mengembangkandiri.com decorative-moon-and-stars-on-color-background-spa-2021-09-02-15-10-21-utc

Telah Tiba! Hari yang Lebih Baik dari Seribu Hari!

“Hari yang lebih baik dari seribu hari telah tiba!” 

Menyebutnya sebagai ‘hari yang lebih baik dari seribu hari’ saja rasanya kurang. Karena saat kita memasuki musim tersebut, di dalamnya terdapat malam dan hari-hari yang nilainya setara dengan seribu, sepuluh ribu, bahkan sepuluh ribu hari.

Hari-hari tersebut adalah hari-hari di tiga bulan suci dan kita telah dekat dengannya. Di tahun 2022 ini, hari pertama di bulan Rajab jatuh pada hari Kamis, tanggal 3 Februari 2022.

Semoga Allah SWT menganugerahi kita kemampuan untuk menyucikan, memuliakan, dan memenuhi hak-hak bulan suci tersebut, khususnya hak dari bulan Ramadhan.

Lalu mengapa tulisan ini diterbitkan hari ini?

Kami menginginkan agar hari-hari dan malam-malam yang keutamaannya setara dengan seluruh umur kita ini tidak tenggelam oleh hiruk pikuk kesibukan agenda-agenda harian.

Mari kita menyambut datangnya tiga bulan suci ini layaknya kita menyambut hari raya!

Mari kita menghidupkannya seakan ia adalah rahasia untuk meraih kemenangan!

Mari kita menganggap tiga bulan suci ini seakan ia adalah tiga bulan suci kita yang terakhir!

Sebagaimana yang Anda ketahui, kita sangat membutuhkan hadiah dan anugerah-anugerah kejutan dari Allah SWT. Kita menantikan kejutan tersebut dengan penuh hasrat dan gairah. Kita juga menginginkan pertolongan dan perlindungan yang luar biasa dariNya.

Demikianlah, tetapi segala sesuatu ada harganya. Hadiah dan anugerah istimewa dari Sang Rabb menginginkan ibadah dan usaha keras dari si hamba.

Dan kesempatan tersebut datang tepat di hadapan kita.

Bukankah kita seharusnya mengarungi bulan-bulan yang seperti samudera kesempatan ini tidak dengan kelalaian, melainkan dengan penuh persiapan, terencana, dan terprogram?

Jangankan kita kaum muslim akhir zaman yang penuh dengan kesalahan, sultannya umat manusia SAW saja menunggu datangnya bulan-bulan suci ini dengan penuh harapan. Agar bisa menemui tiga bulan suci ini, beliau berdoa:

“Ya Allah berkahilah kami dengan bulan Rajab dan Sya’ban, serta sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan! (Musnad 1:259)

Karena sampai ke tiga bulan suci ini dengan menghidupkannya, sampai ke bulan ramadhan dan memuliakannya dengan ibadah, merupakan anugerah luar biasa baik bagi Baginda Nabi maupun bagi umatnya.

Tantangan tokoh-tokoh besar juga besar. Baginda Nabi di setiap waktunya senantiasa memikirkan kebahagiaan dunia dan akhirat umatnya yang akan datang. Beliau juga memikirkan masalah-masalah yang menimpa seluruh umat manusia. Beliau berusaha keras dan berdoa demi turunnya hidayah bagi mereka.

Jembatan Kesempatan

Demikianlah Baginda Nabi SAW, sosok yang memiliki kredit agung serta wibawa mulia di sisi Allah SWT telah menganggap tiga bulan suci serta bulan Ramadhan ini sebagai kesempatan di atas kesempatan. Beliau memusatkan konsentrasinya untuk beribadah dan berdoa di bulan ini.

Para sahabat dan kekasih-kekasih Allah yang meneladaninya juga melakukan hal serupa. Salah satunya adalah Bediuzzaman Said Nursi. Dalam suratnya kepada murid-muridnya, walaupun hidup di bawah siksaan berat ketika tinggal di Penjara Afyon selama 20 bulan, beliau memberikan kabar gembira yang dibawa oleh tiga bulan suci ini:

Lima hari lagi bulan-bulan yang penuh pahala ibadah dan penuh keberkahan yaitu  tiga bulan suci akan tiba. Jika ganjaran setiap kebaikan di luar waktu tesebut hanya bernilai sepuluh, di bulan Rajab nilainya mulai dari  seratus, di bulan Syaban nilainya mulai dari tiga ratus, sedangkan di bulan Ramadhan yang penuh  berkah nilainya mulai dari seribu. Ganjaran di malam-malam jumatnya dimulai dari seribu, sedangkan di malam lailatul qadar bisa mencapai 30.000 kali lipat.

