| Semester 1 | Rencana Merealisasikannya | |
| Buku Lain | Ihya Ulumuddin 1-300 | Ujiankan sebulan sekali (memaksimalkan momen minikamp) |
| Buku Risalah | Nasihat Spiritual / Al Kalimat Lanjutannya (kata ke-14 s.d 23) | Diselesaikan dalam 15 pertemuan sohbet/Diujikan di desember |
| Buku Referensi | Islam Rahmatan Lil ‘Alamin, Cahaya Abadi 1, Rembesan 1 | Diselesaikan di Kamp Semester |
| Talaqqi Bacaan Quran | al Fatihah-Maryam | Diselesaikan dalam semester 1 |
| Tajwid | Makhrajul Huruf dan Mad | Mengundang Ustaz Berkompetensi Qiraah |
| Hafalan | Al Fil, Bacaan Salat: Iftitah, tahiyat, iftirasy, I’tidal, doa qunut, subhana | Dicicil di Minikamp dan Kamp Besar, dicatat saja |
| Terjemah | 1-100 al fatihah sd an nisa | Dibaca habis salat 1 halaman, 1 Agustus |
| Fiqih | Aqidah (?), Fikih Thaharah dan Salat (Fathul Qarib/Safinatun Najah) | Aqidah di Minikamp | Fikih Taharah dan Salat di Kamp Semester |
| Hadis | sd. Bab 25 Perintah menunaikan amanat hlm.217 | Setiap habis salat 2 halaman, 1 Agustus |
| Hafalan Hadist | 5 hadist arbain | Kamp Semester, bisa hafal 2-3 hadits udah bagus |
| Tasbihat | Hafal yang dzuhur | Belajar Membaca dan Membagi Jausyan dalam kegiatan | Disetor saat sudah siap |
| Nonton | Khidir (Khidir Sang Pengetuk Pintu), Korupsi (Bahaya Suap dan Korupsi), Selam, Bismillah, Esrefpasalilar | Satu Semester Sekali |
| Seminar | 1. Generasi Emas | 2. Pentingnya Membaca Buku | 3. Pentingnya Membaca Zikir | 4. Pentingnya Ibadah Sunnah | 5. Ifah dan Takwa | Satu Semester Sekali |
Menjadi Jiwa Berdedikasi
“Menjadi Jiwa Berdedikasi[1]“
Bisakah Anda menjelaskan ungkapan: “Yang aku inginkan bukanlah menjadi bagian dari kemuliaan masa lalu ataupun menjadi bagian dari kesuksesan di masa mendatang; yang aku inginkan hanyalah menjadi bagian dari jiwa-jiwa yang berdedikasi di masa ini”
Mungkinkah bagi kita untuk tidak berharap menjadi bagian dari kemuliaan masa lalu, walaupun sekedar menjadi prajurit rendahannya saja? Ketika membahas masa lalu kita yang amat mulia itu, pikiran kita secara otomatis akan meluncur ke sana. Untuk itu, penyair besar yang juga mengalami masa-masa pahit kemunduran peradaban kita di masa ini, yaitu Mehmet Akif Ersoy berkata:
Aku menatap burung-burung hantu yang meratapi puing-puing peradaban
Kulihat juga tanah air layaknya surga ini sedang berada di musim gugur
Andai Periode Mawar kuketahui, kurela menjadi bulbul
Ya Allah, andai Engkau ciptakan aku terlahir di masa itu!
Ya, siapakah di antara kita yang tidak mau berbagi masa kehidupan dengan Kanuni Sultan Sulaiman?[2] Siapakah dari kita yang tidak mau berada di sisi Yavuz Sultan Selim[3], dimana bersamanya kita menyenandungkan mars Yeniceri[4]? Siapakah dari kita yang enggan untuk mendampingi di sisi kiri ataupun kanan dari sultan-sultan seperti mereka di medan pertempuran seperti Mercidabik, Ridaniye, dan Caldiran[5]. Siapakah dari kita yang tidak suka untuk membusungkan dada kita demi menjadi perisai bagi sultan-sultan seperti mereka. Ya, sejarah cemerlang tersebut senantiasa menjadi fokus otonom alam bawah sadar kita.
Di sisi lain, terdapat janji Sang Nabi dan pengingatan dari para wali, dimana ketika memikirkan masa depan penuh kebahagiaan yang dinanti dengan penuh harapan itu kita pun senantiasa ingin segera tiba di masa tersebut.
Pemikiran yang seperti itu sebagaimana dapat disebut sebagai pendekatan nostalgia; sambil mengeluhkan banyaknya kekurangan di periode masa ini yang penuh kesempitan serta menjemukan, kita seperti seorang pelukis ataupun penyair, singkatnya seperti seniman yang mengkritik subjek-subjek dan objek-objek di hadapannya sembari membandingkannya dengan masa lalu ataupun masa yang akan datang.
