Kita lahir ke dunia ini berkat siapa? Pastinya berkat orangtua kita. Kita dapat tumbuh hingga dewasa sampai sekarang berkat siapa? pastinya berkat orangtua. Jika kita adalah seorang anak yang sering diajarkan orangtua tentang berbuat baik, tentunya pasti orang yang paling harus diutamakan dalam mengamalkan kebaikan adalah kepada mereka berdua, ya mereka adalah ayah dan ibu kita. Jika kita mendurhakai orangtua maka pasti kita akan tahu adzab yang akan diberikan. Dalam ajaran islam, berbakti kepada orangtua merupakan amalan yang paling utama. Dalam menempuh hidup di dunia ini, pastinya setiap orang ingin menjadi orang yang berhasil, di dunia maupun di akhirat nanti kelak.
Lemah Lembut Dalam Bertutur Kata Kepada Orangtua.
Jagalah setiap tutur kata kepada mereka berdua. Senantiasalah berkata secara lemah lembut tatkala berbicara dengan keduanya dan jauhilah berkata dengan nada tinggi, apalagi dengan kata-kata yang kasar. Kepada bos tempat kerja atau pimpinan saja berbicara dengan sopan santun, seharusnya ketika berbicara kepada orangtua lebih sopan lagi.
Membantu Meringankan Pekerjaan Rumah.
Siapa yang tahu apa saja pekerjaan orangtua ketika di rumah? Untuk yang belum tahu, mulai dari urusan kebersihan rumah, kerapihan rumah, urusan perut, dan lainnya sebagai yang kalau disebutkan pastinya banyak. Apalagi seorang ibu yang hampir setiap hari tugas hariannya berada di rumah. Jika kita bertanya kepada ibu kita tentang aktivitasnya di rumah pasti dia akan bingung menjawabnya. Kenapa bingung? Karena pekerjaan di rumah sangatlah banyak. Apakah ibu kita akan mengeluh akan pekerjaannya yang banyak? Tentu tidak, tetapi dia akan sangat senang jika anaknya mau membantu dalam menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan rumahnya.
Gampang-Gampang Di Suruh Membantu Orangtua.
Jika orangtua memerintahkan sesuatu kepada kita, yang mana perintah itu mudah untuk dikerjakan oleh kita, maka janganlah menolak atau menunda-nunda perintah tersebut jika memang kita tidak memiliki permasalahan atau urusan lain. Jika orangtua memerintahkan sesuatu kepada kita, yang mana perintah itu mudah untuk dikerjakan oleh kita, maka janganlah menolak atau menunda-nunda perintah tersebut jika memang kita tidak memiliki permasalahan atau urusan lain.
Dulu waktu kita masih kecil, kita meminta apa saja kepada orangtua (selama itu baik buat kita) pastinya orangtua tidak akan menolaknya begitu saja. Sekarang kita yang sudah menjadi dewasa ketika orangtua meminta sesuatu atau meminta tolong masihkah mau menolak?
Senantiasa Bersikap Sabar dan Sopan Santun.
Tidak hanya sekedar lemah lembut dalam tutur kata, tetapi kelakuan kita haruslah juga sopan santun terhadap mereka. Semisalnya memjawab salam kepada mereka ketika mereka pulang dari suatu tempat, mencium tangan mereka jika hendak pergi ke suatu tempat dan lain-lain. Jauhilah sikap keterlaluan dan kurang ajar kepada mereka berdua.
Perbanyak Interaksi dengan Orangtua.
Jika kita perlu teman untuk mengobrol maka mereka pun juga membutuhkan teman untuk mengobrol. Teman terbaik mereka ketika mengobrol adalah anak-anak mereka. Sempatkanlah untuk mereka berbicara ria, menanyakan tentang keadaan, dan lainnya.
Tidak harus menatap mukanya langsung, via telepon juga sudah cukup bagi mereka. Dengan mendengar suaramu yang jauh disana mereka sudah cukup merasa senang.
Menjaga Silaturrahmi dengan Orangtua Ketika Sudah Dewasa.
Dengan kedatanganmu ke rumah orangtua, kapanpun dan dimanapun itu merupakan sebuah hadiah yang terbaik bagi mereka, apalagi dengan membawa kesuksesan dan prestasi tentunya kesenangan orangtua akan bertambah. Ketika sudah mulai dewasa maka jangan pernah tinggalkan orangtua begitu saja. Mereka akan merasakan rindu yang sangat jika tidak bertemu dengan anaknya dengan kurun waktu yang lama.
Mendoakan Mereka Di Setiap Ibadah.
Sudahkah kita mendoakan orangtua hari ini? Jika belum maka doakanlah mereka yang sudah mendoakan di setiap malam katika kita sedang tertidur pulas di atas kasur.
Tidak menyia-nyiakan Kerja Keras Orangtua.
Namun apa daya masih banyak anak yang maih membolos ke sekolah, menghambur-hamburkan uang, malas belajar, dan lain sebagainya. Sudah sepatutnya sebagai anak untuk tidak menyia-nyiakan itu semua dengan begitu saja. Orangtua akan senang jika usaha mereka dalam mencari nafkah tidak sia-sia berkat prestasi dan kesuksesanmu. Sudah sering kita temui anak yang tidak menghargai perjuangan orangtuanya dalam mencari nafkah dan menafkahi anak mereka, menyekolahkan, memberikan makan dan pakaian.
Berilah Hadiah Terbaik Untuk Mereka.
Orangtua kita sudah memberikan banyak untuk kita, sekarang apa yang dapat kita berikan kepada mereka, carilah yang terbaik untuk mereka. Memberi hadiah bisa berbagai macam, bisa dalam berbentuk barang bisa juga dalam bentuk sebuah yang tidak berbentuk, misalkan prestasi atau kesuksesan ketika sudah dewasa. Hadiah itu tidak harus mahal ataupun susah, cukuplah orangtua itu bangga kepadamu maka itu merupakan sebuah hadiah.
Bersikap Sabar Dalam Merawat Orangtua.
