pexels-a-darmel-8164745

Prinsip Mendidik dengan Agama

PRINSIP DASAR DALAM PENDIDIKAN AGAMA:

Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa, “Permudahkanlah dan jangan mempersulit, berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari.”

Ada sebuah pernyataan bahwa “Islam itu agama yang mudah dan luas” (al-islamu dinun yusrun wus’atun).

Sedangkan pertanyaannya adalah mana dalil pendukung pernyataan tersebut dan bagaimana penjabarannya? Apakah pernyataan itu dibenarkan oleh nushush al-syari’ah (teks-teks syariah)?

Untuk menjawabnya, terlebih dahulu kita perlu melacak dari mana pernyataan itu berasal. Ternyata ia langsung dari Baginda Nabi shallallahu‘alaihi wasallam. Ada dalam sebuah hadis dengan sanad sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Di sana beliau menyatakan:

     إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلاَّ غَلَبَهُ ، فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا ، وَاسْتَعِينُوا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَىْءٍ مِنَ الدُّلْجَةِ

Artinya, “Sesungguhnya agama itu mudah. Dan selamanya agama tidak akan memberatkan seseorang melainkan memudahkannya. Karena itu, luruskanlah, dekatilah, dan berilah kabar gembira! Minta tolonglah kalian di waktu pagi-pagi sekali, siang hari di kala waktu istirahat dan di awal malam,” (HR. al-Bukhari [39] dan Muslim [2816]).

Maksud hadis ini adalah syariat yang Allah turunkan kepada umat Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mudah dan tidak sulit. Allah telah mengangkat hal-hal yang memberatkan mereka. Sehingga ia tidak memaksa seorang hamba kecuali sesuai kemampuannya.

Islam adalah agama yang mudah dan sesuai dengan fitrah manusia. artinya Islam adalah agama yang tidak sulit. Allah subhanahu wata’ala  menghendaki kemudahan kepada umat manusia dan tidak menghendaki kesusahan kepada mereka. Sebagaimana Allah subhanahu wata’ala mengutus Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rahmat.

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” [Al-Anbiya’: 107]

Dengan hal ini Allah menurunkan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad untuk membimbing manusia kepada kemudahan, keselamatan, kebahagiaan dan tidak membuat manusia celaka, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala :

 مَا أَنزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَىٰ إِلَّا تَذْكِرَةً لِّمَن يَخْشَىٰ تَنزِيلًا مِّمَّنْ خَلَقَ الْأَرْضَ وَالسَّمَاوَاتِ الْعُلَى

“Kami tidak menurunkan Al-Qur-an ini kepadamu (Muhammad) agar engkau menjadi susah; melainkan sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), diturunkan dari (Allah) yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi.” [Thaahaa: 2-4]

Dapat kita simpulkan sebagaimana dengan keterangan diatas bahwa Agama Islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah manusia, baik dalam hal ‘aqidah, syari’at, ibadah, muamalah dan lainnya.

Oleh karena itu tidak ada hal apa pun yang sulit dalam Islam. Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan membebankan sesuatu yang manusia tidak mampu melaksanakannya. Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 إِنَّ الدِّيْنَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّيْنَ إِلاَّ غَلَبَهُ، فَسَدِّدُوْا وَقَارِبُوْا، وَأَبْشِرُوْا، وَاسْتَعِيْنُوْا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَيْءٍ مِنَ الدُّلْجَةِ.

