mengembangkandiri.com cover Tanya Jawab Masalah Kontemporer 2

Tanya Jawab Masalah Kontemporer Bagian 2

mengembangkandiri.com cover Tanya Jawab Masalah Kontemporer 1

Tanya Jawab Masalah Kontemporer Bagian 1

mengembangkandiri.com cover al kalimat

Al Kalimat bagian Ke-2 – Badiuzzaman Said Nursi

mengembangkandiri.com pexels-jacob-morch-572780

Woles

Setiap orang memiliki cita-cita dalam hidupnya, ada yang menjadikan kekayaan sebagai tujuan, ada juga yang menjadikan jabatan, ketenaran dan popularitas sebagai pencapaian yang paling utama. Semua itu dilakukan tidak lain dan tidak bukan untuk mendapatkan ketenangan yang merupakan pangkal dari kebahagiaan.

Mereka yang berfikir bahwa ketenangan ada pada harta, maka ia akan menjadikan harta tersebut sebagai juru selamatnya. Mereka yang berfikir ketenangan ada pada kedudukan dan jabatan, maka ia akan melakukan segala cara untuk mendapatkan semuanya. Dan mereka yang menjadikan kecantikan, popularitas sebagai sudut pandang manusia, maka mereka akan merasa ujub terhadap dirinya sendiri.

Namun, apakah ketenangan itu benar-benar hanya ada pada harta, kedudukan, jabatan, kecantikan dan popularitas?

Jika benar, ketenangan itu hanya ada pada harta, kedudukan, jabatan, kecantikan dan popularitas.

Lalu, mengapa banyak pengusaha kaya, artis ternama dan para pejabat yang mati bunuh diri?

Sebut saja Michael Jackson, Marilyn Monroe, Chester Bennington, Kurt Cobain dan masih banyak artis terkemuka lainnya.

Bukankah mereka telah memiliki semua yang diperlukan untuk bahagia?

Lalu kenapa mereka justru memilih mengakhiri hidupnya dengan cara yang tak semestinya?

Hal ini memberikan pelajaran bagi kita, bahwa ternyata ketenangan jiwa yang merupakan pangkal dari kebahagiaan tidak terletak pada harta, kedudukan, jabatan, kecantikan dan popularitas.

Lalu dimanakah ketenangan yang di damba kan semua orang itu?

Rahmat Tuhan Bagi yang Beriman

Ketenangan merupakan rahmat dari Allahﷻ yang di berikan kepada hamba nya yang beriman. Semakin besar kadar keimanan seseorang, maka ia akan semakin tenang. Dan ketenangannya seakan menjadi stempel yang melekat pada keimanan. Syekh Badiuzzaman Said Nursi dalam kitab-Nya Al-kalimat bahasan tentang mensifati karakteristik orang yang beriman dengan sikap ketenangannya beliau menyampaikan.

“Andai kan bola bumi menjadi bom yang dapat meledak, barang kali ia tidak akan membuat takut sang abid yang memiliki kalbu yang bersinar. Bahkan bisa jadi ia melihatnya sebagai salah satu kodrat tuhan yang luar biasa sehingga ia akan merasa kagum dan senang. Sebaliknya, seorang fasik yang memiliki kalbu mati, meski ia seorang filsuf yang dianggap cerdas, apa bila melihat meteor di angkasa ia akan merasa takut dan cemas“ .

Bahaya dan kecemasan luar biasa pernah meliputi kaum muslimin pada saat peristiwa badar, saat itu kaum muslimin harus berhadapan dengan musuh yang jumlahnya tiga kali lipat lebih besar, dengan persenjataan dan akomodasi perang yang sangat minim. Tak ada pilihan lain, dengan segala keterbatasan kaum muslimin harus menang. Saking gentingnya kondisi saat itu, hingga membuat Rida “Sorban” Baginda mulia Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam ter jatuh saat berdo’a, “Ya Allah, jika pasukan ini sekarang binasa maka tiada lagi ada yang beribadah kepada-mu”.

Kemudian, alih-alih Allahﷻ memberi pertolongan kepada kaum muslimin pada saat itu, dengan menurunkan hujan dan kantuk sebagai pertolongan pertamanya. Dari pertolongan yang diberikan Allahﷻ, hati kaum muslimin diselimuti ketenangan yang pada akhirnya membuahkan kemenangan. Dalam firman-nya : “Sesungguhnya Allahﷻ menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman dari nya dan Allahﷻ menurunkan kepada mu hujan dari langit untuk membersihkan mu. Karena dengan air hujan itu, Allahﷻ menghilangkan gangguan syaitan dari mu dan menguatkan hatimu serta memper teguh  kedudukan mu” (Q.s. Al-anfal : 11).