Ini dipicu oleh kondisi kesehatan yang mulai sudah tidak prima, terkadang semakin rentanya seseorang maka ia akan menjadi lebih sensitiv dan cepat marah. Dalam masa-masa ini kita harus menyikapi dengan sabar dan berusaha untuk menahan diri. Layaknya orangtua kita yang bersabar dalam membesarkan kita ketika kita masih kecil, mereka pun sabar dalam menghadapi kebandelan anak mereka.
Dengan mendengar dan melihatnya langsung kita dapat berpikir bahwa orangtua kita semakin lama semakin bertambah usia mereka, mereka akan kembali lagi ke masa yang mana akan rewel kembali, seperti anak kecil.
Mungkin dari ini semua marilah kita untuk tidak lupa akan jasa-jasa mereka dalam menghidupi kita, memberi semangat kita ketika sedang berjuang, mendoakan kita setiap malam, dan yan paling terpenting ialah tidak mungkin kita bisa hidup di dunia ini tanpa ada mereka berdua, ayah dan ibu.
Sang pujangga besar Mehmed Akif Arsoy seringkali datang ke Masjid Sultan Ahmed untuk menunaikan salat Subuh. Setiap kali beliau datang ke masjid, beliau selalu melihat seorang lelaki tua sedang menangis di sudut ruangan. Suatu hari, lelaki tua itu menceritakan pengalamannya kepada beliau yang membuatnya sangat tersentuh. Lantas beliau menjelaskan bagaimana percakapannya dengan lelaki tua tersebut.
“Setiap harinya saya selalu datang ke masjid untuk menunaikan salat Subuh. Secepat apapun saya tiba, saya selalu melihat seorang lelaki tua yang tengah duduk di sudut masjid dan terus menangis . Rambut dan jenggotnya sudah beruban dan ekspresinya terlihat sedih dan putus asa. Ia terus menangis sampai-sampai saya tidak bisa menyaksikan ia tidak menyucurkan air mata meskipun hanya semenit. Saya tidak bisa menahan diri selain bertanya-tanya mengapa lelaki tua ini menangis seperti itu. Suatu pagi, saya mendekatinya dan bertanya “Mengapa Anda menangis tersedu-sedu? Haruskah seseorang kehilangan harapan akan ampunan Tuhannya?” Dia menatapku dengan matanya yang keriput seraya berkata:
Jangan memaksaku menjelaskannya Tuan. Hatiku terasa hancur. Aku pun terus memaksanya hingga akhirnya ia berkata : ” Wahai Tuan, saya dahulu adalah seorang pejabat militer di bawah kekuasaan Sultan Abdulhamid. Satu pasukan tentara berada di bawah komando saya. Saya bertugas hingga kematian kedua orang tua. Setelah kejadian duka itu, saya memutuskan untuk mengundurkan diri. Harta yang saya wariskan bagi keluarga cukup banyak. Untuk mengawasi harta tersebut agar tidak disalahgunakan, akhirnya saya berpikir untuk mengelolanya dalam. Oleh karena itu, saya menulis sebuah permintaan kepada otoritas kerajaan. Permintaan tersebut berbunyi ” Kedua orang tuaku telah wafat. Kepemilikan harta dan bangunan keluarga kami sangat besar tersebar di beberapa tempat. Dengan demikian, harus ada seseorang yang mengurusnya. Mohon pertimbangkan keadaan tersebut dalam pemutusan pengunduran diri saya.”
Beberapa hari kemudian, saya menerima surat resmi dari sultan. Kubuka surat itu dengan penuh semangat. Pengunduran diri saya tertolak. Kupikir sangat jelas bahwa Sultan menerimanya secara langsung. Kutulis surat itu sekali lagi lantas kukirim kembali. Naas, hasilnya tetap sama. Akhirnya, saya putuskan untuk menemui Sultan secara langsung dan meminta persetujuan pengunduran diriku. Berbicara perihal Sultan, beliau ialah seseorang yang pemberani. Beberapa waktu silam, saya pernah bekerja bersama asisten pribadi beliau. Ia bercerita beberapa hal mengenai Sultan. “Ketika Sultan melakukan perjalanan menggunakan kereta kuda, orang yang duduk di samping kanan dan kiri beliau merasa takut bahkan untuk bernapas saja.”
Abdulhamid ialah seseorang yang saleh. Karena alasan inilah saya memutuskan untuk menceritakan semuanya secara langsung, semoga Allah mengampuni beliau. Saya bertutur :
“Wahai Yang Mulia, dengan tulus hamba meminta Anda untuk menerima pengunduran diri hamba, memang beginilah kondisinya. Beliau berhenti selama beberapa menit. Dari ekspresinya dapat kukatakan bahwa Sultan tidak ingin menerima pengunduran diri saya. Untuk alasan inilah saya menjadi lebih sedikit bersikukuh. Lantas Sultan berbalik menatap saya dan dengan amarah beliau berkata “Pengunduran dirimu diterima” seraya menyuruh saya keluar.
Sungguh hal yang membahagiakan. Saya pun akhirnya kembali ke kampung halaman dan mengelola bisnis keluarga. Pada suatu malam, saya mengalami mimpi yang sungguh luar biasa. Kulihat semua tentara Muslim berkumpul untuk diperiksa. Resimen kami yang bertugas bertempur di wilayah timur dan barat diperiksa langsung oleh Baginda Rasulullah.
Rasulullah berdiri de depan Istana Yidiz dan para tentara berbaris dengan sangat teratur tatkala memberi hormat pada beliau. Tampak Sultan Ottoman sebelumnya bersama Sultan Abdulhamid. Sang Sultan berdiri di belakang Rasulullah dengan sikap hormat. Dalam barisan tersebut akhirnya tibalah resimen yang kupimpin dulu. Satuan itu tidak memiliki pemimpin sehingga mereka berbaris dengan sangat kacau.
Melihat hal tersebut, Rasululllah bertanya kepada Sultan Abdulhamid ” Siapakah gerangan pemimpin resimen itu?”
Abdulhamid menjawabnya dengan penuh rasa rendah hati “Ya Rasulullah, pemimpin resimen ini telah mengundurkan diri. Ia terus bersikeras sehingga kami putuskan untuk menyetujui surat pengunduran dirinya.’
