pexels-oleksandr-pidvalnyi-2781814

Puncak Masa Depan Yang Didambakan

Karya Pembaca : Imam H.

Mungkin kita pernah berharap pada suatu hari nanti kita bercita-cita ingin menjadi seorang guru, dosen, dokter, insinyur, pelaut, petani dll. Hal tersebut kita lakukan tidak lain agar mempunyai tujuan yang jelas di masa yang akan datang sehingga kita bisa mempersiapkannya dengan lebih matang.

Akan tetapi pada akhirnya mungkin kita akan bertanya-tanya, masa depan itu apa?

Atau apakah masa depan itu mempunyai batas?

Kalaupun iya, lalu apa puncak dari masa depan itu?

Ada yang mendefinisikan bahwa masa depan itu adalah: (1) Periode kehidupan yang akan kita jalani dan berakhir ketika kita meninggal nanti. (2) Periode mendatang yang membutuhkan perencanaan yang bisa dipersiapkan dan bisa dirancang untuk mencapainya.

Semua itu mungkin saja benar karena setiap orang mempunyai definisi yang berbeda akan masa depan. Yang jelas masa depan adalah suatu kejadian yang akan terjadi.

Masa depan berkaitan erat dengan keinginan dan harapan. Terkadang harapan dan keinginan itu menjadi benang merah tolak ukur tercapainya masa depan yang kita dambakan. Apapun yang kita lakukan di detik ini adalah demi terwujudnya masa depan yang lebih baik, ntah apa yang kita ingin dan harapkan akan terwujud atau tidak. Yang jelas setiap detik kedepannya adalah masa depan yang akan kita lalui.

Akan tetapi setiap kali kita mencapai apa yang kita inginkan di masa depan, semua itu pun menjadi masa kini, baik itu  hari yang sedang kita jalani, kepuasan yang sedang kita nikmati, harapan-harapan masa kecil yang telah kita capai, semua itu akan menjadi masa kini atau masa lalu yang telah berlalu.

Terkadang kita pun tidak menyadari ternyata kita sedang ataupun sudah berada di masa lalu yang dahulu kita ingin dan harapkan. Tetapi, waktu tidak peduli, dia tetap akan berjalan. Meskipun kita sadar atau tidak, waktu tidak akan peduli dan terus akan berjalan.

Ketika kita masih kecil, melihat orang-orang dewasa bisa berjalan dengan baik, memperhatikan mereka melakukan segala sesuatu dengan mudahnya, kita pun berharap agar segera tumbuh seperti mereka. Masa itu kita ingin sekali mempercepat waktu dan pada akhirnya ketika kita mencapai apa yang kita inginkan, masa itu pun menjadi masa kini dan waktu pun terus berlanjut. Ketika kita mulai menuntut ilmu dari taman kanak-kanak (TK) kemudian melanjutkan ke jenjang SD,SMP,SMA, sampai mendapatkan gelar sarjana,  semua itu demi masa depan. Ketika kita berharap mendapatkan pekerjaan, menikah, mendambakan keturunan, mempunyai anak, cucu, cicit semuanya demi masa depan.

Ketika semua itu sudah tercapai, masa lalu itu menjadi masa kini.

Masa depan tetap berlanjut, kita selalu menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Hingga kita mati pun, masa depan tetap berlanjut sampai pengadilan Allahﷻ ditetapkan.

Apakah kita dimasukkan ke dalam Surga atau neraka?

Hey, ternyata masih berlanjut. Lalu puncak masa depan itu sampai dimana?

Semua orang mempunyai pendapat atau pemikirannya masing-masing. Sebagai umat Muslim kita akan berpikir lebih mendalam lagi, melihat, membaca, merujuk, dan menelaah dari kitab suci Al-qur’an. Al-Qur’an menjelaskan bahwa puncak dari masa depan adalah ketika kita mampu meraih rida Allah سبحانه وتعالى. Puncak dari masa depan yang kita ingin dan harapkan adalah sebagaimana firman Allah سبحانه وتعالى :

 {يا أَيَّتُهَا النَّفْسُ المطمئنة (27) ارْجِعِي إِلى رَبِّكِ راضية مرضية (28) فَادْخُلِي فِي عِبادِي (29) وَادْخُلِي جنتي (30)}.

Artinya: “Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (Q.S. Al-Fajr [89]: 27-30)

“Wahai jiwa yang tenang!” para mufassir berkata ini adalah perkataan malaikat maut ketika ingin mencabut nyawa-nyawa orang yang beriman. Wahai jiwa yang tenang, wahai jiwa yang beriman, Kalimat tersebut dikatakan kepada orang mukmin, karena mereka yakin terhadap janji Allahﷻ. Mereka yakin terhadap apa yang dilakukan tidak pernah sia-sia. Mereka yakin terhadap amal saleh yang mereka kerjakan akan diberi ganjaran oleh Allahﷻ. Hati mereka tenang dengan iman dan amal saleh yang mereka lakukan, serta tidak ada sedikitpun keraguan di dalam hati mereka.

“Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya.” Betapa bahagianya seseorang ketika malaikat membisikan kalimat ini kepadanya. Dia akan pulang dalam keadaan rida dan gembira terhadap apa yang menantinya. Bukan hanya sampai disitu, Allahﷻ pun rida terhadap kepulangannya.

Jiwa mana yang tidak bahagia ketika kedatangannya sudah dinanti dan diperlakukan dengan istimewa oleh sang pemilik alam semesta. Terlebih lagi akan diberikan ganjaran yang sangat besar dari amal saleh yang pernah dia kerjakan.

Ketika Allahﷻ berfirman kepadanya, “Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku”, Allahﷻ berkehendak agar dia tidak merasa sendiri. Karena akan ada orang-orang saleh bersamanya dari kalangan ulama, para mujahidin, orang yang sering bersedekah, orang yang taat kepada kedua orang tuanya, para hafiz al-Quran dll. Selain itu, ketika ia akan masuk ke surga, Allahﷻ menyebutnya secara khusus. Dia akan merasa sangat spesial dan istimewa karena perlakuan tersebut.

Di dalam Surat Ali ‘Imran Ayat 185 Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ ۖ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ ٱلنَّارِ وَأُدْخِلَ ٱلْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلْغُرُورِ

Artinya: Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.

Ayat ini menjadi pengingat yang kuat akan masa depan yang sebenarnya kita dambakan. Bukan berarti kita melupakan dunia begitu saja, akan tetapi kita mensyukuri yang menjadi bagian kita, sembari menyiapkan bekal sebanyak-banyaknya untuk kehidupan yang kekal abadi.

Marilah kita bermuhasabah diri, setiap kegiatan yang kita lakukan, setiap prestasi yang kita raih, setiap ibadah yang kita persembahkan, setiap kebaikan yang kita usahakan, apakah semua itu karena Allahﷻ?

