mengembangkandiri.com_a-single-tree-on-the-horizon-in-autumn-2022-03-04-02-27-39-utc

CAKRAWALA HIDUP KITA

Karya Pembaca: Haerul Al Aziz

Sudah tidak diragukan lagi bahwa kemuliaan sosok sahabat Nabi adalah hasil representasi dari nilai luhur yang dicontohkan Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam sebagai Potret Kebanggaan Manusia yang menjadi panutan bagi seluruh umatnya. Antara jarak dan jangka waktu yang memisahkan kehidupan kita dengan cakrawala agung yang mereka miliki, seolah menjadi hal yang mustahil bagi kita, bahkan untuk sekadar berimajinasi memanifestasikan apa yang telah mereka wujudkan. Menjadi sosok insan kamil merupakan tujuan diciptakannya manusia dengan pencapaian ibadah, ubudiyah dan ubudahnya sebagai seorang hamba. Dengan keselarasan tujuan ini, mampukah kita sebagai generasi milenial menggapai cakrawala yang telah mereka persembahkan sebagai perwujudan dari keteguhan iman, kesadaran islam, dan kedalaman ihsan yang mereka miliki?

Perlu kita akui bahwa sosok sahabat merupakan potret agung yang memiliki karakteristik istimewa. Sehingga generasi setelahnya tidak akan mampu mendapatkan intensitas yang sama dengan pencapaian iman dan aktualisasinya dalam menjalankan sebab akibat untuk memenuhi haknya sebagai seorang mumin dan tanggung jawabnya dalam menjalankan pundi-pundi agama Islam. Seperti yang telah diungkapkan oleh Mursyid Hakiki sallallahu ‘alaihi wasallam bahwa,  “Sebaik-baik umatku adalah pada masaku. Kemudian orang-orang yang setelah mereka, lalu orang-orang yang setelah mereka.”[1] Para sahabat menyerahkan diri mereka dan beriman secara utuh kepada lantunan ayat Al-Quran sebagai sumber utama bagi keberlangsungan hidupnya meski kala itu segala penindasan bertubi-tubi menghujam konsistensi iman yang mereka miliki. Bersama dengan sisi ummiyah[2] yang membuat mereka jauh dan tertutup dari dunia luar, penyerahan dan penerimaan dalam waktu yang singkat ini, di sisi lain sebenarnya merupakan perwujudan dari mukjizat Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam dan Al-Quran itu sendiri.

Di samping itu, kebersamaan dengan Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam ketika mereka secara langsung melihat, mendengar dan merasakan manifestasi aliran wahyu yang juga ikut terpercik dalam anatomi spiritual tubuh mereka, ditambah dengan bahasa sikap dan perilaku yang Beliau persembahkan sebagai pedoman kehidupan, menjadikan mereka layak untuk memiliki gelar “Wilayatul Kubra” yang merupakan kedudukan tertinggi dalam dimensi kewalian. Meski mereka yang mengaku telah bertemu berpuluh-puluh kali dengan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam melalui sebuah mimpi, nilai mereka tak akan sebanding dengan keluhuran yang dimiliki para sahabat, karena percikan langsung yang mereka raih dari sumber yang hakiki kala itu.[3]

Periode era kebahagiaan telah berlalu, generasi selanjutnya melahirkan generasi lain sesuai dengan kedalaman yang mereka miliki. Disadari maupun tidak, sebuah proses penerimaan dan pemberian tongkat estafet yang mereka amanahkan berlangsung hingga generasi kita saat ini. Kemuliaan-kemuliaan yang dimiliki oleh para sahabat di atas yang menjadikan mereka memiliki gelar sebagai sosok “sahabat yang sesungguhnya” mungkin tidak akan mampu kita capai. Namun dengan keluhuran dan karakteristik tunggal yang mereka miliki tersebut, bukan berarti tidak ada karakteristik lain yang mampu kita jadikan sebagai pedoman supaya kita pun bisa berdiri di belakang barisan mereka. Bahwa layaknya Mursyid Agung, mereka pun tidak melepas tanggung jawabnya sebagai sosok sahabat untuk mencotohkan apa yang seharusnya diimplementasikan bagi generasi setelahnya. Disini kita akan memaparkan prinsip-prinsip mulia yang merupakan karakteristik lain para sahabat sebagai seorang hamba dan manusia ideal, yang mana jika kita mampu merealisasikannya, menggapai kebangkitan layaknya era kebahagiaan bukanlah sekadar imajinasi belaka.

Karamah yang Sesungguhnya

Bashirah agung Umar bin Khatab dalam ekspedisi Sariyah bin Zanim al-Khalji, doa Sa’ad bin Abi Waqqas yang segera terkabulkan, dan sumpah Bara bin Malik yang tak pernah ditolak Allah ta’ala  merupakan contoh dari banyaknya karamah yang dimiliki oleh para sahabat. Meski demikian keistimewaan ini bukanlah tujuan yang ingin mereka capai. Yang ingin mereka tunjukkan sebagai karamah asli ialah menjalankan apa yang seharusnya mereka lakukan sesuai dengan kausalitas yang ada dan mengarahkannya kepada ridha Allah ta’ala seraya menjauhi segala hal yang beraroma takjub di luar itu. Dibandingkan hal yang menakjubkan, mereka lebih memilih untuk hidup sesuai dengan ruh agama yang semestinya; memiliki akhlak mulia; mengisi dirinya dengan kesadaran ma’rifat, mahhabah, ikhlas, dan ihsan; senantiasa memelihara hak Allah dan juga hak orang lain; dan sebisa mungkin memperdalam hubungannya dengan Sang Pencipta. Ini semua merupakan sebuah pantulan dari keteguhan nilai iman yang mereka miliki yang layak bagi kita untuk dijadikan pedoman.

Dua Kosa Kata Luhur “Kesetiaan dan Loyalitas”

Ketika mendengar kosa kata “kesetiaan dan loyalitas” siapa yang tak mengenal Abu Bakar bin Uthman Abu Quhafa, sosok sahabat yang telah sampai kedalam tingkatan siddiq. Kesetiannya untuk menjaga dan melindungi Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam tak ada satu orang pun yang akan meragukannya. Namun kesetiaan dan loyalitasi yang dimilik para sahabat lain pun perlu kita paparkan sebagai landasan bagi kehidupan generasi kita saat ini. Karena dua nilai luhur ini layaknya sudah menjadi darah daging dalam tubuh mereka dalam rangka menjunjung tinggi nama Allah ta’ala dan mengobati hati yang penuh luka akibat kekufuran. Amr bin Al Ash yang meletakkan rambut Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam di bawah lidahnya ketika ia meninggal dunia sebagai bentuk loyalitas dan wasilah untuk memudahkannya menjawab pertanyaan di akhirat kelak; Sang Panglima perang Khalid bin Walid yang tetap menjaga kesetiaannya meski ia harus wafat di atas kasurnya; dan Ukba bin Nafi yang pergi ke ujung samudera untuk menyampaikan amanahnya dalam rangka memanifestasikan dua kosa kata luhur ini. Sebuah implementasi akan kesadaran Islam yang ingin mereka persembahkan bagi kita semua.

