mengembangkan diri cahaya-abadi-muhammad-1-768x1178

Menjaga Kesucian – Cahaya Abadi Muhammad SAW

Suatu ketika datanglah seorang pemuda yang menemui Rasulullah SAW, para sahabat memang tidak pernah menyebutkan nama pemuda itu. Namun, setelah saya meneliti semua riwayat yang ada saya menemukan fakta bahwa pemuda itu bernama Julaibib r.a.

Berikut ini kutipan lengkap dari hadis yang saya maksud, diriwayatkan dari Abu umamah dia berkata:

“Seorang pemuda mendatangi Rasulullah SAW lalu berkata: ‘Wahai Rasulullah izinkanlah aku untuk berzina!’

Beberapa orang sahabat langsung mengumpat pemuda itu dengan berseru, ‘Yaaa… Yaaah…’

‘Biarkan pemuda itu mendekat.’ pemuda itu pun mendekat dan duduk di hadapan Rasulullah SAW. 

Rasulullah lalu bertanya, ‘Apakah kau senang jika yang berzina itu ibumu?’

‘Tentu tidak!’ saut pemuda itu. ‘Demi Allah aku rela jika Allah menjadikan aku sebagai penebus mu’

 Rasulullah SAW berkata, ‘Demikian pula semua orang tidak ada yang suka jika yang berzina adalah ibu-ibu mereka.’

Rasulullah SAW bertanya lagi, ‘Apakah kau senang jika yang berzina itu putrimu? 

‘Tentu tidak wahai Rasulullah.’ Saut pemuda itu. ‘Demi Allah aku rela jika Allah menjadikan aku sebagai penebusmu.” 

Rasulullah SAW berkata, ‘Demikian pula semua orang tidak ada yang suka jika yang berzina adalah putri-putri mereka.’ 

Lalu Rasulullah SAW bertanya lagi, ‘Apakah kau senang jika yang berzina itu saudarimu?’ 

‘Tentu tidak wahai Rasulullah.’ Saut pemuda itu. ‘Demi Allah aku rela Jika Allah menjadikan aku sebagai penebusmu.’ 

Rasulullah berkata, ‘Demikian pula semua orang tidak ada yang suka jika yang berzina adalah saudari-saudari mereka. 

Lalu Rasulullah SAW bertanya lagi, ‘Apakah kau senang jika yang berzina itu bibimu dari jalur Ayah?’ 

‘Tentu tidak!’ Saut pemuda itu. ‘Demi Allah aku rela jika Allah menjadikan aku sebagai penebusmu. 

Rasulullah berkata lagi, ‘Demikian pula semua orang tidak ada yang suka jika yang berzina adalah bibi-bibi mereka dari jalur ayah. 

Lalu Rasulullah bertanya lagi, ‘Apakah kau senang jika yang berzina itu bibimu dari jalur ibu?’ 

‘Tentu tidak!’ Saut pemuda itu. ‘Demi Allah aku rela jika Allah menjadikan aku sebagai penebusmu.’

Rasulullah SAW berkata, ‘Demikian pula semua orang tidak ada yang suka jika yang berzina adalah bibi bibi mereka dari jalur Ibu.’ 

Rasulullah SAW lalu meletakkan tangan Beliau di tubuh si Pemuda seraya berkata, ‘Wahai Allah ampunilah dosanya. Sucikanlah hatinya. Dan jagalah kemaluannya.’”

Setelah itu si Pemuda sama sekali tidak pernah melirik apa-apa lagi.

Dengan dialog logis seperti ini, Rasulullah SAW, berhasil membuat si pemuda merasa nyaman terhadap Rasulullah, yang kemudian membimbingnya ke arah kebenaran. Rasulullah bahkan mendoakan pemuda itu dengan berkata 

‘Wahai Allah ampunilah dosanya. Sucikanlah hatinya. Dan jagalah kemaluannya.’ 

Sejak saat itu Julaibib r.a. menjadi teladan bagi umat Islam dalam menjaga kesucian dirinya. Namun rupanya, tidak ada seorangpun yang bersedia menikahkan putrinya dengan Julaibib, karena semua orang telah mengetahui betapa bejatnya pemuda itu sebelum masuk Islam. Rasulullah lalu menikahkan Julaibib dengan seorang wanita. Tapi tidak lama setelah pernikahan dilangsungkan, Julaibib gugur sebagai syahid dalam perang pertama yang diikutinya.