Apakah semua itu demi mendapatkan rida-Nya?

Apakah hanya ingin mendapatkan pujian dari manusia atau hanya untuk kepentingan dunia yang bersifat sementara saja?

Aduhai, betapa malangnya ketika apa yang kita usahakan semua itu sia-sia belaka. Lelah, letih, kucuran keringat, tetesan air mata, luka dan darah yang kita alami ternyata bukan karena Allahﷻ. Akhirnya semua itu seperti debu yang beterbangan, tidak ada yang tersisa.

Pengadilan yang Maha Agung, tidak akan pernah salah walaupun sekecil apapun. Pengadilan yang menampakkan sejatinya kita di dunia. Mungkin saja di dunia kita nampak sebagai orang baik, namun di pengadilan ini kita adalah orang yang sebaliknya. Begitupun sebaliknya, orang yang nampak buruk di dunia ternyata di akhirat dia dikumpulkan bersama orang-orang saleh.

Marilah kita senantiasa berdoa kepada Allahﷻ agar diberikan kebaikan, baik di dunia maupun di akhirat nanti. Diberikan limpahan rahmat dan karunia-Nya agar kita dapat menggapai hakikat masa depan yang sebenarnya kita dambakan.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Artinya: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.” Aamiin

wallahu a’lam….

pexels-pixabay-236164

Asas – Asas Kebangkitan

Menurut Ustaz, faktor-faktor untuk meraih kemajuan & ketenteraman ada tiga yaitu :

 Faktor Pertama: Manajemen Waktu

Manusia harus mengatur waktunya agar harmonis, baik waktu untuk istirahat, maupun waktu untuk keluarga dan anak-anaknya. Ia juga harus menyiapkan waktu untuk bekerja mencari nafkah. Jika ia seorang guru, maka ia harus menyisihkan waktu untuk mendukung kebutuhan profesinya tersebut. Ia juga harus menyisihkan waktunya untuk membaca. Saat luang, ia perlu berdiskusi dengan sejawatnya, membahas hal-hal agung terkait profesinya. Mereka harus tahu apa yang harus mereka kerjakan di jalan ini.

Mereka yang meluncur seperti karambol akan tersangkut oleh hambatan di tengah jalan. Mereka harus tahu siapa dirinya dan sadar saat menulis visi hidupnya, mereka harus berkata:

“Saya harus begini dan begitu biar sukses!”

Ia harus membagi waktu sesuai visi hidupnya. Manajemen waktu adalah bahasan yang dalam dan serius.

Faktor Kedua: Pembagian Tugas

Pembagian tugas harus didasarkan kepada efektivitas kinerjanya. Dalam pembagian tugas juga membutuhkan sifat itsar “mendahulukan orang lain”.  Ketika memahami itsar, kaidah ini harus diingat: Para nabi tak mungkin berkata: “Kamu kerjakan tugasku!”.

Kenabian adalah tugasnya para nabi, mereka tak mungkin berpaling darinya. Selain tugas, kenabian juga merupakan suatu kehormatan. Ia adalah misi dan kewajiban yang tak mungkin bagi para nabi untuk berpaling darinya. Berpaling dari kenabian berarti berpaling dari Allahﷻ, hafizanallah. Karena itu, tak peduli betapa tawaduknya nabi Muhammadﷺ, beliau tidak bisa bersabda:

“Wahai Abu Bakar, Umar, Usman, gantikan saya!”.

Namun demikian, setiap manusia selain nabi perlu mempertimbangkan agar orang lain saja yang mengemban tugasnya lewat semangat itsar. Daripada dirinya sendiri, mereka lebih mengusulkan orang lain: “Si A cocok jadi muazin, si B cocok jadi Bupati, dst”. Tentu disini basirah masyarakat juga dibutuhkan.

Cerita dari pidato Tahir Efendi. Ia berkata: “Anda adalah muntahib (pemilih), sedangkan saya muntahab (yang dipilih) untuk duduk di muntahabun ilaih (majelis). Yang Anda kerjakan adalah intihab (memilih). Intihab berasal dari kata nuhba yang artinya krim (bagian atasnya susu). Seperti apa kualitas susunya, demikian juga kualitas krimnya”.

Ya, saat masyarakat memiliki basirah, siapapun bisa ditugaskan dimanapun. Jika tidak, masyarakat akan memilih orang seperti Karun yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Orang itu akan menyalahgunakan nilai-nilai agung yang Anda junjung tinggi. Mereka akan menyalahgunakannya demi keuntungan pribadi. Untuk itu, intihab (pemilu) sangatlah penting.

Yang Ketiga: Prinsip Tolong Menolong (Ta’awun).

Berasal dari akar tafa’ul (tanda baik), ia menekankan agar kalian saling tolong menolong satu sama lain. Ustaz berkata: “Persatuan dan kesatuan adalah sarana terbesar bagi turunnya taufik ilahi”. Tangan yang saling bergenggaman di jalan Allahﷻ dengan penuh semangat dan memiliki tujuan yang sama, tidak akan pernah Allahﷻ sia-siakan. Anda pun memohon sesuatu yang sama “Ya Allahﷻ, tinggikanlah kalimatMu di segala penjuru, jadikanlah kami sebagai sarananya, dan jadikanlah kami sebagai hambaMu yang mukhlis, mukhlas, muttaqi, wara, zahid, serta muqarrabin. Berikanlah kami, dengan semua itu kerinduan yang membuat kami bisa bertemu dengan kekasihMu ﷺ”.

Itulah penjelasan mengenai apa saja tugas yang menjadi kewajiban kita.

Kita memiliki keahlian dalam beberapa hal. Entah itu, disebabkan oleh lingkungan kita, bakat dan pembawaan kita, atau karena genjotan pada syaraf kita. Kita memiliki kemampuan berfikir yang cukup luas. Dengan kemampuan tersebut, kita harus menggunakannya untuk membantu dan membimbing mereka. Perhatikanlah! Di satu sisi, doa berjamaah, persatuan, dan kesatuan merupakan sarana bagi datangnya taufik ilahi.

Sedangkan sisi lainnya adalah bagaimana kita menjadi sarana matangnya pemikiran dan jiwa umat manusia. Andaikan akal anda telah matang, anda harus membantu dan membimbing manusia agar meraih ufuk pikir itu. Bahkan anda harus berharap agar mereka melebihi Anda. Itulah yang dituntunkan itsar kepada kita.

Itsar : Mendahulukan kepentingan orang lain dari pada kepentingan sendiri.

Contoh lainnya: Anda sedang sekolah. Anda belajar bersama teman-teman anda agar naik kelas. Beberapa dari anda memiliki kemampuan lebih, entah karena faktor keluarga, budaya atau faktor lainnya. Dengan bekal itu, Anda lebih mudah memahami, merangkum, dan menyimpulkan pelajaran. Anda harus sebisa mungkin, membantu teman anda meraih level yang sama. Ini merupakan contoh untuk para pelajar. Di contoh itu, tercerminkan semangat itsar, semangat untuk mengangkat level rekan-rekannya melebihi dirinya.