Beliau menjawab : “Kami juga menerima pengunduran diri bagi mereka yang telah memberikan pengunduran diri kepada Anda.”
Si orang tua tersebut mengakhiri ceritanya dengan berkata :” Sekarang beri tahu, apakah saya harus menangis atau tidak?
Sesungguhnya, Rasulullah selalu berjalan di setiap langkah menuju Allah. Apabila seorang hamba ingin menerima dukungan beliau, kerjakanlah tugas sebaik mungkin.
Kita berkewajiban untuk menyampaikan kebenaran (al-haq) yang kita dengar. Kita juga bertanggung jawab untuk menyampaikan apa yang kita petik dari pengalaman hidup kita (ibrah untuk orang lain). Merupakan kewajiban bagi kita menyampaikan manfaat hidayah yang kita dapat ke orang lain. Ini lah tugas kemanusian, ini lah tugasnya seorang muslim. Setiap orang bertanggung jawab dan wajib menyampaikan hal-hal yang didengarnya atas nama kebenaran dan realitas, atas nama Al-Quran, juga atas nama islam kepada hati siapa saja yang membutuhkannya. Itu adalah misi untuk menyampaikannya kepada orang lain yang telah dibebankan kepada anda oleh Allah SWT. Misi ini juga merupakan makna dan pancaran dari misi profetik, yang telah dipercayakan kepada mereka yang telah menjadi yang terbesar, paling terhormat dan paling dermawan dari semua manusia. Semoga Allah SWT memungkinkan kita untuk meraihnya dengan sukses.
Jika sesuatu yang kita dengarkan, hal-hal yang kita pelajari tidak bisa bermanfaat bagi orang lain, jika perilaku kita tidak membawa kita pada hasil, jika tidak ada rencana untuk mencapai hasil dalam perbuatan kita maka kita melakukan hal yang sia-sia. Itu berarti kita telah membuang-buang waktu dan menghabiskan waktu kita dengan sia-sia. Mempelajari sesuatu memiliki arti dan tujuan. Mendengarkan sesuatu memiliki arti dan juga tujuan. Jika memperhatikan adalah arti mendengarkan, kemudian melakukan sesuatu yang muncul sebagai hasil dari mendengarkan ini adalah ekspresi (hasil) dari tujuan ini. Makna memahami sesuatu bukanlah dengan tujuan tidak melakukan apa pun. Memahami sesuatu hal adalah mampu mengaplikasikan apa yang kita pahami, mencapai sesuatu yang lain dari apa yang kita pahami dan mampu menarik kesimpulan lain. Mengapa kita menyebut Allah SWT? Mengapa kita menyebut Nabi Saw? Mengapa kita menyebut Al-Quran? Mengapa kita membuktikan bahwa dunia diciptakan dan menunjukkan Kebesaran Allah? Mengapa kita mengambil kepemilikan dari asbab dan memberikannya kepada Allah atau mencoba melihatnya dan mencoba untuk mematahkan lain yang bertentangan dengannya? Tujuan kita adalah untuk membuat pengetahuan tentang Allah berakar di dalam diri kita. Kita memiliki tujuan dalam semua ini untuk membawa hati mereka yang membutuhkan cahaya itu. Semoga Allah memberikan kita tujuan ini!
Jika kita mendengarkan dan memahami tujuan ini, Allah SWT akan memberikan dan membuat kita mencapai hasilnya. Ini adalah hukum-Nya dan kita berharap dan memohon belas kasihannya agar ia melimpahkannya kepada kita. Rasulullah Saw telah berubah menjadi bara setelah dia memahami Wajibul wujud dan Quddus. Ia telah menyempurnakan pembelajarannya dari alam semesta dan memahami kandungannya ini melalui Alquran dan akhirnya ia tidak bisa berdiam diri. Kemanapun ia menghadap, “Allah” lah yang ia katakan. Dia berdakwah dalam penderitaan dan cobaan tanpa henti.
Setiap individu yang mengambil pelajaran kebenaran dari Rasulullah akan menjadi sekeping api. Tanah gelap dan waktu diterangi bersama mereka, mencapai cahaya. Hati yang gelap tercerahkan bersama mereka, kuburan yang diduga gelap juga akan diterangi mereka. Orang-orang mulai menjalani kehidupan seperti surga di sini dan di akhirat. Ribuan penderitaan dan cobaan sedang dipertahankan. Namun, orang-orang yang beriman semuanya akan bahagia. Mereka percaya bahwa mereka akan hadir di hadapan Allah dan mereka akan bahagia dengan kebahagiaan surga. Selama Allah ada, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Ribuan penderita, ribuan orang yang menanggung musibah pada zaman Rasulullah, mereka tetap mengatakan “Allah” dan “Rasululullah.” Mereka memutuskan untuk bertahan dengan keimanannya. Kita melihat keluarga Yasir yang merupakan salah satu dari golongan yang pertama kali beriman. Mereka telah mencapai cahaya islam dan kemudian beberapa rintangan muncul di hadapan mereka. Ketika ada orang tersesat, tidak ada yang mengatakan kepada mereka mengapa memilih jalan itu. Tidak ada yang mengatakan mengapa kamu berjalan di jalan yang berkelok ini? Tapi begitu ia mulai istiqamah dalam hidupnya, maka ribuan rintangan, ribuan halangan akan muncul di hadapannya.
Keluarga Yasir datang ke Madinah dari tempat yang jauh, tanpa pelindung dan terlantar di Madinah. Mereka bekerja untuk seseorang dan berusaha mencari nafkah. Dia mengambil seorang wanita dari tuannya. Sumayyah adalah seorang wanita Islam yang terhormat. Dia adalah wanita Syahid Islam pertama dan dia telah melahirkan seorang anak yang terhormat. Ammar yang menjadi syahid di depan Sayidina Ali. Ammar Agung, Amar bin Yasir.