Ramuan Ihsan antara Kesabaran dan Rasa Syukur

Penindasan yang mereka alami di awal tak membuat mereka gentar dan tetap bersabar untuk menjalankan segala kewajiban dan tanggung jawabnya sebagai umat Islam. Di sisi lain kegembiraan setelah mereka berhasil menaklukan kota Mekkah tak membuat mereka bangga diri, bahkan bersyukur dengan segala karunia yang telah Allah ta’ala limpahkan. Mereka berhasil memadukan kesabaran dan rasa syukur tersebut sebagai ramuan ihsan yang layak bagi mereka untuk kita jadikan sebagai contoh dalam menyikapi setiap peristiwa yang ada. Sebagai perwujudannya tak ada satu pun dari mereka yang ingin membalas dendam dengan apa yang telah kaum musyrik lakukan meski kala itu mereka telah berada di puncak kemenangan. Dengan itu semua mereka lebih memilih untuk bersikap istikamah di jalan ini.

Musyawarah dan Atmosfer Spiritual

Melalui tuntunan Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam pentingnya musyawarah juga mereka hadirkan ke dalam pundi-pundi kehidupan mereka sebagai indikator terpenting yang menunjukkan kualitas keimanan pada suatu masyarakat serta menjadi karakter utama yang melekat pada semua komunitas yang mempersembahkan hidup mereka demi kejayaan agama Islam. Di sisi lain, mereka pun selalu menggunakan setiap waktu dan kesempatan yang mereka miliki untuk berbincang dan merundingkan tentang keagungan Allah ta’ala dan hakikat Islam. Tak ada satu pun manfaat dunia yang ingin mereka raih atau mereka gambarkan dalam imajinasinya.

Nilai khas yang dimiliki para sahabat sudah menjadi karakter tunggal yang tidak dimiliki oleh generasi lain. Tetapi bukan berarti kehidupan mereka sebagai seorang hamba yang luhur tidak bisa kita manifestasikan ke dalam kehidupan generasi milenial saat ini. Tidak bisa dipungkiri bahwa jarak dan waktu telah memisahkan kita dengan mereka, namun jika kita masih sanggup menjaga keteguhan iman, kesadaran Islam, dan kedalaman ihsan yang seharusnya, bukankah kita juga akan memiliki nilai istimewa lain sebagai sosok “saudara” yang dikenang Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya? Walaupun secara langsung kita tidak sanggup melihat dan merasakan kehidupan mulia yang telah mereka jalankan bersama Sang Nabi kala itu. Kendati seperti itu, jika kita melihat ke seluruh penjuru dunia saat ini, sebuah imajinasi yang kita gambarkan dari awal, telah dimanifestasikan oleh sekumpulan individu yang mengabdikan diri mereka untuk menjungjung tinggi perdamaian dunia atas nama kemanusiaan yang telah sejak lama ditunggu kehadirannya. Yang menjadi pertanyaan ialah, kapankah tiba saatnya bagi kita untuk juga mengimplementasikan prinsip-prinsip mulia tersebut sebagai cakrawala hidup kita yang sesungguhnya?

[1] Sahih Muslim, “Fada’il al-Sahaba” 210, 211, 212, 214, 215; Abu Dawwud, Sunnah 9.

[2] Ungkapan ummiyah disini lebih mengarahkan kedalam  makna bahwa kehidupan mereka hingga saat itu jauh dan terasing dari dunia luar, tidak ada hubungan yang signifikan antara kehidupan mereka dengan kultur atau agama lain. Sehingga hati mereka masih bersih dan jernih. Mereka tidak memerlukan sumber lain dalam pemahaman dan penafsirannya terhadap Al-Quran. (http://www.herkul.org/kirik-testi/kur-an-kulturu-ve-sahabe/)   

[3] Bediüzzaman Said Nursi, “Sözler”, Şahadamar Yayınları (2007), s. 532; Fethullah Gülen, “Ölümsüzlük İksiri”, Nil Yayınları (2011), s. 96.

mengembangkandiri.com_great-wall-2021-08-26-13-40-08-utc

Perbaikan Benteng Kemanusiaan

Badiuzzaman mengatakan bahwasanya hizmet tak sekedar melakukan perbaikan kecil dan parsial. Sebaliknya, hizmet melakukan perbaikan pada benteng yang melingkupi Islam dimana benteng ini mengalami pengeroposan. Pada prinsipnya, ia disebut memperbaiki kemanusiaan.

Apa benteng ini bisa disebut benteng kemanusiaan?

Ya, pada prinsipnya ia adalah benteng kemanusiaan.

Kini, sistem yang dirindukan umat manusia sedang tidur lelap ketika penindasan terjadi di muka bumi. Sistem ramah manusia yang dilukis para utopis, dimana dunia berdasar pada hukum dan melindungi hak manusia. Pada sistem ini, kemanusiaan memiliki posisi mulia. Demikian juga para wanita.

Dunia di mana orang-orang akan bergumam: “Di sinilah saya akan meraih ketenteraman…”

Itulah dunia yang diimpikan.

Maka masalah kemanusiaan pada hari ini adalah tidak adanya dunia yang seperti itu. Bumi kini alpa akan kehadirannya. Karena ia alpa, manusia pun saling menyembelih sesamanya.

Mereka menyusun rencana untuk menghabisi sesamanya: “Ditebas dibagian mana bagusnya?

Apa kita babat tenggorokannya, atau lengannya, atau kakinya, atau kita cungkil matanya…?

Atau kita hujani telinganya dengan peluru..” dan rencana setan lain semacamnya.

Atau pemikiran seperti:”Bagaimana kalau kita gantung?

50.000 orang itu kita hukum gantung?”

Bukankah dulu saat 15.000 orang digantung, masyarakat berhasil diselimuti rasa takut? Jika kini 50 ribu orang digantung, masyarakat akan tunduk pada Firaun, Amenophis, dan Ramses abad ini! Apabila demikian, rencana-rencana setan itu akan selalu bergaung di masa ini.