Berikutnya, contoh di level yang lebih tinggi. Ketika kita meniti karir. Kita bekerja untuk meraih gelar master, doktor, dan professor. Beberapa teman misalnya, sangat ahli dalam menciptakan lagu. Teman lainnya sangat menguasai perpustakaan. Kata Necip Fazil, mereka ini “tikusnya perpustakaan”. Mereka tahu, topik tertentu yang dibahas di buku mana saja. Orang lain mungkin mengerjakan tugas itu dengan kondisi tidak terlalu menguasai hingga sedetil itu. Yang ahli komposisi lagu harus berkata: “Isu ini sebaiknya disampaikan begini”. Ia harus mendukung temannya.

Yang sedang doktoral, harus menyelesaikannya dalam 2 tahun, jangan 10 tahun, andai aturan memungkinkannya. Beberapa diantaranya, menguasai daftar isi buku-buku, mereka bagaikan tikusnya perpustakaan. Dia berkata: “Kawan, rujukan untuk topik itu ada di rak ini, buku ini dan itu, di halaman sekian…”. Bila perlu, ia ajarkan bagaimana topik tersebut harusnya disampaikan, dengan menyesuaikan karakter dospemnya. Sesuai kaidah ta’awun, Ia juga membantu bagaimana menghadapi dosen pembimbing & menyamakan frekuensi dengannya.

Inilah yang semestinya dilakukan oleh kita, sesuai turunan kata ta’awun: Ta’awana/yata’awanu/ta’awunan yang bermakna: saling menolong dalam menyelesaikan suatu pekerjaan antara dua orang atau lebih. Jadi, suatu pekerjaan tidak diselesaikan dengan satu akal. Melainkan dengan ribuan dukungan akal yang semuanya atas izin dan inayat Allahﷻ. Dengan satu sama lain, saling percaya.

Ia: “Temanku lebih amanah!”.

Keyakinan ini juga bersandar pada semangat itsar. Dengan kadar yang berbeda, ada yang setetes, ada yang secangkir, ada yang segelas, dan ada juga yang segentong. Jika kita saling percaya, maka kekuatan akan lahir melalui persatuan dan kesatuan yang kita bangun. Dan kesuksesan itu pun akan tercapai, atas izin Allahﷻ. Dengan menggabungkannya, Kekuatan rekan dapat menambah kekuatan kita. Jika kita bisa meletakkannya di pondasi yang kokoh. Maka dari satu orang, dapat dihasilkan output setara seribu orang.

Hal penting lainnya adalah saling percaya dan tidak mudah suuzan. Bisa jadi keadaan yang ada sekarang, memudahkan kita bersuuzan. Tapi kita masih punya kesempatan untuk mengujinya. Menguji dengan hal yang sederhana. Jika lulus, maka akan naik kelas. Demikian seterusnya hingga berhasil duduk di hati kita. Ternyata, ia juga penuhi haknya. Lalu kita letakkan ia di pusat hati kita:”Silahkan naik kemari!”. Dan ia penuhi lagi haknya. Maka kita katakan:”Kamu benar-benar layak disini.” Cerita ini hanya permisalan.

Demikian juga dalam Hizmet. Anda ditempatkan disini, sukses. Lalu ditambah tugas baru, sukses. Semua itu terbentuk dari berbagai ujian yang sudah dilalui.

Latar belakang dari semua tugas pengambian adalah husnuzan. Saat Anda meragukan seseorang, sebelum suuzan. Maka ujilah dia… Ujian itu nantinya juga akan mengangkat levelnya. Dengannya, Anda menyiapkan pondasi agar masyarakat bisa menikmati semua potensi yang dimiliki teman-teman anda.

Mengembangkandiri.com [Downloader.la]-6328082ce580d

Hikmah Sejarah

Karya Pembaca : Saeful Arif

Apa Itu sejarah?

Terkadang datang tanpa rencana, berlalu begitu saja, perginya meninggalkan cerita, itulah sejarah, semua peristiwa yang telah berlalu hakikatnya adalah sejarah, tak peduli seberapa singkat peristiwa itu terjadi jika telah terlewati maka ia telah menjadi bagian dari keping sejarah yang mungkin bisa saja terulang dengan aktor dan pemeran yang berbeda.

J.Bank, Sir Charles Firt, Jhon Tosh dan para ahli sejarah lainnya mencoba mendefinisikan sejarah sebagai semua kejadian atau peristiwa masa lalu. Sejarah berfungsi untuk memahami perilaku masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang, sejarah dapat juga diartikan sebagai memori kolektif maupun pengalaman melalui pengembangan suatu rasa identitas sosial manusia dan prospek manusia tersebut pada masa yang akan datang.

Kenapa perlu belajar sejarah?

Disadari atau tidak sebenarnya kehidupan kita senantiasa dipandu oleh sejarah, seorang anak gadis belajar tahu bagaimana caranya menjadi ibu yang baik karena ada memori sejarah dari orang tuanya terdahulu, anak kecil yang pernah secara tak sengaja menyentuh api maka ia akan tahu bagaimana panasnya api, singkatnya semua rangkaian episode kehidupan yang telah dilewati dapat menjadi sejarah yang bisa saja menjadi pemberi warna tertentu bagi kehidupa-Nya.

Sebuah bangsa yang mempelajari dan mengetahui sejarahnya akan lebih memiliki karakter yang kuat dan menjadikan sejarahnya sebagai motivator abadi, sebagai contoh misalkan, Sebagian penduduk Thaif yang membaca serta merenungi sejarah nenek moyangnya akan merasa malu dan bersalah terhadap Rasulullah SAW atas peristiwa pengusiran dimasa lalu, namun peristiwa itu mendorong mereka saat ini untuk senantiasa memuliakan Rasulullah SAW. Contoh lainnya adalah bangsa Yahudi yang merasa berhak atas tanah Palestina, hal itu didorong oleh sejarah masa lalunya yang menumbuhkan keyakinan akan hak kepemilikan atas tanah Palestina.

Sejarah merupakan Tsaqofah wajib para sultan, ilmu akidah, ilmu fikih, ilmu Al-Qur’an Hadit, ilmu Bahasa, ilmu geografi dan ilmu sejarah , menjadi bekal ilmu yang wajib dikuasai oleh para sultan, bukankah sultan Muhammad al-Fatih juga mempelajari sejarah penyebab kegagalan para pendahulu-Nya dalam membebaskan Konstantinopel?

Hikmah sejarah

Sejati-Nya ada banyak hikmah dalam mempelajari sejarah, namun kita akan coba membatasi hanya pada apa yang dikabarkan Allah SWT dalam firmanya, dalam Al-Qur’an Allah SWT memberitahu kita hikmah mempelajari sejarah.