Ya, sebagian dari kita barangkali pernah masuk ke dalam pemikiran tersebut. Meskipun hal tersebut bukanlah tugas serta tanggungjawab kita, meskipun hal tersebut dapat mendatangkan arti menawar takdir Ilahi, hal-hal seperti itu tetap dapat mendatangi pikiran kita. Kemudian dengan keikhlasan dan ketulusan yang tersisa, kita pun memperbaiki pemikiran tersebut: “Mohon ampun Ya Rabb, hal tersebut bukanlah perhatian utama kami… Siapalah kami kemudian berhak mengatakan hal seperti itu! Kami hanya berkewajiban mengerjakan tugas dan tanggungjawab kami. Kami tidak turut campur dalam wilayah kuasa RububiyahMu.” Akan tetapi, sekuat apapun tekad kita untuk senantiasa istikamah, sekokoh apapun kita menapakkan langkah kaki, dunia pikiran dan khayalan terkadang membawa kita menuju pemikiran bengkok sehingga hati pun terpeleset olehnya. Segera kami sampaikan bahwasanya hal tersebut layaknya tergelincirnya hati dalam beriman, ia bukanlah dosa yang tak dapat dimaafkan. Barangkali ia adalah keburukan yang tidak berakibat ditulisnya dosa.
Sebenarnya bagi kita maupun bagi orang lain, kejayaan masa lalu bukanlah hal yang tak boleh diimpikan. Semoga masa depan kita pun seiring berkembangnya akar kejayaan akan setara dengan kejayaan masa lalu, insya Allah.
Akan tetapi, saya dengan pendekatan ala Qitmir, tidak merasa layak untuk berharap dapat menjadi seorang Kanuni dan Yavuz yang jaya di masa lalu, ataupun bermimpi untuk menjadi pimpinan bagi sosok-sosok suci yang menjadi representasi pekerjaan ini di masa mendatang. Sebaliknya, saya lebih suka untuk memilih menjadi salah satu unsur kecil lagi sederhana dari kumpulan mereka yang berhizmet pada masa ini. Mengapa demikian?
Karena:
- Kesuksesan di masa mendatang, bersama capaian-capaian keberhasilan juga akan membawa unsur seperti gibah, hasad, serta kebencian. Terdapat ganimah yang dipandang wajib untuk dibagikan. Kecintaan pada pangkat dan jabatan akan menyerang jiwa-jiwa manusia. Ambisi, kebencian, serta kedengkian akan menggelembung. Dari mana Anda tahu? Saya mengetahuinya karena hal-hal itu terdapat pada tabiat manusia. Sejarah manusia telah menjadi saksi bahwa hampir di setiap zaman di masa kesejahteraan dan kebahagiaan yang mengikuti permasalahan dan penderitaan muncul, manusia tidak mampu menjaga kebersihan hati serta ketulusannya. Kemarin mereka yang berada dan berjuang di satu barisan lalu ketika sukses berhasil diraih mereka akan saling hantam satu sama lain demi pangkat dan manfaat pribadi. Keistimewaan yang dicapai di masa sulit satu demi satu akan hilang seiring datangnya keluasan dan kenyamanan. Sebenarnya saya tidak mau hidup di masa pasca hizmet, yaitu di masa kekacau balauan, kebinasaan, dan kemusnahan akan datang, wassalam.
Semoga Allah senantiasa membuat kita selalu berhizmet. Untuk sawerannya, siapapun yang akan membagikannya bagikanlah ia. Buat saya itu tidak terlalu penting. Asal masyarakat jadi bahagia, hidup tenteram dan rukun, itu cukup buat kita. Kalau mereka mau, mereka dapat merekrut kita sebagai buruh tani. Atau mungkin mengasingkan kita ke tempat-tempat terpencil. Sama sekali tidak masalah. Kita bisa pergi ke atas gunung dan hidup zuhud di sana. Maka jika dilihat dari penjelasan ini, maka saya dapat mengatakan: “Yang aku inginkan bukanlah menjadi bagian dari kemuliaan masa lalu ataupun menjadi bagian dari kesuksesan di masa mendatang, yang aku inginkan hanyalah menjadi bagian dari jiwa-jiwa yang berdedikasi di masa ini”
- Kita adalah anak-anak dari masa kini. Tidak mungkin kita masuk ke masa lalu ataupun lompat ke masa depan. Barangkali sebagian dari kita akan menemui masa depan, tetapi yang paling penting adalah hidup dan mengisi masa ini. Artinya kita tidak akan mengatai masa lalu kita sebagai dongeng. Tidak juga melihat masa depan sebagai mimpi di siang bolong. Atau dengan ungkapan lain: masa lalu bukanlah pemakaman raksasa; demikian juga masa mendatang, bukanlah negeri para gergasi[6]. Memang bukan, tetapi untuk menyiapkan masa depan yang setara dengan kejayaan masa lalu hanya dapat dilakukan dengan mengisi hari ini dengan sebaik-baiknya. Untuk itu, dengan gambaran ini, mereka yang pada hari ini bangkit dan duduknya senantiasa dihiasi dengan pikiran hizmet, hulubalang kecil yang kedipan matanya diperuntukkan hanya untuk hizmet dan bukan untuk pikiran lainnya, mereka itu lebih baik dibandingkan para raja dan penguasa di masa lalu. Bahkan dapat dikatakan jika mereka bisa lebih baik daripada para wali, para kutub, bahkan para ghauts.