Menjemput ketenangan

Jika ketenangan dapat dibeli harusnya hanya si kaya yang boleh bahagia, Jika ketenangan dapat direkayasa, harusnya kebahagiaan hanya untuk segelintir penguasa. Mungkin ada yang percaya bahwa ketenangan dapat dibeli dan direkayasa. Namun, ketenangan yang hakiki hanya milik Allahﷻ, dan akan hanya diberi kepada mereka yang beriman.

Sejenak mari kita renung kan kembali perjalanan hijrah nya sang Baginda Nabi bersama seseorang sahabat.

Mengapa beliau memilih Abu Bakar r.a sebagai teman perjalanan?.

Seolah beliau ingin mengajarkan kepada umatnya jika ketenangan ada pada kekuatan maka beliau akan memilih Umar dan Hamzah r.a sebagai pendampingnya. Jika ketenangan ada pada harta mungkin Abdurrahman Bin Auf lah yang akan dipilih nya. Namun karena ketenangan ada pada iman, maka Ash-Shiddiq lah yang dipilih. Sosok yang tak akan bertambah keyakinannya meski hijab antaranya dan surga dibuka, sebab keimanan nya telah paripurna. Seraya mengulang firman Allahﷻ, baginda Nabi menguatkan “ jangan bersedih sesungguhnya Allahﷻ Bersama kita “.

Ketenangan juga dapat dijemput dengan sikap bertawakal seraya berserah diri kepada Allahﷻ dan berusaha menyertakan Allahﷻ dalam segala urusan.

Bukankah mereka yang berpergian dengan menyandang nama penguasa akan merasa aman dan mendapat jaminan perlindungan?

Bukankah setiba nya ditempat tujuan mereka akan disambut dan dilayani selayaknya utusan sang raja?

Begitulah gambaran orang yang menyertakan Allahﷻ dalam segala aktivitasnya. Kondisi sebaliknya akan menimpa mereka yang enggan menyandang nama penguasa dalam perjalanannya. Rasa cemas, takut dan bingung akan selalu menyertai perjalanannya yang Panjang.

Ketenangan dan Kebahagian.

Semua orang mendambakan kebahagiaan, namun banyak yang mencari kebahagiaan ditempat yang salah sehingga mereka tidak menemukan kebahagiaan yang hakiki.

Bukankah sudah menjadi tabiat bahagia datang setelah tenang?

Bagi mereka yang memahami hakikat penciptaan akan menjadikan ke ridaan Allahﷻ sebagai tujuan untuk mendapatkan ketenangan. Seperti hal nya menghadapkan wajah pada Mentari, maka akan mendapatkan pancaran sinar ke hangatan yang hakiki. Namun bagi mereka yang membelakangi Mentari, hanya bayangan semu yang ia dapat kan.

Bukankah mengejar bayangan merupakan kesia-siaan belaka?

Setiap insan merindukan kebahagiaan, namun banyak yang lupa jika kebahagiaan datang setelah ketenangan. Maka, sebuah kepalsuan bagi mereka yang mengejar kebahagiaan namun membiarkan perpecahan, peperangan dan kekacauan terjadi. Maka, pastikan diri kita menjadi bagian dari hadirnya ketenangan bagi keluarga kita, bagi tetangga kita dan bagi masyarakat lingkungan kita.

Semoga kita semua dimasukkan kedalam golongan hamba nya yang memiliki kedalaman iman, sehingga dapat merasakan gelombang ketenangan jiwa yang dengannya dapat menjemput sebuah kebahagiaan hakiki.

 woles dan bahagia lah.

sandis-helvigs-509166-unsplash

Dinamika Batin : Taat dan Setia

Ketaatan dan Kesetiaan

Mereka yang menjaga hubungan persahabatan dengan seseorang yang sedang terpuruk, kesusahan adalah sahabat yang sesungguhnya. Mereka yang tidak mendukung temannya saat sedang tidak beruntung tidak pantas disebut sebagai sahabat.1

Apa yang dapat Kita pahami dari Ketaatan dan Kesetiaan?