“Dan semua kisah Rasul-rasul, Kami ceritakan kepadamu (Muhammad), agar dengan kisah itu Kami teguhkan hatimu; dan didalamnya telah diberikan kepadamu (segala) kebenaran, nasihat dan peringatan bagi orang yang beriman. (Q.S Hud ayat 120)”

Berdasarkan ayat diatas kita dapati hikmah pertama dari mempelajari sejarah adalah adanya keteguhan hati, teguh hati berarti memiliki hati yang kokoh  dan tidak mudah goyah, tidak gamang dan latah dalam menyikapi peristiwa, orang yang memahami sejarah seolah-olah memiliki buku panduan dalam bersikap disegala keadaan, karena hakikatnya sejarah senantiasa berulang yang berbeda hanya pemeranya. Orang yang tidak memahami sejarah akan panik, bingung dan canggung dalam menghadapi peristiwa,  dan bukankah Nabi kita juga menjadikan sejarah sebagai tuntunan dalam menyikapi sesuatu?

Dikisahkan setelah perang Hunain Rasulullah kemudian membagikan ghanimah dengan kadar dan takaran tertentu, namun tiba-tiba salah seorang diantara mereka ada yang memprotes pembagian tersebut karena dirasa tidak adil, seketika wajah mulia sang Nabi menjadi merah karena marah, kemudian beliau bersabda “semoga Allah merahmati saudaraku Nabi Musa, beliau telah disakiti lebih dari ini dan bersabar“ disini Rasulullah menggunakan sejarah Nabiyullah Musa AS sebagai acuan dalam bersikap.

Contoh lainnya datang dari Sayyidah Aisyah radhiAllahu anha Ketika Sebagian masyarakat Madinah menggunjing dan memfitnah beliau telah berselingkuh dengan salah seorang sahabat, beliau pun menyikapi masalah ini dengan petunjuk sejarah, bukan marah atau pembelaan yang ia lakukan melainkan ia berkata “ aku tidak akan mengatakan perkataan apapun kecuali apa yang telah dikatakan Nabiyullah Ya’qub “Fasobrun jamil wallahul musta’an“ dari dua kisah ini kita dapat mengetahui bahwa sejarah telah memberikan keteguhan dalam hati sehingga sesorang tidak gamang dan serampangan dalam menyikapi sebuah kejadian.

Fungsi sejarah yang selanjutnya adalah sejarah sebagai nasihat dan peringatan, sebuah kemustahilan jika kita mengharapkan sejarah terulang sama persis, karena sejarah terikat oleh ruang dan waktu, namun kemungkinan sejarah terulang dari prespektif kemiripan-Nya sangat mungkin terjadi. Oleh karena itu menjadikan sejarah sebagai juru nasihat dan pengingat tidaklah salah. Bukankah seorang muslim seharusnya tidak terjerumus dalam lubang yang sama dua kali ?. Ulama terkemuka asal Turki Syekh Muhammad Fethullah berkata :

“Manusia juga perlu membaca lembaran sejarah yang menakutkan dan menyeramkan, selain membaca halaman yang membahagiakan dan menentramkan, agar ia bisa mengambil langkah antisipasi yang diperlukan. Kalau tidak, ia akan tetap tidak dewasa layaknya anak-anak dalam pemikirannya”

Semoga kita semua dianugerahkan kedalaman hati sehingga dapat merenungi dan mentadaburi setiap keping sejarah yang telah terlewati, karena hidup adalah tempat belajar maka belajarlah dari kehidupan.

Mengembangkandiri.com [Downloader.la]-632809c0b3d45

Manakah yang lebih tebal antara Al-Kalimat dengan Al-Maktubat?

Tidaklah ada bangunan yang dibangun tanpa pondasi. Jika anda ingin membangun gedung 10 lantai, anda perlu menggali sedalam mungkin dan meletakkan pondasinya dengan kokoh. Sehingga tidak rusak dan roboh pada saat terjadi gempa atau bencana lainnya. Basis gerakan Hizmet adalah manusia, yaitu manusia yang terampil. Sebagaimana yang Mulia Alvarlı Efe ia selalu berdoa, “Semoga Allah menjadikan kita manusia yang mulia!” Dasar utama Hizmet adalah “manusia” dalam kualitas ini. Manusia dengan kualitas ini hanya dididik dan dibina di Rumah-rumah. Jika orang-orang yang tinggal di Rumah-rumah memiliki kualitas seperti ini maka Hizmet akan ada, Jika tidak, maka Hizmet tidak akan ada.

Rumah, tapi rumah yang bagaimana?

Sebuah rumah di mana lima atau enam orang tinggal didalamnya. Sebuah rumah di mana penghuninya menghabiskan waktu bersama-sama sebanyak mungkin dengan salat berjamaah dan berdoa bersama serta membaca buku, setidaknya setiap hari tiga dari mereka yang tinggal di rumah ini salat berjamaah bersama dan kemudian membaca buku. Rumah yang di mana semua kamar dan ruangannya bersih dan tertata dengan sangat rapi serta dapur yang juga sangat rapi dan bersih. “Cahaya” Allahﷻ tidak termanifestasikan di tempat-tempat yang kotor, berantakan dan kumuh. Cahaya iman tidak dapat terpancar di tempat yang berantakan dan kumuh.

Mendekatkan diri dan dzikir kepada Allahﷻ adalah anugerah yang sangat berharga. Rumah-rumah ini adalah tempat istimewa di mana nikmat berharga ini terus turun.

Al-Qur’an menyebut rumah ini dengan sebutan “Rumah Cahaya”:

(Cahaya itu) di rumah-rumah yang di sana telah diperintahkan Allahﷻ untuk memuliakan dan menyebut nama-Nya, di sana bertasbih (mensucikan) nama-Nya pada waktu pagi dan petang. Orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allahﷻ, melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang (hari Kiamat). (QS. An- Nur Ayat 36 dan 37)

Rumah yang tidak memenuhi persyaratan diatas bukanlah Rumah Cahaya tapi “kos-kosan”, Ini adalah kebenaran yang menyedihkan. Jika rumah-rumah yang memenuhi persyaratan diatas ada, maka Hizmet akan tetap ada. Jika tidak, Hizmet tidak akan ada meskipun kelihatannya ada.