- Orang-orang yang berhizmet dalam periode waktu dan kriteria tertentu bisa jadi membawa kebanggaan di dalam jiwa-jiwanya. Kebanggaan tersebut dapat menyapu bersih pahala-pahala dari pekerjaan baik mereka di periode tersebut. Untuk itu, seorang muslim sebaiknya sehari setelah meraih sukses, seperti halnya pergi bermigrasi setelah waktu asar lewat, maka pergi berpisah dari dunia ini adalah yang terbaik untuknya. Ya, waktu itu adalah waktu paling tepat untuk berdoa: “Ya Allah, ambillah amanahmu (nyawaku) ini!”
Dengan pemikiran demikianlah aku kemudian berkata: “Yang aku inginkan bukanlah menjadi bagian dari kemuliaan masa lalu ataupun menjadi bagian dari kesuksesan di masa mendatang; yang aku inginkan hanyalah menjadi bagian dari jiwa-jiwa yang berdedikasi di masa ini”. Saya pun mengucapkannya kembali pada hari ini. Akan tetapi, tetap saja kita tidak bisa mengetahui manakah hal yang paling hakiki. Saya tidak tahu, dan saya juga tidak bisa memutuskan apakah pemikiran ini berasal dari bisikan setan ataukah ilham dari Ilahi. Karena nafsu sangatlah menipu dan setan terkadang mendatangi manusia dari sebelah kanan. Pemikiran seperti itu bisa jadi merupakan hasil pendekatan setan dari sebelah kanan. Allahlah sebaik-baik yang Mahamengetahui kebenaran.
[1] Diterjemahkan dari artikel https://fgulen.com/tr/fethullah-gulenin-butun-eserleri/prizma-serisi/fethullah-gulen-prizma/11647-fethullah-gulen-adanmis-ruh-olabilmek di akses pada tanggal 4 Oktober 2019, pukul 10.45
[2] Kanuni Sultan Sulaiman dikenal di barat dengan julukan Suleiman the Magnificent. Dia adalah sultan kesepuluh Usmani. Dia adalah sultan terlama selama sejarah Usmani, memerintah dari tahun 1520 hingga wafatnya pada tahun 1566, atau 46 tahun (hampir setengah abad). Masanya adalah salah satu masa paling cemerlang dari Usmani. Kepemimpinannya dibantu oleh Perdana Menteri brilian seperti Ibrahim Pasa dan Rustem Pasa sedangkan di bidang agama ada sosok seperti Seyhul Islam Ebussuud Efendi.
[3] Di Barat dikenal dengan julukan Selim The Grim. Terkenal dengan kisah bagaimana beliau turun dari kudanya saat perjalanan dalam menakhlukkan Kesultanan Mamluk di Mesir. Saat dimohonkan untuk naik kuda oleh Panglimanya dikarenakan semua pasukan kelelahan karena turut turun dari kuda, ia menjawab:”Bagaimana aku bisa naik di atas punggung kudaku sedangkan di depan kita terdapat Baginda Nabi SAW yang berjalan kaki memimpin pasukanku.” Beliau adalah ayah dari Kanuni Sultan Sulaiman.
[4] Yeniceri adalah korps elit dari pasukan infanteri Kesultanan Usmani. Yeniceri dikenal sebagai model pasukan modern pertama di Eropa. Diperkirakan Yeniceri dibentuk di masa Sultan Murad I (1362-1389)
[5] 3 perang tersebut adalah 3 fase pertempuran Usmani dengan Mamluk
[6] Jembalang: raksasa besar yang suka makan orang (KBBI)
HAK HAMBA
“Hak Hamba”
Apa definisi hak hamba?