Pasar suci dimana terjadi perdagangan ukhrawi yang memberikan keuntungan berupa banyak faedah-faedah ukhrawi;  serta masyhar atau perkumpulan sempurna bagi ahli hakikat dan ahli ibadah; melewati waktu di madrasah Yusufiyah yang mana satu kebaikan diberi 10 ganjaran ditambah adanya garansi kepada ahli iman berupa ganjaran sepanjang umur sebanyak 80 tahun untuk ibadah  yang dilakukan di dalam tiga bulan ini; tentu saja hal tersebut adalah keuntungan yang amat besar. Seberapa pun besar kesusahan di dalamnya, ia tetaplah bulan rahmat (Sinar ke-14).

Ya Allah! Dapatkah Anda cermati sudut pandang tersebut! Walaupun kondisi beliau sangat kurus, sangat tua, dan sangat sensitif, beliau bertahan dengan ibadah dan doa dalam menghadapi cuaca dingin dan penyakit bertubi-tubi. Tak cukup dengannya, beliau juga diracun. Pahlawan ibadah yang bersabar ini telah menganggap segala macam kesusahan sebagai rahmat, tidak mengeluh, dan tidak mencari-cari alasan. Malahan menyambutnya seakan yang akan datang adalah hari raya!

Karena tiga bulan suci merupakan rantai yang merangkai kesempatan-kesempatan besar seperti itu, ketika ia dihidupkan di bawah kondisi penjara yang amat berat, maka ganjaran dan pahala yang dianugerahkan Allah SWT sepuluh kali lipat lebih banyak.

Dari kabar gembira yang diberikan oleh Ustaz tersebut dapat kita pahami bahwasanya tiga bulan suci, khususnya bulan Ramadhan, setiap hari-harinya, apalagi malam Ragaib, malam Mikraj, malam Nisfu Syaban, dan malam Lailatul Qadar merupakan jembatan kesempatan yang memfasilitasi diraihnya ribuan, sepuluh ribu, dua puluh ribu, bahkan tiga puluh ribu  ganjaran.

Angka-angka ini bukanlah kinayah, melainkan hakikat. Pahala-pahala melimpah dan ganjaran-ganjaran berkali lipat di bulan-bulan suci ini seperti buah jagung yang penuh berkah dimana ia menghasilkan banyak biji atau mengingatkan kita pada promosi toko dimana mereka memberi hadiah tambahan bagi konsumen yang membeli salah satu produk yang dijualnya.

Kita yang memberikan perhatian berlebih kepada promosi-promosi sementara yang ada di dunia, bukankah kita seharusnya memberikan perhatian lebih lagi pada hari-hari dan malam-malam penuh berkah yang menjadi sarana bagi diraihnya rida Ilahi serta dihadiahkannya istana-istana surga yang abadi.

Malam Jumat Pertama di Bulan Rajab

Mari kita mulai menghidupkan tiga bulan suci ini dengan malam jumat pertama di bulan rajab. Setiap ibadah yang dilakukan di malam ini akan ditulis dengan ganjaran pahala lebih banyak seratus kali lipat.

Dalam istilah arab, istilah ini dimaknai sebagai malam yang sangat diinginkan, diharapkan, nilainya agung, anugerahnya melimpah.

Malam ini kemuliaannya ibarat kemuliaan malam saat ditanamkannya benih janin dari Nabi Muhammad di rahim ibundanya yang mana ia menjadi sebab bagi datangnya Rasulullah ke alam dunia ini.

Perhatikanlah!

