mengembangkandiri.com-Biografi-1-768x1203

Biografi Badiuzzaman Said Nursi

mengembangkandiri.com-al-Maktubat-1-768x1203

Al Maktubat

mengembangkandiri.com-al-Lamaat-1

Al-LAMA’AT

mengembangkandiri.com-orang-tua

Membesarkan Hati Orang Tua

Dikabulkannya Doa Seorang Anak yang Membesarkan Hati Orang Tuanya

Ibnu Umar meriwayatkan:

Rasulullah bersabda, Ketika tiga pemuda sedang dalam perjalanan, hujan lebat turun dan mengharuskan mereka memasuki sebuah goa di sebuah gunung. 

Tiba-tiba sebuah batu besar  berguling dan menutup mulut gua. Mereka berdiskusi antara satu sama lain, “Marilah kita masing-masing memohon kepada Allah dengan mengingat amalan terbaik yang pernah kita lakukan (dengan harapan Allah akan menyingkirkan batu di mulut goa).” 

Pemuda pertama berkata, “Ya Allah! Orang tua saya sudah lanjut usia dan saya biasa pergi menggembala (hewan-hewan ternak saya). Sekembalinya menggembala, saya akan memerah susu (hewan ternak) dan membawa pulang susu itu dengan bejana untuk diminum oleh orang tua saya. Setelah mereka meminumnya, baru saya akan memberikannya kepada anak-anak, keluarga, dan istri saya. 

Suatu hari saya terlambat pulang, dan sesampainya di rumah, saya dapati orang tua saya sudah terlelap tidur, saya tidak mau membangunkan mereka. Disisi lain, anak-anak saya menangis mendekap kaki saya (karena kelaparan). Keadaan itu berlanjut sampai fajar menyingsing.  Ya Allah! Jika Engkau memandang amalan tersebut saya lakukan hanya demi ridha-Mu, maka tolong singkirkan batu ini agar kami dapat melihat langit.” Lalu, batu itu bergeser sedikit. 

Kemudian pemuda kedua berkata, “Ya Allah! Engkau tahu bahwa saya telah jatuh cinta dengan sepupu saya, cinta yang dalam seperti yang dimiliki seorang pria dewasa kepada seorang wanita, dan dia mengatakan kepada saya bahwa hasrat saya tidak akan bisa tercapai kecuali saya membawa seratus Dinar (kepingan emas). Kemudian, saya berjuang keras untuk itu, hingga saya berhasil mengumpulkan jumlah yang diinginkan, dan ketika saya sudah di antara di kedua kakinya, dia mengatakan kepada saya untuk takut kepada Allah, dan meminta saya untuk tidak merendahkannya kecuali dengan benar (menikah). Lalu, aku bangun dan meninggalkannya. Ya Allah! Jika Engkau memandang bahwa perbuatan yang saya lakukan hanya demi ridha-Mu, tolong geserkan batu ini.” kemudian, dua pertiga dari batu itu bergeser. 

Kemudian pemuda ketiga berkata, “Ya Allah! Tanpa ada keraguan, Engkau tahu bahwa saat itu saya mempekerjakan seorang pekerja dengan imbalan satu Faraq jewawut (1 Faraq setara dengan 3 Sha, jewawut adalah salah satu jenis makanan pokok), dan ketika saya ingin memberikannya, beliau menolak untuk mengambilnya, lalu saya menabur biji jewawutnya dan hasil panennya saya gunakan untuk membeli sapi dan membayar seorang penggembala. Setelah beberapa waktu, pria itu datang dan meminta uangnya kembali. Lalu saya katakan kepadanya: Lihat dan amatilah sapi-sapi dan penggembalanya itu, lalu ambillah itu karena itu semua adalah milikmu. Beliau heran dan menganggap saya sedang bercanda. Saya jelaskan kepadanya bahwa ini semua bukan sebuah lelucon, semua benar bahwa itu miliknya. Ya Allah! Jika Engkau memandang bahwa amalan yang saya lakukan adalah ikhlas demi ridha-Mu, maka tolong singkirkan batu itu.” Lalu, batu itu tersingkir sepenuhnya dari mulut gua.