Kini sebagian sisinya menatap wajah dunia Islam -disini saya menyebut dunia Islam secara umum-. Teleskopnya sedang diarahkan ke wajah dunia Islam. Mereka menyaksikannya, membaca, dan memahaminya.

Saat mereka beropini, pasti mereka berkata: “Mengapa dunia Islam akan memikirkannya?”

Dari sini, pada prinsipnya masalah dunia Islam adalah masalah seputar iman. Karena itu Sang Juru Bicara abad ini, Badiuzzaman Said Nursi mengerahkan semua dayanya untuk meletakkan hakikat iman dalam diri manusia. Beliau senantiasa melakukan fortifikasi pada isu ini. Beliau mengulang penjelasan isu yang sama dengan puluhan cara berbeda. Teknik ini disebut al Quran sebagai tasrif yaitu menjelaskan hal yang sama dengan versi berbeda. Ia menjelaskan iman kepada Allah dengan uslub tertentu. Di tempat lain, dijelaskan dengan jalan lain. Sebab manusia memiliki latar belakang bakat, kemampuan, pendidikan, profesi, watak & kecondongan yang berbeda-beda. Manusia memahami sesuatu dengan jalan berbeda-beda. Ada yang memahami Hijaz, ada yang memahami Usyak. Sisanya paham Saba, Huzzam, atau Segah (nama-nama tadi adalah nama ragam nada pada azan). Itulah pentingnya tasrif: menjelaskan sebuah persoalan dengan berbagai versi. Sebagaimana Azan dikumandangkan dengan nada berbeda, sesuai waktunya.

Dengan demikian semua orang bisa memahami lalu mengucap kalimat iman. “Aku beriman kepada Allah, malaikat, para nabi, kitab-kitabNya, akhirat, serta beriman bahwasanya takdir baik dan takdir buruk itu asalnya dari Allah. Aku mengimani kebangkitan setelah kematian adalah benar, Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan RasulNya…”

Inilah rukun iman.

Namun, Ustaz fokus pada empat pilar iman dimana semua agama samawi sepakat: tauhid, kenabian, kebangkitan, dan keadilan.

Imam Ghazali menyebut ada 3 pilar iman, dengan menggabungkan dua pilarnya jadi satu. Beliau juga menyusun banyak penjelasan untuk menerangkan urgensinya. Kehilangan terbesar bagi kemanusiaan adalah hilangnya iman: Manusia tidak mengimani Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebagaimana mestinya; Manusia tidak mengimani para Nabi sebagaimana mestinya; Manusia tak memiliki mahabbatullah dengan kadar melebihi cintanya pada hal yang dicintainya.

Seperti Sayyidina Umar radhiyallahu anhu yang merevisi ungkapan cintanya pada Nabi: “Aku mencintaimu Ya Rasulullah, lebih dari cintaku pada diriku sendiri”.

PR utamanya adalah bagaimana kita bisa mengungkapkan perasaan ini dengan lebih tulus lagi! Disinilah Bediuzaman memfokuskan usahanya, yaitu fokus pada masalah iman. Jika benteng iman diperbaiki, maka benteng kemanusiaan akan pulih kembali. Apa yang diperintahkan oleh Islam…?

Ketika ditanya apa itu Akhlak Agung Islamiyah?

Mari mengecek referensi kitab-kitab akhlak Islam. Maka Anda akan menyaksikan bagaimana manusia ini hidup layaknya malaikat.

Orang akan pangling melihat imam masjid dan berujar: “Apakah dia ini Jibril, Mikail, atau Israfil?” Masyarakatnya akan terenovasi ke level tersebut saat kata “bohong” terucap, mereka akan bingung memahaminya. Sebab kata itu terhapus dalam perbendaharaan kata dii kamusnya. Kebohongan akan ditelan oleh air terjun kebohongan, ia tak akan pernah kembali. Kata “fitnah”, pun akan terhapus. Sehingga mereka akan bingung memahaminya saat ia terucap. Demikian juga dengan istilah “pembunuhan karakter”, semua akhlak tercela ini, yang Imam Ghazali sebut sebagai “Muhlikat”, akan terhapus dari memori umat manusia.

Orang-orang untuk mengingat makna dari istilah itu akan saling bertanya. Apa itu “marah”, apa itu “benci”, apa itu “dendam”, apa itu “dengki”, apa itu “terlaknat”. Khususnya rasa dengki yang mewabah di zaman ini: “Kamu berhasil sukses, sedangkan aku gagal. Karena itu saya harus menghabisimu”. Akhlak terlaknat itu sayangnya sedang mewabah di masa ini.

Menghadapi dunia seperti ini, Anda membangun dinding blokade dengan pondasi iman. Jika keseimbangannya Anda susun sesuai standar Islam, jika Anda bangun ia dengan kokoh dan tak mudah roboh. Sebagaimana Badiuzzaman mengerahkan semua usahanya untuk fokus pada masalah itu. Ya, Anda akan menyelesaikan pembangunan dunia yang tak mampu dibangun oleh kaum utopis. Singkatnya, Orang-orang cerdik cendekia akan terkejut melihat keberhasilan Anda. Anda membangun “Negara Matahari” yang diimpikan Campanella, negara yang hanya ada dalam khayalan. Anda akan membangun masa jaya Usmani. Mungkin bukan di masa jaya, tapi tepatnya di masa saat matahari Usmani akan tenggelam. Masa ketika matahari tergelincir akan terbenam, udara mulai sejuk, yaitu setelah waktu ashar. Masa itu dapat kita sangsikan, karena kemantapannya perlahan mulai pudar, mulai luntur. Pada masa senjanya Usmani saja sang cendekia berujar: “Sia-sia saya menulis Negara Matahari. Ternyata ia ada dan nyata di sini!” Bayangkanlah! Anda seakan merangkum Kitab Şecere-i Numâniye tulisan Muhyiddin Ibn Arabi yang membahas Usmani.

Saat Anda membangun pondasi dunia yang didambakan tersebut, Anda akan jadi sumber harapan bagi umat manusia. Anda akan jadi representasi dari nilai kemanusiaan, umat manusia akan banyak belajar dari Anda. Misalnya, bagaimana menghargai orang lain serta bagaimana menegakkan hukum dan keadilan. Dengannya, mereka akan membangun dunia yang sanggup menghembuskan angin ketenteraman. Dari sini, Anda tidak hanya membangun kebaikan yang eksklusif untuk dunia Anda sendiri. Di waktu yang sama, ia akan bermanfaat bagi seluruh penjuru dunia. Demikian strategisnya prasasti yang Anda bangun, ia akan terlihat dari segala penjuru.