“Sesungguhnya agama (Islam) itu mudah. Tidaklah seseorang mempersulit (berlebih-lebihan) dalam agamanya kecuali akan terkalahkan (tidak dapat melaksanakannya dengan sempurna). Oleh karena itu, berlaku luruslah, sederhana (tidak melampaui batas), dan bergembiralah (karena memperoleh pahala) serta memohon pertolongan (kepada Allah) dengan ibadah pada waktu pagi, petang dan sebagian malam.” HR. Al-Bukhari (no. 39),

Karya Pembaca: Jejen

mengembangkandiri.com children-enjoy-with-friends-2021-08-31-22-24-40-utc

Perasaan dan Pergerakan

Karya Pembaca: Mahir Martin

Perasaan dalam Pemikiran dan Pergerakan

Setiap pemikiran akan bermakna ketika ada pergerakan, sebaliknya pergerakan juga akan lebih bermakna ketika menghasilkan pemikiran-pemikiran baru. Pemikiran dan pergerakan, seolah, silih berganti saling menguatkan, memiliki hubungan timbal balik satu dengan yang lainnya.

Pemikiran dan pergerakan akan terhubung lebih erat dengan perasaan. Perasaan dapat berperan sebagai bumbu penyedap racikan pemikiran dalam suguhan pergerakan. Tanpa adanya perasaan, pemikiran dan pergerakan akan terasa hambar.

Memahami Perasaan

Bagaimana kita memahami perasaan, dalam pemikiran dan pergerakan di kehidupan nyata?

Bayangkan ketika kita memiliki pemikiran untuk menjadikan anak-anak kita sebagai generasi emas penerus bangsa. Pastinya, pemikiran kita ini harus diimbangi dengan pergerakan memberikan pendidikan terbaik kepada anak-anak calon generasi emas tersebut.

Pemikiran dan pergerakan ini saja tidaklah mencukupi. Keduanya harus juga dilengkapi dengan perasaan. Perasaan yang dikemas dalam bentuk keikhlasan, dedikasi, dan rasa syukur dalam mendidik. Keikhlasan, dedikasi, dan syukur membuat sebentuk rasa yang memberi makna ketika kita mendidik anak-anak kita menuju generasi emas anak bangsa. Beginilah kita memahami perasaan. Intinya, perasaan memainkan peran hati ketika kita berpikir dan bergerak.

Ya, perasaan memang sedikit berbeda dengan pemikiran dan pergerakan. Pemikiran bisa saja dibuat dalam bentuk tulisan. Kita biasa menuangkan pemikiran kita dalam bentuk perencanaan, program kerja, konsep, atau rancangan yang kita persiapkan dengan matang.

Di sisi lain, pergerakan bisa dilihat dengan kasat mata karena dilakukan dalam dimensi fisiknya. Pergerakan biasanya dilakukan untuk mengusung sebuah pemikiran melalui sebuah wujud aksi nyata dan tindakan fisik di lapangan.

Lantas, bagaimana dengan perasaan? Apakah perasaan juga bisa dituliskan atau dilihat secara kasat mata?

Sulit untuk bisa mengatakan “Ya”. Perasaan memang sejatinya dirasa, tidak dapat dituliskan atau digerakkan secara fisik. Bahkan, rasa itu terkadang tidak disadari keberadaannya oleh seseorang yang sebenarnya memiliki rasa tersebut.

Orang yang ikhlas, tidak merasa dirinya ikhlas. Orang yang berdedikasi, tidak merasa dirinya berdedikasi. Orang yang bersyukur, terkadang tidak merasa dirinya sudah cukup bersyukur. Jadi, perasaan seseorang apakah ikhlas, berdedikasi, atau bersyukur biasanya tidak diakui keberadaannya oleh dirinya sendiri.

Biasanya, perasaan pada diri seseorang dirasakan keberadaannya dan diakui oleh orang lain. Namun terkadang, ketika perasaan dirasakan keberadaannya oleh orang lain, maka interpretasinya bisa sangat berbeda dan memiliki subjektivitas yang tinggi. Artinya, perasaan yang dirasa mungkin akan memberikan rasa yang berbeda bagi setiap individu yang berbeda.

Misalnya saja perasaan ikhlas. Terkadang kita bisa sangat merasakan keikhlasan melekat pada diri seseorang dalam pemikiran dan pergerakannya, tetapi ternyata orang lain tidak merasakan hal yang sama dengan kita. Bahkan mungkin saja, orang lain itu justru merasa orang yang kita anggap ikhlas itu malah tidak cukup memiliki keikhlasan. Jadi, perasaan itu sulit untuk bisa ditebak keberadaannya.