Seperti yang dijelaskan dalam Hadits Nabi tersebut, bahwa ketiga pemuda yang tidak berdaya memohon kepada Allah dengan mengingat amalan baik nan tulus mereka, yang menjadi perantara atas mereka dan Allah dalam membuka jalan keluar dari permasalahan pelik mereka. Amalan-amalan dari masing-masing mereka merupakan teladan yang paling mulia dan berbudi luhur. 

Secara spesifik, jika kita memperhatikan amalan yang berkaitan dengan orang tua, kita melihat bahwa melayani orang tua dan menyenangkan hati mereka dapat menjadi jalan dalam membuka tabir misteri dikala dihadapkan dengan masalah tersulit. Allah menerima doa seorang hamba yang tidak pernah lalai dalam mengabdi kepada orang tuanya dan yang lebih mengutamakan mereka daripada anak-anaknya sendiri, dan karena itulah mereka terbebas dari goa.

Apa yang diperintahkan Rasulullah tentang Hak Orang Tua

Hadits Nabi berikut merupakan kisah penuh makna yang menunjukan bagaimana kepekaan Rasulullah dalam memenuhi hak-hak orang tua:

Seorang sahabat datang kepada Rasul Allah meminta izin untuk mengambil bagian dalam jihad. Nabi bertanya (walaupun mengetahui jawabannya), “Apakah orang tuamu masih hidup?” Ketika Sahabat menjawab, “Ya,” dia berkata, “Maka berjerih payah lah dirimu demi mereka (melayani mereka)”

Rasulullah mengetahui bahwa orang tua sang Sahabat masih hidup dan membutuhkan perawatan. Sang Sahabat ingin melaksanakan jihad demi mengagungkan dan menyebarkan pesan dan nama Allah SWT.

Namun, ada kemungkinan terbunuh atau terluka di medan perang. Jihad adalah cita-cita agung yang bertujuan berjuang untuk mengagungkan Nama Allah, cita-cita yang tidak ada cita-cita yang lebih besar dari itu.

Kepada orang-orang yang pernah bertanya, “Ya Rasulullah, amal apa yang setara dengan jihad di jalan Allah?” dia menjawab, “Kamu tidak memiliki kekuatan untuk melakukannya.” 

Pertanyaan itu diulang dua atau bahkan tiga kali, tetapi setiap kali Beliau menjawab, “Kamu tidak memiliki kekuatan untuk melakukannya.” Kemudian Beliau bersabda, “Orang yang berjihad (mujahid) di jalan Allah adalah seperti orang yang berpuasa, berdiri dalam shalat, membaca dan mengamalkan ayat-ayat Al-Qur’an dan tidak menunjukkan kelelahan dalam puasa dan yang terus shalat hingga orang yang berjihad di jalan Allah kembali.”

Meskipun memulai perjuangan seperti itu tidak akan ada padanannya, Rasulullah, dengan mempertimbangkan situasi memprihatinkan orang tua yang sakit, memerintahkan sang sahabat yang meminta izin tadi untuk, “Maka berjerih payah lah dirimu demi mereka (melayani mereka)”

Dalam riwayat lain, Muslim, seorang Sahabat berkata, “Aku berjanji setia kepadamu untuk hijrah dan jihad, mencari pahala hanya dari Allah.” Rasul berkata, “Apakah salah satu dari orang tuamu masih hidup?” Ketika Sahabat berkata, “Ya, keduanya hidup,” Nabi berkata, “Apakah Engkau yakin, Engkau ingin mencari pahala dari Allah semata?” Setelah Sahabat berkata, “Ya,” Rasulullah berkata, “Kalau begitu kembalilah ke orang tuamu dan beri mereka perlakuan yang baik (karena keridhaan Allah ada disini).”

Dalam riwayat yang lain, seorang Sahabat berkata. “Saya pergi meninggalkan kedua orang tua saya dalam kondisi mereka berlinang air mata.” Rasulullah bersabda, “Kembalilah kepada mereka dan buatlah mereka riang gembira karena Engkau sudah membuat mereka menangis.” Jiwa yang malang, yang sudah meninggalkan orang tua mereka, harus kembali dengan lapang dada dan harus membahagiakan orang tuanya karena sudah membuatnya berlinang air mata. Mereka tidak boleh memasrahkan orang tua mereka ke suatu tempat yang hampa pelipur lara seperti panti jompo, dan mereka juga harus mendekap kedua orang tuanya, layaknya dahulu mereka sudah dibahagiakan dan dididik waktu kecil. Menjauhkan kedua orang tua mereka dari rasa perpisahan dan kerinduan, harapan orang tua adalah bisa bersama dengan anak-anak mereka, hidup dengan penuh cinta untuk cucu-cucu mereka, dan hidup dengan penuh kehangatan dalam suatu rumah yang mereka bisa terus berbagi berbagai hal. 