Dilihat dari manapun, Prasasti tersebut akan jadi dambaan semua orang:”Menakjubkan sekali!” Sebenarnya umat manusia di masa ini kehilangan pondasi itu. Umat manusia membutuhkan pembentukan (taassus) pondasi itu. Saya gunakan kata taassus karena ia berasal dari istilah takalluf (pelaksanaan kewajiban), dimana dibutuhkan banyak usaha keras dan melewati berbagai kesulitan untuk bisa meraihnya.

mengembangkandiri.com_four-gingerbread-cookies-on-green-childrens-hand-2022-02-24-06-34-41-utc

Kasih Sayang dan Kekerasan

Karya Pembaca: Mahir Martin

Dunia memang selalu berubah, bergerak dengan dinamis untuk mencari keseimbangan baru. Beragam peristiwa silih berganti, datang dan pergi membuat kita terkadang harus berada pada kondisi terjepit antara hitam dan putih, gelap dan terang, peperangan dan perdamaian, permusuhan dan persahabatan.

Di tengah kondisi yang terkadang begitu memilukan, hanya ada satu obat penawar bagi segala kemuraman, cahaya bagi kegelapan, kesepakatan bagi peperangan, dan persaudaraan bagi permusuhan. Obat penawar itu adalah rasa kasih sayang. Rasa kasih sayang yang akan menggerus kekerasan yang terjadi di masyarakat.

Pancaran Kasih Sayang

Kasih sayang adalah pancaran dari cahaya akhlak Ilahi yang direpresentasikan dengan hati. Layaknya seorang ibu yang mencurahkan kasih sayang kepada anak-anaknya, seorang guru kepada murid-muridnya, seorang atasan kepada bawahannya.

Seseorang yang sanubarinya diliputi oleh rasa kasih sayang, tidak akan pernah meminta balasan apapun darinya. Kasih sayang akan menjadi kekuatan bagi yang lemah, penghangat bagi yang kedinginan, teman bagi yang kesepian, dan kehadiran bagi seseorang yang tak memiliki siapapun dalam kehidupannya.

Bukankah Nabi berkata bahwa barangsiapa yang tidak menghormati yang lebih tua dan tidak menyayangi yang lebih muda, maka bukanlah bagian dari kita? Ya, begitu pentingnya nilai kasih sayang, sampai-sampai Nabi pun memberikan peringatan ini.

Dengan kekuatan kasih sayang, hati yang keras pun akan menjadi lembut, kepedulian sosial akan muncul, dan saling tolong-menolong akan tumbuh dan berkembang di masyarakat. Dengan kekuatan kasih sayang juga, negara akan menjadi tempat dimana ketuhanan, kemanusiaan, persatuan dan kesatuan, hikmat dan kebijaksanaan, dan keadilan sosial akan dielu-elukan oleh rakyatnya.

Ya, kasih sayang adalah pancaran suci dari langit kepada kita semua. Jika kita ada pada hari ini dan mampu bertahan dalam kehidupan ini, itu karena kasih sayang-Nya; Jika kita saling menyayangi dan disayangi oleh orang-orang yang ada di sekitar kita, itu juga karena rahmat-Nya.

Nabi kita juga mengajarkan dan mencontohkan kepada kita bagaimana seharusnya kita hidup dan bermuamalah dengan penuh kasih sayang, kecintaan, dan kelembutan dalam beragama. Dalam beragama tidak boleh ada paksaan, penekanan, menyusahkan dan menyulitkan.

Kekerasan dalam Beragama

Ajaran dan teladan Nabi dalam beragama tersebut memang seharusnya bisa kita terapkan dalam kehidupan. Namun sayangnya, ada sebagian dari kita yang gagal memahami ajaran agama, gagal merepresentasikannya. Sehingga karena rasa takut yang dirasakan dari paksaan dan kekerasan yang dilakukan, banyak orang-orang yang akhirnya salah mengenali kita. Bukankah pepatah mengatakan bahwa manusia akan memusuhi sesuatu yang tidak dikenalinya?

Ya, hal ini terjadi karena kita tidak mampu untuk keluar dari daerah kita, kita cenderung menutup diri, dan gagal mengedepankan komunikasi dan dialog yang sehat dengan orang-orang yang berbeda pandangan dengan kita. Akhirnya akan selalu muncul percikan api pertikaian antara orang-orang yang beriman dengan yang tidak memiliki keimanan yang sama.

Orang-orang yang beragama terkadang memaksakan kehendaknya dengan kekerasan. Kekerasan sangat bertolak belakang dengan fitrah manusia yang memiliki iradah dan kebebasan berpikir.

Cara seperti itulah yang sangat bertentangan dengan akal dan logika manusia. Cara itu bukanlah cara yang berdasarkan dengan hasil pemikiran yang benar. Cara itu bisa saja menjadi bumerang yang justru dampak buruknya akan kembali kepada siapa yang melakukannya.

Hal ini yang akhirnya menyebabkan profil seseorang yang beragama menjadi sesuatu yang menakutkan dan mengkhawatirkan. Jika ini terjadi, maka kedepannya untuk merubah keadaan ini akan semakin sulit dilakukan, dan mungkin kekuatan kita tidak akan mampu menghadapinya.

Sebuah Refleksi

 Bagi orang yang beriman, menggunakan kekerasan untuk memaksakan kehendaknya, sebenarnya menunjukkan betapa lemah keimanannya. Artinya, ia tidak benar-benar yakin dengan keimanannya sehingga ia harus membuktikannya dengan memaksakannya kepada orang lain.

Seorang mukmin sejati akan begitu percaya dengan nilai-nilai yang ia miliki dan yakini. Ia akan mengubahnya menjadi pandangan hidup sehingga ia tidak akan takut untuk hidup bersama dengan orang-orang yang memiliki pandangan keimanan yang berbeda.

Ia berani untuk berdialog dengan mereka, meskipun terkadang berada di bawah naungan mereka. Karena seseorang yang tidak ragu dengan nilai-nilai keimanan dalam dirinya, ia tidak akan merasa tertekan dengan melihat kehidupan dan keimanan orang lain.

Apakah ini berarti bahwa nilai-nilai keimanan tidak bisa kita jelaskan kepada orang lain yang belum mendapatkan petunjuk keimanan?

Sudah menjadi tabiat manusia ingin menjelaskan atau mengajak orang lain kepada sesuatu yang ia yakini kebenarannya. Jika hal ini dilakukan dengan cara-cara yang benar, dengan adab dan cara yang benar, dengan tetap menghormati iradah dan kebebasan berpikir yang dimiliki masyarakat, maka masyarakat akan sangat salut, menghargai, dan mengambil contoh dari nilai-nilai keimanan tersebut. Bahkan, mungkin saja mereka akan mengakui nilai-nilai keimanan tersebut dengan menggunakan iradah dan kebebasan yang ada dalam diri mereka masing-masing.