Setelah perang usai, Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabat, ‘Apakah kalian kehilangan seseorang?’ 

‘Iya’ jawab para sahabat, ‘Kami kehilangan si Fulan dan si Fulan.” 

Tapi Rasulullah mengulangi lagi pertanyaannya. ‘Apakah kalian kehilangan seseorang?’ ‘Iya’ jawab para sahabat, ‘Kami kehilangan si Fulan dan si Fulan.” 

Namun kembali Rasulullah mengulangi lagi pertanyaannya, ‘Apakah kalian masih kehilangan seseorang?’ ‘Tidak…’ jawab sahabat. 

‘Tapi aku masih kehilangan Julaibib.’ kata Rasulullah.

Para sahabat pun mencari Julaibib di antara para prajurit yang tewas. Tak lama kemudian mereka menemukan jasad Julaibib tergeletak di tengah tujuh mayat prajurit musyrik. Rupanya Julaibib berhasil menghabisi ke-7 prajurit kafir itu sebelum dirinya gugur sebagai. 

Rasulullah lalu mendatangi jasad Julaibib, dan kemudian beliau bersabda, ‘Dia telah membunuh 7 orang ini, lalu musuh membunuhnya. Dia dariku…. dan aku darinya….. dia dariku….. dan aku darinya…..!’ 

Begitulah dengan kecerdasannya Rasulullah SAW telah berhasil menyelamatkan seorang pemuda dari tepi jurang perzinaan dan dosa. 

Bahkan kemudian dalam waktu yang singkat beliau berhasil mengangkat Pemuda tersebut ke ketinggian martabat. Tentu saja hal ini membuat kita takjub. Bayangkan, seandainya semua ahli pendidikan dan psikologi terhebat di dunia berkumpul di Semenanjung Arab, apakah mereka mampu membentuk pribadi-pribadi berakhlak mulia seperti yang telah dilakukan Rasulullah dalam waktu singkat? 

Tentu tidak. Mereka pasti takkan mampu melakukan itu. Bahkan para ilmuwan itu bukan hanya akan gagal mewujudkan pendidikan terbaik dan pekerti yang luhur, namun, juga tidak akan berhasil menerapkan satu atau dua prinsip pendidikan seperti yang Rasulullah terapkan. Pengalaman sejarah telah membuktikan pernyataan ini. 

Rasulullah hidup di sebuah era ketika moral umat manusia begitu busuk hingga merasuk ke dalam diri mereka dan menjadi tabiat mereka. Akan tetapi, Rasulullah ternyata bukan hanya berhasil mengalahkan moral bejat bangsa Arab kala itu, melainkan juga mengubahnya menjadi pekerti yang sangat baik. Sampai kapanpun, umat manusia tidak akan pernah menyaksikan lagi keluhuran akhlak seperti yang dimiliki umat Islam di masa Rasulullah SAW. Sejarah Islam yang panjang jadi saksi yang membenarkan pernyataan ini dan memberi kita begitu banyak contoh. 

Inspirasi Cahaya Abadi Muhammad SAW kebanggaan umat manusia. Hojaefendi

mengembangkandiri.com hand-of-child-holding-a-small-pink-gift-box-2021-08-26-17-04-34-utc

Adil dalam Memberi Hadiah

Memberikan hadiah kepada anak harus  sesuai dengan ukuran dan tingkat usia mereka. Memberi hadiah yang terlalu berlebihan menyebabkan anak memiliki harapan yang terlalu tinggi sehingga melahirkan rasa ketidakpuasan di masa depan, janganlah memberi hadiah terlalu sering kepada anak, tetapi berilah hadiah pada waktu yang tepat dan dengan ukuran yang sesuai, sehingga hadiah yang diberikan sangat berarti bagi anak.

