikis oleh perilaku yang jauh dari moral.

Dalam terminologi Jawa, kata guru dikaitkan dengan istilah digugu lan ditiru — sosok yang dapat dijadikan teladan dalam gerak-gerik, perilaku, dan sopan santun. Namun, dalam dekade terakhir, kata “guru” kerap disandingkan dengan istilah-istilah yang merendahkan. Kini, kita tak lagi asing mendengar istilah seperti “guru cabul,” “guru gabut,” dan “guru tanpa prestasi.” Sementara itu, jarang terdengar lagi istilah “guru berprestasi,” “guru teladan,” atau “guru inspiratif.” Media sosial dan massa lebih gemar membahas perilaku negatif para guru daripada menyoroti guru-guru inspiratif. Apakah benar bahwa guru sejati kini telah menjadi langka sehingga sulit menjadi tajuk utama media?

Memahami Makna Guru

Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan guru sebagai seseorang yang profesinya mendidik atau mengajar. Dalam pengertian undang-undang, guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. Dengan demikian, guru adalah orang yang berprofesi sebagai pendidik, yang bertugas mendidik, mengarahkan, mengajar, dan membimbing peserta didik.

Dalam bahasa Arab, kata “guru” memiliki beberapa padanan kata yang berbeda seperti mu’alim, mu’addib, murabbi, mursyid, dan ustadz. Meski memiliki kemiripan makna, istilah-istilah ini memiliki titik tekan yang berbeda. Mu’alim berarti orang yang mengajar dan memiliki ilmu pengetahuan luas. Murabbi adalah orang yang memelihara dan menjaga murid agar mencapai pertumbuhan moral dan intelektual. Mudarris adalah sosok yang meninggalkan bekas positif dalam hati peserta didiknya, baik dalam perilaku maupun ilmu. Mu’addib adalah orang yang melatih adab, sedangkan mursyid adalah sosok yang memberi petunjuk, mengarahkan, dan membimbing murid menuju keinsyafan serta kedewasaan berpikir.

Guru sebagai Pewaris Warisan Para Nabi

Nabi Muhammad SAW, sebagaimana nabi lainnya, diutus untuk membimbing kaum jahiliyah yang tidak memiliki harapan dan terombang-ambing dalam kebingungan. Nabi datang dengan keteguhan hati dan kelapangan dada, membimbing mereka menuju keluhuran, dan mengangkat derajat mereka dari keterbelakangan menjadi umat yang memimpin peradaban. Nabi tidak hanya mengeja hakikat iman, penciptaan, dan keberadaan, tetapi juga menekankan pentingnya pena, buku, dan membaca. Amanah pertama yang beliau terima adalah perintah “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan.”

Nabi Muhammad SAW adalah guru sejati yang menguasai semua kompetensi hakiki seorang pendidik. Sebelum metodologi mengajar dirumuskan, Rasulullah telah mempraktikkannya, menjadikan muridnya tidak hanya cerdas, tetapi juga luhur. Kurikulum yang diterapkannya mampu mengubah pribadi bengis menjadi pribadi yang penuh kasih sayang, jauh sebelum ada standar kompetensi guru masa kini.

Pada awal masa kenabiannya, Rasulullah mengenalkan dirinya sebagai Muallim (guru), karena tugas utama sang Nabi adalah mengajar dan membangun peradaban melalui iman. Pendidikan adalah profesi yang diamanahkan kepada para Nabi karena tujuannya selaras dengan hakikat penciptaan alam semesta: mengenalkan manusia kepada Tuhan dan mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Walaupun para Nabi telah tiada, kewajiban mendidik tetap relevan, karena kematangan manusia membutuhkan proses panjang.

Kompetensi Guru Sejati

Profesi guru melibatkan hampir semua aspek kehidupan. Guru sejati menyerahkan waktu, pikiran, tenaga, bahkan terkadang jiwa dan hartanya untuk memastikan generasi tumbuh sebagaimana mestinya. Jika pandai besi harus serius menempa pedang, maka guru harus lebih sungguh-sungguh dalam menempa pribadi. Imam Al-Ghazali menyatakan bahwa seorang guru harus hidup sesuai dengan apa yang diajarkannya. Ia menggambarkan guru sebagai tongkat, dan murid sebagai bayangannya — bayangan tidak akan lurus dari tongkat yang bengkok. Al-Ghazali juga menekankan pentingnya kasih sayang, kezuhudan, menghindari dosa, serta kebijaksanaan dalam mengajar.