Alhasil, setiap orang berhak memiliki nilai-nilai yang ia yakini, hidupi, dan mungkin ia ingin bagikan kepada orang lain. Yang menjadi permasalahan adalah ketika cara-cara yang penuh kasih sayang dan kelembutan telah digantikan dengan kekerasan dan paksaan dalam menyikapinya.

Oleh karenanya, yang perlu kita kedepankan adalah iradah dan kebebasan berpikir manusia dalam memandang sesuatu. Seseorang yang memiliki pandangan yang berbeda terhadap nilai-nilai yang kita anggap benar adalah suatu kewajaran dan menjadi kekayaan keberagaman yang ada di kehidupan bermasyarakat.

mengembangkandiri.com_children-are-tired-of-learning-and-sleepy-2021-09-01-01-43-52-utc

Sebagai Pengingat

Karya Pembaca: Habib A.S

Tidaklah terasa, tahun Masehi 2022 telah berlangsung, seakan – akan waktu berlalu dengan begitu cepat. Suka duka, manis pahit, kucuran keringat, tetesan air mata, dan semuanya yang terjadi pada tahun sebelumnya, akan menjadi sebuah kenangan sekaligus menjadi bekal untuk menjalani kehidupan di tahun berikutnya sebagaimana yang telah Dia tetapkan. Entah apa yang akan terjadi besok, seorang hamba harus siap menghadapi kehidupan dunia yang penuh dengan problematika. Memang, dunia ini adalah tempatnya lelah. Dunia bukanlah tempat untuk manusia beristirahat dengan tenang, apalagi untuk bersenang – senang, terlebih bagi mereka yang beriman dan berserah diri kepada Tuhan yang tiada sekutu bagi-Nya.

Sebagaimana Imam Ahmad bin Hambal pernah ditanya, “Wahai Imam, kapankah waktu istirahat itu?”

Kemudian beliau menjawab, “Istirahat yang sesungguhnya ialah pada saat engkau pertama kali menginjakkan kakimu di dalam Surga.”

Ya, kadang kala dunia dan segala kesibukan yang dibuatnya, membuat seorang hamba lupa akan akhirat dan segala hal yang terkait dengannya, meskipun pada nantinya akan segera teringat. Hal tersebut tidaklah lain tergantung dari kadar keimanan dan ketakwaan, serta kuantitas dan kualitas dzikir seorang hamba kepada-Nya.

“Sebagai pengingat”, tulisan ini akan mengingatkan tentang sesuatu yang sangat penting nan agung yang tidak lama lagi akan datang membersamai kehidupan. Ia adalah tamu yang mulia yang sangatlah perlu disambut dengan sambutan yang mulia pula. Ia bagaikan hujan yang kedatangannya sangat dinantikan oleh sekelompok manusia yang telah lama hidup dalam kondisi kekeringan. Ia bagaikan anak burung yang menanti kedatangan induknya dengan membawa makanan yang siap untuk disuapkan kepadanya. Ia bagaikan seorang ayah yang kehadirannya sangat dirindukan oleh buah hatinya setelah sekian lama berpisah.

Lalu, apakah sesuatu yang dimaksudkan itu?

Apakah kalian tahu?

Jika belum, tulisan “Sebagai Pengingat” ini yang akan memberi tahu.

Baik, dalam kalender Masehi, ada suatu waktu dimana sebagian besar manusia tidaklah lupa untuk memperingatinya. Suatu waktu yang begitu dinantikan saatnya oleh hampir seluruh manusia di dunia, terutama semenjak matahari terbenam hingga menuju waktu puncaknya. Dinantikannya percikan api yang menghiasi langit bumi, tiupan terompet dan teriakan manusia yang turut memeriahkannya, dan diramaikan dunia maya dengan ucapan “Happy New Year” beserta kreasi lainnya yang tidak melenceng jauh dari maksud utamanya. Meskipun ia hanya berlangsung semalam, namun kedatangannya begitu dinantikan. Hal tersebut tidaklah lain dikarenakan oleh keistimewaan yang dimilikinya.

Jikalau demikian, suatu waktu yang masanya berlangsung jauh lebih lama, yaitu sekitar tiga puluh hari, dan ia memiliki nilai dan keistimewaan yang jauh lebih besar dibandingkan malam tersebut, tentunya akan sangat dinantikan kedatangannya bukan?

Benarkah begitu?

Jika memang benar, maka “sesuatu” yang menjadi pertanyaan di awal telah terjawab. Dan bagi seorang hamba yang beriman, tentu ia telah mengetahuinya terlebih dahulu sebelum sesuatu tersebut disebutkan dengan jelas.

Langsung saja, sesuatu tersebut adalah Ramadhan. Suatu waktu yang kedatangannya sangatlah dinantikan oleh mereka yang benar – benar menantikannya. Suatu waktu dengan keistimewaan yang tidak dimiliki oleh waktu – waktu lainnya, keistimewaan yang tidak dibuat – buat dan tidak diada – ada, keistimewaan yang langsung diberikan oleh Tuhan Semesta Alam dengan dasar firman-Nya dan dilengkapi oleh sabda rasul-Nya. Suatu waktu yang kehadirannya menjadi harapan bagi mereka yang beriman dan berserah diri kepada-Nya, yang dengan perantaranya dijadikanlah berlipat ganda seluruh amal kebaikan yang dilakukan, yang dihapuskannya dosa – dosa, yang diturunkannya al qur`an sebagai keterangan yang jelas bagi seluruh manusia dan menjadi petunjuk bagi mereka yang bertakwa, yang di dalamnya terdapat satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan, yang dibukakannya pintu – pintu surga, ditutupnya pintu – pintu neraka, dibelenggunya setan, dibebaskannya seorang hamba dari neraka, dikabulkannya doa, dan berbagai keutamaan lainnya yang tidak sempat tertuliskan.

Sebagai pengingat, ia akan segera datang dalam kehidupan. Terhitung tujuh puluh tiga hari sejak dituliskannya tulisan ini, ia akan membersamai seorang hamba selama tiga puluh hari ke depan dengan membawa nuansa kehidupan yang berbeda dari biasanya, membawa kenikmatan, ampunan, rahmat, serta ridho Tuhannya.

Lantas, sudahkah seorang hamba mempersiapkan sesuatu yang indah untuk menyambut kedatangannya?

Atau jangan – jangan, ia belum tahu apa yang perlu dipersiapkan olehnya?