Rasulullah sudah bertanya kepada banyak Sahabat-sahabat yang meminta izin untuk ikut berjihad ataupun berhijrah, tentang apakah orang tua mereka masih hidup atau tidak, dan mempertimbangkan kebutuhan orang tua mereka, rasa kesepian dan kerinduan dalam jiwa mereka, usia dan kelemahan mereka. Alhasil, Beliau mengirim beberapa diantara mereka untuk kembali dan memenuhi kebutuhan orang tua mereka, dan memberikan beragam nasihat kepada beberapa yang lain. Seperti kepada Jahima, yang mendekati Beliau dan berucap, “Wahai Rasulullah! Saya juga berkeinginan untuk ikut berjihad dan saya mendatangimu untuk meminta pendapat tentang hal ini,” Beliau membalas bertanya, “Apakah kamu memiliki seorang Ibu?” Jahima menjawab, “Ya.” Rasulullah membalas, “Lalu tetaplah bersama Ibumu, karena surga ada dibawah telapak kakinya.”

mengembangkandiri.com-jembatan

Kisah Jembatan yang Terbangun Sendiri

Bisakah sebuah jembatan membangun dirinya sendiri?

Saat Imam Abu Hanifah masih muda, datang seorang saudagar majusi mengunjungi kota Basrah untuk berdagang. Si pedagang gemar memprovokasi orang-orang muslim dengan ucapannya, “Aku menyembah api. Api itu nampak, maka aku percaya padanya. Tampakkanlah kepadaku Allah yang kalian sembah itu. Kalian jelas tidak dapat melakukannya karena Dia tidak ada. Bawalah ulama-ulama kalian ke sini dan aku akan membuktikan bahwa Dia tidak ada.”  

Beberapa  masyarakat muslim di wilayah itu menantang si pedagang dengan berkata, “Jika Anda bisa membuat Abu Hanifah sepakat dengan ucapan Anda atau Anda berhasil mematahkan argumen-argumen Beliau, maka kami akan membawakan ulama-ulama ternama ke sini untuk beradu argumen dengan Anda.”

Melihat Abu Hanifa yang masih begitu muda, orang majusi itu meremehkannya dengan berkata: “Seorang anak kecil ini?! Aku tidak akan membuang waktuku dengan mendebat anak kecil!”

Akan tetapi, disebabkan oleh dorongan masyarakat di sana maka si majusi dan Abu Hanifah memutuskan untuk berdebat di masjid esok hari selanjutnya.

Ternyata Abu Hanifah datang terlambat hari itu, sehingga si majusi mengolok-oloknya: “Lihatlah, dimana anak kecil kemarin? dia takut untuk datang ke sini. Aku tidak ingin berdebat dengan anak-anak. Cepat panggil ulama-ulama besar kalian ke sini!”

Semua yang hadir sedikit panik dan khawatir. Tiba-tiba, Abu Hanifah akhirnya datang dengan pakaian yang basah kuyup karena keringatnya.

“Saya mohon maaf karena terlambat! Saya tadi sedang berada di seberang sungai. Tidak ada perahu yang bisa saya pakai untuk menyeberanginya. Maka saya perintahkan pepohonan di tepi sungai untuk berubah menjadi sebuah perahu agar saya dapat menyeberang. Pohon-pohon itu menuruti perintah saya, berubah menjadi perahu, dan saya akhirnya bisa datang ke tempat ini. Itulah mengapa saya terlambat. Saya mohon maaf!”

Sambil tertawa terbahak-bahak, si majusi berucap: “Apakah kalian mendengar apa yang anak kurang waras ini kisahkan kepada kita? Bagaimana mungkin pohon terangkai menjadi sebuah perahu dengan sendirinya?”