Doa-doa di malam ini akan dikabulkan. Dalam sabda nabi yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar ra dan Abu Umamah ra, beliau menyebutkan terdapat lima malam dimana doa-doa tidak ditolak:

Ada lima malam dimana doa-doa yang dipanjatkan di malam tersebut tidak ditolak. Doa-doa tersebut akan dikabulkan: malam pertama di bulan Rajab, malam ke-15 di bulan Sya’ban, malam jumat, malam Idul Fitri, serta malam Idul Adha. (Lihat Jalaluddin as Suyuti, Jami’us Saghir, 3/454)

Mari kita manfaatkan kesempatan ini. Mari isi agenda kita dengan program-program untuk mengisi hari-hari dan malam-malam istimewa di dalam tiga bulan suci ini. Mari kita informasikan kesempatan ini kepada keluarga dan lingkungan kita dengan memanfaatkan segala macam sarana dan media sosial. Mari kita motivasi mereka untuk bersemangat dalam meraih keistimewaan-keistimewaan di dalamnya.

Bagaimana Menghidupkan Malam Jumat Pertama di bulan Rajab

Kita sebisa mungkin menghidupkan malam penuh berkah ini dengan doa dan ibadah hingga pagi tiba. Sayangnya di tengah-tengah usaha untuk menghidupkan malam mulia ini, setan dan nafsu akan mendorong mata kita untuk lekas mengantuk. Untuk itu, yang terbaik adalah menghidupkan malam ini di dalam majelis zikir ataupun dalam program yang dikelola bersama oleh masjid. Jika tidak memungkinkan, bisa juga dengan berkumpul di salah satu rumah anggota keluarga ataupun anggota masyarakat yang dirasa memungkinkan. Jika memungkinkan, kita usahakan programnya berlanjut hingga waktu sahur tiba. Dengan teh dan kopi kita coba usir rasa kantuk. Bisa juga menggunakan air dingin ketika memperbaharui wudu kita sehingga diri ini tetap terjaga.

Kita harus merencanakan program untuk menghidupkannya sedari sekarang. Pertama-tama, kita harus menjelaskan urgensi acara ini kepada mereka yang akan hadir. Kita juga harus mengumumkan rangkaian kegiatan apa saja yang akan dijalankan di dalam program. Bahkan kita juga harus memotivasi dan mengingatkan teman-teman yang bertugas memberi pengumuman kepada rekan-rekan lainnya. Kita jangan sampai menyia-nyiakan malam mulia ini dengan kesibukan jalan-jalan, bertamu, dan mengobrol kesana-kemari. Waktu mulia ini hanya akan kita isi dengan taubat, istigfar, salawat, salat, membaca al Quran, doa, zikir, dan wirid.

Ketika menghidupkan malam mulia ini, tidak cukup dengan orang tua, anak-anak dan remaja juga harus dilibatkan. Isi program tidak hanya diperhatikan dari susunan ibadah dan doa-doa yang akan dipanjatkan saja, melainkan jamuan-jamuannya juga perlu dibuat lebih istimewa. Jamuan-jamuannya juga perlu dibuat lebih menarik hati para pesertanya. Untuk menyiapkan hal tersebut, di siang ataupun sore harinya kita perlu berbelanja segala macam persiapannya. Malam penuh berkah ini harus kita sambut layaknya malam hari raya.

Ya, kita harus menangis dan merintih karena kita adalah pendosa, karena ada banyak saudara-saudara kita yang merintih karena ditindas. Akan tetapi, kalbu kita harus penuh dengan kebahagiaan, karena setiap doa akan dikabulkan, setiap taubat akan diterima di malam ini, insya Allah.

Mungkin beberapa orang tidak bisa menghidupkan malam ini semalam suntuk karena ada aktivitas kerja dan sekolah di keesokan hari. Jika memungkinkan, ia bisa mengambil izin atau cuti. Jika tidak, mungkin ia perlu berusaha menyedikitkan tidurnya di malam itu.

Bukankah kita pun terkadang begadang untuk memenuhi kebutuhan duniawi kita?

Apakah kita sebelumnya belum pernah begadang menjaga rekan atau anggota keluarga kita yang sedang sakit?

Apakah sebelumnya kita belum pernah begadang menantikan pesawat pertama lepas landas di bandara?

Apakah kita sebelumnya belum pernah begadang untuk menonton kesebelasan kesayangan kita bertanding di liga champion?

Apakah sebelumnya kita belum pernah begadang karena mengobrol dengan sahabat kita semalam suntuk?