Hocaefendi menggambarkan rumah-rumah ini sebagai berikut:

“Rumah Cahaya adalah bangunan suci yang pernah ada; rumah yang paling efektif untuk generasi yang bercahaya yang menyibak kegelapan. Di rumah-rumah ini, setiap paginya dipenuhi dengan semangat kemenangan dan harapan baru. Di setiap sudutnya, evrad-u ezkar digaungkan, penghuni rumah yang diberkati ini setiap hari bagun dengan perasaan dan semangat baru yang penuh dengan rasa percaya diri. Semua sisi kehidupan mereka dipenuhi cahaya. Saat berkumpul, mereka berkumpul untuk belajar dan tarbiah diri; Saat mereka berpisah, mereka berpisah untuk memperoleh keutamaan dari perasaan yang bersih, pemikiran yang jernih, akhlak yang baik, iman yang kokoh, dan kedekatan dengan sang pencipta Allahﷻ yang sudah mereka dapatkan dari majlis belajar dan tarbiah.”

Rumah adalah universitas kecil kehidupan. Rumah adalah laboratorium di mana ma’rifatullah, manajemen kehidupan dan empati serta “bermuamalah dengan orang lain” dipelajari dan dipraktekkan. Sekolah maupun asrama tidak dapat menggantikan peran rumah. Manusia tidak tumbuh dan dididik dengan cara paketan. Sebuah perusahaan bisa memproduksi “patung” dalam jumlah yang banyak secara langsung namun tidak dengan manusia.

Saya pernah mencoba menguji kualitas rumah. Saya bertanya kepada salah satu lulusan yang tinggal di rumah.

Dialognnya sebagai berikut:

– Berapa lama anda tinggal di rumah? Apa yang anda lakukan?

– 5 tahun. Selama 3 tahun ini saya sebagai “imam rumah” .

– Apakah anda sudah menyelesaikan buku Ar-Risalah?

– Secara keseluruhan saya belum menyelesaikannya, tapi bisa dikatakan saya sudah menyelesaikannya.

– Apa yang dimaksud dengan ijtihad?

– … Aku tidak bisa menjelaskannya.

– Baik, ada di buku manakah Risalah icraat?

– Saya tidak ingat secara pasti, tapi bisa jadi ada di buku Al-Lama’at.

– Apakah ada kalimat yang anda ingat dari Risalah Ikhlas?

– Ya, itu Risalah yang harus dibaca setiap 15 hari sekalikan ya?

– Ya, betul sekali?

– Aku tidak

Saat dialog semakin memburuk, saya harus mengajukan pertanyaan berikut:

– Manakah yang lebih tebal antara Al-Kalimat dengan Al-Maktubat?

– Kalau tidak salah Al-Kalimat lebih tebal.

Saya tidak berbicara tentang satu contoh saja, tetapi ada banyak contoh dialog yang serupa. Dan anda menjadikan orang-orang ini sebagai penanggung jawab. Anda menjadikannya sebagai guru, kemudian anda mengharapkan pekerjaan yang sesuai dengan yang dijelaskan dalam Risalah ikhlas dari mereka.

Izinkan saya menambahkan satu kisah lagi.

Sebuah rumah yang sudah 20 tahun saya tidak datang dan melihatnya. Saat saya mengantar seorang kerabat saya yang baru memulai sekolah hukum ke rumah tempat ia tinggal. Saat itu sekitar jam 11 malam, saya berpikir untuk keluar dan melihat rumah tersebut. Lalu saya keluar dan melihat rumah Itu, saya melihat rumah itu adalah rumah yang mewah. Rumah Itu sebesar rumah tempat kami dahulu yang mana dihuni oleh 11 orang siswa. Kami menggunakan tempat tidur kayu seperti peti dengan penutupnya. Sedangkan mereka memiliki set sofa dan tempat tidur yang lengkap. Di rumah sebesar itu hanya dihuni oleh 4 orang saja. Imam rumahnya sudah menikah, oleh karena itu ia jarang datang ke rumah tersebut. Dua orang lainnya, di akhir pekan mereka pulang ke rumah mereka masing-masing. Rumah itu persis seperti kos-kosan. Kemudian saya bertanya “Apakah ada tamu yang datang?”. Tidak ada, jawab mereka. Bahkan dalam istilah kebiasaan mereka tidak ada kata tamu. Rumah itu mungkin akan bisa dikata bersih setelah disapu dan dipel selama tiga jam. Yang paling menakutkan adalah dapur. Di atas kompornya ada sisa-sisa bekas makanan yang sudah lama dan mengeras. Di satu sisi dapurnya terdapat sampah yang bertumpuk-tumpuk. Kulkasnya kotor dan penuh dengan bekas makanan yang sudah lama. Saya perkirakan jika saya membersihkan rumah itu mungkin sampai waktu subuh datang baru selesai.

Dikatakan bahwa “bagian dari sesuatu menunjukan keadaan keseluruhannya”. Ada berapa jumlah rumah yang sama dengan yang saya sebutkan diatas? Bahkan jika ada 20 % dari 100% rumah dengan keadaan seperti diatas, maka ini adalah sebuah bencana besar. Bagaimana jika anda memiliki ribuan rumah seperti itu sekarang? Apalah artinya meskipun puluhan ribu orang di rumah yang seperti itu? Jika dikumpulkan ratusan rumah yang ada, apakah ratusan rumah itu bisa menggantikan satu rumah dengan kualifikasi yang saya sebutkan di awal? jika hanya fokus kepada angka dan jumlah yang banyak maka membuka rumah hanya akan menjadi perlombaan

banyak-banyakan tanpa memperhatikan kualitas isinya. Berkaitan dengan hal ini disebutkan dalam Al-Quran dengan sangat jelas: “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu.” (QS. At-Takatsur ayat 1). Di rumah ini adalah tempat “mengagungkan Allah” serta “memuliakan dan menghormati manusia”

RUMAH ADALAH YANG UTAMA

Jika kita memiliki sepuluh sekolah dan dua puluh asrama di sebuah kota, namun jika tidak ada rumah yang merupakan pondasi Hizmet seperti yang saya jelaskan sebelumnya, maka bisa dikatakan Hizmet tidak ada di kota tersebut. Hal terpenting yang diajarkan oleh Risalah adalah untuk tidak terpaku pada sebab-sebab saja. Jika kita berhasil memahami sebab-sebab ini, kita menyadari bahwa segala sesuatu yang terjadi pada kita dimulai dengan hilangnya rumah-rumah. Institusi dapat bertahan jika bersandar pada rumah-rumah yang menjadi pondasi dasarnya. Institusi yang dibangun oleh individu- individu yang belum mematangkan jiwanya di rumah, maka ini adalah institusi yang tidak berdasar. Institusi yang tanpa “dasar” menjadi rentan terhadap kehancuran dan serangan musuh yang sebanding dengan ukuran dan tingginya. Tidak ada institusi yang akan maju ke masa depan jika kita tidak membangun pondasi serta tiang bangunannya dengan orang-orang yang terampil dan terlatih di rumah-rumah.

Sebelum ‘Rumah yang berkualitas di setiap tempat’ menjadi target utama bagi setiap penanggung jawab, maka Hizmet yang dilakukan tidak mungkin sesuai dengan yang disebutkan dalam ayat Al-Quran. Jika kriteria sukses di Hizmet adalah institusi, jumlah dan ekonomi, bukan kualitas, Maka diperlukan koreksi yang sangat serius.