Muhammad Fethullah Gulen, ulama kharismatik masa ini, menjelaskan bahwa guru ideal harus terus menambah wawasan dan menyesuaikan diri dengan perkembangan ilmu. Pertama, guru harus membekali diri dengan ilmu yang luas. Kedua, hati guru harus selaras dengan Al-Qur’an, sumber ilmu bagi orang beriman. Ketiga, metode yang digunakan harus sesuai dengan syariat. Keempat, guru perlu menjaga keikhlasan, hanya mengharapkan ganjaran dari Allah. Kelima, guru harus melakukan apa yang diajarkannya, karena tidak boleh ada pertentangan antara ucapan dan batin seorang pendidik.

Fethullah Gulen juga menegaskan bahwa guru teladan adalah sosok yang hatinya penuh kasih sayang, rela berkorban untuk memastikan generasi berkembang sebagaimana mestinya. Mereka selalu memanjatkan doa untuk muridnya, toleran, empati, lapang dada, dan memiliki kesucian hati tanpa prasangka, kebencian, atau iri. Guru teladan menjalankan amanah dengan penuh kerinduan, mengutamakan pendidikan generasi di atas kepentingan pribadinya.

Guru Sejati di Tengah Keramaian Zaman

Guru sejati tidak pernah hilang, meski terkadang tersembunyi dari keramaian zaman. Jika kita masih melihat generasi yang tumbuh, maka itu adalah tanda bahwa guru sejati masih ada. Guru sejati ibarat tanah yang, meski jarang dipuji, konsisten menumbuhkan bunga-bunga indah.

Terima kasih kepada para guru sejati, yang dedikasinya akan terus hidup abadi di dalam hati. “Jadilah tanah, agar kamu menumbuhkan mawar; tak ada selain tanah yang mampu menumbuhkan mawar.”

 

Referensi

Fakhrul Rijal. Guru Profesional Dalam Konsep Kurikulum 2013. Jurnal Mudarrisuna: Media Kajian Pendidikan Agama Islam. Vol 8, No. 2 (2018). Hal 330. Lihat juga Amka Abdul Aziz, Guru Profesional Berkarakter, (Klaten: CempakaPutih, 2012), hlm. 1.

Badan Pengembang dan Pembinaan Bahasa. KBBI Online. https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/guru. Diakses pada 22 Agustus 2023. Pukul 09.52

Undang-undang No. 14. Tahun 2005. Lihat https://peraturan.bpk.go.id/Home/Details/40266/uu-no-14-tahun-2005.  Di akses pada 28 Agustus 2023 pukul 10.29

 Samsul Nizar, Fisafat Pendidikan Islam ( Jakarta : Ciputat Pers, 2002) , h. 43

Adib Bisri dan Munawwair A. Fatah, Kamus Bahasa Arab-Indonesia, (Surabaya: Pustaka Progresif, 2012), h. 229, dan lihat Ramayulis dan Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2009), h.139

Al-Mu‟jam al-Wasit, Kamus Arab, (Jakarta: Matha Angkasa, tt), hlm. 1

QS Al-a’laq ayat 1-5

 Hadits Ibnu Majah No 229

Mokhamad Ali Musyaffa, Hakikat Tujuan Pendidikan Islam Perspektif Imam al-Ghazali. Dar al-Ilmi: Jurnal Studi Keagamaan Pendidikan dan Humaniora. Vol 9 No. 1 (April 2022). Hal 22. Lihat juga al-Ghazali Ihya Ulumuddin ilid I, Alih bahasa Moh. Zuhri (Semarang: CV. Asy-Syifa’, 1993) hal 42

Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin Juz I, terj. Ismail Yakub, (Jakarta: CV. Faizan, 1994) hlm. 58

Abu Yahya Al Nawawi, Al Tibyan fi Adab H m l t Al Qur’ n, (Damaskus; Dar Al Bayan, 1985), h23

Lihat buku Dakwah: Jalan terbaik dalam berpikir dan menyikapi hidup. Bagian kedua dan bagian ketiga.

Syekh Sadi dalam karyanya Gulistan.