Perasaan dan Pandangan Hidup

Dari tataran filosofis, perasaan sebagai bumbu pemikiran dan pergerakan itu sangat tergantung dengan bagaimana kita memandang kehidupan. Jika kita memandang kehidupan hanya dengan pemikiran nihilisme, maka perasaan dalam bentuk rasa ikhlas, berdedikasi, dan rasa syukur tidak perlu lagi kita kedepankan. Kehidupan kita akan lebih mementingkan kesenangan dunia, dan gaya hidup kita pun menjadi hedonis dan materialistis.

Penganut paham nihilisme ini berpikir bahwa adanya pemikiran dengan menggunakan akal dan rasionalitas dan adanya pergerakan dengan menggunakan fisik, sudah sangat cukup untuk bisa mengarungi kehidupan di dunia.

Bagi mereka, kehidupan dunia adalah satu-satunya kehidupan. Setelah kehidupan di dunia orang akan berhadapan dengan kematian, kenihilan, atau ketiadaan. Setelah kematian tidak akan ada ada lagi kehidupan. Kematian adalah akhir dari segala-galanya, batas akhir kehidupan.

Sebaliknya, jika kita memandang kehidupan dunia ini hanyalah sebagai salah satu bagian dari dua sisi kehidupan, dan bahwasanya akan ada sisi kehidupan lain setelah kematian, maka segala hal di dunia ini akan kita lakukan dengan tujuan mendapatkan sebuah makna. Makna untuk menggapai kehidupan hakiki kelak. Makna seperti inilah yang akan memberikan sebuah rasa dalam pemikiran dan pergerakan kita. Makna seperti inilah yang membuat kita sadar akan pentingnya mengedepankan perasaan.

Oleh karenanya, perasaan tidak boleh terlupakan dalam kehidupan kita. Meskipun perasaan bersifat immaterialistik dan tak terlihat, tetapi perasaan bisa saja diberikan penguatan agar lebih bisa kita perhatikan keberadaannya.

Ibarat rasa masakan yang bisa dikuatkan dengan menambah bumbu lebih banyak, begitu juga dengan perasaan ikhlas, berdedikasi, dan bersyukur juga bisa dikuatkan dengan membumbuinya dengan nilai-nilai yang benar.

Perasaaan dikuatkan dengan nilai-nilai spiritualisme yang dijalani dengan penuh penghayatan. Ibadah, doa, dan mendekatkan diri kepada Tuhan dapat memupuk perasaan agar bisa menghidupi pemikiran dan pergerakan.

Pemikiran dan pergerakan yang dikuatkan dengan perasaan akan mampu memberikan warna baru bagi dunia yang kita tinggali ini. Dunia yang sejatinya bisa diisi dengan perasaan yang diliputi kedamaian, ketentraman, dan kemaslahatan.

Sebuah Refleksi

Terkait perasaan dalam pemikiran dan pergerakan, ulama Muhammad Fethullah Gulen Hojaefendi dalam bukunya Bangkitnya Spiritualitas Islam menuliskan, “Sebenarnya, setiap pemikiran merupakan titik awal atau proses yang akan digunakan untuk melewati jalan menuju tujuan yang diwujudkan melalui sebuah pergerakan… Dalam rangkaian proses ini, pemikiran memiliki peran seperti layaknya benang merah yang menghubungkan antara yang awal dengan yang akhir, sementara perasaan adalah bagaikan ukiran yang menghiasi rangkaian ini.”

Ya, dari pemikiran menuju pergerakan adalah sebuah proses. Proses seharusnya memang dihiasi dengan perasaan sehingga terhindar dari kejumudan. Disinilah peran penting perasaan untuk membumbui dan memberi cita rasa dalam berproses. Yang lebih penting lagi, perasaan bisa membuat proses tersebut memiliki makna yang lebih mendalam.