Ini adalah target yang bagus untuk anda:

Tempat dimana anak-anak dari semua suku, bangsa dan negara bisa datang, belajar, membaca buku…

Tempat yang selalu dikunjungi oleh pria, wanita, pengusaha dan orang tua minimal satu kali dalam seminggu….

Dan rumah-rumah dimana nama Allahﷻ selalu di agungkan …

Institusi yang terbuat dari batu bata tentu saja berharga, tetapi rumah yang seperti ini lebih berharga dari pada emas yang bertumpuk- tumpuk.

muslim-praying-mosque-traditional-ground-carpet_21730-11191

Salat Mencegah Perbuatan Keji dan Munkar

Sebagai mukmin, hidup kita berada diantara perintah dan larangan. Kita harus mengelola kehidupan kita dengan cara menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Mengerjakan semua perintah adalah bagian dari agama Islam dan menjauhi larangan juga merupakan bagian lainnya dari agama Islam.

Peran Penting dari Salat

Sebagai orang yang berharap pada Allah ﷻ, jika kita mengerjakan perintahnya, kita akan jadi umat Nabi Muhammad ﷺ. Yaitu jamaah yang meninggalkan semua yang dilarang, dan mengerjakan semua yang diperintahkan untuk meraih hal tersebut, salat memiliki peran yang sangat penting.

Pertama, salat adalah salah satu ibadah yang diperintahkan kepada kita. Bahkan ia adalah ibadah yang berat. Pelaksanaannya di 5 waktu bersama wudu dijelaskan hadis :

“Tahukah kamu tentang apa penghuni langit itu berdebat?”

Poin yang dijelaskan dalam hadis tersebut:

  • Berwudu dengan sempurna walaupun nafsu kita tidak menyukainya.
  • Berwudu secara sempurna dalam cuaca ekstrem dingin ataupun ekstrem panas.
  • Berwudu dengan sempurna tak peduli ditempat itu airnya sedikit atau banyak.

Di alam malaikat, terjadi perdebatan diantara mereka tentang bagaimana pahala ibadah para hamba tersebut dicatat. Di tengah perdebatan tersebut, terdengar suara pena beradu. Salat, kewajiban yang berat. Tetapi ia juga kewajiban yang manis. Yang diwajibkan salat, mendekatkan diri pada yang mewajibkan perintah, yaitu Allah ﷻ. Salat adalah ibadah suci. Ia adalah sarana bagi yang diperintah dan Yang Memberi Perintah untuk bertemu. Salat adalah perintah paling utama diantara perintah lainnya. Di waktu yang sama, salat oleh Al-Qur’an dikatakan sebagai pencegah manusia dari kemungkaran. Salat yang sejati mencegah manusia dari keburukan, akhlak buruk, dan segala macam ketergelinciran. Salat mencegah manusia dari nafsu yang buruk, serta segala macam kemungkaran. Salat adalah ibadah yang menyeluruh. Salat adalah cerminan dari nama Ahmad. Salat adalah penjelasan dari perpaduan asma dan sifatnya. Salat selain memiliki sisi perintah Allah ﷻ, ia juga memiliki identitas sebagai pencegah kemungkaran.

Karena itu kita menyebut salat sebagai ibadah yang menyeluruh. Salat mencegah manusia dari akhlak yang buruk. Ketika Anda menjelaskan salat dengan makna denotasi dan konotasinya. Mereka yang salatnya tidak mencegah dari akhlak yang buruk, dapat disebut bahwa orang itu tidak menunaikan salat. Pandangan ini bisa jadi benar disatu sisi, tapi tidak disisi lainnya. Tetapi, ia benar disisi ini: “Jika seorang mukmin menunaikan salat dengan benar, salat itu akan mencegahnya dari keburukan dan kemungkaran”. Karena salat bermakna sebagai hadirnya kita ke hadapan Allah, mempertanggungjawabkan hidup kita 5 kali sehari.

Salat artinya hadirnya kita dihadapan Allah ﷻ yang berfirman: “Aku memiliki surga dan neraka“. Seakan melewati neraka diatas jembatan sirat, seakan berlari ke surga, seakan Izrail akan mencengkeram kita.

Salat, ungkapan kehadiran kita dihadapan Ilahi, dimana ada dukungan malaikat dan bujukan setan di kanan kirinya. Mereka yang menghadap Allah ﷻ seperti itu, akan mengalami suasana seakan tirai ke alam gaib terbuka untuknya.

Imam salat membaca Al-fatihah dan surat pendek, Anda menunaikan salat seakan ada dihadapan Allah ﷻ. Segala sesuatu yang berhubungan dengan surga dan neraka seakan ditampilkan di hadapanmu.

Seperti apa?

Misal disampaikan pada seorang lelaki:

“Ini ada wanita, silakan pergauli semaumu. Kamu bisa menenggelamkan diri dalam keburukan.”

Silakan ambil jalan hidup tanpa mempedulikan halal dan haram. Kamu bisa makan riba, suap, dan uang korupsi. Kamu bisa menikmatinya sesukamu. Silakan ambil jalan duniawi, jalan menuju kekuasaan, dan jalan menuju pangkat jabatan dunia. Setelah kamu menikmatinya, akan kita buka tabirnya. Tempat tujuan mu berikutnya adalah sumur Gayya yang panas apinya menjalar-jalar.

Tetapi jika kamu mampu menolaknya, maka saat tabir diangkat, tempat tujuan mu adalah taman surga yang indah. Sekarang tabir-Nya kita turunkan, kamu bebas mau hidup seperti apa! Setelah hakikat itu dijelaskan dengan jelas dan terang, kamu bebas mau jadi kafir ataupun jadi mukmin. Kamu bebas mau jadi orang yang sesat, atau mau jadi orang pencari hidayah. Kamu bebas mau mengikuti keburukan, atau mau mengerjakan ketaatan beribadah.

Apakah manusia bisa tenggelam pada keburukan setelah menyaksikan hakikat ini!? Apakah manusia akan meninggalkan surga setelah mengetahui hakikat ini?

Untuk itu, Rasulullah ﷺ bersabda:

Baik surga ataupun neraka, keduanya diliputi oleh sesuatu. Salah satunya diliputi oleh hal yang disukai syahwat. Sedangkan yang lainnya diliputi oleh hal yang dibenci nafsu

Untuk masuk ke surga dibutuhkan kesabaran menghadapi kesulitan. Untuk selamat dari neraka juga dibutuhkan kesabaran menghindari bujukan syahwat. Salat menyingkap tabir ini dari kita. Sehari 5 kali, salat dengan semua makna dan esensi yang dimilikinya. Dengan qira’at dan tilawah-Nya, ketika ia membuka tabir di depan mata kita. Jangankan mengikuti larangan, jangankan tenggelam dalam keburukan, jangankan kemungkaran. Barangkali hal-hal yang mubah sekalipun dapat menghilangkan selera bagi orang-orang mukmin sejati.