Ya, sesuatu yang perlu dipersiapkan tidaklah lain adalah dirinya sendiri. Diri yang hampir satu tahun ditinggalkan olehnya, mungkin saja mengalami perubahan ke arah yang tidak diinginkan olehnya selepas kepergiannya. Oleh karena itu, sangatlah perlu bagi seorang hamba untuk memperbaiki, membenahi, dan memantaskan diri untuk menyambut kedatangannya sekaligus membersamainya dalam kehidupan yang sebatas tiga puluh hari saja.

Tidaklah etis bukan, apabila seseorang tidak mempersiapkan sesuatu untuk ia dihidangkan kepada tamu yang telah memberikan kabar sebelumnya?

Tentu tamu tersebut akan merasa sedih, kecewa, atau bahkan merasa tidak dihargai.

Dan tidaklah tepat pula bukan, jika seseorang tidak mempersiapkan dirinya dengan belajar untuk menghadapi ujian kelulusan di sekolah?

Tentu kelulusan seseorang tersebut akan sangat diragukan. Sama halnya, ketika seorang hamba tidak mempersiapkan dirinya dengan memperbaiki dan membenahi diri untuk menyambut kedatangan Ramadhan yang agung nan mulia. Tentu ia akan membuatnya kecewa. Dan lebih dari sekadar itu, ia akan membuat kecewa Tuhan yang telah memberikan kesempatan untuk berjumpa kembali dengannya. Namun, sejatinya ia sama sekali tidak membuat keduanya kecewa. Sebab, ia justru telah membuat dirinya sendiri menyesal dan merugi di hari kemudian karena telah menyia – nyiakannya.

Maka dari itu, perlu bagi seorang hamba untuk memperbaiki, membenahi, dan memantaskan diri sebelum kedatangannya. Agar pada nantinya, ia benar – benar bisa membersamainya dengan baik, mendapatkan apa yang dibawanya dari Tuhannya, baik berupa rahmat, ampunan, pahala yang berlipa ganda, dan bahkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi.

Benarkah demikian?

Tulisan ini dimuat dalam Buletin Yayasan RUBIC 2022 edisi bulan Februari

mengembangkandiri.com_father-and-son-using-air-masks-2021-09-02-10-31-03-utc

Musibah Kehidupan

Musibah dalam Kehidupan Pribadi dan Kehidupan Agama

Entah mengapa, ketika kita membicarakan musibah, maka yang terbersit di kepala kita adalah musibah yang menerpa kehidupan kita di dunia. Musibah yang biasa dikaitkan dengan bencana. Bencana yang bisa disebabkan oleh faktor alam, non-alam, atau konflik sosial. Padahal ada musibah bentuk yang lain, yang mungkin bisa lebih berbahaya dampaknya.

Semua kita sepakat bahwa musibah adalah sesuatu yang tidak bisa kita hindari, dan harus kita hadapi. Musibah terkadang ada yang menimpa diri, keluarga, atau masyarakat luas. Dampak dari musibah pun sangat beragam macamnya.

Bagi individu, musibah bisa membuat seseorang jatuh ke jurang keterpurukan atau sebaliknya musibah juga bisa menjadi titik balik baginya untuk menjadi insan yang lebih baik lagi menjalani kehidupan. Semua itu tergantung apakah individu tersebut mampu mengambil hikmah atau tidak dari musibah yang sedang dihadapinya.

Musibah dalam Kehidupan Pribadi Manusia

Seperti yang dikatakan di awal, musibah tidak hanya dibatasi dengan peristiwa alam, non-alam ataupun konflik sosial. Musibah juga bisa menimpa sisi kehidupan pribadi manusia. Salah satu musibah yang sering menimpa sisi pribadi kehidupan manusia adalah rasa ketakutan, kekhawatiran, atau kegelisahan dalam menjalani kehidupan. Takut adalah sifat dasar manusia, tetapi jika salah disikapi, akhirnya ketakutan bisa menjadi musibah besar dalam kehidupan.

Misalnya, di masa pandemi seperti saat ini, seseorang bisa saja dirundung ketakutan yang luar biasa untuk menghadapi masa depan yang tidak menentu dan tidak bisa diprediksi akan seperti apa. Rasa takut ini bisa berubah menjadi sebuah tekanan, stress, dan akhirnya bisa membuat seseorang tidak bisa menjalani kehidupan dengan tenang.

Selain rasa takut, salah satu musibah besar dalam kehidupan pribadi adalah ketika manusia tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Kebutuhan pokok manusia berupa sandang, pangan, dan papan. Jika semua itu tidak terpenuhi, maka musibah besar bisa terjadi pada manusia. Hal ini yang membuat orang berlomba-lomba dan berusaha semaksimal mungkin agar bisa memenuhi kebutuhan pokok hidupnya.

Hal lain yang bisa dikategorikan musibah yang menimpa sisi kehidupan pribadi manusia adalah kekurangan harta. Di era yang serba glamor dan hedon seperti saat ini, hidup pas-pasan bisa membuat seseorang merasa dirinya terkucilkan. Meskipun kebutuhan pokok sudah terpenuhi, seseorang pasti menginginkan hal lainnya, yang jika dipikirkan sebenarnya hal tersebut bukanlah hal yang penting dan utama bagi dirinya.

Misalnya, banyak orang yang merasa dirinya tertekan jika tidak memiliki gawai. Tak bisa dipungkiri, di era digitalisasi teknologi, gawai seakan-akan menjelma menjadi kebutuhan pokok yang harus dimiliki setiap orang. Jika seseorang tidak bisa menyikapi hal ini dengan baik, maka ia bisa melakukan apapun dan mungkin menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya.

Musibah dalam Kehidupan Agama

Sebenarnya, musibah yang menimpa kehidupan duniawi kita, apapun bentuknya, masih terbilang kecil jika dibandingkan musibah yang menimpa kehidupan agama kita. Musibah yang  menimpa kehidupan agama memiliki dampak yang jauh lebih besar, karena tidak hanya berdampak di dunia, tetapi juga kehidupan di akhirat kelak. Dampaknya tidak sementara, tetapi berdampak kekal dan abadi.

Lantas, apa saja contoh musibah dalam kehidupan agama? Keraguan dalam keimanan, hidup dalam lingkaran dosa, tidak mementingkan ibadah, lemahnya hubungan dengan Tuhan, mangabaikan generasi penerus dan membiarkan mereka hidup jauh dari Tuhannya adalah beberapa contoh musibah dalam kehidupan agama. Jika kita memahami betapa bahayanya semua itu, maka musibah yang menimpa dunia kita tidak akan ada artinya.