Malam-malam ini adalah malam dimana kesempatan emas bertabur berlian dihamparkan layaknya ganimah. Ia adalah baskom untuk menyucikan diri sekaligus roket pendorong untuk mencapai derajat yang lebih agung.

Mereka yang terlibat dalam acara menghidupkan malam ini harus kita motivasi untuk berpuasa di keesokan harinya, termasuk di dalamnya remaja dan anak-anak. Untuk itu, kita juga harus menyiapkan hidangan sahur dengan menu makanan yang dapat memikat hati mereka.

Ibadah apa saja yang bisa dikerjakan? 

Di malam mulia ini terdapat lima ibadah penting yang dapat dikerjakan:

  1. Taubat dan beristigfar, taubat dan istigfar yang dipanjatkan di malam ini insya Allah akan diterima
  2. Membaca al Quran, khususnya surat-surat istimewa seperti Yasin, al Fath, ar Rahman, al Mulk, dan an Naba
  3. Menunaikan salat sunah, khususnya awwanin, tahajud, taubat, tasbih, dan hajat
  4. Salawat, kita harus banyak mengirimkan salawat kepada Baginda Nabi di malam yang mulia ini.
  5. Berdoa, kita harus memanjatkan doa kepada Sang Rabbi misalnya dengan doa-doa yang terdapat di al Quran dan hadis, jausyan, tauhidname, serta doa-doa yang pernah dibaca oleh sosok-sosok dan wali-wali agung. Terlebih lagi kita harus mendoakan saudara-saudara kita yang sedang terpojok dan dizalimi sehingga mereka dapat selamat dari kesulitan itu.

Kapan kita bisa berpuasa? 

Berpuasa di hari yang berhubungan dengan malam jumat pertama di bulan rajab sangatlah berfadilah. Puasa dijalankan tidak di hari sebelum malam, melainkan di hari setelah malam. Ini karena kalender ibadah dalam satu hari dimulai dengan azan magrib hingga masuk waktu azan magrib berikutnya. Sebagaimana di waktu Ramadhan, kita memulai ibadahnya dengan salat tarawih, baru berpuasa di keesokan harinya. Akan tetapi, karena hari sebelumnya adalah kamis, maka berpuasa di dalamnya juga merupakan perbuatan sunah.

Boleh juga berpuasa hanya di hari jumatnya. Karena kita melakukannya bukan karena sengaja, melainkan karena kebetulan waktu mulia tersebut jatuh di hari jumat yang sebenarnya makruh tetapi dekat dengan halal. Karena waktu mulia ini akan selalu jatuh di hari jumat, maka tidak ada pilihan lainnya. Untuk itu, bagi mereka yang tidak bisa berpuasa di hari kamis, maka berpuasa di hari jumat tidaklah makruh. Bagi mereka yang menghendaki, sebagaimana bisa berpuasa di hari kamis, jumat, dan sabtu, ia juga bisa berpuasa di hari jumat dan sabtunya.

Demikianlah kawan! Mari segera undang kawan-kawan kita untuk memuliakannya.

Sebagaimana yang Anda ketahui, penginspirasi juga akan meraih pahala dari amal yang dilakukan oleh orang yang terinspirasi darinya. Siapa yang tahu barangkali lewat pengumuman yang Anda lakukan akan menjadi sebab bagi diraihnya pahala di seantero dunia.

Diterjehkan dari artikel berjudul: Biri bine bedel günler Geliyor!|Penulis: Cemil TokpInar.| www.tr724.com

fatih-yurur-kNSREmtaGOE-unsplash

Keutamaan Sepuluh Malam Pertama Zulhijah

Sepuluh Hari Pertama Zulhijah Bagaikan Ramadhan Kecil

10 malam pertama bulan Zulhijah yang dibahas dalam Al Quran di awal surat al Fajr:

وَلَيَالٍ عَشۡرٍۙ

“Demi malam yang sepuluh” (QS 89:2) adalah sebuah khazanah spektakuler bagi kehidupan ibadah dan doa kita. Hari-hari yang penuh keberkahan tersebut pada tahun ini akan jatuh bertepatan dengan tanggal 1 Juli 2022 dimana hari Idul Adha yaitu tanggal 10 Zulhijah 1443H akan jatuh pada tanggal 10 Juli 2022, insya Allah.