Alhasil, untuk mengarungi dunia yang semakin berkembang dari segala sisinya ini, kita memang memerlukan sebuah pandangan hidup yang jelas. Pandangan hidup yang akan diterjemahkan menjadi sebuah pemikiran dan pergerakan yang dibumbui dengan perasaan.

Mari kita pikirkan kembali apa sebenarnya pandangan hidup kita, dari mana kita berasal, apa yang harus kita lakukan di dunia ini, dan kelak kemana kita akan kembali. Hiasilah itu semua dengan perasaan ikhlas, dedikasi, dan rasa bersyukur kepada-Nya.

mengembangkandiri.com nature-background-with-flower-behind-patterned-gla-2021-12-09-17-48-43-utc

Kejujuranku Menyelamatkanku

Sebuah kisah dari sosok, seorang sahabat, teladan umat Islam, Ka’b bin Malik tentang kejujurannya yang sudah menyelamatkannya.

Ka’b bin Malik: “Kejujuranku Menyelamatkanku”

Dalam setiap diskusi membahas tentang kejujuran, sosok Ka’b ibn Malik selalu menjadi rujukan karena kisahnya ini.

Beliau adalah sahabat yang sangat ahli dalam menggunakan pedang dan kata-kata.

Beliau adalah seorang penyair.

Melalui syair-syairnya, Ka’b ibn Malik dapat melemahkan semangat orang-orang kafir. Beliau telah bersumpah setia kepada Rasulullah di Aqabah. Oleh karena itu, dia termasuk orang-orang pertama yang beriman di Madinah. Namun, dia tidak bisa mengikuti perang Tabuk. Mari kita dengarkan saat dia menceritakan kisahnya sendiri:

“Panggilan untuk berjihad dalam perang itu ditujukan untuk semua orang, karena perang itu diprediksi akan berlangsung secara sengit. Namun, prediksi keberlangsungan perang ini bukanlah ketetapan dari Allah SWT dan bahkan, pertarungan secara langsung tidak terjadi dalam perang itu. Hasil dari peperangannya mungkin atau juga mungkin tidak diilhamkan kepada Rasulullah SAW. Namun, Beliau sangat memberikan perhatian kepada kesiapan pasukan perang tersebut.

Seperti yang lain, saya juga melakukan persiapan. Bahkan, saya tidak pernah bersiap lebih baik dibandingkan perang-perang sebelumnya. Rasulullah SAW memberi sinyal kepada pasukan muslim untuk mulai berangkat.

Saya tidak mengikuti mereka dan berpikir, ‘Saya dapat mengejar mereka bagaimanapun juga.’

Saya tidak memiliki kegiatan lain yang khusus. Tapi karena kepercayaan diri saya, saya tertinggal. Sehingga saya menunda keberangkatan ke hari berikutnya, namun, banyak hari pun berlalu.

Saya tidak mungkin lagi mengejar Rasulullah.

Saya tidak bisa melakukan apapun selain menunggu mereka kembali. Tapi penantian ini terasa begitu lama bagi saya.

Akhirnya, kabar kembalinya Rasulullah SAW pun datang juga. Madinah akan segera hidup sebelum Beliau kembali. Kegembiraan akan kembalinya Rasulullah terlihat di wajah semua orang…

Akhirnya, harapan mereka terkabul, dan pasukan tiba di Madinah.

Seperti biasa, Rasulullah SAW pergi ke masjid dan melakukan shalat dua rakaat dan mulai menyapa orang-orang. Kemudian semua orang datang ke masjid secara berkelompok dan mengunjungi Beliau.

Mereka yang tidak bisa mengikuti peperangan menyampaikan permintaan maaf mereka. Sebagian besar orang yang tidak ikut berperang telah menyebutkan alasan mereka, dan Rasulullah telah menerima alasan mereka.

Saya bisa melakukan hal yang sama karena saya memiliki kemampuan khusus untuk membujuk orang dan menggunakan bahasa dan retorika.