Hak hamba adalah sebuah istilah yang luas. Segala bentuk pelanggaran baik terhadap badan maupun harta benda orang lain, dimana pelanggaran materi akan berhadapan dengan hukum pidana, sedangkan yang berhubungan dengan kalbu dan jiwa akan berhadapan dengan hukum perdata. Pelanggaran hak hamba yang paling besar adalah pembunuhan. Pembunuhan berarti mengakhiri hak hidup orang lain, memutus hubungan seseorang dengan segala sesuatu di alam semesta, menyudahi hak seorang hamba untuk menyembah dan beribadah kepada Sang Pencipta, serta menjadi penghalang terjadinya syukur terhadap nikmat rahmani dan terjadinya tafakur akan karya-karya Ilahi.
Untuk memudahkan memahami cakupan dalam definisinya, berikut contohnya dalam kehidupan:
- Menggunakan barang tanpa pengetahuan dan izin dari pemiliknya
- Merampas, mencuri, korupsi
- Menunda pembayaran hutang di saat mampu membayarnya
- Menipu dalam jual beli (takaran, timbangan, kualitas, kuantitas)
- Tidak menghargai dan menghormati ayah dan ibu
- Gibah, fitnah, mencela orang lain
- Tanpa hak mencederai, melukai, dan membunuh orang lain
- Menghalangi orang lain untuk mempelajari agamanya ataupun menjalankan perintah agamanya
Islam memberi perhatian besar kepada hak-hak manusia serta melindunginya. Setiap muslim harus menunjukkan rasa hormatnya kepada hak-hak individu orang lain, tak peduli apapun agama dan suku bangsanya. Setiap muslim juga harus memperhatikan dengan seksama agar dirinya tidak melanggar hak orang lain. Karena satu-satunya persoalan dimana para syuhada yang bebas dari pertanyaan pun akan dilakukan perhitungan atasnya serta membuat semua orang gemetar di hari kiamat nanti adalah hak hamba.
Terkadang hak kita sebagai manusia dilanggar, baik oleh individu ataupun otoritas tertentu. Terkadang kita pun menjadi korban. Demikian juga dengan orang lain, bisa jadi kita pernah mengambil ataupun melanggar hak orang lain. Diambil ataupun dilanggarnya hak kita oleh orang lain sampai kapan pun tidak akan pernah menjadi sarana bagi timbulnya kerugian di pihak kita. Karena kita bisa merelakannya dengan berkata: ”Jikalau ada hak saya yang diambil ataupun dilanggar, tidak apa-apa, saya halalkan, saya relakan.” Dengan demikian haknya pun telah menjadi halal untuk dinikmati pihak lain. Akan tetapi, jika kita yang memakan hak orang lain, maka kita harus meminta kerelaannya secara tersurat. Jika diperlukan kita juga harus membayar apa yang sudah kita ambil tersebut.
Di sini aku ingin menyampaikan satu memori berkenaan dengan topik yang kita bahas. Ayahku adalah orang yang senantiasa berusaha hidup dengan seluruh prinsip Islam. Suatu waktu, pekerja yang membantu ayahku di ladang meninggalkan jasnya di gudang jerami. Bertahun-tahun lewat tetapi orang ini tidak juga mengambilnya. Ayahku tidak pernah lupa kepadanya, sebelum wafat beliau berpesan kepada paman-pamanku “Tolong cari pemilik jas ini, kembalikan ia kepada pemiliknya.” Bahkan di masa-masa sakaratul maut beliau merasakan kepedihan dan kekhawatiran akan terambilnya hak orang lain oleh dirinya.
Ya, hak hamba amatlah penting. Saya hampir selalu berdoa bagi kaum mukminin. Akan tetapi, ketika sampai di bahasan hak hamba, sungguh ia adalah bahasan yang berada di luar kuasa kita. Tidak mungkin kita bisa berbuat sesuatu untuk menolong mereka (yang telah mengambil atau melanggar hak orang lain). Karena tidak jatuh kewajiban berzakat kepada diriku, maka apa saja yang kukeluarkan nilainya adalah sedekah. Walau demikian, saat mengeluarkannya selalu kuniatkan untuk membayar zakat. Akan tetapi, saya yakin jika niat seperti kalimat berikut ini akan jauh lebih tepat: ”Ya Allah! Barangkali aku pernah mengambil ataupun melanggar hak orang lain. Terimalah apa yang aku berikan ini sebagai sedekahnya, biarlah pahalanya mengalir untuk dia.”
Kesimpulannya, mari kita tidak mati dan menghadap kepada Allah SWT nanti dengan membawa hak orang lain. Andai kita tahu siapa pemilik dari sesuatu yang telah kita ambil, hendaknya kita secara langsung memohon keridaanNya. Bagi yang tidak kita ketahui pemiliknya, hendaknya kita bersedekah atas namanya dimana pahala-pahala yang akan mengalir kita niatkan sebagai hadiah untuknya.