Mendengar pendapat orang itu, Abu Hanifah menjawab: “Anda berasumsi bahwa sebuah perahu tidak mungkin dapat dibuat tanpa ada pembuatnya. Lalu, bagaimana mungkin Anda percaya bahwa seluruh semesta bisa eksis tanpa ada pembuatnya?

Masyarakat yang hadir sepakat dengan yang Abu Hanifah jelaskan. Hanya saja, si majusi masih berargumen:

“Lalu, mengapa Allah tidak dapat dilihat? Semua benda yang eksis pasti terlihat.”

Abu Hanifah lalu menanyai orang itu: “Apakah Anda mempunyai akal?”

“Sudah pasti punya,” jawabnya. 

“Kalau begitu tunjukkanlah pada kami!” desak Abu Hanifah.

Seketika dia terpaksa mengakui, “Aku tidak bisa menunjukkannya.”

Balas Abu Hanifah: “Mungkin Anda tidak mempunyainya! Ya, beberapa entitas seperti ruh dan akal tidak bisa kita lihat, tetapi eksistensinya dapat kita rasakan, artinya tidak semua entitas itu harus dapat dilihat oleh mata manusia.”

Demi menunjukkan kesepahaman mereka dengan penjelasan Abu Hanifah, masyarakat  yang hadir menyorakan syahadat dengan lantang.

Sedang lelaki majusi tadi menjadi semakin marah. Dia bertanya: “Allah sedang apa saat ini?”

“Turunlah dari mimbar dan saya akan menjawab pernyataan Anda setelah saya naik ke sana,” balas Abu Hanifah.

Ketika Beliau sampai di mimbar, Abu Hanifah menjelaskan: “Tepat saat ini Allah sedang membuat seorang bodoh sepertimu turun dari mimbar lalu menaikkan anak kecil sepertiku untuk memberi pelajaran kepada semua orang.”

Menyadari kecerdasan Abu Hanifah, saudagar itupun menyerah.

Dia berterima kasih kepada Abu Hanifah dan masuk Islam saat itu juga yang disaksikan oleh semua orang yang hadir.

Apakah Alam Semesta Tercipta dengan Sendirinya, secara Kebetulan?

Ada sistem dan keteraturan dalam tubuh manusia sehingga tidak satupun sel yang dapat bertindak dengan sendirinya. Sistem seperti ini memperlihatkan kesinambungan dan kolaborasi yang sungguh sempurna. Seolah-olah setiap sel memiliki fungsi seperti makhluk yang bernyawa dan cerdas.

Mari kita amati satu buah sel saja sebagai contoh. Jika kita tidak setuju bahwa sel adalah pelayan Al-Qawiy (Yang Maha Kuat), dengan kata lain, sama saja dengan kita setuju dengan pernyataan ini: Setiap sel makhluk hidup dapat melihat dan sadar terhadap tubuh tempatnya menetap dan paham dengan segala aturan dan bahan pembuat tubuh tersebut.

Jika kita amati sistem pencernaan, misal, nampak semua organ dari mulut hingga usus besar bekerja dalam harmoni yang sempurna. Ditambah lagi, berdasarkan hubungannya dengan semesta, sistem tersebut bahkan memiliki mata yang dapat melihat seluruh semesta dan akal yang paham akan struktur, tugas, dan keseimbangan seluruh tubuh.

Jadi bisa dikatakan bahwa, berdasarkan perhitungan ini, sebuah sel harus memiliki akal setingkat jenius dan kekuatan setingkat Tuhan.

Maka, manusia yang menolak adanya Pencipta Tunggal akan jatuh ke dalam situasi bahwa dirinya -diharuskan- menerima eksistensi tuhan yang banyaknya sejumlah seluruh sel di semesta.

Sungguh tubuh manusia itu seperti istana dengan seribu kubah, setiap kubahnya ditopang oleh ratusan batu yang saling mendukung.