Tapi bagaimana saya bisa berbohong kepada Rasulullah, karena saya tidak punya alasan.

Saya tidak melakukannya; saya tidak bisa.

Saat kami bertemu, Rasulullah menyapa saya dengan senyum masam yang menusuk hati saya.

“Di mana dirimu?” beliau bertanya.

Saya menjelaskan cerita saya apa adanya.

Beliau memalingkan wajahnya dari saya dan berkata tanpa suara,

‘Pergi.’

Saya pun pergi.

Orang-orang mengerumuni saya, berkata, ‘Beri alasan dan bebaslah.’ Mereka membujuk saya.

Tapi saya sadar dan bertanya, ‘Apakah ada orang lain seperti saya?’

‘Ya,’ jawab mereka, dan menyebutkan nama dua orang.

Keduanya adalah sahabat terkemuka yang pernah berpartisipasi dalam Perang Badar yaitu Murarah bin Rabi dan Hilal bin Umayyah. Mereka tidak menyebutkan alasan apapun, tetapi mengatakan yang sebenarnya.

Mereka seperti saya.

Saya bisa mengikuti cara mereka. Saya memutuskan untuk seperti mereka dan menghindari menyampaikan alasan apapun.

Sebuah perintah dikeluarkan perihal kami bertiga. Perintahnya adalah melarang siapapun berbicara atau bertemu dengan kami.

Dua orang yang lain tinggal di rumah, menangisi dosa-dosa mereka. Saya lebih muda dan lebih kuat. Jadi saya bisa berjalan di jalan-jalan dan pasar dan saya bisa pergi ke masjid pada waktu salat.

Tapi tidak ada yang berbicara kepada saya. Saya menghabiskan sebagian besar waktu di masjid.

Saya akan menunggu dengan sungguh-sungguh senyum dari Rasulullah.

Yang membuat saya cemas, setiap hari saya pulang ke rumah dengan kekecewaan.

Meskipun selalu ada senyum di wajahnya, Rasulullah tidak pernah menatap saya dan tersenyum pada saya.

Saya selalu menyambutnya dan menunggu dengan seksama jawaban darinya.

Tapi bibir Beliau tetap tertutup untuk saya.

Saya juga terkadang mencuri-curi pandang kepada Beliau saat berdoa. Beliau melihat kearah saya ketika saya mulai melakukan shalat, tapi Beliau mengalihkan pandangannya dari saya selepas shalat.

Selama lima hari saya dalam keadaan seperti ini. Semua orang di sekitar tempat saya tinggal mulai tampak begitu asing sehingga terasa seperti tinggal di negara asing.

Suatu hari, saya melewati pagar dan masuk ke kebun Abu Qatadah —Beliau adalah putra paman saya dan kami sangat dekat— dan pergi menemuinya.

Saya mengucapkan salam kepadanya. Demi Allah, dia tidak membalas salam saya.

Saya berkata: ‘Wahai Abu Qatadah, saya memohon padamu demi Allah! Tahukah kamu bahwa saya mencintai Allah dan Rasul-Nya?”

Dia diam.

Saya mengulangi pertanyaan saya tiga kali. Akhirnya, dia berkata, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih tahu,’ dan pergi.

Seluruh dunia tampak terbalik.

Saya tidak pernah menyangka akan mendengar hal ini dari Abu Qatadah.

Mataku berlinang air mata dan menangis.

Suatu hari, saya sedang berjalan-jalan di Madinah, dan saya mendengar seseorang mencari saya. Dia datang kepada saya dan menyerahkan surat kepada saya..

Itu dari raja Ghassan. Raja mengundang saya ke negaranya.

Surat itu tertulis: ‘Saya telah diberitahu bahwa sahabatmu (Rasulullah SAW) telah memperlakukanmu dengan kasar. Bagaimanapun, Allah tidak membuatmu tinggal di tempat di mana kamu merasa rendah diri dan kehilangan hakmu. Jadi, bergabunglah dengan kami, dan kami akan menghiburmu.’