Dalam memberikan hadiah haruslah berlaku adil, jangan sampai ada orang tua yang memberikan hadiah hanya kepada salah satu anaknya saja tanpa memberi kepada anaknya yang lain. Demikian pula dengan memberikan hadiah berlebihan kepada salah satu anak saja sedangkan anak yang lain tidak diperlakukan sama. sebagaimana  Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,

فَاتَّقُوا اللَّهَ، وَاعْدِلُوا بَيْنَ أَوْلاَدِكُمْ

“Bertakwalah kalian kepada Allah dan berlaku adillah diantara anak anak kalian.” (HR. Tirmidzi dan Abu Daud, shahih li ghairihi). dari hadis ini dapat kita pahami bahwa, kita sebagai orang tua harus berlaku adil dalam memperlakukan anak-anak kita dalam hal apapun.

kalau kita lihat berdasarkan pengertian, Kata adil berasal dari bahasa Arab yang secara harfiyah berarti sama. Menurut kamus bahasa Indonesia, adil berarti sama berat, tidak berat sebelah, tidak memihak, berpihak kepada yang benar, berpegang kepada kebenaran dan sepatutnya.

ada banyak pengertian dari kata adil yang sudah di kemukakan oleh para ulama, namun dalam hal ini  adil yang dimaksud adalah at-tawazun yang artinya keseimbangan. Seimbang di sini tidak selalu sama antara dua pihak  secara kuantitatif, tapi lebih kepada proporsional dan profesional. keadilan disini identik dengan pengertian kesesuaian, yakni kesesuaian antara ukuran, kadar dan waktu.

Baik, mari kita kembali kepada topik pembahasan kita yaitu tentang hadiah. jadi sebagai orang tua berilah hadiah kepada anak karena mereka layak menerimanya dan juga yang perlu kita ingat adalah jangan selalu memberi hadiah dalam bentuk materi saja kepada anak, karena hal ini yang dapat membuat anak menjadi ketergantungan dan hanya berfokus pada hadiah saja tidak kepada nilainya. Sebagaimana di video sebelumnya kita sudah membahas tentang apa yang perlu dipertimbangkan dalam memberi hadiah kepada anak.

Dan yang tidak kalah penting adalah Selalu berikan anak hadiah sesuai dengan yang anda janji , berikan tepat pada  waktunya. agar kita sebagai orang menjadi contoh bagi anak dalam kedisiplinan.

TIDAK BERLEBIH-LEBIHAN DALAM MEMBERI HADIAH KEPADA ANAK

Semua anak pasti suka diberikan hadiah oleh orangtuanya, hanya sekadar coklat, permen, makanan yang disukainya, mainan, barang yang sedang diinginkannya, dan lain sebagainya.

Memberikan hadiah kepada anak tentu dengan tujuan baik, agar anak termotivasi semangat dalam belajar, agar anak taat dan mematuhi perintah orang tua, agar anak berubah menjadi lebih baik, dan lain sebagainya.

Dalam pendidikan islam memberi hadiah atau saling memberi hadiah adalah sunnah. Memberi hadiah kepada anak karena keberhasilan yang dicapainya adalah sangat penting sekali. Namun, hadiah yang diberikan tidak boleh berlebih-lebihan dan jangan menjadikan anak hanya berfokus kepada hadiah saja.

Untuk itu, kita harus berhati-hati dalam memberikan hadiah kepada anak. ketika memberikan hadiah kepada anak tentunya orang tua harus memperhatikan unsur pendidikan yang ada pada hadiah tersebut namun tidak boleh juga melupakan unsur permainan pada hadiah tersebut. hadiah yang bisa diberikan kepada anak seperti buku, mainan yang edukatif, peralatan sekolah, atau jalan-jalan ke objek wisata tempat bersejarah dan lain-lain

Dengan memberikan buku maka anak bertambah pengetahuannya. Rasa ingin tahunya yang besar akan mendorongnya untuk membaca lembar demi lembar buku yang dihadiahkan kepadanya. Dengan permainan yang edukatif ini dapat meningkatkan kecerdasan anak. Dengan memberikan hadiah dalam bentuk peralatan sekolah anak-anak akan semakin semangat dalam belajar. Agar dapat memperluas wawasan dan pengalaman anak secara langsung.