Baginda Nabi SAW yang menjelaskan keutamaan dari hari-hari tersebut telah memberikan kabar gembira kepada kita:

عن أبى هريهرة رضي الله عنه, عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: ما من ايام احب الى الله تعالى أن يتعبد له فيهن من أيام عشر ذى الحجة, وان صيام يوم يعدل صيام سنة, وقيام ليلة كقيام سنة

“Tidaklah ada hari yang paling disukai oleh Allah swt, dimana Dia disembah pada hari itu kecuali, sepuluh hari bulan Dzulhijjah. Puasa satu hari di dalamnya sama halnya dengan puasa satu tahun. Ibadah, shalat malam sekali pada malamnya seperti shalat malam selama satu tahun pula.” (HR Tirmizi, Kitab Shaum, no. 52 dan Ibnu Majah, Kitab Siyam, no.39).

Artinya puasa yang dijalankan di hari-hari mulia tersebut satu harinya setara dengan berpuasa selama 365 hari masehi. Apa mungkin kita tidak tertarik dengan promosi indah dan manis tersebut? Demikian juga dengan keutamaan malam-malamnya dimana ia menjadi tambahan motivasi lainnya. Satu salat malam di salah satu malamnya setara dengan salat malam setahun penuh.

 

Puasa di Hari Arafah Setara dengan Seribu Hari Puasa

            Sekali lagi sebuah kalimat motivasi luar biasa dari Sang Nabi:

مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ وَلَا أَحَبُّ إِلَيْهِ الْعَمَلُ فِيهِنَّ مِنْ

هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنْ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالتَّحْمِيدِ

Artinya, “Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan amal saleh di dalamnya lebih dicintai oleh-Nya daripada hari yang sepuluh (sepuluh hari pertama dari Dzulhijjah), karenanya perbanyaklah tahlil, takbir, dan tahmid di dalamnya” (HR Ahmad, Musnad Ahmad 1/257).

Bacaan tasbih adalah subhanallah, tahmid adalah alhamdulillah, tahlil adalah la ilaha illallah, sedangkan takbir adalah Allahu akbar.

Posisi hari Arafah di antara 10 hari ini benar-benar istimewa. Di tempat lain terdapat hadis luar biasa lainnya:

“Ketika hari Arafah datang, rahmat Allah SWT bertebaran. Tidak ada hari dimana manusia yang dibebaskan dari api neraka lebih banyak dari hari itu. Barangsiapa meminta sesuatu kepada Allah baik untuk kepentingan dunia ataupun kepentingan akhiratnya di hari arafah, Allah akan mengabulkannya”

“Berpuasa di hari arafah seperti berpuasa selama seribu hari (Targhib wat Tarhib, 2:460)

Berpuasa di siang hari serta mengisi malam-malam tersebut dengan ibadah akan menjadi sarana bagi diraihnya ampunan dan pahala yang besar.

 

Malam tersebut setara kemuliaannya dengan Lailatul Qadar, Nisfu Syaban, dan Malam Mikraj

Bediuzzaman Said Nursi ketika menyampaikan keutamaan sepuluh hari pertama bulan Zulhijah dari berbagai hadis mengatakan kalimat ini:

Sepuluh malam ini, dengan Al Quran bersumpah atasnya “Wal fajr wa layaa lin ‘asyr (QS al Fajr 89:1-2), oleh karena perhatian besar yang diberikan kepadanya maka malam tersebut memiliki nilai yang sangat agung sebagaimana mulianya malam Lailatul Qadar, Nisfu Syaban, dan Malam Mikraj. Karena berkat rahasia haji, atas nama dunia Islam, ribuan jamaah haji yang datang dari segala penjuru memiliki hubungan dengan semua entitas semesta, di satu sisi membuat mereka yang sibuk dengan amal salih di malam-malamnya kemudian memiliki bagian atas kebaikan-kebaikan makbul dan doa-doa yang dipanjatkan untuk umat Nabi Muhammad SAW oleh para jamaah haji tersebut (Kastamonu Lahikasi, surat ke-7).”