Ketika saya membacanya, saya berkata pada diri sendiri, ‘Ini juga adalah ujian,’ dan saya membawa surat itu ke perapian dan membakarnya.

Pada hari ke 40 dari 50 hari yang berlalu.

Seorang utusan Rasulullah datang kepada saya dan berkata, ‘Rasulullah memerintahkanmu untuk menjauhi istrimu.’

Saya berkata, ‘Haruskah saya menceraikannya; atau apa yang harus saya lakukan?”

Dia berkata, “Tidak, jauhi saja dia dan jangan bergaul dengannya.”

Saya berkata kepada istri saya, ‘Pergilah ke orang tuamu dan tinggal bersama mereka sampai Allah memberikan keputusan-Nya dalam masalah ini.’

Sementara itu, istri Hilal telah meminta izin untuk melayani Hilal. Hilal adalah seorang lelaki tua tak berdaya yang tidak memiliki pelayan untuk merawatnya. Rasulullah memberikan izin kepadanya.

Beberapa orang menyarankan agar saya meminta izin dengan cara yang sama.

Tapi saya tidak mau melakukannya. Saya tidak tahu bagaimana reaksi Rasulullah jika saya melakukan itu.

Kami terus berada dalam kondisi tersebut selama 10 malam, hingga periode 50 malam selesai.

Jiwa saya terasa sesak dan bumi tampak sempit bagi saya, padahal ia begitu lapang.

Setelah menyelesaikan salat Subuh pada pagi kelima puluh, saya mendengar seseorang memanggil nama saya. ‘Wahai Ka’b, berbahagialah (dengan menerima kabar baik)’ katanya.

Mengetahui bahwa telah datang pengampunan-Nya, saya pun tersungkur  dalam sujud di hadapan Allah.

Rasulullah telah mengumumkan penerimaan taubat kami oleh Allah setelah salat Subuh.

Saya berlari ke masjid.

Semua orang mengucapkan selamat kepada saya.

Talhah dengan cepat mendatangi saya, menjabat tangan saya dan memberi selamat kepada saya. Seolah-olah saya berada di hari Aqaba.

Saya pergi ke hadapan Rasulullah dan memegang tangannya. Beliau juga meraih tangan saya.

Rasulullah berkata, ‘Allah memaafkanmu.’ Kemudian, beliau membacakan ayat berikut:

Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (Q.S. At-Taubah 9:118).

Setelah ayat ini turun, Ka’b ibn Malik berkata kepada Rasulullah SAW: “Saya berjanji untuk berkata benar selama hidup saya.”

mengembangkandiri.com gift-shop-at-the-street-market-in-istanbul-turkey-2021-08-26-18-35-40-utc

Karakter Kejujuran Seorang Muslim

Kejujuran, Kebohongan, dan Omong Kosong

Orang-orang yang baru datang ke Turki pasti sepakat akan satu hal: Saat mereka berniaga dengan masyarakat muslim Turki, tidak diperlukan suatu kontrak berdagang tertulis karena perjanjian secara lisan sudah cukup disana. Situasi ini adalah hasil dari etika dan moral Islam yang sudah lama tertanam di masyarakat Turki.  

Muslim yang berpegang kepada akhlak Al Quran digambarkan dengan,

“…… dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji….” (Q.S. Al-Baqarah 2: 177). Dalam kelanjutan ayat itu disebutkan, Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” 

Seorang Jenderal Prancis, Comte de Bonneval, membagikan kekagumannya terhadap kejujuran masyarakat Turki,

“Kriminalitas seperti ketimpangan hukum, monopoli, dan pencurian seakan tidak dikenal di Turki. Singkat kata, entah karena keyakinan agama atau ketakutan kepada hukum, mereka menampilkan satu tingkat integritas yang membuat banyak orang tercengang kepada kejujuran mereka.”