Ketaatan (loyalitas) merupakan salah satu dinamika batin yang mendasar dari manusia. Ketaatan berarti menepati janji, berkeinginan kuat melaksanakan nya, dan menunjuk kan rasa hormat serta menghargai nya sebagai bentuk syukur untuk rahmat dan nikmat Tuhan.

Dinamika mendasar lainnya adalah kesetiaan, yang berarti berkata benar, jujur dan dapat dipercaya saat memberikan janji. Kesetiaan juga berarti memiliki harapan besar untuk saudara dan saudari nya, yang saling mendampingi di jalan Allahﷻ. Lebih dalam lagi, saling setia berarti saling melengkapi dalam tugas, menjaga janji, membina kepercayaan, dan saling membantu menyelesaikan tugas yang belum terlaksana.

Rasa taat (loyal) dan setia merupakan perasaan yang begitu kuat, sehingga membuat seseorang menjadi terhormat di pengawasan Allahﷻ dan juga di mata manusia. Ini menjadi tugas penting untuk setiap orang beriman, agar mereka menjadi loyal dan setia kepada tujuan dan nilai luhur mereka, sehingga dapat di percaya oleh mereka yang memberikan kesempatan untuk nya hidup dalam nilai-nilai luhur tersebut.

Ketaatan dan kesetiaan memberikan rasa percaya bahwa pasti ada suatu level kebaikan dalam setiap kalbu manusia, yang kemudian ini menjadi landasan setiap sikap dan prilaku kita. Ada banyak generasi yang mengharapkan petunjuk dari manusia-manusia yang jujur dan dapat dipercaya. Tidak menjawab panggilan mereka dan meninggalkannya bukanlah ciri-ciri manusia yang taat, bukan ciri-ciri manusia yang loyal dan setia.

Kisah: Ketaatan Sejati hanya ditujukan kepada Tuhan.

Shams At-Tabrizi pernah berbincang dengan teman-temannya yang diketahui sedang mencari rida Allahﷻ. Beliau membicarakan tentang hal-hal yang tidak umum, setelah beberapa saat beliau berkata, “Jika seseorang menunjuk kan ketaatan kepada kita di jalan Allahﷻ, sekali dan kemudian menunjuk kan sikap jahat kepada kita seribu kali setelahnya, kita menghargai sikap taat nya yang sekali tersebut, dan memaafkan sikap jahatnya. Karena ketaatan sejati, yang mana ditujukan untuk Tuhan, tidak ter nilai. Mereka yang paham tentang ketaatan sejati, maka akan menafikan kejahatan”.

Tuhan adalah sahabat yang paling setia. Satu ketaatan dalam meraih rida-Nya, melampaui ribuan sifat jahat. Karena ketaatan sejati adalah ketaatan dalam meraih rida-Nya, dan rida Allahﷻ di atas segalanya, tidak mungkin dapat di ukur.

Jika Shams menuntun kepada jalan seperti itu, bahwa satu sikap setia melampaui ribuan sikap jahat, kita tidak akan mampu membayangkan bagaimana Tuhan akan memberi ganjaran kepada sikap setia meraih rida-Nya. Kita tidak akan mampu membayangkan bagaimana Tuhan akan mengampuni dosa-dosa kita yang begitu banyaknya. Selama seseorang pernah menunjukkan kesetiaan sejati dengan ketulusan yang sempurna, sekali dalam hidupnya, itu menjadi kesuksesan yang besar: “Satu momen kehidupan yang ter pancar karena hubungan dengan Tuhan lebih mulia daripada jutaan tahun kehidupan tanpa cahaya tersebut.”2 Dengan kata lain, satu sinar cahaya akan selalu lebih disukai daripada ribuan jam kegelapan, karena hasil dari secercah cahaya akan sangat signifikan.

Diterjemahkan dari buku Inner Dynamic of the People of Hizmet, Fatih Degirmenli.

Tulisan lain tentang ketaatan dapat dibaca pada artikel Tentang Kesetiaan dan Ketaatan

  1.  Gulen, M. Fethullah, Pearls of Wisdom, New Jersey: Tughra Books, 2012, p.81
  2. Nursi, Said, The Letters, New Jersey: The Light, 2007, p. 310
Mengembangkandiri.com[Downloader.la]-635797bdc99ab

Prioritas Membaca dan Menjadi Mentor

Artikel pertama dari seri artikel ini membahas tentang “Rumah”. Oleh karena itu, di artikel seri kedua, topik yang akan kita bahas adalah bagaimana seharusnya orang-orang yang tinggal di Rumah tersebut dididik dan dibina, serta apa saja buku-buku yang harus mereka dibaca?.