Terkadang kita meremehkan dan tidak memperhatikan musibah kita dalam beragama. Padahal musibah ini sebenarnya musuh terbesar yang ada di dalam diri kita. Jika kita tidak mampu menghadapi dan kalah darinya, maka musibah-musibah duniawi lain akan datang menyertainya.

Agar kita bisa terhindar dari musibah dalam kehidupan agama dibutuhkan kepekaan diri dalam menyikapinya. Kepekaan akan muncul bergantung dengan bagaimana keseharian kita dalam menjalani kehidupan. Jika kita tenggelam dalam diskursus masalah-masalah aktual terkini dengan menyibukkan diri di media sosial, jika kita hidup dalam pikiran yang dikotori oleh dedikodu dan pikiran buruk lainnya, atau jika kita tidak pernah serius, menganggap enteng, dan selalu bercanda dalam kehidupan keseharian kita, maka kepekaan yang diharapkan tidak akan muncul dalam diri kita.

Oleh karenanya, dibutuhkan para ksatria yang selalu mampu menata hatinya untuk berhati-hati menjalani kehidupan, selalu menginstropeksi diri atas apa yang telah diperbuat, dan selalu menengadahkan kedua tangan seraya berdoa agar diberikan petunjuk jalan yang benar, jalan yang lurus, dan jalan yang diridhai-Nya.

Sebuah Refleksi

Ya, musibah akan datang dan menghampiri kita. Jalan yang tepat untuk menghadapi musibah adalah dengan kesabaran. Kita harus menyadari bahwa segala sesuatu itu datangnya dari Tuhan yang Mahakuasa, dan segala sesuatu akan kembali kepada-Nya. Maka, sebagai orang yang beriman, sikap sabar adalah sebuah keharusan karena kita tak pernah tahu apa skenario Tuhan yang sedang dijalankan dalam kehidupan kita.

Setelah kita memahami hal ini, maka kesabaran perlu diiringi dengan sikap keridhaan. Ridha atas segala takdir yang telah digariskan dalam kehidupan kita. Ridha atas segala konsekuensi yang akan kita dapati dalam setiap musibah yang kita terima.

Sabar dan ridha tidak berarti kita berpangku tangan atas segala musibah yang menimpa kita. Sabar dan ridha adalah puncak dari ikhtiar kita dalam rangka menjauhkan diri dari segala bala dan musibah. Sabar dan ridha seakan menjadi dua senjata ampuh yang dimiliki seorang yang beriman dalam menghadapi dampak buruk bala dan musibah. Dengan sabar dan ridha manusia akan menunjukkan sisi kemalaikatannya dan bisa mengambil hikmah dari bala dan musibah yang dihadapinya.

mengembangkandiri.com_moon-and-clouds-in-the-night-moonlight-and-road-b-2021-09-01-21-14-33-utc

Nisfu Syaban: Malam Ampunan dan Penentuan Takdir

Karya: Cemil Tokpınar

Di hari ketika agenda duniawi dan politik membuat sibuk banyak orang, tanpa disadari kita semakin dekat dengan bulan Ramadhan. Kami berharap kita dapat memahami urgensinya dan menghidupkan kembali Malam Nisfu Sya’ban pada jumat malam ini sebagai pelita terakhir dari tiga bulan suci yang penuh berkah sebelum memasuki bulan Ramadhan.

Di malam ini terdapat kesempatan untuk meraih ampunan dan magfirah universal. Untuk itu, mari kita memahami nilai dan urgensi dari malam ini untuk kemudian menyambutnya dengan beragam persiapan beberapa hari sebelumnya seperti berpuasa serta merencanakan program ibadah semalam suntuk di malam tersebut dan berpuasa di pagi harinya. Karena negara kita dan dunia Islam sedang menggeliat dalam beragam masalah serius, maka malam-malam penuh fadilah dengan puluhan ribu keutamaan ini merupakan kesempatan yang tak ternilai harganya.

Aku mempunyai kebiasaan yang mungkin terdengar aneh bagi sebagian orang. Yang pertama kali saya lihat ketika kalender baru datang adalah mengecek hari-hari penuh berkah bertepatan dengan tanggal dan bulan apa. Jika keesokan hari setelah malam penuh berkah ini adalah hari libur, saya akan bergembira. Kebetulan keesokan hari setelah malam nisfu sya’ban pada tahun ini adalah hari sabtu. Jadi saya memiliki kesempatan untuk menghidupkan malam nisfu sya’ban hingga pagi tiba.

Malam Takdir

Terkait malam ke-15 bulan Sya’ban atau disebut juga dengan istilah Lailatul Bara’ah, Allah SWT berfirman:

“Demi Kitab (Al Quran) yang menjelaskan, sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah” (QS Ad-Dukhan: 2-4).

Beberapa ulama menyatakan bahwa malam yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah lailatulqadar, sedangkan sebagian lagi berpendapat bahwa malam yang dimaksud adalah nisfu sya’ban. Jika digunakan metode jam’ur riwayat, yaitu mengumpulkan beberapa riwayat lain dan berusaha memberi jalan tengah pemahaman, maka pernyataan ulama bahwa takdir dan ketetapan Allah diputuskan serta dicatat di malam Nisfu Sya‘ban bisa dibenarkan.

Dari Ibnu Abbas, “Sungguh Allah menetapkan putusan dan takdir pada malam Nisfu Sya‘ban dan menyerahkannya pada para pengampunya pada malam Lailatul Qadar”.

Menurut Ibnu Abbas r.a., dipisahkannya pekerjaan penuh hikmah yang satu dengan pekerjaan hikmah lainnya berarti:

  • Semua peristiwa yang akan terjadi dari tahun ini hingga tahun depan ditulis satu demi satu pada buku catatan takdir oleh malaikat.
  • Hal-hal seperti rezeki, ajal, kekayaan, kemiskinan, kematian, kelahiran dicatat selama periode waktu ini. Bahkan jumlah orang yang akan berhaji pada tahun tersebut pun ditetapkan pada periode waktu tersebut.  Nasib setiap orang dan segala sesuatu yang akan terjadi di tahun itu dicatat pada periode ini (Khulasatul Bayan, 13:5251).

“Adakah orang yang meminta ampun di malam ini?”

Malam ini disebut sebagai lailatul bara’ah karena orang-orang yang beriman berharap untuk menyucikan dirinya dari kotoran dosa serta memperoleh ampunan dan magfirah dari Sang Pencipta.