Umar radhiyallahu ‘anhu karena mendengar sesuatu dari alam lain ketika salat, ia jatuh sakit dan harus istirahat dirumah. Sahabat meriwayatkan: Karena sakit, penjenguk berdatangan (Sayyidina Umar) terbaring sakit. Demikianlah salat menghindarkan manusia dari dunia dan hal-hal duniawi.

Sungguh mengingat Allah ﷻ  adalah pekerjaan yang agung. Bagaimana Allah ﷻ membuat kita mengingat-Nya. Di sisi lain, tidak lupa kepadanya juga sangat agung. Ini adalah sisi lain dari ungkapan ini. Ini adalah sisi lain dari ungkapan ini. Kita membacanya setiap akan turun dari mimbar Jumat mengingat Allah ﷻ  sangatlah agung. Banyak mengingat Allah ﷻ adalah sebab lahirnya ketenteraman dan penyingkir kemuraman. Di dunia ini tidak ada yang lebih agung dari mengingat Allah ﷻ didalam hati.

Untuk itu, seorang mukmin sejati tidak akan tahan jika Allah ﷻ keluar dari akalnya. Beberapa Ahlullah pun sesuai derajatnya mengharuskan dirinya untuk gusul (mandi besar) jika akalnya lupa akan Allah ﷻ. Makna Gusul adalah: berbuat kesalahan, menjauhi Tuhan sementara waktu, memenuhi kebutuhan syahwat. Sebagai kafarat-Nya, Anda melakukan Gusul (mandi besar). Jika seorang Ahlullah lalai dari mengingat Allah ﷻ walau tak sampai sedetik, ia mengharuskan diri untuk gusul. Hal ini tidak ada dalam syariat. Ini sukarela, ungkapan dari kebersihan hati Nurani.

Seorang Ahlullah tidak bisa tahan jika ia lupa Allah ﷻ walau kurang dari sedetik dan selama Allah ﷻ  ada diakalnya, tidak mungkin sesuatu yang lain masuk ke dalamnya. Sayyidina Ali minta sahabat mencabut panah dari tubuhnya saat ia salat. Ia tidak merasa kesakitan saat panah yang menembus tulangnya dicabut. Karena Allah ﷻ yang ia ingat telah melingkupi akalnya.

Izinkan saya menjelaskan satu kisah kenangan dari keturunannya: Abdullah ibn Ja’far ibn Abi Talib.

Apakah ada yang belum mengenalnya? Apakah ada yang belum mengenal putra dari Ksatria Mu’tah?

Rasulullah ﷺ sepulang dari perang mu’tah bersabda:

“Aku menyaksikan Ja’far ibn Abi Talib terbang disurga dengan 2 sayapnya yang berwarna hijau”

Terdapat pelindung leher menempel dileher temannya yang sama-sama masuk surga. Karena itu adalah cara untuk melindungi diri dari sabetan pedang dan tombak saat bertarung dimedan perang.

“Aku melihat Ja’far tidak mengenakannya. Karena ia menyambut kematian dengan senyuman.”

Saat tombak menerjang, saat pedang membelah tubuhnya, ia saksikan dengan gembira. Ia pun masuk surga tanpa beban.

Kisah Abdullah ibn Ja’far ibn Abi Talib

Abdullah ibn Ja’far ibn Abi Talib adalah putra dari sosok agung ini, sang Ksatria Mu’tah. Di masa Umayyah, ia pergi ke Syam untuk mengunjungi Hisyam bin Abdulmalik. Mungkin Allah ﷻ tidak meridai kunjungan tersebut. Tidak ada rida karena ditengah perjalanan kakinya tertusuk sesuatu. Karena tidak diobati tepat waktu, keadaannya semakin memburuk dan menjadi gangrene[1]. Ketika ia sampai dihadapan Hisyam bin Abdulmalik, waktunya sudah sangat terlambat. Dokter dipanggil, mereka berkata: Jika tapak kakinya tidak dipotong, nanti pahanya yang harus dipotong. Sosok yang ayahnya kehilangan tangan & kaki di Mu’tah, kini ia kehilangan kaki dihadapan khalifah Umayyah di Mu’tah.

Uniknya takdir, bapak dan anak meninggalkan kakinya didunia. Mereka menghadap Allah dalam keadaan demikian.

“Ayo kita potong” kata mereka.

“Tapi kita bius agar tidak terasa sakit, agar kamu tidak berteriak.”

+ Bagaimana kalian membiusku?

– Kamu akan minum yang memabukkan sampai kamu tidak merasakan sakit lagi.

“Tidak sekali-kali aku berkenan untuk lalai dalam mengingat Tuhanku. Tak akan pernah!”

Kalbu diarahkan kepada Rabb-Nya, ia menyaksikan bagaimana kakinya perlahan-lahan digergaji. Ini hanya satu sisinya. Para Ahlullah[2] tak rela dirinya lalai mengingat Rabb-Nya walau kurang dari sedetik Perhatikanlah sisi lainnya!

Ia ambil kaki yang sudah dipotong itu dan berkata:

“Rabb! Segala puji hanya untukMu! Engkau telah menganugerahiku tubuh yang sempurna. Kini Engkau mengambil satu kakiku! Aku bersyukur dan memujiMu yang telah memberi anggota tubuh lain dalam keadaan sehat dan sempurna!”

Perhatikan kesadarannya! Bagaimana ia mengingat keagungan Rabb-Nya dengan amat layak. Beberapa menit kemudian musibah seperti yang dialami Nabi Ayub akan menghujaninya dengan deras. Datang satu berita: Salah satu anaknya jatuh dari lantai atas rumah Hisyam dan meninggal dunia.

Ia mengangkat tangan :”Ya Rabb! Aku memuji-Mu berkat sisa anak yang Engkau anugerahkan dalam keadaan sehat”. Ia tidak memperhatikan yang pergi dan hilang, ia mensyukuri apa yang tersisa. Itulah usaha untuk tetap mensyukuri segala yang anugerahkan Allah ﷻ kepada kita. Itulah jalan hidup seorang mukmin.

Di dalam pemikiran yang dalam, ingatan yang serius, kita akan menyuntikkan nama Allah ﷻ dalam tiap zarah kehidupan kita. Kalian tidak akan bisa membedakan antara malaikat dengan Abdullah bin Ja’far. Representasi Nabi Ayub dapat Anda saksikan pada diri Abdullah bin Ja’far. Kalian akan menyaksikan Abdullah bin Ja’far terbang disurga bersama ayahnya

Keistimewaan apa yang membuatnya nanti terbang disurga?