Fungsi utama dari Rumah adalah untuk mendidik dan membina orang-orang yang tinggal didalamnya, agar mengagungkan sang pencipta mereka, serta berkomitmen penuh dalam mewujudkan nilai-nilai universal dan kemanusiaan. Sehingga, mereka yang tinggal di Rumah ini adalah “individu” yang telah menetapkan hati mereka pada i’lâ-ı kalimatullah (mengagungkan Allah), yang berempati kepada sesama dimanapun ia berada, mengutamakan nilai-nilai kemanusiaan, mengorbankan kenyamanan pribadi demi terciptanya perdamaian umat manusia dan berdiri di garda terdepan dalam menentang ketidakadilan.

Sebagai relawan Hizmet, panduan utama kita adalah Risalah Nur. Tanpa membaca dan memahami Risalah Nur dengan baik, mustahil untuk bisa memahami Hizmet secara mendalam.

APA ITU RISALAH NUR?

Risalah Nur bukanlah sekedar sumber pengetahuan yang biasa saja. Tidaklah cukup hanya menganggapnya sebagai karya yang dapat membuktikan keberadaan Tuhan secara logika saja. Risalah Nur adalah sumber yang menjelaskan tentang ‘ma’rifatullah‘ secara rinci. Risalah Nur adalah kunci pengetahuan tentang Tuhan. Risalah Nur adalah tafsir Al-Qur’an yang menerangi zaman ini. Oleh karena itu, ia berisi ilham serta memiliki pesona dan celupan dari Al-Quran. Sebagai contoh, jika anda membaca Risalah Ikhlas anda akan menemui setiap kalimatnya adalah kata-kata mulia yang bersumber dari Al-Qur’an, seperti itulah setiap bagian dari Risalah Nur. Risalah Nur ditulis dengan kezuhudan yang tinggi dan dengan rahmat Allahﷻ, sehingga Risalah Nur menjadi sumber inspirasi Ilahi.

Apakah ada mahakarya yang seperti Risalah Nur ini dalam sejarah?

Selama lebih dari 60 tahun telah dibaca dan didiskusikan ribuan kali bahkan ratusan ribu kali dan bahkan sampai jutaan kali, baik di Rumah-rumah di Turki maupun di seluruh dunia dan hal ini masih terus berlanjut hingga hari ini.

Penerimaan yang baik ini merupakan anugerah Ilahi atas kebulatan tekad, kebaikan, dan kezuhudan serta keikhlasan penulisnya.

Allahﷻ menganugerahkan pesona yang luhur kepada “Risalah Nur”. Disaat anda membacanya dan pikiran anda sibuk dengan kata-kata yang ada didalamnya, disaat bersamaan ia memperbaiki hati anda. Disaat anda mencoba memahami kata-kata yang ada didalamnya, disaat bersamaan ia merekonstruksi pikiran anda. Bahkan ketika anda menyelesaikan suatu topik pembahasan dalam Risalah Nur, namun anda tidak mengerti apa-apa, pada hakikatnya tanpa anda sadari ia memenuhi alam pikiran anda dengan cahaya. Dan dengan cahaya itu akan memberikan panduan yang sempurna kepada jiwa anda untuk berperilaku positif. Semua ini akan terwujud selama Risalah Nur dijadikan wasilah dan sarana menuju Allahﷻ.

Tetapi, ketika anda mendekati teks-teks Risalah Nur dengan kesombongan, kefanatikan, dan keinginan menjadi orang ternama dalam masyarakat, maka pesonanya akan hilang. Ketika anda menjadikan Risalah Nur sebagai tujuan bukan sebagai sarana, mengubahnya menjadi komoditas komersial, atau menjadikan Risalah Nur hanya sebagai alat untuk mempublikasikan pengetahuan yang anda miliki, maka Risalah Nur yang luar biasa ini menutup pintunya bagi anda. Sihir dan celupannya akan hilang, penunjuk arahnya akan buram. Jika seperti ini, meskipun Risalah Nur ada dalam hafalan anda, namun anda tidak akan mendapatkan manfaat apa-apa dari Risalah Nur.