Keluarga yang kuat, yang telah mengambil hikmah kebenaran dari Rasulullah, mulai berputar di sekitar cahaya islam. Mereka telah memutuskan untuk tetap bertahan dalam keimanannya walapun bila ada musibah atau api yang akan membakar mereka. Namun, manusia memiliki batas ketahanan, sampai pada titik dimana dia tidak bisa lagi menanggungnya. Ketika penyiksaan terhadap mereka mencapai tingkat tertentu yang tidak dapat mereka tahan, Rasulullah saat itu lewat disana: Tangan kaki dan kepala Yasir dicelupkan kedalam air yang mendidih, Yasir diseret dengan tali yang diikatkan di kakinya. Mereka melakukan hal yang sama kepada wanita itu tanpa malu. Mereka menyiksanya dengan penyiksaan yang sama. Mereka melakukan hal yang sama kepada anak muda Ammar. Ketika penyiksaan mencapai tingkat yang ekstrem, ketika Rasulullah lewat, Yasir tidak tahan dan berkata: “Wahai Rasulullah”. Dia sedang menunggu bantuan. Mungkin, dia mengharapkan Rasulullah untuk mengangkat tangannya berdoa untuk mereka, meminta sesuatu dari Allah, semoga yang menyiksa ini dikutuk oleh Allah dengan bala-Nya. Rasulullah menjawab: “Sabar, wahai keluarga Yasir” Tapi sabar ada batasnya, Bisakah mereka bertahan lebih dari itu? Ya, mereka tetap bertahan dengan keimanannya, siksaan seperti dalam neraka, dalam penderitaan, dia melihat mereka dengan senyum pahit, mereka memutuskan untuk bertahan.
Beberapa hari kemudian Yasir dibunuh di depan mata istrinya. Iya dibunuh dengan berbagai bentuk penyiksaan yang di luar akal. Istrinya tidak hancur, seorang wanita pemberani yang mendapatkan keyakinan sejati dari beberapa ayat yang telah turun, dengan beberapa ayat yang telah ia dapati dan berbalik kepada Allah dan tidak menghianati keyakinannya ia memutuskan untuk bertahan dengan keimanannya. Saat kepala dimasukkan ke dalam air panas rambutnya rontok dan kepala botak yang muncul. Tapi perhatikanlah, bahwa wanita hebat itu lagi-lagi berkata: “Tiada Tuhan selain Allah Muhammad adalah Rasulullah”. Hal-hal yang menusuk tubuhnya membuatnya berbicara, dan dia terus-menerus mengatakan “Allah”. Dari beberapa riwayat yang dijelaskan tentang penyebab kematiannya, dari seluruh riwayat dikatakan penyiksaannya semuanya sungguh mengerikan. Penyiksaan berupa mengikatnya pada hewan, merenggangkan kakinya. Mereka mengatakan bahwa mereka membunuhnya seperti ini. Dikatakan juga bahwa Abu Jahal menancapkan tombak di dadanya yang mulia. Ada yang mengatakan bahwa beliau meninggal karena setelah kepalanya dicelupkan ke dalam air mendidih dan daging wajahnya terkelupas. Terlepas dari penyebab kematiannya, kami melihatnya saat dia berkata: “Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Nya” dengan sepenuh hati.” “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Surat Al-Ankabut 69). Allah beserta orang-orang yang berbuat baik, yaitu mereka yang beribadah seakan-akan melihat-Nya dan tidak akan berpaling dari-Nya.
Mereka melakukan penyiksaan yang sama kepada anaknya. Besi panas ditempel di dadanya, tetapi dia berdiri kokoh bagaikan gunung. Entah bagaimana dia bisa berdiri di hadapan Rasulullah dengan perasaan penyesalan yang serius karena pepatah bahwa dia mundur padanya dengan setengah hati. Dengan menangis ia berkata: “Aku hancur ya Rasulallah.” Itu adalah jamaah yang terhubung ke Allah dan Rasulullah sedemikian rupa. Itu adalah jamaah yang telah menghadapi segala macam cobaan dan bahaya untuk menjalani apa yang mereka yakini, untuk mendorong orang lain untuk menghidupinya dan untuk berdakwah ke orang lain. Jika jamaah yang berbaris bershaf seperti di belakang sahabat melawan kesesatan, kekufuran, dan hujatan di abad ke-20, mendengar hal yang sama, menjalani hal yang sama, dan menunjukkan kesabaran dengan cara yang sama dengan pertolongan dan anugrah Allah. Jamaah itu, sekaligus mereka juga akan melihat mentari yang telah terbit untuk para sahabat. Musim seminya akan lebih cerah dari pada hari-hari surga, alam kuburnya akan lebih cerah dari pada dunia. Pasti akan menemukan inayah dan kelembutan Allah dengan sendirinya. Allah memberitahu kita dengan bersumpah: “Mereka yang melakukan jihad di jalanku, Saya meminta mereka berjalan dalam jalan yang beragam, membimbing mereka dalam berbagai cara, dan sebagai hasilnya Aku membuat mereka mencapai rahmat dan bimbinganKu. Jangan lupa bahwa Allah bersama orang-orang yang ihsan.” Allah bersama mereka yang mengembangkan iman yang mereka miliki, terus beramal dengan cara yang kondusif bagi keyakinan yang maju dan tidak meninggalkan jalan-Nya.
Semoga Allah Yang Maha Kuasa menjaga kita dalam suasana ilahi dan membuat kita berhasil. Semoga Allah SWT menganugerahkan kita cinta dalam berdakwah apa yang kita dengar kepada orang lain. Semoga Dia melindungi kita dari bencana yang tidak dapat hikmah setelah kita meninggalkan masjid.
Menjelaskan kepada orang yang lain hal yang telah kita pelajari adalah syiarnya orang mukmin, syiarnya orang muslim. Bermalas-malasan ini adalah sifatnya orang-orang kafir.
Semoga Allah melindungi kita dari sifat-sifat orang kafir, dan melengkapi kita dengan ciri-ciri orang beriman.
Mengambil langkah di jalan Allah dengan niat untuk berjuang di jalan Allah dan untuk kebaikan umat manusia lebih diberkati daripada segala sesuatu di dunia.