Pada hari itu jutaan mukmin berangkat ke tanah suci. Sebagian dari mereka bertawaf mengelilingi Kabah, sebagiannya menumpahkan air matanya di depan Raudhah Mutahharah, sebagiannya ber-sa’i, sebagiannya salat di Maqam Ibrahim, sebagiannya lagi memohon ampunan di Multazam. Sedangkan di hari arafah, semua jamaah haji datang dan berkumpul di Padang Arafah. Mereka berlindung di dalam rahmat Rabb-nya dengan kalimat-kalimat talbiyah “labbaik, allahumma labbaik!”

Demikianlah, dengan membayangkan kondisi di musim haji seperti itu kita berharap dapat meraih keutamaan maknawi. Marilah kita beribadah dengan harapan doa kita bisa masuk ke dalam doa-doa yang dipanjatkan oleh para jamaah haji, insya Allah

 

Kita Harus Memanfaatkannya Seakan Ia adalah Ramadhan Kecil

Untuk memanfaatkan sepuluh hari yang mulia ini, pertama-tama kita tidak boleh mengabaikan penunaian salat lima waktu kita. Karena tidak ada satupun ibadah sunah yang dapat menggantikan posisi ibadah wajib. Kita harus meningkatkan semangat untuk bisa bergabung dalam salat jamaah dan memberi perhatian lebih pada ibadah-ibadah kita serta menunaikannya dengan penuh khusyuk.

Sebisa mungkin siang hari saat berpuasa, waktu yang ada kita isi dengan membaca al Quran, istigfar, salawat, zikir, dan doa. Sebagaimana di bulan Ramadhan, marilah kita undang rekan, tetangga, dan handai tolan untuk berbuka puasa di rumah kita. Hal itu selain mengingatkan mereka tentang kesunahan puasa zulhijah juga sebagai dorongan motivasi agar mereka turut serta memuliakannya.

Jika kita tak mampu rutin mengerjakannya maka di hari-hari mulia ini marilah kita menggeliat demi meraih ampunan Ilahi dengan mengerjakan salat sunah dhuha, awwabin, tahajud, dan hajat. Bahkan dengan menjadikan ampunan dan rida ilahi sebagai tujuan utama, kita harus memanfaatkannya sebagaimana kita memanfaatkan sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Bagi yang tidak mampu menjalankannya sepuluh hari penuh setidaknya menguatkan tekad untuk bisa berpuasa di hari arafah dan sehari sebelumnya (hari tarwiyah) serta mengisinya dengan ibadah-ibadah lainnya.

Dalam sepuluh malam tersebut, khususnya di malam tarwiyah, arafah, dan hari raya, terdapat tempat istimewa bagi mereka yang menghidupkannya: Membaca seribu surat al ikhlas di hari arafah dan jangan lupakan keutamaan takbir tasyrik dari salat subuh hari arafah hingga hari keempat hari raya (tanggal 9-13 Zulhijah).

Diterjemahkan dari artikel Cemil Tokpinar pada laman:

https://www.yeniailem.com/zilhiccenin-ilk-on-gunu-sanki-kucuk-ramazan/#.XSMi8ugzbDc

casey-horner-432428-unsplash

Al Qulubud Daria (Kalbu yang Merintih)

“Al Qulubud Daria (Kalbu yang Merintih)”

Tanya: Dalam rangka belajar adab memohon dan berdoa kepada Allah serta untuk senantiasa berada dalam keadaan bertawajuh kepadaNya, buku kumpulan doa yang bernama Al Qulubud Daria terlihat amat penting peranannya dimana ia berhasil mengisi kekosongan itu. Akan tetapi, walaupun kita bisa membaca huruf-huruf Al Quran, kita masih belum mampu memahami makna sebagian besar wirid dan zikir yang terdapat di buku tersebut. Terkait hal ini, apa nasihat Anda untuk kami?

Jawab: Al Qulubud Daria bermakna kalbu penuh linangan air mata yang mengetuk pintu Allah, dimana pintuNya adalah satu-satunya tempat untuk berlindung; kalbu yang bersedekap, menunduk, membungkuk di pinggir pintuNya, yang mengemis dan memohon kepadaNya; kalbu yang membuka isi di dalamnya; kalbu yang mencurahkan satu per satu segala masalah yang membebaninya; serta kalbu yang merintih karena terbakar dan dibakar. Untuk merangkum semua makna ini barangkali dapat digunakan istilah “Kalbu yang Meratap”. Buku ini dirangkum dari kitab doa sebanyak tiga jilid yang bernama Majmuatul Ahzab karya Gumushanevi Ahmed Ziyauddin Efendi yang diklasifikasi ulang.