mengembangkandiri.com the-child-is-happy-with-a-birthday-gift-2021-09-02-06-07-26-utc

Maksud sebuah Hadiah yang Jelas

SEBAB HADIAH YANG DIBERIKAN HARUS DINYATAKAN DENGAN JELAS

Memberikan hadiah kepada anak adalah suatu hal yang baik dan sangat bermanfaat sekali, bermanfaat bagi anak itu sendiri dan juga bermanfaat  bagi kita sebagai orang tua, misalnya: dengan memberi hadiah kepada anak dapat membantu kita sebagai orangtua dalam memotivasi mereka untuk mencapai sesuatu yang kita inginkan ia untuk mencapainya atau untuk melakukan sesuatu kebaikan yang berguna bagi masa depannya kelak dikemudian hari.

Memberikan hadiah kepada anak tidak selalu harus dalam jumlah yang besar, namun memberikan hadiah kepada anak haruslah sesuai dengan kebutuhan mereka, sesuai dengan usia mereka dan pada waktu yang tepat, seperti yang sudah kita bahas pada video sebelumnya

Perlu kita  ketahui bahwa hadiah tak hanya sekedar benda atau materi yang kita berikan kepada anak, tapi lebih dari itu. Hadiah yang kita berikan merupakan suatu bentuk penghargaan kepada anak atas prestasi dan pencapaian yang sudah berhasil mereka raih. Untuk itu, saat memberikan hadiah kepada anak, kita perlu memberitahu mereka tentang apa yang sudah mereka raih dan  sebab kenapa mereka kita beri hadiah tersebut. Dengan begitu, anak memahami bahwa ia telah melakukan hal yang baik dan yang kita sukai. Maka demikian hadiah yang kita berikan kepada anak menjadi sesuatu yang sangat bernilai bagi mereka dan bahkan menjadi sumber motivasi bagi mereka untuk terus bersemangat menjadi lebih baik lagi dalam segala hal. tidak hanya itu saja dengan memberi hadiah juga dapat mempererat hubungan orang tua dengan anak.

Dalam menjelaskan sebab kenapa kita memberikan hadiah kepada anak kita bisa sampaikan kepada mereka dengan kata-kata yang lembut, agar dapat dimengerti dan dipahami oleh anak dengan baik , misalnya dengan berkata “hadiah ini ayah/ibu berikan karena kami ingin kamu bahagia dan menjadi lebih baik lagi” atau hadiah ini ayah/ibu berikan karena “usaha yang kamu lakukan sangat berharga bagi kami, jadi karena itulah kami memberikan hadiah ini kepadamu”. Dengan penjelasan seperti ini anak akan mengerti kenapa hadiah itu diberikan dan juga dapat menyebabkan hadiah yang diberikan menjadi sangat berarti bagi anak.

mengembangkandiri.com parent-and-child-in-carpentry-2021-08-26-15-47-52-utc

Mendidik dengan Cinta dan Kasih

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM HARUS DIBERIKAN DENGAN CINTA DAN KASIH SAYANG

Islam adalah agama kasih sayang, agama yang mengajarkan kedamaian, menebarkan kasih sayang, dan senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan sudah barang tentu Islam sangat menolak kekerasan dalam bentuk apapun.

Islam diajarkan untuk menunjukkan sikap kasih sayang

surat Al-Anbiya ayat 107

وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ

Ayat di atas menjelaskan Allah mengutus Nabi Muhammad tidak lain agar menyampaikan kasih kepada ciptaan Allah. “Itu kasih sayang menjadi visi utama agama Islam juga misi agama-agama sebelum Islam,”

surat Ali Imran ayat 159

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.   Ayat di atas menjelaskan berkat kasih sayang Allah kepada Rasulullah, dia bersikap lemah lembut. Jika bersikap keras atau kasar, maka niscaya orang-orang akan menjauhi dan tidak suka. Kalau pun masih begitu, maafkanlah dan mintalah ampun untuk mereka.