Apa Arti Kata “Menjadi Sadar akan Tanggung Jawab”?
Para ahli telah mendefinisikan tanggung jawab sebagai akuntabilitas dan kewajiban seseorang terhadap kewajiban tertentu seperti keyakinan, praktik, perilaku, tindakan, dan ucapan. Nyatanya, menyadari tanggung jawab adalah salah satu kualitas terpenting yang membedakan manusia dengan hewan, karena manusia adalah makhluk hidup yang memiliki kecerdasan, kemauan bebas, tanggung jawab, dan keyakinan. Orang yang beriman adalah orang yang bertanggung jawab. Dia memiliki tanggung jawab terhadap Allah, Nabi yang mulia dan saudara-saudari Muslim. Terkadang tanggung jawab ini memanifestasikan dirinya sebagai upaya di jalan Allah dan terkadang sebagai perilaku yang baik.
Semua Muslim diwajibkan untuk menepati janji mereka kepada Allah dan berperilaku dengan cara menyadari tanggung jawab mereka. Jadi, janji apa yang kita buat untuk Allah ini? Jika kita merenungkan janji yang kita buat kepada Allah, kita perlu menyadari Allah menjadi Illah kita, dan tentang alasan penciptaan kita yaitu penyembahan dan pelayanan, dengan itu kita akan memiliki pemahaman yang lebih baik tentang tanggung jawab kita. Allah SWT menjelaskan ini dengan ayat berikut: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.” (al-Baqarah 2:286).
Seseorang yang menyadari tanggung jawabnya tidak akan pernah melupakan ayat tersebut, malah akan bertindak sesuai dengannya. Karena ayat ini memberikan rambu-rambu bagi orang yang ingin mengabdi pada agamanya, ayat ini juga menjelaskan sebuah dekrit penting: Seorang manusia bertanggung jawab terhadap hal-hal yang dititipkan kepadanya.
Sudah menjadi hal yang jelas, iman adalah berkat terbesar yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Rasa syukur yang sejati atas anugerah iman hanya dapat ditunjukkan dengan membawa berkat ini kepada jiwa yang membutuhkannya. Aspirasi dan perasaan ini adalah tanggung jawab terbesar seorang mukmin. Tugas mulia yang dicontohkan oleh para sahabat Nabi pada suatu waktu, kini telah ditempatkan di pundak orang-orang beriman saat ini sebagai berkah dari Allah. Tentu saja, mengambil peran sebagai Sahabat adalah tugas yang sulit tetapi juga merupakan tugas yang paling mulia.
Seorang mukmin yang sadar akan tanggung jawabnya adalah orang yang tulang punggungnya berderak di bawah beban berat sebagai hamba dan menjalani kehidupannya dalam dua rangkap dalam pemahaman makna ibadah. Karenanya, Nabi kita yang mulia bersabda: “Jika kamu tahu apa yang saya ketahui, kamu akan banyak menangis dan lebih sedikit tertawa.” ‘Nabi yang mulia mengerang di bawah beban pengabdian dan tanggung jawab. Bagaimana dengan kita? Seberapa sadar kita akan tanggung jawab kita?
Kita tidak boleh lupa, seperti yang dijelaskan dengan indah oleh Fethullah Gülen Hocaefendi (diucapkan sebagai “Hodjaefendi,” sebuah kehormatan yang berarti “guru yang dihormati”), “Kita dituntut dengan tanggung jawab untuk menganugerahi dunia kita dengan semangat baru yang segar, terjalin dari cinta iman, cinta sesama manusia, dan cinta kebebasan. Kita selanjutnya telah diberi tanggung jawab untuk menjadi diri kita sendiri, terhubung dengan prinsip dari tiga cinta ini, dan untuk mempersiapkan tanah untuk tunas, akar murni dari pohon surgawi yang diberkati, sehingga akan dipelihara dan tumbuh di tanah cinta yang subur ini. Hal ini tentu saja bergantung pada keberadaan pahlawan yang akan bertanggung jawab dan melindungi nasib negara dan sejarah, agama, tradisi, budaya, dan segala hal sakral yang menjadi milik rakyat; Hal ini akan bergantung pada orang-orang hebat yang penuh dengan kecintaan pada sains dan pengetahuan, berkembang dengan pemikiran konstruktif, tulus dan saleh tanpa batas, patriotik dan bertanggung jawab, dan, oleh karena itu, selalu teliti dalam bekerja, bertanggung jawab, dan saat bertugas.
Terima kasih kepada para pahlawan ini dan upaya tulus mereka, sistem pemikiran dan pemahaman yang layaknya pohon berbuah akan selalu tumbuh bersama rakyat kita; rasa mengabdikan diri kepada orang lain dan komunitas akan menjadi terkenal; pemahaman tentang pembagian kerja, pengelolaan waktu, dan membantu serta berhubungan satu sama lain akan dihidupkan kembali; semua hubungan rakyat dengan pemerintah, majikan dengan karyawan, tuan tanah dengan penyewa, artis dengan para pengagumnya, pengacara dengan klien, guru dan murid akan menjadi aspek yang berbeda dari kesatuan secara keseluruhan; semua ini pasti terjadi setidaknya sekali lagi dan semua harapan kita dari masa lampau akan menjadi kenyataan, satu demi satu. Kami sekarang hidup di era di mana impian kami terwujud dan kami percaya bahwa dengan pengaturan waktu yang tepat, setiap tanggung jawab zaman ini akan tercapai pada saat harinya tiba.”
Karenanya, kita harus mengesampingkan kenyamanan dan kesenangan duniawi, menyucikan diri kita dari pikiran setan seperti “bodo amat” dan memenuhi tanggung jawab kita.
Dalam menjalani kehidupan di dunia ini, seharusnya setiap manusia tahu dan paham akan karakter kehidupan di dunia yang sedang ia jalani. Sehingga dalam menjalani alur kehidupanya, ia merasakan arti disetiap detiknya. Oleh karena itu penting bagi setiap manusia untukmengetahui hakikat hidupnya di dunia ini yang bersifat sementara.