Penyerahan hati kepada Tuhannya, penunaian salat dengan segala haknya, diraihnya ketenteraman sejati. Menjauhi kemungkaran seperti dendam, kebencian, dan kemarahan yang dibenci Allah ﷻ. Itulah pembentukan hidup yang manis. Semoga Allah ﷻ menganugerahi kita keberhasilan dalam membentuknya. Di dalam rasa sedih akan perpisahan dengan Ramadan, mari kita berdoa kepada Allah ﷻ dengan hati yang sedih.

Anugerahkanlah kami siratalmustakim. Jagalah kami dari hal-hal buruk yang dibawa oleh keinginan rendah, hasrat, serta syahwat kami. Anugerahilah kami keikhlasan sempurna, semua doa para nabi, serta jadikan kami Mukhlisin dan Mukhlasin.

[1] Gangrene adalah Jaringan mati yang disebabkan oleh infeksi atau kurangnya aliran darah.

[2] Ahlullah adalah   mereka yang mewujudkan ketakwaan kepada Allah ﷻ baik dalam kesunyian dan keramaian, berhati-hati dalam makanan, minuman, pakaian, dan tempat tinggalnya jangan sampai menyelisihi apa yang dia dapatkan dari belajar Alquran baik terjatuh dalam keharaman atau kesamaran.

Mengembangkandiri.com qibla001

Barometer Keimanan

Urgensi Beriman

Tujuan dari penciptaan manusia salah satunya adalah untuk beribadah dan bertakwa pada Allahﷻ. Untuk menuju penghambaan yang sempurna maka setiap manusia wajib memiliki keimanan yang kuat. Iman merupakan satu satunya perkara yang tidak bisa dihadirkan kehadapan Allahﷻ dalam keadaan cacat. Jika salat wajib belum sempurna maka masih bisa disempurnakan dengan salat sunnah, jika puasa belum sempurna maka bisa ditutupi dengan puasa sunnah, jika zakat belum sempurna maka bisa disempurnakan dengan sedekah. Namun, jika seseorang mukmin menghadap Allahﷻ dengan iman yang tidak sempurna, maka tertolak semua amalnya.

Lalu Bagaimana Cara Menjaga dan Memperbaiki Iman?

Jauh–jauh hari baginda Muhammad ﷺ telah mengabarkan pada kita bahwa selagi Ruh belum melewati tenggorokan maka potensi iman bertambah atau berkurang senantiasa ada. Namun bersamaan dengan itu beliau juga memberitahukan kita solusi meningkatkan iman, Sabdanya.

Perbaharuilah iman kalian dengan kalimat laa ilaaha illAllaah”. Hadits ini dapat dimaknai secara tersurat maupun tersirat, secara tersurat hadits ini menunjukkan bahwa iman dapat bertambah dengan memperbanyak zikir dan menyebut Allahﷻ, sementara makna tersuratnya iman dapat bertambah dengan mengaplikasikan lafadz “laa ilaaha illAllaah” ada dua substansi yang terkandung dalam lafadz tersebut. Pertama penafian, maksudnya adalah menafikan keterkaitan segala sesuatu dalam hidup kita dan substansi kedua adalah penyandaran yaitu menyandarkan segala sesuatu pada Allahﷻ. Maksudnya setelah kita menafikan keterkaitan Zat lain selain Allahﷻ kemudian kita menyandarkanya kepada Allahﷻ.

Contoh sederhana pengaplikasian lafadz “laa ilaaha illAllah“ dalam kehidupan kita sebagai berikut. Suatu hari terjadi kecelakaan di depan halte bus, secara kebetulan di dalam halte ada 3 orang yang sedang menunggu bus. Orang pertama seorang dokter karena profesinya seorang dokter maka ia mengambil kesimpulan awal “mungkin sang driver sedang kurang sehat sehingga terjadi kecelakaan“, sementara orang kedua yang merupakan seorang mekanik bliaupun berkesimpulan “mungkin ada yang tidak beres dengan mesin nya“. orang ketiga berpendapat “bisa jadi kecelakaan ini terjadi karena faktor jalan yang bergelombang atau kontruksi jalan yang tidak pas” hal ini wajar karena latar belakang orang ke tiga ini seorang insinyur kontruksi.

Lalu siapakah yang benar? Tentu kita tidak bisa mengatakan semua benar atau semua salah karena ini hanya kesimpulan sementara berdasarkan latar belakang keahlianya, namun jika kita ingin mengaplikasikan substansi hadits di atas maka yang seharusnya dipikirkan di awal adalah “ kecelakaan ini terjadi karena kehendak dan takdir dari Allahﷻ, namun sebab yang menjadi wasilahnya adalah bisa jadi karena faktor kesehatan driver, faktor kondisi mesin atau factor kontruksi jalan” jika kita senantiasa mengaitkan segala sesuatu yang terjadi kepada Allahﷻ terlebih dahulu baru kemudian mencari sebab atau faktor lain yang menjadi asbab.

Menakar keimanan

Keikhlasan dan kesabaran bagaikan saudara kembar yang senantiasa mendampingi iman. Bagaikan mustahil seseorang mendeklarasikan keimananya tanpa ada ujin dari Allahﷻ. Ujian bagi orang yang beriman bagaikan stempel dan sekaligus barometer untuk mengukur kadar keyakinan seorang mu’min. Dalam QS. Al -Angkabut Allahﷻ berfirman :

Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman,” dan mereka tidak diuji?

Dari ayat ini seolah Allahﷻ ingin mengabarkan kepada orang–orang yang berkeluh kesah terhadap ujian setelah beriman, agar berhenti berkeluh kesah dan bersabarlah, karena ujian adalah tabiat keimanan, maka semakain seseorang ikhlas, ridho dan sabar atas ujian yang ada maka hal itu menunjukkan kualitas keimanan seseorang.

Kualitas keimanan sesorang tidak bisa dilihat dari seberapa besar wawasanya terhadap pengetahuan agama, juga tidak bisa diukur berdasarkan ilmu dan pakaiannya. Jika barometer iman adalah wawasan, ilmu dan pakaian , maka kenapa iblis yang wawasanya melebihi Nabi Adam, dan yang lebih dahulu diciptakan Allahﷻ justru menolak printah Allahﷻ untuk bersujud kepada Adam?

Ujian dapat berupa sesuatu yang terlihat buruk seperti musibah, kesulitan dan kefakiran, dan dapat juga berupa segala sesuatu yang terlihat baik seperti kemudahan, kelapangan kekayaan. Keduanya tetaplah ujian keimanan, keridhoan, keikhlasan dan kesabaranlah barometernya. Jadi barometer bagi keimanan adalah kesabaran, semakin tinggi kadar keyakinan seseorang terhadap Tuhan-nya maka semakin besar pula tingkat kesabarnya, semoga kita semua dimasukkan kedalam golongan orang–orang yang beriman dan bersabar.