Tubuh kita mempunyai kualitas yang ribuan kali lebih menakjubkan daripada sebuah istana termegah sekalipun, seolah-olah ia diperbaharui secara terus-menerus. Jika kita beranggapan bahwa sel-sel yang menyusun tubuh manusia bukanlah pelayan dari Zat Yang Tanpa Batas, maka sebuah sel harus menguasai sel-sel lain dan selalu mengikat mereka. Dengan kata lain, setiap sel harus memerintah sel-sel lain untuk memastikan sel-sel itu berpindah ke tempat yang tepat, serta, di saat yang sama sel itu yang memerintah juga ikut berpindah ke tempat yang menurut sel lain adalah tempat yang tepat.

Jelas hal seperti ini tidak akan pernah terjadi, sebab masing-masing sel akan bergerak berdasarkan pemikiran yang berbeda-beda.

mengembangkandiri-cinta-kekuatan

Cintaku Kekuatan

Kekuatan Cinta

Karya Pembaca: Mahir Martin

“Cinta adalah bagian terpenting dari setiap makhluk. Ia adalah sinar paling cemerlang dan kekuatan paling dahsyat yang dapat melawan dan mengatasi segala hal.”

Ini adalah kalimat yang dikutip dari perkataan ulama dan cendekiawan Muslim Muhammad Fethullah Gulen Hojaefendi yang tertulis pada salah satu buku karangannya.

Cinta yang dimaksud Hojaefendi ini, bukanlah cinta yang berisi roman picisan atau cinta yang mengedepankan nafsu jasmaniyah belaka. Cinta yang dimaksud adalah cinta yang memiliki dimensi yang lebih luas dan dalam.

Dalam kutipan, dikatakan bahwa cinta dapat menjadi kekuatan paling dahsyat yang dapat melawan dan mengatasi segala hal. Artinya, cinta bisa dijadikan alat dan cara yang dapat menyelesaikan segala problematika, dan segala permasalahan yang ada di dunia.

Permasalahan Dunia

Dunia yang kita tinggali adalah memang dunia yang tak lepas dari problematika dan permasalahan.

Setiap zaman memiliki permasalahan yang datangnya bertubi-tubi menghantam dunia kita. Dari waktu ke waktu seolah permasalahan tak pernah berhenti datang ke dalam kehidupan manusia.

Anehnya, manusia itu sendiri yang selalu menjadi aktor utama pada permasalahan yang terjadi. Sayangnya banyak manusia yang tidak menyadarinya.

Menurut ustad Bediuzzaman Said Nursi, setidaknya ada tiga permasalahan besar yang ada di dunia kita saat ini, yaitu kebodohan, kemiskinan, dan perpecahan.

Ketiga permasalahan ini saling berkaitan satu sama lainnya sehingga membuat permasalahan semakin sulit dipecahkan bak benang kusut yang sulit untuk diurai.

Misalnya saja permasalahan kebodohan. Kebodohan bukan disebabkan karena tidak adanya pendidikan, tetapi hakikat pendidikan yang tidak dimaknai dengan benar. Di dalam institusi pendidikan modern sekarang jarang sekali kita dapatkan kecintaan yang mendalam kepada ilmu pengetahuan. Akhirnya, pendidikan hanya menjadi formalitas belaka.

Pendidikan yang hanya menjadi formalitas, pada akhirnya tidak akan mampu  mewujudkan generasi yang hidup dengan rasa cinta. Yang terjadi adalah ilmu pengetahuan hanya dijadikan alat untuk melakukan kerusakan di muka bumi yang diawali dengan rusaknya generasi yang ada di dalamnya.

Hal yang sama terjadi pada permasalahan kemiskinan. Kemiskinan bukan disebabkan karena kekurangan materi atau harta kekayaan, tetapi yang terjadi adalah kemiskinan akhlak atau degradasi moral yang terjadi pada generasi. Akibatnya, nilai-nilai kebaikan yang seharusnya diusung tinggi menjadi barang mahal yang sulit untuk didapatkan. Cinta kepada kemanusiaan yang seharusnya dikedepankan menjadi sebuah utopia yang sulit untuk bisa digapai.

Nilai-nilai kebaikan dan kemanusiaan yang tercermin dari rasa saling tolong-menolong, bantu-membantu, dan saling memberikan perhatian antar sesama semakin jarang dilakukan dan sering terlupakan. Kini, yang selalu dikedepankan adalah hanya ego pribadi dan golongan. Prinsipnya, asal diri sendiri senang dan bahagia, maka tujuan hidup telah tercapai dan tidak perlu lagi memikirkan yang lain.