Dalam Islam, sosok guru (agama) sangat strategis, di samping mengemban misi keilmuan agar peserta didik menguasai ilmu-ilmu agama, guru agama juga mengemban tugas suci, yaitu misi kenabian, yakni membimbing dan mengarahkan peserta didik menuju jalan Allah SWT.

dapat kita pahami bahwa guru adalah pengemban tugas mulia, terutama guru agama islam. Karena guru adalah seseorang yang dikaruniai ilmu oleh Allah Swt dan dengan ilmunya itu dia menjadi perantara manusia yang lain untuk mendapatkan, memperoleh serta menuju kebaikan baik di dunia maupun di akhirat. Selain itu, guru tidak hanya bertugas menyampaikan ilmu, tetapi juga mendidik peserta didiknya  untuk menjadi manusia yang beriman, bertakwa dan beradab.

oleh karena itu, ruh dari guru agama islam adalah cinta dan kasih-sayang, karena pada dasarnya cinta dan kasih-sayang adalah hal utama yang harus dimiliki oleh seorang guru.

sebagaimana Imam Ghazali menyebutkan bahwa salah satu syarat menjadi guru adalah kasih sayang dan lemah lembut

Pendidikan agama islam harus diberikan dengan cinta dan kasih sayang. Sebab,  Islam adalah agama yang penuh dengan kasih sayang. Sehingga,  guru agama islam  harus mampu menunjukkan dan mengekspresikan rasa sayang dan cintanya kepada peserta didik, mengajar agama islam bukan hanya berhubungan dengan pengetahuan saja, namun juga sangat berkaitan erat dengan keimanan, jika kita berbicara tentang iman maka hal ini berhubungan langsung dengan hati Karena tempat iman adalah di hati, bukan di otak. oleh karena itu pendidikan agama islam ini harus diberikan dengan cinta dan kasih-sayang karena hati tidak menerima hal-hal yang tidak disukainya,  jika mengajar agama islam tanpa cinta dan kasih sayang maka hati akan menolaknya sehingga apa yang diajarkan tidak akan bisa tertanam dan terwujudkan dalam perilaku peserta didik.

pexels-timur-weber-9127599

Kebutuhan Rohani Anak

KITA HARUS MENYADARI KEBUTUHAN JIWA ANAK

Situasi belajar sangat berpengaruh terhadap proses pembelajaran. Situasi seperti tempat dan suasana sangat mempengaruhi keberhasilan anak dalam belajar.

Kondisi ruangan yang bersih, nyaman, sirkulasi udara yang baik, kapasitas ruangan yang memadai, penerangan, dan kondisi tenang sangat dibutuhkan dan akan membangkitkan minat belajar peserta didik dan juga meningkatkan semangat belajar. Sikap guru, semangat di kelas, sikap keluarga dan masyarakat juga merupakan faktor yang mempengaruhi situasi belajar dan pada akhirnya mempengaruhi kualitas proses dan hasil pembelajaran.

Selain guru, dalam belajar setiap peserta didik dipengaruhi oleh banyak faktor, hal itu dapat digolongkan menjadi dua faktor yaitu faktor internal dan eksternal, faktor internal yaitu faktor yang berasal dari dalam diri peserta didik itu sendiri dan faktor eksternal yaitu faktor yang berasal dari luar peserta didik yaitu dari orang tua, dari guru dan dari masyarakat. Faktor intern dibagi menjadi tiga yakni faktor jasmaniah, faktor psikologis dan faktor kelelahan. Di dalam faktor psikologis sekurang-kurangnya ada tujuh faktor yang mempengaruhi belajar antara lain: intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan dan kesiapan. Dan faktor-faktor inilah yang harus diperhatikan oleh setiap pendidik agar dapat mengendalikan dan mengatur pembelajaran agar dapat berlangsung secara efektif, terarah dan optimal. Guru yang baik adalah guru yang dapat mengerti dan memahami permasalahan atau kendala dari seorang peserta didik dan persoalan psikologi peserta didik. Guru yang dapat memahami persoalan peserta didiknya adalah guru yang tidak memaksakan keinginannya kepada peserta didik, yang mendengarkan keluhan dan problematika belajar dari peserta didik, dan juga tidak memaksakan tugas yang melampaui kemampuan peserta didik.