Ketelitian dan sensitivitas pedagang Turki dalam urusan kejujuran tergambar dalam kisah berikut:

Kala itu, seorang pedagang tekstil dari negeri nan jauh datang ke negeri Utsmani dan ingin membeli seluruh kain yang dibuat oleh satu pabrik kain yang sangat dia sukai.

Namun, suatu ketika, dia melihat pemilik pabrik menyingkirkan satu gulungan kain saat kain yang lain sedang ditimbang.

Ketika ditanya alasannya, pemilik itu menjawab, “Saya tidak bisa memberikan kain ini, kain ini memiliki cacat.”

Meskipun pedagang asing tadi berkata, “Itu tidak masalah,”

Si pengusaha Turki tetap tidak mau menjual satu gulungannya itu dan berujar,

“Sudah kubilang bahwa kain ini cacat. Anda pun sudah tahu perihal ini. Ketika Anda menjual barang cacat ini di negerimu, orang-orang tidak akan tahu bahwa saya sudah memberitahu Anda. Maka, saya seolah menjual barang cacat ke rakyat negerimu. Harga diri dan kehormatan Daulah Utsmani akan dicerca dan mereka akan menyangka bahwa kami ini culas. Inilah mengapa saya tidak akan menyerahkan gulungan cacat ini bagaimanapun jua.”

Demikian dia menjelaskan alasannya kukuh tidak menjual kain tadi.

Satu karakter yang membedakan Bangsa Turki dari bangsa-bangsa lain adalah mereka tidak mengenal tindakan menipu dan berbohong. Ajaran agama Islam telah masuk menjadi pendirian dari masyarakat Turki untuk mencintai akhlak mulia serta menolak perbuatan tercela.

Hal ini disampaikan dalam dokumen sejarah dari Abad XIX yang  tertulis sebagai berikut:

“Kita harus mencari tahu karakter suatu bangsa dari kelas menengahnya, di antara orang-orang yang mencari rezeki di pabrik kecil, mereka yang tidak miskin dan tidak pula kaya: kelas menengah pada bangsa Turki, memiliki nilai moral dan kebajikan yang terikat dengan ilmu pengetahuan yang cukup sepadan dengan kebutuhan mereka, dengan kecenderungan patriarki kekotaan di level keluarga satu rumah dan di masyarakat. Kejujuran juga menjadi karakter khas pengusaha Turki… Di perkampungan mereka, di mana tidak ada orang Yunani, kesederhanaan hidup dan kemurnian prilaku manusia amatlah terlihat, dan disana tidak dikenal istilah penipuan.” (Thomas Thornton (1762–1814), seorang pedagang Inggris di Timur Tengah dan penulis tentang Turki).

Pengamatan pengusaha-pelancong Prancis Abad VII, Du Loir, bisa menjadi simpulan yang gamblang: “Tidak diragukan lagi, politik dan kehidupan di Turki, dalam hal moralitas, adalah role model bagi seluruh dunia.”  .

Seorang Muslim harus Jujur dan Amanah

Seorang muslim harus jujur dan amanah, perkataan dan perbuatan yang dilakukannya tidak boleh berlawanan dengan pikiran dan perasaannya. Kita harus berusaha banting tulang untuk tetap dalam kondisi seperti itu. Rasulullah sendiri memberikan perhatian yang lebih dalam penanaman nilai moral ini pada diri anak-anak.

Untuk menghindarkan para orang tua dari dosa berbohong, meskipun kepada anak-anak mereka, beliau telah merumuskan prinsip-prinsip umum sebagai pedoman dalam hubungan antara anak dan orang tua.

Sebagai contoh, tidak boleh seorang ayah atau ibu untuk berbohong pada anaknya, dalam kondisi apapun, dan tidak pula membeda-bedakan perlakuan kepada tiap anak.

Abdullah bin Amir menceritakan: “Suatu hari ibuku memanggilku, di saat Rasulullah SAW tengah duduk di rumah kami. Kata ibuku: Datanglah kemari! Aku akan memberimu sesuatu. Rasulullah bertanya padanya: Apa yang akan Engkau berikan padanya? Jawab ibuku: Saya ingin memberinya kurma. Maka Rasulullah berkata: Jika engkau malah tidak memberinya apa-apa, maka itu akan jadi dosa bagimu.” 

Abu Hurairah juga meriwayatkan kisah serupa: “Rasulullah SAW bersabda, Barang siapa yang berkata kepada anaknya, “Datanglah kemari, aku akan memberimu sesuatu,” lalu malah tidak memberi apapun kepada si anak, maka itu akan dicatat sebagai perbuatan dusta.”

Kesesuaian antara hati dengan perilaku yang ditampilkan oleh seorang muslim juga amat penting untuk nilai integritasnya. Sama dengan kita harus menjauhi perkataan kasar, kita juga harus menjaga diri kita dari perasaan atau pemikiran penuh benci.

Dengan kata lain, seorang muslim harus berkata-kata sesuai dengan pikirannya, dan berperilaku sesuai dengan perkataannya; tidak boleh ada perbedaan antara yang terdapat dalam hati kita dengan perilaku yang kita tampilkan.

Hadis berikut mengupas aspek integritas:

“Barang siapa yang hatinya batil, tidak akan memiliki iman yang sempurna. Jika lidahnya tidak berkata benar, maka dalam hatinya tidak ada kebenaran, dan jika tetangganya tidak selamat darinya, maka dia tidak akan masuk surga” (Al-Musnad, 3/198).

Di sini Nabi mengajarkan bahwa hati dan lidah harus saling berkesesuaian, dan keduanya harus menampilkan integritas.

Ketika terdapat kesesuaian antara aktivitas batin seorang muslim dengan aktivitas lahirnya, maka dia akan selalu jujur, dalam bekerja maupun berniaga. Setiap muslim harus dengan detail tidak pernah sekalipun berbuat curang atau menipu orang lain demi mendapat laba yang lebih besar ataupun demi kepentingan lain.

Terdapat hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah berbunyi,

“Suatu hari Nabi melihat (seorang lelaki menjual) setumpuk gandum. Nabi memasukkan tangannya ke tumpukan itu dan menemukan bahwa gandum yang di bawah basah sedangkan yang di tumpukan atas kering.

Maka Nabi bertanya kepada si penjual, ‘Apa ini?’

Lelaki itu menjawab, ‘Hujan telah membuatnya basah.’

Jawab Nabi, ‘Kamu harus meletakkan gandum yang basah di atas (agar semua orang bisa melihatnya).

Penipu bukan termasuk golongan kami.’”

Abu Sa’id al-Khudri meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda,

“Pedagang yang tidak melenceng dari nilai keadilan dan kejujuran akan dibangkitkan bersama dengan para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang taqwa.”

Salah satu karakteristik unik pada diri sahabat Nabi -barangkali adalah karakteristik yang paling penting- adalah integritas dan kejujuran yang teguh. Kualitas ini telah membawa satu atmosfer mendalam berupa kelapangan dan rasa aman pada batin dan hubungan antarpribadi mereka.

Pada suatu waktu Abu al-Haura bertanya kepada Hasan bin Ali, “Apa yang engkau hafal dari Rasulullah?”

Jawabnya, “Aku menghafal dari beliau: ‘Tinggalkan apa-apa yang membuatmu ragu, beralihlah ke apa-apa yang menghapuskan keraguan darimu.’

Dalam riwayat yang sama, Sufyan bin Abdullah As-Sakafi berkata, “Wahai Rasulullah, berilah ilmu tentang Islam kepadaku yang cukup bagiku sehingga aku tidak perlu bertanya kepada siapapun lagi tentang Islam.”

Beliau menjawab, “Katakanlah, ‘Aku beriman kepada Allah,’ kemudian jadilah benar-benar jujur dalam segala hal.”