BUKU PIRLANTA

Setelah Risalah Nur menenangkan jiwa dan menjadikan tawajjuh kepada Allahﷻ sebagai sifat serta karakternya, maka hal yang perlu dilakukan selanjutnya adalah mewujudkannya dalam bentuk amal saleh. Untuk melakukan amal saleh dan kedisiplinan ada seri buku Prisma, seperti: Buku Dakwah, Cahaya Al-Qur’an, Cahaya Abadi dan Kriteria.. Namun sebelum membaca buku-buku yang disebutkan di atas, buku pertama yang perlu dibaca dan diselesaikan terlebih dahulu adalah seri buku Pirlanta.

Menjaga keikhlasan saat menulis sesuatu, mudah jika hanya dalam ucapan saja, namun dalam pelaksanaanya sangatlah sulit. Prinsip dalam meneliti sebuah karya adalah seseorang tidak boleh mencampurkan keinginan pribadinya pada sebuah karya yang ia teliti. Cobalah telaah kumpulan ceramah yang sudah disampaikan 50 tahun yang lalu dan telitilah dengan prinsip tersebut diatas. Jika anda adalah orang yang memiliki rasa keingintahuan yang tinggi, anda akan dapat membedakan kalimat-kalimat yang bercampur dengan keinginan pribadi pembicara. Sosok yang sudah berbicara selama puluhan tahun dan apa yang ia sampaikan tidak ada unsur keinginan diri pribadinya meskipun satu kalimat, hal ini menunjukan sebuah fakta bahwa pembicara tersebut berbicara dengan keikhlasan dan ketulusan yang sangat tinggi. Oleh karena itu, untuk mendapatkan celupan keikhlasan yang sama, membukukan dan membacanya adalah wasilah yang sangat membahagiakan.

Seperti yang diajarkan oleh Risalah Nur kepada kita yaitu perbedaan antara “makna huruf” dan ” makna ismi”, dalam pandangan kami, karya-karya ini juga demikian:

“Alam semesta harus dimaknai dengan makna huruf dan melihatnya berdasarkan pandangan tersebut. Adalah suatu kesalahan jika memahami alam semesta dengan makna ismi dan sebab-sebabnya.”

Merupakan suatu hal yang berbahaya, jika memuliakan karya-karya ini dan penulisnya dengan makna ismi. Memuliakannya dengan sebutan wali atau sosok yang bebas dari kesalahan, bahkan menyebutnya dalam setiap majelis sebagai manusia luar biasa dan mengagungkannya dengan makna ismi sebagai manusia suci. Pernyataan-pernyataan ini dan yang serupa dengannya dapat berujung pada kemusyrikan. Hal ini juga menyebabkan hilangnya cahaya dari karya-karya ini.

Selain daripada itu, jika hanya berfokus pada bagian luar saja, bukan pada makna yang terkandung didalamnya. Hanya terpaku pada satu dari delapan Risalah atau hanya terpikat dengan pola formal buku yang dibaca, terpesona dengan fiksi teksnya, tertarik pada sajak-sajak puisinya. Hal ini ibaratkan memakan madu yang ada dalam sebuah botol dengan menjilati bagian luar botolnya saja.Ketika perhatian hanya terfokus pada sastra, gaya bahasa dan kefasihannya saja, maka esensi yang ada didalamnya akan terlupakan.

Setelah membangun sebuah pondasi yang kokoh dengan semua karya-karya ini, setiap orang harus mampu beradaptasi dengan dunia yang selalu berubah secara proporsional sesuai dengan cakrawala mereka. Lalu setiap orang perlu membaca karya klasik dunia dan karya klasik lokal dari negara asal mereka masing-masing agar dapat mengenal dan memahami manusia lain yang ada disekitarnya. Namun hal-hal yang juga perlu diingat adalah, bahwa setiap orang perlu menguasai sejarah, filsafat, ilmu logika dan bidang ilmu pengetahuan lainnya pada tingkatan tertentu.

KAKAK PEMBINA

Membaca sangatlah penting, tetapi membaca bukanlah segalanya. Jika karya yang dibaca tidak dihayati dalam kehidupan, jika semua sikap dan tingkah laku tidak berubah menjadi amal saleh, maka menjadi nyata kebenaran ayat berikut: “Perumpamaan orang-orang yang diberi tugas membawa Taurat, kemudian mereka tidak membawanya (tidak mengamalkannya) adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Sangat buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat- ayat Allahﷻ. Dan Allahﷻ tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim” (Al-Jumu’ah ayat 5).