Terdapat beberapa hadis di mana Baginda Nabi memberikan perhatian khusus pada beragam berkah dan keutamaan dari Malam Nisfu Sya’ban:

“Berjagalah kalian dalam keadaan beribadah ketika malam kelima belas bulan Sya’ban datang. Berpuasalah pada siang harinya. Setelah matahari pada malam itu terbenam, Allah melalui rahmat-Nya akan termanifestasikan dan bertajali ke langit dunia dan berseru:

‘Adakah orang yang meminta ampunan-Ku di malam ini, niscaya mereka akan Aku ampuni dan Aku maafkan. Adakah orang yang meminta rezeki-Ku di malam ini, niscaya mereka akan Aku beri rezeki. Adakah orang yang meminta pertolongan dari musibah yang menimpanya di malam ini, niscaya mereka akan Aku beri kesehatan dan afiyah. Begitulah keadaannya hingga pagi tiba.” (HR Ibnu Majah, Iqamah: 191).

Pada suatu malam nisfu Sya’ban, Sayyidah Aisyah yang terbangun tidak menemukan Nabi SAW di sampingnya. Ummul Mukminin Aisyah kemudian bangun dan keluar untuk mencari beliau. Ia akhirnya menemukan Sang Rasul di pemakaman Jannatul Baqi.

Nabi SAW kemudian menjelaskan keutamaan Lailatul Bara’ah kepada istrinya yang mulia:

“Sesungguhnya (rahmat) Allah Tabaraka wa Taaala turun ke langit dunia pada malam Nisfu Sya’ban. Dia kemudian memberi ampunan bagi beberapa orang yang jumlahnya lebih banyak dari jumlah bulu domba milik bani Kalb” (HR Tirmizi, Saum: 39).

Ungkapan “bulu domba” di sini merupakan kinayah dari jumlah yang sangat banyak. Jadi, Allah SWT pada malam ini akan mengampuni semua hamba-Nya yang dengan tulus menginginkan maaf dan pengampunan. Ampunan akan diberikan selama seorang hamba memenuhi syarat-syarat tobat dan istigfar serta melakukannya dengan benar.

Siapa Saja Yang Tidak Akan Dimaafkan pada Malam Ini

Siapa saja yang tidak mendapatkan ampunan pada malam ini dijelaskan dalam beberapa hadis berikut ini:

“Allah memandang semua makhluk-Nya pada malam Nisfu Sya‘ban kemudian mengampuni dosa mereka kecuali dosa musyrik dan dosa kemunafikan yang menyebabkan perpecahan dan permusuhan” (HR Imam At-Thabrani dan Ibnu Hibban dari Mu‘adz bin Jabal).

Malam ini telah dibukakan 300 pintu rahmat dan pintu ampunan. Allah SWT mengampuni dosa sekalian orang yang tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu. Kecuali seorang ahli sihir, tukang ramal, orang yang suka bermusuhan, orang yang suka mengadu domba, pemabuk, orang yang durhaka pada kedua orang tuanya, dan orang yang memutuskan silaturahim. Mereka tidak akan diampuni Allah.” (Ibnu Majah, iqamah: 191).

“Terdapat Ganjaran 50 Tahun Ibadah Bagi Mereka yang Menghidupkan Malam Nisfu Sya’ban”

Ustaz Badiuzzaman dalam surat yang ditulis untuk murid-muridnya menceritakan tentang keutamaan malam Nisfu Sya’ban sebagai berikut:

“Lailatul Bara’ah ibaratnya sebuah benih suci dari satu tahun yang komplit. Dari segi di mana ia merupakan masa diprogramkannya takdir umat manusia, nilainya setara dengan kesucian Lailatul Qadar. Apabila setiap kebajikan yang dikerjakan di Lailatulqadar memiliki nilai ganjaran sebesar tiga puluh ribu, setiap amal saleh yang dikerjakan di Lailatul Bara’ah dan setiap huruf Al-Qur’an yang dibaca memiliki nilai ganjaran sebesar dua puluh ribu. Apabila di waktu lain kebajikan yang dilakukan dibalas dengan 10 pahala, pada syuhuru tsalatsah (tiga bulan suci)  ganjarannya naik menjadi seratus bahkan seribu. Pada malam-malam suci yang terdapat dalam bulan suci ini ganjarannya akan naik lagi menjadi sepuluh ribu, dua puluh ribu, atau hingga mencapai tiga puluh ribu. Beribadah di malam-malam yang mulia ini nilainya setara dengan beribadah selama lima puluh tahun.  Untuk itu, ia harus dihidupkan dengan membaca Al-Qur’an, beristighfar, dan salawat sebanyak mungkin.  Beribadah di Lailatul Bara’ah akan memberikan seorang ahli iman lima puluh tahun umur ibadah.  (Syualar, Syua ke- 14).

Bagaimana cara menghidupkan malam yang mulia ini?

Sebisa mungkin malam-malam yang penuh berkah ini dihidupkan dengan ibadah semalam suntuk hingga pagi tiba.  Aktivitas ibadah yang dikerjakan seorang diri akan memudahkan nafsu dan setan menghembuskan kantuk dan mengganggu semangat kita.  Oleh karena itu, sebaiknya ia dihidupkan dengan berkumpul di masjid atau suatu majelis ilmu bersama para sahabat terdekat. Dengan demikian, para peserta bisa saling memotivasi. Mereka juga bisa saling bahu-membahu dalam menyelesaikan pembacaan doa-doa.

Seperti yang telah disebutkan dalam artikel sebelumnya, ada lima ibadah penting yang dapat dilakukan pada malam-malam ini:

  1. Bertobat dan beristigfar: Tobat dan istigfar yang paling singkat adalah “Astaghfirullah wa atubu ilaih…” Ada juga istigfar-istigfar lainnya yang lebih panjang lagi beragam variasinya.
  2. Membaca Al-Qur’an: Khususnya surat-surat pilihan seperti Yasin, Al-Fath, Ar-Rahman, Al-Mulk, An-Naba, dan sebagainya.
  3. Mendirikan salat: Di samping menunaikan salat fardhu secara berjamaah, mari kita tunaikan juga salat sunah awwabin, tahajud, tobat, tasbih, dan hajat.
  4. Membaca salawat kepada Rasulullah sebanyak-banyaknya.
  5. Berdoa: Membaca doa yang terdapat pada Al-Qur’an dan hadis, jausyan, doa-doa yang dibaca wali-wali agung, serta menyampaikan munajat dari lubuk hati kita yang paling dalam.

Berpuasa di pagi harinya sangatlah utama. Waktu puasanya bukanlah sehari sebelum datangnya malam nisfu sya’ban, melainkan keesokan harinya.

Diterjemahkan dari: https://www.tr724.com/berat-af-ve-kader-gecesi/