Sayyidina Gumushanevi dan Majmuatul Ahzab

Almarhum Ahmed Ziyauddin Efendi adalah ulama di periode akhir Usmani. Beliau lahir pada tahun 1813 di Desa Emirler, Kecamatan Gumushane. Beliau tidak hanya sibuk dengan ilmu-ilmu zahir. Di waktu yang sama, beliau juga menuntut ilmu-ilmu batin dan berhasil meraih ijazah di dua bidang tersebut. Sayyidina Gumushanevi merupakan salah satu Syeikh dari Tarikat Naqsyabandiyah Khalidiyah, beliau mendedikasikan hidupnya untuk ilmu dan irsyad. Pada tahu 1893 beliau kembali ke rahmatullah di Kota Istanbul dengan meninggalkan puluhan karya.

Salah satu karya beliau yang paling dikenang adalah Majmuatul Ahzab, sebuah karya setebal kurang lebih dua ribu halaman. Sayyidina Gumushanevi menyiapkan karyanya ini bersama murid-muridnya dengan perhatian yang amat besar. Berkat kerja kerasnya, ia berhasil mengumpulkan ratusan wirid dan zikir yang diamalkan oleh puluhan kekasih dan wali-wali Allah. Dalam kitabnya tersebut, dijelaskan nama hizib[1], penulisnya, kapan dan bagaimana ia dibaca. Misalnya, terdapat istigfar pekanan yang biasa dibaca oleh Imam Hasan Basri, dimana istigfar tersebut dibaca harian dimulai dari hari jumat. Selain itu, di kitab tersebut juga terdapat bagian hizib, wirid, zikir malam, doa, istigfar, istiazah, tasbih, tahlil, salawat, dan qasidah bertajuk ‘usbuiyah/pekanan’ yang dibaca oleh para sultan alam maknawi seperti Sayyidina Ali karamallahu wajhah, Usamah r.a., Muhyiddin Ibnu Arabi, Abu Hasan Syazili, serta Imam Jafar as Sadiq dimana di dalamnya terdapat doa yang dibaca setiap hari selama seminggu.

Majmuatul Ahzab adalah kitab doa yang tak pernah lepas dari tangan Bediuzzaman Said Nursi. Demikian dekatnya beliau dengan kitab ini, karya bernilai tinggi yang tebalnya kurang lebih tiga kali mushaf ini diselesaikan setiap lima belas hari sekali. Aku juga beberapa kali mendengar penjelasan mengenai pentingnya membaca majmuatul ahzab dimana ia menjadi salah satu rukun dalam Profesi Nur. Ini artinya, Sang Penulis Nur, menyisihkan waktunya kurang lebih sebanyak 5-6 jam setiap hari untuk menyelesaikan pembacaan kumpulan ini dan demikianlah beliau menyibukkan dirinya dengan wirid dan zikir.

Di sini aku ingin menyampaikan sebuah kenangan yang mungkin keluar dari topik pembahasan kita: Ada salah satu tokoh alim agung yang juga ahli kalbu yang sangat kagum pada bagaimana uslub Ustaz memahami, menjelaskan, menguraikan, dan menyebarkan hakikat-hakikat iman. Ia menyampaikan bahwasanya risalah nur penulisannya amatlah sulit, merupakan karya-karya yang sangat berharga, dimana karya tersebut tak mungkin bisa ditulis hanya dengan membayangkannya saja. Ia juga menjelaskan bahwasanya karya tersebut hanya dapat digandakan dan disebarkan jika ia bersandar pada sumber yang amat kuat. Dalam setiap kesempatan yang didapatnya, ia selalu menyampaikan penghormatannya kepada Sang Penulis Nur serta kepada setiap pengabdian iman. Kemudian ada satu orang yang menunjukkan kitab Majmuatul Ahzab kepada alim tersebut serta menyampaikan bahwasanya Ustaz tak pernah lepas darinya. Sang alim kemudian berkata: “Kini aku tahu apa sumber kuat tersebut. Berarti Bediuzzaman memiliki hubungan yang amat serius dengan Rabbnya. Hubungan Ustaz dengan Allah SWT amatlah kuat. Oleh karena Ustaz tidak pernah mengendurkan tawajuhnya kepada Allah serta tidak pernah lalai dalam menjaga hubungan dengan Rabbnya, maka Allah SWT senantiasa mengokohkan kedudukannya serta menganugerahinya berbagai ihsan ilahi. “