Seorang kakak pembina harus mengisi waktunya dengan amal saleh agar tidak terlena oleh godaan hawa nafsu.

Siapa yang akan mendidik dan membina kakak pembina?

Seperti yang disebutkan dalam sebuah paradoks “Apakah ayam yang keluar dari telur atau telur yang keluar dari ayam”. Sama halnya, bahwa siswa yang berkualitas tidak akan hadir tanpa kakak pembina (mentor) yang berwibawa dan berkualitas atau dalam arti kiasan “idola” yang mendidik dan membimbing mereka dengan baik. Kakak pembina (mentor) yang berkualitas hanya dapat dibentuk oleh sosok yang berkualitas juga. Jika tidak ada siklus yang benar seperti ini, rumah- rumah tidak dapat menjalankan fungsinya secara sempurna. Saat ini, kakak pembina (mentor) adalah aspek yang sangat dibutuhkan, terutama bagi siswa yang pergi ke luar negeri dan mencoba untuk belajar bahasa dan beradaptasi dengan sekolah asing.

Membina generasi tidak bisa dilakukan secara paketan. Membina secara paketan sama seperti membuat patung secara grosir. Patung buatan bisa diproduksi secara langsung dalam jumlah yang banyak tetapi tidak memiliki nilai seni. Membina secara paketan tidak bisa melahirkan “Individu” yang dapat menjadi diri mereka sendiri dan berkontribusi pada dunia.

Apakah Kamp itu mesin cetak?

Kamp adalah program kolektif yang sangat penting dan tak tergantikan. Sudah barang tentu program ini memberikan nilai-nilai yang positif. Tetapi kamp bukanlah “mesin cetak”. Jika tidak ada bimbingan terhadap siswa secara individu, mendengarkan permasalahan yang mereka alami satu persatu, memahami apa yang mereka inginkan dan membangun ukhuwah yang kokoh, maka efek kamp akan seperti api yang membakar daun kering yang membesar seketika lalu habis dengan sekejap. Jika kamp yang dilakukan selama 10 hari merupakan kelanjutan atau bagian dari apa yang dilakukan pada 355 hari lainnya dalam setahun, maka efisiensi nyata akan dapat diperoleh. Jika tidak, bimbingan yang dilakukan selama kamp akan seperti hujan dimusim panas yang turun tiba-tiba kemudian deras sekejap lalu mengering dengan cepat.

Pertanyaan tes kualitas pembinaan

Apakah pembinaan atau Hizmet di kota tersebut ada atau tidak?

Tes ini dapat dilakukan dengan mudah, ada dua aspek yang dapat dijadikan sebagai tolak ukur:

Pertama: Ada berapa Rumah yang sesuai dengan ketentuan ideal ?

Kedua: Berapa banyak pembina yang memenuhi syarat yang anda miliki?

Aspek-aspek lainnya adalah data statistik saja.

Jika tidak ada pembinaan seperti ini, maka sekolah maupun lembaga lain yang kita miliki tidak lebih berharga daripada sekolah biasa atau lembaga biasa. Dari perspektif ini dapat dikatakan bahwa Rumah yang ideal lebih berharga daripada sekolah yang besar atau institusi yang megah sekalipun.

********

Makna Huruf (Simbolik): yaitu melihat segala sesuatu yang ada pada makhluk dan seluruh alam semesta adalah dari Allahﷻ dan Allahﷻ lah yang menciptakan itu semua. Artinya, segala sesuatu tidak memiliki makna jika tidak dinisbatkan kepada sang penciptanya yaitu Allahﷻ. Jika melihat pada sebuah apel, maka ada ratusan simbol yang menunjukkan bahwa sang penciptanya adalah Allahﷻ. Maka dari itu, ratusan simbol yang menunjukan adanya sang maha pencipta disebut dengan makna huruf.

Makna Ismi (Hakiki): yaitu melihat segala sesuatu yang ada pada makhluk dan seluruh alam semesta adalah sebuah hakikat dan bukan dari Allahﷻ. Dengan kata lain, melihat makhluk dan alam semesta atas nama mereka sendiri dan tidak menisbatkannya kepada Allahﷻ. Jika melihat pada sebuah apel dan menilai bahwa apel itu ada dengan sendirinya, maka hal ini adalah peniadaan terhadap ribuan simbol yang menunjukan sang maha pencipta yaitu Allahﷻ. Makna ismi (hakiki) hanya milik Allahﷻ.