Agar dapat mendidik jiwa anak sejak usia dini, pendidikan jiwa anak harus dilakukan sama seperti halnya menjaga dan merawat fisiknya. Pendidikan agama yang menyangkut kehidupan dunia dan akhirat anak tidak boleh diabaikan, segala sesuatu yang diperlukan untuk pendidikannya harus dipersiapkan sebelumnya.

Pendidikan agama sejak dini hendaklah sudah ada di rumah keluarga muslim. Didikan tersebut bukan menunggu dari pengajaran di sekolah saja.

Dalam Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah (13: 11) disebutkan, “Bapak dan ibu serta seorang wali dari anak hendaknya sudah mengajarkan sejak dini hal-hal yang diperlukan anak ketika ia baligh nanti. Hendaklah anak sudah diajarkan akidah yang benar mengenai keimanan kepada Allah, Malaikat, AL-Qur’an, Rasul dan Hari Akhir. Begitu pula hendaknya anak diajarkan ibadah yang benar. Anak mestinya diarahkan untuk mengerti shalat, puasa, thoharoh (bersuci) dan semacamnya.”

Semoga Allah menganugerahi kepada anak-anak kita sebagai penyejuk mata bagi orang tua. Mudah-mudahan kita diberi taufik untuk mendidik mereka menjadi generasi yang lebih baik

pexels-itsmeseher-42035630-12078284

Keluarga Ideal untuk Generasi Ideal

GENERASI IDEAL MEMBUTUH KELUARGA YANG IDEAL

Keluarga adalah hal pertama yang terlintas dalam pikiran ketika kita  berbicara tentang pendidikan. “Karena keluarga adalah tempat pertama dalam pendidikan dan pembelajaran, keluarga adalah sekolah pertama tempat untuk belajar.” pendidikan harus dimulai dari rumah, sehingga tertanam kokoh dalam diri anak. Pendidikan keluarga sangat penting sekali, karena keluarga adalah orang-orang yang sangat dicintai anak-anaknya, teman yang paling dekat, dan keluarga adalah pihak yang memberikan dampak yang sangat esensial terhadap pertumbuhan, perkembangan dan kesuksesan anak. Pendidikan keluarga bertanggung jawab dalam membangun fondasi semua aspek kehidupan anak. Jika keluarga tidak dibangun di atas prinsip-prinsip pendidikan, maka jangan pernah berpikir untuk menghadirkan generasi yang ideal. karena ” generasi yang ideal juga membutuhkan keluarga yang ideal.”

generasi ideal adalah generasi yang memiliki wawasan luas dan berjiwa besar. Bangkitnya sebuah bangsa berada ditangan mereka, yaitu mereka  yang kaya dengan spiritualitas, moral dan pemikiran luhur. generasi ideal ini adalah generasi pemberani, yang keberadaan mereka selalu diisi dengan iman, cinta, kebijaksanaan dan ketajaman mata hati. Mereka tidak pernah tunduk pada semua kesulitan, baik itu yang bersifat kesulitan internal maupun external.

untuk menghadirkan generasi ideal seperti ini, dibutuhkan keluarga yang ideal juga, yaitu keluarga yang hidup dalam koridor syariat, yang dihiasi dengan sunnah-sunnah dari nabi Muhammad SAW., serta paham akan prinsip-prinsip pendidikan. Keluarga ideal tidak pernah bosan menyuntikan keimanan, rasa cinta dan kasih sayang, serta semangat dalam mempelajari ilmu pengetahuan kepada anak-anak mereka, demi hadirnya generasi ideal yang memiliki kepiawaian dalam berfikir dan mampu memprediksi masa depan. Karena “masa depan selalu tumbuh dari benih yang dikandung oleh rahim masa kini dan juga disusui oleh masa kini agar dapat tumbuh dewasa”

artinya adalah, sebagai orang tua, kita harus berusaha sekuat tenaga untuk memperhatikan dengan cermat masa depan seperti apa,? atau generasi seperti apa yang akan kita bangun untuk masa depan.? Karena anak-anak kita saat ini adalah generasi penentu di masa depan. Jika saat ini kita didik mereka dengan prinsip-prinsip pendidikan dan  falsafah hidup kita, yaitu islam. Maka, generasi yang kita impikan akan terwujud, insya Allah.