Begitu juga halnya dengan permasalahan perpecahan, setali tiga uang dengan kebodohan dan kemiskinan. Perpecahan tidak terjadi karena disebabkan adanya konflik atau konfrontasi, tetapi perpecahan terjadi pada dimensi pemikiran, ideologi, dan sudut pandang. Meskipun sekelompok orang berasal dari keluarga yang sama, dari suku yang sama, dan disatukan dalam bangsa dan negara yang sama, terkadang perbedaan pemikiran, ideologi, dan sudut pandang bisa menyebabkan terjadinya perpecahan.

Perpecahan seperti ini hanya bisa diatasi dengan komunikasi, dialog, dan adanya kesepakatan bersama. Perbedaan pemikiran, ideologi, dan sudut pandang harus bisa dipersatukan demi hadirnya sebuah kedamaian dalam kehidupan. Semua itu harus dilandasi dengan rasa cinta perdamaian yang seharusnya ada pada setiap benak masyarakat.

Revolusi Mental

Merujuk pada uraian-uraian tersebut, maka problematika dunia, berupa kebodohan, kemiskinan, dan perpecahan sebenarnya tidak terjadi pada dimensi fisiknya, tetapi terjadi pada dimensi mental. Oleh karenanya, solusi yang tepat untuk mengatasinya adalah dengan adanya revolusi mental.

Revolusi mental yang akan membawa seseorang memiliki rasa cinta terhadap ilmu pengetahuan, cinta kemanusiaan, dan cinta perdamaian.

Ketiga rasa cinta inilah yang akan menjadi kekuatan dahsyat yang bisa melawan dan mengatasi semua permasalahan yang terjadi di dunia saat ini, seperti halnya dikatakan Hojaefendi.

Ketiga rasa cinta itu bisa muncul dari rasa keprihatinan atau kesedihan mendalam terhadap permasalahan manusia di dunia. Keprihatinan ini didasari oleh rasa cinta kita kepada manusia. Jadi, rasa cinta kepada manusia akan menyebabkan timbulnya keprihatinan, dan akhirnya memunculkan rasa cinta terhadap ilmu pengetahuan, kemanusiaan, dan perdamaian.

Dari pembahasan ini, dapat kita pahami bahwa inti dari revolusi mental adalah cinta. Cinta yang memiliki dimensi yang sangat luas dan dalam. Cinta yang mengalir deras dari hulu ke hilir. Cinta yang merasuki semua sendi kehidupan. Cinta yang apinya harus selalu dihidupkan di dalam sanubari masyarakat.

Rasa cinta yang seperti ini akan timbul dari sebuah mental yang mengedepankan rasa cinta kepada Tuhan. Cinta kepada Tuhan yang seharusnya menjadi akar dari sebuah pohon cinta yang memiliki cabang dan ranting yang dialiri oleh rasa cinta. Pohon cinta ini yang akan memberikan buah cinta yang bisa kita nikmati bersama.

Sebuah Refleksi

Muhammad Fethullah Gulen Hojaefendi juga pernah berkata, “Memang benar, tanpa memperhatikan Allah, cinta apapun terhadap obyek apapun akan sia-sia, tidak menjanjikan, patut diragukan, dan tak menghasilkan apa-apa. Di atas segalanya, orang yang beriman harus mencintai-Nya, dan menyukai orang lain hanya karena mereka adalah manifestasi yang penuh warna dan refleksi dari nama dan sifat-Nya.”

Ya, sangat benar yang dikatakan beliau. Rasa cinta yang tertinggi, yang pertama dan utama, adalah rasa cinta kepada-Nya. Rasa cinta inilah yang seharusnya bisa dibangkitkan kembali di dalam kehidupan masyarakat.

Alhasil, cinta memang memiliki kekuatan. Apalagi jika rasa cinta tersebut didasari oleh keprihatinan dan kesedihan yang mendalam atas sebuah permasalahan, maka rasa cinta akan semakin kuat terasa.

Namun, yang membawa kekuatan cinta bukanlah cinta itu sendiri, tetapi cinta yang diarahkan kepada Sang Pencipta. Cinta dari-Nya, cinta untuk-Nya, cinta karena-Nya, dan cinta kepada-Nya.