Di dalam kehidupan dunia ini, kita terkadang mendapatkan apa yang kita inginkan tetapi tak jarang juga mendapatkan kesulitan, tetapi dari sini kita pahami bahwasanya hakikat dunia adalah ujian, yang kadang kali kita menemukan yang mudah dan ada juga yang sulit yang mungkin banyak membutuhkan perjuangan dalam menjawabnya, ketika kita tahu karakteristik dunia maka kita tidak akan banyak keluh kesah melainkan yang ada lebih banyak belajar memahaminya.
Ibnu Athoillah assakandari seorang tokoh sufi di dalam kitabnya al hikam ketika mensifati dunia beliau mengatakan :
لا تَسْتَغْرِبْ وُقوعَ الأَكْدارِ ما دُمْتَ في هذهِ الدّارِ. فإنَّها ما أَبْرَزَتْ إلّا ما هُوَ مُسْتَحِقُّ وَصْفِها وَواجِبُ نَعْتِها
“Jangan engkau merasa heran atas terjadinya kesulitan selama engkau berada di dunia ini. Sebab memang begitulah yang patut terjadi dan yang menjadi karakter asli dunia.”
Hakikat dunia memang begitu adanya, karena memang kehidupan di dunia yang bersifat fana’ atau sementara merupakan bentuk ruang ujian yang penuh dengan persoalan – persoalanya yang harus dijawab dan diselesaikan dengan memulainya dengan selalu mencoba menjawabnya lalu belajar memahami persoalanya sehingga dapat terjawab dengan baik, maka dari sini tak heran banyak ulama’ kita yang mengatakan bahwasanya dunia merupakan tempat berjuang bukan tempat rohah atau istirahat untuk berleha- leha saja, karena sejatinya waktu istirahat semuanya hanyalah di akhirat, diibaratkan bahwasanya seorang mukmin ketika ia hidup di dunia sejatinya ia sedang menanam sebuah tanaman yang mana ia harus menjaganya dengan baik sehingga ia akan dapat memanenya dengan hasil yang baik di akhirat kelak.
Hal ini juga senada apa yang dikatakan oleh Ja’far Asshadiq yang mengatakan : “Siapa yang meminta sesuatu yang tidak diberikan oleh Allah, sama dengan melelahkan dirinya sendiri.” Ketika ditanya meminta apa itu? Ja’far Asshaddiq menjawab, “Kesenangan di dunia.”
Dengan pahamnya kita hakikat atau karakteristik dari kehidupan dunia ini , maka dikit sedikit kita akan biasa membangun rasa terus belajar dan bersyukur dengan tidak mengeluh apa yang kita nilai memiliki kesulitan , keresahan apa yang ada di dunia ini kelak akan menjadi nilai plus di dalam kehidupan akhirat, dan perlu diketahui juga bahwasanya para nabi merupakan manusia yang paling berat cobaanya supaya kita bisa mengambil suri tauladanya lewat kesabaran mereka dalam berjuang untuk menanamkan nilai – nilai kebaikan untuk menegakkan hal yang benar.
Artikel merupakan karya kiriman dari Sdr. Ashari Asrawi.
Setiap orang memiliki hubungan dengan orang lain mulai dari yang paling dekat hingga yang paling jauh. Dalam kaitan ini, ia memiliki respon sesuai dengan tawajjuh yang diberikan karena itu hubungannya beragam. Karena hubungannya beragam, respon terhadap tawajjuh ini pun juga beragam. Hubungan orang tua kepada anak-anaknya sangat kokoh, kuat dan merupakan fitrah. Jadi tawajjuh mereka sesuai dengan itu dan tingkat pengorbanan mereka untuk anak-anak mereka pun sesuai dengan itu (tinggi). Bahkan hubungan seorang anak kepada ibu dan ayahnya, bisa saja berubah. Seorang anak tidak memberikan perhatian pada pamannya seperti halnya ia memberikan perhatian kepada ayahnya. Ia tidak menunjukkan hubungan dan perhatian yang sama kepada istri pamannnya seperti halnya terhadap pamannya. Perhatian dan respon yang ditampilkan semuanya berbanding lurus.
Kita memahami bahwa saat kita bergerak dari lingkaran jauh hingga mendekati ke dalam, hubungan meningkat, begitu juga tawajjuh. Dan ini membutuhkan respon terhadap peningkatan perhatian pada tingkat itu. Dengan kata lain kita selalu diwajibkan menunjukkan perhatian dan rasa hormat kepada orang di sekitar kita. Kita pun harus membalas kembali perhatian dan rasa hormat yang diberikan kepada kita. Karena tanggapan ini mungkin didasarkan pada langkah-langkah kita, penilaian kita atas peristiwa di dunia -pada saat yang sama- itu didasarkan pada kriteria Ilahi yang berada di atas ukuran, penghargaan, dan nilai-nilai kita. Sikap saling santun yang ditampilkan di antara umat islam sesuai dengan perintah Allah, meskipun hukum yang melekat memainkan peran yang menarik di sini. Kita melakukan sikap tawajjuh sesuai dengan perintah kehendak Allah. Dalam agama Islam disebut “mencintai karena Allah” dan kita juga menghentikannya dalam batas yang ditunjukkan oleh Allah dan kita menyebutnya “membenci karena Allah”. Kita mencintai karena Allah, kita bermuamalah dan bertukar hadiah satu sama lain karena Allah, dan karena Allah juga kita memutuskan hubungan. Jadi kita harus menaggapi orang-orang sesuai dengan kedekatan mereka dengan kita, sesuai dengan tawajjuh mereka.
Sebagai seorang muslim, untuk mengevaluasi dan mengatasi ini dalam timbangan Allah akan menjadi bentuk respon paling bijaksana dan paling tepat untuk mendapatkan ridha Allah. Hadiah yang akan anda berikan satu sama lain, hubungan kedekatan yang akan anda bangun antara satu sama lain, harus menemukan nilai dalam kriteria yang ditetapkan oleh Allah dan harus disajikan dengan nilai-nilai seperti itu. Semoga Allah membawa kita ke pemahaman seperti ini. Di satu sisi, saya ingin menyampaikan dengan poin-poin ini, yang merupakan dasar dari ide tersebut. Kita pada dasarnya wajib memberikan sikap saling santun seperti itu kepada orang-orang di sekitar kita dari yang paling dekat hingga paling jauh. Anda akan menanggapi orang yang anda cintai -kalau boleh diungkapkan dengan bertukar hadiah- berilah hadiah terbesar yang membuat Allah juga senang, berilah hadiah yang dapat membuat anda dan orang yang anda cintai menjadi hubungan yang abadi serta tercatat di akhirat nanti.
Hadiah terbesar adalah perbuatan yang anda lakukan hanya karena Allah. Dan yang terpenting adalah menjelaskan Allah yang Maha Kuasa dalam konteks pemahaman, filosofi dan kriteria zaman ini. Dengan begitu anda memberikan hadiah tentang ma’rifatullah kepada orang lain.
Hadiah terbesar seorang istri kepada suaminya adalah memberikan hadiah ini kepadanya. Ini juga akan menjadi hadiah terbesar yang akan suami berikan kepada istrinya. Ini juga akan menjadi hadiah seorang anak kepada ayahnya dan juga hadiah seorang ayah kepada anaknya. Hubungan yang anda bangun dengan orang-orang di sekitar anda, bertukar pikiran dalam hal pengetahuan tentang Allah SWT, menjelaskan pemahaman tentang Allah. Ini akan memberi anda keabadian.
Nabi Muhammad Saw yang telah memahami kebijaksanaan ini dengan mendalam, ia diperintahkan: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik…” (An Nahl; 125). Allah memerintahkan kepada Rasul-Nya SAW untuk mengajak orang-orang ke jalan-Nya dengan menghindari ribuan jalan yang bathil, dalam konteks pemahaman era tertentu dan tingkat ilmu. Ada yang berbondong-bondong ke dakwah ini. Tetapi ketika orang meninggalkan rumahnya, ada di antaranya yang meninggalkan ibu mereka di sana, beberapa meninggalkan suami mereka, beberapa meninggalkan anak-anak mereka, dan beberapanya meninggalkan istri mereka. Mereka meninggalkan orang-orang terdekat dengan mereka untuk mengikuti cahaya ilahi yang abadi yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.
Kita perhatikan Abu Huraira ra. orang hebat yang disebut “Bapak Kucing” oleh Rasulullah SAW atau “Kucing Kabilah Daws” oleh para sahabat. Orang yang luar biasa ini hampir mendengar setengah dari seluruh hadits-hadits Nabi SAW. Ia juga mentransfer unsur-unsur dasar agama kepada kita. Orang Shuffah miskin ini tidak memiliki pakaian untuk menutupi punggungnya, tidak meninggalkan Rasulullah bahkan untuk sesaat. Tetapi ada yang mengganjal di hatinya dan membawanya pulang dari waktu ke waktu. Dia telah menemukan cahaya yang dia cari sebagai kupu-kupu dan berputar di sekelilingnya, tetapi dia memiliki seorang ibu di rumah yang terlepas dari semua desakannya, belum menerima hakikat kebenaran dan melempar dirinya ke dalam api. Dia telah memohon, banyak menangis, agar ia menerima hadiah karunia Ilahi ini, sebagai bentuk perhatian yang paling indah, tetapi ibunya belum menerimanya. Suatu hari dia berkata; “Saya datang kepada Rasulullah, dengan mata menangis. ‘Wahai Rasulullah’ sapa saya. ‘Bisakah anda berdoa untuk ibunya Abu Hurairah agar Allah membimbingnya pada kebenaran!’ Rasulullah mengangkat tangannya dan berdoa, “Ya Allah, berikanlah hidayah kepada ibunya Abu Hurairah! Rasanya senang sekali, saya pun pulang ke rumah dengan hati yang lega. Saya berlari hingga ke depan pintu, ketika itu pintunya tertutup. Ketika saya menyentuhnya ada suara yang mengatakan: “Diam di tempat!” Ketika saya mendengarkan dengan hati-hati, saya mendengar percikan air dari belakang pintu, saya mengerti bahwa dia sedang mandi wajib. Saya masuk setelah ia mengenakan pakaiannya kemudian ia duduk tepat di hadapan saya. Kemudian ia bertanya “Katakan nak, apa yang kamu inginkan?” “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku juga bersaksi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.” Secara jujur dan spontan ia mengatakannya. Saya bangun dan pergi ke Rasulullah sambil menangis kegirangan, menyampaikan rasa terima kasih saya yang terdalam dan saya meminta permintaan; “Ya Rasulallah, Allah mengabulkan doamu, doakan supaya Allah membuatku dan ibuku dicintai orang-orang.” Kemudian Abu Hurairah mengatakan; “Setelah ini, siapapun yang mendengar namaku, maka ia akan memberikan kasih sayang kepadaku.” Oleh karena itu barang siapa yang tidak memiliki perasaan kasih sayang kepada Abu Hurairah, berarti ia memiliki hubungan yang lemah dengan Rasulullah.
Ketika Mekkah ditaklukkan – seperti yang telah saya sampaikan sebelumnya – semua es mencair, gunung-gunung yang akan menambahkan tanah ke tanah melebur menjadi tanah, dan dunia berubah ke dunia yang lain. Mereka yang kejam lagi liar, ladang-ladang berduri itu berubah menjadi padang rumput, burung bulbul mulai bernyanyi. Kemudian, seperti dijelaskan Al-Qur’an: “Dan engkau akan melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah.” (Qs: An Nasr:2). Dan Islam mulai berkembang dan mendapatkan kekuatan secara besar-besaran.
Saat itu ada yang menutup mata, telinga, dan hati mereka menuju cahaya Islam dan Al Quran. Beberapa dari mereka melarikan diri dan mencari perlindungan di Ka’bah. Beberapa seperti Wahsyi pergi dan kemudian datang dan meminta perlindungan (masuk islam). Itu akan menjadi penghinaan bagi sahabat besar seperti Ikrimah -putra kafir besar Abu Jahl- untuk mengatakan namanya sebegai referensi kepada ayahnya setelah ia menjadi seorang muslim. Sampai penaklukan Mekkah, dia adalah musuh utama Rasulullah SAW dan memiliki keinginan untuk membunuhnya. Dia lari dari Mekah setelah penaklukan Mekah. Tetapi istrinya, Ummu Hakim, wanita pintar, memintakan permohonan maaf kepada Rasulullah SAW, yang merupakan pusat pengampunan. Dia berucap: “Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya”
Ketika dia melihat bahwa Rasulullah menerima permintaannya, dia merasa sangat lega dan bertanya-tanya apakah beliau akan memaafkan Ikrimah juga. Dia bertanya: “Wahai Rasulullah, Ikrimah telah melarikan diri. Apakah anda akan menerimanya juga jika dia kembali?” Rasulullah tidak menolak siapapun yang datang ke pintunya, Rasulullah juga akan menerima Ikrimah. Mereka memberikan isyarat mempersilakan. Ummu Hakim sudah memutuskanuntuk pergi hingga ke Yaman. Dia menyebrangi gurun besar itu, berpergian bersama orang-orang yang berbahaya. Kesejahteraan dan kesuciannya juga berkali lipat dalam keadaan bahaya. Namun, dia akan memberikan hadiah kepada suaminya, hadiah kebahagian abadi, karunia Ilahi, Makrifah Ilahi. Dia akan membuatnya mendengar apa yang telah ia dengar, memberinya ilmu apa yang telah ia dapat. Tanpa memberikan ini, hatinya tidak akan merasa tenang. Karena itu dia menanggung banyak penderitaan dan menyampaikan permintaan dari Rasulullah. Sampailah ia ke hadapan suaminya. Ketika suaminya memutuskan untuk naik perahu dan melarikan diri ke tempat yang lain, Ikrimah berkata: “Apakah dia benar-benar menerimaku?” Istrinya menjawab: “Ya, dia menerima. Dia memaafkanmu dan dia sedang menunggumu (masuk Islam).” Dia mengikuti jalan panjang itu dengan suaminya dalam sukacita besar. Ikrimah, komandan agung yang datang ke hadapan Rasulullah, tidak bisa melihat wajah Rasulullah. Bahkan pada hari penaklukan, dia menggunakan pedangnya, dan bahkan pada hari penaklukan, dia telah membantai beberapa sahabat. Tetapi dia ada di hadapan orang yang pemaaf, di hadapan Allah yang berbelas kasih. Dia ada di hadapan Rasulullah. Meskipun dia tidak bisa melihat wajahnya, dia ditutupi dengan rahmat di sekitarnya. Rasulullah memandangnya dari kepala ke kaki. Seolah-olah dia sedang membersihkan dan menghilangkan semua hal yang disebabkan oleh hal yang nista. Ikrimah, yang kemudian mengangkat kepalanya bertanya: “Wahai Rasulullah, wanita ini telah mengatakan sesuatu. Apakah itu benar bahwa Anda memaafkan saya?” “Ya, saya memaafkanmu.”“Baik, terus apa yang anda inginkan dariku?” “Aku menginginkan apa yang Allah inginkan darimu.” Kemudian Ikrimah: “Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan Utusan-Nya.” Ikrimah mengatakan itu dengan sepenuh hati. Sekarang Ikrimah adalah Ikrimah yang lain. “Tolong biarkan aku menghabiskan hartaku dan semua yang kumiliki di jalan dakwahmu, wahai Rasulullah!” katanya. Dia meminta Rasulullah untuk berdoa kepada Allah agar dia menjadi syahid sebagai penebusan atas semua perbuatan jahatnya. Ketika Rasulullah wafat, ia berlari kesana kemari mencari mati syahid. Dalam pertempuran Yamamah, dia bertarung dengan sengit. Banyak sahabat dicincang seperti daging di atas telenan kayu, tetapi Ikrimah kesal dalam perjalanan kembali ke Madinah karena dia tidak menemukan kesyahidan yang dia cari. Setelah wafatnya Rasulullah, betapa banyak tempat yang ia pergi, betapa banyak ia bertempur, tetapi apa yang ia cari tidaklah ia dapatkan. Ketika pertempuran Yarmuk pecah, dia berdiri kokoh tanpa mundur selangkah pun di bawah bendera Rasulullah SAW. Para sahabat menggambarkan adegan itu kepada kami. Pada saat-saat nafas terakhirnya dia berteriak memanggil: “Wahai yang menjabat tangan Rasulullah di Hudaybiyyah, yang berperang Badar di barisan depan, yang bersama dengannya di perang Uhud, kemarilah kalian di bawah bendera Rasulullah, biarlah kita mati tercincang tetapi jangan sampai bendera ini terjatuh ke tanah.” Ya, dia tercincang. Bendera itu jatuh tetapi jatuh ke atas jenazah Ikrimah. Ia bagaikan dalam bentuk daging cincang di atas telenan kayu. Tetapi itu adalah tumpukan daging yang pada waktu itu, mungkin dia terbang ke hadapan Rasulullah dengan sayap hijau. Dia begitu keras kepala sampai pada saat penaklukan Mekah tetapi cahaya telah melelehkan semua yang ada di dalam dirinya dan dia menjadi pengembara ke arah cahaya.
Bayangkan betapa kita sangat membutuhkan pelajaran Al Quran yang sangat bijak, di abad ke 20, ketika gunung-gunung muncul kembali dan lautan menjadi dingin. Dengan hatimu, putar tanganmu menghadap Allah dan memungkinkan dirimu dan kami menyatakan bahwa kita mencari perlindungan kepada-Nya. Semoga Allah melelehkan es kita dan memberi kita antusiasme yang sama. Di bawah nama Rasulullah yang mulia, marilah kita mati di bawah bendera yang berkibar untuk Allah SWT, jangan sampai bendera itu terjatuh. Mari kita kibarkan bendera itu di cakrawala kita. Mari kita berusaha mati dengan mulia. Semoga Allah membantu kita.