Ya, dari manapun Anda melihat Ustaz, Anda akan menyaksikannya sebagai suatu prasasti yang sempurna. Ia tidak berkata:”Aku mengabdi kepada iman, tak apa aku ada cela dalam wirid dan zikirku!” atau “Aku mendedikasikan diriku kepada zikir dan tafakur, tak apa aku agak tertinggal di bidang meninggikan kalimat Allah!” ataupun “Aku akan mengerjakan pekerjaan ini dengan sempurna, tak apa aku agak kendor di bidang itu!”. Beliau hidup sebagai manusia yang seimbang. Beliau menganut prinsip seimbang di semua lini. Maka beliau pun mempraktikkan pembagian waktu dan pemanfaatan umur kehidupan dengan baik. Beliau tidak pernah berlaku sia-sia, tak ada waktu kehidupannya yang kosong. Beliau senantiasa memenuhi waktu dan umur kehidupannya sehingga tidak ada yang kosong. Untuk itu, tidak ada satupun tugas yang berkaitan dengan penghambaan yang diabaikan. Beliau tidak pernah menunda untuk membaca wirid dan zikir hariannya. Sebagaimana beliau menuntaskan pembacaan kitab Majmuatul Ahzab, beberapa bagian doa dari kitab tersebut semisal Jausyan, Wirid Naqsyabandi, Dalailun Nur, Sakinah, Munajat Uways al Qarani, Doa Ismu Azam, Munajat al Quran, Tahmidiyah, serta Khulasatul Khulasah dikumpulkannya menjadi sebuah hizib. Beliau berharap agar mereka yang tidak mampu membaca kitab doa ini dari awal hingga akhir setidaknya dapat mengamalkan hizib ini. Mereka yang mencintai dan mengamalkan nasihat-nasihatnya dari masa itu hingga masa ini pun  senantiasa mengamalkan hizib ini, sekarang pun demikian, di masa yang akan datang pun mereka tetap harus kontinyu dalam mengamalkannya.

Karena wirid dan zikir merupakan nutrisi terpenting bagi kaum mukminin yang bermujahadah di jalan ilayi kalimatullah (usaha untuk meninggikan kalimat Allah). Wirid dan zikir adalah tanda serta isyarat dari kedekatan hubungan seorang hamba dengan Allah SWT. Seorang manusia yang meyakini kekuatan Allah, meyakini bahwasanya Allah mahakuasa atas segala sesuatu, dan meyakini segala kehendakNya, maka sebagai konsekuensi dari keyakinannya tersebut ia harus senantiasa bertawajuh kepadaNya. Dalam rangka memenuhi segala kebutuhan dan keinginannya, hendaknya ia senantiasa hanya memohon kepadaNya. Seseorang yang berdoa, jika ia mampu mengarahkan segenap sendi dalam kalbunya untuk memohon dan mengemis kepada Allah SWT, maka ia akan melewati jarak yang bersumber dari badan dan jasmaninya. Ia akan meraih kedekatan istimewa dimana tidak ada suatu apapun yang lebih dekat kepada dirinya selain Allah SWT. Allah SWT pun akan memperdengarkan kepadanya segala sesuatu yang layak untuk didengarnya, menunjukkan segala sesuatu yang patut untuk dilihatnya, membimbing lidahnya untuk mengucapkan kata-kata yang pantas untuk diucapkan olehnya, serta mengarahkannya untuk beramal sesuai dengan yang diharapkan darinya.

Diterjemahkan dari artikel: “el kulubud daria yakaran gonuller” 

Website: http://www.herkul.org/kirik-testi/el-kulubud-daria-yakaran-gonuller/ 

[1] Hizib adalah kumpulan bacaan atau doa yang diambil dari al-Qur’an dan hadits yang disusun para wali atau ulama dan diamalkan dengan cara tertentu, dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT.